P. 1
EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI PROVINSI PAPUA BARAT

EXECUTIVE SUMMARY PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI PROVINSI PAPUA BARAT

|Views: 349|Likes:
Dipublikasikan oleh Neneng Nurbaeti Amien
Gambaran ringkas hasil penelitian penyusunan strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Road Map Investasi Propinsi Papua Barat
Gambaran ringkas hasil penelitian penyusunan strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Road Map Investasi Propinsi Papua Barat

More info:

Published by: Neneng Nurbaeti Amien on Nov 18, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2015

pdf

text

original

BAB 1

EXECUTIVE SUMMARY

PENYUSUNAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENANAMAN MODAL DAN ROADMAP INVESTASI DI PROVINSI PAPUA BARAT

1.1

Latar Belakang

Kebijakan pembangunan nasional Tahun 2005-2025 diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran pokok, diantaranya terwujudnya daya saing bangsa untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. Kemampuan bangsa untuk berdaya saing tinggi adalah kunci bagi tercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa dan akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangan-tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada.

Untuk memperkuat daya saing bangsa, pembangunan nasional dalam jangka panjang diarahkan untuk1 : 1) Memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan masing-masing wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi dan pelayanan di dalam negeri; 2) Mengedepankan pembangunan SDM berkualitas dan berdaya saing;
1

Lihat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

1

Executive Summary

2010
3) Membangun infrastruktur yang maju serta melakukan reformasi di bidang hukum dan aparatur negara.

Untuk melaksanakan arahan pembangunan nasional tersebut tidak dapat dipungkiri membutuhkan modal yang tidak sedikit. Bila hanya bersandar pada modal dari sumber dana pemerintah, hampir dapat dipastikan agak sulit untuk mencapai arahan pembangunan tersebut. Untuk itu perlu dicari sumber lain yaitu dengan kegiatan penanaman modal atau investasi.

Adanya kegiatan penanaman modal dapat memberikan manfaat yang cukup luas (multiplier effect), diantaranya dapat menyerap tenaga kerja; dapat menciptakan demand bagi produk dalam negeri sebagai bahan baku; menambah devisa terutama untuk investasi asing yang berorientasi ekspor; dapat menambah penghasilan negara dari sektor pajak; adanya alih teknologi (transfer of technology) maupun alih pengetahuan (transfer of know how).2

Berdasarkan kepentingan tersebut pemerintah telah berupaya meningkatkan investasi riil dalam negeri dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan yaitu dengan diluncurkannya paket kebijakan ekonomi 2008-2009 yang tertuang dalam Inpres Nomor 5 tahun 2008 tentang Fokus Program Ekonomi 2008-20093 dan terakhir dengan diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal No.25 Tahun 2007. Dimana di dalam Pasal 4, pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk: 1. Mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi penanaman modal untuk penguatan daya saing perekonomian nasional; dan 2. Mempercepat peningkatan penanaman modal.

2 3

Dr. Sentosa Sembiring, S.H., M.H. Hukum Investasi : Nuansa Aulia Bandung. 2010. Hlm.8.

Paket ini memuat berbagai kebijakan ekonomi yang dapat dikelompokkan ke dalam 8 bidang, yakni kebijakan perbaikan iklim investasi, kebijakan ekonomi makro dan keuangan, kebijakan ketahanan energi, dan kebijakan sumber daya alam, lingkungan dan pertanian.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

2

Executive Summary

2010
Dalam upaya implementasi kebijakan investasi dan undang-undang tersebut di tingkat daerah, pemerintah telah menyesuaikan peraturan perundang-undangan dengan potensi dan kondisi daerah. Untuk itu Pemerintah Pusat telah

mendelegasikan kewenangan untuk pelayanan administrasi penanaman modal ke Pemerintah Daerah. Hal ini dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.4

Undang-undang

Otonomi

Daerah

telah

memberi

landasan

kepada

setiap

Pemerintah Daerah untuk mengembangkan potensi penerimaan daerah dan pada sisi lain keleluasaan untuk merancang kebijakan dan strategi penanaman modal dan institusi-institusi yang relevan. Strategi penanaman modal diperlukan terkait dengan upaya pemerintah daerah untuk memacu kegiatan investasi dengan mengatasi berbagai faktor penunjang yang menghambat iklim berinvestasi.

Berbagai faktor yang menyebabkan mengapa kegiatan investasi masih berjalan lamban di Indonesia seperti yang dilansir dari hasil penelitian ADB adalah karena masih lemahnya perangkat hukum serta kepastian usaha sehingga realisasi investasi masih rendah sekalipun nilai persetujuan cukup tinggi.5 Selain itu, masalah pungutan liar, peraturan daerah, perpajakan, tumpang tindihnya peraturan, birokrasi, egosektoral, dan infrastruktur merupakan masalah lain yang harus segera ditangani (Umar Hamzah, 2005; Usman Syaikahu, 2002). Berbagai hambatan investasi tersebut perlu diantisipasi dengan melibatkan berbagai pihak yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Untuk itu perlu dirancang suatu strategi penanaman modal yang terintegrasi, menyeluruh dan berkelanjutan di semua wilayah Indonesia.

4

Dalam UU Pemda No 32 Tahun 2004 disebutkan untuk urusan pemerintahan yang daerah terdiri atas urusan wajib dan urusan lain. Salah satu tugas yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah adalah dalam Pasal 13 ayat 1 butur n UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi, pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota. Dalam Pasa 14 ayat 1 butir n UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk kabupaten/kota, meliputi pelayanan administrasi penanaman modal. Hanya dalam undangundang ini tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan pelayanan administrasi penanaman modal. 5 Lihat www.geocities.com. Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

3

Executive Summary

2010
Wilayah yang harus mendapat prioritas ke depan dalam upaya meningkatkan produktifitas perekonomian nasional dan kegiatan investasi adalah Wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI); Karena wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Diketahui lebih dari 60 persen dari seluruh SDA nasional berada di daerah Kawasan Timur Indonesia.6

Salah satu Kawasan Timur Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah Provinsi Papua Barat. Kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat sangat diperlukan dengan adanya kebijakan percepatan pembangunan di wilayah ini. Beberapa faktor yang menyebabkan Provinsi Papua Barat harus mendapat prioritas pembangunan kedepan adalah7 : Pertama, wilayah Provinsi Papua Barat sangat kaya dengan sumber daya alam dengan adanya kandungan minyak dan gas yang sangat besar. Kedua, adanya kandungan mineral yang menjanjikan seperti mineral logam. Ketiga, wilayah Provinsi Papua Barat memiliki sumberdaya hutan dan perairan yang sangat besar yang tingkat pemanfaatannya masih jauh di bawah potensi lestarinya. Keempat, wilayah Provinsi Papua Barat memiliki potensi pengembangan pertanian dan agribisnis yang sangat besar. Kelima, wilayah Provinsi Papua Barat memiliki potensi pariwisata yang besar dan beragam. Kesemuanya itu dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian daerah.

Kendati demikian, pengembangan investasi di wilayah Provinsi Papua Barat masih relatif rendah dan belum mencapai target yang diharapkan karena masih banyaknya berbagai permasalahan pada setiap tahapan investasi. Keadaan tersebut

menyebabkan tidak bergairahnya para investor untuk melakukan investasi di Papua Barat, baik untuk perluasan usaha yang telah ada maupun untuk investasi baru.

6

KTI terdiri dari 15 provinsi dalam lima pulau besar (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua). 7 Rencana Pengembangan Wilayah dan Investasi Provinsi Papua Barat 2007-2026 Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Papua Barat Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

4

Executive Summary

2010
Untuk itu Biro Investasi Provinsi Papua Barat dan para pihak terkait dalam upaya meningkatkan iklim berinvestasi berupaya mengidentifikasi dan mengurai berbagai macam potensi maupun tantangan dan permasalahan di bidang investasi. Hasilnya kemudian diolah dan dituangkan kedalam berbagai macam bentuk program dan strategi investasi yang terintegrasi sehingga dapat memberikan kontribusi yang tepat dan signifikan dalam upaya meningkatkan iklim berinvestasi yang kondusif di Provinsi Papua Barat. Hal-hal tersebut diharapkan dapat dituangkan dalam bentuk Strategi Penanaman Modal dan Roadmap investasi Provinsi Papua Barat. 1.2 Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari penulisan studi ini adalah untuk mewujudkan sinergitas, efektivitas, integrasi penyelenggaraan kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat agar berjalan secara optimal. Dan juga sebagai pedoman dan arah kegiatan investasi bagi Biro Investasi serta para pihak terkait.

Sasaran yang hendak dicapai agar tujuan studi terpenuhi adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi potensi maupun permasalahan yang terkait dengan realisasi investasi di Provinsi Papua Barat. 2. Terumuskannya arahan rencana dan strategi investasi Provinsi Papua Barat secara makro, berjangka-panjang, dan menyeluruh. 3. Terumuskannya arahan program-program investasi Provinsi Papua Barat serta sarana untuk meningkatkan sinergitas kegiatan investasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait. 4. Terumuskannya visi misi dari Roadmap Investasi Provinsi Papua Barat. 1.3 Kerangka Pemikiran

Pembangunan merupakan upaya secara sadar dan terencana untuk melakukan perubahan dengan cara melakukan intervensi dan manipulasi variabel sosial tertentu (planned change), landasannya adalah ada kondisi sosial ideal yang ingin dicapai. Untuk mencapai kondisi ideal tersebut, maka berbagai intervensi dilaksanakan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

5

Executive Summary

2010
dalam berbagai bentuk kebijakan pembangunan karena pembangunan dianggap sebagai upaya untuk mencapai kondisi dan sarat nilai (value ladden).

Salah

satu

kebijakan

pembangunan

yang

ditetapkan

pemerintah

untuk

meningkatkan pembangunan ekonomi adalah kebijakan investasi. Investasi adalah kegiatan ekonomi utama yang dapat menjadi prime mover pembangunan ekonomi suatu wilayah, melalui dampaknya yang luas terhadap berbagai upaya perbaikan tatanan kegiatan ekonomi masyarakatnya. Dengan investasi akan terjadi

penyerapan tenaga kerja yang cukup besar dan meningkatkan pendapatan dan konsumsi masyarakat, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut secara berkelanjutan. Adanya kebijakan otonomi daerah (Otoda) dapat dijadikan wadah atau instrumen untuk mendorong dan menarik minat investor baik lokal, nasional maupun mancanegara untuk berinvestasi di suatu wilayah. Oleh karena itu hampir semua pemerintah di berbagai tingkatan, selalu berusaha mencari cara untuk mendorong kegiatan investasi di wilayahnya masing-masing. Namun di tingkat implemetasi, arah dan kebijakan investasi yang menitikberatkan pada percepatan pembangunan kawasan melalui upaya pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi dan membuka keterisolasian wilayah, seringkali tidak terintegrasi dengan kepentingan para stakeholders pembangunan lainnya, yaitu masyarakat yang memiliki cara hidup (way of life), sistem nilai, norma dan kebutuhan sosial dan ekonomi dalam pengeloaan dan pemanfaatan sumber daya alam, dan pelaku usaha (investor) dengan motif ekonominya yaitu untuk mencari laba. Sehingga seringkali menimbulkan

kesenjangan (gap) antara tujuan yang ditetapkan pemerintah, kepentingan investor, dan permasalahan dan kebutuhan masyarakat.

Terjadinya kesenjangan (gap) diantara stakeholders sebagai akibat diterapkannya paradigma klasik (trickle down effect) yang merupakan mekanisme pembangunan yang bersifat top down. Konsep ini dilandasi pula oleh sasaran pertumbuhan yang tinggi lewat peningkatan produktivitas dan kompleksitas produksi. Aplikasi konsep yang bersifat top down ini telah menimbulkan masalah yang cukup serius, seperti

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

6

Executive Summary

2010
ketimpangan, kemiskinan, keterbelakangan, dan sifat masa bodoh ketidakpedulian (antar daerah dan antar golongan masyarakat). atau

Penerapan konsep pembangunan top-down secara empirik telah memperlihatkan terjadinya kecenderungan kurang memberikan perhatian kepada masyarakat lapisan bawah (grass root). Masyarakat lapisan bawah yang umumnya masih berlokasi di hutan-hutan dan wilayah pesisir, diperlakukan hanya sebagai objek, tidak sebagai subjek pembangunan. Konsep ini tidak aspiratif dan dianggap tidak bijaksana terhadap permasalahan yang dihadapi, pemanfaatan potensi, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat sebagai penerima program pembangunan. Terdapat tiga kelemahan dalam pendekatan ini, yaitu : pertama, tidak memperhatikan aspirasi masyarakat, kedua, mengabaikan lingkungan sosial dan budaya, dan ketiga, merusak ekologi fisik. Kelemahan ini telah menimbulkan kegagalan pada berbagai program pembangunan yang dilaksanakan pada berbagai daerah.

Berdasarkan kondisi diatas, maka perlu dilakukan upaya merumuskan kembali konsep pembangunan khususnya dalam kegiatan investasi yang bersifat populis (people centred) yaitu keberpihakan pada golongan kecil dan mengakar pada masyarakat di bawah (grass root). Upaya ini didukung oleh komitmen (kesepakatan) moralitas tinggi dalam memberdayakan masyarakat lapis bawah yang kemudian dikuatkan oleh paradigma baru pembangunan, yaitu pemberdayaan masyarakat (community empowerment) melalui bottom up planing yang aspiratif dan aspresiatif dengan melibatkan masyarakat pada proses pembangunan secara menyeluruh.

Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan sebagai upaya untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif di era globalisasi. Dengan peran serta masyarakat maka kondusivitas iklim investasi akan tercipta. Sebagaimana dikemukakan oleh Bagir Manan8, bahwa salah satu konsep dari globalisasi adalah meletakan segala kegiatan dan hubungan ekonomi pada peran masyarakat. Dengan konsep ini maka
8

Lihat Bagir Manan. “Pembangunan dan Pembangunan Ekonomi Nasional dalam Globalisasi”, Makalah dalam Seminar Tentang Pendekatan Ekonomi dalam Pembangunan Sistem Hukum Nasional dalam Rangka Globalisasi. Penyelenggara FH UNPAD Bandung, 30 April 1998. Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

7

Executive Summary

2010
meletakan masyarakat untuk menjadi pelaku ekonomi yang utama termasuk dalam hubungan-hubungan ekonomi global. Pandangan senada juga dikemukakan oleh Hans-Reimbert Hemmer (et.al)9, globalisasi dapat meningkatkan peluang kemakmuran bagi negara-negara

berkembang. Tetapi agar dampak peningkatan kemakmuran dari globalisasi mulai berakar, maka negara-negara berkembang perlu memenuhi sejumlah persyaratan, yakni adanya stabilitas politik dan hukum, kelengkapan minimal infrastruktur kelembagaan dan material, serta modal awal sumber daya manusia merupakan persyaratan dasar tak terhindarkan agar dapat berpartisipasi secara berhasil dalam proses globalisasi.

Masyarakat perlu diajak untuk berperan serta dan didorong untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan juga dengan pertimbangan10 : a) masyarakat mengetahui sepenuhnya tentang permasalahan dan kepentingannya/kebutuhan, b) masyarakat memahami sesungguhnya tentang keadaan lingkungan sosial dan ekonomi masyarakatnya, c) masyarakat mampu menganalisis sebab dan akibat dari berbagai kejadian di masyarakat, d) masyarakat mampu merumuskan solusi untuk mengatasi permasalahan dan kendala yang dihadapi, e) masyarakat mampu memanfaatkan sumber daya pembangunan (SDA, SDM, dana, sarana, dan

teknologi) yang dimiliki untuk meningkatkan produksi dan produktivitas dalam rangka mencapai pembangunan masyarakatnya yaitu peningkatan kesejahteraan

masyarakat, f) anggota masyarakat dengan upaya meningkatkan kemauan dan kemampuan SDM-nya sehingga dengan berlandaskan pada kepercayaan diri dan keswadayaan yang kuat mampu mengurangi dan bahkan menghilangkan sebagian besar ketergantungan terhadap pihak luar.

Untuk itu agar pelaksanaan kebijakan investasi dapat terlaksana dengan baik dengan tanpa menafikan peran masyarakat, maka pendekatan yang dapat dilakukan
9

10

Lihat Hans-Rimbert Hemmer (et al).Op.et. Hal 15. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan, Rahardjo Adisasmita, Graha Ilmu, Yogyakarta, Tahun 2006

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

8

Executive Summary

2010
dalam konteks Provinsi Papua Barat adalah dengan Konsep Perencanaan Pembangunan dari Bawah (Bottom up Development Planing). Konsep ini dilaksanakan berdasarkan pada kondisi potensi dan kondisi yang ada sekarang. Kondisi yang ada itu meliputi sumber daya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya modal, prasarana dan sarana pembangunan, teknologi, kelembagaan, aspirasi masyarakat setempat, dan lainnya.

Konsep Perencanaan Pembangunan dari Bawah (Bottom up Development Planing) diperlukan karena Provinsi Papua Barat selain merupakan wilayah yang sangat kaya dengan sumber daya alam, juga ditunjang dengan keberadaan masyarakat lokal yang masih menjunjung tinggi adat istiadat, terutama dengan pemberlakukan hak ulayat. Diharapkan dengan Perencanaan Pembangunan dari Bawah (Bottom up Development Planing), maka akan terumuskan strategi kebijakan investasi yang didasarkan pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya alam berbasis budaya dan potensi lokal.

Pengelolaan sumber daya alam dan potensi lokal yang ada, membutuhkan anggaran investasi tidak sedikit dan tidak bisa hanya bertumpu pada anggaran yang diberikan dari pusat. Untuk itu kerjasama yang baik dengan para investor, baik lokal maupun luar sangat diperlukan, dengan tetap berdasarkan pada Konsep Pembangunan dari Bawah (Bottom up Development Planing), agar pengeolaan potensi lokal dan sumber daya alam dapat terlaksana dengan baik.

Untuk itu diperlukan sinergitas diantara pelaku pembangunan, yaitu Pemerintah Daerah, Swasta (Investor) dan masyarakat lokal. Sinergitas diantara ketiga

stakeholders menitikberatkan pada : (1) penentuan prioritas program investasi berdasarkan kriteria yang terukur, (2) didukung oleh partisipasi masyarakat untuk menunjang implementasi program investasi sebagai salah bentuk pemberdayaan masyarakat (social empowering) secara nyata dan terarah.

Gambaran mengenai kerangka pemikiran diatas dapat dilihat pada gambar berikut

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

9

Executive Summary

2010
Stakeholders Utama dalam Investasi Kerangka Pemikiran Kajian Strategi Penanaman Modal dan Road Map Investasi
    MASYARAKAT Hak Berperan Serta Cara Hidup (Way of Life) Sistem nilai, norma, dan kepercayaan Kebutuhan Sosial dan Ekonomi Sebagai pemilik lahan, sebagai subjek dan objek pembangunan

`
Kesenjangan kepentingan masingmasing stakehoder dalam pemanfaatan sumberdaya alam

MASALAH DAN HAMBATAN INVESTASI DI KOTA/ KABUPATEN

PEMERINTAH Perencanaan Pembangunan dan Kebijakan Investasi

Pembuat Keputusan dan Kebijakan dan berfungsi sebagai pengawasan dan pengendali pemanfaatan sumberdaya

Kondisi Eksisting:  Lemahnya Perangkat Hukum  Kurangnya Kepastian Berusaha  Pungutan Liar  Aksesibilitas Sulit  Infrastrukur Kurang  Peraturan Daerah  Sarana dan Prasarana Kurang  Egosektoral  Tumpang Tindih Peraturan  Hambatan Birokrasi

INVESTOR Tujuan : Memperoleh Laba Keputusan Investasi :  Tingkat Persaingan Bisnis  Ketersediaan Bahan Baku  Pembeli  Ketersediaan Produk Substitusi  Ancaman dari Pemain Baru

Sebagai pemodal, pemanfaatan sumberdaya dengan prinsip ekonomi, membarikan kontribusi terhadap pembangunan

Penyepakatan kepentingan dalam investasi: - Peranserta masyarakat - Terkendalinya pembangunan - Terlaksananya pembangunan berkelanjutan - Memberikan keuntungan bagi investor

STRATEGI PENANAMAN MODAL DI SETIAP KOTA/ KABUPATEN

1. 2. 3. 4. 5.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

Pemetaan dan Inventarisasi Berbagai Potensi Ekonomi Lokal (Sumber Daya, Produk, Pasar, Pelaku) Prioritas Pengembangan Ekonomi Daerah Pendekatan Klaster di Wilayah Tertentu Target Pelaku Usaha (Investor) yang Dijadikan Sasaran Investasi Prioritas Program Peningkatan Investasi di Setiap Kota dan Kabupaten

Perbaikan Kondisi : 1 Kelembagaan (kepastian hukum, aparatur, kebijakan daerah, kepemimpinan lokal) 2 Keamanan, Politik dan Sosial Budaya 3 Ekonomi Daerah (Pendapatan Per Kapita, Struktur Ekonomi) 4 Tenaga Kerja 5 Infrastruktur

10

Executive Summary

2010
Pembangunan daerah Provinsi Papua Barat merupakan bagian dari

pembangunan nasional. Pelaksanaan pembangunan daerah Provinsi Papua Barat melalui otonomi khusus berdasarkan Undang-undang No. 1 tahun 2008 untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua. Implementasi dari kebijakan tersebut, maka pembangunan di Provinsi Papua Barat dimaksudkan untuk mendorong, memberdayakan masyarakat,

menumbuhkan prakarsa serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam rangka membangun daerahnya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan pembangunan tersebut diupayakan tercapai dengan berbasis pada ekonomi kerakyatan dalam rangka memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat adat atau masyarakat setempat untuk terlibat dalam kegiatan pembangunan (UU No. 21 Tahun 2001). Pelaksanaan kegiatan pembangunan di Provinsi Papua Barat meliputi berbagai bidang, salah satunya pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah, masyarakat dengan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Lincolin, 2004:108).11 Selanjutnya menurut Lincolin, pembangunan ekonomi yang akan dilaksanakan oleh daerah harus didasarkan pada potensi yang berasal dari daerah tersebut, guna menciptakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja sehingga masyarakat merasa diikutsertakan dalam membangun daerahnya. Karena tujuan pembangunan ekonomi daerah adalah untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat di daerah (Lincolin,2004:109). Untuk meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat, pemerintah daerah harus mampu membuat perencanan pembangunan, yang nantinya tenaga kerja dapat terserap disetiap sektor ekonomi. Jika kegiatan perekonomian dapat berjalan

Arsyad Lincolin (2004), Ekonomi Pembangunan, Bagian Penerbitan STIE – YKPN, Yogyakarta.
11

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

11

Executive Summary

2010
dengan lancar akan memperoleh hasil yang maksimal dan memberi sumbangan yang berarti bagi pertumbuhan ekonomi. Untuk itu kebijakan dan agenda pembangunan Provinsi Papua Barat diarahkan pada : pembangunan sumber daya manusia, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, pengembangan aksesibilitas wilayah, penyeimbangan

pertumbuhan, pelayanan yang efektif, pengembangan kapasitas kelembagaan, pengembangan kapasitas ekonomi, pengembangan kapasitas masyarakat. 12 Arah kebijakan penyeimbangan pertumbuhan diarahkan pada pencapaian pemenuhan dasar masyarakat dan pemerataan hasil-hasil pembangunan melalui berbagai insentif dan regulasi yang mendukung serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai disegala bidang pembangunan. Penyeimbangan pertumbuhan tersebut dilakukan melalui pembentukan kawasan pengembangan dan investasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan sumberdaya potensial di setiap kawasan. Dengan salah satu agenda pembangunan adalah meningkatkan investasi dan menyeimbangkan neraca perdagangan dengan menjamin kepastian usaha dan menyempurnakan kelembagaan investasi yang berdaya saing, efisien, transparan dan nondiskriminatif serta memberikan insentif yang tepat sasaran.13 Khusus untuk program pengembangan Investasi, dalam jangka pendek kebijakan diarahkan untuk menurunkan hambatan prosedural dan permasalahan likuiditas dan memperluas investasi nonkuota. Dalam jangka menengah dan panjang, kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kualitas prasarana dan sarana pengembangan investasi untuk mendukung kegiatan produksi dan distribusi antar daerah. Dalam pelaksanaannya berbagai kebijakan tersebut belum banyak memberikan hasil yang diharapkan pencanangan tahun 2003 sebagai tahun investasi Indonesia oleh pemerintah Papua Barat belum mampu mendorong kegiatan investasi secara berarti. Berbagai permasalahan masih dihadapi oleh dunia usaha, seperti masalah regulasi ketenagakerjaan yang kurang kondusif, kebijakan investasi dan sektoral yang tumpang tindih, baik antara daerah
12 13

RPJM Provinsi Papua Barat ibid

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

12

Executive Summary

2010
maupun antar pusat dan daerah yang terutama terkait dengan penerapan otonomi daerah, keunggulan insentif bagi investor, termasuk insentif perpajakan, kondisi keamanan yang belum kondusif dibeberapa daerah tertentu, ekonomi biaya tinggi, serta prosedur birokrasi yang panjang dan berbelit. Kondisi ini di perburuk oleh minimnya pengembangan infrastruktur akibat keterbatasan dana pemerintah. Hal lain yang perlu segera dibenahi adalah masalah kepastian hukum diberbagai tingkatan dan terbentuknya Daerah. Guna mengetahui apakah Provinsi Papua Barat memiliki keunggulan sebagai wilayah yang memiliki daya tarik investasi dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia dan sampai sejauhmana permasalahan terkait investasi telah berlangsung di Provinsi Papua Barat, maka dipandang perlu melakukan kajian secara komprehensif terhadap kondisi perekonomian dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap iklim investasi di Provinsi Papua Barat. Analisis dilakukan dengan melakukan kajian mendalam terhadap : 1. Kondisi Perekonomian Wilayah Kondisi perekonomian wilayah dilakukan dengan menganalisis besaran PDRB di setiap wilayah dan bagaimana perkembangannya setiap tahun. Dari hasil analisis PDRB dapat tergambarkan sektor unggulan disetiap wilayah dengan Badan Penanaman Modal

menggunakan analisis Location Quotient (LQ) dan analisis keunggulan kompetitif (shift share). Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif kegiatan ekonomi di setiap wilayah Provinsi Papua Barat dengan

membandingkannya terhadap nasional dan regional. 2. Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap iklim investasi di Provinsi Papua Barat, Analisis dilakukan dengan melakukan penskoringan (skor z) terhadap variabelvariabel yang berpengaruh terhadap iklim investasi, sehingga dapat diketahui rangking tertinggi sampai terendah daya tarik investasi setiap wilayah di Provinsi Papua Barat. Variabel-variabel tersebut adalah : 1. Sumber Daya Alam (SDA)

