Anda di halaman 1dari 0

www.rajaebookgratis.

com

MENGINTIP PERJALANAN SANG IMAM
Studi Epistema Dan Pergolakan al-Ghazali


Oleh MN.Ary B




Siapa yang tidak pernah ragu,... tidak akan pernah tahu
(Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall)

Perjalanan Sang Imam
Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin
Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, dilahirkan pada tahun 450 H
(1058 M) di Thabran tepatnya kota Thus, masih masuk wilayah
Khurasan. Ayahnya, seorang shalih bekerja sebagai pemintal bulu
domba (yaghzulu al-shuf),
1
dan menjualnya di tokonya yang juga di
kota itu.
Ayah Ghazali meninggal sebelum dia sampai pada umur yang
bisa dianggap dewasa. Sebelum ayahnya meninggal sempat
menyerahkan dia dan saudarannya "Ahmad" kepada teman ayahnya,
seorang sufi, untuk mendidik mereka berdua.
Ghazali kecil belajar dasar-dasar ilmu bahasa arab dan fikih
kepada seorang ulama di negaranya yaitu Imam Ahmad bin
Muhammad al-Radhikani. Saat usianya belum sampai dua puluh
tahun, ia pindah ke daerah Jurjan belajar kepada Imam Abi al-Qasim
Ismail bin Mus'adah al-Ismaily. Kemudian kembali lagi ke Thus dan
tinggal disana selama tiga tahun.
Setelah itu, pergi ke Naisabur belajar kepada Imam Haramain
al-Juwainy, kepala madrasah Nidhamiyah saat itu.
2
Kepada beliaulah
Ghazali belajar ilmu fikih, ushul, jadl, mantiq, kalam, dan filsafat.

Makalah sederhana ini, pernah dipresentasikan pada perdana acara Kajian Tokoh yang
diselenggarakan oleh RAKHMA.

Bakul Tempe Thub Ramli, untuk pemesanan hub. 4112346/0108573397. Mahasiswa al-Azhar
Fak. Dirrst al-Islmiyyah wa al-Arabiyyah. Fans berat Bastian Tito, pengarang Wiro Sableng
212. Jasa beliau tidak akan terlupakan. Komiknya telah menstimulasi penulis untuk terus
membaca (?) Blog : http://arebuuud.blogspot.com
1
Julukan al-Ghazali mungkin diambil dari pekerjaan ayahnya, atau mungkin dari nama desa
yang berada dalam wilayah Thus. Lihat, Ali Muawwidh & Adil Abdul Maujud, dalam
pengantar al-Wajz f Fiqhi al-Imm al-Syfii, Dar al-Arqam, Beirut, cet. I, 1997, hal. 9
2
Dr. Sulaiman Dunya, dalam pengantar Mzn al-Amal, Dar al-Maarif, Kairo, cet. I, 1964, hal. 7
www.rajaebookgratis.com
Pada saat inilah Ghazali, sang pemikir, mulai menelurkan karya-
karyanya.
3

Setelah Imam al-Haramain meninggal dunia (478 H/1085 M)
Ghazali pergi ke majlis Wazir Nidham al-Mulk al-Saljuqi, yakni
Wazir dari Sultan Maliksyah di Naisabur. Sang Wazir sangat takjub
akan ilmunya, terkhusus ilmu kalam dan filsafat yang ia kuasai.
Hingga Sang Wazir meminta Ghazali untuk mengajar di Madrasah
Nidhamiyah yang terletak di kota Baghdad. (484 H/1091 M).
4

Muridnya sangat banyak, diantaranya terdapat sekitar tiga
ratus pembesar ulama ikut belajar kepadanya, karena takjub akan
ketinggian ilmu Sang Imam.
5
Disitu Ghazali mendapatkan
kemasyhuran, hingga seorang Abdul Ghaffar bin Ismail al-Farisy
berpendapat bahwa; saat itu Ghazali patut untuk menyandang gelar
sebagai Imam bagi Khurasan dan Irak.

Pergulatan Sang Pemikir
Di Baghdad inilah Ghazali benar-benar serius dalam
mendalami filsafat. Ia pelajari filsafat-filsafat pendahulunya seperti
Farabi dan Ibnu Sina. Setelah merasa cukup dalam mempelajari
filsafat, ia menulis buku "Maqsid al-Falsifah" sebagai antitesis dari
buku-buku filsafat yang telah dibacanya. Kemudian di lanjutkan
dengan menulis buku terkenalnya "Tahfut al-Falsifah".
Tujuan pokok ditulisnya buku-buku ini, adalah untuk
menghancurkan metode aqliyyah yang di pegang para filosof. Akan
tetapi dia tidak menolak filsafat-filsafat itu secara keseluruhan,
karena dalam pandangannya, terdapat pendapat-pendapat filosofis
yang tidak bertentangan dengan agama.
6

Di Baghdad ini pula terjadi pertentangan di hati Sang Imam ,
ia berpikir untuk tidak mengajar lagi. Saat itu adalah masa jayanya.
Namanya harum bagaikan kasturi, hidupnya bergelimang harta dan
kedudukan. Setelah mengalami kebingungan dan kegelisahan yang
cukup lama, mempertahankan kenikmatan dunia atau menapak jalan

3
Dr. Sulaiman Dunya, al-Haqqah f Nadhri al-Ghazli, Dar al-Maarif, Kairo, cet. II, 1965, hal. 20-21
4
Dr. Muhammad Luthfi Jumah, Trkhu Falsifah al-Islm, lam al-Kutub, Kairo, 1999, hal. 67
5
Dr. Sulaiman Dunya, dalam pengantar Mzn al-Amal, loc. cit.
6
Ahmad Syamsuddin, dalam pengantar al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
Beirut, cet. I, 1988, hal. 6-7
www.rajaebookgratis.com
menuju amal-amal keakhiratan, ia memutuskan untuk meninggalkan
baghdad (1095 M).
Ungkapannya dalam menggambarkan kegelisahan hatinya;

Kutelisik diriku, ternyata diriku telah tenggelam dalam
berbagai kebergantungan, kebergantungan itu telah meliputiku
dari segala arah. Kulihat apa yang telah kuperbuat selama ini,
kudapati, terbaik yang pernah kulakukan hanyalah belajar atau
mengajar. Tapi, kebanyakan dari itu semua adalah ilmu-ilmu
yang tidak berguna bagi akhiratku.
7

Terus terjadi di diriku, pertarungan dua keinginan.
Mempertahankan kenikmatan dunia yang telah kudapat, atau
mengikuti nuraniku, untuk menerima panggilan, menapak jalan
ke arah Tuhan. Kurang lebih enam bulan, mulai dari bulan
Rajab tahun 488 H. Pada bulan ini, usahaku untuk memilih
telah mencapai titik klimaks. Aku kesakitan. Allah membungkam
mulutku, hingga tak lagi ada kemampuan untukku mengajar.
Pada suatu hari, aku memaksa diriku untuk keluar,
berdebat dengan orang-orang yang tidak bersesuaian pendapat
denganku, seperti kebiasaanku yang telah lalu. Berharap mereka
tentram setelah kujawab. Tapi ternyata, aku tidak mampu untuk
mengucap sepatah kata pun, sama sekali tak mampu. Hingga
akhirnya, akupun tak lagi bernafsu untuk makan dan minum.
Tabib yang merawatku berkata: Ini adalah penyakit yang
datangnya dari hati. Tidak ada obatnya, kecuali hanya dengan
mengistirahatkan segala kepedihan yang menyakitkan. Setelah
tubuhku cukup sehat, dan keputusan telah kudapat, aku penuhi
panggilan Allah untuk menapak jalan kepadanya, tanpa
keraguan lagi. Maka mudahlah bagi hatiku, untuk meninggalkan
segala kedudukan, harta, anak-anakku, juga sahabat-
sahabatku.
8


Ghazali berani mengambil keputusan ini, setelah yakin bahwa
hakikat dari keimanan dan kebenaran tidak akan di dapat oleh

7
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall,, Ibid. hal. 59
8
Ibid. hal. 60-61
www.rajaebookgratis.com
orang yang hatinya dipenuhi oleh keinginan untuk mendapatkan
kedudukan, harta, serta perasaan cinta terhadapnya.
9

