Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pelayanan keperawatan merupakan ujung tombak utama dalam kesehatan di rumah sakit dan merupakan cermin utama dari keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Pelayanan keperawatan bermutu tinggi harus dilaksanakan oleh tenaga kesehatan profesional dengan cara yang profesional pula. Sebagai profesi, keperawatan dituntut untuk memiliki kemampuan intelektual, interpersonal, kemampuan teknis dan moral. Perawat sebagai anggota inti tenaga kesehatan yang jumlahnya terbesar di rumah sakit (sebesar 40-60% dan memiliki peran kunci dalam mewujudkan keselamatan pasien dan menekan masalah Medical Errors). Proses keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama pasien dalam menentukan asuhan keperawatan yang dibutuhkan. Asuhan yang diberikan berfokus pada pasien, berorientasi pada tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien itu sendiri. Hampir

setiap tindakan medik yang dilakukan menyimpan potensi resiko. Banyaknya jenis obat, pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf rumah sakit yang cukup besar merupakan hal yang potensial terjadinya kesalahan medis (Medical Errors). Setiap tahunnya, puluhan juta pasien diseluruh

dunia mengalami keadaan cedera yang menetap atau kematian akibat perawatan medis yang tidak aman. Hampir satu dari sepuluh pasien dirugikan saat menerima perawatan kesehatan di rumah sakit pemerintah atau rumah sakit swasta yang menggunakan teknologi maju (WHO, 2008). Institute of Medicine (IOM, 2000) mendefinisikan kesalahan medis adalah suatu kegagalan tindakan medis yang telah direncanakan untuk

diselesaikan, tetapi pelaksanaaannya tidak seperti yang diharapkan (kesalahan tindakan) atau perencanaan yang salah untuk mencapai suatu tujuan (kesalahan perencanaan). Kesalahan ini berpotensi atau mengakibatkan cedera bagi pasien, yang bisa berupa Kejadian Yang Tidak Diharapkan.

Keselamatan (Safety) telah menjadi issue global, termasuk juga di rumah sakit. Ada lima issue penting terkait keselamatan dirumah sakit yaitu keselamatan pasien, keselamatan petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan rumah sakit yang bisa berdampak pada keselamatan pasien dan petugas rumah sakit, keselamatan lingkungan, dan keselamatan bisnis rumah sakit yang terkait. Harus diakui, pelayanan kesehatan pada dasarnya adalah untuk menyelamatkan pasien. Namun, semakin berkembangnya ilmu dan teknologi pelayanan kesehatan khususnya di rumah sakit menjjadi semakin kompleks dan berpotensi menimbulkan Kejadian Yang Tidak Diharapkan (DepKes R.I, 2006). Keselamatan pasien di rumah sakit adalah suatu sistem pelayanan dalam suatu rumah sakit yang memberikan asuhan pasien menjadi lebih aman, termasuk didalamnya mengukur resiko, identifikasi dan pengelolaan resiko terhadap pasien, analisa insiden, kemampuan belajar dan menindaklanjuti insiden serta menerapkan solusi serta untuk menerapkan solusi untuk mengurangi resiko. Menurut Who (2004), keselamatan pasien merupakan komponen penting dari mutu pelayanan, prinsip dasar dari pelayanan pasien dan komponen kritis dari manajemen mutu. Oleh karena itu diperlukan komitmen tenaga medis untuk menjaga keselamatan pasien, kompeten dan etis dalam keperawatan. Mempertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap kemanusiaan, maka dikembangkan Paradigma Patient Safety yang dirancang mampu menjawab permasalahan yang ada.

B. Tujuan a. Tujuan Umum Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui dan memahami pentingnya keselamatan pasien.

b. Tujuan Khusus 1. Mahasiswa mengetahui definisi patient Safety dan tujuan dari adanyan sistem keselamatan pasien. 2. Mahasiswa dapat memahami klasifikasi kesalahan yang terjadi dalam sistem patient Safety. 3. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami mengenai penyebab kesalahan yang terjadi dalam program patient Safety . 4. Mahasiswa dapat memahami hal-hal yanh menjadi indikator dalam patient Safety . 5. Mahasiswa dapat memahami issue global terkait patient Safety

