Anda di halaman 1dari 9

Fisiologi pendengaran Energi bunyi ditangkap daun telinga dalam bentuk gelombang > getarkan membran timpani >

melewati tulang pendengaran MIS (maleus, inkus, stapes) > energi diamplifikasi > diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap jorong sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak > getaran diteruskan ke membrana reissner yang mendorong endolimfe > timbulkan gerak relatif antara membran basalis dan membran tektoria > terjadi defleksi stereosilia sel rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel > terjadi depolarisasi rambut > lepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps yang akan timbulkan potensial aksi pada saraf auditorius > lanjut ke nukleus auditorius > korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.
E. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan fisik : Abses subperiosteal merupakan komplikasi dari mastoiditis akut dimana terdapat hubungan antara epitimpani telinga tengah, aditus ad antrum dan sel atau kavum mastoid. Infeksi telinga tengah dapat menjalar ke mastoid bahkan meluas melalui sutura timpanomastoid atau sepanjang pembuluh darah pada area kribriformis dan dapat juga dicetuskan oleh erosi langsung korteks mastoid oleh proses inflamasi.8,12 Pada kasus ini terdapat OMSK tipe bahaya dengan komplikasi intratemporal yaitu abses subperiosteal retroaurikula yang telah dilakukan penanganan dengan insisi dan drainase abses, pemberian antibiotik intravena selama 7 hari dan mastoidektomi radikal modifikasi. Hal ini sesuai dengan penanganan abses subperiosteal pada anak yaitu drainase abses, pemberian antimikroba dan setelah infeksi terkontrol dilakukan mastoidektomi. Begitu juga menurut Helmi bahwa OMSK dengan komplikasi intratemporal atau intrakranial harus segera dirawat, diberikan antibiotik dosis tinggi selama 7-15 hari dan tindakan mastoidektomi (gambar 4 dan 5). Berbeda dengan Gross, penanganan abses subperiosteal mastoid adalah antibiotik intravena, insisi postaurikular dan operasi secepatnya. 1, 12 Gambar TANDA DAN GEJALA a. Nyeri tekan di belakang telinga.

b. Bengkak pada mastoid c. Kemerahan pada kompleks mastoid d. Keluarnya cairan dari dalam telinga yang selama lebih dari tiga minggu e. Gejala demam biasanya hilang dan timbul f. Hilangnya pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi g. Bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya)

Inspeksi : a. Daun telinga terdorong kedepan lateral bawah, sulkusretoaurikuler menghilang (infiltrat / abses retroaurikula). b. bengkak/ udeme. Palpasi : a. Nyeri tekan pada planum mastoid. Pada otoskopi tampak : a. Dinding belakang atas MAE menurun ( sagging ). b. Perforasi membran timpani. c. Reservoir sign d. Sekret mukopurulen. 2. Pemeriksaan penunjang : a. Pada X-foto mastoid schuller tampak kerusakan sel-sel mastoid ( rongga empyema ). b. Tes lab : Pus tes kultur dan sensitivitas antibiotik. Pemeriksaan audiometri tuli konduktif Poengrap perkembangan bukan difus sel-sel mastoid.

ABSES RETROAURIKULA DEXTRA Laporan Kasus Pembimbing : dr. Dina Permatasari, Sp. THT-KL

Disusun oleh :

Perez Wahyu Purnasari 01.209.5979 ANAMNESIS Anamnesis dilakukan pada hari Sabtu, 5 Oktober 2013 pukul 08.00 WIB secara alloanamnesis (ibu pasien) di bangsal Amarilis RSUD Dr. Adhyatma, M.PH Semarang. RPS Pasien datang ke IGD RSUD Dr. Adhyatma hari Sabtu, 28 September 2013 --> keluhan bengkak di belakang telinga kanan -> diberi obat tetes telinga oleh dokter IGD --> setelah minum obat --> hari Minggu, 29 September 2013 keluar cairan dari telinga kanan. Cairan berwarna putih keruh, agak kekuningan, kental, dan tidak berbau. RPS con't. . . Sebelum datang ke RSUD (28-09-2013) --> telinga sakit sejak hari Senin, 23 September 2013. Bengkak hari Kamis, 26 September 2013. Pasien juga mengalami demam (suhu 38oC) meningkat malam hari dan diobati sendiri oleh orang tuanya. Batuk (+) dan pilek (+) 1 minggu sebelumnya --> sudah membaik. Riwayat trauma telinga sebelum bengkak (-), riwayat jatuh (-), mual (-) dan muntah (-). RPS con't. . . IDENTITAS PASIEN Nama : An. Mutia Khairina Yasmin Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 1 tahun 4 bulan Agama : Islam Alamat : Jalan Mandasia I no. 302, RT.O5 / RW. 01, Krapyak, Semarang

