Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH KONSERVASI DAN REHABILITASI SUMBER DAYA PERIKANAN JUDUL: PENCEMARAN AIR DI SUNGAI JAWI LOKASI : SUNGAI JAWI

Dosen Pengampu : Eko Prasetio, S.Pi. MP

Disusun Oleh:

GURUH ERTIYASA 101110015

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK PONTIANAK 2013

Pendahuluan

A. Kondisi aliran sungai jawi Dari hasil observasi yang telah dilakukan di aliran das sungai jawi saluran induk atau cabang di jalan sungai jawi dapat diketahui bahwa kondisi Sungai Kapuas di aliran sungai jawi saat ini ternyata memprihatinkan, meski diakui fungsinya sangat besar bagi kehidupan masyarakat. Tingkat pencemaran sungai ini berpengaruh negatif terhadap kehidupan biota perairan serta kesehatan penduduk yang memanfaatkan air sungai. Air sungai tersebut berwarna keruh dan kotor namun di manfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk MCK (Mandi Cuci Kakus). Aliran air yang mengalir banyak tercampur dengan sampah plastik dan limbah domestik. Pembuangan sampah yang dilakukan langsung ke aliran Sungai jalan sungai jawi, bisa merugikan penduduk sekitar dan di kawasan yang lebih rendah. Kondisi makin memprihatinkan karena disepanjang bantaran das Jl.sungai jawi mengalami perubahan

fungsi. Meski kawasan bantaran sungai telah ditetapkan sebagai kawasan hijau, sebagian besar bataran sungai beralih fungsi, tidak sesuai peruntukannya. B. Konservasi das Kapuas di, Jalan Sungai jawi Dengan semakin terbatasnya kemampuan pemerintah karena meningkatnya tuntutan sektor-sektor lain atas pembiayaan dari anggaran pembangunan, program-program konservasi DAS, tampaknya, semakin telantar. Karena itu, sudah saatnya dipikirkan upaya keterlibatan masyarakat dalam upaya-upaya pengendalian pencemaran, pengawasan, serta pengelolaan Sungai Kapuas. Keterlibatan ini tidak memandang usia . Anak-anak, orang dewasa, maupun orang tua memiliki andil dalam konservasi Sungai Kapuas Jl. Sungai jawi . Pelibatan masyarakat mungkin bisa dilakukan dengan pengembangan kampung-kampung atau desadesa ramah Sungai yang berada di aliran das Kapuas dan memiliki kepedulian untuk menjaga kualitas air di aliran das Kapuas Jl. Sungai jawi . Masyarakat yang terletak di sepanjang bantaran harus berperan aktif dalam mengurangi tingkat pencemaran domestik. Pemuda, mahasiswa, dan pelajar adalah agen perubahan yang harus berperan aktif dalam upaya pemulihan ekosistem Sungai Kapuas yang akan menjadi pionir dan agent of change di keluarga serta masyarakat sekolah dan kampusnya. Kegiatan yang mereka lakukan bisa berupa kampanye konservasi Sungai Kapuas Jl Sungai jawi secara khusus dan lingkungan hidup secara umum. Baik dengan terjun langsung membersihkan sampah sungai, menanam pohon, memanajemen sampah, atau pendekatan persuasif kepada teman-teman di sekolah, kampus, keluarga, dan masyarakat. Jika konsep ini terlaksana dan didukung masyarakat, kita

masih bisa menaruh harapan akan masa depan Sungai Kapuas secara umum dan saluran Drainase di Jl. Sungai jawi khususnya. C. Pemanfaatan aliran sungai Kapuas cabang Jl sungai jawi Data Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat menyebutkan, sebanyak 45,5% penduduk tinggal dan bergantung pada keberadaan sungai Kapuas. Peran dan fungsi DAS Kapuas Jl.sungai jawi adalah sebagai penyedia air baku untuk berbagai kepentingan antara lain : air minum, mandi, cuci, perikanan, peternakan, irigasi, proses industri, dan pengendali banjir.

D. Analisa lingkungan aliran sungai Kapuas cabang Jl. Sungai jawi Kualitas aliran air : Parameter Fisik

1. Warna Perairan Warna perairan adalah warna yang secara visual yang dapat kita lihat dari sebuah perairan. Warna perairan dibagi menjadi dua yaitu warna tampak dan warna asli. Warna tampak adalah warna dari sebuah perairan yang disebabkan oleh partikel-partikel terlarut dan tersuspensi. Sedangkan warna asli merupakan warna yang disebabkan oleh bahan-bahan atau

materi yang terbawa oleh aliran air sungai. Dalam perairan sungai, warna perairan dipengaruhi oleh materi-materi yang dibawa oleh aliran sungai. Pada warna sungai Kapuas cabang di Jl. Sungai jawi ini, didapatkan air yang keruh dan berwarna kecoklatan. Sehingga warna asli dari sungai ini, cenderung tidak terlihat. 2. Kecerahan