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Patient Safety Keselamatan pasien (Patient Safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi assessment resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisa insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut serta implementasi solusi untuk meminimalkan resiko. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebab oleh kesalahan akibat melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya (DepKes RI,2006). Menurut National Health Performance Commite (NHPC, 2001, di kutip dari Australian Institute Health and Welfare (AIHW,2009), patient safety atau keselamatan pasien adalah menghindari atau mengurangi hingga tingkat yang dapat diterima dari bahaya yang aktual atau resiko dari pelayanan kesehatan atau lingkungan dimana pelayanan keshatan diberikan. Fokusnya adalah untuk mencegah hasil pelayanan kesehatan yang merugikan pasien. Menurut Kohn, Corrigan dan Donaldson (2000), keselamatan pasien (Patient safety) didefinisikan dengan tidakadanya kesalahan atau bebas dari cedera karena kecelakaan. Menurut Nursalam (2011), keselamatan pasien merupakan suatu variabel untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan keperawatan yang berdampak terhadap pelayanan kesehatan. Menurut Institute of Medicine (IOM, 2000), keselamatan pasien didefinisikan sebagai Freedom From Accidental Injury, yang disebabkan karena kesalahan perencanaan atau memakai rencana yang salah dalam mencapai tujuan. Accidental injury juga merupakan akibat dari melakukan suatu tindakan (Commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Ommission). Dalam prakteknya, accidental injury bisa berupa kejadian yang tidak di inginkan (KTD).

Tujuan dari adanya sistem patient safety sendiri adalah sebagai berikut (DepKes RI, 2006): 1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit. 2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat. 3. Menurunnya kejadian yang tidak di inginkan di rumah sakit. 4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan. Menurut Joint Commission Internasional (JCI), tujuan penanganan patient safety adalah untuk mengidentifikasi pasien dengan benar, meningkatkan komunikasi secara efektif, meningkatkan keamanan dari High-alert

medication, memastikan benar tempat, benar prosedur, dan benar pembedahan pasien, mengurangi resiko infeksi dari pekerja kesehatan, mengurangi resiko terjadinya kesalahan yang lebih buruk pada pasien.

B. Aspek Hukum Terhadap Keselamatan Pasien dan Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit Sejak masalah medical errors bergema di seluruh belahan bumi melalui berbagai media, dunia kesehatan mulai menaruh perhatian yang tinggi terhadap issue keselamatan pasien. Keselamatan pasien merupakan salah satu indikator klinik dalam mutu pelayanan keperawatan. Oleh karena itu tenaga kesehatan perlu memahami aspek hukum keselamatan pasien untuk melindungi diri sendiri dari tuntutan hukum dan untuk melindungi keselamatan pasien. Keselamatan pasien dalam issue hukum Indonesia tertuang dalam pasal 53 (3) UU No. 36/2009, yang menyatakan pelaksanaan pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan nyawa pasien. Tanggung jawab hukum rumah sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit (Passal 29b, UU no.44/2009). Rumah sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan atau

keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien. Adapun hak-hak dari pasien tertuang dalam UU No.44/2009, yang menjelaskan bahwa setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. Pada pasal 46 UU no.22 tahun 2009 dikatakan bahwa rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit. Pada Bab IV pasal 8 tentang sasaran keselamatan pasien dirumah sakit dikatakan bahwa setiap rumah sakit wajib mengupayakan sasaran keselamatan pasien, yang meliputi tercapainya hal-hal berikut ini: 1) Ketepatan identifikasi pasien; 2) Peningkatan komunikasi yang efektif; 3) Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai; 4) Kepastian tepat-lokasi, tepat prosedur, tepat-pasien operasi; 5) Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; dan 6) Pengurangan resiko pasein jatuh.

Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu ditangani segera dirumah sakit di Indonesia, maka diperlukan standar keselamatan pasien rumah sakit yang merupakan acuan bagi rumah sakit di Indonesia untuk melaksanakan kegiatannya. Standar keselamatan pasien ini mengacu pada Hospital Patients Safety Standard yang disusun oleh Joint Commision on Accreditation of Health organization, Illinois, USA, tahun 2002, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi perumahsakitan di Indonesia. Ada tujuh standar keselamatan pasien, yaitu: 1) Hak pasien dan keluarganya mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan, termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Yang Tidak diharapkan. 2) Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

3) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan, dimana rumah sakit harus dapat menjamin kesinambungan pelayanan dan koordinasi antar tenaga kerja dan antar unit pelayanan. 4) Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien, dimana rumah sakit harus mendisain atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif kejadian yang tidak diharapkan, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. 5) Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien, dimana pemimpin mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara integrasi dalam organisasi, pemimpin harus dapat

menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien. 6) Mendidik Staf tentang keselamatan pasien. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas. Pihak rumah sakit juga perlu menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien. 7) Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia No. 1239/2001 mengenai registrasi dan praktik keperawatan, pada pasal 15 menegaskan bahwa perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang untuk

melaksanakan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnose keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. Dalam poin selanjutnya ditegaskan bahwa pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis oleh dokter. Pada pasal 19, dikatakan bahwa perawat dalam menjalankan praktik keperawatannya

harus senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kewajiban perawat secara umum adalah mencegah terjadinya malpraktek dan kelalaian dalam mematuhi standar, melakukan pelayanan keperawatan berdasarkan kompetensi, menjalin hubungan empati dengan pasien, mendokumentasikan secara lengkap, teliti dan objektif dalam melakukan kegiatan keperawatan.

C. Klasifikasi kesalahan Elder dan Dovey (2002) membuat sistem klasifikasi kesalahan dalam pelayanan kesehatan yang seharysnya dapat dicegah terkait dengan pelayanan primer dan kesalahan dalam proses, yaitu: 1. Klasifikasi kesalahan pada pelayanan primer yang meliputi : a. Salah diagnosis, atau diagnosis yang tertunda; b. pengobatan, salah obat, salah dosis, administrasi yang tertunda atau tanpa administrasi, menyebabkan komplikasi dan ketidak tepatan terapi. 2. Klasifikasi kesalahan pada tingkat proses a. Faktor dokter, kesalahan penilaian klinis, kesalahan prosedur. b. Faktor perawat, keterampilan. c. Kesalahan komunikasi; dokter-pasien , dokter-dokter, atau sistem dan personil pelayanan kesehatan lainnya. d. Faktor administrasi; dokter, perawat, farmasi, terapi fisik, terapi pekerjaan, pengaturan kantor. e. Faktor lain; pribadi dan masalah keluarga, dokter, perawat dan staff, peraturan perusahaan asuransi, pemerintahan, pembiayaan dan fasilitas serta sistem umum pelayanan kesehatan. Menurut Chang, et al (2005),beberapa metode telah dikembagkan untuk menentukan dan mengklasifikasi kesalahan medis, efek samping, kesalahan komunikasi dan kesalahan prosedur

dan lainnya terkait dengan konsep keselamatan pasien (Patient Safety). Namun, metode-metode itu cenderung menjadi sempit dan hanya berfokus pada bidang tertentu dari pelayanan, seperti kesalahan obat, reaksi transfuse, dan pelayan keselamatan (Kamil, 2010). Resiko kesalahan tindakan medik dapat berpotensi terjadinya: a. Kesalahan Medis (Medical Errors) Yaitu kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera. Dampak dari medical errors dangant beragam, mulai dari yang ringan dan sifatnya reversible, hingga ke yang berat berupa kecacatan bahkan kematian.

b. Kejadian Tidak diharapkan Yaitu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (Commission) atau karena tidak bertindak (Ommission) dan bukan karena kondisi pasien.

c. Nyaris Cedera (Near Miss) Yaitu suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak menganbil tindakan yang seharusnya, yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius dapat tidak terjadi karena : 1) Keberuntungan : Pasien menerima suatu obat kontra indikasi, tetapu tidak timbul reaksi dari obat tersebut. 2) Pencegahan : Dimana staf lain mengetahui akan terjadi kesalahan fatal dan membatalkan suatu tindakan. 3) Peringanan : Dimana kemungkinan terburuk suatu obat dapat diketahui secara dini dan dengan segera diberikan antidotenya. Kemungkinan kesalahan yang terjadi dirumah sakit bisa terjadi antara lain pada :

1) Kesalahan pada saat diagnostik, terlambat diagnose, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara yang sudah tidak dipakai lagi, tidak bertindak atas hasil pemeriksaan atau observasi. 2) Kesalahan pada pengobatan, kesalahan prosedur, kesalahan penetalaksanaan terapi, kesalahan metode penguunaan obat,

keterlambatan merespon hasil pemeriksaan, dan asuhan yang tidak layak. 3) Kesalahan lain, seperti kegagalan komunikasi, kegagalan alat, kegagalan sistem lain.

