Anda di halaman 1dari 15

Pilar utama pengelolaan DM

1. Edukasi 2. Perencanaan 3. Latihan 4. Obat (bila diperlukan) 1. Edukasi Prinsip-prinsip Edukasi Sampaikanlah informasi secara bertahap mulai dari yang sederhana baru kemudian yang lebih kompleks Hindari informasi yang terlalu banyak dalam waktu singkat Sesuaikan materi edukasi dengan masalah pasien Perhatikan kondisi jasmani, psikologis, dan tingkat pendidikan pasien Libatkan keluarga/ pendamping dalam proses edukasi Berilah nasihat yang membesrkan hati dan hindari kecemasan Gunakan alat bant dengar pandang (audio-visual aid) Usahakan adanya kompromi tanpa ada paksaan Diskusikan hasil laboratorium Berikan Motivasi/ penghargaan atas hasil yang dicapai.

Metode Edukasi 1. Perorangan 2. Kelompok

Edukasi dapat dilakukan oleh : 1. Dokter 2. Edukator diabetes (perawat, dietsen, dll)

Penyuluhan untuk pencegahan primer Saran Kelompok masyarkat risiko tinggi DM Perencanaan kebijakan

Penyuluhan untuk pencegahan Sekunder


Mencegah Komplikasi DM

Penyuluhan untuk pencegahan Terster


Komplok psien yang sudah mengindap komplikasi DM

Tujuan

Mencegah atu mengurangi kejadian DM

Materi

Faktor-Faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya DM dan usaha untuk mengurangi faktor risiko tersebut

Tingkat Pertama Diabetes : Apakah DM itu Penata laksanaan DM secara uum Perencanaan makanan DM dan latihan jasmani Obat-obatan untuk mengendalikan kada glukosa darah ((tablet/insuli) Pemantuan Glukosa Tingkat Lanjutan Komplikasi akut DM DM Ketika Menderita penyakit lain Makanan di luar rumah DM ketika berpergian Pemeliharaan kaki Pengetahuan dan teknologi mutakhir DM DM di bulan Ramadhan

pengobatan kompikasi DM Upaya rehabilita yang dapat dilakukan Kesabaran dan ketaqwaan untuk dapat menerima dan memanfaatkan keadaan dengan komplikasi DM

13. Pokok Pembahasan Edukasi Diabetes.


1. Pengetahuan umum tentang diabetes seperti: Gejala, diagnosis, Klasifikasi dan macam pengobatan 2. valuasi nutrisi dan pengembangan perencanaan makanan (biasanya dilakukan oleh dietisien); interaksi obat dan makanam, hubungan makanan dan kegiatan jasmani. 3. Hubungan latihan jasmani / olah raga dan kemungkinan terjadinya hipoglikemia 4. Pemantauan glukosa darah dan ketor urin, pemilihan metode-metode pemeriksaan perlatannya, pencacatan data dan pemanfaatannya sebagai sumber informasi perubahan/penyelesaian perencanaan 5. Kerja isulin (atau obat oral), Macam-macam cara pengobatan, pemilihan insulin yang sesuai dengan indikasi dan teknik penyuntikan isulin yang baik 6. Penyesuaian dosis insulin, sasaran kadar glukosa darah dan HbA1c yang ingin dicapai, keuntungan dan kerugian pemantuan glukosa darah 7. Sebab, gejala, pengobatan dan pencegahan terjadinya : Hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetik 8. Sikap yang perlu diambl bila sedang sakit dan prosuder penanganan gawat daarurat. 9. Pra-Konsepsi, diabetes Gestasional, kadar glukosa darah selam kehamilan dan faktor risiko yang mempengaruhinya 10. Komplikasi menahun : deteksi, cara pengobatan, pencegahan dan rehabilitasi 11. Pemeliharaan dan pemeriksaan gigi, kuku dan kulit secara teratur 12. Fasilitas kesehatn yang tersedia, asuransi kesehatan, itansi, organisasi dan lembaga yang berhubungan dengan diabetes; mengenai fungsi, keuntungan dan tanggung jawab.

13. Strategi perubahan perilaku, sasaran pengobatan, mengurangi faktor risiko dan membantu mengatasi/menyelesaikan masalah.

