Anda di halaman 1dari 2

Budidaya rumput laut untuk kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir Bali Barat Pada 1 Juni 2006

lalu, masyarakat pesisir Bali Barat melakukan perayaan sederhana untuk mensyukuri kegiatan panen bersama rumput laut di wilayah tersebut. Panen kali ini menghasilkan sekitar 50 ton rumput laut basah dari areal seluas 15 ha. Kegiatan budidaya rumput laut di Bali Barat telah berjalan selama 3 tahun. Sejak Agustus 2003, masyarakat Bali Barat sepakat melakukan budidaya rumput laut bersama dengan FKMPP dan WWF-Indonesia sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan karang akibat pemakaian bom dan potas. Awalnya kegiatan mata pencaharian yang ramah lingkungan ini hanya diikuti oleh 30 orang nelayan. Bahkan sempat hanya seorang nelayan saja yang menekuninya. Kini kegiatan budidaya rumput laut di Bali Barat didukung oleh 91 orang nelayan dari 6 kelompok nelayan dari Desa Sumber Kima dan Desa Pejarakan. Semoga, di masa mendatang, jumlah masyarakat yang terlibat, khususnya nelayan terus bertambah, sehingga hasil panen juga meningkat. Hal ini akan mempermudah proses penjualan hasil panen yang umumnya dilakukan dalam partai besar. Selain dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, budidaya rumput laut juga memberikan dampak positif Keunggulan rumput laut bagi pelestarian terumbu karang di wilayah Bali Barat, demikian Bali Barat yang sudah penjelasan I Made Iwan Dewantama, Bali Barat Site Leader untuk diakui WWFFriends of the Reef project, Program Perubahan Iklim dan Energi, Indonesia/2006 WWF-Indonesia dalam (press release bersama). Misnawiyanto, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir (FKMPP) TN Bali Barat menyatakan kegiatan budidaya rumput laut ini mengurangi kerusakan karang. Sesungguhnya Bali Barat memiliki potensi rumput laut yang cukup besar. Desa Sumber Kima dan Desa Pejarakan mempunyai potensi lahan seluas 250 ha untuk budidaya rumput laut . Jika tiap ha lahan dapat menghasilkan sekitar 2-3 ton rumput laut kering, diperkirakan potensi total rumput laut kering mencapai 500-750 ton kering setiap kali panen. Sementara rumput laut dapat dipanen setiap 45 hari sekali. Meskipun dari segi jumlah saat ini belum sebesar wilayah penghasil rumput laut lainnya di wilayah Bali, tetapi dari segi kualitas keunggulan rumput laut Bali Barat diakui. Buktinya, kini Bali Barat merupakan penyedia bibit rumput laut bagi wilayah Bali Utara dan sekitarnya. Untuk melengkapi kegiatan budidaya rumput laut, sejak 2004 kelompok perempuan melakukan kegiatan pengolahan rumput laut menjadi produk makanan. Selain untuk menambah pendapatan rumah tangga, kegiatan ini juga meningkatkan kemandirian dan peran perempuan di tingkat lokal. Produk makanan dari rumput laut, seperti manisan, krupuk, dodol, selai, kue donat, kue bolu, kue lumpur, asinan, agar-agar, sirup dan es rumput laut telah mendapat izin dari Dinas Perindustrian Kabupaten Buleleng. Sayangnya selama ini pemasaran untuk makanan olahan dari rumput laut hanya dilakukan di desa masing-masing kelompok. Namun ke depannya kelompok perempuan penghasil makanan rumput laut berencana memasarkan hasil produksinya ke Denpasar sebagai salah satu pilihan buah tangan bagi para wisatawan.

Upaya pengembangan budidaya rumput laut di masa mendatang haruslah terus memperhatikan daya dukung lingkungan bukan sekedar mengejar nilai ekonomi semata, yang akhirnya malah menjauhkan dari tujuan awal, harmonisasi antara kegiatan konservasi dan kesejahteraan masyarakat di Bali Barat. Pada perayaan panen bersama juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara FKMPP dan TNBB tentang pola kemitraan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut di kawasan tersebut. Ir.Hendrik Siubelan MM, Kepala Balai TNBB menekankan penandatangan menunjukkan bahwa upaya menjaga kelestarian alam di kawasan taman nasional penting untuk dilakukan bersama-sama dengan tidak melupakan pentingnya upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.

WWF-Indonesia