Dalam hal ini kecerahan merupakan parameter fisik yang berhubungan dengan fotosintesis karena pengaruh penetrasi cahaya yang masuk ke dalam aliran sungai. Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap seperti plastic serta sampah organic lainnya, seringkali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas. Pada hasil observasi, kecerahan juga menjadi faktor dari bersihnya sungai tersebut, namun karena banyaknya zat yang terlarut dan tersuspensi, maka kecerahan sungai Kapuas cabang Jl. Sungai jawi itu pun juga tidak terlihat. 3. Suhu Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang

diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu. Dikarenakan sungai Kapuas cabang Jl. Sungai jawi terletak di daerah kota Pontianak, maka suhu di sungai Brantas cukup hangat. 4. Kedalaman Kedalaman suatu ekosistem perairan dapat bervariasi tergantung pada zona kedalaman dari suatu perairan tersebut, semakin dalam perairan tersebut maka intensitas cahaya matahari yang masuk semakin berkurang. Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kedalaman sungai Kapuas jl. Sungai jawi Pontianak berkisar 5 10 meter. 5. Tipe Substrat Tipe substrat pada perairan mengalir pada sungai hulu berupa batu-batuan dan pasir, sedangkan pada sungai hilir tipe substratnya merupakan endapan lumpur. Dalam pengamatan perairan mengalir tipe substrat yang banyak kita amati berupa batu dan pasir. Karena Sungai Kapuas cabang Sungai jawi merupakan jenis sungai yang beraliran cukup deras karena masih terdapat di daerah hulu.

Parameter Biologi

Tumbuhan Air Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan di dalam air. Yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi. Namun di aliran das Kapuas jl. Sungai jawi tidak terdapat tumbuhan air sehingga dapat disimpulkan bahwa air tersebut telah tercemar. Dari hasil observasi di das Kapuas Cabang Jl. Sungai jawi . berikut ini merupakan analisis tentang komponen abiotik dan biotik : Komponen Abiotik Yang merupakan komponen abiotik di sekitar aliran sungai Jl. Sungai jawi antara lain 1) Air sungai yang mengalir dari sumber das Kapuas yang berada di kota Pontianak hingga ke hilir 2) Pasir dan lumpur yang menjadi satu merupakan hasil endapan aliran air das Kapuas 3) Batuan dan Lumpur di sekitar aliran sungai 4) Jembatan penyebrangan yang berfungsi sebagai penghubung antar Kelurahan 5) Banyaknya perumahan di bantaran sungai Kapuas cabang Jl. Sungai jawi . 6) Tempat pembuangan Sampah yang berada di aliran air sungai Kapuas Jl Sungai jawi Komponen biotik Yang merupakan komponen biotik di sepanjang aliran das Kapuas adalah : 1) Ada beberapa pohon yang ada disekitar das Kapuas Jl. Sungai jawi , sebagai salah satu program green zone wali kota 2) Di sana terlihat adanya beberapa jenis serangga yang masih bertahan hidup seperti belalang dan capung. 3) Meskipun sudah beberapa kali melakukan observasi di das Kapuas namun tidak terlihat adanya ikan ataupun hewan air yang lebih spesifik.

E. Daya dukung lingkungan aliran sungai Kapuas Jl. Sungai jawi Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Penentuan daya dukung

lingkungan hidup dilakukan dengan cara mengetahui kapasitas lingkungan alam dan sumber daya untuk mendukung kegiatan manusia/penduduk yang menggunakan ruang bagi kelangsungan hidup. Besarnya kapasitas tersebut di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan dan karakteristik sumber daya yang ada di hamparan ruang yang bersangkutan. Kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya akan menjadi faktor pembatas dalam penentuan pemanfaatan ruang yang sesuai. Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity).

Agar pemanfaatan ruang di suatu wilayah sesuai dengan kapasitas lingkungan hidup dan sumber daya, alokasi pemanfaatan ruang harus mengindahkan kemampuan lahan. Perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan akan lahan dan air di suatu wilayah menentukan keadaan surplus atau defisit dari lahan dan air untuk mendukung kegiatan pemanfaatan ruang. Hasil penentuan daya dukung lingkungan hidup dijadikan acuan dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah. Mengingat daya dukung lingkungan hidup tidak dapat dibatasi berdasarkan batas wilayah administratif, penerapan rencana tata ruang harus

memperhatikan aspek keterkaitan ekologis, efektivitas dan efisiensi pemanfaatan ruang, serta dalam pengelolaannya memperhatikan kerja sama antar daerah.

F.

Permasalahan di aliran sungai Kapuas Jl. Sungai jawi

Di

sepanjang aliran sungai Kapuas jl . Sungai jawi yang merupakan anak sungai Kapuas terdapat beberapa permasalahan yang berkelanjutan dan sulit untuk diatasi. Adanya tempat pembuangan sampah secara liar dan tidak terkontrol merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pencemaran limbah polutan disungai. Meskipun di sekitar tempat tersebut sudah di pasang tanda pelarangan untuk pembuangan sampah secara ilegal, namun tetap saja terdapat oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Selain itu terjadinya pencemaran air akibat pembuangan limbah domestik dan limbah pertanian yang melampaui daya dukung lingkungan. Air sungai yang tercemar merupakan akibat dari kurangnya kesadaran tentang pelestarian lingkungan serta bertambahnya pemukiman padat penduduk di daerah sungai yang kurang memperhatikan pengelolaan lingkungan. Melihat warna air pada sungai Kapuas Jl. Imam bonjol yang keruh dapat menandakan tingkat pencemaran polutan yang tinggi.