Anda di halaman 1dari 26

Laporan Kasus

PNEUMONIA

Oleh: Andika Siswanta, S.Ked NIM. 0808113053

Pem im in!: d". #edd$ Sat"ia P%t"a, S&. A'K(

KEPANI)E*AAN K+INIK ,A-IAN I+MU KESE.A)AN ANAK /AKU+)AS KE#OK)E*AN UNI0E*SI)AS *IAU *UMA. SAKI) UMUM #AE*A. A*I/IN A1.MA# PEKAN,A*U 2013

,A, I PEN#A.U+UAN

1.1.

+ata" ,elakan! Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan utama pada anak di

berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk di Indonesia. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima tahun. Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization), hampir 1 dari 5 balita di negara berkembang meninggal karena pneumonia. Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardio askuler dan tuberkulosis. !aktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. "erdapat berbagai #aktor risiko yang menyebabkan tingginya angka mortalitas pneumonia pada anak balita di negara berkembang. !aktor risiko tersebut adalah pneumonia yang terjadi pada masa bayi, berat badan lahir rendah $BB%&', tidak mendapat imunisasi, tidak mendapat ()I yang adekuat, malnutrisi, de#isiensi itamin (, tingginya pre alensi kolonisasi bakteri patogen dinaso#aring, dan tingginya pajanan terhadap polusi udara. )e*ara klinis pneumonia dapat diklasi#ikasikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme $bakteri, irus, jamur, parasit, dan lain+lain'. )e*ara anatomis pneumonia dapat diklasi#ikasikan sebagai pneumonia lobaris, pneumonia segmentalis, dan pneumonia lobularis yang dikenal sebagai bronkopneumonia dan biasanya mengenai paru bagian bawah. )elain itu pneumonia dapat juga dibedakan berdasarkan tempat dapatannya, yaitu pneumonia komunitas dan pneumonia rumah sakit.

,A, 2 )IN3AUAN PUS)AKA

2.1. #e4inisi

Pnemonia adalah proses in#eksi akut yang mengenai jaringan parenkim paru meliputi al eolus dan jaringan interstisial. "erjadinya pnemonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses in#eksi akut pada bronkus $biasa disebut bronkopneumonia'.

2.2. St"%kt%" anat5mi Paru+paru merupakan organ yang elastis, berbentuk keru*ut, dan letaknya berada di dalam rongga dada atau thora,. Kedua paru+paru saling terpisah oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar. )etiap paru+paru mempunyai apeks $bagian atas paru+paru' dan basis. Paru+paru kanan lebih besar dari pada paru+paru kiri. Paru+paru kanan dibagi menjadi - lobus yaitu lobus superior, lobus medius, dan lobus in#erior. Paru+paru kanan terbagi lagi atas 1. segmen yaitu pada lobus superior terdiri atas - segmen yakni segmen pertama adalah segmen api*al, segmen kedua adalah segmen posterior, dan segmen ketiga adalah segmen anterior. Pada lobus medius terdiri atas / segmen yakni segmen keempat adalah segmen lateral, dan segmen kelima adalah segmen medial. Pada lobus in#erior terdiri atas 5 segmen yakni segmen keenam adalam segmen api*al, segmen ketujuh adalah segmen mediobasal, segmen kedelapan adalah segmen anteriobasal, segmen kesembilan adalah segmen laterobasal, dan segmen kesepuluh adalah segmen posteriobasal.

Paru+paru kiri terbagi atas dua lobus yaitu lobus superior dan lobus in#erior. Paru+paru kiri terdiri dari 0 segmen yaitu pada lobus superior terdiri dari segmen pertama adalah segmen apikoposterior, segmen kedua adalah segmen anterior, segmen ketiga adalah segmen superior, segmen keempat adalah segmen in#erior. Pada lobus in#erior terdiri dari segmen kelima segmen api*al atau segmen superior, segmen keenam adalah segmen mediobasal atau kardiak, segmen ketujuh adalah segmen anterobasal dan segmen kedelapan adalah segmen posterobasal. 2.3. E&idemi5l5!i Pneumonia merupakan salah satu penyakit in#eksi saluran napas yang terbanyak di dapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir di seluruh dunia. Di Inggris pneumonia menyebabkan kematian 1. kali lebih banyak dari pada penyakit in#eksi lain, sedangkan di () merupakan penyebab kematian urutan ke 15. Pneumonia pada dapat terjadi pada orang tanpa kelainan imunitas yang jelas. 1amun pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia didapati adanya satu atau lebih penyakit dasar yang mengganggu daya tahan tubuh. !rekuensi relati e terhadap mikroorganisme petogen paru ber ariasi menurut lingkungan ketika in#eksi tersebut didapat.

