Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

Latar belakang Lamun (seagrass) termasuk kedalam kelompok tumbuhan air berbunga (Anthophyta) yang beradaptasi baik dengan kondisi terbenam dan bersalinitas tinggi. Lamun memiliki akar, batang, dan daun sejati dengan morfologi: daunnya panjang tipis menyerupai pita (kecuali jenis Halophila, daun berbentuk oval), berakar rimpang, pertumbuhan monopodial, dan berkembang biak secara vegetatif melalui rimpang yang beruas-ruas dan secara generatif melalui bunga dan biji. Lamun termasuk divisi Anthophyta, Subkelas Monocotyledoneae, Ordo Helobiae (Den Hartog 1970; Philips&Menez 1988). Spesies lamun di dunia sedikitnya berjumlah 58 jenis yang berasal dari 12 genus dan 2 famili, yaitu famili Potamogetonaceae yang terdiri dari 9 genus dan famili Hydrocharitaceae yang terdiri dari 3 genus (Azkab 2006). Di Indonesia, terdapat 12 jenis lamun yang terdiri dari 7 genus dan 2 famili. Jenis lamun dari famili Potamogetonaceae meliputi Syringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, H. uninervis, Cymodocea rotundata, C. serrulata, dan Thalassodendron ciliatum. Sedangkan dari famili Hydrocharitaceae meliputi Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, dan H. minor (Azkab 2006). Di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan tercatat 8 jenis lamun, meliputi S. isoetifolium, C. rotundata, C. serrulata, H. pinifolia, H. uninervis, dan T. ciliatum, E. acoroides, T. hemprichii, H. ovalis, dan H. minor (Erfteimejer 1993). Padang lamun (seagrass bed) merupakan hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area dengan berbagai tingkat kepadatan. Padang lamun dapat hanya terdiri dari satu jenis lamun atau campuran beberapa jenis lamun. Padang lamun termasuk ekosistem laut dangkal dengan produktivitas primer tertinggi. Lamun secara ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai bahan anyaman keranjang, kasur, pembuat atap, pupuk, dan dapat dibakar untuk di ambil kandungan garam dan soda, fiber untuk pembuatan nitroselulosa, mainan, obat, kertas, insulasi bunyi dan suhu, serta sumber berbagai bahan kimia yang berguna (Fotes 1990). Secara ekologi lamun berfungsi sebagai peredam arus, tempat berlindung dan pembesaran biota, penangkap sedimen, pendaur ulang zat hara, dan padang penggembalaan bagi hewan-

hewan herbivor seperti ikan, Crustacea, dan Echinodermata (Den Hartog 1970). Landak laut dari kelompok Echinodermata termasuk salah satu invertebrata penghuni padang lamun. Tubuhnya berbentuk seperti bola dengan simetri petraradial dan tidak bertangan (Gambar 1). Hewan ini memiliki kaki tabung yang berasal dari membran peristomial dan pedicularia yang responsif terhadap keberadaan makanan dan predator. Spina atau duri-durinya yang panjang menutupi seluruh tubuh dan bisa digerakkan. Duri landak laut terbentuk dari kristal CaCO3 dan terdiri dari 2 macam yaitu duri utama yang panjang dan duri sekunder yang pendek. Pada sisi aboral terdapat anus, lubang genital, dan madreporit sebagai tempat keluar-masuk air. Mulut landak laut terletak pada bagian oral dengan 5 gigi tajam yang disebut lentera aristoteles. Lentera aristoteles berfungsi untuk mengunyah daun lamun yang merupakan makanan utamanya (Kasim 1999). Daun lamun yang terkena gigitan landak laut akan meninggalkan bekas. Klasifikasi landak laut menurut Clark& Rowe (1971) adalah : Filum : Echinodermata Subfilum : Echinozoa Kelas : Echinoidea Ordo : Diadematoida Famili : Diadematidae Genus : Diadema Spesies : Diadema setosum

