Anda di halaman 1dari 7

PERENCANAAN KONSERVASI PARTISIPATIF DI SUB DAS CIMANUK HULU

DESKRIPSI DAS kritis semakin meningkat dari waktu ke waktu (tahun 1984 terdapat 22 DAS kritis, namun telah menjadi 62 DAS pada tahun 2005) dan DAS Cimanuk merupakan salah satunya. Pembangunan Waduk Jatigede telah dimulai pelaksanaannya tahun 2009, sehingga erosi dan sedimentasi DAS Cimanuk hulu menjadi faktor yang mutlak harus ditanggulangi, karena jika tidak dilakukan akan mengancam fungsi waduk dan umur guna (life time) akan menjadi lebih pendek dari yang direncanakan. Memperhatikan permasalahan tersebut, maka diperlukan model konservasi yang memadukan konsep konservasi sipil teknis dan vegetatif secara partisipatif pada DAS yang belum ada waduknya. Pada tahap awal (tahun 2008) sasaran yang yang ingin dicapai adalah terwujudnya perencanaan konservasi tanah dan air yang dilakukan oleh masyarakat. Disadari bahwa penerapan konservasi partisipatif pada DAS Cimanuk merupakan sesuatu yang sulit mengingat : pertama, kondisi Sub DAS Cimanuk Hulu sangat kritis (rata-rata sedimentasi sebesar 57 m3/ha/tahun atau setara 5,7 mm/tahun) 1 ; kedua, kondisi tanah subur yang mengundang untuk digarap hingga puncak-puncak bukitnya; ketiga, belum terpadunya upaya konservasi yang dilakukan sebelumnya oleh para stakeholders. Keunggulan Perencanaan Konservasi Partisipatif 1. Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, khususnya pada kawasan Daerah Aliran Sungai. 2. Masyarakat mau dan percaya diri/mampu dalam membuat perencanaan konservasi tanah dan air di lingkungannya. 3. Masyarakat merasa dihargai karena karyanya menjadi perhatian semua pihak/stakeholders 4. Menciptakan kerjasama yang sinergis antar stakeholders (pemerintah, swasta dan masyarakat). Kelemahan Perencanaan Konservasi Partisipatif 1. Masih diperlukan sosialisasi untuk mengugah kesadaran lingkungan 2. Perlunya pendampingan dalam proses kemandirian dan mengakses sumberdaya 3. Pendampingan kurang efektif bila tenaga pendamping berganti-ganti dari tahun ke tahun 4. Membutuhkan waktu yang lama untuk menciptakan kerjasama yang sinergis PERENCANAAN KONSERVASI PARTISIPATIF
RUANG LINGKUP

Lingkup kegiatan perencanaan konservasi tanah dan air secara partisipatif meliputi : - Identifikasi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat - Pemilihan alternatif lokasi kegiatan - Penyiapan masyarakat
1

BPDAS Cimanuk-Citanduy, Ditjen RPLS-Dep.Kehutanan. 2007. Lap. Akhir Penyusunan Rencana RHL Sub DAS Cimanuk Hulu. 1

Pendampingan masyarakat dalam melaksanakan Participation Rural Appraisal (PRA) termasuk didalamnya Survey Kampung Sendiri (SKS). Pendampingan masyarakat dalam penyusunan Rencana Konservasi Tanah dan Air (RKTA). Pembentukan/penguatan kelompok masyarakat peduli lingkungan atau Kelompok Konservasi Tanah dan Air (KKTA)

GAMBARAN LOKASI

Sub DAS Cimanuk Hulu terletak di Kabupaten Garut yang hampir keseluruhannya terletak di perbukitan/pegunungan. Sub DAS Cimanuk Hulu memiliki potensi erosi yang tinggi, dimana hasil analisis menyatakan besar laju erosi yang terjadi adalah 13 juta ton atau setara dengan 8,86 juta m3 pertahunnya 2 . Dari observasi lapangan dan koordinasi, sub-sub DAS Ciroyom-Cikamiri ( luas 9,9 ribu Ha) dipilih sebagai lokasi kegiatan karena tiap tahunnya menyumbang 850 ribu Ton hasil erosi ke S. Cimanuk. Secara administratatif lokasi kegiatan berada pada Kecamatan Samarang yang berjarak 11 km dari Garut Kota dan merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian minimal 100 m dpl (54% berada di 500 m dpl hingga lebih dari 1000 m dpl). Luas kecamatan Samarang 5.971 Ha dan pemanfaatan lahannya dipergunakan untuk lahan pertanian, permukiman penduduk dan areal hutan. Penduduk kecamatan Samarang tahun 2006 berjumlah 67.225 jiwa, dengan kepadatan rata-rata adalah 1.126 jiwa/km2.
SOSIALISASI