Melepaskan segala keraguan, pada bulan Dzulqa'dah 488 H,
Ghazali bertolak dengan niat melaksanakan ibadah haji. Sampai di
Damaskus pada permulaan tahun 489 H. Sementara waktu ia
menetap disitu selama sepuluh tahun. Kemudian menuju al-Quds, ke
Kairo, dan hinggap di Iskandariah. Selama itu ia hanya sibuk dalam
pensucian diri, membersihkan hati dengan selalu mengingat Allah
Swt. Dimanapun berada.
Ghazali kembali ke Baghdad, tetapi di Baghdad sama sekali
tidak mengajar seperti kebiasaannya dulu; sebelum melakukan
perjalanan mencari Tuhannya. Hingga Wazir Fakhr al-Mulk
memintanya untuk mengajar di Nidhamiyah Naisabur. Ia terima
permintaan Sang Wazir, tapi tidak lama, setelah satu tahun berada di
Naisabur, ia beranjak menuju Thus tempat kelahirannya. Ia
memutuskan untuk menetap di situ, selama itu kesibukannya hanya
beribadah dan mengajar hingga wafatnya (505 H /1111 M).
10

Dari perjalanannya dalam mencari kebenaran sejati, dapat
disimpulkan bahwa masa kehidupan intelektual Sang Imam terbagi
menjadi tiga fase:
Pertama: Masa mulainya keraguan; saat ia mulai dalam
pengembaraan intelektual. Sebagaimana ungkapan Ghazali, bahwa
kegelisahan dirinya akan hakikat kebenaran, bermula dari saat
mudanya.
11

Kedua: Masa memuncaknya keraguan; saat itu ia mengalami
kebimbangan akan semua kebenaran, dalam waktu yang cukup
panjang. Suatu pergolakan jiwa yang tentunya sangat menyiksa
dirinya. Sebagaimana dinyatakan Ghazali dalam al-Munqidh Min al-
Dhall, bahwa masa itu, ialah masa giatnya menulis tentang ilmu
kalam, kritik filsafat, dan kritik mazhab al-ta'lim (bthiniyyah). Saat itu,
ia sedang mengajar di madrasah Baghdad tentang ilmu syariat .
Tidaklah mengherankan kalau ia mengalami kebingungan dan
kegelisahan yang dahsyat. Karena disitu ia sering mengaduk-aduk,

9
Abu Hamid al-Ghazali, Faishal al-Tafriqah baina al-Islm wa al-Zandaqah, ditahkik oleh Hugga
Musthafa, Dar al-Nasyr al-Gharbiyyah, Kairo, 1983, hal. 3
10
Ahmad Syamsuddin, op. cit., hal. 7-8
11
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, op. cit., hal. 25
www.rajaebookgratis.com
memilah-milih kebenaran dan kesesatan yang ada dalam filsafat dan
madhab-madhab lainnya, hal ini mengakibatkan terombang-
ambingnya metode berpikir Sang Pemikir ini. Sedangkan di sisi lain
ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu syariat.
12
Kebingungan
seperti ini sering pula terjadi pada para pemikir lainnya. Diantaranya
Abu Abdillah Muhammad bin Abdul karim al-Syahrastani, Abu al-
Ma'ali al-Juwainy, al-Khoufajy, Imam al-Razi.
13

Ketiga: Masa selesainya pencarian; apa yang dicarinya selama
perjalanan itu telah ia dapati, hatinya pun tenang, tidak gelisah lagi.
14


Politik Dan Cendekiawan Di Seputar Sang Ilmuwan
Masa hidup Ghazali adalah masa yang sangat gemilang dalam
percaturan keilmuan di dunia Islam. Para pelajar berbondong-
bondong menghadap para guru untuk mengeruk ilmu dari mereka.
Penuh semangat dan gairah. Segala macam keilmuan berkembang
dengan pesat, terkhusus filsafat. Bukan semata-mata karena ingin
menjadi ilmuwan yang berguna, menimba ilmu hanya lillh; karena
banyak juga ketertarikan mereka yang lebih di recohi oleh keinginan-
keinginan lain. Walaupun ada yang murni, ikhlas.
Adalah, keinginan untuk pangkat dan kemasyhuran, dekat
dengan para pejabat kala itu, Ghazali pun terseret juga dalam ambisi
seperti ini, hingga akhirnya ia taubat, dan memperbaiki niat.
15

Terdapat sedikit sekali yang benar-benar ikhlas dalam perjuangan
mereka menuntut ilmu. Di arah lain, para pembesar negeri pun
membutuhkan bantuan ulama untuk mencapai maksud-maksud
mereka terhadap rakyat. Karena saat itu, agama adalah faktor utama
kekuatan penguasa dalam menjaring ketundukan rakyat. Wal hasil
simbiosis mutualisme pun terjadi, setepuk dua tangan, lalat pun
kena.
16

Menurut sejarawan, perkembangan filsafat Islam dibidani oleh
madhab Mu'tazilah, sebuah madhab yang terkenal dengan madhab
olah pikir. Madhab ini mencoba untuk mengkomparasikan antara

12
Dr. Sulaiman dunya, al-Haqqah f Nadhri al-Ghazli, op. cit., hal. 56-57
13
Muhammad al-Said Muhammad, dalam pengantar Tahfut al-Falsifah, Maktabah al-
Taufiqiyyah, Kairo, 2003, hal. 10-11
14
Dr. Sulaiman Dunya, al-Haqqah f Nadhri al-Ghazli, op. cit., hal. 56
15
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, op. cit., hal. 76
16
Ibid. hal. 15
www.rajaebookgratis.com
agama dan akal, pada agama Islam. Dalam membedah akidah-
akidah agama dan membantai musuh-musuhnya, mereka
menggunakan piranti filsafat yang mereka adopsi dari filsafat Yunani
juga selainnya, sebagai alat justifikasi bagi kebenaran pendapat
mereka dan kesalahan pendapat musuhnya.
Hal itu bisa terjadi, dikarenakan gerakan penterjemahan
dengan agresif-nya tengah merambah dunia Islam. Karya-karya
Aristoteles Sang Muallim al-Awwal juga para filosof lainnya, di
terjemahkan dari bahasa Greek ke bahasa Arab. Baik secara langsung
dari bahasa Yunani ke bahasa Arab, maupun dari bahasa Suryani.
Karena sebagian besar buku-buku filsafaat Yunani telah di
terjemahkan ke bahasa Suryani sebelum dunia Arab giat dalam
penterjemahan.
Setelah dunia Islam menelan berbagai filsafat Greek, terbagilah
cara berpikir cendikiawan Islam menjadi tiga kelompok besar:
Pertama: Kelompok yang sangat fanatik terhadap filsafat
Yunani, terutama filsafat Aristoteles. Hingga sampai meletakkan
akidah agama dibawah bangunan filsafat ini. Menjadikan filsafat
sebagai pondasi dan agama sebagai peng iya darinya.
Kedua: Kelompok pembela terlalu setia terhadap akidah
muslim. Mereka sangat memusuhi para pengikut filsafat
Aristoteles. Akan tetapi, dalam pembelaan terhadap akidah Islam,
mereka juga menggunakan filsafat sebagai alat bantunya. Hingga,
kesibukan mereka terhadap filsafat, berefek sangat besar terhadap
masuknya nadhriyyt al-ilmiyyah dalam ilmu kalam, seperti
nadhriyyt jauhar al-fard, ini mereka ambil dari filsafat naturalisme
Yunani. Bahkan terkadang lebih lebar lagi dalam pembahasannya.
Disebabkan penggunaan filsafat itu diarahkan untuk tujuan-tujuan
keagamaan mereka, maka harus disesuaikan dengan kebutuhan
mereka pula.
Ketiga: Kelompok sufiyyah (dalam eksistensinya sebagai sebuah
metode yang berpegang kepada prinsip-prinsip tertentu). Muncul
sebagai antitesis dari kedua kelompok yang telah muncul terdahulu.
Mereka berpendapat bahwa perdebatan filosofis (jadl al-falsafi al-
kalm), tidak akan pernah bisa mencapai pengetahuan tentang
www.rajaebookgratis.com
kebenaran. Pengetahuan yang benar hanya bisa dicapai dengan
ibadah amaliyyah, kasyf al-bthin dan musyhadah al-mubsyarah.
17


