Anda di halaman 1dari 13

BPK Berdasarkan UUD 1945 pasal 23 pasal 23E ayat 1 dinyatakan bahwa untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung

jawab tentang keuangan negara diadakan suatu badan pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri. Dalam UUD tersebut juga disebutkan bahwa hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR, DPD dan DPRD sesuai dengan kewenanganya. Peraturan baru yang mengatur BPK adalah UU nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. UU ini memberikan tanggung jawab pemeriksaan keuangan negara kepada BPK, yang meliputi pemeriksaan atas pengelolaan dan pemeriksaan atas tanggung jawab keuangan. Jenis pemeriksaan yang dapat dilaksanakan oleh BPK adalah (Pasal4 UU No. 15/2004): 1. 2. Pemeriksaan keuangan, yaitu pemeriksaan atas laporan keuangan. Pemeriksaan kinerja, yaitu pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas. 3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu. BPK berbentuk dewan dengan tujuh orang yang terdiri atas seorang ketua merangkap anggota dan seorang wakil ketua merangkap anggota. Berdasarkan SK BPK nomor 11/SK/K/1993 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana BPK, dewan dibantu pejabat sebagai pembantuutama dewan terdiri atas: (1) Sekretariat Badan. Sekjen menyelenggarakan pelayanan kepada seluruh jajaran BPK, menyelenggarakan pembinaan administrsi, dan mengkoordinasikan secara administratif pelaksanaan kegiatanseluruh unsur pelaksana BPK. (2) Inspektur Utama. Inspektur utama (IRUTAMA) terdiri atas; IRUTAMA Perencana, Analisa, Evaluasi dan Pelaporan, (IRUTAMA RENALEV) dan IRUTAMA Intern dan Khusus (IRUTAMA WANINSUS). IRUTAMA RENALEV bertugas menyusun rencana kerja, analisa dan evaluasi hasil pemeriksaan atas tanggung jawab pemerintah tentang keuangan negara, serta pelaksanaan penelitian dan pengembangan sistem, metode, dan teknik pemeriksaan keuangan negara.

IRUTAMA WANINSUS bertugas melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan satuan kerja pelaksana BPK dan melakukan pemeriksaan khusus atas temuan pemeriksaan, LAPIP, dan pengaduan masyarakat yang menimbulkan kerugian negara. (3) Auditor Utama Keuangan Negara (AUDITAMA KEUANGAN NEGARA). Mempunyai tugas; melaksanakan pemeriksaan atas tanggung jawab pemerintah tentang pelaksanaan APBN/APBD, BUMN/BUMD dan melaksanakan pemeriksaan atas penguasaan dan pertanggungjawaban kekayaan negara. Dalam melaksanakan tugas BPK mempunyai fungsi: 1) Fungsi Operasional yaitu melaksanakan pemeriksaan dan tanggung jawab keuangan negara dan pelaksanaan APBN. Fungsi ini dilaksanakan oleh AUDITAMA Keuangan Negara. 2) Fungsi Yudikatif yaitu melakukan peradilan komtabel dalam hal tuntutan perbendaharaan. Fungsi ini dilaksanakan oleh IRUTAMA WANINSUS. 3) Fungsi Rekomendasi yaitu memberi saran/pertimbangan pada pemerintah berhubungan dengan keuangan negara. Fungsi ini dilaksanakan oleh IRUTAMA RENALEV. Berdasarkan UU nomor 15 tahun 2004 pasal 4 pemeriksaan BPK terdiri tiga tipe yaitu: 1. Pemeriksaan keuangan yaitu pemeriksaan atas laporan keuangan baik pusat dan daerah. 2. Pemeriksaan kinerja yaitu pemeriksan atas aspek ekonomi dan efisiensi dan efektivitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen oleh aparat pengawasan intern pemerintah. 3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu merupakan pemeriksaan dengan tujuan khusus selain pemeriksan keuangan dan pemeriksaan kinerja. Menurut tujuannya pemeriksaan BPK bertujuan untuk: - Pemeriksaan atas penguasaan dan pengurusan keuangan; - Pemeriksaan atas ketaatan pada peraturan perundangan yang berlaku; - Pemeriksaan atas penghematan dan efisiensi dalam penggunaan keuangan negara; - Pemeriksaan atas efektivitas pencapaian tujuan. Dalam melaksanakan pemeriksaan BPK memperhatikan laporan aparat pengawasan intern pemerintah. Laporan hasil pemeriksan BPK atas pelaksanaan APBN pada unit organisasi departemen/lembaga pemerintah non departemen diserahkan