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

13

Executive Summary

2010
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 1.4 1.4.1 Sumber Daya Manusia Sosial Budaya Kondisi Ekonomi Kondisi Keuangan Infrastruktur Kelembagaan Keamanan Kondisi Perekonomian dan Sektor Unggulan Provinsi Papua Barat Analisis Kontribusi dan Pertumbuhan Perekonomian Provinsi Papua Barat. Kondisi perekonomian Provinsi Papua Barat jika dilihat berdasarkan sektor dapat diketahui bahwa sektor yang mendominasi adalah sektor pertanian, kemudian diikuti oleh sektor penggalian dan pertambangan baru kemudian sektor industri pengolahan. Jika dilihat dari tahun ke tahun, sejak 2003 sampai 2009 nilai PDRB atas dasar konstan sektor perekonomian di Provinsi Jawa Barat selalu meningkat. Hal ini menunjukan adanya pertumbuhan dari tahun ke tahun.
Tabel 1.1 Nilai PDRB Riil Provinsi Papua Barat Periode 2003 – 2009 (juta Rupiah) Berdasarkan Harga Konstan Tahun 2000
Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Jasa-jasa Papua Barat 2003 1,482,969.17 1,019,472.01 566,854.71 18,541.91 326,654.21 435,966.45 278,444.14 69,134.74 429,333.22 4,627,370.56 2004 1,540,906.72 1,045,368.79 690,262.46 20,178.73 347,098.84 466,636.45 306,641.04 90,107.84 462,009.40 4,969,210.27 2005 1,572,562.73 1,101,170.67 747,964.38 22,126.61 389,896.13 508,471.13 345,740.57 96,444.30 522,952.76 5,307,329.28 2006 1,624,296.11 1,081,658.46 751,875.24 24,616.86 440,813.49 561,814.69 397,041.92 94,706.46 572,104.26 5,548,927.49 2007 1,709,046.87 1,087,167.36 813,660.34 26,903.48 498,004.63 616,261.41 440,299.46 118,299.10 624,673.17 5,934,315.82 2008 1,817,444.10 1,098,592.02 872,426.05 29,098.48 572,822.13 670,818.70 473,536.46 150,145.26 684,491.02 6,369,374.22 2009 1,925,841.33 1,110,016.68 931,191.76 31,293.48 647,639.63 725,375.99 506,773.46 181,991.42 744,308.87 6,804,432.62

Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009 Keterangan: * Perhitungan PDRB sampai Triwulan II

Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sektor yang sama diperekonomian yang dijadikan acuan. Pada tabel diperlihatkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat periode 2003 – 2010.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

14

Executive Summary

2010
Selama periode penelitian pertumbuhan daerah Provinsi Papua Barat mengalami peningkatan sebesar 47,05%. Sektor Pertanian dengan rata-rata persentase pertumbuhan sebesar 29,86% memiliki nilai pertumbuhan sebesar Rp. 442.872,16 juta rupiah. Pada sektor Pertambangan dan Penggalian persentase pertumbuhan sektor adalah sebesar 8,88% dengan nilai pertumbuhan sebesar Rp. 90.544,67 juta rupiah. Sektor Industri Pengolahan Popinsi Papua Barat selama periode penelitian memiliki rata-rata persentase pertumbuhan sektor sebesar 64,27% dengan nilai pertumbuhan sebesar Rp. 364.337,05 juta rupiah. Kondisi perekonomian Provinsi Papua Barat digambarkan dengan kondisi PDRB dari Periode Tahun 2003 – 2009 (lihat pada Tabel 1.1). Secara umum kondisi perekonomian setiap wilayah di Provinsi Papua Barat menunjukan pertumbuhan yang positif. Kecuali mulai dari tahun tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat mengalami penurunan, dimana ratarata pertumbuhan pada tahun 2009 sebesar 6,26% turun 0,61% dari rata-rata pertumbuhan tahun 2008 sebesar 6,87%. (lihat Tabel 6.2.). Seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia sebagai dampak dari krisis keuangan global, perekonomian Provinsi Papua Barat pada periode 2008 – 2009 juga mengalami penurunan secara lambat. Hal ini terjadi karena permintaan ekspor beberapa komoditi unggulan seperti dari sektor perikanan, sektor pengolahan, dan sektor pertambangan mengalami penurunan. Tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi tahun 2005 mencapai 14,06%, atau mengalami peningkatan 109% jika dibandingkan dengan periode 2004 (lihat Tabel 1.2). Hal ini terjadi karena nilai ekspor komoditi unggulan mengalami peningkatan.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

15

Executive Summary

2010
Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Periode 2003 – 2009 Berdasarkan Harga Konstan tahun 2000
Kabupaten/Kota Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Fakfak Kota Sorong Papua Barat 2003 236,360.37 85,370.44 317,063.12 676,320.27 155,004.69 1,340,924.76 184,125.22 413,618.93 851,692.31 4,260,480.11 2004 249,387.09 92,163.30 332,295.54 720,891.81 171,880.27 1,414,353.16 195,733.51 429,031.78 941,947.36 4,547,683.82 2005 265,810.41 97,265.77 382,598.67 772,414.91 178,293.65 1,487,781.56 514,105.33 456,400.44 1,032,202.41 5,186,873.14 2006 286,251.40 115,715.81 427,131.74 832,888.41 193,809.28 1,561,809.96 515,244.35 485,549.44 1,122,457.45 5,540,857.84 2007 310,251.71 138,569.69 483,907.34 908,581.61 211,513.71 1,635,838.36 529,366.78 518,795.35 1,212,712.50 5,949,537.05 2008 329,353.59 161,994.55 543,862.72 995,173.58 219,369.65 1,709,866.76 544,195.78 551,407.09 1,302,967.55 6,358,191.27 2009 346,369.19 172,281.20 603,818.10 1,081,765.55 229,535.35 1,783,895.16 559,024.78 586,145.74 1,393,222.60 6,756,057.66

Sumber: BPS, BI Papua Barat. 2010 Tabel 1.3 Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua Barat Periode 2003 – 2009 Berdasarkan Harga Konstan tahun 2000
Kabupaten/Kota Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Fakfak Kota Sorong Papua Barat 2003 2004 5.51% 7.96% 4.80% 6.59% 10.89% 5.48% 6.30% 3.73% 10.60% 6.74% 2005 6.59% 5.54% 15.14% 7.15% 3.73% 5.19% 162.66% 6.38% 9.58% 14.06% 2006 7.69% 18.97% 11.64% 7.83% 8.70% 4.98% 0.22% 6.39% 8.74% 6.82% 2007 8.38% 19.75% 13.29% 9.09% 9.13% 4.74% 2.74% 6.85% 8.04% 7.38% 2008 6.16% 16.90% 12.39% 9.53% 3.71% 4.53% 2.80% 6.29% 7.44% 6.87% 2009 5.17% 6.35% 11.02% 8.70% 4.63% 4.33% 2.72% 6.30% 6.93% 6.26%

Sumber: BPS, BI Papua Barat. 2010

Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat secara umum ditopang oleh kegiatan perekonomian sektor Pertambangan di Kabupaten Sorong, sektor Perdagangan di Kota Sorong dan kegiatan sektor Pertanian di Kabupaten Sorong Selatan (lihat Tabel 1.3.).

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

16

Executive Summary

2010
1.4.2 Analisis LQ Provinsi Papua Barat Periode 2003 - 2009

Sektor unggulan daerah, pada dasarnya dapat memberikan kontribusi yang besar pada daerah, bukan hanya untuk daerah itu sendiri tapi juga untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. Dengan melihat data PDRB maka beberapa sektor unggulan daerah dapat diketahui. Alat analisis Location Quotient (LQ) ini digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif kegiatan ekonomi di Provinsi Papua Barat dengan membandingkannya terhadap Nasional.
Tabel 1.4 Nilai Location Quotient Sektor Ekonomi Di Papua Barat Tahun 2003 Dan 2009
Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Jasa-jasa 2003 2.10 2.07 0.44 0.61 1.24 0.58 1.11 0.17 1.01 2004 2.08 2.18 0.49 0.62 1.20 0.57 1.05 0.20 1.01 2005 2.04 2.20 0.50 0.63 1.24 0.57 1.04 0.20 1.07 2006 2.06 2.14 0.49 0.67 1.31 0.60 1.06 0.19 1.12 2007 2.08 2.10 0.50 0.66 1.35 0.60 1.02 0.21 1.14 2008 2.09 2.09 0.51 0.63 1.43 0.60 0.92 0.25 1.16 2009 2.08 1.97 0.52 0.59 1.48 0.63 0.85 0.28 1.16

Sumber: Papua Barat Dalam Angka 2009 Keterangan: * Perhitungan PDRB sampai Triwulan II

Dari perhitungan LQ tersebut, maka analisis masing-masing sektor ekonomi di Provinsi Papua Barat adalah sebagai berikut: 1. Sektor Pertanian Dari hasil analisis location quotient, sektor pertanian mempunyai potensi yang besar dalam perekonomian Papua Barat selama tahun analisis. Nilai LQ dari sektor pertanian selama tahun analisis selalu lebih dari satu (LQ > 1) ini menunjukan sector pertanian merupakan sector basis dimana sector pertanian Provinsi Papua Barat dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang untuk melakukan ekspor ke daerah lain. Data tahun 2003 – 2009 menunjukkan bahwa sektor pertanian terkonsentrasi pada subsektor Peternakan.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

17

Executive Summary

2010
Hal ini menunjukan sektor pertanian cenderung terspesialisasi pada subsektor peternakan. 2. Sektor pertambangan dan penggalian Sektor pertambangan dan penggalian mempunyai nilai LQ yang besar. Nilai LQ yang besar ini menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor yang potensial bagi perekonomian Provinsi Papua Barat. 3. Sektor Industri Berdasarkan analisis location quotient, sektor industri bukan termasuk dalam sektor yang berpotensi atau sektor basis untuk mendukung perekonomian. Nilai LQ yang ditunjukkan selalu mengalami penurunan. Sektor industri apabila ditinjau dari kontribusi terhadap PDRB menduduki urutan ketiga dengan kontribusi rata sebesar 13,55%. Namun memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang masih rendah dibanding dengan sektor lain. 4. Sektor Listrik, Gas dan Air Berdasarkan analisis location quotient, potensi sektor listrik, gas dan air bersih dalam perekonomian Provinsi Papua Barat selama tahun analisis 2003 sampai tahun 2009 mempunyai nilai LQ yang rendah (LQ < 1), sehingga secara umum sektor ini dapat digolongkan sebagai sektor non basis. Adanya perubahan yang tidak tentu ini tidak menutupi sektor ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Ketersediaan air bersih yang ada di Provinsi Papua Barat kurang mencukupi kebutuhan penduduk, contohnya penyediaan air bersih dari pemerintah. Penyediaan yang dilakukan pemerintah daerah belum maksimal dan pendapatan yang didapat dari sektor ini pun masih rendah besar. 5. Sektor Konstruksi atau bangunan Sektor Bangunan dalam perekonomian Provinsi Papua Barat memiliki kontribusi rata-rata sebesar 8,03% dan menempati urutan kedua dalam pertumbuhan sector dibandingkan dengan sektor-sektor lain dengan persentase sebesar 10,75% . Dari hasil analisis LQ menunjukan sektor bangunan merupakan sektor Basis.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

18

Executive Summary

2010
Kondisi sektor Bangunan sangat jauh berbeda dengan kedua sektor Papua Barat

sebelumnya, angka LQ sektor Bangunan industri di Provinsi

selama periode penelitian selalu lebih besar dari 1 (Tabel.16). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan sektor bangunan selama ini cukup memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat, sekaligus membuktikan bahwa sektor tersebut cukup prospektif untuk

dikembangkan untuk mendukung perekonomian Provinsi Papua Barat, saat ini maupun waktu-waktu yang akan datang. Dengan nilai LQ yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa sektor ini memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun daerah lain, karena dengan nilai LQ yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa sebagian dari output sektor ini juga dikonsumsi oleh penduduk daerah lain. 6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Sektor perdagangan menunjukkan nilai LQ yang kurang prospektif untuk dikembangkan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai LQ yang lebih kecil dari 1 (LQ <1). Meskipun lebih kecil dari 1, akan tetapi nilai LQ sektor ini sedikit demi sedikit mulai menunjukkan trend peningkatan (Tabel.16). Kalau tahun 2008 nilai LQ sektor Perdagangan, Hotel dan Restauran baru sekitar 0. 60, akan tetapi angka tersebut kemudian meningkat terus pada tahun 2009, dengan angka LQ sektor perdagangan sudah mencapai 0.63. Dengan angka LQ yang lebih kecil dari 1 menunjukkan bahwa perkembangan sektor perdagangan di Provinsi Papua Barat masih banyak tergantung pada perkembangan sektor perdagangan di Provinsi (Nasional), karena kebutuhan masyarakat akan output sektor perdagangan masih lebih tinggi dibandingkan kemampuan sektor perdagangan dalam menyediakan kebutuhan output sektor perdagangan. 7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Perkembangan sektor transportasi menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Penurunan output sektor transportasi secara langsung mempengaruhi

pergerakan angka LQ-nya hingga menjadi lebih rendah, tahun 2003 angka LQ masih bergerak di posisi 1,.1105, angka tersebut kemudian menurun terus, dan tahun 2009 angka LQ Provinsi Papua Barat sudah mencapai 0.85. Angka LQ yang semakin menurun menunjukkan bahwa sektor transportasi mengalami
Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