2. Perencanaan Makanan
Makanan dianjurkan seimbang dengan komposisi energi daari karbohidrat protein dan lemak sebagai berikut: * Karbohidrat 60 -70 % Prinsip Anjurkan makan seimbang seperti anjuran makan sehat pada umumnya Tidak ada makan yang dilaran g han dibatasi sesuai kebutuhan (tidak berlebih) Menu sam dengan menu keluarga, gula dalam bumbu tidak dilarang Teratur dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan (3J) * Protein 10-15% * lemak 20 -25%

Klasifikasi IMT IMT (Indeks massa tubuh) = BB kurang BB normal BB Lebih Dengan Resiko Obes I Obes II
BB ( kg tb( m) 2

: <18,5 : 18,5 22,9 : 23,0 : 23,0 24,9 : 25,0 29,9 : 30

Status Gizi : BB kurang BB Normal BB Lebih Gemuk : 90% : 90 110% : 110 120 % : >120% BB idaman BB idaman BB idaman BB idaman

Berat badan idaman


Untuk kepentingan klinik dalam menghitung jumlah kalori, penentuan status gizi memanfaatkan rumus Broca, yaitu : Berat badan (BB) idaman = (TB-100) 10% NB : Untuk wanita < 150 cm dan pria < 160 cm, tidak dikurangi 10% lagi

Penentuan kebutuhan kalori


Kalori basal Laki laki : BB Idaman (kg) Wanita : BB Idaman (kg) X 30 kalori/kg =.. Kalori X 25 kalori/kg = .. Kalori = + .. Kalori = -/ + Kalori = = = = + .. + 300 + 500 .

Koreksi / Penyesuaian Umur > 40 tahun : - 5% X kalori basal Aktifitas ringa : + 10% X kalori basal Sedang : + 20% Berat : 30% BB gemuk : - 20% X kalori basal Lebih : - 10% Kurang : + 20% Stres metabolic : + (10-30%) X kalori basal Hamil trimester I dan II Hamil trimester III / Laktasi Total kebutuhan

Kalori kalori kalori Kalori

Prinsip pembagian porsi makanan sehari-hari


Disesuaikan dengan kebiasaan makan pasien dan di usahakan porsi terbesar sepanjang hari Disarankan porsi terbagi (3 besar dan 3 kecil) : 1. makan pagi - makan selingan pagi 2. Makan siang - Makan selingan siang 3. Makan malam - makan selingan malam (terutama bagi yang menggunakan insulin kerja panjang)

3. LATIHAN JASMANI Manfaat Menurunkan kadar glokosa darah (mengurangi resistensi insulin, meningkatkan sensivitas insulin) Menurunkan berat badan Mncegah kegemukan Mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi aterogenik, gangguan lipid darah, peningkatan tekanan darah, hiperkoagulasi darah

Prinsip : Continuous, Rhytmic, Interval, Progressive, Endurance (CRIPE) Continuous Rhthmical


Latihan harus berkesinambungan dan di lakukan terus menerus tanpa berhneti. Contoh : bila dipilih jogging 30 menit pasien melakukan jogging tanpa istirahat. Latihan olahraga harus dipilih yang berirama , yaitu otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur Contoh : jalan kaki, jogging, berlari, berenang, bersepeda, mendayung. Main golf, tennis atau badminton tidak memenuhi syarat karena banyak berhenti. Latihan di lakukan selang-selang antara gerak cepat dan lambat. Contoh : jalan cepat diselingi jalan lambat, jogging diselingi jalan, dsb. Latihan di lakukan secara bertahap sesuai kemampuandari intensitas ringan sampai sedang hingga mencapai 30 60 menit. Sasaran Heart Rate = 75 85% dari Maximum Heart Rate Maximum Heart Rate = 220 umur Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi, seperti jalan (jalan santai / cepat, sesuai umur ), jogging, berenang dan besepeda. Latihan dengan prinsip CRIPE ini minimal dilakukan 3 hari dalam seminggu, sedang 2 hari yang lain dapat digunakan untuk melakukan olahraga kesenangannya, missal : golf, tennis, dan lain-lain.

Interval

Progressive

Endurance

YANG PERLU DIPERHATIKAN SEBELUM LATIHAN JASMANI LAKUKAN Tentukan berat penyakit dan komplikasinya

(penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan penglihatan, gangguan fungsi ginjal da hati, kelainan kaki) Susun program latihan jasmani sesuai berat penyakit dan tingkat kebugaran Kenakan sepatu yang sesuai, periksa kedua kaki setiap sebelum dan sesudah latihan Beri asupan makanan dan cairan yang cukup serta pemakaian obat-obatan yang tepat / sesuai Pada latihan jasmani yang lama (>1 jam) perlu asupan karbohidrat 10 15 gram (1/2 sendok makam gila pasir ) setiap 30 menit Lakukan Exercises Stress Test bagi mereka yang berusia > 40 tahun Setiap latihan di mulai dengan peregangan / pemanasan. Dan diakhiri dengan colling down peregangan masing-masing selama 5 10 menit Selalu ukur denyut nadi sebelum dan sesudah pemansaan. Ulang lagi setelah 5 menit latihan inti. Setelah tecapai sasaran heart rate, intensitas dipertahankan

