Anda di halaman 1dari 32

PRICK TEST DAN PATCH TEST

i. PRICK TES
A. INDIKASI Rinitis alergi : Apabila gejala tidak dapat dikontrol dengan medikamentosa sehingga diperlukan kepastian untuk mengetahui jenis alergen maka di kemudian hari alergen tsb bisa dihindari. Asthma : Asthma yang persisten pada penderita yang terpapar alergen (perenial). Kecurigaan alergi terhadap makanan. Dapat diketahui makanan yang menimbulkan reaksi alergi sehingga bisa dihindari. Kecurigaan reaksi alergi terhadap sengatan serangga.

B. ANATOMI Pada dewasa dilakukan di lengan bawah sisi volar (forearm) ulnar / radial Pada anak-anak pada bagian punggung (upper back)

C. INFORMED CONSET Persetujuan Sebelum melakukan tindakan prick test kepada pasien , sebelumnya menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuan dari tindakan tersebut dan kemudian meminta persetujuan kepada pasien atau keluarga pasien terhadap tindakan yang akan dilakukan. prosedural Prick tes atau tes cukit yaitu salah satu jenis tes kulit sebagai alat diagnosa yang banyak digunakan para klinisi untuk membuktikan adanya IgE spesifik yang terikar pada sel mast kulit. test biasa dilakukan untuk menentukan alergi oleh karena alergen inhalan, makanan atau bisa serangga.

Kelebihan Skin Prick Test dibanding Test Kulit yang lain :

a. karena zat pembawanya adalah gliserin maka lebih stabil jika dibandingkan dengan zat pembawa berupa air. b. Mudah dialaksanakan dan bisa diulang bila perlu. c. Tidak terlalu sakit dibandingkan suntik intra dermal d. Resiko terjadinya alergi sistemik sangat kecil, karena volume yang masuk ke kulit sangat kecil. e. Pada pasien yang memiliki alergi terhadap banyak alergen, tes ini mampu dilaksanakan kurang dari 1 jam. Tes Cukit ( Skin Prick Test ) seringkali dilakukan pada bagian volar lengan bawah. Pertama-tama dilakuakn desinfeksi dengan alkohol pada area volar, dan tandai area yang akan kita tetesi dengan ekstrak alergen. Ekstrak alergen diteteskan satu tetes larutan alergen ( Histamin/ Kontrol positif ) dan larutan kontrol ( Buffer/ Kontrol negatif) menggunakan jarum suntik atau lanset. Kemudian dicukitkan dengan sudut kemiringan 45 0 menembus lapisan epidermis dengan ujung jarum menghadap ke atas tanpa menimbulkan perdarahan. Tindakan ini mengakibatkan sejumlah alergen memasuki kulit. Tes dibaca setelah 15-20 menit dengan menilai bentol yang timbul atau kemerahan. Tujuan Tujuan tes kulit pada alergi ini untuk menentukan macam alergen (alergen hirup dan makanan) sehingga di kemudian hari bisa dihindari dan juga untuk menentukan dasar pemberian imunoterapi.

D. PERSIAPAN PRE-PROSEDURAL Persiapan bahan/material ekstrak alergen. gunakan material yang belum kedaluwarsa gunakan ekstrak alergen yang terstandarisasi

Bahan-bahan alergen yang digunakan untuk tes cukit berupa alergen hirup dan makanan. Dibawah ini terdapat beberapa contoh : Hirup : bulu-bulu binatang (kucing, anjingm kuda, dll) debu rumah

serpihan kulit manusia tepung sari bunga, rumput, dan tanaman lainnya spora jamur

Makanan : ikan laut (udang, kerang, kepiting) biji2an (kacang tanah, kacang mete) beberapa macam buah sayur bumbu-bumbu lain-lain : susu, coklat, keju, telor

Persiapan probandus Hentikan minum antihistamin non sedative (antihistamin generasi terbaru) minimal 2-6 minggu sebelum test Hentikan minum antihistamin sedative 5-7 hari sebelum test Hentikan meminum obat triicyclic antidepressant ( amitriptyline) Hentikan minum heart burn ( cimetidine dan ranitidin) Jangan lakukan tes cukit pada penderita urticaria, SLE dan adanya iritasi / lesi kulit yang luas. Usia : pada bayi dan usia lanjut tes kulit kurang memberikan reaksi. Pada penderita dengan keganasan,limfoma, sarkoidosis, diabetes neuropati juga terjadi penurunan terhadap reaktivitas terhadap tes kulit ini. Persiapan pemeriksa Teknik dan ketrampilan pemeriksa perlu dipersiapan agar tidak terjadi interpretasi yang salah akibat teknik dan pengertian yang kurang difahami oleh pemeriksa. Ketrampilan teknik melakukan cukit Teknik menempatkan lokasi cukitan karena ada tempat2 yang reaktifitasnya tinggi dan ada yang rendah. Berurutan dari lokasi yang reaktifitasnya tinggi sampai rendah : bagian bawah punggung > lengan atas > siku > lengan bawah sisi ulnar > sisi radial > pergelangan tangan.