19

Executive Summary

2010
pertumbuhan yang stagnan di Provinsi Papua Barat, Dengan angka LQ yang lebih kecil dari 1 menunjukkan sektor transportasi di Provinsi Papua Barat masih sangat tergantung pada perkembangan sektor transportasi dari daerah lain, dan untuk semakin meningkatkan prospektifitas sektor ini segala potensi daerah Provinsi Papua Barat harus dikerahkan. 8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Nilai LQ sektor keuangan menunjukkan nilai yang tidak prospektif untuk dikembangkan. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh nilai LQ sektor keuangan yang selalu dibawah 1. Dengan nilai LQ yang lebih kecil dari 1 menunjukkan bahwa output jasa industri keuangan masih belum cukup memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk industri keuangan di Provinsi Papua Barat. Oleh karena itu, tingkat ketergantungan masyarakat Papua Barat terhadap sektor keuangan masih sangat tinggi, bahkan ketergantungan akan produk yang sama dari daerah lain masih sangat tinggi. Angka LQ sektor keuangan di Provinsi Papua Barat bahkan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2003 nilai LQ sektor keuangan masih sekitar 0.17, angka tersebut meningkat tajam, tahun 2009 nilainya tinggal 0.28. 9. Sektor Jasa-jasa Nilai LQ sektor jasa menunjukkan peningkatan. Tahun 2003 nilai LQ mencapai angka 1.01, angka tersebut teruys mengalami peningkatan hingga pada tahun 2009 mencapai 1.16. Dengan nilai LQ sektor Jasa-jasa yang lebih besar dari 1 tersebut menunjukkan bahwa sektor Jasa-jasa di Provinsi Papua Barat prospektif untuk dikembangkan di tahun-tahun selanjutnya. Sektor unggulan daerah pada dasarnya dapat memberikan kontribusi besar baik bagi daerah itu sendiri dan juga untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. Dengan melihat data PDRB maka beberapa sektor unggulan daerah dapat diketahui. Alat analisis Location Quotient (LQ) ini digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif kegiatan ekonomi di Provinsi Papua Barat dengan

membandingkannya terhadap kegiatan ekonomi nasional dan regional. Secara lengkap gambaran hasil perhitungan nilai LQ Kumulatif tahun 2003-2009 dan hasil identifikasinya dapat dilihat pada Tabel 1.5. Hasil perhitungan
Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

20

Executive Summary

2010
menunjukan setiap nilai kumulatif LQ dan identifikasi potensi daerah sangat

beragam di setiap kabupaten dan kota Provinsi Papua Barat. Keragaman itu menunjukkan bahwa potensi sektor ekonomi tiap kabupaten berbeda-beda.
Tabel 1.5 Nilai LQ Kumulatif tahun 2003 – 2009 Kabupaten dan Kota di Provinsi Papua Barat
Keuangan, Persewaan, dan Jasa Pertambangan dan Penggalian

Listrik, Gas, dan Air Minum

Angkutan dan Komunikasi

Industri Pengolahan

Perdagangan

Bangunan

Pertanian

Identifikasi

Identifikasi

Identifikasi

Identifikasi

Identifikasi

Identifikasi

Identifikasi

Identifikasi

Jasa-jasa LQ 1,96 2.01 0.33 0.01 1.46 0.12 1.02 0.52 1.51 1,10

kabupaten/ Kota

LQ

LQ

LQ

LQ

LQ

LQ

LQ

Fakfak 1,1 Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat 1.28 Kota Sorong Provinsi Papua Barat 0.53 2,08 0.43 2.81 2.36 0.96 2.44 1.02

1 0,08 2 1 1 1 1 2 4 0.01 4 3 0.07 2,11 0.07 0.02 0.75 0.44 0.04 0.95

4 0,64 4 4 4 4 4 2 2 0.02 4 3 1.00 0,49 1.11 0.04 0.63 0.13 0.05 0.98

4 1,51 1 2 4 2 2 3 3 0.08 3 4 2.26 0,63 1.30 0.02 6.53 1.16 1.45 1.54

1 1,72 3 2 1 1 3 4 4 0.38 3 4 1.16 1,32 2.13 0.52 0.18 1.59 0.81 1.04

3 1,29 3 4 4 1 2 3 3 0.21 3 3 2.41 0,59 2.00 0.58 0.12 1.10 0.92

3 1,28 3 4 4 1 2 2 2 0.17 1 4 2.27 1,01 1.47 0.18 0.13 2.81 1.46 1.11

1 1,39 1 4 4 1 3 4 4 0.05 1 2 2.32 0,21 1.50 0.68 0.35 1.18 4.33 1.01

LQ

3 1 3 2 1 3 3 3 3 4

Sumber: Hasil perhitungan PDRB Papua Barat. 2009 Keterangan:
1 2 3 4 = = = = Tidak ada keunggulan, tetapi ada spesialisasi Tidak keunggulan dan tidak ada spesialiasasi Ada keunggulan , tetapi tidak memiliki spesialisasi Ada keunggulan , dan memiliki spesialisasi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

21

Identifikasi 3 1 4 4 1 4 4 4 1 3

Executive Summary

2010
Tabel 1.6 Hasil Analisis Shift Share Esteban-Marquilas Terhadap Alokasi (Aij) Agregat Sektoral PDRB Di Provinsi Papua Barat Periode 1990-2001

Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Minum Bangunan Perdagangan Angkutan Komunikasi Keuangan, Persewaan, Jasa Jasa-jasa dan dan

C'ij

Eij - E'ij (777,680.46) (527,727.78) 729,239.58 11,822.30 (63,706.81)

rij - rin 6.58% 1.50% 35.34% 3.93% 41.85%

aij (Efek Alokasi) (511.37) (79.18) 2,577.45 4.65 (266.59)

Identifikasi 3 Ada keunggulan , tetapi tidak memiliki spesialisasi 3 Ada keunggulan , tetapi tidak memiliki spesialisasi 4 tidak ada keunggulan, tetapi ada spesialisasi 4 tidak ada keunggulan, tetapi ada spesialisasi 3 Ada keunggulan , tetapi tidak memiliki spesialisasi 4 tidak ada keunggulan, tetapi ada spesialisasi 2 Tidak keunggulan dan tidak ada spesialiasasi 4 tidak ada keunggulan, tetapi ada spesialisasi 3 Ada keunggulan , tetapi tidak memiliki spesialisasi

46,377.18 7,377.98 458,095.50 1,193.28 110,035.77 172,641.52 (106,028.11) 471,464.04 312,334.38

316,644.79 (27,712.02) 342,719.12 (3,600.23)

22.94% -42.29% 114.47%

726.35 117.19 3,923.23

73.36%

(26.41)

Sumber: Badan Pusat Statistik Papua Barat (beberapa edisi). Hasil Pengolahan Data Keterangan: Ej = Total PDRB Provinsi Papua Barat Tahun Dasar (2000) Ein = Nilai PDRB Per Sektor Indonesia Tahun Dasar (2000) En = Total PDRB Indonesia Tahun Dasar (1990) E’ij = Nilai output sektoral

Dari Tabel.1.6. dapat dijelaskan beberapa hal berkaitan dengan spesialisasi sektoral, sektor ekonomi di Provinsi Papua Barat yang memiliki pengaruh persaingan positif (ditunjukkan oleh nilai C’ij adalah sektor ekonomi yang memiliki nilai C’ij positif (+). Implikasinya adalah sektor tersebut dapat memenangkan persaingan dengan sektor sejenis di daerah lain dalam regional yang sama (di Indonesia). Selama periode 2003 - 2009 semua sektor ekonomi Provinsi Papua Barat kecuali sektor Pengangkutan & Telekomunikasi memiliki pengaruh positif; sektor pertanian (dengan nilai 46.377,18), sektor pertambangan (7.377,98), sektor industri pengolahan (458.095,50), sektor listrik, Gas dan Air Bersih (1.193,28), sektor bangunan (110.035,77), sektor perdagangan (172.641,52), sektor Keuangan & Jasa Perusahaan (471.464,04) dan sektor Jasa-jasa dengan nilai 312.334,38.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

22

Executive Summary

2010
Keunggulan yang dimiliki Provinsi Papua Barat adalah Sektor Pertanian, Sektor Pertambangan, Sektor Industri Pengolahan, Sektor Listrik, Sektor Bangunan, Sektor Perdagangan, Sektor Pengangkutan dan Sektor jasa-jasa Sedangkan spesialisasi yang dimiliki Provinsi Papua Barat adalah: sektor Industri Pengolahan, sektor Listrik, Gas & Air Bersih, sektor Perdagangan, dan sektor Keuangan, Persewaaan & Jasa. Spesialisasi tersebut didasarkan atas nilai Eij (nilai output sektoral nyata) yang lebih besar dibandingkan nilai output sektoral yang diharapkan (E’ij). Sedangkan 1 (satu) sektor ekonomi yang lainnya tidak memiliki spesialisasi dalam pengembangan output sektoral, karena nilai output sektoral nyata yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai output sektoral yang diharapkan. Sektor-sektor tersebut adalah adalah sektor Pengangkutan & Komunikasi, karena nilai output sektoral yang nyata (Eij) terbukti lebih kecil dibandingkan nilai output sektoral yang diharapkan (E’ij). Deskripsi dari tidak adanya spesialisasi tersebut ditunjukkan oleh nilai (Eij – E’ij) yang negatif. 1.5 Analisis Iklim Investasi di Provinsi Papua Barat

Sebagaimana disadari bahwa dalam kegiatan penanaman modal selalu terkait dengan kemungkinan terjadinya resiko yang dapat mengakibatkan berkurangnya atau bahkan hilangnya nilai modal. Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan penanaman modal perlu dipertimbangkan faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhinya, sehingga selain diharapkan dapat menghasilkan keuntungan yang optimal juga dapat meminimalkan kerugian. Di era tahun tujuh puluhan, motivasi investor asing untuk berinvestasi di berbagai kawasan adalah memperoleh sumber daya alam dan memproduksi dari lokasi yang lebih murah. Namun pada era tahun delapan puluhan, motivasi relokasi menjadi lebih penting. Hal ini disebabkan. Karena biaya produksi tingggi. Lebih penting lagi perusahaan-perusahaan semakin telah

transnasional

mengglobal, lalu para investor mulai menciptakan jaringan produksi antar berbagai lokasi berdasarkan sumber daya alam dan tenaga kerja serta kapabilitas teknologi, proses produksi yang dapat dibagi antarlokasi yang berbeda. Jaringan produksi dibentuk umumnya merupakan produk akhir yang diekspor ke negara lain. Pola tersebut telah menciptakan kaitan antara

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

23

Executive Summary

2010
perdagangan dan investasi di berbagai kawasan dan merupakan tuntutan proses integrasi yang didorong oleh tuntutan pasar.14 Sementara itu selama bertahun-tahun paradigma yang dianut oleh para praktisi pembangunan di Indonesia bahwa Indonesia kaya akan sumber daya alam (natural resources) dan tenaga kerja (man power) yang murah. Pandangan tersebut perlu dirumuskan kembali agar mampu menarik investor. Begitu pula di Provinsi Papua Barat masih terdapat paradigma bahwa dengan memiliki sumber daya alam yang melimpah, maka para investor akan datang dengan sendirinya. Padahal melihat kecenderungan global saat ini, sumber daya alam bukan satusatunya faktor utama yang diperhatikan oleh investor sebagaimana dikemukakan diatas. Integrasi antara ketersediaan sumber daya alam, tenaga kerja, kapabilitas teknologi, dan proses produksi antarawilayah merupakan faktor utama yang diperhatikan para investor. Memperhatikan apa yang menjadi kecenderungan global yang penuh kompetisi saat ini, maka sangat penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap investasi dan bagaimana proses integrasi dari berbagai faktor tersebut telah terlaksana di setiap wilayah di Provinsi Papua Barat. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi variabel sumber

daya alam, sumber daya manusia, budaya, ekonomi, keuangan, infrastruktur, keamanan, dan kelembagaan. Analisis dilakukan dengan basis data-data sekunder yang diperkuat oleh data primer. Data primer mencerminkan penilaian dari responden akan kondisi wilayah studi. Penilaian dilakukan dengan memberi skor 1-5 untuk kondisi buruk sampai sangat baik. Hasilnya kemudian dirata-ratakan. Untuk data sekunder agar bisa dijumlahkan satu sama lainnya, maka dilakukan standardisasi menggunakan z-score. Angka z-score negatif memiliki arti bahwa nilainya berada dibawah rata-rata/nilai tengah. Semakin mendekati 0 berarti nilainya semakin mendekati rata-rata/nilai tengah. Selanjutnya guna mendapatkan skor masingmasing variabel dalam proses perhitungannya digunakan variabel pengali berdasarkan skor tingkat pengaruh berdasarkan responden investor dan pemerintah (lihat Tabel 1.4.).
14