HINDARI Hindari berlatih pada suhu panas / dingin Bila kadar glokosa darah lebih dari 250 mg/dL, jangan melakukan latihan jasmani berat (misalnya bulu tangkis, sepak bola, dan olahraga permainan yang lan) Jangan teruskan bila ada gejala hipoglekemia

JENIS-JENIS OBAT HIPOGLIKEMIA ORAL


Generik klorpropamid Nama dagang Diabenese Daonil Euglucon Minidiab Glucontrol XL Mg/tab 100 250 2,5 5 5 10 80 Dosis tarian 100 500 2,5 15 5 20 80 240 30 120 1,5 6 1,5 6 360 4-8 15-45 150 300 250 3000 Lama kerja 24 36 12 24 10 16 10 20 Frek/ hari 1 1 2 Pemberian Efek sampig

Glibenklamid Insulin Secretagogue

Glipiad

1 3 sebelum makan Hipoglekimia

Glikazid

Diamicron

Glikuidon

Gluerenorm

30 1 2 3 4 0,5 1 2 120 4 15,30,45 50 150 500 850

Glimepirid

Amaryl

24

Repaglinid

NovoNorm

Nateglinid Rosiqlitazon Glitazon Pioglitazon Penghambat Glukosidase Acarbose

Starlix Avandia

24 24 6 8

3 1 Tidak bergantung jadwal makan Bersama makan Bersama/ sesudah makan

Actos Glucobay Glucophage Diabex

1 3

Biguanid

Metformin

2 3

Diare kembung Flatulen Neusea Muntah Asidosis laktat

OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL YANG TERSEDIA DI INDONESIA Klorpropamid Glibenklamid Diabenese Condiabet Daonil Euglucon Glidanil Glimel Prodiabet Prodiamel Renabetic Aldiab Glucontrol XL Minidiab Diamicron Glibet Glicab Glidabet Glikamel Glucodex Glumeco Gored Linodiab Nufamicron Pedab Vergulon Xepabel Zibet Zumdiac Glurenorm Amaryl Novonorm Starlik Tablet 100 mg, 250 mg Tablet 2,5 mg, 5 mg Tablet 2,5 mg, 5 mg Tablet 5 mg Film coated 5 mg Tablet 5 mg Tablet 5 mg Tablet 5 mg Tablet 5 mg Tablet 5 mg Tablet 5 mg, 10 mg Tablet 5 mg, 10 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 80 mg Tablet 30 mg Tablet 1 mg, 2 mg, 3 mg, 4 mg Tablet 0,5 mg, 1 mg, 2 mg Tablet 120 mg

INSULIN SECRETAGOGUES

Glipizid

Gliklazid

Glikuidon Glimepiride Repaglinid Nateglinid

OBAT HIPOGLIKEMIK YANG TERSEDIA DI INDONESIA

Metformin

Benofomin Diabex Eraphage Formell Glucophage Glucotika Gludepatic Glumin Tudiab Zumamet

Tablet 500 mg, 850 mg Tablet 500 mg, 850 mg Caplet 500 mg Tablet 500 mg Tablet 500 mg, 850 mg Tablet 500 mg Tablet 500 mg Tablet 500 mg Filmcoated tab 500 mg Tablet 500 mg

Penghambat Glukosidase Acarbose Glitazone Rosiglazone Pioglitazone Catatan : Sulfonilurea Generasi I Sulfonilurea Generasi II : Klorpropamid : Gibenklamid Glipizid Gliklazid Glikudion Sulfonilurea Generasi III : Glimepiride Avandia Actos Tablet 4 mg Tablet 15 mg, 30 mg Glucobay Tablet 50 mg, 100 mg

Cara pemberian OHO

BIGUANID

Sulfonilurea generasi I & II : 15 30 menit sebelum makan Glimepiride : sebelum / sesaat sebelum makan Repaglinid, Neteglinid :sesaat sebelum makan Metformin : sebelum / sesudah makan karbohidrat (sesuai toleransi) Penghambat glukosidase (Acarbose) : bersama suapan pertama Glitazone : tidak bergantung pada jadual makan OHO di mulai dengan dosis kecil dan ditingkatka secara bertahap sesuai respons kadar glikosa darah bisa sampai dosis mendekati maksimal atau maksimal