Sosialisasi tentang konservasi merupakan langkah awal yang wajib dilaksanakan, karena kegiatan ini ditujukan untuk membentuk pemahaman mengenai kegiatan konservasi Kegiatan sosialisasi dibagi dua : pertama, sosialisasi di lingkungan Pemerintah Daerah yang tentunya dilakukan setelah koordinasi dan ditentukannya peserta yang terkait dengan konservasi ; kedua, sosialisasi kepada masyarakat yang dilaksanakan setelah berkoordinasi dengan Kecamatan dan Kelurahan/Desa. Sosialisasi di lingkungan Pemerintah, selain meningkatkan pemahaman petugas juga diharapkan adanya masukan atau umpan balik tentang kondisi daerah dan upaya-upaya konservasi, baik yang sudah, sedang dan akan dilakukan, sehingga program-program terkait dengan konservasi dapat disinergikan. Sebelum dilaksanakan sosialisasi kepada masyarakat, observasi lapangan dan koordinasi dengan Kecamatan maupun Kelurahan/Desa harus menghasilkan daftar masyarakat dan tokohtokoh kunci (TOMAGADA) yang teridentifikasikan akan menjadi peserta sosialisasi. Sosialisasi kepada masyarakat diawali dengan informasi kondisi kekritisan Sub DAS Cimanuk Hulu dan masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Selain untuk meningkatkan pemahaman lingkungan dan pentingnya dilakukan kegiatan konservasi, juga harus ditekankan peran penting masyarakat sebagai pelakunya. Konservasi lahan dan air akan mendapat sambutan masyarakat bila menyentuh ekonomi mereka, oleh karena itu dalam kegiatan ini diperkenalkan alternatif model-model konservasi yang dapat mempertahankan dan meningkatkan ekonomi/pendapatan masyarakat. Pada
2

Ibid. 2

kesempatan tersebut dikenalkan juga program-program konservasi oleh Dinasdinas/stakeholders terkait. Sosialisasi kepada masyarakat dilakukan di 3 (tiga) Desa yaitu Ds.Sukakarya, Ds.Sukalaksana dan Ds.Sirnasari. Antusias peserta/undangan dapat dilihat dari jumlah kehadiran (absensi) yang rata-rata mencapai hampir 100% dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta, hingga keinginan untuk terlibat dalam proses selanjutnya. Pada kegiatan sosialisasi dapat dikenali lingkungan dan potensi masyarakat, dan diakhir acara yang sangat penting diharapkan adalah mendapat kesepakatan awal dari masyarakat untuk terlibat dan mendukung kegiatan konservasi. Selain itu, untuk lebih mengikat kesepakatan tersebut, sebelum pertemuan ditutup, dapat diberikan pekerjaan rumah berupa identifikasi masalah dan lokasinya kepada masing-masing kelompok yang dibentuk berdasarkan lokasi tempat tinggal (gabungan RT & RW) dan akan dibahas pada pertemuan berikutnya yaitu saat dilakukan Participatory Rural Appraisal (PRA).
PARTICIPATORY RURAL APRAISAL

Ketika kesepakatan dari masyarakat sudah didapat, maka untuk lebih memacu keterlibatannya dalam konservasi, masyarakat difasilitasi untuk melaksanakan Participatory Rural Appraisal (PRA).Kegiatan PRA adalah kegiatan masyarakat untuk mengenali kondisi dan permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungannya, yang kemudian secara mandiri menganalisis, menyimpulkan dan merencanakan penanganan permasalahannya. Kegiatan PRA dilakukan dalam tahapan-tahapan : - Pengantar, penjelasan teknik PRA - Pemantapan kelompok-kelompok PRA - Penelusuran lokasi erosi (dipandu pendamping) - Penentuan prioritas masalah - Penyusunan darft RKTA - Pembentukan Kelompok Konservasi Tanah dan Air (KKTA) Memperhatikan lingkup tersebut, maka kegiatan PRA dinamakan juga sebagai Survey Kampung Sendiri (SKS). Setelah pengantar dan penjelasan teknik PRA, kegiatan selanjutnya dirinci sebagai berikut : - Pembentukan kelompok diskusi yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu Pemetaan, Sejarah, Analisis Mata Pencaharian, Kalender Musim dan Kelembagaan. - Diskusi Kelompok dan muatannya ditabelkan sebagai berikut:
No 1 Kelompok/Tim Pemetaan Muatan Pekerjaan/Diskusi Sketsa Peta Desa (batas wilayah, anak sungai, + prasarana, dll ) Plotting lokasi masalah/potensi masalah (Erosi m.tanah, longsoran tebing & tebing sungai) Sejarah Dusun/ Permukiman sejak awal s/d Akhir Pemekaran Desa/Dusun & sumber air yang digunakan Sejarah Bencana (Gunung meletus, paceklik,dll) Program/Bantuan/Pembangunan Prasarana dll Jenis kerja (Tani sawah, T.Kebun/sayur, ojeg, kerajinan, pengolahan makanan) Pemilahan Mt.Pnchrn. Pokok dan Sampingan Proporsi keterlibatan pria-wanita & Pengambilan Keterangan Meniru peta di kantor Desa Lanjutan PR Sosialisasi Diskusi kelompok, 1 orang menulis pada kertas lebar