Misalnya lingkungan masyarakat, panti perawatan, ataupun rumah sakit. )elain itu #a*tor iklim dan letak geogra#ik mempengaruhi peningkatan #rekuensi in#eksi penyakit ini. 2.6. Eti5l5!i )ebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme $ irus atau bakteri' dan sebagian ke*il disebabkan oleh hal lain $aspirasi, radiasi,dll'. )e*araklinis sulit membedakan pneumonia bakterial dan pneumonia iral. Demikian jugadengan pemeriksaan radiologis dan laboratorium, biasanya tidak dapat menentukanetiologi. 2sia pasien merupakan #aktor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi,gambaran klinis dan strategi pengobatan. 3tiologi pneumonia pada neonatus dan bayike*il meliputi Streptococcus group B dan bakteri 4ram negati# seperti E.colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi yang lebih besar dan anak balita, pneumonia sering disebabkan oleh in#eksi Streptococcus pneumoniae, Haemophillusin luenzae tipe B dan Staph!lococcus aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan in#eksi "!coplasma pneumoniae. Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh irus,disamping bakteri, atau *ampuran bakteri dan irus. 5irus yang terbanyak ditemukanadalah &espiratory )yn*ytial irus $&)5', &hino irus, dan irus parain#luen6a.Bakteri yang terbanyak adalah )trepto*o**us pneumoniae, 7aemophillus in#luen6aetipe B, dan My*oplasma pneumoniae. Kelompok anak berusia / tahun ke atasmempunyai etiologi in#eksi bakteri yang lebih banyak daripada anak berusia di bawah/ tahun. 2.5. Pat54isi5l5!i Paru memiliki beberapa mekanisme pertahanan yang e#ekti# yang diperlukankarena sistem respiratori selalu terpajan dengan udara lingkungan yang seringkaliterpolusi serta mengandung iritan, patogen, dan alergen. )istem pertahanan organrespiratorik terdiri dari tiga unsur, yaitu re#leks batuk yang bergantung pada integritassaluran respiratori, otot+otot pernapasan, dan pusat kontrol pernapasan di sistem sara# pusat. Pneumonia terjadi jika mekanisme pertahanan paru mengalami gangguansehingga kuman patogen dapat men*apai saluran napas bagian bawah. (gen+agenmikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk transmisi primer8 $1'aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang telah berkolonisasi padaoro#aring, $/' in#eksi aerosol yang in#eksius, dan $-' penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. (spirasi dan

inhalasi agen+agen in#eksius adalah dua *ara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran se*ara hematogenlebih jarang terjadi.)etelah men*apai al eoli, maka mikroorganisme patogen akan menimbulkanrespon khas yang terdiri dari empat tahap berurutan8 1.)tadium Kongesti $9 : 1/ jam pertama'8 eksudat serosa masuk ke dalamal eoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bo*or. /.)tadium 7epatisasi merah $90 jam berikutnya'8 paru tampak merah dan bergranula karena sel+sel darah merah, #ibrin, dan leukosit PM1 mengisial eoli. -.)tadium 7epatisasi kelabu $- )ampai 0 hari'8 paru tampak kelabu karenaleukosit dan #ibrin mengalami konsolidasi di dalam al eoli yang terserang. 9. )tadium &esolusi $; sampai 11 hari'8 eksudat mengalami lisis dandireabsorpsi oleh makro#ag sehingga jaringan kembali pada strukturnyasemula 2.7. -e8ala Klinis 4ambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada beratringannya penyakit, pada bayi gejalanya tidak jelas seringkali tanpa demam dan batuk, namun se*ara umum adalah sebagai berikut8 4ejala in#eksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunanna#su makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah atau diare, kadang+kadang ditemukan gejala in#eksi ekstrapulmoner. 4ejala gangguan respiratori, yaitu batuk $nonprodukti# < produkti#', sesak napas,retraksi dada, napas *epat<takipnea, napas *uping hidung, air hunger, merintih< grunting, dan sianosis. =7> telah menggunakan penghitungan #rekuensi napas per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan diagnosaPneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar. 1apas *epat< takipnea, bila #rekuensi napas8 umur ? / bulan 8 @ A. kali<menit umur /+11 bulan 8 @ 5. kali<menit umur 1+5 tahun 8 @9. kali<menit umur @ 5 tahun 8 @ -. kali<menit

Pada pemeriksaan #isik paru dapat ditemukan tanda klinis sebagai berikut,auskultasi terdengar suara na#as menurun dan ine crac#les $ronki basah halus' padadaerah yang terkena, dull $redup' pada perkusi.