Ghazali Diantara Tiga Mainstrem Pemikiran
Pada saat terjadinya pertarungan sengit antara tiga mainstrem
pemikiran itu, Ghazali tampil sebagai seorang juri di tengah-tengah
pertandingan. Ia berusaha me-nengah-nengahi, antara filosof,
mutakallimin, dan para sufi. Ia tidak menundukkan agama dibawah
kaidah dan hukum akal secara total. Tidak mendudukkan akal
dibawah akidah agama, sedangkan akal hanya berfungsi sebagai
penjustifikasi dari dalil-dalil agama yang telah ada. Juga tidak
menafikan akal, sebagaimana dilakukan para sufi kala itu. Justru ia
malah membuat sebuah metode baru dalam tasawuf, dengan
menyeimbangkan antara ilmu dan amal, antara berpikir dan kasyf al-
bthin secara bersamaan.
Akan tetapi, metode Ghazali dalam penyeimbangan antara
ilmu dan amal, antara berpikir dan kasyf al-bthin ini, menurut
penulis terdapat keganjilan di dalamnya. Kalau kita mengandaikan
penggunaan pikiran disertai kasyf al-bthin, dikhawatirkan terjadinya
kesalahan penafsiran dalam wujud kasyf al-bthin-nya. Karena
kuatnya berpikir seseorang mampu untuk membuat imajinasi yang
menguatkan kedudukan akal. Sehingga entitas kasyf al-bthin itu
sendiri menjadi tidak orisinil lagi. Seperti seorang yang sering
mengingat-ingat akan seseorang yang telah meninggal, mampu
mengakibatkan ia bertemu dengan orang tersebut dalam mimpinya.
Bahkan saat memuncaknya kerinduan, orang itu bisa terwujud di
depan matanya.
Ia tidaklah mengingkari kebenaran ilmiah, baik berhubung
dengan kenyataan natural (thabiyyah) maupun ilmu pasti
(riydhiyyah). Akan tetapi, dia hanyalah membatasi akal dalam ke-
ikut campuran-nya mengotak-atik akidah agama. Tidak
menggunakan secara total, juga tidak membuang semuanya.
Menempatkan keduanya dalam posisi yang berlainan; ilmu
berpegang kepada akal, sedangkan akidah agama memancar
(yanbau) dari hati. Jadi ada sekulerisasi antara ilmu dan akidah

17
Ahmad Syamsuddin, op. cit., hal. 3-4
www.rajaebookgratis.com
agama. Dengan begitu ia berpendapat bahwa, =hati (al-qalb) tempat
keluarnya iman, sedangkan akal adalah pondasi dari ilmu
pengetahuan=.
18

Dari usaha pen-sekuler-an Ghazali terhadap ilmu dan akidah
agama. Menurut penulis terdapat hal yang mungkin menjadi
penyebab terjadinya hal itu. Diantaranya dengan mengamati
perjalanan Ghazali mulai dari muda hingga wafatnya; ia sibuk dalam
pencariannya tentang hakikat kebenaran. Mungkin saja, seandainya
Ghazali tidak wafat saat itu; ia akan menelurkan ide lain lagi, yang
mungkin akan dia anggap sebagai kebenaran yang lebih benar dari
kebenaran yang telah di dapatnya. Atau bisa dibilang ia sedang
mengalami evolusi kebenaran. Karena merasa tidak menemukan
titik temu dalam pengkomparasian antara ilmu dan akidah agama,
maka dia berkesimpulan bahwa agama dan ilmu haruslah
dipisahkan. Antara keyakinan dan pengetahuan berada di tempat
yang berbeda.
Setelah mengkaji filsafat-filsafat pendahulunya, Ghazali
berkesimpulan bahwa:
A. Terdapat pemikiran yang wajib di kafirkan. Diantaranya pendapat
filosofis yang menyatakan bahwa, jasad manusia tidak akan di
hidupkan kembali, Allah hanyalah mengetahui hal-hal kulliyyt,
tidak mengetahui yang juziyyt, alam bersifat dahulu (qadm).
19

Dalam hal ini, dengan radikalnya Ghazali mengatakan bahwa orang
yang berkeyakinan seperti ini, wajib dibunuh;
20

B. Pemikiran yang wajib dianggap sebagai bid'ah;
C. Pemikiran yang memang benar adanya, tidak boleh di ingkari.
Diantaranya ilmu pasti (riydhiyyah) dan ilmu logika (mantiq).
21

Menurutnya terdapat sangat banyak kerancuan dalam filsafat,
hingga tidaklah mungkin tercapai kebenaran dengannya. Dapat
dilihat, setiap jawaban dari pertanyaan filosofis selalu berbenturan
dengan jawaban lainnya. Lalu mana yang benar diantara itu semua ?
Benturan antar jawaban sebenarnya disebabkan filsafat itu sendiri

18
Ibid. hal. 4-5. Bandingkan dengan Dr. Sulaiman Dunya, al-Haqqah f Nadhri al-Ghazli, op. cit.,
hal. 36-37
19
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, op. cit., hal. 42
20
Abu Hamid al-Ghazali, Tahfut al-Falsifah, op. cit., hal. 218
21
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, op. cit., hal. 38
www.rajaebookgratis.com
hanyalah merupakan ketepatan dalam menyusun strategi, untuk
mendudukkan kebenaran dalam posisi filosof itu sendiri.
22

Sedangkan ilmu yang benar-benar benar menurutnya adalah,
ilmu yang dengannya kita mampu untuk sampai pada derajat yakin
(ilmu al-yaqn). Sedangkan ilmu al-yakn sendiri adalah, ilmu yang
dengannya obyek kajian benar-benar menjadi bisa di mengerti tanpa
disertai sedikitpun keraguan, juga tidak disertai oleh kesalahan
maupun salah sangka. Sebaliknya setiap ilmu yang tidak sampai
derajat ini tidaklah dapat di sebut sebagai ilmu al-yakin. Ilmu seperti
ini adalah, ilmu yang tidak bisa dipercaya dan tidak aman untuk
dibuat sebagai pegangan.
23


Akal Dan Syariat Dalam Perspektif Ghazali
Mengawinkan akal dan syariat Tuhan, merupakan hal yang
melelahkan. Keterjebakan selalu menganga, sedikit lengah akan
terjerumus dalam jurang ke-totaliter-an. Dalam perspektif Ghazali,
akal dan syariat, selamanya akan saling bergandeng tangan, tidak
akan pernah saling menjatuhkan. Bagaikan lampu dan minyak
(tenaga lampu). Tanpa akal, syariat tidak akan bisa di pahami
artinya. Begitu juga akal, apabila tanpa syariat maka akan semakin
jauh dari kebenaran. Jadi, mutlak adanya keselarasan dua sisi.
Karena, eksistensi dari syariat itu sendiri sebenarnya merupakan akal
luar (aql al-khrij), apabila akal luar dan akal dalam bersatu, itulah
manifestasi dari "nr ala nr".
Sebenarnya, kedudukan akal itu sendiri tetap akan sering
membutuhkan tuntunan syariat untuk dapat mencerap kebenaran
sejati. Karena batas kemampuan akal hanyalah sampai untuk
mencerap kebenaran universal saja, tanpa kemampuan mencerap
kebenaran partikular. Ringkasnya, =akal tidak akan pernah bisa
berfungsi sebagai pencerap kebenaran partikular dalam syariat.
Sedangkan syariat terkadang datang untuk menetapkan kebenaran
yang sebenarnya akal sendiri telah mampu untuk mencerap
kebenarannya=.
24