D. Penyebab Kesalahan Penyebab terjadinya kejadian yang tidak diinginkan menurut Reason (1997) antara lain: a) Tindakan yang tidak aman (Unsafety), yang bisa terjadi karena Human Errors, Slips Errors (salah persepsi), Lapses (kesalahan yang terjadi yang terkait dengan kegagalan memori/lupa), Mistakes ( kesalahan terkait proses mental dalam assessment informasi yang terjadi, kesalahan dalam merencanakan asuhan, dsb). b) Kondisi Laten , seperti sistem yang kurang tertata yang menjadi predisposisi terjadinya error, SOP yang tidak jelas, sumberdaya yang tidak memenuhi persyaratan.

Selain itu, ada beberapa penyebab terjadinya kesalahan lain memberikan peyanan di rumah sakit, antara lain: 1. Kesalahan Sistem

dalam

Dalam hal ini, ketika kesalahan terjadi disebabkan karena kegagalan dalam merancang sebuah sistem. Sebuah sistem di dedain dengan tujuan utama adalah agar sebuah kecelakaan tidak terjadi, ataupun meminimalisir kerusakan yang terjaadi. Dalam sebuah sistem yang kompleks, salah satu komponen dari sistem adalah dapat berinteraksi dengan beberapa

10

komponen lain. Tapi terkadang, masalah muncul ketika salah satu dari sistem gagal berfungsi dengan baik.

2. Kondisi Meskipun keputusan menejerial dibutuhkan untuk keamanan dan produksi yang efisien namun itu tidak cukup. Kebutuhan untuk memiliki peralatan yang tepat, terpelihara dengan baik dan dapat diandalkan, tenaga kerja yang terampil dan berpengetahuan, jadwal kerja yang masuk akal, pekerjaan yang dirancang dengan baik; panduan yang jelas pada kinerja yang diinginkan dan tidak diinginkan, dan sebagainya. Faktorfaktor seperti ini merupakan pelopor atau prasyarat untuk proses produksi yang aman. 3. Faktor Manusia Dalam hal ini, pendekatan faktor manusia digunakan untuk mengetahui dimana dan mengapa sebuah sistem atau proses mengalami kerusakan, namun tidak semua kesalahan terkait dengan faktor manusia. 4. Teknologi Menurut Carsten (2008), salah satu penyebab kesalahan pada pelayanan kesehatan adalah persoalan teknologi. Carsten memperkenalkan model teknologi yang dapat mengurangi kesalahan dalam pelayanan kesehatan, yaitu SHELL model : S : Software; prosedur, kebijaksanaan/peraturan, regulasi. H : Hardware ; bahan, peralatan, fasilitas. E : Environtment ; fisik, ekonomi, politik. L : Liveware/worker; pembatasan fisik, mental, pengetahuan dan skill. L : Liveware/teamwork; komunikasi, kepemimpinan, norma kelompok. 5. Faktor Lain a. Tindakan yang tidak tepat b. Kesalahan obat.

11

E. Beban Akibat Kesalahan Menurut IOM (2000), Selain konsekuensi kesehatan yang tidak menguntungkan yang diderita oleh banyak orang sebagai akibat kesalahan medis, ada biaya langsung dan tidak langsung yang ditanggung oleh masyarakat secara keseluruhan sebagai akibat kesalahan medis. Biaya langsung merujuk kepada pelayanan kesehatan lanjutan yang membutuhkan pengeluaran biaya yang lebih tinggi, sedangkan biaya tidak langsung meliputi faktor-faktor seperti hilangnya produktivitas, pemborosan biaya karena kecacatan, dan biaya perawatan pribadi. Kesalahan dalam tindakan pelayanan kesehatan tidak hanya membebani dari aspek ekonomi, tetapi juga dari sosial dan psikologis; mempengaruhi keluarga pasien, teman dan-rekan kerja. Produktivitas pasien akan berkurang, hilangnya kualitas hidup, depresi, traumatik dan mungkin meningkatkan ketakutan mereka akibat kesalahan dalam penggunaan pelayanan kesehatan di masa depan. Sementara pemberi pelayanan kesehatan juga akan merasakan isu yang sama setelah berbuat kesalahan. Mereka merasa kesal dan bersalah tekah merugikan pasien, kecewa tentang kegagalan dalam menerapkan standar mereka sendiri, takut mungkin akan digugat, dan cemas terhadap reputasi mereka dampak dari kesalahannya (Gallagher, Waterman & Ebers, 2003). Gallagher, et al. (2003) juga menunjukkan fakta bahwa, beberapa dokter dan perawat memiliki pergolakan emosional akibat melakukan kesalahan, yang menyebabkan sulit untuk tidur, kesulitan berkonsentrasi dan kecemasan sampai harus meminta bantuan atau mencari konseling. Kebanyakan dari mereka berjuangan untuk memaafkan diri sendiri, beberapa mengunjungi pasien untuk memberi dukungan atas kesalahan yang telah dilakukan dan meminta maaf.