2.9. Peme"iksaan &en%n8an! !oto &ontgen toraks proyeksi posterior+anterior merupakan dasar diagnosisutama pneumonia. !oto lateral dibuat bila diperlukan in#ormasi tambahan, misalnyae#usi pleura. Pada bayi dan anak yang ke*il gambaran radiologi seringkali tidak sesuai dengan gambaran klinis. "idak jarang se*ara klinis tidak ditemukan apa+apa tetapi gambaran #oto toraks menunjukkan pneumonia berat. -am a"an "adi5l5!i &ada &ne%m5nia e"dasa"kan letak lesi : 1. Pne%m5nia +5 a"is Pneumonia adalah bayangan opak rongga udara pada suatu lobus paru. &ongga udara al eolar terisi dengan eksudat in#lamatorik sementara bronkus dan bronkolus tetap terbuka. )eringkali disebabkan oleh Strepcoccus pneumonia. Pola yang harus dikenali adalah bayangan opak lobus paru dengan adanya air bronchogram yang tampak seperti *abang pohon yang tidak berdaun. $ir bronchogram adalah udara yang terdapat pada per*abangan bronkus yang dikelilingi oleh bayangan opak rongga udara. Ketika terlihat adanya bron*hogram, hal ini bersi#at diagnosti* untuk pneumonia lobaris. Diagnosis banding yang penting adalah atelektasis lobarisB pada kasus ini, tidak terlihat adanya air bronchogram karena bronkus biasanya menglamai obstruksi dan udara di bagian distal bronkus di reabsorbsi./ 4ambaran yang paling umum ditemukan adalah konsolidasi di lobus atau di segmen pulmonal. Contohnya ialah in#eksi oleh bakteri klebsiella pneumonia, abses dan ka itas dapat terjadi dalam dua sampai tiga hari 2ntuk melokalisasi suatu pneumonia lobaris se*ara anatomis dapat digunakan tanda hilangnya siluet. Pneumonia lobus tengah paru kanan akan menyebabkan batas jantung kanan menghilang dan pneumonia lingual lobus atas paru kiri akan menyebabkan menghilangnya batas jantung kiri. Pada pneumonia lobus bawah, hemidia#ragma tidak akan terlihat./

*I-.) UPPE* +O,E 1ONSO+I#A)ION'+O,A* P.(

S%m e" : < http8<<www.s*ribd.*om<do*<A5A9.A5-<&e#arat+PneumoniaDdownload

4ambaran P( dan lateral pneumonia lobaris pada lobus kanan bawah $&%%' )umber 8 < http8<<www.s*ribd.*om<do*<5/A;/A0A<P132M>1I(+yanthi

%obar pneumonia lobus kanan bawah $%%%' (P lateral )umber 8 < http8<<www.s*ribd.*om<do*<5/A;/A0A<P132M>1I(+yanthi

2. ,"5nk5&en%m5nia 4ambaran pneumonia pada #oto thoraks sama seperti gambaran konsolidasi radang. Eika udara dalam al eoli digantikan oleh eksudat radang, maka bagian paru tersebut akan tampak putih pada #oto &oentgen. Kelainan ini dapat melibatkan sebagian atau seluruh lobus $pneumonia lobaris' atau berupa ber*ak yang mengikutsertakan al eoli se*ara tersebar $bronkopneumonia'. Pada pola ini terdapat bayangan opak peribronkial multi#o*al bilateral. Pola ini sering ditemukan pada in#eksi masa kanak+kanak. Penyebab in#eksi yang sering adalah irus atau in#eksi mikoplasma.

,"5n:h5&ne%m5nia S%m e" : < http8<<www.s*ribd.*om<do*<A5A9.A5-<&e#arat+PneumoniaDdownload

,"5nk5&ne%m5nia kanan '*M+( PA

,"5nk5&ne%m5nia ilate"al PA

)umber 8 < http8<<www.s*ribd.*om<do*<5/A;/A0A<P132M>1I(+yanthi

3. At$&ikal &ne%m5nia ; Pne%m5nia inte"stitial

"empat terjadinya in#eksi terutama di intertitium, karena itu disebut interstitial pneumonia. In#iltrasi sel dan edema yang terjadi menyebabkan semakin jauhnya jarak al eoli dengan pembuluh darah kapiler paru sehingga pertukaran udara atau oksigen terhambat, akibatnya pasien merasa sesak na#as. Didalam al eoli hampir tidak berisi *airan, karena itu pasien tidak batuk berdahak. Kuman penyebab terutama yang hidup didalam sel seperti irusB Chlamydia pneumonia, mikoplasma pneumoniaeB serta *o,iella burnetti F *hlamidia tra*homatis $ jarang'. 4ejala klinis utama adalah sesak na#as dan batuk tidak berdahak. Euga tidak terjadi demam, kenikan suhu badan hanya minimal.

