Anda di halaman 1dari 6

DEFINISI PANTAI

Pantai? Apa itu pantai? dalam bahasa inggris pantai adalah 'coast' yang menurut kamus Cambridge, coast bermakna 'the land next to or close to the sea' artinya daratan yang berdekatan dengan laut [1]. Sementara dalam kamus Bahasa Indonesia pantai artinya tepi laut atau pesisir [2]. Dalam tataran praktis pantai bisa memiliki pengertian yang berbeda-beda. Sebagian berpendapat bahwa pantai adalah suatu daratan yang berbatasan langsung dengan laut menjorok ke dalam hingga pengaruh pasang surut air laut tidak terasa. Tentu saja dengan definisi ini, lebar atau daerah pantai bisa berbeda2 tiap daerah tergantung dari tinggi nya pasang surut di daerah tersebut. Untuk daerah landai dengan pasang surut yang tinggi, lebar pantai bisa puluhan kilometer. Sebaliknya, untuk daerah yang curam atau bahkan pantai berbatu (cliff), daerah pantai mentok sampai pada ujung cliff tersebut.

Secara umum pantai dikenal sebagai batas antara daratan dan lautan. Istilah pantai juga digunakan untuk batas antara daratan dan danau yang sangat besar. Namun demikian jika ditinjau lebih terinci, maka ada beberapa permasalahan yang membuat istilah pantai tidak semudah itu. Hal ini karena yang disebut sebagai batas tidak dapat dibuat sangat tegas. Dengan demikian dalam daerah pantai sendiri dikenal istilah istilah yang membedakan daerah tersebut secara fisik. Batas antara daratan dan lautan yang berupa garis air ini berubah setiap waktu karena: 1. gelombang pasang surut yang kadang mendorong garis batas naik ke daratan dan kadang menyurutkan garis batas tersebut ke laut tiap tiap hari. 2. gelombang angin (gelombang yang tampak) di laut yang jelas terlihat membuat garis batas ini maju mundur 3. perubahan garis batas ini maju mundur karena pengaruh musim angin. Dengan demikian garis batas tersebut sangat dinamik dan membuat daerah di sekitarnya berbeda sifatnya. Ada yang selalu basah atau tenggelam, ada yang kadang basah kadang kering dalam kurun waktu yang pendek maupun panjang dan ada yang tidak pernah basah atau tenggelam.