F. Indikator Keselamatan Pasien Indikator keselamatan pasien (patient safety) merupakan ukuran untuk mengetahui tingkat keselamatan pasien selama dirawat dirumah sakit. Indikator

12

ini dapat digunakan bersama dengan data pasien rawat inap yang sudah diperbolehkan pulang. Indikator keselamatan pasien (patient safety) bermanfaat untuk menggambarkan besarnya masalah yang dialami oleh pasien selama dirawat dirumah sakit, khususnya yang berkaitan dengan berbagai tindakan medik yang berpotensi menimbulkan resiko disisi pasien. Dengan mendasarkan pada indikator patient safety (IPS), maka rumah sakit dapat menetapkan upaya-upaya yang dapat mencegah timbulnya outcome klinik yang tidak diharapkan pada pasien (Dwiprahasto, 2008. Dalam Mulyati, 2012). Secara umum, indikator patient safety (IPS) terdiri atas 2 jenis, yaitu IPS tingkat rumah sakit dan tingkat area pelayanan 1. Indikator tingkat rumah sakit (Hospital lever indicator) digunakan untuk mengukur potensi komplikasi yang sebenarnya dapat dicegah saat pasien mendapatkan berbagai tindakan medik di rumah sakit. Indikator ini hanya mencakup kasus-kasus yang merupakan diagnosis sekunder akibat terjadinya resiko pasca tindakan medik. 2. Indikator tingkat area, mencakup semua resiko komplikasi akibat

tindakan medic, yang di dokumentasikan ditingkat pelayanan setempat (kabupaten/kota).Diagnosis ini mencakup diagnosis utama maupun

diagnosis sekunder untuk komplikasi akibat tindakan medik. Indikator keselamatan pasien bermanfaat untuk mengidentifikasi areaatrea pelayanan yang memerlukan pengamatan dan perbaikan lebih lanjut, seperti misalnya untuk menunjukkan : 1. Adanya penurunan mutu pelayanan dari waktu ke waktu. 2. Bahwa suatu area pelayanan ternyata tidak memenuhi standar klinik atau terapi sebagaimana yang diharapkan. 3. Tingginya variasi antar rumah sakit. 4. Disparitas geografi antar uni-unit pelayanan kesehatan (pemerintah VS swasta).

13

Selain penjelsan diatas, metode tim juga perlu menjadi strategi dalam penanganan pasien safety, karena metode tim merupakan metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin

sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan suhan keperawatan pada sekelompok pasien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif (Sitorus, 2008 dlam mulyati 2012). Pada metode ini juga memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh. Dengan pemberian asuhan keperawatan yang menyeluruh kepada pasien diharapkan keselamatan pasien dapat diperhatikan sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan. WHO (2007) memperkenalkan tata cara penanganan untuk menjamin keselamatan pasien yang dikenal dengan Nine Patient Safety Solutions (9-PSS), yaitu: 1. Melihat-sama, menyebut-sama tentang nama obat; 2. Identifikasi pasien dengan benar; 3. Komunikasi saat pasien berpindah tangan; 4. Benar prosedur benar bagian tubuh; 5. Kontrol kosentrasi cairan dan elektrolit; 6. Ketelitian pengobatan saat peralihan perawatan; 7. Menghindari chateter dan selang tersumbat atau tidak tersambung; 8. Penggunaan alat suntik sekali pakai; 9. Menjaga kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi. Sedangkan Australian Institute of Health and Welfare (AIHW, 2009), membagi indikator keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan sangat spesifik dan luas, meliputi; keselamatan berdasarkan indikator prioritas kesehatan nasional dan daerah, indikator beban kelompok penyakit, indikator bidang utama pengeluaran biaya kesehatan, indikator penyakit utama dan kelompok cedera yang berkontribusi terhadap pengeluaran biaya kesehatan, indikator ketersediaan perbandingan internasional, dan indikator oleh kebutuhan domain.