Pneumonia

interstitial

ditandai

dengan pola linear atau retikuler pada parenkim paru. Pada tahap akhir, dijumpai penebalan jaringan interstitial sebagai densitas noduler yang ke*il.

In#iltrat interstitial, ditandai dengan peningkatan bronko askuler, *u##ing, dan hiperaerasi *orakan peribron*hial

)umber 8 < http8<<www.s*ribd.*om<do*<5/A;/A0A<P132M>1I(+yanthi

,ent%k lain !am a"an "adi5l5!i &ada &ne%m5nia : 6. Pne%m5nia <-"5%nd -lass=

Pola ini sering sulit diketahui se*ara dini, namun petunjuknya adalah pembuluh darah paru yang tampak tidak berbatas tegas atau GkaburH dan paru tampak sedikit opak. Pola ini bermula di sekitar hilus dan menyebar ke arah luar. "idak ditemukan adanya air bron*hogram. Pola ini ditemukan pada in#eksi pneumonia

Pneumo*ystis Carinii diderita oleh pasien terutama dengan akibat imunosupresi (ID), in#eksi

mikoplasma dan in#eksi irus. PCP biasanya menjadi tanda awal

serangan penyakit pada pengidap 7I5<(ID). PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja penyakit ini mun*ul lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik akan men*egah atau menundah kekambuhan./ Pne%m5:$stis 1a"inii Pne%m5nia 'P1P(. Chest radiograph shows symmetri* bilateral ha6y in*reased opa*ity $ground+glass opa*ity'. "he patient was a 9/+year+old woman with newly diagnosed a*Iuired immunode#i*ien*y syndrome $(ID)' and PCP.A 5. *5%nd Pne%m5nia Pneumonia ini sering terlihat pada in#eksi di masa kanak+kanak dan dapat menyerupai suatu massa dalam paru. Petunjuk untuk pola ini adalah adanya air bronchogram di dalam bayangan opak. %ound Pneumonia terjadi karena in#eksi mudah menyebar melalui #oramen interal eolar.

Anteroposterior radiograph of a child with a round pneumonia. 5

*5%nd &ne%m5nia in "i!ht l5we" l5 e PA

*5%nd &ne%m5nia &ada &a"% kanan '*M+( PA

7. Pne%m5nia Sta4il5k5k%s Pneumonia ini merupakan pneumonia yang *ukup serius pada masa kanak+kanak. "erdapat gambaran bronkopneumonia dengan kista atau ka itas multiple. Pola ini penting untuk dikenali karena bila tidak diobati atau diterapi dengan antibioti* yang tidak tepat akan menyebabkan komplikasi yang sangat serius seperti pneumothoraks dan em#iema.

Chest radiograph in an 0+year+old girl who presented with staphylo*o**al pneumonia.

2.8. Penatalaksanaan Medikamentosa8 Diagnosis etiologik pneumonia sangat sulit untuk dilakukan sehingga pemberian antibiotik dilakukan se*ara empirik sesuai dengan pola kumantersering yaitu Streptococcus pneumonia dan Haemophilus in luenzae. Pemberian antibiotik sesuai dengan kelompok umur. 2ntuk bayi di bawah - bulan diberikan golongan penisillin dan aminoglikosida. 2ntuk umur J - bulan, ampisilin dipadu dengan kloram#enikol merupakan obat pilihan pertama. Bila keadaan pasien berat atau terdapat empiema, antibiotik pilihanadalah golongan se#alosporin. Bila anak disertai demam $@ -KL C' yang tampaknya menyebabkan distress, berikan parasetamol. Bila ditemukan adanya whee6e, beri bron*hodilator kerja *epat, dengansalah satu *ara berikut8 1. /. -. )albutamol nebulisasi. )albutamol dengan MDI (metered dose inhaler) dengan spa*er. Eika kedua *ara tidak tersedia, beri suntikan epine#ri $adrenalin'se*arasubkutan.

)uporti#8

Pemberian oksigen sesuai derajat sesaknya, pemberian dilakukan sampaitanda hipoksia $seperti tarikan dinding dada ke dalam yang berat atau napas*epat' tidak ditemukan lagi.

1utrisi parenteral diberikan selama pasien masih sesak. Kebutuhan *airanrumatan diberikan sesuai umur anak, tetapi hati+hati terhadap kelebihan*airan<o erhidrasi.