Lihat Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI, Op.Cit. Hlm.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

24

Executive Summary

2010
Tabel 1.7 Skor Variabel Pengali Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Investasi No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Keamanan Pajak dan Pabean Kelembagaan Budaya Hukum Spasial dan lingkungan Sumber Daya Alam Ekonomi Infrastruktur Sumber Daya Manusia Variabel Bobot 4,611111 4,555556 4,497475 4,479167 4,416667 4,305556 4,287768 4,260417 4,168768 4,142857

Sumber : Data Sekunder dan Primer Yang Telah Diolah, Agustus 2010

Hasil perhitungan menunjukan bahwa ke sepuluh variabel merupakan faktorfaktor terpenting yang dipertimbangkan oleh pelaku usaha dalam berinvestasi di Provinsi Papua Barat. Dari pengukuran dapat dilihat bobot tertinggi ditunjukan oleh variabel keamanan. Hal ini menunjukan bahwa suasana kondusif dan aman dalam kegiatan berusaha merupakan faktor utama yang harus diperhatikan agar kegiatan investasi semakin meningkat di Provinsi Papua Barat. Berdasakan hasil perankingan skor variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kegiatan investasi di seluruh Provinsi Papua Barat, didapatkan hasil skor seperti yang tercantum di Tabel 1.6. Hasil analisis skoring setiap variabel yang berpengaruh terhadap kegiatan investasi, menunjukan Kabupaten Manokwari secara signifikan menempati peringkat pertama dengan total skor 4,41. Disusul oleh Kota Sorong pada peringkat kedua dengan total skor 3,72 dan pada posisi ketiga ditempati oleh Kabupaten Sorong dengan total skor 2,59. Sedangkan untuk tiga peringkat terbawah ditempati oleh Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, dan Teluk Wondama. Kabupaten Sorong Selatan menempati posisi ke tujuh dengan perolehan skor total -1,54, kemudian Kabupaten Raja Ampat dengan total skor -3,47 dan posisi terakhir ditempati oleh Kabupaten Teluk Wondama dengan total skor -4,42.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

25

Executive Summary

2010
Tabel 1.8 Hasil Rekapitulasi Analisis Skoring Variabel Investasi di Setiap Wilayah Provinsi Papua Barat
Rank 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kota/Kabupaten Manokwari Kota Sorong Sorong Kaimana Teluk Bintuni Fak-fak Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Wondama SDA 2,42 0,46 0,28 -0,22 -0,05 -0,09 -0,90 -0,65 -1,24 SDM 1,65 1,54 0,86 -0,72 -0,84 -0,39 -0,25 -0,80 -1,04 BUDAYA 1,39 -0,05 -0,23 2,09 -0,79 0,05 -0,79 -0,87 -0,79 EKONOMI -0,52 0,67 1,27 -1,31 1,43 -1,42 0,68 -0,16 -0,63 KEUANGAN -2,19 -0,07 -0,35 0,75 0,75 0,75 0,75 -1,13 0,75 INFRA 1,66 1,16 0,76 -0,06 -1,07 -0,11 -1,02 0,13 -1,45 KEAMANAN 0,94 0,87 -0,94 0,02 0,22 1,87 -0,99 -0,99 -0,99 LEMBAGA -1,24 -1,46 -1,21 0,85 -0,12 0,53 0,65 1,46 0,53 Total 4,41 3,72 2,59 0,52 -0,58 -1,22 -1,54 -3,47 -4,42

Sumber : Data Sekunder dan Primer Yang Telah Diolah, Agustus 2010

Analisis skoring variabel investasi seperti di Tabel 1.8 menggambarkan skoring total dari variabel-variabel yang berpengaruh terhadap investasi, yaitu sumber daya alam, sumber daya manusia, kondisi budaya, kondisi ekonomi, kondisi keuangan, kondisi infrastruktur, kondisi keamanan, dan kondisi kelembagaan. Berdasarkan rekapitulasi tersebut maka didapatkan gambaran mengenai kondisi masing-masing daerah. Sektor unggulan di Provinsi Papua Barat terdapat pada lima sektor, yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, sektor jasa dan sektor keuangan. Sektor ini merupakan sektorsektor ekonomi yang dianggap dominan dan sesuai di Provinsi Papua Barat. Banyak sekali informasi yang dapat diperoleh melalui matriks rekapitulasi ini, mulai dari sektor unggulan, kebutyuhan investasi hingga kekuatan dan kelemahan suatu daerah.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

26

Executive Summary
Tabel 1.9 Rekapitulasi Hasil Analisis Sektor Unggulan dan Iklim Investasi di Provinsi Papua Barat
SEKTOR DAN SUB SEKTOR SERTA PRODUK DOMINAN POTENSIAL Skenario Investasi (dalam milyar) KEKUATAN DAN KELEMAHAN Kekuatan Sub sektor Produk Sektor Produk Modera t Optimis Variabel Rank Kelemahan Variabel SDA Teluk Wondama Tanaman bahan makanan kelapa sawit, coklat SDM 127,3 267,7 Keuangan 1 Ekonomi Infrastruktur Keamanan Ubi kayu, jagung, padi,kacang kedelai,kacang tanah, kacang hijau Listrik, Gas dan Air Minum, Kehutanan, Perkebunan , Perikanan kelapa sawit, udang, ikan laut, lobster padi sawah, padai ladang, jagung, ubi kayubi jalar, kacang tanah, kedelai, kacang hijau, kelapa sawit, coklat kelapa Ekonomi 471,1 1.075,0 0 Keuangan SDA SDM Budaya 397,3 1.198,0 0 Infrastruktur 1 1 1 1 2 1 SDM Infrastruktur keuangan lembaga Rank 9 9 7 9 7 8 8 9 8

2010

aKabupaten
Sektor 2003

LQ 2009

Shift-share Unggul Speialisasi

Pertanian

2,66

3

Ada

tidak ada

Ubi kayu, jagung

Perkebunan

Teluk Bintuni

Pertanian

2,3

2,32

Ada

tidak ada

Tanaman bahan makanan

Manokwari

Jasa-jasa

2,27

13,4 3

Ada

tidak ada

Hiburan & Rekreasi

Wisata alam & wisata budaya

Tanaman Bahan Makanan, Perkebunan

Keamanan

2

Sorong

Pertanian

2,15

2,61

ada

tidak ada

Tanaman Bahan

padi, jagung, ubi

Perkebunan

99,1

1.300,0

Ekonomi

3

SDA

8

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

1-27

Executive Summary

2010
aKabupaten
Sektor 2003 selatan LQ 2009

SEKTOR DAN SUB SEKTOR SERTA PRODUK DOMINAN Shift-share Unggul Speialisasi Sub sektor Produk Sektor Produk Modera t Optimis 0 POTENSIAL Skenario Investasi (dalam milyar)

KEKUATAN DAN KELEMAHAN Kekuatan Variabel Keuangan Lembaga Rank 1 3 3 3 2 Kelemahan Variabel Infrastruktur keamanan keuangan kelembagaan Rank 7 7 7 7

makanan

kayu dan kedelai

sawit, coklat padi sawah, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai. kelapa sawit, kelapa coklat, ayam petelur, ayam pedaging, ayam kampung, ayam ras, itik. kelapa sawit, kelapa, coklat, ikan teri

SDA SDM Ekonomi

Sorong

Industri Pengolahan

1,63

2,11

Ada

tidak ada

Industri tanpa migas

pengolahan kelapa sawit, kelapa, kakao,pengolaha n kayu, pengolahan hasil laut

Tanaman Bahan Makanan, Perkebunan , Peternakan, Kehutanan

462,3

515,4 Infrastruktur 3

SDA Rekreasi & Hiburan Wisata alam & wisata budaya Perkebunan , kehutanan, perikanan SDM 414,1 703,3 lembaga 1 Budaya keuangan keamanan Fakfak Perdagangan 1,22 1,36 ada tidak ada Perdagangan besar & eceran Perdagangan produk pertanian, Perikanan, Perkebunan , Kehutanan ikan tenggiri, ikan kakap 705, 50 3.100,0 0 Budaya keuangan 3 1 ekonomi

7 7 9 8 7 9

Raja Ampat

Jasa

0,27

1,14

Ada

ada

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

1-28

Executive Summary

2010
aKabupaten
Sektor 2003 LQ 2009

SEKTOR DAN SUB SEKTOR SERTA PRODUK DOMINAN Shift-share Unggul Speialisasi Sub sektor Produk Sektor Produk Modera t Optimis POTENSIAL Skenario Investasi (dalam milyar)

KEKUATAN DAN KELEMAHAN Kekuatan Variabel Rank Kelemahan Variabel Rank

pertambangan dan penggalian, industri pengolahan Jasa Penyediaan BBM, Air Bersih, dan Penunjang Angkutan Udara Catering, Cargo, Suplai BBM dan Air Bersih Kehutanan, Perkebunan , Perikanan

putih, kelapa sawit kelapa sawit, kelapa, ikan tenggiri, ikan kakap putih. Pengolaha n ikan teri, ikan cakalang, ikan tenggiri, ikan madidhang , ikan kakap putih.

keamanan budaya 116, 20 357,5 keuangan lembaga

1 1 1 2 ekonomi 8

Kaimana

Keuangan

1,58

1,65

Ada

tidak ada

SDA SDM 797, 10 2.300,0 0 Infrastruktur

2 2 2 kelembagaan 9

Kota Sorong

Keuangan

0,59

2,3

Ada

ada

bank & lembaga keuangan

Jasa Perbankan

Industri Pengolahan Ikan

Keamanan

3

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

1-29

Executive Summary

2010
Hasil analisa kondisi perekonomian wilayah dan iklim investasi menunjukan bahwa Provinsi Papua Barat memiliki sejumlah daya tarik investasi di berbagai sektor dengan berbagai komoditi unggulan. Namun masih terjadi sejumlah permasalahan yang akan menghambat kegiatan investasi. Untuk itu diperlukan suatu strategi investasi yang tepat dan komprehensif agar kegiatan investasi dapat terlaksana dengan baik. Untuk maksud tersebut tentunya diperlukan suatu alat bantu berupa metode atau analisis yang dapat memberikan suatu rujukan teoritis dalam menggambarkan situasi dan kondisi Provinsi Papua Barat. Salah satu metode atau analisis yang dianggap valid dan reliabel memberikan bantuan untuk memahami situasi dan kondisi Provinsi Papua Barat adalah melakukan telaahan tentang environmental scanning Provinsi Papua Barat, yaitu kegiatan pengamatan dan identifikasi secara cermat lingkungan strategis untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai kondisi suatu organisasi atau daerah tertentu sebagai dasar mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menyikapi posisi dan isu strategis dimaksud. Salah satu aplikasi dari analisis environmental scanning adalah menerapkan metode SWOT yaitu analisis terhadap lingkungan internal baik kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weaknesses), serta lingkungan eksternal baik peluang (Opportunities) dan ancaman (Threaths) dari suatu lingkungan tertentu. Alat analisis lain yang digunakan adalah analisis stakeholder, mengetahui pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan sistem hubungan sosial dalam pelaksanaan investasi. 1.6 Analisa SWOT Analisis SWOT terhadap wilayah Provinsi Papua Barat secara umum dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut : 1. Melakukan identifikasi lingkungan internal dan eksternal wilayah Provinsi Papua Barat, khususnya terkait dengan kondisi lingkungan kegiatan investasi. 2. Pemetaan Interaksi dan Issue Strategis lingkungan internal dan eksternal Provinsi Papua Barat, khususnya terkait dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat 3. Pemetaan Posisi Wilayah Provinsi Papua Barat 4. Penentuan Strategi.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

30

Executive Summary

2010

Gambaran proses penyusunan strategi investasi dapat dilihat pada Gambar 1.1

VISI

Analisis Lingkungan Eksternal

MISI

Analisa SWOT

Rumusan Tujuan

Rumusan Strategi

Program

Pelaksanaan

Analisis Lingkungan Internal Umpan Balik

Gambar1.1.1 Proses Penyusunan Strategi Investasi di Provinsi Papua Barat

Proses Analisa SWOT untuk penyusunan strategi investasi di Provinsi Papua Barat didasarkan pada analisa kondisi lingkungan internal dan eksternal terkait dengan aspek yang berkaitan dengan : a) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan investasi. Untuk aspekaspek yang terkait dengan investasi mencakup analisis kondisi lingkungan internal dan eksternal terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap iklim investasi yaitu : 1. 2. 3. 4. Sumber Daya Alam Sumber Daya Manusia/Tenaga Kerja Infrastruktur Fisik Kelembagaan (kepastian hukum, aparatur, kebijakan daerah, kepemimpinan lokal) 5. 6. Keamanan, Politik dan Sosial Budaya Ekonomi Daerah (Pendapatan Per Kapita, Struktur Ekonomi)

b) Kondisi sektor basis Provinsi Papua Barat yang akan dijadikan sektor unggulan dalam kegiatan investasi. Untuk sektor basis mencakup analisis kondisi lingkungan dan eksternal dari sektor unggulan di Provinsi Papua
Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