22
Abu Hamid al-Ghazali, Tahfut al-Falsifah, op. cit., hal. 28
23
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, pengantar dan tahkik oleh Dr. Jamil Shaliba
& Dr. Kamil Iyadh, Dar al-Andalus, Beirut, cet. VII, 1967, hal. 25
24
Abu Hamid al-Ghazali, Marij al-Quds, Mathbaah al-Istianah, Kairo, hal. 57
www.rajaebookgratis.com
Hampir di setiap bidang ilmu yang dikaji Ghazali, selalu
berada dalam koridor pembahasan syariat dan agama. Terlihat,
tujuan utamanya memang untuk menyelamatkan agama dari
pemikiran-pemikiran "hitam" masa itu. Dapat diambil kesimpulan;
ideologi Ghazali dalam pengkorelasian antara akal dan agama
adalah =akal hanya menempati posisi sebagai pembantu dalam
pemahaman agama, dan bukan sebaliknya=, alias syariat tidak
perduli akan kegelisahan akal.
Padahal akal, menurut penulis; adalah yang paling utama
dalam pembahasan tentang syariat. Justru syariat yang telah ada
hanyalah sebagai pembantu dalam usaha pencapaian terhadap
kebenaran. Karena bagaimanapun juga, Tuhan menunjuk manusia di
muka bumi ini pasti telah disertai modal kemampuan untuk
merealisasikan tugasnya.
25
Syariat diturunkan hanyalah sebagai
contoh (itibr) di saat carut-marutnya pemahaman (pola pikir)
tentang kebenaran. Mudahnya, =syariat dimungkinkan
pembekuannya di saat kemaslahatan menghendaki kenyataan lain,
dan tetap dipakai di saat kenyataan yang ada sesuai dengan jawaban
dalam syariat=.
Ghazali menyatakan bahwa bukan hanya akal, yang dibatasi
kemampuannya dalam mencerap kebenaran sejati. Panca indera pun
sering tertipu oleh apa yang telah dicerapnya. Cerapan panca indera
belum tentu benar adanya. Seperti saat kita memandang bintang
dilangit, kita melihatnya sebagai benda yang sangat kecil, yang tidak
lebih besar dari kepingan logam uang. Akan tetapi, kemudian ilmu
astronomi membuktikan kepada kita bahwa bintang-bintang itu
sangat besar, lebih besar dari bumi yang kita tempati ini. Contoh
kesalahan dari cerapan akal adalah; saat tidur kita bermimpi, saat itu
kita meyakini bahwa apa yang kita lihat dalam mimpi itu adalah
suatu kebenaran, akan tetapi kemudian kebenaran itu sirna disaat
kita terbangun dari tidur.
26


25
Setiap doktrin agama yang terkesan tidak rasional tidaklah mununjukkan akan tidak
rasionalnya agama. Hanyalah, akal belum mampu (bukan tidak mampu) untuk memahaminya.
Cukup dikatakan, ilmu pengetahuan manusia saat ini belumlah cukup untuk memahami hal itu.
Dan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, dimungkinkan pemahaman tentang itu. Seperti
kejadian Isra Miraj Nabi Saw.
26
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, op. cit., hal. 27-28
www.rajaebookgratis.com
Oleh karena itu, dalam mencerap kebenaran, menurut Ghazali
dibutuhkan timbangan yang ia sebut sebagai "Qisths al-Mustaqm".
Adalah lima timbangan yang telah diberikan Alah kepada manusia
melalui kitabnya, dan telah diajarkan kepada para Nabi. Tetap
menurutnya, bahwa barang siapa beramal dengan mizn ini, maka ia
akan mendapat petunjuk. Hingga dapat mencapai kebenaran yang
hakiki. Tapi, barang siapa lebih mengunggulkan pendapat akalnya,
maka ia akan tersesat dan jauh dari kebenaran. Qisths al-Mustaqm
yang di klaim Ghazali sebagai manhaj-nya itu tertera dalam al-Qur'an
Surat al-Rahman: 1-4 dan 7-9, Surat al-Hadid: 25.
Mizn ini, sebagaimana diungkapkannya dalam buku al-
Mustashf adalah qiys al-ilmy atau burhny, akan tetapi dia tidak
menggunakan lafadz qiys dalam mengistilahkan mizn ini. Karena
qiys dalam pemakaiannya secara umum telah kehilangan dalil-dalil
ilmiahnya. Sebagaimana qiys yang di gunakan para mutakallimin
dalam membahas masalah fikih. Mereka cenderung menggunakan
dalil-dalil dhanny, dengan berdasar persangkaan pikiran akan suatu
kebenaran. Qiys seperti ini dalam pandangannya tidak selamat
untuk digunakan membahas suatu permasalahan, karena hanya akan
mendapatkan hasil yang dhanny pula.
Mizn ini tidak hanya bisa di gunakan sebagai timbangan
dalam hal-hal yang berhubungan dengan olah pikir saja. Bahkan
lebih jauh, menurutnya dapat digunakan pada hampir semua cabang
keilmuan, seperti ilmu pasti, dan kedokteran. Akan tetapi, tidak
dapat diterapkan pada hukum wadh'i .
27


Sebab Akibat Dalam Perspektif Ghazali
Pergumulan manusia dalam mengarungi hidup, akan selalu
berhadapan dengan berbagai kejadian. Semua kejadian di alam ini,
layaknya pemahaman konvensional; tentunya tersusun dari berbagai
premis-premis kejadian yang teratur, ada akibat, tentunya ada sebab
yang melatarbelakanginya. Akan tetapi, pemahaman konvensional
ini, menurut Ghazali sama sekali tidak benar. Menurutnya, hukum
sebab-akibat itu tidak ada, dengan uraian bahwa terjadinya sesuatu
itu tanpa perlunya suatu sebab.

27
Abu Hamid al-Ghazali, al-Qisths al-Mustaqm, pengantar dan tahkik oleh Victor Syalhat,
Maktabah al-Syarqiyyah, Beirut, cet. II, 1986, hal. 43
www.rajaebookgratis.com
Sebagaimana khawriq al-dah yang dialami oleh Ibrahim As.
Beliau tidak terbakar api. Kejadian ini menurutnya disebabkan,
esensi api itu sendiri sebenarnya hanyalah benda mati, yang tidak
bisa melakukan sesuatu. Eksistensi api dalam kemampuannya
membakar, hingga membuatnya menjadi sesuatu yang berakibat
adalah karena kehendak Dzat yang menjalankan api itu, yakni Allah.
Apabila kemampuan membakar dari api itu dicabut oleh-Nya, maka
api itu tidak akan mampu membakar apapun. Jadi, suatu keadaan
yang biasanya suatu hal menjadikan terjadinya keadaan tertentu,
tidaklah menunjukkan atas akan terjadinya sesuatu. Sedangkan
untuk kejadian yang mengakibatkan kejadian lain dalam kenyataan
sehari-hari Ghazali lebih setuju untuk menyebutnya sebagai dah
atau kebiasaan.
28

Pendapat ini senada dengan David Hume,
29
seorang pemikir
pada abad ke 18 M. Dia juga berpendapat bahwa, teori sebab akibat
adalah teori yang belum cukup untuk membuktikan bahwa, kejadian
pertama menjadi illah bagi terjadinya kejadian kedua.
30

Akan tetapi, pendapat seperti ini ditolak keras oleh Ibnu Rusyd
(w. 595). Menurutnya, orang yang mengingkari adanya teori sebab-
akibat berarti menyingkirkan akal, yang berarti juga memusnahkan
ilmu. Kalau memang runtutan kejadian yang terjadi di alam ini lebih
patut untuk disebut dah; yang menurut Ghazali lain dengan sebab-
akibat. Maka, adanya Allah pencipta alam raya ini juga dah. Justru
hal itu mustahil, karena dah adalah suatu kejadian yang adanya
karena dikerjakan secara berulang-ulang.
31

Dalam kacamata penulis, penafian Ghazali terhadap realitas
sebab-akibat adalah lebih disebabkan oleh konsep awal dalam
pemahamannya terhadap diskursus takdir. Kenyataan ini,

