Anda di halaman 1dari 24

pengembangan profesional mengacu pada perolehan keterampilan dan pengetahuan baik untuk pengembangan pribadi dan untuk kemajuan

karir. Pengembangan profesional mencakup semua jenis kesempatan belajar difasilitasi, mulai dari derajat perguruan tinggi untuk kursus formal, konferensi dan kesempatan belajar informal yang terletak di praktek. Ini telah digambarkan sebagai intensif dan kolaboratif, idealnya menggabungkan tahap evaluatif. [1] Ada berbagai pendekatan untuk pengembangan profesional, termasuk konsultasi, pelatihan, praktek masyarakat, lesson study, mentoring, pengawasan reflektif dan bantuan teknis. [2 ] Berbagai macam orang , seperti guru , perwira militer dan bintara , profesional kesehatan , pengacara , akuntan, dan insinyur terlibat dalam pengembangan profesional . Individu dapat berpartisipasi dalam pengembangan profesional karena minat dalam belajar seumur hidup , rasa kewajiban moral , untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi profesional , untuk meningkatkan kemajuan karir , untuk mengikuti perkembangan teknologi dan praktek-praktek baru , atau untuk mematuhi peraturan organisasi profesional. [ 4 ] [ 5 ] [ 6 ] Banyak negara Amerika memiliki kebutuhan pengembangan profesional bagi guru sekolah . Misalnya , Arkansas guru harus menyelesaikan 60 jam kegiatan pengembangan profesional didokumentasikan setiap tahunnya . [ 7 ] kredit pengembangan profesi diberi nama berbeda dari negara ke negara . Misalnya , guru : di Indiana diperlukan untuk mendapatkan 90 Berkelanjutan Unit Renewal ( CRU ) per tahun, [ 8 ] di Massachusetts , guru perlu 150 Poin Pengembangan Profesional ( PDP ) ; [ 9 ] dan di Georgia , harus mendapatkan 10 Profesional Unit Belajar ( PLU ) . [ 10 ] Amerika dan Kanada perawat , serta orang-orang di Inggris , harus berpartisipasi dalam pengembangan profesi formal dan informal ( produktif satuan pendidikan Melanjutkan , atau CEUs ) untuk mempertahankan registrasi profesional . [ 11 ] [ 12 ] [ 13 ] kelompok-kelompok lain seperti teknik dan badan pengawas geoscience juga memiliki kebutuhan pengembangan profesional wajib . [ 6 ] Dalam arti luas , pengembangan profesional dapat mencakup jenis formal pendidikan kejuruan , biasanya pasca sekolah menengah atau poli - pelatihan teknis yang mengarah ke kualifikasi atau mandat yang diperlukan untuk mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan. Pengembangan profesional mungkin juga datang dalam bentuk pre-service atau in-service program pengembangan profesional . Program-program ini dapat formal , maupun informal , kelompok atau individual . Individu dapat mengejar pengembangan profesional secara mandiri , atau program dapat ditawarkan oleh departemen sumber daya manusia . Pengembangan profesional pada pekerjaan dapat mengembangkan atau meningkatkan keterampilan proses , kadang-kadang disebut sebagai keterampilan kepemimpinan , serta keterampilan tugas . Beberapa contoh untuk keterampilan proses adalah ' keterampilan efektivitas ' , ' keterampilan kerja tim ' , dan ' sistem keterampilan berpikir ' . Kesempatan pengembangan profesional dapat berkisar dari sebuah workshop untuk kursus akademik semester - panjang, untuk layanan yang ditawarkan oleh medley penyedia pengembangan profesional yang berbeda dan bervariasi secara luas berkenaan dengan filsafat, isi , dan format pengalaman belajar . Beberapa contoh pendekatan untuk pengembangan profesional meliputi: [ 2 ] Kasus Metode Pembelajaran - Metode kasus merupakan pendekatan pengajaran yang terdiri dalam menyajikan siswa dengan kasus , menempatkan mereka dalam peran pengambil keputusan menghadapi masalah ( Hammond 1976) - lihat juga Metode Kasus .

Konsultasi - untuk membantu seorang individu atau kelompok individu untuk mengklarifikasi dan mengatasi masalah langsung dengan mengikuti proses pemecahan masalah yang sistematis . Coaching - untuk meningkatkan kompetensi seseorang dalam bidang keterampilan tertentu dengan menyediakan proses observasi, refleksi , dan tindakan . Masyarakat Praktek - untuk meningkatkan praktek profesional dengan terlibat dalam penyelidikan bersama dan belajar dengan orang yang memiliki tujuan yang sama Lesson Study - untuk memecahkan dilema praktis terkait dengan intervensi atau instruksi melalui partisipasi dengan profesional lainnya dalam sistematis memeriksa praktek Mentoring - untuk meningkatkan kesadaran individu dan penyempurnaan nya atau pengembangan profesional sendiri dengan menyediakan dan merekomendasikan peluang terstruktur untuk refleksi dan observasi Pengawasan Reflektif - untuk mendukung , mengembangkan, dan akhirnya mengevaluasi kinerja karyawan melalui proses penyelidikan yang mendorong pemahaman dan artikulasi alasan untuk praktek mereka sendiri Bantuan Teknis - untuk membantu individu dan organisasi mereka untuk memperbaiki dengan menawarkan sumber daya dan informasi , mendukung jaringan dan perubahan upaya Pengembangan profesional adalah istilah yang luas , meliputi berbagai orang , ketertarikan dan pendekatan . Mereka yang terlibat dalam pengembangan profesional berbagi tujuan bersama untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan mereka . Di jantung dari pengembangan profesional adalah kepentingan individu dalam seumur hidup belajar dan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka sendiri .