31

Executive Summary

2010
Barat yaitu : sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor

infrastruktur, sektor perdagangan, sektor jasa-jasa, sektor listrik, gas dan air minum, sektor keuangan persewaan dan jasa, dan sektor angkutan dan komunikasi. 1.7 Analisis Stakeholders Analisis stakeholder memiliki kegunaan untuk memahami kompleksitas dan kompabilitas permasalahan antara tujuan dan stakeholder. Analisis ini digunakan dengan cara mengidentifikasi aktor kunci atau stakeholder dan menilai kepentingan masing-masing stakeholder di dalam sistem. Analisis stakeholder yang dilakukan adalah analisis untuk memahami hubungan sosial, institusi dalam penanaman modal serta investasi di daerah, terutama di Provinsi Papua Barat. Dengan adanya analisis stakeholder, maka dapat diketahui pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan bagaimana sistem hubungan sosial dalam

pelaksanaan investasi.
Gambar 1.2 Skema Analisis Stakeholder

Hasil analisa stakeholders menunjukan terjadinya berbagai dampak negatif dan permasalahan terkait hak ulayat dengan adanya kegiatan investasi di Provinsi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

32

Executive Summary

2010
Papua Barat. Kondisi ini menuntut dilakukannya analisis lebih lanjut terhadap akar permasalahannya. Kegiatan investasi yang belum dilaksanakan secara terintegrasi oleh para investor merupakan kekuatan distributif (distributive power)15 yang dijalankan investor tanpa mendapat kekuatan penyeimbang dari stakeholder lainnya yaitu Pemerintah Daerah dan masyarakat lokal. Pada saat ini kekuatan penyeimbang belum berfungsi karena lemahnya fungsi kontrol pemerintah dan rendahnya partisipasi masyarakat terhadap setiap kegiatan investasi. Artinya belum dicapai suatu pemahaman bersama diantara stakeholders terhadap fungsi sumber daya alam yang terkait dengan

keberadaan hak ulayat dan terganggunya kondisi lingkungan oleh adanya eksploitasi alam dari berbagai kegiatan investasi, serta belum terjadinya kesepakatan kolektif diantara stakeholders terhadap program pengelolaannya (lihat Gambar 1.3).

Kegiatan Investasi Belum Terintegrasi

Sumber Daya Alam Terkait Hak Ulayat dan Lingkungan Terganggu

Kontrol Pemerintah Daerah Lemah

Partisipasi Masyarakat Rendah

Gambar 1.3 Hubungan Prasinergis Stakeholders

15

Talcot Parson membedakan kekuasaan menjadi dua dimensi, yaitu distributif dan generatif. Dimensi distributif kekuasaan diartikan sebagai kemampuan seseorang atau kelompok untuk memasksakan kehendak pada orang lain. Sedangkan dimensi generatif keuasaan merupakan tindakan-tindakan yang memungkinkan masyarakat atau unit sosial untuk meningkatkan kemampuannya untuk mengubah masa depan meraka atas plihan mereka sendiri. Lihat Tulisan AMW Pranaka dan Vidhyandika Moeljarto mengenai pemberdayaan ( empowerment) dalam pemebrdayaan : Konsep, Kebijakan dan Implementasi, CSIS Jakarta hal 64. Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

33

Executive Summary

2010

Agar sumber daya alam dapat terkelola dengan baik, keberadaan hak ulayat dapat tetap terjamin, dan lingkungan tidak terganggu oleh berbagai kegiatan investasi, maka perlu dirumuskan suatu strategi investasi yang berbasis pada keterbatasan sumber daya alam dan keberadaan hak ulayat secara

berkelanjutan. Strategi investasi dapat dilaksanakan apabila setiap stakeholder dapat menjalankan status peran yang diembannya dalam kegiatan investasi, yaitu :

a) Berfungsinya kontrol pemerintah daerah terhadap berbagai kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat. b) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam setiap proses kegiatan investasi. c) Terintegrasinya kegiatan investasi oleh setiap investor yang telah ditetapkan oleh Pemda Provinsi Papua Barat dan keberadaan hak ulayat di masyarakat. d) Terciptanya suatu kesepakatan kolektif diantara stakeholders terhadap tujuan bersama yang akan dilaksanakan16.

Status peran yang harus dijalankan stakeholders merupakan fungsi adaptasi dari persyaratan fungsional yang perlu dilaksanakan di awal kegiatan strategi investasi. Pada strategi investasi selanjutnya harus memuat empat persyaratan fungsional Pola AGIL Talcot Parson – Samuel Smelser. Pendekatan AGIL Parson-Smelser membutuhkan digunakan karena strategi investasi suatu pendekatan yang mampu yang dilaksanakan setiap

menjembatani

permasalahan yang dihadapi pada pelaksanaan kegiatan investasi baik bersifat makro maupun mikro.

Strategi investasi di Provinsi Papua Barat harus disusun berdasarkan hubungan sinergi17 diantara stakeholders, yaitu institusi Pemerintah Daerah

16

Menurut istilah Talcot Parson terciptanya kekuasaaan yang berdimensi generatif pada stakeholders 17 Ruth Benedict mengkonsepsikan Sinergi sebagai kondisi ideal yang ingin dicapai ( good society). Menurutnya sinergi berarti winwin solution antara individu dengan individu, antara individu Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

34

Executive Summary

2010
(Provinsi/Kabupaten), investor, dan masyarakat18 agar tercipta kondisi

equilibrium diantara ketiganya.

Kegiatan Investasi Terintegrasi

Tujuan Bersama Dalam Kegiatan Investasi Berbasis Sumber Daya Alam dan Hak Ulayat di Masyarakat

Kontrol Pemerintah Daerah Berjalan Kesepakatan Kolektif
Gambar 1.4 Hubungan Sinergis Stakeholders

Partisipasi Masyarakat Meningkat

Menurut Parsons kondisi equilbrium dapat terlaksana sepanjang ketiga struktur institusional diatas mampu membentuk sistem besar dalam suatu komunitas dan melahirkan interelasi pola institusional yang terintegrasi. Meskipun di satu sisi masing-masing aktor dapat dilihat sebagai suatu sistem yang menghadapi masalah adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola laten sendiri (lihat Tabel 1.10). Pola tersebut dapat digunakan sebagai bahan masukan strategi investasi serta penanganan dampak negatif yang terjadi dari kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat.

dengan organisasi, dan antara individu dengan masyarakat (society). Menurutnya pula di dalam suatu masyarakat yang berkembang (flourish) ada masyarakat yang sinergi. 18 Untuk institusi yang mewakili masyarakat bisa terwakili oleh lembaga adat. Di masyarakat Papua secara umum lembaga adat memegang peranan penting dalam menangani permasalahan adat, khususnya mengenai hak ulayat. Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

35

Executive Summary

2010
Tabel 1.10 Interelasi Pola Institusional Stakeholders Yang Terintegrasi

Struktur Institusonal Persyaratan Fungsional Adaptation

Pemerintah

Investor

Masyarakat

Goal Attainment

a) Kebijakan Investasi harus memperhatikan permasalahan dan kebutuhan masyarakat, lingkungan fisik, sistem budaya dan organisme perilaku masyarakat b) Menetapkan kebijakan pembangunan sosial dalam setiap rencana kegiatan investasi c) Menetapkan kebijakan investasi yang disesuaikan dengan sumber daya alam yang terbatas dan keberadaan hak ulayat d) Membuat kebijakan investasi yang terintegrasi dengan lingkungan ekonomi, sosial, budaya masyarakat Orientasi Pertumbuhan Ekonomi dan PAD. Orientasi ini harus diselaraskan dengan tujuan bersama pada strategi investasi

a) Perencanaan investasi harus memperhatikan lingkungan fisik, sistem budaya, norma-norma yang berlaku di masyarakat b) Menyesuaikan setiap rencana investasi dengan kondisi sumber daya alam yang terbatas dan keberadaan hak ulayat c) Mengintegrasikan setiap rencana investasi dengan kebijakan Pemerintah Daerah dan keberadaan hak ulayat

a) Kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan yang terjadi dengan adanya berbagai kegiatan investasi, baik dari sistem budaya dan norma sosial yang dianut, lingkungan fisik, dan organisme perilaku masyarakat. b) Kemampuan mencari alternatif solusi dari setiap perubahan yang terjadi dari kegiatan investasi c) Memilik kekuatan mengorganisasi diri (self organizing) agar tercapai bargaining power dengan pelaku ekonomi lainnya

Maksimalisasi keuntungan. Orientasi ini harus diselaraskan dengan tujuan bersama pada strategi investasi

Integration

a) Melakukan

a) Melakukan

a) Kesejahteraan masyarakat meningkat b) Lingkungan yang terpelihara c) Sistem budaya dan norma perilaku terpelihara d) Hak ulayat diakui dan diterima sebagai modal investasi Orientasi tersebut harus diselaraskan dengan tujuan bersama pada strategi investasi a) Kemampuan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

36

Executive Summary

2010

Struktur Institusonal Persyaratan Fungsional

Pemerintah

Investor

Masyarakat

Lattent Pattent Maintenance

pengawasan terhadap setiap kegiatan investasi yang dilaksanakan di setiap wilayah di Provinsi Papua Barat b) Menjalin hubungan kerjasama sinergis dengan masyarakat dan investor di Provinsi Papua Barat dalam setiap program investasi Mendorong, mendukung, dan memfasilitasi dipertahankannya pola interaksi dan kerjasama antara Pemerintah Daerah, Investor dan masyarakat dalam jangka panjang

pengawasan terhadap setiap beroperasinya kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat b) Menjalin kerjasama sinergis dengan masyarakat dan Pemerintah Daerah di Provinsi Papua Barat dalam setiap program investasi yang dilaksanakan a) Senantiasa melakukan kerjasama dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan masyarakat agar kegiatan investasi dapat memberikan manfaat bagi kegiatan pembangunan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal b) Ikut memfasilitasi berbagai kegiatan yang dapat mendukung dan memperkuat interaksi antara Pemerintah Daerah, Investor dan masyarakat

melakukan kontrol sosial terhadap setiap kegiatan investasi b) Kemampuan untuk membentuk solidaritas sosial dan kesediaan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan Investor agar tujuan kolektif tercapai. Senantiasa menciptakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung dan memperkuat pola interaksi antara Pemerintah Daerah, Investor, dan masyarakat

Sumber: Hasil analisis 2010

1.8

Konsep Strategi Kebijakan Investasi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Community Based Development) dengan Pendekatan Cooperative Management

Hasil analisis sektor, analisis potensi, dan stakeholders menunjukan, bahwa potensi utama yang dimiliki Provinsi Papua Barat dalam menunjang kegiatan investasi adalah adanya potensi sumber daya alam yang melimpah. Untuk itu

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

37

Executive Summary

2010
diperlukan suatu pengelolaan sumber daya alam secara terpadu dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam kegiatan investasi, terutama pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha agar setiap kegiatan investasi tidak bertentangan dengan ketentuan pembangunan berwawasan lingkungan.

Konsep dasar yang cukup penting sebagai landasan dalam pengelolaan sumber daya alam adalah Konsep Optimum Suitainaible Yield (OSY). Menurut Konsep Optimum Suitainaible Yield (OSY) jumlah sumber daya alam yang dapat dieksploitasi harus didasarkan pada perhitungan dari berbagai perspektif seperti biologi, ekonomi, bahkan sampai perspektif sosial politik yang berkembang. Konsep ini merefleksikan adanya keterbatasan kemampuan pemerintah dalam membutuhkan mengelola sumber semua daya alam kelompok sendirian. Untuk itu

keterlibatan

pihak

kepentingan

dalam

merumuskan nilai optimum yang ingin dicapai. Hasil dari keputusan tersebut telah mengadopsi kepentingan banyak kelompok. Selain itu dengan melibatkan seluruh kelompok kepentingan dalam merumuskan nilai optimum dari konsep OSY, maka keputusan yang dihasilkan dianggap lebih mewakili berbagai aspirasi masyarakat.