kepada menteri/kepala lembaga yang bersangkutan setelah pemeriksaan selesai dilakukan. Setelah melalui pemeriksaan yang disebut pemutakhiran data antara menteri dan anggota BPK, laporan yang mencakup seluruh LHP BPK dalam semester tertentu kemudian dihimpun dalam buku hasil pemeriksaan semesteran badan (HAPSEM). HAPSEM atas departemen/lembaga diserahkan kepada DPR RI dan penyampaiannya dilakukan dalam rapat paripurna DPR RI.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) BPKP dibentuk berdasarkan Keppres No. 31 tahun 1983, pada saat itu BPKP merupakan peningkatan fungsi pengawasan yang sebelumnya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara, Departemen Keuangan. berdasarkan

Keputusan Kepala BPKP No Kep-06.00.00-080/K/2001 tentang Struktur Organisasi dan Tatakerja BPKP, BPKP berkedudukan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Disamping itu terdapat peraturan baru berkenaan dengan BPKP yaitu Keppres No 42 tahun 2002. Dalam melaksanakan tugasnya BPKP menyelenggarakan fungsi: 1) Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional dibidang pengawasan keuangan dan pembangunan. 2) Perumusan pelaksanaan kebijakan dibidang pengawasan keuangan dan

pembangunan. 3) Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP. 4) Pemantauan, pemberian bimbingan, dan pembinaan terhadap kegiatan pengawasan keuangan dan pembangunan. 5) Penyelenggaraan, pembianaan, dan pelayanan administrasi umum dibidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandingan, perlengkapan, dan rumah tangga. Dalam menyelenggarakan fungsi tersebut BPKP mempunyai kewenangan: 1) Penyusunan rencana nasional secara makro dibidang pengawasan keuangan dan pembangunan. 2) Perumusan kebijakan dibidang pengawasan keuangan dan pembangunan untuk mendukung pembangunan secara makro. 3) Penetapan sistim informasi dibidang pengawasan keuangan dan pembangunan.

4) Pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervisi dibidang pengawasan keuangan dan pembangunan. 5) Penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan dibidang pengawasan keuangan dan pembangunan. 6) Kewenangan lain yang melekat dan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pasal 71 Keppres No. 42 tahun 2002 dinyatakan bahwa BPKP melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran negara sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Disamping itu juga menindaklanjuti pengaduan masyarakat mengenai pelaksanaan APBN.

Inspektorat Jenderal (Itjend) Departemen/Unit Pengawasan LPND Pengawasan intern di lingkungan Departemen, Kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal dan Inspektorat Utama/Inspektorat untuk kepentingan Menteri/Pimpinan LPND dalam upaya

pemantauan terhadap kinerja unit organisasi yang ada dalam kendalinyaPelaksanaan fungsi Inspektorat Jenderal dan Inspektorat Utama tidak terbatas pada fungsi audit tetapi juga fungsi pembinaan terhadap pengelolaan keuangan negara. (Standar Audit APIP, 2008).Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah : Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern adalah Aparat Pengawasan Intern Pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada menteri/pimpinan lembaga Dalam rangka pembenahan aparatur pemerintah pada awal berdirinya Orde Baru tahun 1966, berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 15/U/Kep/8/1966 tanggal 31 Agustus 1966 ditetapkan antara lain kedudukan, tugas pokok dan fungsi Inspektorat Jenderal Departemen. Pembentukan Institusi Inspektorat Jenderal pada suatu Departemen pada saat itu dilakukan sesuai kebutuhan. Dengan Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 38/U/Kep/9/1966 tanggal 21 September 1966 dibentuk Inspektorat Jenderal pada

