Anda di halaman 1dari 3

Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil dan paling sedikit mengandung dua fase cair yang

tidak bercampur. Tujuan percobaan ini adalah membuat emulsi yang stabil dengan menggunakan emulgator golongan sufaktan. Alat-alat yang di gunakan dalam percobaan ini adalah rotary stirer, matkan (gelas plastik), tabung sedimentasi, penagas air, thermometer, dan cawan penguapan. Fungsi rotary stirrer berperan penting dalam peratikum ini, karena untuk menyatukan fase minyak dengan fase air dengan cara pengadukan/mixer. Pada percobaan ini digunakan air dan minyak. Air dan minyak mempunyai perbedaan sifat kepolaran dan perbedaan berat jenis. Air dengan rumus molekul H2O memiliki sifat polar karena momen dipolnya tinggi, air juga mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada minyak yaitu menurut literatur berat jenis air adalah dan minyak memiliki sifat non polar karena momen dipolnya yang kecil, berat jenis minyak kelapa lebih rendah dari pada air yaitu .. Air dan minyak dapat bercampur membentuk emulsi cair apabila suatu pengemulsi ditambahkan, karena kebanyakan emulsi adalah disperse air dalam minyak dan dispersi minyak dalam air, sehingga emulgator yang digunakan harus dapat larut dalam air maupun minyak. Contoh pengemulsi tersebut adalah senyawa organik yang mempunyai gugus hidrofilik dan hidrofobik, bagian hidrofobik akan berinteraksi dengan minyak sedangkan yang hidrofilik dengan air sehingga terbentuklah emulsi yang stabil. Akibat perbedaan kepolaran ini air dan minyak tidak dapat menyatu, karena sifat pelarutan adalah kecendrungan like dissolves like. Pelarut yang bersifat polar akan larut di pelarut yang bersifat polar juga, dan pelarut yang bersifat non polar akan larut di pelarut yang bersifat non polar juga. Berat jenis air lebih tinggi dari pada minyak, sehingga ketika dilarutkan air berada di bawah minyak. Untuk membuat suatu sediaan emulsi, diperlukan suatu emulgator. Emulgator ini akan berfungsi untuk membuat partikel minyak menjadi terdispersi dalam air sehingga air dan minyak dapat menyatu. Emulgator terdiri dari tiga golongan yaitu surfaktan, koloida hidrofilik, dan partikel padat terbagi halus, tetapi emulgator yang paling umum digunakan adalah surfaktan. Pemilihan suatu emulgator merupakan faktor yang penting karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang banyak digunakan adalah zat aktif permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan. Surfaktan (surface active agent) adalah suatu senyawa yang bersifat amphifil. Senyawa amphifil adalah senyawa yang mempunyai gugus polar dan gugus non polar. Mekanisme kerja surfaktan ini adalah menurunkan tegangan antar permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globulglobul fase terdisperisnya. Tipe emulsi dapat ditentukan dari jenis surfaktan digunakan. Pada percobaan ini digunakan surfaktan kombinasi yaitu tween 80 dan span 80 sebagai emulgator. Tween 80 dan span 80 ini sama halnya seperti surfaktan lainnya, ada bagian yang bersifat lipofilik (kepalanya) dan bersifat hidrofilik (ekornya). Molekul lipofilik akan menghadap kearah minyak, sedangkan molekul hidrofilik akan menghadap kearah air. Akibat adanya tween 80 dan span 80 ini akan menjembatani molekul minyak kelapa untuk kemudian terdispersi dalam air sebagai fase pendispersinya. Pada percobaan untuk fase airnya adalah air dan tween 80, sedangkan fase minyaknya adalah minyak dan span 80 ditambah dengan setil alkohol. Pada pembuatan fasa minyak, Span 80 ditambahkan setil alcohol karena bagian hidrofiliknya (alkohol) akan menempatkan diri pada bagian hidrofil dari emulgator utama. bagian hidrofobiknya tidak