Konsep OSY lebih mengarahkan pada lahirnya kebijakan dan strategi yang komprehensif, juga meletakan pondasi pada praktek kerjasama dalam manajemen pengelolaan (cooperative management) dengan melibatkan berbagai kelompok kepentingan, atau sinergitas pengelolaan stakeholders khususnya dalam pengelolaan bersama antara

sumber daya alam. Cooperative

management adalah suatu bentuk manajemen yang dilandasi oleh prinsip-prinsip kemitraan antara berbagai kelompok kepentingan untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Pomeroy dan William dalam Dahuri (1999 : 17), cooperative management (co – management) adalah pembagian tanggung jawab dan wewenang antara pemerintah dengan masyarakat untuk mengelola sumber daya alam. Dalam konteks co – management kegiatan investasi di Provinsi Papua Barat model pengelolaannya dilakukan secara bersama-sama antara berbagai kelompok kepentingan, yaitu pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha. Diperlukan keterpaduan diantara berbagai stakeholders dalam pengelolaan sumber daya alam agar kepentingan setiap pihak dapat terwakili.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

38

Executive Summary

2010
Payung dari konsep cooperative management tidak dapat dipisahkan dari community based development. Konsep CBD didasarkan pada pola

pembangunan dengan perencanaan dari bawah ke atas (bottom up planning). Penggunaan pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan terjadinya intervensi birokrasi dalam pembangunan dan secara konseptual merupakan pola yang berprinsip bottom - up karena melibatkan berbagai kelompok kepentingan mulai dari perencanaan sampai implementasinya. Dengan pendekatan ini pula kepentingan masyarakat bawah (grass root) dan khususnya masyarakat adat tradisional terakomodir. Sasaran yang menjadi subjek pemberdayaan dalam pola CBD adalah suatu komunitas masyarakat tertentu. Misalnya subjek sasaran adalah sumber daya laut dalam suatu wilayah tertentu (fishing area), subjek sasaran sumber daya hutan dalam suatu wilayah kehutanan, dan seterusnya. Syarat agar pengelolaan sumber daya alam dengan model cooperative management mencapai hasil yang memuaskan bila pengelolaan tersebut didasarkan pada masyarakat. Menurut Dahuri (1999 : 2)19 prinsip dasar yang dapat menjadi kunci keberhasilan cooperative management adalah : 1) Ada batas yang jelas terhadap wilayah pengeloaan. Penetapan batas wilayah pengelolaan selain mengadopsi batas wilayah administrasi daerah, juga tidak kalah penting adalah batas wilayah kultural masyarakat, seperti adanya batas hak ulayat atau berada di wilayah hak ulayat. Dengan demikian masyarakat mengetahui wilayah yang dikelola. 2) Setiap individu atau kegiatan yang memanfaatkan sumber daya alam dalam wilayah pengelolaan harus diketahui dengan jelas. 3) Kelompok masyarakat yang terlibat dalam wilayah pengelolaan sebaiknya tinggal secara tetap di dekat wilayah pengelolaan. 4) Setiap orang yang terlibat dalam pengelolaan harus mempunyai harapan bahwa manfaat yang diperoleh dalam pengelolaan harus lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. 5) Penerapan pengelolaan harus sederhana dan terintegrasi

19

Prinsip ini disesuaikan khusus untuk konteks Provinsi Papua Barat dengan keberadaan Hak Ulayatnya, konsep umum diadopsi oleh Mochamad Najib : Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Nelayan Melalui Model Kerjasama Pengelolaan Wilayah Laut, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol XVII (1)Tahun 2009

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

39

Executive Summary

2010
6) Masyarakat lokal yang terlibat dalam pengelolaan harus diakui secara legal oleh Pemerintah Daerah, sehingga hak dan kewajibannya terlindungi 7) Diperlukan kelompok inti yang bersedia melakukan semaksimal mungkin kegiatan agar pengelolaan dapat terlaksana. 8) Diperlukan pendelegasian proses administrasi dan tanggung jawab

pengelolaan dari pemerintah kepada kelompok masyarakat yang terlibat 9) Diperlukan organisasi co-management sebagai lembaga koordinasi yang beranggotakan wakil masyarakat, pemerintah, pelaku stakeholders. 1.9 Mekanisme Kelembagaan usaha, dan semua

Dalam menerapkan Strategi Investasi Berbasis CBD di masyarakat perlu dibentuk suatu kelembagaan untuk pengelolaan sumber daya alam, yang lebih dikenal dengan community based development organization (CBDO). Organisasi ini tidak hanya terpaku pada jenis kelembagaan tertentu saja, tetapi dapat pula berupa badan hukum yang berbentuk yayasan atau koperasi. Masyarakat

melalui lembaga adat di Papua Barat mengusulkan dalam bentuk konsorsium. Organisasi yang dibentuk digunakan sebagai media komunikasi guna membahas : a) setiap perencanaan pemanfaatan sumber daya alam yang akan dilaksanakan, setiap persoalan seputar pengeloaan sumber daya alam, serta c) alternatif solusi dari kemungkinan terjadinya ketidaksepahaman diantara stakeholders. Konsep co-management adalah model kegiatan investasi yang dilakukan dengan melibatkan seluruh kelompok kepentingan. Realita yang ada di masyarakat tingginya tingkat heteregonitas dalam suatu komunitas, seperti adanya perbedaan dalam hal teknologi yang digunakan, jenis sumber daya yang dikelola, latar belakang etnis di Provinsi Papua Barat yang terdiri dari banyak suku, dan perbedaan lainnya yang memungkinkan terjadinya perbedaan kepentingan. Beberapa perbedaan tersebut akan menimbulkan perbedaan pandangan dalam pengelolaan sumber daya alam, sehingga memungkinkan terjadinya tindakan negatif. Untuk menghindari terjadinya kemungkinan tindakan negatif dalam pengelolaan sumber daya alam, maka model co-management dituntut memiliki keterpaduan dari masyarakat dalam pengelolaan.Dalam hal ini keterwakilan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

40

Executive Summary

2010
setiap unsur yang ada dalam masyarakat diperlukan untuk mewakili aspirasi berbeda. Di lain pihak, pemerintah juga cukup heterogen. Dalam realitanya pemerintah terdiri atas berbagai institusi yang menangani berbagai sektor yang berkaitan dengan kegiatan investasi. Sekiranya institusi pemerintah karena kepentingan sektoral tidak mampu memadukan kebijakan dalam menangani kegiatan investasi, maka pengelolaan secara terpadu antara pemerintah, masyarakat, dan stakeholders lainnya akan sulit dilaksanakan. Selain itu, keterpaduan secara vertikal antarinstitusi patut mendapat perhatian karena institusi pemerintah memiliki hierarki mulai dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Seringkali setiap tingkatan membuat peraturan yang kadangkala bertentangan dengan peraturan diatasnya. Idealnya peraturan yang di bawah harus mendukung keberadaan peraturan yang lebih tinggi, setidaknya peraturan itu tidak bertentangan dengan peraturan diatasnya (Carlsson and Standstorm, 2006).

Begitu pula dengan para pelaku usaha juga sangat heterogen karena yang akan melakukan penanaman modal tidak hanya dari satu jenis usaha, tetapi terdiri dari beragam usaha dengan spesifikasi yang dimilikinya masing-masing, dilihat dari jenis usaha yang akan dilaksanakan, jenis sumber daya alam yang akan dikelola, jenis teknologi yang digunakan, jenis skala usahanya, dan lain-lain. Dimana masing-masing memiliki tingkat kepentingan sendiri-sendiri terhadap pengelolaan sumber daya alam.

Beragamnya tingkat kepentingan dan karakteristik masing-masing stakehoders, dibutuhkan keterpaduan dan kesepahaman diantara para pelaku usaha, dan kesepahaman para pelaku usaha dengan masyarakat maupun pemerintah, agar terjadi hubungan kemitraan partisipatif diantara stakeholders. Skema model strategi investasi digambarkan sebagai berikut : dengan sistem cooperative management

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

41

Executive Summary

2010
Gambar 1.5 Model Strategi Investasi Sistem Cooperative Management

Payung Hukum dan Regulasi

Pelaku Usaha (Investor)
Kemitraan Partsipatif

Masyarakat
Partsipasi

Pemerintah

CBDO

Pengeloaan Sumber Daya Alam

Keterangan : : Hubungan Timbal Balik : Perwakilan : Pemanfaatan

Berdasarkan skema diatas, maka pengeloaan sumber daya alam yang mendasarkan diri pada cooperative management akan dapat mencapai hasil yang memuaskan apabila konsep pengelolaan tersebut berbasiskan pada masyarakat. Setiap unsur yang berbeda diupayakan diakomodasikan

pendapatnya sehingga diperoleh keterpaduan dalam arti yang sebenarnya, yaitu yang dapat mewadahi kepentingan semua pihak. Beradasrkan persyaratanpersyaratan untuk keberhasilan kegiatan investasi dengan model cooperative management tersebut, maka implementasi pelaksanaan model harus

memperhatikan prinsip-prinsip, sebagai berikut : (Dahuri, 1999) : 1) Desentralisasi atau pendelegasian wewenang. Dalam hal ini pengaturan pemanfaatan sumber daya alam, tidak lagi dilakukan oleh Pemerintah Pusat,

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

42

Executive Summary

2010
tetapi dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah dengan memberi keleluasaan kepada masyarakat untuk mengimplementasikannya. 2) Memberi peran kepada masyarakat dan pelaku usaha atau stakeholders lainnya dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sumber daya alam, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan. 3) Diperlukan keterlibatan masyarakat karena masyarakat yang akan menerima dampak langsung dari kegiatan investasi 4) Diperlukan audit dari masyarakat, untuk menumbuhkan kepercayaan diantara yang terlibat dalam pengelolaan bersama. 5) Diperlukan kesepakatan dalam mengambil keputusan antar pihak yang terlibat. 6) Keputusan yang diambil harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekaligus sebagai aspek kelestarian lingkungan 7) Pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara adil dan jujur diantara yang berkepentingan terhadap kegaiatan investasi. Dalam praktek pengelolaan suatu kawasan, suatu kelompok masyarakat sangat penting untuk menciptakan keberhasilan pengelolaan model cooperative management. Keunggulan model ini dapat dicapai apabila ada kondisi ideal dapat terpenuhi dengan baik, yaitu adanya keterpaduan dalam mewarnai kepentingan semua pihak yang meliputi unsur-unsur pemerintah, masyarakat, pelaku usaha maupun stakeholders lainnya. Problem yang serius untuk mencapai keterpaduan dari berbagai unsur dalam organisasi cooperative management adalah tidak terpenuhinya representasi kelompok secara adil. Hal ini karena setiap unsur dalam organisasi cooperative management memiliki kepentingan yang berbeda. Oleh karena itu, implementasi di lapangan sangat penting untuk diperhatikan. Jentoff (1989) membedakan implementasi cooperative management menjadi tiga pola, yaitu : 1) Pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha duduk bersama untuk membuat aturan-aturan pengeloaan SDA, 2) Pemerintah sepenuhnya menyerahkan kepada masyarakat untuk membuat aturan pengelolaan dan mengadopsinya dalam peraturan perundanganundangan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

43

Executive Summary

2010
3) Masyarakat mengikuti aturan pengelolaan yang sudah ditentukan pemeritah dengan modifikasi sesuai kondisi lokal. Ketiga pola yang dikemukakan Jentoff memiliki kelebihan dan kekurangan. Pola pengelolaan yang pertama yang paling ideal, meskipun sulit dilaksanakan karena banyak kepentingan berbeda harus diadopsi dalam organisasi pengelola. Meskipun demikian model pengeloaan secara terpadu20 akan tetap memiliki keuntungan-keuntungan yang cukup signifikasn yaitu : a) Investasi berlebih dari pelaku usaha atau dari stakeholders lainnya dapat dikurangi sehingga dapat dihindari adanya overexploitation b) Dapat menghindari kemungkinan overexploitation dan memungkinkan terjadinya peningkatan pelestarian sumber daya alam c) Dapat menjamin kesetaraan alokasi kesempatan dalam memanfaatkan sumber daya alam d) Adanya kesetaraan dalam alokasi kesempatan sehingga memungkinkan tereliminasinya konflik antar pihak yang mempunyai kepentingan terhadap pemanfaatan sumber daya alam e) Terjadinya peningkatan perkembangan ekonomi masyarakat, sekaligus akan terjadi pemberdayaan pada masyarakat Kelemahan dari model pengelolaan secara terpadu terutama terkait dengan peningkatan jumlah penduduk sehingga akan meningkatkan tekanan pada pada sumber daya alam. Namun di satu sisi praktek pengelolaan secara terpadu daharapkan dapat membantu pengelolaan sumber daya alam secara

berkelanjutan, sehingga peningkatan jumlah penduduk akan mampu menjaga tingkat eksploitasi yang berlebih.

1.10 Implementasi Community Base Development Organization (CBDO) dalam Kebijakan Pembangunan Provinsi Papua Barat Strategi Kebijakan investasi dengan pendekatan Cooperative Management yang memuat Community Base Development Organization (CBDO) perlu

diimplementasikan dalam kebijakan pembangunan di tingkat provinsi sampai
20

Diadopsi dari Coastal News untuk pengelolaan sumber daya alam dari tulisan Mochamad Najib : Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Nelayan Melalui Model Kerjasama Pengelolaan Wilayah Laut, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol XVII (1)Tahun 2009 Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

44

Executive Summary

2010
kabupaten/kota dalam bentuk Peraturan Daerah (PERDA) Investasi. Konsep PERDA Investasi yang memuat CBDO dapat dibahas bersama oleh Forum Bersama antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal dengan prinsip-prinsip musyawarah dan kemitraan sehingga tercipta suatu sinergi, kemudian PERDA Investasi tersebut diusulkan kepada DPRD dan dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan stakeholders. Materi PERDA investasi salah satunya memuat pembahasan mengenai : 1. Kegiatan pengelolaan sumber daya alam terintegrasi dengan lingkungan dan budaya masyarakat (khususnya terkait hak ulayat) 2. Aktifitas kegiatan investasi berorientasi Nilai dan Budaya Masyarakat 3. Ketersediaan Lahan dan Sumber Daya Alam Bagi Masyarakat 4. Pembentukan Community Based Development Organization (CBDO) dalam setiap kegiatan investasi PERDA investasi merupakan kekuatan hukum yang bersifat mengikat bagi CBDO dalam menyusun berbagai program pengelolaan sumber daya alam, sehingga setiap pihak tidak dirugikan karena telah memberi berbagai usulan maupun ketentuan pada kegiatan investasi yang akan dilaksanakan. Secara lebih lengkap proses penyusunan PERDA Investasi dapat dihat pada Gambar 1.6

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

45

Executive Summary

2010
Gambar 1.6 Proses Penyusunan PERDA Investasi

DPRD (Pembahasan)

PERDA INVESTASI MEMUAT CBDO

FORUM BERSAMA STAKEHOLDERS

MASYARAKAT LOKAL (LEMBAGA ADAT)

PELAKU USAHA

PEMERINTAH DAERAH

Keterangan : : Hubungan Timbal Balik : Perwakilan : Perumusan PERDA Investasi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

46

Executive Summary

2010
Gambar 1.7 Strategi Kebijakan Investasi Provinsi Papua Barat

Tujuan Stakeholders

Strategi Kebijakan Investasi

1.