PERGERAKAN SIDEMEN PANTAI

Didalam ilmu teknik pantai dikenal istilah pergerakan sedimen pantai atau transport sedimen pantai yang berasal dari istilah berbahasa Inggris: Coastal Sediment Transport ataupun Nearshore Sediment Transport. Bambang Triatmodjo (1999) menjelaskan bahwa definisi dari transpor sedimen pantai adalah gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya. (Baca artikel sebelumnya, di sini dan di sini) Di kawasan pantai terdapat dua arah transport sedimen. Yang pertama adalah pergerakan sedimen tegak lurus pantai (cross-shore transport) atau boleh juga disebut dengan pergerakan sedimen menuju dan meninggalkan pantai (onshore-offshore transport). Yang kedua, pergerakan sedimen sepanjang pantai atau sejajar pantai yang biasa diistilahkan dengan longshore transport. Menurut Bambang Triatmodjo (1999), gerak air di dekat dasar akan menimbulkan tegangan geser pada sedimen dasar. Bila nilai tegangan geser dasar lebih besar dari pada tegangan kritis erosinya, maka partikel sedimen akan bergerak. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa variabelvariabel yang mempengaruhi pergerakan sedimen pantai antara lain: diameter sedimen, rapat massa sedimen, porositas, dan kecepatan arus atau gaya yang ditimbulkan oleh aliran air. TRANSPORT SEDIMEN TEGAK LURUS PANTAI Gelombang yang menjalar menuju pantai membawa massa air dan momentum searah penjalarannya. Transpor massa dan momentum tersebut akan menimbulkan arus di daerah dekat pantai. Gelombang pecah menimbulkan arus dan turbulensi yang sangat besar yang dapat menggerakkan sedimen dasar. Di daerah surf zone, kecepatan partikel air hanya bergerak searah penjalaran gelombangnya (lihat artikel gelombang). Di swash zone, gelombang yang memecah pantai menyebabkan massa air bergerak ke atas dan kemudian turun kembali pada permukaan pantai. Gerak massa air tersebut disertai dengan terangkutnya sedimen. Pada gambar di atas terlihat bahwa arus dan partikel air di dasar bergerak searah penjalaran gelombang menuju pantai. Di daerah mulai pecahnya gelombang (point of wave breaking) yang biasa disebut dengan surf zone, terlihat adanya pertemuan pergerakan sedimen yang menuju pantai dan yang bergerak kembali ke tengah laut. Selain itu, pergerakan sedimen di luar daerah surf zone akan mulai melemah. Akibatnya, di titik ini akan terbentuk bukit penghalang (bar) yang memanjang sejajar pantai (Fredsoe & Deigaard,1992). Pergantian musim juga mempengaruhi proses pantai. Turbulensi dari gelombang pecah mengubah sedimen dasar (bed load) menjadi suspensi (suspended load). Kesenjangan/ketidaksamaan hantaman gelombang (antara dua musim) mengakibatkan penggerusan yang kemudian membentuk pantai-pantai curam yang menyisakan sedimen-sedimen bergradasi lebih kasar. Sebagai contoh di negara kita yang dipengaruhi angin muson, biasanya pada saat bertiup angin timur, gelombang laut akan bersifat konstruktif yaitu membawa sedimen menuju pantai. Demikian juga yang terjadi pada kawasan pantai saat angin tenang atau musim panas (summertime). Gambaran kondisi pantai cenderung seperti pada gambar di bawah ini.

Sebaliknya bila bertiup angin barat, saat bertiup angin badai (storm), ataupun saat musim dingin (wintertime), maka gelombang laut akan bersifat merusak pantai (destruktif) karena massa air akan mengangkut sebagian besar sedimen menuju tengah laut. Sedimen itu kemudian teronggok di daerah surf zonemembentuk bukit pasir (sand-bar). Gambaran kondisi pantai seperti ini dapat dilihat pada gambar berikut. Ombak badai yang curam akan mengikis muka pantai dan mengangkut sedimen menjadi bukit penghalang di surf zone di kawasan lepas pantai (offshore). Gelombang normal akan membawa kembali sedimen di bukit penghalang membentuk kembali muka pantai seperti sedia kala. Keadaan ini dinamakan sebagai keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium). Selain itu, pergerakan sedimen menuju dan meninggalkan pantai dapat terjadi pula pada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, sedimen bergerak kembali terbawa sirkulasi sel yang berupa rip current dan yang kedua terbawa bersama aliran balik (back flows).