E. TEKNIK PROSEDUR TINDAKAN MEDIK

Alat - Lanset/ jarum suntik - spidol Bahan - Alkohol 70% - Nacl 0,9 % ( garam fisiolois) (kontrol negatif) atau buffer - Histamin (kontrol positif) - Ekstrak alergen Cara kerja - disinfektan lokasi kulit tempat tes cukit dengan alkohol 70% tandai tempat yang akan dilakukan tes cukit dengan spidol berupa garis-garis paralel sepanjang kurang lebih 1 inci. - Teteskan kontrol negatif, kontrol positif pada ujung-ujung garis cukit kulit tunggu 15-20 menit - Bila hasil sudah terbaca teteskan ekstrak alergen yang akan di test pada ujungujung garis Cara cukit kulit dengan kemiringan 450 ditiap-tiap tetes bahan dengan ujung lancet yang berbeda-beda (untuk mengindari crossreaksi) - Setelah 15-20 menit amati kulit yang dicukit , apakah timbul flare (warna kemerahan ) dan wheal ( bentol)

C. A. Gambar 1. A. Cara menandai ekstrak alergen yang diteteskan pada lengan B. Sudut melakukan cukit pada kulit dengan lancet C. Contoh reaksi hasil positif pada tes cukit B.

F. PENGELOLAAN PASCA TINDAKAN MEDIK INTEPRETASI

Interpretasi Tes Cukit ( Skin Prick Test ): Untuk menilai ukuran bentol berdasarkan The Standardization Committee of Northern (Scandinavian) Society of Allergology dengan membandingkan bentol yang timbul akibat alergen dengan bentol positif histamin dan bentol negatif larutan kontrol. Adapun penilaiannya sebagai berikut : Bentol histamin dinilai sebagai +++ (+3) Bentol larutan kontrol dinilai negatif (-) Derajat bentol + (+1) dan ++(+2) digunakan bila bentol yang timbul besarnya antara bentol histamin dan larutan kontrol. Untuk bentol yang ukurannya 2 kali lebih besar dari diameter bento histamin dinilai ++++ (+4). Di Amerika cara menilai ukuran bentol menurut Bousquet (2001) seperti dikutip Rusmono sebagai berikut : -0 - 1+ - 2+ - 3+ - 4+ : reaksi (-) : diameter bentol 1 mm > dari kontrol (-) : diameter bentol 1-3mm dari kontrol (-) : diameter bentol 3-5 mm > dari kontrol (-) : diameter bentol 5 mm > dari kontrol (-) disertai eritema.

G. KOMUNIKASI

Komunikasi disini adalah menyampaikan hasil kepada pasien dan memberikan edukasi terhadap hasil yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan. Apabila setelah pemeriksaan didapatkan hasil (+) maka pada pasien tersebut alergi terhadap bahan alergen ( alergen hirup atau makanan) yang di ujikan. Edukasi : Menghindari bahan alergen tersebut yang dapat membuat alergi atau muncul ruam-ruam pada kulit pasien. Segera kontrol ke dokter apabila didapati alergi untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Apabila setelah pemeriksaan didapatkan hasil (-) , maka pada pasien tersebut tidak didapatkan alergi terhadap bahan alergen yang diujikan.

Namun Tes kulit dapat memberikan hasil positif palsu maupun negatif palsu karena tehnik yang salah atau faktor material/bahan ekstrak alergennya yang kurang baik. Jika Histamin ( kontrol positif ) tidak menunjukkan gambaran wheal/ bentol atau flare/hiperemis maka interpretasi harus dipertanyakan , Apakah karena sedang mengkonsumsi obat-obat anti alergi berupa anti histamin atau steroid. tricyclic antidepresan, phenothiazines adalah sejenis anti histamin juga. Hasil negatif palsu dapat disebabkan karena kualitas dan potensi alergen yang buruk, pengaruh obat yang dapat mempengaruhi reaksi alergi, penyakit-penyakit tertentu, penurunan reaktivitas kulit pada bayi dan orang tua, teknik cukitan yang salah (tidak ada cukitan atau cukitan yang lemah ).1 Ritme harian juga mempengaruhi reaktifitas tes kulit. Bentol terhadap histamin atau alergen mencapai puncak pada sore hari dibandingkan pada pagi hari, tetapi perbedaan ini sangat minimal. Hasil positif palsu disebabkan karena dermografisme, reaksi iritan, reaksi penyangatan (enhancement) non spesifik dari reaksi kuat alergen yang berdekatan, atau perdarahan akibat cukitan yang terlalu dalam. Dermografisme terjadi pada seseorang yang apabila hanya dengan penekanan saja bisa menimbulkan wheal/bentol dan flare/kemerahan. Dalam rangka mengetahui ada tidaknya dermografisme ini maka kita menggunakan larutan garam sebagai kontrol negatif. Jika Larutan garam memberikan reaksi positif maka dermografisme. Obat seperti

Semakin besar bentol maka semakin besar sensitifitas terhadap alergen tersebut, namun tidak selalu menggambarkan semakin beratnya gejala klinis yang ditimbulkan. Pada reaksi positif biasanya rasa gatal masih berlanjut 30-60 menit setelah tes.

ii. PACTH TES


A. INDIKASI Indikasi : Kecurigaan terhadap dermatitis kontak alergi (DKA) Dermatitis kronis dengan sebab yang tidak dapat diketahui khususnya pada tangan dan kaki Dermatitis atopi atau kondisi-kondisi lain yang memburuk atau hanya bereaksi sebagian terhadap pemberian terapi yang memadai Jika dokter atau penderita membutuhkan ketetapan tentang alergi kontak tersebut.

