Anda di halaman 1dari 19

-

Dewi ira puspita Riza maulidia Juliana lubis Jahriani siregar Helen salviani Ramadhani Fithra.s Asni zahara rambe Fregi pratama

Adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang di berikan melalui rektum, vagina ataupun uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh dan dapat digunakan untuk mendapatkan efek lokal ataupun sistemik.

Rektum & Anus Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

REKTUM -Panjangnya 15-20 -Ketika dalam keadaan kosong cairannya 2-3ml -Dalam keadaan istirahat rektum tidak mengalami mortilitas -PH 7-8 -Suhu normal 37C

Macam-macam suppositoria

a. b. c.

Bentuk dan ukuran suppositoria haruslah sedemikiaan rupa sehingga dapat dengan mudah di masukkan ke dalam lubang atau celah yang di inginkan tanpa menimbulkan kejanggalan saat di masukkan dan harus dapat bertahan untuk suatu waktu tertentu. Berdasarkan pada tempat pemberiannya di bedakan atas : Suppositoria rektal Suppositoria vagina Suppositoria uretra

Sering di sebut sebagai suppositoria saja, di gunakan lewat rektum atau anus berbentuk peluru atau torpedo atau lonjong pada satu atau kedua ujungnya. Bobot 2-3 gram untuk orng dewasa, sedangkan untuk bayi dan anak-anak berat dan ukurannya setengah dari berat dan ukuran orang dewasa. Suppositoria rektal yang berbentuk torpedo mempunyai keuntungan yaitu jika bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur, maka suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya.

Sering di sebut dengan ovula atau pessarium, digunakan lewat vagina, ber- bentuk bulat telur atau seperti kerucut. Bobotnya lebih kurang 5 gram.

Sering di sebut bougie atau bacilla, digunakan lewat uretra (saluran urine) pada pria dan wanita, bentuknya ramping seperti pensil. Suppositoria uretra untuk pria bergaris tengan 3-6 mm dengan panjang antara 7-14 cm. Bobotnya sekitar 4 gram, sedangkan untuk wanita panjang dan bobotnya setengah dari ukuran pria yaitu 7mm dan beratnya 2 gram.

1. 2. 3. 4. 5.

Dapat menghindari kerusDapat meghindari terjadinya iritasi pada lambung akan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung Obat dapat langsung kedalam sirkulasi darah sehingga kerja obat lebih cepat di bandingkan penggunaan secara oral Dapat di berikan kepada pasien yang tidak sadar atau muntah Obat tidak melalui sikulasi portal sehingga memungkinkan obat tidak di rusak dalam hati untuk memperoleh efek sistemik.

Cara pakai tidak menyenangkan Absorbsi obat seringkali tidak teratur / sukar diramalkan Tidak dapat disimpan dalam suhu ruangan Tidak semua obat bisa dibuat suppositoria

Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Berefek lokal :Pencahar, anti wasir, obat cacing Berefek sistemik : analgesik, anti piretik

Faktor Fisiologis 1.Kandungan kolon Untuk mendapatkan efek sistemik, maka penyerapan lebih besar terjadi pada rektum yang kosong dari pada rektum yang penuh dengan feses. Oleh karena itu bila diperlukan untuk pengosongan kolon dapat diberikan enema sebelum penggunaan suppositoria. Keadaan lain yang dapat mempengaruhi penyerapan seperti diare, gangguan kolon akibat pertumbuhan tumor.

Lanjutan
2. Jalur sirkulasi Obat yang diberikan melalui rektum tidak seperti yang diserap setelah pemberian oral yaitu tidak melalui sirkulasi portal dengan demikian obat dimungkinkan untuk tidak dirusak dalam hati untuk memperoleh efek sistemik. 3. PH dan tidak ada kemampuan mendapar dari cairan rektum Karena cairan rektum pada dasarnya netral (pH 7-8) dan kemampuan mendapar tidak ada, maka bentuk obat yang digunakan lazimnya secara kimia tidak berubah oleh lingkungan rektum.