2.>. K5m&likasi Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis purulenta, pneumotoraks atau in#eksi ekstrapulmoner seperti meningitis prulenta.3mpiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri, *uriga ke arah ini apabila terdapat demam persisten meskipun sedang diberiantibiotik, ditemukan tanda klinis dan gambaran #oto dada yang mendukung yaituadanya *airan pada satu atau kedua sisi dada. Ilten ! dkk, melaporkan mengenai komplikasi miokarditis $tekanan sistolik kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung' yang *ukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia /+/9 bulan. >leh karena miokarditis merupakankeadaan yang #atal, maka dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik nonin asi# seperti 3K4, ekokardiogra#i, dan pemeriksaan en6im. 2.10. +an!kah P"5m5ti4;P"e?enti4. Pen*egahan untuk Pneumococcus dan H.in luenzae dilakukan dengan aksin yang sudah tersedia. 3#ekti itas aksin pneumokok adalah sebesar ;.M danuntuk H.in luenzae K5M. In#eksi H. in luenza bisa di*egah dengan ri#ampisin bagikontak di rumah tangga atau di tempat penitipan anak.

,A, 3 +APO*AN KASUS

I#EN)I)AS PASIEN

1ama< 1o M& 2mur (yah<Ibu )uku (lamat "gl Masuk

8 (n. (EP < ;K 59 /5 8 ;- tahun - bulan 8 1y. ) 8 Melayu 8 El.)utomo Blok K 1o.K 8 1.<.1</.1-

A++OANAMNESIS Diberikan oleh 8 Ibu kandung pasien

KU *PS

: mulut tertarik ke kiri sejak / hari )M&) :

)ejak / hari )M&) pasien mengeluhkan mulut tertarik ke kiri. Ketika penderita bangun pagi keesokan harinya, penderita merasa mulutnya seperti tertarik ke kiri, lalu penderita ber*ermin dan melihat mulutnya miring<tertarik ke kiri. Bersamaan dengan itu, mata penderita tidak bisa menutup rapat sehingga terasa pedih bila terkena air dan angin. Bila penderita makan, makanan *enderung berkumpul di sisi kanan. Bila penderita minum<berkumur, air keluar menetes dari sudut mulut kanan. Bibir terasa kering dan pe*ah+pe*ah. In#luensa dan nyeri di belakang telinga disangkal oleh penderita. Penderita tidak mengalami gangguan penge*apan ataupun gangguan pendengaran. Penderita mengaku terpapar udara dingin pada malam hari ketika keluar malam. "idak ada riwayat demam tinggi, tidak ada riwayat batuk pilek, tidak ada riwayat trauma, tidak ada men*ret maupun muntah. *P# : "idak pernah mengeluhkan keluhan yang sama sebelumnya. *PK : "idak ada keluarga dengan keluhan yang sama dengan pasien. *iwa$at O"an! )%a : pekerjaan ayah P1), ibu mengurus rumah tangga.

*iwa$at Kehamilan dan Kelahi"an: merupakan anak ke / lahir se*ara s* a<i letank sungsang. )elama hamil ibu tidak mengeluhkan masalah penyakit yang mengganggu kehamilan, mual muntah N pada trimester awal. (1C teratur kebidan praktek. *iwa$at Makan dan Min%m : @ ()I dari umur . O / tahun @ P()I mulai umur 0 bulan berupa bubur susu. @ 1asi menu keluarga mulai umur 1 tahun *iwa$at Im%nisasi : imunisasi lengkap $ibu pasien tidak ingat umur anak mendapat imunisasi *iwa$at )%m %h Kem an! @ BB% + PB + %K, %D, %P, %i%a + BBM 8 /;.. gram 8 9A *m 8 tidak ingat 8 -; Kg 8 - bulan 8 A+0 bulan 8 0 bulan 8 1. bulan 8 1,5 tahun 8 1 tahun

@ "engkurap dan perubahan posisi + Duduk dan merangkak + Bi*ara tidak jelas + Berjalan dipapah + Berjalan + Kata pertama

Keadaan Pe"%mahan A )em&at )in!!al : lingkungan bersih, tidak terlalu ramai, tidak kotor, entilasi dan pen*ahayaan *ukup, tidak lembab. )umber minum sumur galian tertutup, MCK menggunakan air sumur. PEME*IKSAAN /ISIK Keadaan Um%m Kesada"an )anda@tanda ?ital 8 tampak sakit ringan 8 allert 8 + "D + )uhu + 1adi + 1a#as -iBi 8 BB Q -; Kg, "B Q 15. *m )tatus 4i6i 8 normal %I%( 8 /1 *m 8 11.<;. mm7g 8 -A,; P C 8 0A,<menit, isian *ukup 8 /9,<menit