28
Abu Hamid al-Ghazali, Tahfut al-Falsifah, op. cit., hal. 168-173
29
Abdurrahman Badawi membedakan antara pendapat Ghazali dan Hume dalam penafian
terhadap sebab-akibat. Ghazali mengingkari illah akan semua kejadian, karena sebenarnya
pelaku sejati dari semua kejadian ini adalah Allah. Sedangkan menurut Hume percobaan
(tajribah) adalah satu-satunya cara untuk mengetahui sesuatu itu menjadi illah ataupun tidak, dia
cenderung untuk berpendapat tidak tahu siapa pelaku sejatinya. Lebih lanjut, lihat
Abdurrahman Badawi, dalam Auhm Haula al-Ghazl, hal. 7
30
Dr. Jamil Shaliba & Dr. Kamil Iyadh dalam pengantar al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-
Andalus, op. cit., hal. 16
31
Abu al-Walid Muhammad Ibnu Rusyd, Tahfut al-Tahfut, diberi pengantar oleh Ahmad
Syamsuddin, Dar al-Kutub al-Ilmyyah, Beirut, cet. II, 2003, hal. 351-352
www.rajaebookgratis.com
tentunya juga sangat menentukan perkembangan arah berpikirnya.
Sebagaimana dipahami oleh banyak sejarawan bahwa, dalam
Ushuluddin ia lebih dekat kepada Asyariyyah daripada yang lain.
Tersirat dalam buku Ibnah an Ushl al-Diynah-nya Asyari bahwa
kejadian yang ada di dunia ini semuanya telah di tentukan oleh
Allah dari semulanya, jadi tidak ada kemampuan manusia untuk
mengotak-atik nasibnya sendiri; manusia hanyalah wayang yang di
jalankan oleh dalang.
32


Tuhan, Manusia, Dan Kenabian
Pertanyaan yang akan sering di dengar, saat kita mulai
menginjak dunia para filosof adalah; Siapa pencipta alam ? Siapa itu
Tuhan? Apakah Tuhan ada ? Dapatkah Tuhan dibuktikan ? Untuk
menjawab pertanyaan ini, Ghazali telah menyediakan metode yang
mampu untuk membuktikan adanya Tuhan.
Menurut Ghazali, jauhar al-insn pada saat ketitahnya tercipta
sebagai individu yang sama sekali tidak dibekali pengetahuan
tentang Tuhan. Untuk bisa mengetahuinya, manusia diharuskan
untuk mempelajari alam ini dengan daya pemahaman (idrk), yang
telah di berikan oleh Allah kepadanya. Terdapat empat tingkatan
idrak dalam pandangan Ghazali;
Pertama: Kemampuan untuk mengindera alam inderawi ini
(tingkatan terendah). Kedua: Kemampuan untuk membedakan
diantara hal-hal yang telah di cerap oleh indera manusia. Ketiga:
Akal, dengannya manusia mampu membedakan antara perkara
wajib, mungkin, ataupun mustahil. Keempat: Tertinggi, adalah apa
yang ada dibalik kekuatan akal. Yaitu kemampuan untuk mencerap
hal-hal ghaib, dan apa yang akan terjadi pada masa mendatang.
Kemampuan ini, merupakan pengetahuan para Nabi.
33

Pengetahuan manusia tidak sempurna tanpa sempurnanya
keempat macam idrk ini. Untuk dapat mencerap kebenaran sejati,

32
Adalah kenyataan yang ironis jika seperti itu. Penulis lebih setuju bahwa nasib manusia ada di
tangan manusia itu sendiri. Campur tangan Tuhan dalam kejadian ke-manusia-an adalah suatu
nilai plus bagi manusia yang mengalaminya. Jadi, terdapat kejadian yang mengikuti iradah
Tuhan (untuk ini-pun selalu mengikuti kaidah basyariyyah), dan ada kejadian yang bergantung
kepada manusia itu sendiri.
33
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, op. cit., hal. 67.
Bandingkan juga dengan Abu Hamid al-Ghazali, Tahfut al-Falsifah, op. cit., hal. 177-178
www.rajaebookgratis.com
kemampuan manusia tidaklah cukup, karena hanya sampai pada
tingkatan ketiga. Sedangkan idrk keempat hanyalah diberikan
kepada para Nabi. Manusia hanya dapat mengetahuinya dari
keterangan yang telah diberikan oleh para Nabi. Sebab, risalah dan
kenabian bukanlah suatu hal yang bisa dicapai dengan usaha, itu
adalah pemberian langsung dari Allah Swt. Walaupun sebelum
menjadi Nabi, sang Nabi-pun telah mempunyai kesiapan dalam
dirinya untuk mendapatkan "cahaya" kenabian.
34

Mudahnya, derajat kenabian merupakan derajat yang lebih
tinggi dari derajat manusia umumnya. Sebagaimana "ke-manusia-an"
itu sendiri merupakan derajat yang lebih tinggi dari golongan
hewan. Atau bisa dikatakan, manusia diistimewakan dari hewan
lainnya, dengan mu'jizat kemampuan manusia dalam berbicara,
berpikir, dan menguasai hewan-hewan lainnya. Sedangkan Nabi
diistimewakan dari manusia lainnya dengan mu'jizat kemampuan
Nabi diatas manusia lainnya. Semua itu, menurut ketetapan Allah,
sehingga tidak mungkin bisa di usahakan.
35

Berbeda dengan Ghazali, Ibnu Sabin berpendapat bahwa
kenabian adalah hal yang bisa diusahakan. Karena, kenabian
merupakan faidh (jawa: luberan) daripada akal disaat akal itu telah
sampai pada titik bersihnya. Bahkan ia pernah berkata: Ibnu
Aminah (Muhammad Saw.) telah membekukan hal yang sebenarnya
masih mungkin terjadi, dengan perkataannya: tidak ada Nabi
setelahku.
36


Takwil Menurut Ghazali
Sering terjadi pengkafiran antar umat Islam sendiri, gara-gara
permasalahan takwil. Pengkafiran seperti ini, terjadi pula pada masa
kehidupan Ghazali. Golongan Hanabilah mengkafirkan Asyariah,
Asyariah mengkafirkan Mutazilah. Lalu, sebenarnya golongan
manakah yang kafir ? Dalam hal ini, Ghazali cenderung tidak
berpendapat. Ia hanya memberikan metode dan syarat-syarat dalam
pentakwilan. Dengan demikian, ia cenderung setuju untuk di

34
Abu Hamid al-Ghazali, Marij al-Quds, op. cit., hal. 107
35
Ibid., hal. 109
36
Mahmud al-Marakibi, Aqid al-Shfiyyah f Dhoui al-Kitb wa al-Sunnah, Mathbaah al-Tijariyah,
Qalyub, cet. III, 1996, hal. 87
www.rajaebookgratis.com
perbolehkannya mentakwili ayat-ayat al-Quran ataupun hadits Nabi
Saw.
Menurut Ghazali, semua yang telah diturunkan Allah dalam
al-Qur'an, dan apa yang telah disabdakan oleh Nabi Saw. Pasti ada
maknanya. Walaupun, terkadang makna dari suatu ayat atau hadits,
baru bisa didapat setelah ditakwili. Dalam hal pentakwilan ini,
banyak sekali perbedaan pendapat diantara para ulama. Sehingga,
menyebabkan perbedaan arti pula. Untuk itu, Ghazali berusaha
menyarikan arti dari suatu wujud dengan membuat tingkatan dalam
wujud sesuatu. Yang kemudian, disesuaikan dengan obyek yang
akan ditakwili. Ghazali membagi wujud dalam lima tingkatan:
Pertama: Wujud Dzty. Merupakan wujud hakiki, yang terletak
diluar penginderaan maupun akal. Akan tetapi panca indera dan
akal, mampu untuk menggambarkannya, yang kemudian disebut
"cerapan" (jawa; penemu). Seperti wujud langit, bumi, hewan, dan
tumbuhan.
Kedua: Wujud Hissy. Adalah wujud yang merupakan hasil dari
cerapan panca indera. Akan tetapi hanya panca indera saja, tanpa
adanya ikut campur dari lainnya. Seperti melihatnya orang yang
sedang tidur (mimpi)
Ketiga: Wujud Khayly. Adalah perwujudan bentuk obyek
dalam bayangan, dengan tanpa unsur penginderaan. Seperti seorang
yang memejamkan matanya, kemudian membayangkan gajah dalam
bentuknya yang sempurna.
Keempat: Wujud 'Aqly. Adalah, apabila sesuatu itu mempunyai
esensi, hakikat, dan makna. Kemudian, akal mampu mengambil
darinya eksistensi dari obyek tersebut, tanpa harus mewujudkan
obyek tersebut dalam bentuk khayalan maupun dengan bantuan
penginderaan, ataupun unsur-unsur eksternal darinya. Seperti pena,
wujud aqliyyah-nya adalah kemampuan pena untuk di gunakan
menulis.
Kelima: Wujud Syubhy. Adalah, apabila suatu obyek itu ada
tanpa bentuknya maupun hakikatnya, tidak dalam unsur-unsur
eksternal, tidak karena penginderaan, tidak dalam khayalan maupun
akal. Seperti perwujudan kemarahan Allah Swt.
37