Hindrai penggunaan OHO kerja panjang pada usia lanjut dengan DM

JENIS JENIS INSULIN Manusia Insulin Regular NPH Lente Analog Insulin Lispro** Aspart** lantus

Awitan* 0,5 1,0 24 4 - 12

Efek Pucak* 23 4 10 4 - 12

Durasi efektif* 36 10 -16 12 - 18

Durasi Maksimum* 46 14 -18 16 - 20

Awitan* 0,25 0,25 4-5

Efek Pucak* 12 12 Tanpa puncak

Durasi efektif* 34 34 24

Durasi Maksimum* 24

Cara Pemakaian Insulin


Insulin kerja cepat / pendek : diberikan 15 30 menit sebelum makan Insulin Analog : diberikan sest sebelum makan

Isulin kerja menengah

: 1 2 kali sehari 15-30 menit sebelum makan

Terapi Kombinasi
Tujuan terapi Kombinasi 1. 2. 3. Produksi glukosa dari hati Sekresi insulin kerja insulin dengan menurunkan resistensi insulin

Dengan harapan dapat lebih memperbaiki glukosa darah

Jenis Terapi Kombinasi


Kombinasi mulai 2 sampai 4 macam OHO Jenis OHO ditambahkan secara bertahap sesuai respon TKOI = terapi kombinasi OHO (2 4 macam obat ) + Insulin Insulin sensitizer (glitazon) dapat dikombinasikan dengan semua jenis oho tapi tidak dengan insulin karena dapat menyebabkan edema

Indikasi terapi Kombinasi


Sasaran tidak tercapai dengan OHO dosis hampir maksimal atau maksimal untuk menghindari efek samping OHO dosis tinggi.

EFEK OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL

Obat Sulfonilurea Metformin Acarbose Insulin Glitazon

Absorbsi Karbohidrat 0 ? 0 0

Sekresi Insulin 0 0 0

Produksi Glukosa hati + 0

Keja Insulin 0

Kombinasi insulin secretagogues + Metformin


Bila sasaran pengendalian kadar glukosa darah puasa dan sesudah makan belum tercapai dengan terapi insulin secretagogues, dapat ditambah metformin mulai dengan dosis 2 x 250 mg. Dinaikkan bertahap sesuai respons dengan interval 1 minggu.

Kombinasi Insulin Secretagogues + Penghambat Glukosidase


Bila Sasaran kada glukosa darah puasa tercapai tetapi sesudah makan belum tercapai dengan terapi insulin secretafofues, dapat ditambah penghambat glukosidase mulai dengan dosis 3 x 50 mg dinaikkan bertahap sesuai respons, dengan interval 1 minggu.

Kombinasi Insulin Secretagogues + Insulin


Dimulai bila terjadi kegagalan sekunder terapi insulin secretafogues Cara : Dosis insulin secretagogues tetap. Ditambah insulin kerja menengah glukosa darah harian. Selanjutnya dosis dan frekuensi pemberian insuin disesuaikan dengan respon

Kombinasi Metformin + Insulin


Dimulai bila terjadi kegagalan sekunder terapi metformin

Cara : Dosis metformin tetap ditambah insulin keja menengah 5 uni pada pagi atau siang atau malam sesuai dengan pola kurva glukosa darah harian. Selanjutnya dosis dan frekuensi pemerian insulin disesuaikan dengan respon Keterangan: Bila menggunakan terapi kombinasi kemudian terjadi hipoglikemi, maka selanjutny dapat kembali ke regimen pengobatan awal atau mengurangi obat yang mungkin mengakibatkan hipoglikemia

KRITERIA PENGENDALIAN DM BAIK Glukosa darah puasa (mg/dl) Glukosa darah 2 jam (mg/dl) A1C (%) Kolestrol total (mg/dl) Kolestrol LDL (mg/dl) Kolestrol HDL (mg/dl) Trigeliserida (mg/dl) IMT (kg/dl) Tekanan Darah 80 109 80 144 < 6,5 < 200 < 100 > 45 < 150 150 199 200 > 25 SEDANG 110 125 145 179 6,5 8 200 239 100 129 BURUK 126 180 >8 240 130

18,5 22,9 23 25 <130/80

130 140/ 80 90 >140/90

Kriteria diabetes terkendali ditentukan berdasarkan kadar HbA1c Kriteria Glukosa darah terkendali ditentukan berdasarkan kada glukosa darah kurva harian