Anda di halaman 1dari 6

Eksperimentasi politik dalam pemerintahan islam Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, pemerintahan diegang oleh Abu Bakar

bin Abi Quhafah sebagai khalifah I (632-634 M). Kritik, saran dan buah pikiran terbuka baginya demi baiknya pemerintahan. Dasar pemerintahan islam yang telah diletakkan oleh Muhammad SAW di Makkah berupa keyakinan, di Madinah berupa dasar peraturan dan pergaulan, diteruskannya dengan segala kebijaksanaan. Beberapa pemberontakan, terutama yang dilakukan oleh golongan pembangkang ditekannya dan beberapa soal peperangan mengenai Mesopotamia dan Syria diselesaikan dengan tenaga yang ada. Jalan ke zaman keemasan mulai terbentang. Sayang sekali, karena Tuhan terburu memanggil, Abu Bakar tidak lama memegang pemerintahan. Digantikannya oleh Umar Bin Khattab (634-644) sebagai Khalifah II. Situasi yang tadinya berontak, berduri dan berliku dalam masa Umar bin Khattab mulai terang, ditebas dan diretas di sana-sini, baik dalam lapangan politik, ekonomi, sosial, maupun dalam lapangan pengetahuan kesenian, di samping soal-soal militer, terutama mengenai jalan peperangan di Persia, Mesir, Syria dan perhatiannya juga ditujukan pada pembangunan. Pengumpulan Al-Quran yang sudah dirintis sejak zaman Abu Bakar diteruskan, dan sempurna pada masa Ustman bin Affan, Khalifah III (644-655 M). Dalam masa itu mulailah kesukaran politik, dan pada masa Ali bin Abi Thalib, keretakan itu diperbaiki kembali. Dari masa ke masa daerah umat Islam semakin meluas dengan pesatnya. Bila pada masa Abu Bakar tentara islam telah memasuki Hirah dan Anbar (Mesopotamia) dan telah sampai di sungai Yarmuk Syria, di masa pemerintahan Umar bin Khattab kaum Muslimin telah menaklukka Bactriane dekat sungai Ajax (Amu Daria) di sebelah timur, maka di masa khalifah Ustman bin Affan, pemerintahan mereka sudah sampai di Armenia dan Azarbayan di sebelah timur, dan Tripolo di sebelah barat. Dengan demikian kelihatan, bahwa kaum Muslimin waktu itu telah tersebar di Mesir, Syria, Iraq, Persia dan Afrika. Apa rahasia yang terpendam sehingga Islam berkembang begitu pesat di kalangan penduduk?

Toleransi adalah senjata dalam menawan simpati penduduk dan masyarakat yang selama ini tertekan oleh pengajaran agama dari orde lama dan di saat itu pula meringkuk dibawah beban pajak yang amat berat, pemerasan dan perampasan yang biasanya dilakukan atas nama agama. Maka negara Islam memberikan kepada rakyat-rakyat dua buah hak yang sama sekali tiada dikenal di zaman pemerintahan lama, yakni: 1. Toleransi dan kemerdekaan beragama. 2. Pajak ringan dan adil yang dipungut sesuai dengan undang-undang dan ketentuan yang berlaku Di antara Khalifah-Khalifah Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz adalah yang teramat saleh dan paling bernyala semangatnya dalam menyokong cita-cita penyebaran islam. Dihapuskannya pajak yang dipungut dari orang-orang dzimmi yang telah memeluk Islam itu di seluruh kerajaan, disamakannya kedudukan mereka dalam segala hal dengan Kaum Muslimin asli.

Penaklukkan Konstantinopel pertama kali sebenarnya sudah dilakukan pada masa Khalifah Ustman, yakni tahun 32 H (635 M). Suatu perangkatan tentara di bawah Muawiyah bin Abu Sufyan yang ketiga itu menjadi gubernur di Syria. Pada tahun 44 H (664 M) Muawiyah telah memegang tampuk khilafah dan Daulah ani Umayyah berdiri di Damaskus (damsyik. Sebuah armada yang dipimpin oleh Laksamana Bursn bin Artah berlayar memasuki perairan Marmoria. Tapi sebelum Kaum Muslimin dapat melaksanakan rencana mereka, musim dingin pun datang. Terpaksalah mereka melalui musim dingin itu di Anatolia dan membatasi gerak dalam penyerbuan setempat. Tetapi beberapa tahun kemudian, Muawiyah menyempurnakan persiapan untuk merebut ibukota imperium timur itu. Sebelum itu Muawiyah telah menyelidiki dengan seksama sekalian jalan dan lintasan Asia kecil, berkali-kali menjelajah daearah itu dengan tentaranya dan mempelajari suasana umum, lubang-lubang kelemahan dan kebobrokan dari imperium Timur. Dikerahkannya tentara besar, dihimpunnya armadaarmada tanggung di pelabuhan-pelabuhan Mesir dan Syria, serta dikirimkannya pasukan