37
Abu Hamid al-Ghazali, Faishal al-Tafriqah baina al-Islm wa al-Zandaqah, op. cit.,hal. 8-15
www.rajaebookgratis.com
Sedangkan untuk syarat-syarat takwilnya. Sebagaimana
dijelaskan oleh Ghazali; berawal dari apabila tidak dimungkinkan
pemaknaan dhahir al-nash sebagai mana adanya (wujud dzty), maka
beranjak dengan pemaknaan menurut penginderaan (wujud hissy).
Apabila tidak dimungkinkan, maka dimaknai secara khayly atapun
aqly. Apabila tetap tidak mungkin, maka menggunakan majaz
(syubhy). Akan tetapi usaha pentakwilan dari pertama hingga akhir
haruslah berurutan.
38


Ghazali Dan Tasawuf
Si Penghancur Filsafat adalah salah satu diantara julukan
Ghazali.
39
Para sufi menganggapnya sebagai Hujjah al-Islm,
dikarenakan jasanya yang besar dalam khasanah tasawuf. Karya-
karyanya dalam bidang ini sangat banyak. Diantara buku
terpentingnya adalah Ihy Ulm al-Dn. Akan tetapi, orang yang
tidak sependapat dengan isi buku ini menyebutnya sebagai Imtah
Ulm al-Dn.
Terdapat perbedaan antara Ghazali dan ulama sufi
kebanyakan.
40
Setelah bertahun-tahun dalam perjalanan keilmuan, ia
mengalami banyak hal yang menimbulkan keraguan pada dirinya
untuk mengetahui kebenaran hakiki. Kemudian ia berkesimpulan,
bahwa ilmu-ilmu yang ia dapat adalah ilmu yang diwariskan secara
turun-menurun tanpa ia koreksi kebenarannya. Saat itu, dalam
memahami ilmu ia memang cenderung taklid, kepada ulama
sebelumnya. Hingga akhirnya, ia berkeputusan untuk tidak taklid
lagi. Ia kembalikan dirinya ke fithrah aslinya; tanpa keberpihakan.
Karena kebenaran, tidak akan didapatkan dengan cara taklid.

38
Ibid. hal. 18-19
39
Julukan ini menurut sebagian pendapat tidaklah sesuai dengan kenyataan. Menurut
Abdurrahman Badawi, kejatuhan filsafat Islam tidaklah bisa dibebankan kepada Ghazali, karena
jejakjejak tentang hancurnya filsafat ditangan Ghazali sangat sulit diwujudkan. Badawi telah
mengkaji buku-buku yang berkaitan dengan hal itu, akan tetapi tetap saja tidak menemukan
bukti yang valid untuk tuduhan tersebut. Lebih lanjut lihat, Abdurrahman Badawi, dalam Auhm
Haula al-Ghazl., hal. 1-3
40
Kalau kita amati dari perkembangan tasawuf yang ada, kebanyakan lebih cenderung ke arah
taklid dalam perkembangan ilmunya. Sebagaimana kalimat sufistik yang sudah masyhur,
Murid dihadapan guru, bagaikan mayit dihadapan orang yang memandikannya. Lebih lanjut,
lihat, Lajnah al-Buhuts wa al-Dirrasat bi al-Thariqah al-Azmiyyah, al-Shfiyyah f Uyn al-
Salafiyyah, Masyikhah al-Thariqah al-Azmiyyah, cet. I, 2005, hal. 255
www.rajaebookgratis.com
Kebenaran hanya akan didapatkan, melaui proses keraguan dengan
meragukan segala pengetahuan yang pernah di dapat. Sebagimana
yang ia katakan, Siapa yang tidak pernah ragu, maka tidak akan
pernah mencoba untuk mengamati. Siapa yang tidak pernah
mencoba mengamati, maka ia tidak akan pernah tahu. Siapa yang
tidak tahu, maka akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan.
41

Ghazali adalah salah seorang diantara guru besar para sufi.
Tapi kenapa yang ia bantai dalam sejarah pembantaian keilmuan
bukan hanya filsafat saja, bahkan melebar sampai ke tasawuf ?
Pertanyaan ini dijawab oleh Prof. Macdonald; dikarenakan, sekte-
sekte tasawuf yang ada pada saat itu, dianggap sebagai suatu jalan
menuju Tuhan yang keluar dari aturan syariat. Dapat dilihat dari
pengajaran Ghazali tentang tasawuf kepada murid-muridnya, selalu
disesuaikan dengan aturan syariat. Hingga kaum sufi sepeninggal
Ghazali, mendapatkan tempat yang tinggi diantara muslim Sunny.
Bahkan, hampir semua aliran dalam Islam.
42

Selain sebagai seorang konseptor dalam teori-teori tasawuf,
Ghazali juga seorang praktisi. Ini terlihat dari apa yang
dikerjakannya semasa uzlah. Selama sepuluh tahun, ia bolak-balik
antara bait al-muqaddas dan haji di baitullah. Kemudian i'tikaf di
masjid Umawi yang berada di Damaskus. Disitu, ia menulis bukunya
Ihy Ulm al-Dn, yang terbilang sebagai referensi penting dalam
ilmu tasawuf.
Menurut Mahmud al-Marakibi; disaat Ghazali melakukan
uzlah, hal yang paling mengherankan darinya adalah, mengapa ia
tidak menyibukkan diri dengan urusan umat Islam (!). Sedangkan
saat itu, umat Islam sedang sibuk-sibuknya menahan serangan
pasukan salib, hingga akhirnya bait al-muqaddas terlepas dari umat
Islam, jatuh ke tangan pasukan salib (492 H). Justru di
pengasingannya ia asik mengarang Ihy Ulm al-Dn meninggalkan
Daulah al-Dn. Yang lebih mengherankan lagi, Ghazali sama sekali
tidak menulis buku tentang jihad serta pahalanya, juga keutamaan
para mujahiddin dan kedudukannya dalam agama.

41
Muhyiddin Azuz, al-L Maql wa Falsafat al-Ghazl, Dar al-Arabiyyah li al-Kitab, Libia, 1983,
hal. 87. Lihat juga, Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-Andalus, op. cit., hal.
63
42
Dr. Sulaiman Dunya, al-Haqqah f Nadhri al-Ghazli, op. cit., hal. 52
www.rajaebookgratis.com
Apakah tidak mengherankan (!), Ghazali adalah seorang Hujjah
al-Islm. Setelah bait al-muqaddas jatuh ketangan pasukan salib, ia
hidup selama 12 tahun. Dan selama itu, ia sama sekali tidak
menyinggung-nyinggung kejadian itu dalam bukunya.
43
Apa yang
dilakukannya itu bertentangan dengan apa yang telah di tulisnya
dalam penjelasannya tentang sufi. Karena, menurut Ghazali seorang
sufi itu harus mempunyai dua karakter: Pertama; Istiqamah dalam
menjalankan perintah Allah. Kedua; Berbuat baik kepada manusia.
Tidak mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain.
Akan tetapi, mengorbankan diri sendiri untuk orang lain, selama
tidak bertentangan dengan syariat.
44

Satu hal lagi yang sangat di soroti Marakibi adalah, olehnya
membagi ilmu ke dalam dua bagian; lmu dhahir dan ilmu batin
45
.
Walaupun ia menjelaskan bahwa antara dhahir dan batin selamanya
siiring setujuan.
46
Tetap saja pembagian itu berbahaya, karena
mampu menyebabkan perkembangan kearah fana', baqa', hull, dan
akhirnya wihdah al-wujud (jawa; manunggaling kawula kalawan gusti).
47