Kontra indikasi : Dermatitis akut dan luas, karena dapat menyebabkan eksaserbasi. Kulit tempat uji harus bebas dari dermatitis sekurang-kurangnya 2 minggu. Bahan yang memberi efek toksik sistemik atau korosif dengan konsentrasi tinggi misalnya peptisida atau bahan baru yang belum diketahui atau masih dalam penelitian Penderita sedang mendapat prednison sistemik lebih dari 20 mg sehari atau kortikosteroid lain yang setara. Kortikosteroid topikal pada tempat uji mempengaruhi hasil reaksi. Antihistamin tidak mempengaruhi reaksi uji tempel.

B. ANATOMI Patch test dilakukan pada kulit yang normal pada daerah kulit punggung.

C. INFORMED CONSENT Persetujuan Sebelum melakukan tindakan prick test kepada pasien , sebelumnya menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuan dari tindakan tersebut dan kemudian meminta persetujuan kepada pasien atau keluarga pasien terhadap tindakan yang akan dilakukan.

prosedural patch test adalah tes kulit yang digunakan sebagai alat bantu untuk mencari atau memastikan adanya alergi kontak dan tidak digunakan untuk mendiagnosis dermatitis kontak. Alergen yang digunakan untuk tes terbuat dari reagen khusus dan dilekatkan pada kulit melalui pita perekat. Jika timbul dermatitis maka orang tersebut dinyatakan alergi terhadap bahan kontaktan tersebut. Sebelum melakukan tindakan jelaskan kepada penderita bahwa ia harus menghindari pembasahan kulit tempat dilakukan test, bergerak berlebihan, dan berkeringat berlebihan setelah patch test dipasang. Penderita harus kembali ke dokter 48 jam setelah pemasangan untuk dilepas dan ditafsirkan hasilnya.

Tujuan Patch test bertujuan untuk mengetahui atau memastikan adanya alergi kontak dan tidak digunakan untuk menegakkan diagnosis dermatitis kontak.

D. PERSIAPAN PRE-PROSEDURAL Persiapan penderita : 4 minggu sebelum patch test punggung tidak boleh terpapar sinar matahri secara langsung. Selama test tidak boleh berenang atau melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan selotipe terlepas Selama kegiatan punggung harus tetap kering tidak boleh melakukan kegiatan yang menyebabkan keringat banyak. 2 hari sebelum tes, tidak boleh minum obat yang mengandung steroid atau anti bengkak. Daerah pungung harus bebas dari obat oles, krim atau salep.

E. TEKNIK PROSEDUR TINDAKAN MEDIK Alat Aluminium discs diameter 1 cm Hypoalergenik selotipe Spidol

Bahan Alkohol 70% Ekstrak alergen Vaselin/ jelly / soft parafin

Cara kerja Tahap 1 : aluminium discs ditempelkan pada hypoalergenik selotipe dengan susunan paralel dan berjajar rapi susbtansi yang diperiksa dicampur vaselin/jelly/soft parafin kemudian

dimasukkan ke aluminium discs disinfektan kulit punggung dengan alkohol 70% tempelkan selotipe yang berisi aluminium discs ke punggung dan biarkan menempel selama 48 jam Tahap 2 : selotipe yang berisi aluminium discs dilepas lakukan penilaian dan tandai bekas-bekas tempelan aluminium discs dengan spidol biarkan selama 48 jam

Tahap 3 : 4 hari ( 96 jam ) setelah penempelan amati kembali daerah yang ditandai, apabila diperlukan boleh menandai ulang daerah yang diperlukan antara tahap 2 dan tahap 3

Gambar : Patch test ( tes tempel) F. PENGELOLAAN PASCA TINDAKAN MEDIK INTEPRETASI Negatif ( - ) +? + ++ +++ NT : tidak ada reaksi : hanya timbul eritem pucat : eritema, indurasi, dan kemungkinan papula. : eritema, indurasi papula, vesikel : reaksi pelepuhan atau ulcus : tidak dites, tanda ini jika catatan-catatan menyebutkan bahwa banyak

jenis alergen yang digunakan IR : kecurigaan adanya reaksi iritan (bukan cenderung alergi). Jika ada

kecurigaan tentang adanya reaksi iritan maka dibutuhkan pengamatan lebih lanjut.