%ingkar Kepala 8 5- *m normo*ephali KEPA+A &ambut 8 lurus, warna hitam, tidak mudah di*abut Mata 8 anemis $+<+', ikterik$+<+', pupil isokor, re#leks *ahaya N<N "elinga 8 bentuk normal, simetris, serumen $+<+'. 7idung 8 tidak ada de iasi septum, mukus $+', epistaksis$+' Mulut 8 bibir basah, selaput lendir basah. %eher 8 pembesaran K4B $+', kaku kuduk $+' #A#A 8 Paru Inspeksi Palpasi Perkusi (uskultasi Eantung Inspeksi Palpasi Perkusi (uskultasi A,#OMEN Inspeksi Palpasi Perkusi (uskultasi A+A) KE+AMIN 8 ".(.K EKS)*EMI)AS 8 (kral hangat, re#illing kapiler normal ? / detik PEME*IKSAAN +A,O*A)O*IUM Darah 8 7b 8 11,9 grM %eukosit 8 9.K..<mm"rombosit 8 1A;....<mm7t 8 -9,/ olM 8 #lat, simetris, enektasi $+'. 8 )upel, organomegali $+', nyeri tekan $+' 8 timpani 8 bising usus $N' normal 8 i*tus kordis tidak terlihat 8 i*tus kordis teraba di &IC 5 %MC) 8 batas jantung kiri &IC 5 %MC) Batas jantung kanan linia parasternalis kanan 8 irama jantung regular, BE tambahan $+' murmur $+' 8 bentuk simetris kiri dan kanan, gerak na#as kiriQkanan, retraksi $+' 8 #remitus kiriQkanan 8 sonor N<N 8 )uara na#as esikuler N<N, ronki +<+ , whee6ing +<+

#IA-NOSIS KE*3A #IA-NOSIS ,AN#IN1. Miastenia 4ra is /. "umor Intrakranialis

: parese ner us 5II peri#er e* bellRs palsy :

*EN1ANA PEME*IKSAAN PENUN3AN+ M&I )E*API Medikamentosa Be*ombion tablet 1 , 1 Diit 8 &D( S BBI Q A. S 91 Q /9A. Kkal<hari P*O-NOSIS Tuo ad itam Tuo ad #un*tionam 8 Dubia ad bonam 8 Dubia ad malam

PE*3A+ANAN PENCAKI);/O++OD UP

.a"i;)!l Eumat 11<1</.1-

S% 8ekti4 Keluhan$N', demam$+'

O 8ekti4 K28 sakit ringan Kes8 alert "D 11.<;. mm7g )uhu -;,1PC 1adi 0A ,<menit && 8 /9,<menit sinistra dektra Mengerutkan N + dahi Menutup mata tersenyum Bersiul N N N + + +

Assesment )e"a&i Bels palsy Be*ombion tablet 1,1

)abtu

Keluhan$N', K28 sakit ringan Kes8 alert "D 11.<;. mm7g )uhu -;,1PC 1adi 00 ,<menit && 8 /9,<menit sinistra dektra Mengerutkan N + dahi Menutup mata tersenyum Bersiul N N N + + +

Boleh pulang

1/<.1</.1- demam$+'

,A, 6 PEM,A.ASAN

"elah dilaporkan seorang pasien anak (EP, perempuan usia 1- tahun ; bulan dengan keluhan utama mulut tertarik ke kiri sejak / hari )M&). Diagnosis bells palsy BellUs Palsy atau yang lebih sering disebut dengan Idiopathi* !a*ial Paralysis $I!P' adalah suatu paralisis %ower Motor 1euron $%M1' yang bersi#at akut, peri#er, unilateral, yang pada 0.+K.M kasus dapat hilang sendiri seiring berjalannya waktu. Penyebab pasti kelumpuhan ner us #asialis peri#er pada BellRs palsy tidak diketahui $idiopatik' tetapi diduga mekanisme in#lamasi terjadi pada ner us #asialis yang melewati kanalis #asialis sehingga menyebabkan kompresi dan demielinisasi pada akson dan berkurangnya aliran darah pada neuron. 1amun, penelitian terbaru menyebutkan adanya in#eksi irus diduga sebagai