1. ^ Speck, M. & Knipe, C. (2005) Why can't we get it right? Designing high-quality professional development for standards-based schools(2nd ed.). Thousand Oaks: Corwin Press 2. ^ Jump up to:
a b [need quotation to verify]

National Professional Development Center on Inclusion. (2008). "What do we mean by

professional development in the early childhood field?". Chapel Hill: The University of North Carolina, FPG Child Development Institute, Author. 3. Jump up^ Murphy-Latta, Terry (2008). A Comparative Study of Professional Development Utilizing the Missouri Commissioner's Award of Excellence and Indicators of Student Achievement .ProQuest. p. 19. ISBN 9780549489900. Retrieved 2013-08-12. "Throughout the history of American education, numerous theories and issues have been emphasized as important factors in teaching and learning. The need for professional development for school staff came to the forefront in the 1960's."

4. Jump up^ Golding, L. & Gray, I. (2006).Continuing professional development for clinical psychologists:A practical handbook. The British Psychological Society. Oxford: Blackwell Publishing 5. Jump up^ Jasper, M. (2006).Professional development, reflection, and decision-making. Oxford: Blackwell Publishing.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan pelayanan yang berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan individu. Keperawatan juga diartikan sebagai konsekuensi penting bagi individu yang menerima pelayanan, profesi ini memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh seseorang, keluarga atau kelompok di komunitas. (Committee on Education American Nurses Association (ANA), 1965). WHO Expert Committee on Nursing dalam Aditama (2000) mengatakan bahwa, pelayanan keperawatan adalah gabungan dari ilmu kesehatan dan seni melayani/memberi asuhan (care), suatu gabungan humanistik dari ilmu pengetahuan, filosofi keperawatan, kegiatan klinik, komunikasi dan ilmu sosial. Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. (Lokakarya Nasional, 1983). Profesi berasal dari kata profession yang berarti suatu pekerjaan yang membutuhkan dukungan body of knowledge sebagai dasar bagi perkembangan teori yang sistematis meghadapi banyak tantangan baru, dan karena itu membutuhkan pendidikan dan pelatihan yang cukup lama, memiliki kode etik orientasi utamanya adalah melayani (alturism). Profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Profesi sangat mementingkan kesejahteraan orang lain, dalam konteks bahasan ini konsumen sebagai penerima jasa pelayanan keperawatan profesional. Menurut Webster, profesi adalah pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang lama dan menyangkut keterampilan intelektual. Kelly dan Joel (1995) menjelaskan, Profesional sebagai suatu karakter, spirit atau metode profesional yang mencakup pendidikan dan kegiatan di berbagai kelompok okupasi yang anggotanya berkeinginan

menjadi profesional. Profesional merupakan suatu proses yang dinamis untuk memenuhi atau mengubah karakteristik kearah suatu profesi. Sejak abad yang lalu keperawatan telah megalami perubahan yang drastis, selain itu juga telah mengikuti perundang-undangan dan mendapatkan penghargaan sebagai profesi penuh. Hugnes E.C (1963) mengatakan bahwa, Profesi adalah seorang ahli, mereka mengetahui lebih baik tentang sesuatu hal dari orang lain, serta mengetahui lebih baik daripada kliennya tentang apa yang terjadi pada klien. Dalam konsep profesi ada tiga nilai penting yang perlu dipahami yakni:

1. Pengetahuan yang mendalam dan sistimatik. 2. Keterampilan teknis dan kiat yang diperoleh melalui latihan yang lama. 3. Pelayanan asuhan kepada yang memerlukan berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampilan teknis dan pedoman serta falsafah moral yang diyakini (etika profesi). Menurut Hood L.J dan Leddy S.K (2006), Perawat profesional akan menggunakan pendekatan holistik dalam menemukan kebutuhan kesehatan bagi klien yang dirawatnya, hal ini sesuai dengan pernyataan kebijakan yang disampaikan oleh American Nurses Association (1995), ada empat ciri praktik profesional yang harus dilakukan oleh perawat, yaitu: 1. Perawat menggunakan fokus orientasi pada masalah dengan memperhatikan rangkaian seluruh respon manusia terhadap kesehatan dan penyakitnya. 2. Perawat terintegrasi dalam tenaga kesehatan yang menggunakan pengetahuannya untuk membantu mencapai tujuan pasien dengan mengumpulkan data subjektif maupun objektif pasien dan memahaminya baik secara individual atau secara berkelompok. 3. Perawat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya untuk menentukan diagnosa dan melakukan treatment respon manusia. 4. Perawat melakukan asuhan keperawatan dengan melakukan hubungan terapeutik dengan pasien untuk memfasilitasi kesehatan dan penyembuhan. Ada tiga istilah penting yang berhubungan dengan profesi, yaitu profesionalisme, profesionalisasi, dan profesi. 1. Profesionalisme Merujuk pada karakter profesional, semangat atau metode. Merupakan suatu sifat resmi, cara hidup yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Profesionalisme keperawatan telah ada sejak zaman Florence Nightingale (1820-1910).

2. Profesionalisasi Profesionalisasi adalah suatu proses untuk menjadikan profesional dengan cara memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan/disepakati. 3. Profesi Jika dilihat di dalam kamus, sama dengan pekerjaan yang menghendaki pendidikan yang lebih luas atau memiliki ilmu pengetahuan yang spesial, keterampilan serta dipersiapkan dengan cara yang baik. Dunia profesi keperawatan terus bergerak. Hampir dua dekade profesi ini menyerukan perubahan paradigma. Perawat yang semula tugasnya hanyalah semata-mata menjalankan perintah dokter kini berupaya meningkatkan perannya sebagai mitra kerja dokter seperti yang sudah dilakukan di negaranegara maju. Sebagai sebuah profesi yang masih berusaha menunjukkan jati diri, profesi keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan ini bukan hanya dari eksternal tapi juga dari internal profesi ini sendiri.

1.2 Rumusan Masalah a) Apa yang dimaksud dengan keperawatan sebagai profesi? b) Bagaimana perkembangan profesionalisme keperawatan? c) Bagaimana peran, fungsi, dan tugas perawat? d) Bagaimana definisi dan analisis dari penyusun mengenai keperawatan sebagai profesi?

1.3 Tujuan Penulisan a) Menjelaskan tentang keperawatan sebagai profesi. b) Menjelaskan perkembangan profesionalisme keperawatan. c) Menjelaskan peran, fungsi, dan tugas perawat. d) Menjelaskan tentang definisi dan analisis penyusun mengenai keperawatan sebagai profesi.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Keperawatan Sebagai Profesi Hall (1968) memberikan gambaran tentang suatu profesi yaitu suatu pekerjaan yang harus melalui proses empat tahapan antara lain : 1. Memperoleh badan pengetahuan dari institusi pendidikan tinggi 2. Menjadi pekerjaan utama 3. Adanya organisasi profesi 4. Terdapat kode etik Ciri Ciri Profesi Dilihat dari definisi profesi, jelas bahwa profesi tidak sama dengan okupasi (occupation) meskipun keduanya sama-sama melakukan pekerjaan tertentu. Profesi mempunyai ciri ciri sebagai berikut : 1. Didukung oleh badan ilmu yang sesuai dengan bidangnya (antalogi), jelas wilayah kerja keilmuannya (Epistomologi), dan aplikasinya (Axiologi). 2. Profesi diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang terencana, terus-menerus dan bertahap. 3. Pekerjaan profesi diatur oleh kode etik profesi serta diakui secara legal melalui perundangundangan. 4. Peraturan dan ketentuan yang mengatur hidup dan kehidupan profesi (standar pendidikan dan pelatihan, standar pelayanan, dan kode etik) serta pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan tersebut dilakukan sendiri oleh warga profesi (Winsley, 1964).

Kriteria Profesi 1. Memberi pelayanan untuk kesejahteraan manusia. 2. Mempunyai pengetahuan dan keterampilan khusus dan dikembangkan secara terus-menerus. 3. Memiliki ketelitian, kemampuan intelektual, dan rasa tanggung jawab.

4. Lulus dari pendidikan tinggi. 5. Mandiri dalam penampilan, aktivitas dan fungsi. 6. Memiliki kode etik sebagai penuntun praktik. 7. Memiliki ikatan/organisasi untuk menjamin mutu pelayanan. Wilayah Kerja Profesi 1. Pembinaaan organisasi profesi. 2. Pembinaan pendidikan dan pelatihan profesi. 3. Pembinaan pelayanan profesi. 4. Pembinaan iptek. Keperawatan sebagai profesi merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam menentukan tindakannya didasarkan pada ilmu pengetahuan serta memiliki keterampilan yang jelas dalam keahliannya. Dengan adanya perkembangan keperawatan dari kegiatan yang sifatnya rutin yang menjadi pemenuhan kebutuhan berdasarkan ilmu, membawa suatu perubahan yang sangat besar dalam dunia keperawatan karena pelayanan yang semula hanya berdasarkan pada insting dan pengalaman menjadi pelayanan keperawatan profesional berdasarkan ilmu dan teknologi keperawatan yang selalu berubah sesuai dengan kemajuan zaman. Perawatan sebagai profesi mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Memiliki body of knowledge Perawat bekerja dalam kelompok dan dilandasi dengan teori yang spesifik dan sistematis yang dikembangan melalui penelitian. Penelitian keperawatan yang dilakukan pada tahun 1940, merupakan titik awal perkembangan keperawatan. Pada tahun 1950 dengan semakin berkembangnya penelitian yang dilakukan mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam dunia pendidikan keperawatan dan pada tahun 1960 penelitian lebih banyak dilakukan pada praktik keperawatan. Sejak tahun 1970, penelitian keperawatan lebih banyak dilakukan dengan memfokuskan diri pada praktik yang dihubungkan dengan isu-isu yang ada pada saat itu. Menurut Potter dan Perry (1997), perawat telah memperlihatkan diri sebagai profesi dan dapat terlihat adanya pengetahuan keperawatan telah dikembangkan melalui teori-teori keperawatan. Model teori memberikan kerangka kerja bagi kurikulum dan praktik klinis keperawatan. Teori keperawatan mendorong ke arah penelitian yang meningkatkan dasar ilmiah untuk praktik keperawatan. 2. Berhubungan dengan nilai-nilai sosial

Kategori ini mendorong profesi untuk mendapatkan penghargaan yang cukup baik dari masyarakat. Keperawatan telah diberi kepercayaan untuk menolong dan melayani orang lain/klien. Pada awalnya perawat diharapkan dapat menyisihkan sebagian besar waktunya untuk melayani, tetapi dengan semakin berkembangnya ilmu keperawatan tuntutan tersebut telah bergeser, perawat juga mengharapkan kompensasi dan mempunyai kehidupan yang lain disamping perannya sebagai perawat. Karakteristik keperawatan merupakan suatu bentuk yang relevan dengan nilai-nilai masyarakat, seperti pentingnya kesehatan, kesembuhan dan keperawatan. Masyarakat pada umumnya mengakui bahwa perawat mempunyai tugas untuk melawan klien dan juga melakukan upaya-upaya dalam promosi kesehatan dan pencegahan penyakit tetapi masih ada sebagian masyarakat yang belum mengetahui bahwa perawat adalah sebuah profesi. Untuk itu perlu adanya usaha dari perawat itu sendiri agar dapat meyakinkan masyarakat guna mendapatkan pengakuan sesuai dengan yang diinginkannya. 3. Masa pendidikan Kategori ini mempunyai empat bagian tambahan yaitu isi pendidikan, lamanya pendidikan, penggunaan simbol dan proses idealisme yang dituju serta tingkatan dari spesialisasi yang berhubungan dengan praktik. Menurut Nightingale pendidikan keperawatan harus melibatkan dua area penting yaitu teori dan praktik yang sampai saat ini masih dianut. Perkembangan pendidikan keperawatan dewasa ini sama dengan bidang ilmu yang lain, yaitu pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi menimbulkan perubahan yang sangat berarti bagi perawat terhadap cara pandang asuhan keperawatan secara bertahap keperawatan beralih dari yang semulai berorientasi pada tugas menjadi berorientasi pada tujuan yang berfokus pada asuhan keperawatan yang efektif serta menggunakan pendekatan holisitik dan proses keperawatan.

4. Motivasi Motivasi untuk bekerja merupakan kategori keempat dari Pavalko. Motivasi bukan hanya secara individu tetapi juga menyeluruh dalam kelompok. Motivasi diartikan sebagai suatu perhatian yang mengutamakan pelayanan kelompok keperawatan kepada klien. Ada beberapa pendapat bahwa saat ini anak-anak muda menginginkan menempuh pendidikan tinggi agar dapat mempunyai kehidupan yang lebih baik seperti mendapatkan gaji lebih, kekuasaan, status disamping pekerjaan yang dilakukannya. Biasanya karakteristik ini tidak diasosiasikan dengan profesi keperawatan, walaupun demikian banyak perawat yang melakukan pelayanannya dengan berorientasikan kepada klien/pasien mereka dengan baik. 5. Otonomi Kategori kelima Pavalko adalah kebebasan untuk mengontrol dan mengatur dirinya sendiri. Profesi mempunyai otonomi untuk regulasi dan membuat standar bagi anggotanya. Hak mengurus diri sendiri

merupakan salah satu tujuan dari asosiasi keperawatan, karena hal ini juga berarti keperawatan mempunyai status dan dapat mengontrol seluruh kegiatan praktik anggotanya. Otonomi juga dapat diartikan sebagai suatu kebebasan dalam bekerja dan pertanggungjawaban dari suatu tindakan yang dilakukannya. 6. Komitmen Kategori keenam adalah komitmen untuk bekerja. Manusia yang komitmen untuk bekerja menunjukkan adanya suatu keunggulan, untuk melaksanakan pekerjaannya dengan baik, mencegah terjadinya kemangkiran, menekuni pekerjaannya seumur hidup atau dalam periode waktu yang lama. Komitmen perawat juga dapat menurun, hal ini terjadi karena kebanyakan dari perawat adalah wanita, yang harus membagi perhatiannya dengan keluarga, sehingga mereka sering mengalami konflik yang berkepanjangan dan kadang-kadang harus keluar dari pekerjaannya. Orientasi karir juga merupakan salah satu ciri dari komitmen, karena dengan adanya pengembangan karir melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi membuat perawat dapat bekerja dengan lebih baik dan bertanggung jawab dalam melakukan asuhan keperawatan. 7. Kesadaran bermasyarakat Kesadaran bermasyarakat bagi perawat diartikan sebagai anggota kelompok yang ikut mengambil bagian dalam persamaan pedoman, nasib serta memiliki kebudayaan tersendiri. Perawat mempunyai simbol-simbol yang dikenal masyarakat sebagai ciri yang khas dari sebuah profesi seperti seragam putih, pin dan cap. Walaupun akhir-akhir ini banyak yang mengubah identitas tersebut, tetapi perawat telah memiliki perasaan yang kuat untuk tetap bersatu dalam kelompoknya. 8. Kode etik Eksistensi kode etik merupakan kategori terakhir dari Pavalko. Etika keperawatan merujuk pada standar etik yang membimbing perawat dalam praktik sehari-hari seperti jujur terhadap pasien, menghargai pasien atas hak-hak yang dirahasiakannya dan beradvokasi atas nama pasien. Etika keperawatan ditujukan untuk mengidentifikasi, mengorganisasikan, memeriksa dan membenarkan tindakan-tindakan kemanusiaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu, selain itu juga menegaskan tentang kewajiban-kewajiban yang secara suka rela diemban oleh perawat dan mencari informasi mengenai dampak dari keputusan-keputusan perawat yang mempengaruhi kehidupan dari pasien dan keluarganya. Ciri dari praktik profesional adalah adanya komitmen yang kuat terhadap kepedulian individu, khususnya kekuatan fisik, kesejahteraan dan kebebasan pribadi, sehingga dalam praktik selalu melibatkan hubungan yang bermakna. Oleh karena itu seorang profesional harus memiliki orientasi pelayanan, standar praktik dan kode etik untuk melindungi masyarakat serta memajukan profesi. Mengingat pentingnya pembinaan bagi tenaga keperawatan agar dapat bekerja dengan baik maka perlu adanya pemahaman tentang fungsi dari asosiasi keperawatan yang terdiri dari:

1. Penetapan standar praktik, pendidikan dan pelayanan keperawatan. 2. Menetapkan kode etik bagi perawat. 3. Menetapkan sistem kredensial dalam keperawatan. 4. Menetapkan untuk ikut berinisiatif dalam legislasi, program pemerintah, kebijakan kesehatan nasional dan internasional. 5. Mendukung adanya sistem pendidikan yang baik, evaluasi dan perhatian dalam keperawatan. 6. Adanya agensi sentral untuk mengoleksi, menganalisa dan desiminasi dari informasi yang relevan dengan keperawatan. 7. Promosi dan proteksi ekonomi dan kesejahteraan bagi perawat. 8. Membina kepemimpinan bagi perawat baik untuk tingkat nasional maupun internasional. 9. Membina sikap profesionalisme bagi perawat. 10. Menyelenggarakan program secara benar. 11. Memberikan pelayanan masalah-masalah politik pada perawat. 12. Menjaga terjadinya komunikasi bagi seluruh anggotanya. 13. Menyediakan advokasi bagi anggotanya. 14. Berbicara dan menjelaskan tentang profesi keperawatan kepada pihak lain. 15. Melindungi dan mempromosikan kemajuan kesejahteraan manusia yang terkait dengan perawat kesehatan.

2.2 Perkembangan Profesionalisme Keperawatan Melihat catatan sejarah tentang awal mula keberadaan perawat di Indonesia, yang diperkirakan baru bermula pada awal abad ke 19, dimana disebutkan adanya perawat saat itu adalah dikarenakan adanya upaya tenaga medis untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga diperlukan tenaga yang dapat membantu atau tenaga pembantu. Tenaga tersebut dididik menjadi seorang perawat melalui pendidikan magang yang berorientasi pada penyakit dan cara pengobatannya. Sampai dengan perkembangan keperawatan di Indonesia pada tahun 1983 PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) melakukan Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta, melalui lokakarya tersebut perawat bertekad dan bersepakat menyatakan diri bahwa keperawatan adalah suatu bidang keprofesian. Perkembangan profesionalisme keperawatan di Indonesia berjalan seiring dengan perkembangan pendidikan keperawatan yang ada di Indonesia. Pengakuan perawat profesionalan pemula adalah bagi

mereka yang berlatarbelakang pendidikan Diploma III keperawatan. Program ini menghasilkan perawat generalis sebagai perawat profesional pemula, dikembangkan dengan landasan keilmuan yang cukup dan landasan profesional yang kokoh. Perkembangan pendidikan keperawatan dalam rangka menuju tingkat keprofesionalitasan tidak cukup sampai di tingkat diploma saja, diilhami keinginan dari profesi keperawatan untuk terus mengembangkan pendidikan maka berdirilah PSIK FK-UI (1985) dan kemudian disusul dengan pendirian program paska sarjana FIK UI (1999). Peningkatan kualitas organisasi profesi keperawatan dapat dilakukan melalui berbagai cara dan pendekatan antara lain: 1. Mengembangkan sistem seleksi kepengurusan melalui penetapan kriteria dari berbagai aspek kemampuan, pendidikan, wawasan, pandangan tentang visi dan misi organisasi, dedikasi serta ketersediaan waktu yang dimiliki untuk organisasi. 2. Memiliki serangkaian program yang konkrit dan diterjemahkan melalui kegiatan organisasi dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Prioritas utama adalah program pendidikan berkelanjutan bagi para anggotanya. 3. Mengaktifkan fungsi collective bargaining, agar setiap anggota memperoleh penghargaan yang sesuai dengan pendidikan dan kompensasi masing-masing. 4. Mengembangkan program latihan kepemimpinan, sehingga tenaga keperawatan dapat berbicara banyak dan memiliki potensi untuk menduduki berbagai posisi di pemerintahan atau sektor swasta. 5. Meningkatkan kegiatan bersama dengan organisasi profesi keperawatan di luar negeri, bukan hanya untuk pengurus pusat saja tetapi juga mengikutsertakan pengurus daerah yang berpotensi untuk dikembangkan.

2.3 Peran, Fungsi dan Tugas Perawat 1. Peran Perawat Peran merupakan tingkah laku yang diharapakan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan dalam sistem, dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi yang bersifat konstan. Peran perawat menurut konsorium ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, advokat pasien, pendidik, koordinator, kolaborator, konsultan dan peneliti. 2. Fungsi Perawat Dalam menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan berbagai fungsi diantaranya: fungsi independen, fungsi dependen, dan fungsi interdependen.

a. Fungsi Independen Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam menjalankan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia.

b. Fungsi Dependen Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari perawat lain. c. Fungsi Interdependen Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara tim satu dengan lain. 3. Tugas Perawat Tugas perawat dalam menjalankan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilaksanakan sesuai dengan tahapan dalam proses keperawatan. Tugas perawat ini disepakati dalam lokakarya tahun 1983 yang berdasarkan fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji kebutuhan pasien, keluarga, kelompok dan masyarakat serta sumber yang tersedia dan potensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Mengumpul data, menganilisis dan menginterpretasikan data. 2. Merencanakan tindakan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat berdasarkan diagnosis keperawatan Mengembangkan rencana tindakan keperawatan. 3. Melaksanakan rencana keperawatan yang meliputi upaya peningkatan kesehatan, pencegah penyakit, penyembuhan, pemulihan dan pemeliharaan kesehatan termasuk pelayanan klien dan keadaan terminal. Menggunakan dan menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu perilaku, sosial budaya, ilmu biomedik dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia. 4. Mengevaluasi hasil asuhan keperawatan. Menentukan kriteria yang dapat diukur dalam menilai rencana keperawatan. Menilai tingkat pencapaian tujuan. Mengidentifikasi perubahan-perubahan yang diperlukan. 5. Mendokumentasi proses keperawatan. Mengevaluasi data permasalahan keperawatan. Mencatat data dalam proses keperawatan. Menggunakan catatan klien untuk memonitor asuhan keperawatan.

6. Mengidentifikasi hal-hal yang perlu diteliti atau dipelajari serta merencanakan studi kasus guna meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan dalam praktik keperawatan. Mengidentifikasi masalah-masalah penelitian dalam bidang keperawatan. Membuat usulan rencana penelitian keperawatan. Menerapkan hasil penelitian dalam praktik keperawatan. 7. Berperan serta dalam melaksanakan penyuluhan kesehatan kepada klien keluarga kelompok serta masyarakat. Mengidentifikasi kebutuhan pendidikan kesehatan. Membuat rencana penyuluhan kesehatan. Melaksanakan penyuluhan kesehatan. Mengevaluasi hasil penyuluhan kesehatan. 8. Bekerja sama dengan disiplin ilmu terkait dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada klien, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Berperan serta dalam pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat. Menciptakan komunikasi yang efektif baik dengan tim keperawatan maupun tim kesehatan lain. 9. Mengelola perawatan klien dan berperan sebagai ketua tim dalam melaksanakan kegiatan keperawatan. Menerapkan keterampilan manajemen dalam keperawatan klien secara menyeluruh.

2.4 Definisi dan Analisis Penyusun Mengenai Keperawatan Sebagai Profesi Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan yang dilakukan oleh perawat dengan memberikan asuhan keperawatan secara tepat kepada individu, kelompok dan masyarakat, yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta pemulihan kesehatan demi tercapainya kesejahteraan umat manusia, dengan berpegang teguh pada kode etik yang melandasinya. Sedangkan perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan studinya dan telah siap untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Perawat merupakan salah satu pekerjaan yang mulia dengan cara memberikan perawatan yang benar, sesuai dengan ilmu yang telah didapatkannya. Ilmu tersebut diterapkannya dengan suatu metode yang dikenal dengan Proses Keperawatan. Metode ini merupakan metode yang sistematis, meliputi tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi tindakan keperawatan. Dari tahapan metode ini, perawat sering menemukan hal-hal baru dari setiap kasus yang ditanganinya. Oleh karena itu, mereka perlu meningkatkan wawasannya agar mampu menangani klien-kliennya dengan benar. Hal inilah yang membawa perubahan besar bagi dunia keperawatan karena pelayanan yang pada awalnya hanya berdasarkan pengalaman, kemudian berkembang menjadi pelayanan yang didasarkan pada ilmu keperawatan yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Profesi merupakan suatu keahlian yang membutuhkan ilmu pendidikan dan pelatihan sebagai dasar pengembangan teori untuk menangani permasalahan yang sering muncul dalam bidangnya.

Dengan melihat definisi dan ciri-ciri dari profesi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keperawatan dianggap sebagai suatu profesi. Hal ini dikarenakan keperawatan memiliki ciri-ciri yang sama dengan profesi. Keperawatan sebagai suatu profesi adalah salah satu pekerjaan bagian dari tim kesehatan, yang ikut bertanggung jawab dalam membantu klien sebagai individu, keluarga, maupun sebagai masyarakat, baik dalam kondisi sehat ataupun sakit, yang bertujuan untuk tercapainya pemenuhan kebutuhan dasar klien, dalam mempertahankan kondisi kesehatan yang optimal, dalam menentukan tindakan keperawatan harus didasarkan pada ilmu pengetahuan, komunikasi interpersonal serta memiliki keterampilan yang jelas dalam keahliannya.

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Dengan melihat definisi, ciri profesi yang telah disebutkan diatas dapat kita analisis bahwa keperawatan di Indonesia dapat dikatakan sebagai suatu profesi. Karena memiliki ciri-ciri dari profesi yaitu mempunyai body of knowledge, berhubungan dengan nilai-nilai sosial, masa pendidikan, motivasi, otonomi, komitmen, kesadaran bermasyarakat, dan kode etik. Keperawatan sebagai suatu profesi adalah salah satu pekerjaan bagian dari tim kesehatan, yang ikut bertanggung jawab dalam membantu klien sebagai individu, keluarga, maupun sebagai masyarakat, baik dalam kondisi sehat ataupun sakit, yang bertujuan untuk tercapainya pemenuhan kebutuhan dasar klien, dalam mempertahankan kondisi kesehatan yang optimal, dalam menentukan tindakan keperawatan harus didasarkan pada ilmu pengetahuan, komunikasi interpersonal serta memiliki keterampilan yang jelas dalam keahliannya.

3.2 Saran Penyusun berharap agar semua perawat dapat meningkatkan kualitas kerjanya dan mampu menjadi seseorang yang profesional dalam bidangnya. DAFTAR PUSTAKA Sumijatun. 2010. Konsep Dasar Menuju Keperawatan Profesional. Jakarta: Trans Info Media Pro-Health. 2009. Keperawatan Sebagai Suatu Profesi.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dunia profesi keperawatan terus bergerak. Hampir dua dekade profesi ini menyerukan perubahan paradigma. Perawat yang semula tugasnya hanyalah semata-mata menjalankan perintah dokter kini berupaya meningkatkan perannya sebagai mitra kerja dokter seperti yang sudah dilakukan di negaranegara maju.

Sebagai sebuah profesi yang masih berusaha menunjukkan jati diri, profesi keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan ini bukan hanya dari eksternal tapi juga dari internal profesi ini sendiri.

B.

Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. 2. Agar Mahasiswa dapat mengetahui kriteria keperawatab dikatakan sebagai profesi Untuk menambah pengetahuan bagi perawat dalam menjalankan profesinya

BAB II PEMBAHASAN

A. Keperawatan Sebagai Profesi Berdasarkan definisi oleh para ahli diatas menganai profesi, mari kita lihat mengapa keperawatan itu sebagai profesi. 1. Mempunyai Body Of Knowledge Tubuh pengetahuan yang dimiliki keperawatan adalah ilmu keperawatan ( nursing science ) yang mencakup ilmu ilmu dasar ( alam, sosial, perilaku ),ilmu biomedik,ilmu kesehatan masyarakat,ilmu keperawatan dasar,ilmu keperawatan klinis dan ilmu keperawatan komunitas.

2. Pendidikan Berbasis Keahlian Pada Jenjang Pendidikan Tinggi Di Indonesia berbagai jenjang pendidikan telah dikembangkan dengan mempunyai standar kompetensi yang berbeda-beda mulai D III Keperawatan sampai dengan S3 akan dikembangkan.

3. Memberikan Pelayanan Kepada Masyarakat Melalui Praktik Dalam Bidang Profesi Keperawatan dikembangkan sebagai bagian integral dari Sistem Kesehatan Nasional. Oleh karena itu sistem pemberian askep dikembangkan sebagai bagian integral dari sistem pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdapat di setiap tatanan pelayanan kesehatan.

Pelayanan/ askep yang dikembangkan bersifat humanistik/menyeluruh didasarkan pada kebutuhan klien,berpedoman pada standar asuhan keperawatan dan etika keperawatan.

4. Memiliki Perhimpunan/Organisasi Profesi Keperawatan harus memiliki organisasi profesi,organisasi profesi ini sangat menentukan keberhasilan dalam upaya pengembangan citra keperawatan sebagai profesi serta mampu berperan aktif dalam upaya membangun keperawatan profesional dan berada di garda depan dalam inovasi keperawatan di Indonesia. Saat ini di indonesia memilki organisasi profesi keperawatan dengan nama PPNI, dengan aggaran dasar dan anggaran rumah tangga, sedangkan organisasi keperawatan di dunia dengan nama internasional Council Of Nurse (ICN).

5. Pemberlakuan Kode Etik Keperawatan Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan ,perawat profesional selalu menunjukkan sikap dan tingkah laku profesional keperawatan sesuai kode etik keperawatan.

6. Otonomi Keperawatan memiliki kemandirian,wewenang, dan tanggung jawab untuk mengatur kehidupan profesi,mencakup otonomi dalam memberikan askep dan menetapkan standar asuhan keperawatan melalui proses keperawatan,penyelenggaraan pendidikan,riset keperawatan dan praktik keperawatan dalam bentuk legislasi keperawatan ( KepMenKes No.1239 Tahun 2001 ).

7. Motivasi Bersifat Altruistik Masyarakat profesional keperawatan Indonesia bertanggung jawab membina dan mendudukkan peran dan fungsi keperawatan sebagai pelayanan profesional dalam pembangunan kesehatan serta tetap berpegang pada sifat dan hakikat keperawatan sebagai profesi serta selalu berorientasi kepada kepentingan masyarakat.

B.

Otonomi Dalam Keperawatan

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan

bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya. Contoh: Melakukan sesuatu bagi klien tanpa mereka diberitahu sebelumnya

Melakukan sesuatu tanpa memberi informasi relevan yang penting diketahui klien dalam membuat suatu pilihan. Memberitahukan klien bahwa keadaannya baik, padahal terdapat gangguan atau penyimpangan. Tidak memberikan informasi yang lengkap walaupun klien menghendaki informasi tersebut.

Memaksa klien memberi informasi tentang hal hal yang mereka sudah tidak bersedia menjelaskannya.

Berbuat Baik (Beneficience) Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi. Contoh : Perawat menasehati klien tentang program pelatihan utnuk memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi tidak seharusnya melakukannya apabila klien dalam keadaan resiko serangan jantung.

Keadilan (Justice) Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. Contoh: Seorang perawat sedang bertugas sendirian di suatu unit RS, kemudian ada seorang klien baru masuk bersamaan dengan klien yang memerlukan bantuan perawat tersebut. Agar perawat tidak menghindar dari satu klien ke klien yang lainnya maka perawat seharusnya dapat mempertimbangkan faktor2 dalam situasi tersebut, kemudian bertindak pd prinsip keadilan.

Tidak Merugikan (Nonmaleficience)

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Contoh: Seorang klien yang mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi darah bertentangan dengan keyakinannya, mengalami perdarahan hebat akibat penyakit hati yang kronis. Sebelum kondisi klien bertambah berat, klien sudah memberikan pernyataan tertulis kepada dokter bahwa ia tidak mau dilakukan tranfusi darah. Pada suatu saat, ketika kondisi klien bertambah buruk dan terjadi perdarahan hebat, dokter seharusnya menginstruksikan untuk memberikan tranfusi darah. Dalam hal ini, akhirnya tranfusi darah tidak diberikan karena prinsip beneficience, walaupun sebenarnya pada saat yang bersamaan terjadi penyalahgunaan prinsip maleficience.

Kejujuran (Veracity) Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya hubungan paternalistik bahwa doctors knows best sebab individu memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya. Contoh: Ny. Ita seorang wanita lansia usia 60 tahun, dirawat diRS dengan berbagai macam fraktur karena kecelakaan mobil. Suaminya yang juga ada dalam kecelakaan tersebut masuk ke RS yang sama dan meninggal. Ny. Ita bertanya berkali-kali kepada perawat tentang keadaan suaminya. Dokter ahli bedah berpesan kepada perawatnya untuk tidak mengatakan kematian suami Ny. Ita kepada Ny. Ita, perawat tidak diberi alasan apapun untuk petunjuk tersebut dan menyatakan keprihatinannya kepada perawat kepala ruangan, yang mengatakan bahwa intruksi dokter harus diikuti.

Menepati Janji (Fidelity) Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan. Contoh :

Menjalin hubungan saling percaya antara perawt dengan pasien Memberi Penghargaan pada pasien Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah bagi pasien. Memberi kebebasan melakukan ibadah Membuat pasien sejahtera

Karahasiaan (Confidentiality) Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari.

Akuntabilitas (Accountability) Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

C. Otoritas Dalam Keperawatan Otoritas (autority) yaitu memiliki kewenangan sesuai dengan keahliannya yang akan memengaruhi proses asuhan melalui peran professional. Contoh: 1. Seorang perawat berhadapan dengan suatu pilihan antara pulang ke rumah karena sudah berjanji dengan anaknya untuk pergi ke suatu tempat atau tetap berada di rumah sakit untuk menolong klien memenuhi kebutuhannya dalam keadaan gawat. 2. Seorang ibu meminta perawat untuk melepas semua selang yang dipasang pada anaknya yang telah koma delapan hari. Keadaan seperti ini, perawat menghadapi masalah posisinya dalam menentukan keputusan secara moral. 3. Seorang klien berusia lanjut yang menolak untuk mengenakan sabuk pengaman waktu berjalan, ia ingin berjalan dengan bebas. Pada situasi ini perawat menghadapi masalah upaya menjaga keselamatan klien yang bertentangan dengan kebebasan klien

4. Seorang perawat yang mendapati teman kerjanya menggunakan narkotika. Dalam posisi ini perawat tersebut beradadalam pilihan apakah akan mengatakan hal inisecara terbuka atau diam karena diancamakan dibuka rahasia yg dimilikinya bila melaporkan pada orang lain.

D. Kode Etik Keperawatan Kode etik adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai pedoman perilaku dan menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan. Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik perawat nasional Indonesia, dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadap kode etik sehingga kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan. Kode etik keperawatan: a. Perawat dan Klien 1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama yang dianut serta kedudukan sosial. 2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama klien. 3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan. 4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang dikehendaki sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

b. Perawat dan Praktek 1) Perawat memlihara dan meningkatkan kompetensi dibidang keperawatan melalui belajar terusmenerus. 2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional yang menerapkan pengetahuan serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. 3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain.

4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku profesional. c. Perawat dan Masyarakat Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.

d. Perawat dan Teman Sejawat 1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. 2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal.

e. Perawat dan Profesi 1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan. 2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan 3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dengan mengetahui definisi, ciri profesi kita dapat menganalisis bahwa keperawatan di indonesia dapat dikatakan sebagai suatu profesi. Karena memiliki ciri-ciri dari profesi yaitu mempunyai body of knowledge, pendidikan berbasis keahlian pada jenjang pendidikan tinggi, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik dalam bidang profesi, memiliki perhimpunan/organisasi profesi, pemberlakuan kode etik keperawatan, otonomi, dan motivasi bersifat altruistik.

B.

Saran

Setelah mengetahui tentang keperawatan sebagai profesi perawat diharapka untuk lebih meningkat kulitas kerja sebagai perawat dan mampu menjadi perawat yang profesional dibidangnya.