Hasil negatif dan positif palsu Patch test dapat menjadi non reaktif jika cara pengujiannya salah 1. substansi tes yang diberikan terlalu sedikit jumlahnya 2. oklusinya tidak cukup 3. bagian kulit yang dipilih tidak tepat 4. pemeriksaan hasil tes terlalu awal

5. konsentrasi alergen terlalu rendah atau bahan pencampurnya/ pelarutnya tidak dapat melepas substansi alergen (khususnya alergen buatan sendiri yang tidak standar) patch yang non reaktif karena sebab-sebab yang tidak berhubungan dengan cara pengujiannya: 1. tingkat sensitifitasnya sangat rendah 2. penderita dalam keadaan phase refractory 3. penggunaan steroid sistemik dosis tinggi hasil positif palsu dapat menyesatkan penggunaan substansi yang sesungguhnya menyebabkan alergi

patch test pada penderita non alergik dapat menghasilkan reaksi palsu karena kesalahan dalam cara pengujian : 1. patch test dibiarkan menempel terlalu lama 2. bahan tes terkontaminasi dengan bahan iritan atau bahan lainnya. Tutup botol tertentu dapat menjadi sumber kontaminasi 3. terlalu banyak bahan tes yang dipakai 4. pada kulit yang ditempel terdapat keradangan sebelumnya 5. lokasi kulit yang dites sebelumnya pernah dipakai untuk tes yang sama atau telah dibersihkan sebelumnya dengan substansi yang dapat menyebabkan iritasi jika di oklusi 6. kulit lokasi tes terlalu dini diperiksa hasilnya segera setelah patch tes dilepas. 7. konsentrasi bahan terlalu pekat (terutama jika digunakan antigen buatan sendiri yang tidak standar) patch tes dapat bereaksi palsu karena sebab yang tidak berhubungan dengan cara pengujian 1. reaksi disebabkan oleh tekanan pada kulit oleh suatu bahan tes yang keras 2. patch tes adaah iritan 3. penderita mengalamai dermatitis akut di bagian lain tubuh dan lokasi tes bersifat hiperaktif.

G. KOMUNIKASI

Komunikasi disini adalah menyampaikan hasil kepada pasien dan memberikan edukasi terhadap hasil yang diperoleh dari tindakan yang dilakukan. Apabila setelah pemeriksaan didapatkan hasil (+) yaitu akan timbul bercak kemerahan dan melenting pada kulit, maka pasien tersebut alergi terhadap bahan kontaktan tersebut. Edukasi : Menghindari kontak dengan bahan iritan atau bahan alergen yang menyebabkan terjadinya dermatitis kontak. Memakai alat pelindung diri yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan , sebagai salah satu upaya pencegahan. Segera kontrol ke dokter apabila didapati adanya ruam kulit setelah kontak dengan bahan alergen atau bahan iritan tertentu, sehingga dapat segera mendapatkan pengobatan. Apabila setelah pemeriksaan didapatkan hasil (-) , maka pada pasien tersebut tidak alergi terhadap bahan kontaktan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1, 2005, Petunjuk Praktikum Modul Imun dan Kulit, Fakultas kedokteran Unissula, Semarang Anonim 2, 1995, Standar pelayanan medik diagnosis dan terapi pemeriksaan dan tindakan penyakit kulit dan kelamin, RSUD Dr.Saiful Anwar FK Unibraw, Malang. Iwan, Suwanto.,2009, Tes Alergi, http:/www.medicastore.com Kartikawati, Henny.,2007, Tes Cukit (Skin Prick Test) Pada Diagnosis Penyakit Alergi, Bagian Ik Tht-Kl Fk Undip / Smf Tht- Kl Rs Dr. Kariadi, Semarang.

PEWARNAAN ZIEHL NEELSEN


1. Pendahuluan Mikobakteria yang diwarnai dengan pewarna fenilmetana (contoh : fuksin bes) dalam larutan aniline atau fenol akan mengekalkan warna tersebut meskipun telah diberi asam yang kuat. Oleh yang demikian, bakteria golongan pertama ini disebut sebagai bakteria tahan asam. Sifat tahan asam ini merupakan cirri yang bermanfaat dan penting dalam membedakan Mycobacterium dengan bakteri lain. (Beberapa spesies aktinomiset juga tahan asam). Pada bakteria tahan asam, pewarna fenol mempunyai kelarutan yang tinggi di dalam sel dibandingkan dengan decolorator, pewarna tersebut kekal di dalam sel, manakala pada bakteria tak tahan asam pewarna tersebut hanya masuk ke dalam sel dan kemudian disingkirkan dari sel oleh decolorator. Disamping ciri-ciri ini kadar resap pewarna pada sel yang tahan asam adalah rendah dibandingkan dengan sel tak tahan asam. Ciri-ciri ini disebabkan oleh perbedaan komposisi kimia (secara kuantitatif dan kualitatif) bakteria tahan asam dan bakteria tak tahan asam. Mikobakteria yang tahan asam mempunyai karbohidrat, alcohol dan asam lemak (seperti asam mikolik) yang tersendiri. Oleh yang demikian, dalam tata cara ini object glass perlu dipanaskan sehingga uap keluar karena dalam hal ini, pemanasan digunakan untuk terlaksananya pewarnaan dalam jangka waktu yang optimal.