delapan departemen termasuk Departemen Keuangan dan sekaligus mengangkat H.A.Pandelaki sebagai Pejabat Inspektur Jenderal Departemen Keuangan. Masih dalam Kabinet Ampera, dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133/Men.Keu/1967 tanggal 20 Juli 1967 ditetapkan (sambil menunggu pengesahan dari Presidium Kabinet Ampera), pembentukan Badan Alat Pelaksana Utama Pengawasan Departemen Keuangan yaitu Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan dan mengangkat Drs. Gandhi sebagai Pejabat Inspektur Jenderal Departemen Keuangan. Memasuki masa Kabinet Pembangunan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahunnya (Repelita), upaya penyempurnaan aparatur pemerintah baik tingkat pusat maupun di tingkat daerah terus dilanjutkan. Pada awal pelaksanaan Repelita II tepatnya tanggal 26 Agustus 1974, terbit Keputusan Presiden Nomor 44 tahun 1974 tentang susunan Organisasi Departemen. Sebagai pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 44 dan 45 tahun 1974 di atas, diterbitkanlah Keputusan Menteri Keuangan Nomor

405/KMK/6/1975 tanggal 16 April 1975 tentang Susunan Orgasnisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan. Pasal 189 Keputusan Menteri Keuangan tersebut menetapkan susunan Organisasi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan terdiri dari: 1. 2. 3. 4. 5. Sekretariat Inspektorat Jenderal Inspektur Kepegawaian Inspektur Keuangan dan Perlengkapan Inspektur Pajak Inspektur Bea dan Cukai.

Dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-959/KMK.01/1981 tanggal 15 Oktober 1981, Susunan Organisasi Inspektorat Jenderal disempurnakan menjadi sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sekretariat Inspektorat Jenderal Inspektur Kepegawaian Inspektur Keuangan Inspektur Perlengkapan Inspektur Pajak Inspektur Bea dan Cukai Inspektur Umum.

Salah satu peristiwa penting yang ikut mewarnai sejarah perkembangan Inspektorat Jenderal khususnya Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan adalah dibentuknya Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 tahun 1983. perangkat/aparat BPKP pada umumnya berasal dari Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN) yang merupakan salah satu unit/aparat pengawasan fungsional pemerintah di bawah Departemen Keuangan. Dengan dileburnya DJPKN menjadi BPKP sebagai aparat pengawasan fungsional pemerintah di luar departemen, maka sebagaimana departemen lainnya Departemen Keuangan hanya memiliki satu aparat pengawasan fungsional yaitu Inspektorat Jenderal. Mengingat beban tugas semakin berat, dirasakan perlu adanya peninjauan kembali susunan organisasi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan, dan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-800/KMK.01/1985 tanggal 28 September 1985 maka susunan organisasi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan

disempurnakan kembali menjadi sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sekretariat Inspektorat Jenderal Inspektur Kepegawaian Inspektur Keuangan Inspektur Perlengkapan Inspektur Anggaran Inspektur Pajak Inspektur Bea dan Cukai Inspektur Umum.

Pada Peraturan Presiden Nomor 47 tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara terdapat perubahan nomenklatur yang semula Departemen Keuangan menjadi Kementerian Keuangan. Penyesuaian terhadap Peraturan Presiden tersebut diselesaikan dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan sejak tanggal ditetapkan. Memperhatikan bahwa peraturan Presiden ini ditetapkan tanggal 3 November 2009, maka perubahan nomenklatur Kementerian Keuangan

diimplementasikan mulai tanggal 3 Mei 2010. Awal tahun 2011, Kementerian Keuangan melakukan perubahan dalam formasi jajaran pejabat Eselon I dan Eselon II di lingkungan Kementerian Keuangan. Salah satu pejabat yang dilantik adalah V. Sonny Loho, Ak., M.P.M. sebagai Inspektur Jenderal

