Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS RESIKO TERAPI GEN Terapi gen merupakan upaya untuk memperbaiki atau mengontrol ekpresi gen yang

merugikan bagi mahluk hidup. Terapi gen memerlukan pengenalan spesifik tentang gen yang memiliki fungsi dalam sel, yang bertujuan untuk pencegahan atau pengobatan. Terapi gen dapat dilakukan pada sel secara in-vitro, kemudian sel yg diterapi di masukan ke pasien secara in-vivo (Wellemm, et. al., 2004). Menurut Wellemm, et. al., (2004) bahwa terapi gen digunakan untuk beberapa tujuan, diantaranya: (1) Penggantian gen yang menyebabkan penyakit menurun (2) Memodifikasi respon kekebalan (3) Imunisasi untuk melawan penyakit yang cepat menyebar. Pendekatan terapi gen yang berkembang adalah : 1. Menambahkan gen-gen normal ke dalam sel yang mengalami ketidaknormalan. 2. Melenyapkan gen abnormal dengan gen normal dengan melakukan rekombinasi homolog. 3. Mereparasi gen abnormal dengan cara mutasi balik selektif, sedemikian rupa sehingga akan mengembalikan fungsi normal gen tersebut. 4. Mengendalikan regulasi ekspresi gen abnormal tersebut, lebih ke arah gagasan mencegah diekspresikannya gen-gen yang jelek atau abnormal, dikenal dengan istilah gene silencing. Gene silencing adalah satu proses membungkam ekspresi gen yang pada mulanya diketahui melibatkan mekanisme pertahanan alami pada tanaman untuk melawan virus (Arsal, 2007). Resiko akan muncul sebagai akibat dari teknologi terapi gen ini. Berikut akan dipaparkan menganai resiko-resiko yang mungkin muncul dari terapi gen. 1. Aspek Sosial Budaya Dengan terapi gen, orang-orang yang merasa tidak puas dengan fenotip yang dimilikinya berniat untuk mengubah seluruh penampilan yang kurang, hingga akhirnya didapatkan hasil sesuai yang diinginkan. Jika semua orang melakukan hal-hal seperti itu dan merasa bahwa dirinya lebih dari orang lain, maka akan ada sekelompok orang yang merasa berkuasa terhadap orang lain. 2. Aspek Lingkungan/Ekologi

Pelepasan gen-gen baik yang mutan maupun tidak, akan menambah frekuensi gen telanjang di lingkungan. Seperti yang diketahui bahwa gen mudah sekali masuk kedalam tubuh organisme, khususnya bakteri, akan semakin menambah ketidaknormalan suatu organisme. Tidak menutup kemungkinan bahwa lama kelamaan akan memunculkan suatu populasi yang terdiri dari organisme abnormal. Ketidaknormalan terhadap hewan-hewan yang dijadikan alat percobaan akan berdampak pada keturunannya dan akhirnya seluruh spesies dari hewan tersebut memiliki gen yang abnormal secara terus-menerus jika dibiarkan. Selain itu, kematian hewan percobaan yang tidak ditanggulangi akan merusak rantai makanan yang ada di alam. Jika hal ini terus berlanjut, dapat dipastikan keseimbangan ekosistem akan terganggu dan berdampak pula pada kesejahteraan hidup manusia. 3. Aspek Keagamaan Agama mendidik bahwa seorang manusia haruslah menerima apa yang Tuhan berikan dan menjaga dengan sebaik-baiknya dengan tidak mengubah ciptaan Tuhan. Namun, jika perubahan tersebut bertujuan untuk kesehatan, tentu saja diperbolehkan dengan syarat sesuai dengan ketentuan yang dianjurkan oleh agama tersebut. Contohnya dalam terapi gen, penggunaan gen yang berasal dari babi. Babi merupakan hewan yang diharamkan dalam agama Islam karena beberapa alasan dan dalilnya sudah jelas tercantum dalam kitab suci. Tentu saja hal-hal semacam ini perlu diwaspadai oleh umat Islam agar tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama. 4. Aspek Politik Hadirnya negara-negara super power tentunya memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap negara lain. Disamping itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih unggul dari negara lain pun membuat negara ini disegani. Jika di negara-negara lain masih menggunakan terapi gen hanya untuk pengobatan, tidak mustahil jika di negara maju, terapi gen sudah digunakan untuk menyempurnakan kekurangan dari seseorang. Misalnya, dilakukan penyisipan gen pintar dan cantik kedalam tubuh individu yang kurang pintar dan kurang cantik. Jika hal penyempurnaan itu dilakukan terhadap seluruh warga negaranya dengan tujuan meningkatkan nilai jual dari SDM negara tersebut agar dapat diterima di negara manapun, maka semakin luaslah pengaruh dari negara maju tersebut. 5. Aspek Profesional Mendapatkan gen yang berasal dari manusia normal tentunya lebih sulit dibandingkan dengan memperoleh gen dari hewan atau spesies selain manusia. Hal tersebut dikarenakan terdapat kode-kode etik dalam menggunakan gen manusia. Tidak semudah itu untuk

mendapatkan gen manusia. Diperlukan persetujuan dan syarat-syarat lain agar didapatkan gen normal dari manusia. Hal inilah yang membuat beberapa peneliti melakukan rekayasa. Gen yang berasal dari hewan dengan kekerabatan dekat dan hampir memiliki genom yang mirip dengan manusia digunakan dalam terapi gen ini. Hal ini tentu diperbolehkan selama terdapat keterbukaan dari sang peneliti. Namun, ada juga peneliti yang berbohong dan menyatakan bahwa gen tersebut berasal dari manusia. Keberhasilan dan kegagalan dari terapi gen ini memiliki peluang yang sama. Publikasi yang dilakukan peneliti terhadap hasil penelitiannya haruslah berupa data yang jujur dan faktual, tanpa adanya rekayasa demi diperolehnya pengakuan dari mesyarakat. Peneliti yang memanipulasi data akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Arsal, A. Farida. 2007. Bioteknologi Modern. Universitas Negeri Makassar Wellemm, T. 2004. Terapi Gen Untuk Penyakit Osteoporosis.

http://ferrykarwur.i8.com/materi_bio/materi6.html [6 November 2013]