Gambar 1. Anatomilandak laut (Sumber:www.metafysica.nl/turing/tecto_3) Salah satu bentuk interaksi landak laut dan lamun diantaranya berupa perumputan (grazing). Perumputan lamun oleh landak laut memiliki dampak tersendiri terhadap ekosistem padang lamun. Di teluk Florida, tingginya populasi landak laut menyebabkan ekosistem padang lamun mengalami tekanan yang hebat (Aziz 1994). Perumputan lamun oleh landak laut berpengaruh terhadap produksi daun, kepadatan, dan luas penutupan lamun serta dapat mempengaruhi komposisi

padang lamun campuran akibat adanya preferensi makanan terhadap jenis lamun tertentu (Vonk et al. 2008). Perumputan juga memicu tumbuhnya tunas baru pada lamun T. ciliatum karena kepadatan lamun tersebut dikontrol oleh aktivitas merumput landak laut (Alcovero&Mariani 2002). Aktivitas merumput yang tinggi dapat menimbulkan area gundul (barren grounds area) di padang lamun. Oleh karena itu, interaksi landak laut dan lamun perlu dikaji terkait pentingnya peran ekologis padang lamun. Tujuan Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis lamun, landak laut dan mengkaji interaksi kepadatan landak laut herbivor terhadap kepadatan lamun di Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. BAHAN DAN METODE Waktu dan lokasi Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2010 di Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Analisis pengukuran parameter air laut dilakukan di laboratorium Kimia Laut dan tekstur sedimen di laboratorium Geologi Laut, Universitas Hassanudin, Makassar. Alat dan bahan Objek dalam penelitian ini adalah lamun, landak laut dan ekosistemnya. Identifikasi lamun menggunakan buku identifikasi lamun Waycott et al. (2004). Landak laut diidentifikasi menggunakan buku identifikasi Clark&Rowe (1971). Alat yang digunakan antara lain: snorkel, GPS, meteran, tali rapia, jangka sorong, paralon untuk transek 50x50 cm2, termometer, refraktometer, pH meter, turbidimeter, DO meter, dan saringan bertingkat. Pengukuran parameter air laut Parameter fisik air laut diukur dengan berbagai metode dan alat yang sesuai untuk mengetahui kondisi lingkungan abiotik lokasi penelitian (Tabel 1). Tabel 1 Parameter fisik perairan dan metode pengukurannya Parameter Satuan Alat 0 Suhu C Termometer Salinitas ppt Refraktometer pH pH meter Kekeruhan NTU Turbidimeter DO mg/l DO meter

Pengukuran tekstur sedimen Tekstur sedimen diukur dengan menggunakan saringan bertingkat berdasarkan kriteria Michael (tabel 2) untuk mengetahui ukuran sedimen habitat lamun dan landak laut di lokasi penelitian. Tabel 2 Klasifikasi Tekstur Sedimen (Michael 1994) Ukuran sedimen (mm) Golongan sedimen > 3.360 Kerikil 1.410-3.360 Kerikil kecil 1.190-1.410 Pasir kasar 0.279-1.190 Pasir sedang 0.149- 0.279 Pasir halus 0.000- 0.149 Lumpur Analisis vegetasi lamun Analisis vegetasi lamun dilakukan untuk mengetahui kepadatan dan penutupan jenis lamun secara keseluruhan dan struktur komunitas lamun pada fase juvenil, adolesens, dan senesens (Gambar 2). Fase juvenil merupakan fase awal pertumbuhan lamun yang ditandai tumbuhnya tunas baru pada bagian akar. Fase adolesens merupakan tahap perkembangan tunas menjadi lamun dewasa dengan ciri: daun masih muda, ukuran tubuh sedang dan perakaran kokoh. Lamun di fase senesens memiliki morfologi tubuh seperti fase adolesens dengan daun yang lebih tebal dan tua, perakaran yang kokoh, serta mampu bereproduksi secara seksual dengan pembentukan bunga. Analisis vegetasi menggunakan metode transek linier kuadrat (English et al. 1994) dengan plot berukuran 50 x 50 cm2. Hasil yang didapat dikonversi dalam satuan individu per meter kuadrat (ind/m2).

Gambar 2 Fase pertumbuhan lamun Lokasi penelitian dibagi dalam 3 pengamatan (Utara, Selatan, dan Setiap stasiun terdiri dari 3 garis dengan jarak antar transek 25 m. Tiap stasiun Barat). transek transek