perintis di bawah komando Fadala Ubeid Al-Anshary, yang menerobos ke Anatolia (48 H) 668 M dan menaklukkan benteng-bentengnya sampai ke Calcidum. Sebenarnya kaum muslimin tiada menginsyafi ketangguhan Konstantinopel dan alat-alat pertahanan bangsa Romawi, demikian pun tiada menyadari keperwiraan musuh yang karena disebabkan ancaman bahaya dahsyat itu, mempertahankan ibukota dan benteng terakhir, agama dan kebudayaan mereka secara mati-matian. Karena jemu dari penyerangan yang tiada berhasil itu, maka kaum Muslimin berbalik menghancurkan pantai-pantai Asia dan Eropa dari laut Marmora. Waktu musim dingin datang dan setelah melakukan kepungan di dalam masa 7 tahun berturut-turut, bergerak di musim panas dan beristirahat di musim dingin. Barulah mereka yakin akan kegagalan usaha mereka dan berniat menghentikan rencana besar itu. Tetapi perjuangan yang berlarut-larut itu telah melemahkan tenaga menghabiskan kesabaran mereka. Mereka telah kehilangan prajurit yang tidak sedikit, kapal, mesiu dan ternak. Kerugian terus menerus mematahkan semangat, sedangkan penyakit dan kebingungan mengacaukan barisan. Akhirnya mereka memutuskan untuk

mengundurkan diri pada tahun 678 M. Spanyol, direbut umat Islam dari kerajaan Gotha pada tahun (710-711 M), di bawah pimpinan panglima Besar Tharik bin Ziyad dan Musa bin Museir di masa pemerintahan Khalif Wali bin Abdul Malik. Semenjak saat itu Spanyol menjadi satu wilayah dari kerajaan Bani Umayyah. Pada waktu Nabi Muhammad SAW wafat (8 Juni 632 M) Daulah Islamiyah baru meliputi sebagian saja dari semenanjung Arabia, yaitu daerah yang lebih kurang sekarang dinamakan Hijaz, Adir, Yaman, Nejed, dan Oman. Seabad kemudian kawasan daulah Islamiyah telah berdiri dan meliputi negeri-negeri sebagai berikut: Benua Asia 1. Seluruh semenjanjung Arabia, termasuk Saudi Arabia, Yaman, Aden, Hadramaut, Oman, Bahrain, Qatar, dan Kuwait 2. Yordania

3. Syria 4. Bagian Selatan Turki 5. Irak 6. Iran 7. Armenia 8. Georgia 9. Azerbaijan 10. Turkmenistan 11. Tujikistan 12. Uzbekistan 13. Afghanistan 14. Akistan 15. Kashmir

Benua Afrika 1. Mesir 2. Lybia 3. Tunisia 4. Aljazair 5. Maroko 6. Mauritania

Benua Eropa 1. Spanyol 2. Portugal 3. Seluruh provinsi selatan dari Perancis di bawah garis Sens Dijon Chalon Langres Sebagian besar dinasti yang tumbuh di Timur dalah keturunan Parsi. Meskipun secara politik tidak menimbulkan kesulitan bagi pemerintahan pusat Baghdad, dari segi budaya memberikan corak perkembangan yang baru, yaitu kebangkitan kembali nasionalisme dan kejayaan bangsa.

Sebagaimana dijelaskan bahwa meskipun dinasti-dinasti kecil itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, namun dalam proses pemerintahannya bersifat otonomi penuh. Pada masa itu muncul pula dinasti-dinasti lain yang membangun kekuasaan terpisah-pisah, meskipun tidak sepenuhnya melepaskan diri dari kekuasaan pemerintahan pusat di Baghdad, seperti Dinasti Fatimah, Dinasti Touluniyah di Mesir. Kemudian, muncul pula dinasti-dinasti kecil di belahan barat Baghdad, yang dimulai dengan munculnya Dinasti Idrisiyah di Maroko.

Kesimpulan perjalanan nabi Muhammad SAW sebagai pembawa misi risalah langit, terbagi dalam tiga periode, yaitu pertama, periode pra kerasulan; kedua, periode kerasulan, dan ketiga pasca kerasulan. Tahap kedua sejarah kenabian ini diawali dengan dua kondisi demografis sosiologis Arab, yakni kondisi pada masa Makkiyah dan masa Madaniyyah. Di Madinah ada tiga golongan manusia, yaitu kaum muslimin, orang-orang Arab, serta kaum non muslim, dan orang-orang yahudi. Rasulullah melakukan satu kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya sebuah keamanan dan kedamaian. Juga untuk melahirkan sebuah suasana saling membantu dan toleransi di antara golongan tersebut. Islam adalah agama dan sudah sepantasnya jika di dalam negara diletakkanb dasar-dasar Islam maka turunlah ayat-ayat Al-Quran pada periode ini untuk membangun legalitas dari sisi-sisi tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dengan perkataan dan tindakannya. Jika pada masa Dinasti Umayyah, wilayah kekuasaannya masih merupakan kesatuan yang utuh, yakni suatu wilayah yang luas membentang dari Spanyol di Eropa, Afrika Utara, hingga ke timur di India, pada masa Dinasti Abbasiyah mulai tumbuh Dinasti saingan yang melepaskan diri dari kekuasaan khalifah di Baghdad, yang dimulai dengan terbentuknya Dinasti Umawiyah di spanyol. Selanjutnya kekhalifaan terpecah menjadi

dua bagian, yaitu Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad dan Dinasti Umawiyah yang berpusat di Andalusia, Spanyol.

Daftar Pustaka Supryadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008. Munawwir, Imam. Kebangkitan Islam dan Tantangan-tantangan yang Dihadapi dari Masa ke Masa. Surabaya: Bina Ilmu Offset, 1984.