penyebab BellRs palsy berdasarkan bukti serologis, di mana ditemukan serologi positi# untuk irus herpes simpleks $7)5' pada /.+;KM pasien BellRs palsy. Pasien mengalami kelumpuhan peri#er ner us #asialis dan bukan kelumpuhan sentral karena pada kelumpuhan peri#er yang melibatkan nukleus, semua otot #asial ipsilateral mengalami kelumpuhan. Pada lesi sentral, persara#an otot #rontalis tetap utuh karena persara#an supranuklear terletak pada kedua hemis#er *erebri. Menurut kriteria 7ouse+ Bra*kmann, pasien termasuk dalam grade I5 dis#ungsi sedang+berat karena wajah tampak asimetris saat inspeksi, kerutan dahi tidak ada dan mata tidak bisa menutup $in*omplete eye *losure'. 4rade I+5 disebut dengan &ncomplete 'ascial Paral!sis. )uatu &ncomplete 'ascial Paral!sis memiliki #ungsi dan anatomi sara# yang masih baik. Kelumpuhan sara# #asialis pada pasien ini masih dalam #ase akut, yaitu terjadi sejak / hari sebelum datang ke rumah sakit. Menurut Vanagihara dkk yang dikutip dari )inghi berdasarkan studi yang dilakukannya terhadap etiologi, derajat, sisi lesi dan progresi itas in#lamasi sara# #asialis, BellRs palsy dibedakan dalam - #ase yaitu 81 !ase akut $.+- minggu'

In#lamasi sara# #asialis berasal dari ganglion genikulatum, biasanya akibat in#eksi irus 7erpes )impleks $7)5'. In#lamasi ini dapat meluas ke bagian pro,imal dan distal serta dapat menyebabkan edema sara#. !ase sub akut $9+K minggu' In#lamasi dan edema sara# #asialis mulai berkurang. !ase kronik $J 1. minggu' 3dema pada sara# menghilang, tetapi pada beberapa indi idu dengan in#eksi berat, in#lamasi pada sara# tetap ada sehingga dapat menyebabkan atro#i dan #ibrosis sara#. Pemeriksaan #isik telinga, hidung dan tenggorok serta pemeriksaan lokalis pada daerah wajah, tidak ditemukan kelainan. )etiap pasien dengan kelumpuhan sara# #asialis seharusnya menjalani pemeriksaan "7" yang lengkap seperti pemeriksaan otoskopi, pemeriksaan massa pada parotis dan pemeriksaan audiologi untuk menentukan #ungsi dari 1.5II dan 1.5III. Bila terdapat kelainan pada pemeriksaan audiometri, maka dianjurkan pemeriksaan $uditor! Brainstem %esponse $(B&' atau "agnetic %esonance &maging $M&I'. Pemeriksaan optalmologi terutama dilakukan bila terdapat lago talmus pada mata sisi yang lumpuh. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan tingkat lago talmus sehingga dapat diperkirakan kesanggupan kelopak mata dalam melindungi kornea. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan opthalmologi karena tidak terdapat lago talmus, namun mata pasien tidak dapat menutup sempurna sehingga resiko terjadinya keratitis atau ulkus kornea dapat terjadi. Pemeriksaan M&I dilakukan pada kasus yang kita *urigai suatu neoplasma tulang temporal, tumor otak, tumor parotis atau untuk menge aluasi multiple sklerosis. 4ambaran M&I pada kasus BellRs palsy dapat berupa peningkatan gadolinium sara# pada bagian distal #analis auditorius interna dan ganglion genikulatum yang merupakan lokasi tersering terjadinya edema sara# #asialis yang menetap.1-

Dalam mendiagnosis BellRs palsy perlu dibedakan apakah kelumpuhannya parsial $inkomplit' atau komplit. )istim 7ouse+Bra*kmann digunakan untuk menentukan derajat kerusakan sara# #asialis dengan *ara menilai #ungsi motorik otot+otot wajah. )istem House( Brac#mann terdiri dari 5 derajat. Derajat I ber#ungsi normal, derajat II dis#ungsi ringan, derajat III dan I5 dis#ungsi sedang, derajat 5 dis#ungsi berat dan derajat 5I merupakan kelumpuhan total. Derajat II+5 merupakan kelumpuhan parsial sedangkan derajat 5I merupakan kelumpuhan komplit.1- Pada pasien ini, didiagnosis dengan kelumpuhan sara# #asialis peri#er kanan dengan 7ouse+Bra*kmann derajat I5. %okasi kerusakan sara# #asialis pada pasien ini setinggi #oramen stilomastoideus, dimana pada pasien hanya terjadi gangguan motorik saja, tidak terdapat gangguan #ungsi lakrimasi pada mata kanan pasien. Pada tes gustometri tidak ditemukan abnormalitas penge*apan pada lidah sisi kanan. Dalam penatalaksanaan BellRs palsy pada pasien ini tidak di berikan kortikosteroid dan anti iral. 7al ini dikarenakan tidak ada riwayat in#eksi irus sebelumnya pada pasien, dan berdasarkan penelitian tidak ada perbedaan pemberiaan kortikosteroid dan anti iral dengan angka kesembuhan bells palsy pada anak. Pada pasien diberikan edukasi tentang perawatan mata tujuannya adalah untuk men*egah terjadinya kekeringan pada kornea karena kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna dan produksi air mata yang berkurang. Perawatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan arti icial tear solution pada waktu pagi dan siang hari dan salep mata pada waktu tidur. Pasien juga dianjurkan menggunakan ka*amata bila keluar rumah. Pada pasien ini seharusnya dilakukan #isioterapi dimulai pada hari kelima onset penyakit. Menurut )ukardi, #isioterapi dapat dilakukan pada stadium akut. "ujuan #isioterapi adalah untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh. Caranya yaitu dengan memberikan radiasi sinar in ra red pada sisi yang lumpuh dengan jarak / #t $A. *m' selama 1. menit. "erapi ini diberikan setiap hari sampai terdapat kontraksi akti# dari otot dan