No. RM : 40 69 61 Keluhan Utama : Bengkak di belakang telinga kanan Pasien datang kembali ke Poli RSUD Dr. Adhyatma --> Rabu, 2 Oktober 2013 karena bengkak di belakang telinga kanan semakin besar dan masih keluar cairan dari telinga kanan. Pasien di rawat inap pada hari Rabu, 2 Oktober 2013 di bangsal Amarilis untuk observasi lebih lanjut. RPD Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit dalam 6 bulan ini. Riwayat alergi disangkal. RPK Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini. Tidak ada anggota keluarga yang sedang sakit. Riwayat Sosek Teman main pasien ada yang sakit batuk-pilek. Orang tua pasien bekerja sebagai PNS, pasien adalah anak ke-2, dan biaya pengobatan pasien menggunakan Askes. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : baik Kesadaran : komposmentis Aktivitas : tampak tenang dan tetap aktif Kooperativitas : Kooperatif Status Gizi : o BB : 9 kg o PB : tidak dilakukan pemeriksaan PF con't. . .

Vital Sign o TD : tidak dilakukan pemeriksaan o Nadi : 100 x/menit o RR : 24 x/menit o Suhu : 37,6oC Kepala dan Leher o Kepala: mesosefal o Wajah : simetris, deformitas (-) o Leher : pembesaran Kelenjar limfe pada submandibula (-) PF con't. . . Mata o Conjungtiva Anemis : (-/-) o Sclera Ikterik : (-/-) o Secret : (-/-) Pemeriksaan Jantung, Paru,& Ekstremitas tidak dilakukan. Status Generalisata Status Lokalisata PF con't. . . 2004 2007 2013 2010 2001 Laringofaring : tidak dilakukan pemeriksaan Gigi dan Mulut Gigi dan Mulut : karies (-) Lidah : dbn

Palatum : simetris, radang (-) DIAGNOSIS TERAPI Di Poli pasien disarankan untuk rawat inap. Tenggorok Nasofaring : Pemeriksaan Rinoskopi Posterior tidak dilakukan Orofaring : Mukosa bukal : hiperemis (-) Lidah : dbn Uvula : di tengah, dalam batas normal Palatum : hiperemis (-) Arcus faring : hiperemis (-), granulasi (-) 1. Abses retroaurikula 2. Mastoiditis akut 3. Otitis Media Supuratif Kronis 4. Otitis Media Akut stadium perforasi DIAGNOSIS BANDING Abses Retroaurikula Dextra Struktur tulang normal Tak tampak rekasi sklerotik Cellulae mastoid (-) Kesan : DD / Mastoiditis Cellulae Mastoid belum berkembang sempurna : tak tampak Osteomielitis 2 Oktober 2013 S:O : Abses di retroaurikula dextra, discharge (+) putih keruh kental, MT tidak dapat dinilai.

Dx: Abses retroaurikula dextra Curiga mastoiditis akut dextra Tx : - Diet lunak - Infus 2A N 12 tpm - Injeksi cefotaxime 3 x 150 mg - Injeksi dexamethasone 3 x amp - Paracetamol syrup 3 x 1 cth - Konsul TS Anak Plan : - Laboratorium darah rutin (diuraikan sebelumnya) - Foto mastoid dextra 3 Oktober 2013 S : Panas turun, bengkak berkurang. O : kesadaran komposmentis Abses retroaurikula berkurang CAE discharge (-) Hasil pemeriksaan radiologi X foto mastoid : mastoiditis dextra (diuraikan sebelumnya) Dx : Abses retroaurikula dextra Mastoiditis akut dextra Tx : lanjut Plan : Cek ulang darah rutin (diuraikan sebelumnya) 4 Oktober 2013 S : keluar pus dari CAE AD O : Telinga kanan CAE : discharge mukopurulen (+), hiperemis (+) MT : sulit dinilai Dx : Abses retroaurikula dextra Mastoiditis akut dextra Tx : lanjut Plan : Ear toilet (5 Oktober 2013) di poli THT

5 Oktober 2013 S:O : kesadaran komposmentis abses retrourikula (+) berkurang Dx : Abses retroaurikula dextra Mastoiditis akut dexra Tx : lanjut - Ear toilet Plan : Rencana senin incisi abses dengan local anestesi di poli THT 7 Oktober 2013 S : bengkak berkurang O : keadaan umum baik Telinga kanan : oedem berkurang CAE : discharge (+) minimal putih keruh MT : belum dapat dinilai Dx : Abses retroaurikula dextra --> perbaikan Mastoiditis akut dextra Tx : - Cefixime syrup 2 x cth - Paracetamol syrup 3 x 1 cth - Sagestim ear drop 3 x 2 gtt AD Plan : - batal incisi abses - Boleh pulang --> infus aff - Jumat kontrol (11 Oktober 2013) PROGNOSIS Quo ad Vitam : dubia ad bonam Quo ad Sanam : dubia ad bonam Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam FOLLOW UP