2. Tujuan Untuk mengidentifikasi acid-fast mycobacteria : leprae, tuberculosis dan atypical.

3. Inform Consent 1. Meminta persetujuan 2. Menjelaskan prosedur 3. Menjelaskan tujuan

4. Alat dan Bahan 1. Material kuman yang akan diselidiki: a. Mycobakterium tuberculosa: spuntum b. Mycobacterium leperae: kerokan 2. Gelas Objek 3. Ose 4. Lampu spiritus 5. Mikroskop dan minyak imersi 6. Alkohol 70% dan kapas 7. Cat yang akan digunakan : Carbon fuchsin 10 ml (Ziehl Neelsen A) ( Alkohol fuchsin / basic fuchsin dan carbol 5% 90 ml) HCI 3% dalam alkohol absolute 96% (Ziehl Neelsen B) (HCI 3 ml, alkohol absolute 97 ml) Methylen biru (Ziehl Neelsen C)

5. Cara Kerja 1. Objek glass yang kering dan bersih, dibersihkan dengan kapas alhokol 95% 2. Ambil Ose steril yang telah dipanaskan di atas api spiritus sampai merah membara, lalu setelah ose steril dingin, masukan ke dalam tabung yang berisi material kuman cair untuk mengambil kuman. Ratakan pada oyek glass secara tipis-tipis, tunggu sampai kering 3. Bila material kuman dalam bentuk padat, diencerkan dengan setetes air steril dengan koloni di atas objek glass, biarkan kering 4. Ose dipanaskan lagi, agar kuman mati. 5. Fiksasi preparat dengan cara memanaskan preparat tadi diatas api spiritus sebanyak 2-3 kali, agar kuman menempel di objek glass, Preparat siap diwarnai. Setelah direkatkan , preparat digenapi dengan carbol fuchsia selama 5 menit di panaskan diatas nyala api sampai terjadi penguapan akan tetapi jangan sampai mendidik

Sisa cat dibuang, cuci dengan larutan HCL 3% dalam alkohol absolute, sehingga cat tampak larut semua Cuci dengan air Genangi dengan methylen blue atau malachite green 1-2 menit Cuci dengan air dan biarkan menjadi kering Sediaan ditetesi minyak imersi dan dilihat di bawah mikroskop dengan lensa obyektif pembesaran 97-100 x. Hasil pemeriksaan :

Kuman tahan asam alkohol tampak warna merah Kuman tak tahan asam alkohol tampak warna biru/hijau. Jumlah Basil (-) BTA / 100 LP 1-9 BTA / 100 LP 10-99 BTA / LP
1-10 BTA / LP

Interpretasi

Hasil yang dilaporkan 0 (-) 1-9 BTA / 100 LP (tulis jumlah) 1+ (+ / positif 1) 2+(++/positif 2) 3+ (+++/positif 3)

> 10 BTA / LP

Daftar pustaka Standar Pelayanan Medik Diagnosis dan Terapi Pemeriksaan dan Tindakan Penyakit Kulit dan Kelamin, 1995, Fakultas Kedokteran UNIBRAW, Malang. Jawetz, Melnick & Adelbergts, Mikro Biologi Kedokteran, 2005, Salemba Medika, Jakarta.

Michael J Pelczar, jr. Dasar-dasar Mikrobiologi. Tony Hart, Paul Shears, Atlas Berwarna Mikrobiologi Kedokteran, 1996, Hipokrates, Jakarta. Buku Petunjuk Praktikum dan Skill Laboratory Pengecatan, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

PEWARNAAN GRAM
Indikasi : Untuk mengidentifikasi bakteri Gram Positif dan negatif Informed consent

Meminta Persetujuan Pasien dan keluarga Pasien untuk melakukan pemeriksaan Menjelaskan tentang tujuan Pemeriksaan yang akan dilakukan kapada pasien dan keluarga pasien Menjelaskan teknik pemeriksaan yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga pasien

Persiapan pre-prosedural Jenis spesimen untuk Pemeriksaan Gram diperoleh :


Dengan cara Swabbing Atau langsung dari Darah, pus, sputum atau likuor serebrospinalis

Alat dan Bahan : 1. Material kuman yang akan diselidiki 2. Gelas objek 3. Ose 4. Lampu Spirtus 5. Mikroskup dan minyak imersi 6. Alkohol 70% dan kapas

7. Cat yang akan digunakan Carbol gentian Violet (gram A) Terdiri dari : Alkohol Gentian violet 10 ml Carbol 5% 90 ml

Larutan lugol (gram B) Terdiri dari : Yodida 1 gram Kalium Yodida 2 gram Aquades 300 gram