/ kali dalam seminggu sampai ter*apainya penyembuhan yang komplit. Disamping itu juga dapat dilakukan massage pada otot wajah selama 5 menit pagi dan sore hari.19,15 &ekurensi pada kasus BellRs palsy jarang dilaporkan terutama pada anak+anak. Chen dkk melaporkan terdapat AM kasus BellRs palsy yang mengalami rekurensi. &ekurensi ini dapat disebabkan oleh terserang irus kembali atau akti#nya irus yang indolen di dalam sara# #asialis. Bila rekurensi terjadi pada sisi yang sama dengan sisi yang sebelumnya, biasanya disebabkan oleh irus 7erpes )impleks. &ekurensi meningkat pada pasien dengan riwayat BellRs palsy dalam keluarga. 2mumnya rekurensi terjadi setelah A bulan dari onset penyakit.5

#A/)A* PUS)AKA

1. May M, Klein )&. Di##erential diagnosis o# #a*ial ner e palsy. >tolaryngol Clin 1orth (m 1KK1B/98A1-O91. /. -. !al*o 1(, 3riksson 3. !a*ial ner e palsy in the newborn8 in*iden*e and out*ome. Plast &e*onstr )urg 1KK.B0581O9. Peitersen 3. BellRs palsy8 the spontaneous *ourse o# /5.. peripheral #a*ial ner e palsies o# di##erent etiologies. (*ta >tolaryngol )uppl /../B59K89O-.. 9. Mardjono, M. )idharta, P. 1er us !asialis dan Patologinya. 1eurologi Klinis Dasar, 5th ed. Eakarta 8 P" Dian &akyat, /..5. 15K+1A-. 5. Chen =S, =ong 5. Prognosis o# BellRs palsy in *hildren Oanalysis o# /K *ases. Brain De /..5B/;85.9O0. A. Murakami ), Mi6obu*hi M, 1akashiro V, Doi ", 7ato 1, Vanagihara 1. BellRs palsy and herpes simple, irus8 identi#i*ation o# iral D1( in endoneurial #luid and mus*le. (nn Intern Med 1KKAB1/98/;O-.. ;. Danette C "aylor, D>, M). /.11, Bell Palsy,

<http8<<emedi*ine.meds*ape.*om<arti*le<119AK.-+o er iewDa.15AH $diakses tanggal 1. Eanuari /.1-'. 0. (l#ord B&. (natomy o# the ;th *ranial ner e. Baylor College o# Medi*ine. /.1. K. 3 ans (K, %i*ameli 4, Brie6t6ke ), =hittemore K, Kenna M. Pediatri* #a*ial ner e paralysis8 patients, management and out*ome. Int E Pediatr >tolaryngol /..5BAK815/1O0. 1.. May M, !ria "E, Blumenthal !, Curtin 7. !a*ial paralysis in *hildren8 di##erential diagnosis. >tolaryngol 7ead 1e*k )urg 1K01B0K8091O0. 11. =orster (, Keim )M, )ahsi &. Pan*ioli (MB Best 3 iden*e in 3mergen*yMedi*ine $B33M' 4roup. Do either *orti*osteroids or anti iral agents redu*e the risk o# long+ term #a*ial paresis inpat ients with new+onset BellRs palsyW E 3merg Med /.1.B-08510O/-. 1/. &ahman I, )adiI )(. >phthalmi* management o# #a*ial ner e palsy8 a re iew. )ur >phthalmol /..;B5/81/1O99. 1-. %o B. Bell Palsy. X2pdate !eb /9,/.1.8 *ited De* /1,/.1/Y. ( ailable #rom8http8<<www.emedi*ine.meds*ape.*om<arti*le<;K1-11+o er iew 19. )ukardi. BellRs Palsy. http8<<www. kalbe.*o.id<*dk<)palsy.Pd#<spalsy.html 15.