Potensi dan Permasalahan Pantai

Permasalahan Utama Kawasan Pesisir Perkotaan


Dalam latar urban, pesisir biasanya merupakan kawasan yang marjinal dan identik dengan kemiskinan dan kekumuhan. Sebagai kawasan marjinal, pesisir menjadi tempat perbenturan antara aktivitas ekonomi modern atau tersier dengan aktivitas primer yang langsung memanfaatkan sumberdaya alam. Perbenturan ini terjadi secara perlahan namun pasti, mengingat kebanyakan kota-kota besar di dunia biasanya muncul dan berevolusi di tepi laut, yang sejauh ini masih merupakan jalur transportasi dan perdagangan yang paling andal. Semakin pesat perkembangan perdagangan yang melaluinya, semakin pesat pula aktivitasaktivitas ekonomi yang lebih modern meminggirkan yang lebih sederhana. Biasanya, hilangnya aktivitas ekonomi sederhana tidak serta-merta menghilangkan para pelakunya. Inilah sesungguhnya yang pada akhirnya menimbulkan permasalahan sosial berupa kemiskinan dan kekumuhan. Bentang alam pesisir biasanya merupakan suatu sistem yang terbentuk oleh ekosistem-ekosistem estuaria (muara sungai), hutan bakau (mangrove), padang lamun, terumbu karang, lahan gambut dan daerah pasang surut. Sistem yang rumit ini menjalankan berbagai fungsi ekologis dan hidrologis yang sangat penting bagi dataran pedalamannya. Mangrove, misalnya, mencegah abrasi dan, karena itu, menjaga sediaan air tanah. Padang lamun dan terumbu karang menjadi habitat bagi berbagai biota laut. Ekosistem estuaria mengabsorpsi berbagai polutan yang terbawa ke laut melalui aliran sungai. Akan tetapi, pembangunan perkotaan di kawasan pesisir dewasa ini telah menjadi pembangunan serba-beton, yang memodifikasi bentang alam sedemikian rupa sehingga ia tidak kuasa menjalankan berbagai fungsi pentingnya seperti sedia kala. Sebagai kawasan yang terpinggirkan, ekosistem pesisir mungkin merupakan bagian latar perkotaan yang paling rentan rusak. Rusaknya ekosistem ini berimplikasi pada menurunnya daya dukung dan kualitas sumberdaya alam. Terlebih bila perkembangan aktivitas ekonomi modern dipacu oleh motif pertumbuhan, kemampuan lingkungan untuk memperbaiki dirinya sendiri bisa saja hilang. Bila ini terjadi, kerusakan sumberdaya alam mungkin berjalan satu arah menuju kehancuran sama sekali, tidak dapat diperbaiki lagi. Jika sudah demikian, yang kali pertama terkena dampak tentu para pelaku aktivitas ekonomi sederhana yang hidupnya melulu tergantung pada sumberdaya itu. Strategi untuk bertahan hidup yang dilakukan mereka tidak jarang turut memperparah kondisi kerusakan lingkungan, bahkan memicu ketegangan dengan sektor-sektor lain yang lebih modern. Lebih jauh lagi, lingkungan yang sudah rusak acap kali menjadi justifikasi bagi perencana pembangunan kota untuk mengalihkan fungsi pesisir bagi peruntukan-peruntukan urban lainnya. Itulah sebabnya mengapa tampilan demografis kawasan pesisir biasanya lebih muram dibandingkan daerah urban lainnya. Masyarakat pesisir seolah-olah ditakdirkan miskin di tengah pertumbuhan kota yang terus marak. Ketika para perencana pembangunan kota hendak mempercantik daerah pesisir, remah-remah yang masih tersisa dari masyarakat pesisir pun harus dienyahkan, karena merekalah justru yang membuat pemandangan pesisir menjadi tidak elok. Permasalahannya, tidak semua anggota masyarakat pesisir menjadi miskin karena tidak memiliki keahlian atau keterampilan. Nelayan, terutama, memiliki keahlian dan keterampilan yang khas, yang selama berabad-abad lamanya terus disempurnakan untuk mengambil manfaat dari sumberdaya pesisir demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Masyarakat nelayan, karena itu, meski miskin tidak dapat begitu saja digolongkan ke dalam kategori kaum miskin kota (urban poor). Kaum miskin kota biasanya dibentuk oleh gelombang migrasi sumberdaya manusia ke kota-kota dari sektor pertanian yang kolaps atau semakin tidak mendukung bagi kehidupan dan penghidupan yang layak. Keahlian dan keterampilan mereka dalam berbagai usaha pertanian tidak relevan