Alkohol absolut 96% (gram C) Larutan Air fucshsin (gram D) Gelas objek

Cara kerja : 1. Desinfektan objek glas dengan alkohol 70% 2. Desinfektan ose dengan memanaskan ose sampai membara 3. Setelah dingin dengan ose steril kita ambil material kuman 4. Sediaan difixasi dengan pemanasan 5. Sediaan dituangi carbol gentian violet dan dibiarkan selama 1 menit 6. Sisa bahan pewrna dibuang dan dibilas dengan air 7. Sediaan dituangi dengan larutan lugol sebagai mordant dibiarkan selama 1 menit 8. Sisa lugol dibuang dan dibilas dengan air 9. Sediaan dituangi dengan alkohol 96% sebagai peluntur (decolorization) selama 5-10 detik sampai cat tampak hampir larut kemudian segera dibilas dengan air.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan


Gram Positif :

Warna Biru keunguan Bentuk : Rantai ( spesies streptokokus ) , Klaster ( spesies stafilokokus )

Gram Negatif :

Warna Merah Bentuk bisa besar , kecil atau bahkan kokkobaksil

Pewarnaan Gram

Larutan dan urutan penggunaannya 1. Ungu kristal (UK) 2. Larutan yodium (Y)

Reaksi dan tampang bakteri Gram positif Sel berwarna ungu Kompleks UK-Y terbentuk di dalam sel, sel tetap berwarna ungu Gram negatif Sel berwarna ungu

3. Alkohol

Dinding sel mengalami dehidrasi, pori-pori menciut, daya rembes dinding sel dan membran menurun, UK-Y tak dapat keluar dari sel, sel tetap ungu

Lipid terekstraksi dari dinding sel, pori-pori mengembang, komplek UK-Y keluar dari sel, sel menjadi tak berwarna.

4. Safranin

Sel tak terpengaruhi, tetap ungu

Sel menyerap zat pewarna ini, menjadi merah

PEMERIKSAAN TZANK SMEAR

1. Memahami indikasi, anatomi dan teknik prosedur tindakan medik Tujuan Pemeriksaan ini digunakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap sel-sel yang berasal dari bulla. Seperti pada a. herpes zoster b. herpes simplek c. varisella d. pemfigus e. infeksi staphylococcus anatomi

kerokan dasar erosi bulla sampai dengan stratum korneum vesikel terletak pada intraepidermal, epidermal yang terpengaruh dan inflamasi dermis menjadi infiltrate dengan leukosit dan eksudat serous yang merupakan kumpulan sel yang terakumulasi dalam stratum korneum membentuk vesikel. Prosedur Cara kerja Pililah bula yang utuh dan terinfeksi. Bila tidak dijumpai bulla yang utuh. Gunakan daerah yang erosion yang bersih atau membuat lesi baru dengan menggosok-gosokkan epidermis. Dengan scalpel atau gunting , angkatlah dinding bulla Isaplah air / serum yang terdapat didalamnya dengan kaca spon Kerok dasar erosi bulla dengan scalpel Buatlah hapusan kecil kerokan tersebut diatas gelas objek Lakukan pengecatan dengan wrights/PMS Periksalah dibawah mikroskop dengan pembesaran 100,400, dan 1000 kali Bahan dan alat Scalpel Guntung Mikroskop Pengecatan wright atau paragon multiple stain 2. Mendapatkan informed consent a. pasien diberitahu tentang tindakan pemeriksaan Tzank tersebut pasien diberi penjelasan tentang penyakitnya pnyebab penyakit perjalanan penyakit komplikasi penyakit lain yang mungkin terjadi b. pasien diberitahu tentang tujuan dari pemeriksaan Tzank tersebut yaitu untuk melakukan pemeriksaan terhadap sel-sel yang berasal dari bulla. 3. Teknik prosedur tindakan medik Cara pemeriksaan tersebut diatas dapat mengidentifikasi sel epidermis, sel achantolytic (Tzank) , sel inflamasi , multinucleated giant cell (sel raksasa berinti banyak) dan sel mast. Sel epidermis Sel ini mempunyai ukuran 2-3 kali lebih besar dari PMN. Biasanya polygonal , inti ditengah , mengandung granula halus dan sering melekat satu dengan yang lainnya membentuk kelompok Sel- sel achantolytic (Tzank) Sel-sel ini adalah epidermis yang terbentuk bulat dengan pengecatan berwarna gelap. Cytoplasma di bagian tepi yang tampak padat dan sel ini hampir tidak pernah dijumpai berkelompok, biasanya soliter, intinya terlihat gelap dibagian tepinya dan intinya relative berukuran besar dibandingkan dengan kelompok cytoplasma.

Sel inflamasi terdiri dari PMN monocyte Multinucleated giant cells ( sel raksasa berinti banyak) Sel- sel ini jauh lebih besar dibandingkan dengan sel epidermis dengan mengandung inti terbanyak didalam suatu sel.

