Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Sungai sebagai sumberdaya air memiliki kemampuan dan kapasitas potensi air yang dapat dimanfaatkan oleh kegiatan manusia untuk kegiatan sosial dan ekonomi. Sungai sebagai air permukaan merupakan sumber air tawar yang banyak dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai masyarakat (Soenarno, 2001). Kalimantan Barat yang berpenduduk 3,27 km menempati wilayah seluas 146.807 km mempunyai kepadatan rata-rata 25 jiwa/kilometer persegi. Propinsi Seribu Sungai ini sangat didominasi denngan transportasi airnya didukung keberadaan sungai-sungai besar di propinsi tersebut. Julukan ini selaras dengan kondisi geografis Propinsi Kalimantan Barat yang mempunyai ratusan sangat besar dan kecil diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagaian besar kecamatan. Sungai besar utama adalah Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia yaitu 1.806 km yang mana sepanjang 942 km dapat dilayari.

2. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu persyaratan untuk memenuhi mata kuliah Konservasi dan Rehabilitasi SDA dan melakukan studi mengenai pencemaran sungai baik dari segi kondisi fisik, ekologis, dan sosio ekonomis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Di Indonesia sungai dapat dijumpai disetiap tempat dengan kelasnya masing-masing. Pada masa lampau sungai dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan sehari-hari, baik transportasi, mandi, mencuci dan sebagainya bahkan untuk wilayah tertentu sungai dapat dimanfaatkan untuk menunjang makan dan minum. Sungai sebagai sumber air, sangat penting fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dan sebagai sarana penunjang utama dalam meningkatkan pembangunan nasional. Sebagai sarana transportasi yang relatif aman untuk menghubungkan wilayah satu dengan lainnya. Pemerintah memperhatikan manfaatnya sungai yang tidak kecil dalam kehidupan, maka untuk pelestariannya dipandang perlu melakukan pengaturan mengenai sungai yang meliputi perlindungan, pengembangan, penggunaan dan pengendalian sungai dari segala bentuk pencemaran yang berakibat rusaknya dan tidak berfungsinya kembali sungai yang tidak sesuai dengan kualitas sebenarnya. Sungai sebagai sumber air yang merupakan salah satu sumber daya alam berfungsi serbaguna bagi kehidupan dan penghidupan mahluk hidup. Air merupakan segalanya dalam kehidupan ini yang fungsinya tidak dapat digantikan dengan zat atau benda lainnya, namun dapat pula sebaliknya, apabila air tidak dijaga nilainya akan sangat membahayakan dalam kehidupan ini. Maka sungai sebagaimana dimaksudkan harus selalu berada pada kondisi dengan cara : 1. Dilindungi dan dijaga kelestariannya 2. Ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya 3. Dikendalikan daya rusaknya terhadap lingkungan Air atau sungai dapat merupakan sumber malapetaka apabila tidak dijaga, baik dari segi manfaatnya maupun pengamanannya. Misalnya dengan tercemarnya air oleh zat-zat kimia selain mematikan kehidupan yang ada disekitarnya juga merusak lingkungan. (Subagyo, 1999).

BAB III METODELOGI A. Waktu Survey pengambilan sample dilakukan pada hari tanggal 16 November 2013 sekitar pukul 10.30 wib.

B. Tempat Lokasi sungai yang dipilih untuk melakukan pengamatan di daerah Parit Naim Kec. Sungai Ambawang Kab. Kubu Raya.

C. Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan dengan mengamati sample sungai dan memaparkan kondisi riil yang ada pada lokasi tersebut dengan memperhatikan aspek-aspek yang ada baik dari segi geografis, ekologis dan sosio ekonomi.

BAB IV PEMBAHASAN Pencemaran Air Pengertian pencemaran air jugadidefinisikan dalam Peraturan Pemerintah, sebagai turunan dari pengertian pencemaranlingkungan hidup yang didefinisikan dalam undangundang. Dalam praktek operasionalnya, pencemaran lingkungan hidup tidak pernah ditunjukkan secara utuh,melainkan sebagai pencemaraan dari komponen-komponen lingkungan hidup, seperti pencemaran air, pencemaran air laut, pencemaran air tanah dan pencemaran udara.Dengan demikian, definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan hidup yangditetapkan dalam UU tentang lingkungan hidup yaitu UU No. 23/1997. Dalam PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air didefinisikan sebagai : pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiaan manusia sehinggakualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Pasal 1, angka 2). Definisi pencemaran air tersebut dapat diuraikan sesuai makna pokoknya menjadi 3 (tga) aspek, yaitu aspek kejadian, aspek penyebab atau pelaku dan aspek akibat (Setiawan, 2001). Berdasarkan definisi pencemaran air, penyebab terjadinya pencemaran dapat berupa masuknya mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air sehinggamenyebabkan kualitas air tercemar. Masukan tersebut sering disebut dengan istilah unsur pencemar, yang pada prakteknya masukan tersebut berupa buangan yang bersifat rutin,misalnya buangan limbah cair. Aspek pelaku/penyebab dapat yang disebabkan oleh alam,atau oleh manusia. Pencemaran yang disebabkan oleh alam tidak dapat berimplikasihukum, tetapi Pemerintah tetap harus menanggulangi pencemaran tersebut. Sedangkanaspek akibat dapat dilihat berdasarkan penurunan kualitas air sampai ke tingkat tertentu.Pengertian tingkat tertentu dalam definisi tersebut adalah tingkat kualitas air yang menjadi batas antaratingkat takcemar (tingkat kualitas air belum sampai batas) dan tingkat cemar (kualitas air yang telah sampai ke batas atau melewati batas). Ada standar baku mututertentu untuk peruntukan air. Sebagai contoh adalah pada UU Kesehatan No. 23 tahun1992 ayat 3 terkandung makna bahwa air minum yang dikonsumsi masyarakat, harusmemenuhi persyaratan kualitas maupun kuantitas, yang persyaratan kualitas tettuangdalam Peraturan Mentri Kesehatan No. 146 tahun 1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air. Sedangkan parameter kualitas air

minum/air bersih yang terdiridari parameter kimiawi, fisik, radioaktif dan mikrobiologi, ditetapkan dalamPERMENKES 416/1990 (Achmadi, 2001).

Indikator pencemaran air Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahanatau tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi : Pengamatan secara air fisis, yaitu pengamatan perubahan pencemaran suhu, air berdasarkan dan adanya

tingkatkejernihan

(kekeruhan),

warna

perubahanwarna, bau dan rasa Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zatkimia yang terlarut, perubahan pH Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air

berdasarkanmikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen. Indikator yang umum diketahui pada pemeriksaan pencemaran air adalah pH ataukonsentrasi ion hydrogen, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen, DO), kebutuhan oksigen biokimia ( Biochemiycal Oxygen Demand, BOD)serta kebutuhan oksigen kimiawi(Chemical Oxygen Demand, COD).

DAMPAK - Terhadap biota air - Terhadap air tanah - Terhadap kesehatan - terhadap estetika SUMBER - Industri - Rumah tangga (pemukiman) - Pertanian, perkebunan dll.

PENCEMARAN AIR - Pengertian, Indikator - Standar baku mutu

PENANGGULANGAN - Secara teknis - Secara non teknis - Kebijakan

BAB V DOKUMENTASI SAMPLE SUNGAI