Sejarah

Analisis Mata Pencaharian

4 5

Kalender Musim Kelembagaan

keputusan, pelaksana Jadwal tanam padi, sayur dll Jumat bersih Identifikasi Lembaga, Pokmas (Gapoktan/P3A, Karang taruna, Pengajian, dll) Hubungan kelembagaan, lingkup tupoksi, dll Kemungkinan untuk aktif dalam pelaksanaan konservasi

Pembentukan kelompok Penelusuran Sebagaimana survey umumnya perlu dibentuk kelompok atau tim pelaksananya, dalam hal ini disebut sebagai kelompok penelusuran lapangan yang dibentuk berdasarkan lokasi tempat tinggal dan kombinasi anggota kelompok diskusi, serta termasuk memperhatikan kombinasi usia maupun jenis kelamin (gender). Sebelum tim bergerak, maka perlu dilakukan penjelasan oleh pendamping tentang tata cara dan data yang akan dicari (kalau pekerjaan rumah/pendataan awal setelah sosialisasi sudah didapat, maka kelengkapannya dilihat, dibahas dan direncanakan tambahan data yang akan dicari selanjutnya). Penelusuran Lapangan Penelusuran lapangan hakekatnya untuk melihat jenis, dimensi permasalahan dan memantapkan lokasi. Dalam pelaksanaan penelusuran lapangan, didamping oleh pendamping lapangan yang akan mengoreksi permasalahan yang diidentifikasi dan dalam kesempatan tersebut juga memandu diskusi lapangan, termasuk menjaring usulan masyarakat (spontanitas) terhadap pemecahan masalahnya. Presentasi hasil penelusuran lapangan Setelah penelusuran lapangan, maka tiap-tiap regu/kelompok menunjuk wakilnya untuk mempresentasikan hasil temuan lapangannya dan anggota kelompok diberikan kesempatan untuk menambahkannya sebelum ditanggapi oleh kelompok lain,. Penentuan prioritas masalah Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menentukan/mencari prioritas masalah dan memilih alternatif upaya pemecahan masalah, program kegiatan, teknik dan teknologi konservasi yang sesuai. Prioritas masalah dikaji berdasarkan kriteria kriteria, antara lain adalah : Dirasakan orang banyak Tingkat kemendesakan atau kepentingan untuk ditangani segera Tingkat kemampuan masyarakat (keswadayaan) Berdasarkan kriteria tersebut dilakukan penilaian atau pembobotan, sehingga didapat peringkat (rangking) prioritas. Untuk itu dibuat matrik peringkat (rangking matrik) seperti contoh berikut : CONTOH MATRIK PERINGKAT/RANGKING PRIORITAS MASALAH DESA SUKAKARYA
MASALAH UPAYA Dirasakan Orang banyak KRITERIA Tingkat Kemendesakan Tingkat Kswadaya JUMLAH NILAI (RANGKIN

1 Belum ada kelompok tani yg mengurus erosi di wilayahnya 2 Rendahnya ketrampilan masyarakt dlm pengelolaan lahan 3 Kurangnya tanaman pelindung dari hujan 4 Penanaman tak sesuai kontur 5 Erosi tidak ditangani

8 Pelatihan konservasi Penanama n kayu/keras Penyuluha n Pembuata n talud trucuk bambu Ikut kegiatan Pupuk/oba t organik Penataan oleh Masy. Penyuluha n Kerja bakti Jum-sih 7

10 10

n 5 6

G) 23 (IV) 23 (III)

20 ( V )

4 6

7 8

3 4

14 (VIII) 18 ( VI )

6 Perempuan tak aktif ambil keputus an, tapi banyak dlm ambil manfaat 7 Biaya produksi kurang seimbang dengan hasilnya. 8 Penataan wilayah wisata belum optimal 9 Kepedulian Masy. lingkungan masih kurang thd

14 ( IX )

8 7

5 10

3 8

16 ( VII) 25 ( I )

10

24 ( II )