1. Kelarutan relatif obat dalam lemak dan air (koefisien partisi) Suatu obat lipofilik yang terdapat dalam bahan dasar suppositoria berlemak dengan konsentrasi rendah, memiliki kecenderu- ngan yang kurang untuk melepaskan diri kedalam cairan yang ada disekelilingnya dibandingkan dengan obat hidrofilik.

2. Ukuran partikeemakin kecil ukuran partikelnya maka semakin besar luas permukaan partikel tersebut sehingga akan mudah larut dan lebih besar kemungkinannya untuk dapat lebih cepat diserap. 3. Sifat bahan dasar suppositoria - Dasar suppositoria harus padat pada suhu kamar tetapi melunak, melebur arau melarut dengan mudah pada suhu tubuh - Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi - Dapat bercampur dengan bermacam-macam bahan obat - Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna, bau dan pemisahan obat - Kadar air cukup - Cukup mudah dibasahi dan diemulsikan

Bahan dasar berlemak (lipofilik) Contoh : oleum cacao, campuran antara gliserin dengan asam lemak dengan bobot molekul tinggi asam palmitat (gliseril monopalmitat), asam stearat (gliseril monostearat) Oleum cacao meleleh antara suhu 30-36C tetapi tetap padat pada suhu kamar. b) Bahan dasar yang larut dalam air (hidrofilik) Contoh : Polietilenglikol (PEG) dan campuran gelatin-gliserin - Polietilenglikol (PEG) Suppositoria dengan PEG tidak melebur pada suhu tubuh tetapi perlahan-lahan melarut dalam cairan rektum dan tidak melunak bila terkena udara panas. Bila suppositoria dengan PEG tidak mengandung air sedikitnya 20%, maka untuk mencegah rangsangan membran mukosa rektum setelah dipakai maka suppositoria tersebut harus dicelupkan kedalam air sebelum dipakai.
a)

- Campuran Gelatin-gliserin Paling banyak digunakan untuk pembuatan suppositoria vagina dimana memang diharapkan efek setempat yang cukup lama, karena bahan ini lebih lambat melunak. Sifat gliserin yang higroskopis menyebabkan terjadinya penarikan cairan pada rektum saat suppositorianya dipakai dan ini menimbulkan respon pada kolon untuk buang air besar. c) Bahan dasar yang mempunyai sifat hidrofilik dan lipofilik Contoh : Polioksil 40 stearat Senyawa ini menyerupai lilin, putih atau kecoklatan, padat dan larut dalam air, mempunyai titik lebur 39-54C. Bahan ini akan teremulsikan dalam cairan rektum.

Penetapan kadar zat aktif Penetapan kadar zat aktifnya disesuaikan dengan kadar yang tertera pada etiketnya. Prosedur penetapan kadarnya sesuai dengan yang tertera dalam monografinya. 2. Uji terhadap titik lebur Terutama dilakukan bila menggunakan bahan dasar oleum cacao. 3. Uji kerapuhan Terutama untuk menghindari kerapuhan selama proses pengangkutan. 4. Uji waktu hancur Waktu hancur suppositoria dengan bahan dasar lemak tidak lebih dari 30 menit, sedangkan yang menggunakan bahan dasar larut air tidak lebuh dari 60 menit.
1.

5. Uji keseragaman bobot Prosedurnya : ambil 20 suppositoria lalu ditimbang satu per satu, selanjutnya timbang 20 suppositoria sekaligus dan hitung bobot rata-ratanya. Kemudian hitung persen deviasinya. Persyaratan : tidak lebih dari 2 suppositoria yang ditimbang satu per satu mempunyai penyimpangan terhadap bobot rata-rata lebih dari 5% dan tidak satupun penyimpangannya lebih dari 10%. 6. Uji homogenitas 7. Homogenitas suppositoria dilihat secara visual.