Kementerian Keuangan yang baru, menggantikan Dr. Hekinus Manao, Ak., M.Acc., CGFM yang pada Nopember 2010 yang lalu dilantik sebagai salah satu Direktur Eksekutif Bank Dunia. Selain itu perubahan organisasi juga terjadi di Inspektorat Jenderal sejak kepemimpinan Bapak Dr. Hekinus Manao, Ak., M.Acc., CGFM. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 184/KMK.01/2010 maka susunan organisasi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan semakin dikukuhkan menjadi sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sekretariat Inspektorat Jenderal Inspektorat I Inspektorat II Inspektorat III Inspektorat IV Inspektorat V Inspektorat VI Inspektorat VII Inspektorat Bidang Investigasi

Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri sebagai unsur pengawas internal mempunyai peran strategis dalam meningkatkan kinerja Kementerian Dalam Negeri menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Seiring dengan tuntutan masyarakat dan perubahan paradigma pengawasan, Inspektorat Jenderal diharapkan mampu meningkatkan perannya sebagai mata dan telinga Menteri Dalam Negeri dengan membangun komunikasi yang intensif dan hubungan yang bersifat kemitraan sebagai penjamin kualitas (quality assurance) dan consulting partner dengan seluruh unit kerja lingkup Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah dan mitra kerja terkait lainnya. Peran pengawasan Inspektorat Jenderal dimaksudkan untuk memberikan keyakinan yang memadai atas pencapaian tujuan Kementerian Dalam Negeri, sekaligus dapat mengisi peran memberikan peringatan dini (early warning) terhadap potensi penyimpangan dan kecurangan yang terjadi yang disebabkan kelemahan dalam sistem maupun sebagai akibat dari tindak pelanggaran individu. Dengan demikian akan meningkatkan kepercayaan publik (public trust) terhadap penyelenggaraan

pemerintahan yang transparan dan akuntabel serta bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Itjen Dep./Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) dibentuk berdasarkan Keppres RI No 44 dan 45 tahun 1974. Keppres tersebut telah dicabut dengan Keppres No 177 tahun 2000 dan Keppres No 173 tahun 2000 yang mengatur organisasi dan tata kerja Itjen Dep./UP. LPND. Ketentuan perundang-undangan lain yang mengatur tugas Itjen adalah Inpres No 15 tahun 1983 dan Keppres No 42 tahun 2002. Berdasarkan KMK No 2/KMK/2001 tentang Organisasi dan Tatakerja Departemen Keuangan, Inspektorat Jenderal bertugas melaksanakan pengawasan fungsional di lingkungan Departemen Keuangan terhadap pelaksanaan tugas semua unsur berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri dan peraturan perundangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugasnya Itjen menyelenggarakan fungsi: 1). Penyiapan, perumusan kebijakan, rencana dan program pengawasan. 2). Pemeriksan, pengujian, penilaian dan pengusutan terhadap kebenaran pelaksanaan tugas, pengaduan, penyimpangan, dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan unsur-unsur Departemen. 3). Pembinaan dan pengembangan sistem dan prosedur serta teknis pelaksanaan pengawasan. 4). Penyampaian hasil pengawasan, pemantauan, dan penilaian penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan. 5). Pelaksanaan urusan administrasi Itjen. Dalam pengawasan APBN, pasal 70 Keppres No 42 tahun 2002 menyatakan bahwa Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND melakukan pengawasan atas pelaksanaan anggaran negara yang dilakukan oleh kantor/satuan kerja/proyek/bagian proyek dalam lingkungan departemen/lembaga yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hasil pemeriksaan Itjen/UP. LPND tersebut disampaikan kepada menteri/pimpinan lembaga yang membawahkan proyek yang bersangkutan dengan tembusan disampaikan kepada Kepala BPKP.

Badan Pengawasan Daerah Sejalan dengan UU No. 32 tentang Pemerintah Daerah, paragraf 9 tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD; maka dalam Pasal 184 ayat (1) disebutkan bahwa Kepala daerah menyampaikan rancangan Perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Namun demikian, dalam rangka pembinaan dan pengawasan atas

penyelenggaraan pemerintah daerah, maka akan senantiasa diadakan kegiatan pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah; dan pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Pengawasan sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh aparat pengawas intern Pemerintah sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Sesuai dengan Pasal 222 UU tentang Pemerintah Daerah maka telah diatur bahwa: 1). Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. 2). Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur. 3). Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dikoordinasikan oleh Bupati/Walikota. 4). Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dapat melimpahkannya kepada camat. Atas dasar ketentuan di atas lah maka aparat pengawasan intern Pemerintah di suatu Daerah (provinsi, kabupaten/kota) dilakukan oleh Badan Pengawasan Daerah yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di daerah masing-masing.