14

Menurut Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (DepKes RI, 2006), terdapat tujuh langkah menuju keselamatan pasien dirumah sakit, yaitu: 1. Membangun kesadaran akan nilai KP (Keselamatan Paien) menciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil. 2. Memimpin dan mendukung staff anda, membangun komitmen dan focus yang kuat dan jelas tentang KP di rumah sakit anda. 3. Menginegrasikan aktifitas pengelolaan resiko, pengembangan sistem dan proses pengelolaan resiko. 4. Pengembangan sistem pelaporan. 5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien. 6. Melakukan kegiatan belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. 7. Mencegah cederan melalui implementasi keselamatan pasien, menggunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan

G. Issue Keselamatan Pasien dalam pelayanan Kesehatan The American Organizations of Nurses Executive (AONE) (2007) telah melakukan berbagai perubahan peran pada tingkat pimpinan keperawatan dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien, antara lain; 1) merubah budaya kepemimpinan tentang keselamatan pasien, 2) membangun

kepemimpian yang dapat mengayomi perawat dibawahnya, 3) membangun kemitraan eksternal, 4) mengembangkan kompetensi kepemimpinan tentang keselamatan pasien. Kreimer (2010), memperkenalkan 10 Best Practices for Patient Safety untuk perawat, meliputi; 1) Batasi penyebaran infeksi, 2) Identifikasi pasien secara benar, 3) Gunakan obat-obatan secara aman, 4) Hindari kesalahan penanganan luka bedah,

15

5) Cegah tromboemboli vena, 6) Perencanaan pulang dari rumah sakit, 7) Perhatikan desain ruangan rumah sakit dengan prinsip aman, 8) Membangun tim yang lebih baik dan sistem respon cepat, 9) Berbagi data untuk peningkatan kualitas, 10) Budaya komunikasi terbuka.

16

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Keselamatan pasien (Patient Safety) rumah sakit adalah suatu sistem

dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi: assessment resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang

berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisa insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut serta implementasi solusi untuk meminimalkan resiko. keselamatan pasien didefinisikan sebagai Freedom From Accidental Injury, yang disebabkan karena kesalahan perencanaan atau memakai rencana yang salah dalam mencapai tujuan. Accidental injury juga merupakan akibat dari melakukan suatu tindakan (Commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Ommission). Tujuan penanganan keselamatan pasien adalah untuk mengidentifikasi pasien dengan benar, meningkatkan komunikasi secara efektif, meningkatkan keamanan dari High-alert medication, memastikan benar tempat, benar prosedur, dan benar pembedahan pasien, mengurangi resiko infeksi dari pekerja kesehatan, mengurangi resiko terjadinya kesalahan yang lebih buruk pada pasien. Kesalahan dalam tindakan pelayanan kesehatan tidak hanya membebani dari aspek ekonomi, tetapi juga dari sosial dan psikologis; mempengaruhi keluarga pasien, teman dan-rekan kerja. Produktivitas pasien akan berkurang, hilangnya kualitas hidup, depresi, traumatik dan mungkin meningkatkan ketakutan mereka akibat kesalahan dalam penggunaan pelayanan kesehatan di masa depan.

B. Saran Sebagai perawat yang profesional nantinya, kita dituntut untuk memiliki kemampuan intelektual, interpersonal, kemampuan teknis dan moral. Salah satu fungsi perawat sendiri adalah sebagai advokat bagi pasien, dimana

17

perawat harus bisa melindungi pasien dari resiko kesalahan dalam pemberian pelayanan kesehatan, mengingat resiko-resiko kesalahan dapat terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Sebagai tenaga perawat profesional yang bekarja dalam sebuah instansi kesehatan nantinya, diharapkan agar kita dapat mewujudkan beberapa tujuan dari program keselamatan pasien yang telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, antara lain mewujudkan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat, menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan, sehingga tidak terdengar lagi keluhan-keluhan dari pasien mengenai penurunan mutu instansi.

18

Daftar Pustaka Barbara,B.B. (1991). Nursing Leadership and Management. Managing Quality and Patient Safety. Hal 239-261. Chapter 15. Di akses pada tanggal 14 april 2012 di file:///H:/managing-quality-and-patient-safety_30.html. Chandler, Genevieve.E.(2010). New Nurses Survival Guide. Kamil, Hajjul. (2010).Patient Safety Journal ; INJ-psik.fk.unsyiah.ac.id Nazarko, Linda (2007). NVQs in Nursing and residential care homes.Blackwell Publishing.Ltd Nursalam, (2011). Manaje men Dalam Keperawatan. Salemba Medika

19