dengan permintaan pasar tenaga kerja di perkotaan yang semakin didominasi oleh sektor-sektor jasa dan manufaktur. Masalahnya jelas berbeda dengan masyarakat nelayan yang memang sudah mendiami kawasan-kawasan pesisir, tidak peduli urban atau bukan, selama berabad-abad. Mereka tidak datang dari mana-mana. Mereka bahkan tidak pernah pergi dari situ. Justru merekalah yang, oleh desakan urbanisasi, diusir dari tempat hidup mereka sendiri! Upaya zonasi yang dipadukan dengan rehabilitasi menjanjikan solusi bagi permasalahan ini, dengan mempertimbangkan aspek-aspek ekologi, sosial dan ekonomi sebagai satu kesatuan sistemik yang utuh. Zonasi dapat saja menjadi suatu kompromi antara laju perkembangan kota dan kelestarian sumberdaya lingkungan pesisir, dengan cara menetapkan bagian-bagian pesisir mana saja yang boleh tersentuh pembangunan, sedangkan bagian lainnya harus dibiarkan seperti adanya. Bagi beberapa bagian pesisir yang sudah terlanjur rusak, sedangkan bagian itu sangat krusial artinya bagi berfungsinya sistem eko-sosioekonomi setempat, maka upaya rehabilitasi harus dilakukan. Relokasi ke kawasan pesisir yang masih memungkinkan eksploitasi secara berkelanjutan, terutama bagi komunitas nelayan, juga merupakan salah satu pilihan kebijakan yang masuk akal. Di tempat yang baru, komunitas nelayan dapat melanjutkan pola hidup semi-subsisten yang berkelanjutan, yang menjadi ciri khas mereka.

Fasilitas Pelabuhan
Fasilitas pelabuhan pada dasarnya dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu fasilitas pokok dan fasilitas penunjang. Pembagian ini dibuat berdasarkan kepentingannya terhadap kegiatan pelabuhan itu sendiri. A. FASILITAS POKOK PELABUHAN Fasilitas Pokok Pelabuhan terdiri dari alur pelayaran (sebagai jalan kapal sehingga dapat memasuki daerah pelabuhan dengan aman dan lancar), penahan gelombang (breakwater untuk melindungi daerah pedalaman pelabuhan dari gelombang, terbuat dari batu alam, batu buatan dan dinding tegak) , kolam pelabuhan (berupa perairan untuk bersandarnya kapal-kapal yang berada di pelabuhan) dan dermaga (sarana dimana kapal-kapal bersandar untuk memuat dan menurunkan barang atau untuk mengangkut dan menurunkan penumpang). B. FASILITAS PENUNJANG PELABUHAN Fasilitas penunjang pelabuhan terdiri dari gudang, lapangan penumpukan, terminal dan jalan. 1. Gudang Gudang adalah bangunan yang digunakan untuk menyimpan barang-barang yang berasal dari kapal atau yang akan dimuat ke kapal. Gudang dibedakan berdasarkan jenis (lini-I, untuk penumpukan sementara dan lini-II sebagai tempat untuk melaksanakan konsolidasi/distribusi barang, verlengstuk bangunan dalam lini-II, namun statusnya liniI, enterpot bangunan diluar pelabuhan, namun statusnya sebagai lini-I), penggunaan (gudang umum, gudang khusus untuk menyimpan barang-barang berbahaya, gudang CFS untuk stuffing/stripping). 2. Lapangan Penumpukan Lapangan penumpukan adalah lapangan di dekat dermaga yang digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tahan terhadap cuaca untuk dimuat atau setelah dibongkar dari kapal. 3. Terminal Terminal adalah lokasi khusus yang diperuntukan sebagai tempat kegiatan pelayanan bongkar/muat barang atau petikemas dan atau kegiatan naik/turun penumpang di dalam pelabuhan. Jenis terminal meliputi terminal petikemas, terminal penumpang dan terminal konvensional. 4. Jalan Adalah suatu lintasan yang dapat dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki, yang menghubungkan antara terminal/lokasi yang lain, dimana fungsi utamanya adalah memperlancar perpindahan kendaraan di pelabuhan.