Inspektorat/Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Propinsi; TUGAS DAN KEWAJIBAN: Membantu Gubernur dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. FUNGSI : 1) Menyusun kebijakan pemerintah daerah. 2) Pengoordinasian pelaksanaan tugas dinas daerah dan lembaga teknis daerah.

3) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintahan daerah. 4) Pembinaan administrasi dan aparatur pemerintah daerah. 5) Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Inspektorat/ Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Kabupaten/Kota. Dalam suatu organisasi pengawasan merupakan suatu unsur penting, karena pengawasan adalah merupakan suatu upaya untuk mengetahui apakah rencana yang telah disusun dapat berjalan sesuai target / tujuan yang ingin dicapai. Disamping itu juga hasil hasil pengawsan berfungsi sebagai feed back atau umpan balik bagi penyusunan rencana berikutnya. Untuk mewujudkan pengawasan yang efektif dan efisien pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah terkait sistem pengawasan yaitu PP 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Selanjutnya dilihat dari pengorganisasian kegiatan pengawasan di daerah diwadahi oleh suatu lembaga yang disebut Inspektorat yang ada ditingkat Provinsi dan Kabupaten. Seiring dengan tuntutan dan perkembangan organisasi yang membawa konskuensi pada meningkatnya beban tugas, telah terjadi beberapa kali perubahan nomenklatur pada lembaga pengawasan di Kabupaten Tabanan. Pada saat berlakunya UU No 5 Tahun 1974 tentang Pokok pokok Pemerintah di Daerah Lembaga Pengawas disebut dengan Inspektorat Wilayah Kabupaten yang disingkat Itwilkab yang dipimpin oleh seorang Kepala. Selanjutnya dengan berlakunya UU No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dimana daerah diberikan keleluasaan dalam pembentukan kelembagaan sesuai potensi dan kebutuhan daerah. Dan berdasarkan PP Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pola Penyusunan Perangkat Daerah, Nomenklatur Inspektorat Wilayah berubah menjadi Badan Pengawas Daerah ( Bawasda ). Pada era tersebut Struktur Organisasi dan Tata Kerja Bawasda di Kabupaten Tabanan ditetapkan dengan Perda Kabupaten Tabanan Nomor 3 Tahun 2001. Salah satu langkah maju dari PP Nomor 84 Tahun 2000 adalah adanya pembagian tugas yang jelas antar unsur organisasi yaitu : Unsur staf mempunyai tugas membantu kepala daerah dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintah daerah.

Unsur penunjang mempunyai tugas membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintah daerah dalam lingkup tugasnya. Unsur pelaksana mempunyai tugas melaksanakan kewenangan otonomi daerah dalam rangka pelaksanaan tugas desentralisasi dan dekonsentralisasi. Badan Pengawas Daerah adalah merupakan unsur penunjang yang membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, yaitu dalam bidang pengawasan. Penataan terhadap kelembagaan masih terus bergulir dengan terbitnya PP No.8 Tahun 2003 tentang Penyusunan Organisasi Perangkat Daerah namun nomenklatur Badan Pengawasan Daerah tidak mengalami perubahan dan ditetapkan dengan Perda Nomor 3 Tahun 2006. Selanjutnya terbitlah PP Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Lembaga yang menangani bidang pengawasan kembali menggunakan nomenklatur Inspektorat Kabupaten / Kota / Prov, yang dipimpin oleh seorang Inspektur, dan pembentukan Inspekorat Kabupaten Tabanan ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan No 3 Tahun 2008 tanggal 12 Maret 2008. Visi Dan Misi Sebagai unsur penunjang yang membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintah daerah di bidang pengawasan, Inspektorat dituntut untuk mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik (Good Governance) melalui pelaksanaan tugas pokok yaitu pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Inspektorat mempunyai tugas : Merumuskan sasaran yang hendak dicapai dalam penyelenggaraan pengawasan di Kabupaten Tabanan berdasarkan Peraturan Perundang undangan yang berlaku. Menyelenggarakan pemeriksaan terhadap aparatur pemerintah Kabupaten Tabanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar pelaksanaan tugas tidak menyimpang dari peraturan yang berlaku. Meneliti kebenaran laporan baik dari instansi lingkungan pemerintah Kabupaten Tabanan maupun dari masyarakat sesuai petunjuk dan ketentuan yang berlaku agar dapat dipakai sebagai bahan laporan kepada atasan. Melaksanakan pengusutan terhadap pengaduan tentang hambatan dan penyimpangan yang terjadi berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk dapat mengetahui kebenaran laporan.

Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan untuk kelancaran pelaksanaan tugas. Menyusun laporan hasil pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan kepada atasan.

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa pengawasan ekstern pemerintah dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sedangkan pengawasan intern pemerintah dilakukan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lembaga/badan/unit yang ada di dalam tubuh pemerintah (pengawas intern pemerintah), yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengawasan fungsional adalah Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), yang terdiri dari : 1) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) 2) Inspektorat Jenderal Departemen 3) Inspektorat Utama/Inspektorat Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND)/ Kementerian 4) Lembaga Pengawasan Daerah atau Bawasda Provinsi/Kabupaten/Kota Salah satu lembaga pengawas fungsional adalah BPK. BPK memiliki tugas untuk mengawasi keuangan negara dan melaporkan hasil pengawasannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam hal ini keuangan negara meliputi keuangan yang diatur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maupun keuangan negara di luar APBN. Di dalam melakukan pengawasan fungsional BPK melakukan kegiatan pengujian kesepadanan laporan pertanggungjawaban keuangan negara dan memberikan pendapat terhadap kelayakan pertanggungjawaban keuangan negara tersebut (fungsi attestation). Dalam hal ini BPK melakukan pengawasan terhadap pertanggungjawaban pemerintah secara keseluruhan atas pengelolaan keuangan negara. Pengawasan yang dilaksanakan BPK diharapkan dapat memberikan masukan kepada DPR mengenai kewajaran pertanggungjawaban keuangan negara oleh pemerintah. Sementara itu Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) melakukan pengawasan fungsional terhadap pengelolaan keuangan negara agar berdaya guna dan berhasil guna untuk membantu manajemen pemerintahan dalam rangka pengendalian terhadap kegiatan unit kerja yang dipimpinnya (fungsi quality assurance).Pengawasan yang dilaksanakan APIP diharapkan dapat memberikan masukan kepada pimpinan

penyelenggara pemerintahan mengenai hasil, hambatan, dan penyimpangan yang terjadi atas jalannya pemerintahan dan pembangunan yang menjadi tanggung jawab para pimpinan penyelenggara pemerintahan tersebut. BPKP sebagai aparat pengawasan penyelenggaraan pemerintahan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden bertugas untuk membantu Presiden dalam menjalankan pengawasan umum atas penguasaan dan pengurusan keuangan serta pengawasan pembangunan yang menjadi tanggung jawab presiden. Dari uraian tugas BPKP ini nampak bahwa BPKP diadakan hanya membantu sebagian fungsi presiden, yakni membantu pengawasan bidang keuangan dan pembangunan, sedangkan terhadap fungsi presiden yang lain seperti administrasi umum dan yang lainnya akan dibantu oleh lembaga yang lain. Jika di tingkat Departemen, seperti halnya di tingkat pemerintah terdapat suatu lembaga pengawas fungsional yaitu Inspektorat Jendral yang bertugas untuk membantu menteri dalam pengawasan umum atas segala aspek pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawab menteri. Pengawasan fungsional di daerah berdasarkan PP No 20 Tahun 2001 dilaksanakan oleh Badan Pengawas Daerah. Badan ini dibentuk dan bertanggung jawab kepada kepala daerah.Fungsi dari badan pengawas daerah ini adalah membantu bidang pengawasan fungsional penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selain Badan Pengawas Daerah, dalam penyelenggaraan pemerintah daerah juga diawasi oleh pengawas fungsional pemerintah yang ada seperti Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)