akan compatible dengan fase air tetapi akan lebih mudah bergabung dengan bagian hidrofobik lainnya. Akibatnya beberapa bagian hidrofilik dari emulgator kedua ini akan diproyeksikan kembali ke arah fase air dan bagian hidrofobiknya akan berkumpul membentuk bilayer. Sebagai perluasan dari prinsip ini, sebuah jaringan dengan struktur lamela dapat membentuk matriks di seluruh fase kontinyu sehingga menghasilkan emulsi liquid kristalin Adapun alasan perlakuan pada percobaan ini adalah penuangan fase minyak ke dalam fase air sedikit demi sedikit bertujuan agar fase minyak dapat terdispersi perlahan-lahan ke dalam fase air. Diaduk campuran dengan menggunakan rotary stirer bertujuan untuk memberi kesempatan kepada fase minyak untuk terdispresi ke dalam air dengan baik serta emulgator dapat membentuk lapisan film pada permukaan fase terdispersi. Diamati selama 6 hari tujuannya untuk melihat pemisahan antara fase air dan fase minyak. Karena pada percobaan kali ini digunakan surfaktan yang kombinasi yaitu tween 80 dan span 80, maka diperlukan nilai HLB (Hydrophylic Lypopilic Balance) butuh minyak. HLB butuh minyak setara dengan HLB campuran surfaktan yang digunakan untuk mengemulsikan minyak sehingga membentuk emulsi yang stabil. HLB butuh minyak ini perlu ditentukan apabila emulsi menggunakan kombinasi surfaktan, jika hanya menggunakan satu jenis surfaktan tidak diperlukan nilai HLB butuh minyak. HLB butuh minyak harus berada di rentang nilai HLB kombinasi surfaktan. Pada percobaan emulsifikasi ini akan dibuat satu seri emulsi dengan nilai HLB butuh masing-masing 5, 7, 9, 11, dan 13. Bahan yang digunakan adalah minyak dan air, sedangkan untuk emulgator digunakan emulgator kombinasi surfaktan yaitu Tween 80 dan Span 80. Pencampuran Tween 80 dengan air karena nilai HLB Tween 80 relatif tinggi yaitu sebesar 15. Nilai HLB yang tinggi menunjukkan bahwa Tween 80 bersifat polar sehingga dapat bercampur dengan air yang bersifat polar. Sedangkan Span 80 dicampur dengan fase minyak, karena Span 80 memiliki nilai HLB yang lebih rendah yaitu 4,3 dan menunjukkan bahwa Span 80 bersifat non polar sehingga dapat bercampur dengan minyak. Terbentuknya emulsi ditandai dengan berubahnya warna campuran menjadi putih susu. Setelah 5 menit emulsi yang terbentuk diangkat dari penangas dan dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi dan diberi tanda sesuai dengan nilai HLB-nya. Tinggi emulsi dalam tabung diusahakan sama agar mempermudah dalam membandingkan kestabilan dari tiap emulsi. Selanjutnya, diamati ketidakstabilan emulsi yang terjadi selama 6 hari. Dari hasil pengamatan, setelah emulsi dipindahkan ke dalam tabung sedimentasi semua emulsi mengalami creaming. Terbentuknya creaming menandakan emulsi yang terbentuk tidak stabil. Creaming yang terbentuk mengarah ke atas. Creaming adalah proses sedimentasi dari tetesan-tetesan terdispersi berdasarkan densitas relative dari kedua fase diketahui, pembentukan arah krim dari fase dispers dapat menunjukkan tipe emulsi yang ada. Pada sebagian besar system farmasetik, densitas fase minyak atau lemak kurang dibandingkan fase air; sehingga, jika terjadi krim pada bagian atas, maka emulsi tersebut adalah tipe minyak dalam air, jika emulsi krim terjadi pada bagian bawah, maka emulsi tersebut merupakan tipe air dalam minyak. Setelah dilakukan pengamatan selama 6 hari, HLB 5 terdapat creaming setinggi 13,5 cm, HLB 7 setinggi 7,9 cm, HLB 9 setinggi 8,6 cm, HL Tinggi creaming pada emulsi dengan HLB 5 jauh lebih tinggi dibandingkan tinggi creaming pada emulsi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa

emulsi minyak dengan air pada HLB 5 paling tidak stabil jika dibandingkan dengan emulsi pada HLB lainnya. Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa, emulsi dengan nilai HLB 13 merupakan emulsi yang paling stabil karena sudah tidak membentuk creaming B 11 setinggi 7,9 cm dan HLB 13 tidak terdapat creaming yang menandakan HLB 13 stabil. Kesetabilan emulsi dipengaruhi beberapa faktor yaitu, ditentukan gaya gaya: 1. Gaya tarik menarik yang dikenal gaya Van der walss. Gaya ini menyebabkan partikel partikel koloid membentuk gumpalan lalu mengendap 2. Gaya tolak menolak yang terjadi karena adanya lapisan ganda elektrik yang muatannya sama saling bertumpukan. Sedangkan bentuk bentuk ketidak stabilan dari emulsi sendiri ada beberapa macam yaitu sebagai berikut : 1. Flokulasi, karena kurangnya zat pengemulsi sehingga kedua fase tidak tertutupi oleh lapisa pelindung sehingga terbentuklah flok flok atau sebuah agregat 2. Koalescens, yang disebabkan hilangnya lapisan film dan globul sehingga terjadi pencampuran 3. Kriming, adanya pengaruh gravitasi membuat emulsi memekat pada daerah permukaan dan dasar 4. Inversi massa (pembalikan massa ) yang terjadi karena adannya perubahan viskositas 5. Breaking/demulsifikasi, lapisan film mengalami pemecahan sehingga hilang karena pengaruh suhu.

- Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta - Anonim a. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen kesehatan RI - Anonim b. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia