Anda di halaman 1dari 2

Takengon, malam sabtu, tepatnya pukul 02.00 WIB saya pernah bermimpi.

Secara rasional sulit dipercaya bagaimana seseorang tahu bahwa ia bermimpi pada pukul berapa, sebab ia sedang tertidur lelap, namun yang saya ungkapkan ini insya Allah demikian adanya, sebab seketika saya terbangun dan mendapati diri saya belum menunaikan kewajiban agama, yaitu sholat Isya. Saya terbangun bergegas berwudhu dan menunaikan kewajiban saya. Usai shalat saya mencoba menulis Apresiasi mimpi tadi pada saat saya masih tertidur, sebuah pengalaman pribadi yang belum pernah saya lakukan sepanjang hidup. Mimpi ini benar-benar membuat saya sejenak merenung apa maknya? Yang terlihat secara jelas bahwa daerah disamping rumah kompleks kami tinggal, sedang beroperasi sebuah perusahaan besar dengan multi donor yang mengerjakan proyek maha hebat, semua pekerja yang saya amati tampak bekerja dengan sangat professional. Dari obrolan masyarakat di sekeliling perusahaan, tampaknya memang perusahaan yang sedang mengeksploitasi lahan orang-orang pribumi itu sangat menjanjikan. Betapa tidak, ternyata sumbangan yang diberikan kepada pejabat tinggi Negara diluar pungutan resmi dan dana yang digelontorkan perusahaan itu dalam jumlah yang tidak sedikit, entah itu sebagai dana keamanan atau apapun namanya yang jelas uang CUMA-CUMA itu diberikan untuk keberlangsungan perjalanan projek yang sedang digarap itu. Obrolan yang sempat saya dengar dimimpi saya itu terasa menggelikan, menusuk perasaan, hati saya merasa jengkel, ingin marah dan menghantam orang itu. Diantara kalimat yang dia katakan ORANG-ORANG PRIBUMI INI KITA KASIH UANG UNTUK MAKAN BAKSO AJA CUKUP, HARGA DIRI MEREKA SETARA DENGAN HARGA BAKSONYA. Saya pikir, siapapun yang mendengar kata-kata semacam ini tentu marah, kecuali jika ia sudah tidak punya hati dan perasaan yang tak normal. Hanya saja cara melampiaskan marah tentu setiap orang berbeda-beda. Ada yang temperamental, seketika memberi BALASAN yang frontal, ada juga yang sabar dan mencari BALASAN yang lebih menyakitkan dari sekedar memukul atau yang lain. Untungnya yang melontarkan pernyataan tadi hanya dalam mimpi. Entahlah, kalau itu kenyataan.

Parahnya lagi, ternyata tidak sebatas itu. Ungkapan tadi ternyata bukan sekedar obrolan ringan di warung kopi, tetapi memang persis seperti yang di ungkapkan diatas. Sorenya, pada saat saya sedang sibuk memperbaiki kran air datang seorang pemuda lengkap dengan pakaian kerja, pakai helm kuning, bersepatu langga, dan tas kecil yang berisi sejumlah uang yang dibagikan kepada masyarakat kompleks perusahaan yang sedang menggarap tanah mereka sendiri di depan mata mereka. BANG, INI UANG KOMPENSASI YANG DIBERIKAN PERUSAHAAN KEPADA ABANG-ABANG SEMUA, BARANG KALI PEKERJAAN YANG SEDANG DILAKUKAN MENGGANGGU KENYAMANAN WARGA DI SEKITAR SINI. JUMLAHNYA PER ORANG Rp. 250.000,- DANANYA KAMI CICIL. Setelah uang itu ia berikan, orang tadi pun pulang. Tapi jelas sekali, tampak dimataku uang yang diberikan itu tidak seperti yang dikatakan, hanya Rp. 50.000,- tidak lebih. Saya menjadi berfikir, betapa luar biasa orang-orang ini bermain. Demikiankah nilai masyarakat disini dalam benak mereka? Dasar Firaun, berani berbuat semena-mena, hatiku semakin menggerutu. Tapi yang paling tidak bisa kuterima, masyarakat ini tidak ada respon apa-apa, seakan tidak terjadi apapun seperti sediakala. Hatiku balik bertanya, apakah mereka ini tak sadar atau memang benar harga mereka setara dengan harga bakso tadi. Dasar memang mimpi, sudah tidak riil, malah mengganggu kenyamanan istirahatku. Namun, ada hikmah luar biasa yang ingin saya petik dari mimpi ini. Meminjam istilah dari Mahatma Ghandi, seorang aktivis dan Tokoh pergerakan berkebangsaan India mengatakan We must become the change we want to see (Kita harus menjadi perubahan yang ingin kita lihat). Jika kita tak mau dibeli seharga bakso, buatlah diri kita seharga emas, intan dan mutaiara. Tetap dicari walau tertimbun ditanah berbatu, tetap diselami meski berada di kedalaman lautan.