Menurut Ghazali, makna ilmu dalam koridor kemampuannya
menuntun manusia kejalan muksyafah, dibagi menjadi dua : Pertama;
Ilmu amaly, yaitu ilmu yang berhubungan dengan tata cara dalam
melakukan suatu perbuatan. Kedua; Ilmu nadhary, seperti
pengetahuan tentang keadaan jiwa, pada hal-hal keakhiratan.
48

Ghazali menganggap bahwa ilmu tharq al-sulk, atau ilmu
untuk marifah kepada Allah sebagai ilmu tertinggi dari ilmu lainnya.
Dikarenakan, ilmu lainnya seperti fikih dan kalam, hanyalah alat
untuk sulk. Ilmu-ilmu itu mengarah kepadanya. sedangkan ilmu
tharq al-sulk tidak mengarah kepada yang lainnya. Secara otomatis,
posisi ilmu tharq sulk berada di titik puncak perjalanan keilmuan.
49


43
Mahmud al-Marakibi, op. cit., hal. 245. Bandingkan dengan Muhyiddin Azuz, op. cit., hal. 74
44
Abu Hamid al-Ghazali, Ayyuh al-Walad, Majmuah al-Rawai al-Insaniyyah, hal. 48
45
Pembagian ilmu menjadi dhahir dan batin dalam pengajaran tasawuf, disinyalir oleh Marakibi
sebagai pencatutan atas kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi (?) Khidhir, Musa sebagai pemilik
ilmu dhahir dan Khidhir sebagai pemilik ilmu batin. Lebih lanjut lihat, Mahmud al-Marakibi,
Ms wa al-Khidhir, Mathbaah al-Tijariyah, Qalyub, cet. III, 1996, hal. 46-58
46
Mahmud al-Marakibi, Aqid al-Shfiyyah f Dhoui al-Kitb wa al-Sunnah, op. cit., hal. 246
47
Ibid. hal. 237-247
48
Dr. Sulaiman Dunya, al-Haqqah f Nadhri al-Ghazli, op. cit., hal. 42
49
Abu Hamid al-Ghazali, Jawhir al-Quran, ditahkik oleh Dr. Muhammad Rasyid Ridha al-
Qabbany, Dar Ihya al-Ulum, Beirut, cet. III, 1990, hal. 41-42
www.rajaebookgratis.com
Setiap orang pasti mempunyai syahwat. Syahwat ini sering-
sering menimbulkan malapetaka, jika empunya syahwat tidak bisa
mengontrol dan mengalokasikannya dengan baik. Dalam pandangan
Ghazali, syahwat tidak selamanya jelek. Asal sesuai dengan
kedudukan masing-masing, maka syahwat itu sah-sah saja. Orang-
orang yang rif billah pun mempunyai syahwat, yakni syahwat
untuk marifatullah. Syahwat ini tidak beda dengan syahwat anak
kecil untuk bermain, syahwat orang akan kedudukan. Akan tetapi,
syahwat seorang yang rif billah, tidaklah seperti syahwat lainnya.
Karena, makin dekat seseorang kepada Allah, akan semakin
bertambah pula rasa syahwat itu, bukannya malah berkurang.
Berbeda dengan syahwat lainnya.
50

Dalam ajaran Ghazali tentang ilmu tasawuf, terdapat beberapa
hal yang menurut Abu Bakar Ibnu al-Arabi (bedakan dengan Ibnu
Arabi), muridnya sendiri; sebagai tharq al-sulk yang keluar dari
aturan syariat diantaranya dalam diskursus al-kasyf. Itu disebabkan,
karena Ghazali pernah masuk dalam dunia para filosof, kemudian ia
berusaha untuk keluar darinya, akan tetapi tidak mampu. Sehingga
hal itu ber-atsar terhadap teori-teori tasawuf yang ia kembangkan.
51


Kejeniusan Ghazali
Kejeniusan Ghazali diakui dunia. Ia dianggap sebagai seorang
yang telah berhasil membuat madhab istimewa, karena
kemampuannya mengkompilasikan agama, akhlaq, filsafat, dan ilmu
jiwa dalam satu wadah.
52
Sebagaimana di ungkapkan seorang
pemikir berkebangsaan Perancis, E. Renan dalam Histoire g-enerale
et systeme compare des langues Semitiques bahwa "Ghazali adalah
salah seorang diantara para filosof muslim yang mampu
membangun aliran khusus dalam pemikiran filsafat". Sedemikian
besarkah penghormatan Renan, yang nota-benenya dia pula orang

50
Abu Hamid al-Ghazali, Jawhir al-Quran, op. cit., hal. 82-83
51
Abdul Majid al-Shaghir, Ab Hmid al-Ghazl Dirst f Fikrih wa Ashrih wa Tatsrih,
Kulliyyah al-Adab wa al-Ulum al-Insaniyyah, Ribath, 1988, hal. 190. Lihat juga, Muhyiddin
Azuz, op. cit., hal. 177
52
Bahkan al-Fdlil Ibnu Asyur mensinyalir bahwa permulaan filsafat Islam, yang benar-benar
hasil karya umat Islam sendiri adalah dimulai sejak masa Ghazali ini. Lihat, Muhyiddin Azuz,
Ibid., hal. 60
www.rajaebookgratis.com
yang pernah berkata filsafat Arab tidak lain, tidak bukan, hanyalah
filasafat Yunani kuno yang ditulis dengan huruf Arab (?).
53

Pergulatan Ghazali dengan berbagai macam keilmuan, turut
serta mengambil saham dalam pembentukan madhab khusus yang ia
dirikan. Walaupun dalam pengaturan porsinya, kentara bahwa
tasawuf berada di tempat paling utama.
54
Ia gunakan pula ilmu
logika yang sejalur dengan cara berpikirnya, ilmu logika itu sedikit
dipaksa untuk menterjemahkan pemahaman-pemahaman tentang
keagamaan. Penggunaan ilmu logika dalam membedah
permasalahan agama ini sangat terlihat di pelbagai bukunya.
Walaupun terkadang ia harus membingkai logikanya dalam frame
agama; dikarenakan umat Islam saat itu menganggap orang yang
berbicara tentang logika sebagai seorang filosof.
55

Tidak mengherankan jika ia mendapat kehormatan sebesar itu,
sebab kalau kita amati, diantara pendapat Ghazali terdapat pendapat
yang sangat mirip dengan pendapat filosof setelahnya, yang hidup di
Eropa pada masa renaisance. Hal ini membuktikan bahwa ia
selangkah lebih maju dari filosof lainnya. Diantaranya Dekaart
(Descartes), seorang filosof Perancis pada abad ke-17 M, Deekart ini
membangun filsafatnya atas asas yang juga pernah dibangun oleh
Ghazali,
56
yaitu; meragukan panca indra dan akal, untuk mencapai
kebenaran sejati.
57
Atau, meragukan segala sesuatu untuk

53
Ahmad Syamsuddin dalam pengantar al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , op.
cit., hal. 9
54
Dr. Jamil Shaliba & Dr. Kamil Iyadh dalam pengantar al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-
Andalus, op. cit., hal. 7
55
Hal itu dapat terlihat dalam usahanya meyakinkan bahwa Isa As. Itu bukanlah Tuhan, akan
tetapi hanyalah seorang Rasul yang diutus kemuka bumi. Metode ini di pakai juga oleh seorang
Kristolog asal Afrika Selatan, Ahmad Deedat. Perbedaannya Ghazali lebih banyak menggunakan
ilmu logika dan pengetahuan yang ia dapat dari Bibel, sedangkan Deedat mencampurkan
keduanya dengan sejarah dan bukti-bukti ilmiah. Bandingkan antara al-Ghazali, al-Rad al-Jaml li
Ilhiyyati s, dan Ahmad Deedat, The Choice.
56
Abdurrahman Badawi memmbedakan antara Ghazali dan Deekart dalam teori tentang
keraguan (auhm). Ghazali memulai keraguan hingga akhirnya mendapatkan keyakinan dengan
cahaya Tuhan (bi nr qadhafahullah fi al-shadr). Sedangkan Deekart memulainya dengan
meragukan semua pendapat yang pernah di dengar hingga akhirnya mendapatkannya kembali
dengan piranti akal. Lebih lanjut lihat, Abdurrahman Badawi, dalam Auhm Haula al-Ghazal, hal.
3-5
57
Teori meragukan akal untuk mencapai kebenaran sejati, merupakan antitesis dari teori yang di
cetuskan oleh Socrates, kemudian dilanjutkan oleh Plato dan Aristoteles. Yakni; kebenaran sejati
dapat dicerap oleh akal, bukan dengan hissy (sensualistis). Lebih lanjut lihat, Iwadhullah Jad
www.rajaebookgratis.com
mendapatkan keyakinan yang sejati.
58
Bisa juga dengan menolak
segala keyakinan untuk mendapatkan keyakinan yang benar.
59