Peringkat dalam matrik tersebut masih mungkin berubah, karena diskusi kelompok maupun antarkelompok terus berlanjut baik pada waktu didampingi pendamping maupun tanpa pendamping (di Mesjid/pengajian, Arisan, dan pertemuan lainnya). Penyusunan Rancangan (DRAFT) RKTA Pada tahap ini diawali dengan pembentukan kelompok yang dipilah dalam bidangbidang Ekologi, Ekonomidan Sosial. Kelompok-kelompok tersebut kemudian memilih permasalahan yang telah diperingkat sesuai bidang kelompoknya dan kemudian membahasnya dengan lingkup : Potensi Tindakan yang akan dilakukan Hasil yang diharapkan Ukuran keberhasilan Lokasi, Waktu penanganan, Penanggung jawab, dll. Hasil pembahasan kelompok (tiap bidang) dipresentasikan pada kelompok-kelompok lain (pleno) dan akhir dari pembahasan tersebut menghasilkan rancangan (draft) Rencana Konservasi Tanah dan Air (RKTA) seperti contoh terlampir. Pembentukan kelompok konservasi Tanah dan Air (KKTA) Seiring dengan penyempurnaan RKTA, maka disiapkan kelompok-kelompok yang akan bertugas melaksanakan penerapan konservasi selanjutnya. Kelompok tersebut disebut Kelompok Konservasi Tanah dan Air (KKTA). KKTA yang sudah dibentuk ada 3 KKTA di wilayah Kecamatan Samarang yaitu : a. KKTA Alam Lestari di Desa Sukakarya. b. KKTA Laksana Mandiri di Desa Sukalaksana.

c. KKTA Sinar Harapan di Desa Sirnasari. Lokakarya Desa Rancangan RKTA kemudian akan dibahas lebih lanjut di tingkat desa sehingga RKTA disebut juga sebagai Rencana Konservasi Tanah Desa (RKTD) yang selanjutnya dilokakaryakan (di Desa) kepada Pemerintah Kabupaten. Kegiatan ini harus dilakukan mengingat tujuannya yang mempertemukan rencana yang disusun oleh masyarakat dengan aparat Pemerintah Daerah dan pada akhirnya diharapkan Pemda dapat menyetujui dan mengesyahkan RKTD.

Tentunya kemandirian dalam kegiatan ini tidak muncul secara otomatis pada masyarakat, namun memerlukan fasilitasi dalam pelaksanaanya, baik berupa arahan, pendampingan dan fasilitas lainnya dalam pembentukan kelompok, berdiskusi, penelusuran kampung dan seterusnya hingga tersusunnya Rencana Konservasi Tanah dan Air (RKTA) atau Rencana Konservasi Tanah di Desa (RKTD). KESIMPULAN Konservasi memerlukan dukungan semua pihak terkait yang mempunyai pola pikir, pandangan dan tindakan yang bulat dalam mewujudkan kelestarian alam, oleh karena itu sosialisasi dilakukan baik ditingkat aparat maupun masyarakat. Konservasi tidak akan berhasil tanpa partisipasi masyarakat, oleh sebab itu tidak bisa tidak mereka harus dilibatkan sejak awal dari sejak sosialisasi dan perencanaannya. Masyarakat sebagai subyek pelaku konservasi, yang lebih tahu kondisi dan permasalahan wilayahnya perlu dikenali sejak dini untuk diajak menjadi mitra dalam penyelenggaraan kegiatan konservasi. Melalui pendampingan, masyarakat mampu mengorganisir kelompoknya, melakukan survey lapangan, membuat prioritas penanganan permasalahan dan akhirnya mampu membuat RKTA. RKTA sebagai perencanaan konservasi partisipatif, adalah hasil yang berasal dari masyarakat, sehingga usulan di dalamnya merupakan usulan bottom-up yang harus diperhatikan, ditampung dan menjadi acuan program stakeholders terkait. Kemandirian masyarakat memerlukan dukungan dan arahan dari stakeholders terkait, terutama fasilitasi kegiatan berkelompok, berdiskusi, penyusunan rencana, lokakarya desa hingga pelaksanaan kegiatan konservasi. DAFTAR PUSTAKA Tim Peneliti BP2TPDAS IBB. 2004. Pedoman Praktik Konservasi Tanah dan AIR BPDAS Cimanuk-Citanduy, Ditjen RPLS-Dep.Kehutanan 2007. Lap. Akhir Penyusunan Rencana RHL Sub DAS Cimanuk Hulu . Pardino 2008 Kajian Sosial Ekonomi Konservasi Sipil Teknis dan Vegetatif Secara Partisipatif Di DAS Bengawan Solo (Jurnal KOMUNITAS Volume 4, No.1 April 2008).
6