Sel mast Bentuk selnya bulat dengan ukuran lebih besar dibandingkan dengan PMN dan mempunyai inti bertengah serta mengandung banyak granula dalam cytoplasma. 4. Pengelolaan pasca tindakan medik a. jika ditemukan bulla pasien dianjurkan jangan menggaruk supaya bulla tidak pecah sehingga diharapkan tidak menyebabkan sikatrik b. pasien disarankan untuk kontrol ulang, untuk menilai hasil pengobatan dan melihat jika kemungkinan terjadi komplikasi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2, 1995, Standar pelayanan medik diagnosis dan terapi pemeriksaan dan tindakan penyakit kulit dan kelamin, RSUD Dr.Saiful Anwar FK Unibraw, Malang. http://usmle.tv/uploads/thumbs.aagnrvju8phufjhg.jpg http://www.nature.com http:// images.google.co.id.

PEMERIKSAAN KOH
Tujuan Pemeriksaan dengan menggunakan KOH adalah teknik pemeriksaan sederhana dengan menggunakan mikroskop biasa. Solutio KOH yang alkalis dapat menyebabkan penghancuran sel-sel corneocyte. Dengan pembersihan/penghancuran tersebut memungkinkan untuk

identifikasi/melihat di bawah mikroskop bahan-bahan exogenous non protein misalnya hypha, spora dan serabut fiberglass.

Nilai diagnostik 1. Dermatomycosis superficialis 2. Candidosis 3. Tinea versicolor 4. Chromonycosis 5. Dermatitis fiberglass

Bahan dan alat yang dibutuhkan 1. Scalpel untuk melakukan kerokan kulit 2. Gelas obyek dan penutup 3. Reagen KOH 4. Lampu Busen 5. Aceton

Prosedur 1. Di daerah kulit yang telah dipilih di bersihkan dengan aceton (alkohol kurang baik hasilnya), untuk menhilangkan bahan salep. Setelah itu dilanjutkan dengan pengambilan bahan kerokan dari daerah tersebut.

2. Kerokan kulit ditampung langsung keatas gelas obyek dan dikumpulkan di bagian tengah tipis-tipis. 3. Teteskan KOH keatasnya kerokan yang telah dipersiapkan. 4. Tutup gelas obyek dengan gelas penutup. 5. Panaskan slide tersebut dan hindari pemanasan yang berlebihan yaitu jangan sampai menguap, karena dapat menimbulkan artefak. 6. Periksa dibawah mikroskop, dimulai dengan pembesaan 100 kali sampai 400 kali.

Intepretasi hasil pemeriksaan Hypha dermatophytes Bentuknya seperti benang panjang lurus atau berlekuk yang seringkali bercabang-cabang. Diameternya uniform, warna terang dengan tepi agak gelap.

Hypha dan budding spores Candida Disebut juga pseudo-hypha yang seringkali sukar di bedakan dengan hypha dari dermatohytes. Bentuknya seperti benang yang panjang. Lurus atau bengkok. Bentukan sel bulat atau oval dan budding.

Hypha dan spora T. Versicolor Bentuknya berupa benang-benang pendek-pendek dan panjang disertai dengan spora yang berkelompok dengan ukuran yang sama. Kombinasi ini seringkali di sebut spagetti dan meatballs

CONTOH PEMERIKSAAN KOH

Dermatomycosis superficialis. Contoh : Pemeriksaan Laboratorium Pada Pitiriasis Versicolor

Gambar Bercak hipopigmentasi pada orang kulit berwarna.

Presentasi klinis panu jelas, khas (distinctive), dan diagnosis seringkali dibuat tanpa pemeriksaan laboratorium. Sinar ultraviolet hitam (Wood) dapat digunakan untuk menunjukkan pendar (fluorescence) warna keemasan (coppery-orange) dari panu. Bagaimanapun juga, pada beberapa kasus, lesi panu terlihat lebih gelap daripada kulit yang tidak terkena panu di bawah sinar Wood, hanya saja tidak berpendar. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan pemeriksaan potassium hydroxide (KOH), yang menunjukkan gambaran hifa dengan cigar-butt yang pendek. Penemuan KOH tentang spora dengan miselium pendek telah dianggap serupa dengan gambaran spaghetti and meatballs atau bacon and eggs sebagai tanda khas panu. Untuk visualisasi yang lebih

baik, gunakan pewarnaan dengan tinta biru, tinta Parker, methylene blue stain, atau Swartz-Medrik stain dapat ditambahkan pada persiapan atau preparat KOH. Dengan pemeriksaan darah, tidak ada defisiensi definitif dari antibodi normal atau komplemen yang tampak pada pasien panu, namun riset di area ini tetap berlanjut. Sebagai contoh, meskipun seseorang yang terkena panu ternyata tidak memiliki level antibodi spesifik diatas mereka dengan kontrol age-matched, antigen M furfur benarbenar memperoleh respon imunoglobulin G spesifik pada pasien dengan seborrheic dermatitis dan tinea versicolor. Ini terdeteksi oleh enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan Western blotting assays. M. furfur benar-benar menyebabkan munculnya antibodi immunoglobulin A, immunoglobulin G, dan immunoglobulin M, dan juga dapat mengaktifkan komplemen baik melalui jalur alternatif maupun jalur klasik. Berbagai riset telah menemukan defek produksi limfokin, sel-sel natural killer T, menurunkan phytohemagglutinin dan stimulasi concanavalin A interleukin 1, interleukin 10, serta produksi interferon gamma oleh limfosit pada pasien. Meskipun berbagai tes ini tidak menyarankan kelainan imunologis, namun tes ini benar-benar menyarankan pengurangan respon tubuh terhadap elemen jamur yang spesifik yang memproduksi panu. Jadi, ciri khas panu yang ditemukan pada pemeriksaan KOH adalah gambaran hifa filamentosa dan bentuk globose yeast, yang sering disebut: spaghetti dan meat balls, yaitu kelompok hifa pendek yang tebalnya 3-8 mikron, dikelilingi spora berkelompok yang berukuran 1-2 mikron. Sedangkan pada pemeriksaan dengan lampu Wood, tampak fluoresensi kuning keemasan atau blue-green fluorescence of scales.