Hal lain yang menunjukkan atas keluasan ilmunya ialah,
retorika yang ia pakai dalam membuktikan kebenaran adanya
pencipta alam raya dengan segala kekuasaannya, tidak terbatas pada
hal-hal disekitar filsafat. Bahkan lebih jauh, dengan menunjukkan
pelbagai macam keajaiban alam, yang penuh dengan hikmah-hikmah
sains. Walaupun dalam percontohannya terbatas pada hal-hal yang
sesuai dengan perkembangan sains masa itu.
60

Metode ini pula yang telah di pakai oleh Harun Yahya dalam
usahanya memberantas berkembangnya Teori Evolusi.
61
Akan
tetapi, metode seperti ini dikhawatirkan penggunaannya. Sebab,
fakta-fakta yang telah didapat terkadang dapat terhapus oleh fakta
yang datang pada masa yang akan datang.

Buah Tangan Sang Imam
Ghazali terkenal sebagai seorang penulis yang handal, buah
karyanya sangat banyak, melingkupi berbagai cabang keilmuan,
fikih, kalam, filsafat, tasawuf, hikmah, bahkan psikologi pun tidak
ketinggalan. Menurut Ahmad Syamsuddin, buku yang ditulis
Ghazali lebih dari 200 buah, walau diantaranya terdapat buku yang
diragukan akan penisbatan buku itu terhadapnya. Diantara buku-
bukunya yang terpenting adalah al-Munqidh Min al-Dhall, Ihy Ulm
al-Dn, Maqsid al-Falsifah , Tahfut al-Falsifah, dan Mi'yr al-Ilmi.
62

Kalau kita simak setia inci dari tulisan Ghazali, kita akan
temukan bahwa dalam tulisannya tersirat emosinya sebagai seorang
pencari kebenaran. Tulisan yang penuh ruh, menggambarkan

Hijazy, al-Mursyd al-Salm f al-Manthiq al-Hadts wa al-Qadm, Dar al-Thabaah al-
Muhammadiyyah, Kairo, cet. IX, 1998, hal. 27-29
58
Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, op. cit., hal. 25-29.
Bandingkan dengan, Abu Hamid al-Ghazali, al-Qisths al-Mustaqm, op. cit., hal. 61 dan 101
59
Abu Hamid al-Ghazali, al-Qisths al-Mustaqm, op. cit., hal. 41
60
Baca lebih lanjut, Abu Hamid al-Ghazali, al-Hikmah f Makhlqtillah, ditahkik oleh Dr.
Muhammad Rasyid Ridha al-Qabbany, Dar Ihya al-Ulum, Beirut, cet. I, 1978, hal. 14
61
Teori ini disabdakan oleh seorang Inggris bernama Charles Robert Darwin pada tahun 1985 M,
yang terkenal dengan bukunya The Origin of Species. Lebih lanjut, lihat Harun Yahya, Memahami
Allah Melalui Akal, diterjemahkan oleh Muhammad Shasiq, S.Ag, Versi Elektronik.
62
Ahmad Syamsuddin dalam pengantar al-Munqidh min al-Dhall, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, op.
cit., hal. 8
www.rajaebookgratis.com
perasaan hatinya saat menulis buku-buku itu; hal yang jarang
dipunyai oleh penulis-penulis lain. Tulisan yang bukan cuma berisi
retorika penyampaian belaka, akan tetapi benar-benar penuh dengan
gejolak hati yang menguasainya saat itu.
Para pengkaji yang membuka buku-buku Ghazali tanpa
mengetahui terlebih dahulu fase-fase penulisan bukunya, hampir
bisa dipastikan akan kebingungan dalam menyerap epistem-epistem
yang dihasilkannya. Bahkan mungkin akan menganggap Ghazali
sebagai seorang pemikir yang plin-plan. Hal itu disebabkan
perubahan idealime yang Ghazali pegang selalu beriring dengan
pergulatan dalam kehidupan yang ia alami. Metode berpikirnya
sering mengalami perubahan, hasil dari serapan-serapan baru dari
dinamika pengetahuan dan pengalamannya. Maka sangat perlu
untuk mengetahui fase-fase penulisan buku-buku utamanya.
Pertama: (dari 478-484 H) bukunya "al-Wajz".
Kedua: (dari 484-488 H) bukunya "al-Maqshid al-Falsifah, al-Tahfut
al-Falsifah, al-Iqtishd f al-Itiqd, al-Mustadhhiry.
Ketiga: (dari 492-495 H) bukunya "Ihy' Ulm al-Dn (telah dimulai
penulisannya sebelum saat itu), al-Mustashf, Kimiya' al-Sa'dah,
Minhaj al-Abidn.
Terakhir: (dari 495-505 H) bukunya "Mi'yr al-Ilmy, Mihak Nadhar, al-
Maqshad al-Asn, al-Ajwibah al-Muskitah, Mizan al-Amal, Jawhir al-
Qur'n, al-Misykat al-Anwr, Qisthas al-Mustaqm, Iljm al-Awm,
Faishal al-Tafriqah, al-Munqid min al-Dhall, al-Rislah al-Laduniyyah.
63


Penutup
Pengetahuan serta pengalaman setiap manusia akan
mempengaruhi perjalanan hidupnya. Mungkin ke arah yang lebih
baik, ataupun justru kearah yang lebih buruk. Usaha mendaya-
upayakan pembacaan terhadap pengalaman, adalah sebuah usaha
yang sangat sulit. Keberhasilan darinya akan membentuk sebuah
perkembangan sangat besar bagi orang yang melakukannya.
Begitu pun Ghazali, beriring ilmu yang ia dapati, pengalaman
hidupnya selalu berpengaruh dalam kemajuan cara berpikirnya.

63
Ini adalah catatan yang dibuat Magsinon dalam bukunya. Untuk lebih lengkapnya, lihat
Abdurrahman Badawi, Muallaft al-Ghazli, Wakalah al-Mathbuat, Kuwait, cet. II, 1977, hal. 10-
17
www.rajaebookgratis.com
Keberhasilannya dalam membaca kehidupan, sangat mewarnai cara
berpikir, mendarah daging menggolakkan emosinya untuk sebuah
pencarian dengan pengorbanan yang cukup besar.
Ghazali sosok yang sangat perlu untuk dijadikan sebagai suri-
tauladan, dalam keberhasilannya mengolah emosi menjadi suatu
keinginan untuk terus mencari apa yang belum di ketahuinya.
Bahkan, yang sudah ia ketahui pun ia letakkan kembali untuk
kemudian di pahami dengan hati-hati, di analisa dan kemudian ia
susun menjadi sebuah rumus khusus, untuk ideologinya yang
istimewa.
Telah cukup banyak orang mencaci-maki, bahkan
mengkafirkan Ghazali karena pemikiran-pemikirannya. Akan tetapi,
si pencaci tidak mampu untuk mengalahkan atau paling tidak
mengimbangi Ghazali, dalam segala keberhasilannya. Banyak juga
yang terlalu memuji Ghazali, hingga si pemuji terkubur oleh rasa
bangga terhadapnya, tetap seperti adanya, tetap menjadi seorang
yang membebek secara setia terhadap pemikiran-pemikiran yang
telah di lontarkan Ghazali.
Dan semoga kita menjadi orang yang bijak...!
Wallhu Alam.