Candidosis Pemeriksaan penunjang : 1. Pemeriksaan langsung Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan Gram, terlihat gambaran Gram positif, sel ragi, blastospora, atau hifa semu. 2. Pemeriksaan biakan

Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouroud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotic (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37oC, koloni tumbuh setelah 24-48 jam berupa yeast like colony.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Bahan praktikum modul imun dan kulit.2005 Anonim, http://ilmukedokteran.net/pdf/pemeriksaan mikrobiologi Anonim, http://medicastore.com Standar Pelayanan Medis Diagnosis dan Terapi Pemeriksaan dan Tindakan Penyakit Kulit dan Kelamin, hal 12-13, RSUD Dr. Syaiful Anwar, FK UNIBRAW, Malang, 1995.

PEMERIKSAAN ECTOPARASIT-

Tujuan Beberapa ectoparasite dapat diidentifikasi dengan prosedur pemeriksaan laboratoris dan teknik pemeriksaannya tergantung dengan macam pemeriksaannya. Nilai diagnostik 1. Scabies 2. Pediculosis capitis 3. Pediculosis corporis 4. Pediculosis pubis 5. Chigger bites

Bahan dan Alat

1. Scalpel 2. Pinset 3. Gunting 4. Pembesar (loup) 5. Minyak emersi 6. Gelas obyek dan penutup 7. Mikroskop

Cara Pemeriksaan Scabies 1. Pilihlah lesi untuk pengambilan specimen dan pemilihan lesi ini sangat menentukan penemuan parasitnya.Bila ada pilihlah lesi yang mempunyai burrow/track atau bila ada vesikel di jari dapat juga dipilih. Namun demikian bila tidak dijumpai burrow dan vesikel, maka papul utuh/non ekskoriasi dapat juga dipilih, karena papul yang mempunyai keradangan hebat/bernanah atau ekskoriasi tidak dijumpai parasit. Kutu/parasit scabies pada umumnya banyak dijumpai di daerah akral, maka pilihlah lesi yang terdapat di tangan, jari, pergelangan tangan, kaki dan penis. 2. Teteskan minyak emersi pada daerah lesi atau di scalpel yang ditujukan agar sampel tetap menempel pada scalpel. 3. Keroklah seluruh lesi dengan scalpel sampai timbul perdarahan.

4. Alternatif lain dengan cara membuka burrow dengan jarum dan membukanya. Cari dengan kaca pembesar kutunya yang berupa titik hitam di akhir burrow. 5. Letakkan dan/atau buat hapusan specimen di atas gelas obyek. 6. Letakkan gelas penutup dan periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran obyektif 10 kali.

Pediculosis (capitis, corporis dan pubis) 1. Periksa dengan teliti baik ectoparasite (lice) dan telurnya (nits). Lice berwarna coklat kehitaman dan seringkali bergerak di sekitar kulit dan rambut. Nits berwarna putih dan melekat erat di rambut dan seringkali dikira sisik dari dandruff (ketombe) yang mudah dihilangkan. 2. Untuk lice, ambilah dengan pinset (forceps) dan letakkan di atas tetesan minyak immersi di atas gelas obyek. 3. Untuk nits potong atau cambut rambut yang mengandung telur tersebut dan letakkan di atas tetesan minyak immersi di atas gelas obyek. 4. Letakkan gelas penutup diatasnya dan periksa di bawah mikroskop dengan obyektif 10 kali.

Penemuan Mite/Sarcoptes scabei :

betina dewasa berukuran 0,4x0,3 mm, mempunyai 4 pasang kaki dan tajuk pada permukaan bagian dorsal. Telurnya transparan, berbentuk oval, kurang lebih 0,1 sampai 0,15 mm, biasanya ditemukan lebih dari 2 telur. Pediculosis : ada 2 macam kutu yang tidak mudah dibedakan. Berwarna gelap, panjang 3-4 mm dan mempunyai 3 pasang kaki yang sama panjangnya. Pediculus humanus bagian perutnya panjang, sedangkan Phthirus pubis mempunyai perut yang lebuh pendek

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

DOPS
Pembimbing : dr. Hj. Pasid Harlisa Sp.KK

Oleh : Susilowati jusuf 01.2065.304

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013