Instrumen Kebijakan Investasi

KEBIJAKAN (PERDA INVESTASI)
2.

Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis CBD
3.

4.

Kegiatan pengelolaan sumber daya alam terintegrasi dengan lingkungan dan budaya masyarakat (khususnya terkait hak ulayat) Aktifitas kegiatan investasi berorientasi Nilai dan Budaya Masyarakat Ketersediaan Lahan dan Sumber Daya Alam Bagi Masyarakat Pembentukan CBDO dalam setiap kegiatan investasi

PROGRAM-PROGRAM

Pemerintah Daerah

Pelaku Usaha (Investor)

Masyarakat Lokal

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

47

Executive Summary

2010

ROAD MAP INVESTASI PROVINSI PAPUA BARAT
1.11 Pendahuluan Roadmap adalah istilah umum yang mudah dipahami untuk menggambarkan kemana arah dan tujuan yang akan dicapai. Roadmap Investasi Papua Barat Tahun 2011 – 2025 merupakan rencana makro dan panduan dalam pelaksanaan kegiatan investasi yang secara sinergis dilaksanakan oleh Biro Investasi Provinsi Papua Barat. Untuk mewujudkan efektivitas, integrasi, dan sinergitas kegiatan investasi , Roadmap Investasi Provinsi Papua Barat 2011-2025 diarahkan pada 5 sektor unggulan yaitu : 1. Sektor Pertanian 2. Sektor Industri Pengolahan 3. Sektor Keuangan 4. Sektor Perdagangan 5. Sektor Jasa

Selain diarahkan pada kelima sektor unggulan, Roadmap Investasi Tahun 2011 – 2025 juga diarahkan kepada lima faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan investasi, yang ditujukan untuk mewujudkan iklim investasi yang kondusif. Adapun variabel-variabel yang dipertimbangkan adalah : 1. Sumber Daya Alam 2. Sumber Daya Manusia 3. Sosial Budaya 4. Hukum dan Kelembagaan 5. Infrastruktur

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

48

Executive Summary

2010
1.12 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan penyusunan Roadmap Investasi 2011–2025 adalah : 1. Maksud : sebagai pedoman dan arah kegiatan investasi bagi Biro Investasi serta para pihak terkait yang menangani kegiatan investasi dalam rangka mencapai tujuan bersama (common goal). 2. Tujuan : mewujudkan sinergitas, efektivitas, integrasi strategi dan program investasi untuk meningkatkan nilai manfaat dari penyelenggaraan kegiatan investasi dari secara optimal. 1.13 Pengertian Roadmap Investasi Provinsi Papua Barat 2011–2026, adalah : 1. Rencana kegiatan investasi secara makro, berjangka-panjang, dan

menyeluruh yang memuat tujuan antara (intermediate goal), tujuan akhir (ultimate goal), arah (trajectories) serta garis besar kegiatan investasi serta hasilnya; 2. Acuan untuk penyusunan program-program kegiatan investasi serta sarana untuk meningkatkan sinergitas kegiatan investasi yang dilakukan oleh pihakpihak terkait di Provinsi Papua Barat.

1.14 Tantangan Kegiatan Investasi di Provinsi Papua Barat 1.14.1 Tantangan Operasional Dalam rangka mengoptimalkan manfaat hasil kegiatan investasi, arah kegiatan investasi harus selaras dengan tantangan dan kebutuhan setaip sektor unggulan dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap iklim investasi. Untuk itu, pendekatan dalam mengidentifikasi tantangan dan kebutuhan setiap sektor unggulan ke depan mempertimbangkan tantangan yang tertuang dalam UndangUndang Penanaman Modal No.25 Tahun 2007, Rencana Pengembangan Wilayah dan Investasi Tahun 2007 – 2026, strategis yang terkait dengan sektor unggulan. Lingkungan strategis yang terkait dengan sektor unggulan dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap iklim investasi terutama adalah pelaksanaan otonomi
Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

serta perkembangan lingkungan

49

Executive Summary

2010
daerah, kebijakan percepatan pembangunan bagi wilayah Papua Barat dan tanggung jawab Pusat-Daerah dalam kegiatan investasi, penataan-ruang dan implikasinya, serta isu globalisasi dimana semakin meningkatnya ketergantungan antara ekonomi global dan kekuatan ekonomi yang menggantikan dominasi pemerintah dan memfokuskan ke arah organisasi perdagangan (WTO). Tantangan lain dari isu global terkait dengan komitmen internasional antara lain Ramsar/The Convention on Wetlands of International Importance (1971), CITES (1978), UNCBD (1992), UNCCD (1994), dan UNFCCC (1994) termasuk Kyoto Protocol (1997). Khusus untuk isu yang terkait dengan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, tantangan kehutanan Indonesia akan semakin besar dengan masuknya isu deforestasi dalam negosiasi UNFCCC. Mekanisme REDD, di satu sisi membuka peluang untuk memperoleh dukungan pendanaan, peningkatan kapasitas baik SDM maupun institusi dan transfer teknologi, namun demikian dukungan tersebut menuntut komitmen yang tinggi untuk dapat membuktikan bahwa pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi benar-benar terjadi (memenuhi persyaratan MRV). Hutan tropis Indonesia, terluas ketiga setelah Brazil dan Congo, mempunyai peran dan keterkaitan erat dengan perubahan iklim, yaitu 1) sebagai sumber masalah perubahan iklim (deforestasi, degradasi), 2) sebagai sumber solusi perubahan iklim (konservasi, restorasi, rehabilitasi, SFM), 3) sebagai penerima resiko efek perubahan iklim

(vulnerabilitas/kerentanan, resiliensi/ketahanan, adaptasi, survival). 1.14.2 Tantangan Iklim Investasi Tantangan iklim investasi berada dalam era ketidak-pastian yang tinggi serta adanya koneksitas yang kuat antara isu sektoral dengan faktor-faktor yang berpegaruh terhadap iklim investasi seperti wilayah Provinsi Papua Barat yang rawan terhadap bencana alam, kualitas pendidikan penduduk yang masih rendah, ketrampilan dan etos kerja tenaga kerja lokal masih rendah,masih berlakunya hak ulayat, sistem kelembagaan investasi yang belum tertata baik, ketersediaan infrastruktur yang belum memadai, dan lain-lain. Roadmap investasi mengarahkan bagaimana secara visioner dan tepat mampu menjawab tantangan sektor unggulan ke depan secara komprehensif dan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

50

Executive Summary

2010
terintegrasi dan mengarah pada akar permasalahannya. Kompleksitas

permasalahan di setiap sektor harus mampu dikemas dalam program dan kegiatan yang lebih utuh dan terpadu. 1.15 Visi dan Misi 1.15.1 Visi Tujuan akhir (Ultimate Goal) yang ingin dicapai dari roadmap investasi Provinsi Papua Barat 2011-2025 bertitik tolak dari Strategi Kebijakan Investasi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Community Based Development). Sehingga dapat diformulasikan sebagai Visi Kebijakan Investasi Papua Barat 2026, yaitu:

“Memajukan Kegiatan Investasi di Provinsi Papua Barat yang Berwawasan Lingkungan dengan Menjunjung Tinggi Nilai dan Budaya Masyarakat Lokal”
Makna yang terkandung dalam visi tersebut adalah setiap kegiatan investasi harus mampu berperan dalam mendukung kegiatan pembangunan berwawasan lingkungan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan karakteristik nilai dan budaya masyarakat guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. 1.15.2 Misi Untuk mengaktualiasikan peran kegiatan investasi dalam pembangunan berkelanjutan dan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka Misi Kebijakan Investasi 2011 - 2025, adalah sebagai berikut :

1. Mewujudkan strategi investasi berbasis pemberdayaan masyarakat. 2. Meningkatkan peran, manfaat dan dampak kegiatan investasi dalam pembangunan berwawasan lingkungan secara berkelanjutan. 1.16 Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dari semua strategi diatas, adalah mewujudkan integrasi dan sinergi kegiatan guna menghasilkan manfaat yang nyata dan optimal dalam menjawab masyarakat tantangan lokal yang setiap sektor unggulan, dalam melalui

pemberdayaan

bermanfaat

mewujudkan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

51

Executive Summary

2010
optimalisasi dan harmonisasi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, guna menghasilkan produk unggulan yang inovatif dan berdaya-saing global; dan mewujudkan kebijakan investasi yang berbasis pemberdayaan masyarakat. 1.17 Sasaran Roadmap Investasi 2011–2025 dibangun sejalan dengan arah dan sasaran

rencana makro dan rencana pembangunan jangka panjang, berbagai skenario kondisi setiap sektor ke depan serta perkembangan lingkungan strategis baik lokal, nasional maupun internasional/global. Horison roadmap Investasi Papua Barat 2011-2025 dibagi menjadi 3 (tiga) phase/tahapan pencapaian sasaran antara (milestones) dengan periode lima-tahunan, yaitu: 1. Phase I (2010–2014), 2. Phase II (2015–2019), 3. Phase III (2020–2024). Dalam setiap phase dirumuskan strategi pencapaian dan pada setiap akhir phase dilakukan evaluasi pencapaian untuk menuju phase berikutnya. Kegiatan tahun 2025 difokuskan pada evaluasi pencapaian tujuan akhir roadmap dan tahun awal untuk periode roadmap berikutnya. Roadmap merupakan rancangan jangka panjang yang bersifat makro, sehingga untuk mengoperasionalkannya perlu dijabarkan lebih lanjut ke dalam rencana kegiatan yang lebih terinci di setiap program terkait. Mengingat implementasi roadmap akan melibatkan berbagai institusi yang menangani kegiatan investasi, diperlukan mekanisme untuk mengawal implementasi roadmap agar tetap berjalan secara optimal dan konsisten. Untuk itu perlu dibentuk semacam forum atau jaringan kegiatan investasi, yang antara lain berperan dalam tukar-menukar informasi serta membangun keterpaduan dan sinergi dalam pelaksanaan kegiatan investasi.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

52

Executive Summary

2010
1.18 Tahapan dan Target Capaian Tahapan dan target capaian Roadmap Investasi untuk masing-masing strategi/program.

1.18.1 Sektor Pertanian
2011-2015 Optimalisasi potensi sektor pertanian Program I Peningkatan efisiensi usaha pertanian untuk mengurangi beban biaya tinggi. Kegiatan : 1. Penetapan biaya jasa angkut barang di pelabuhan, bandara dan terminal 2. Penertiban pungutan liar di jalur distribusi barang produk pertanian dan perikanan. 2016-2020 Optimalisasi potensi sektor pertanian Program I Peningkatan efisiensi usaha pertanian untuk mengurangi beban biaya tinggi. Kegiatan : Penertiban pungutan liar di jalur distribusi barang produk pertanian dan perikanan 2021-2025 Optimalisasi potensi sektor pertanian Program I Peningkatan efisiensi usaha pertanian untuk mengurangi beban biaya tinggi. Kegiatan : Penertiban pungutan liar di jalur distribusi barang produk pertanian dan perikanan

Program II Peningkatan kapasitas petugas teknis pertanian. Kegiatan : Peningkatan jumlah petugas teknis lapangan.

Program II Peningkatan kapasitas petugas teknis pertanian. Kegiatan : Peningkatan jumlah petugas teknis lapangan. Program III Pengembangan teknologi tepat guna pada fase produksi dan pasca panen Kegiatan : Ketersediaan kapal pengolahan ikan terpadu

Program II Peningkatan kapasitas petugas teknis pertanian Kegiatan : 1. Pelatihan budidaya pertanian untuk petugas teknis lapangan 2. Peningkatan jumlah petugas teknis lapangan.

Program III Peningkatan kualitas SDM yang berkaitan dengan keterampilan, pengetahuan, dan teknologi produksi maupun distribusi sektor pertanian. Kegiatan : Pengadaan pelatihan capacity building kelompok usaha tani

Program IV Peningkatan kemampuan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah Kegiatan : Mediasi antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

53

Executive Summary

2010
2011-2015 dunia perbankan yang dilakukan oleh pemerintah 2016-2020 2021-2025

Program V Peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana kegiatan sektor pertanian sebelum dan pasca secara tepat, dan terjangkau. Kegiatan : 1. Pendirian balai pembibitan pertanian dan perikanan 2. Pembuatan jalan yang menghubungkan sentra produksi dengan sentra pemasaran Program VI Peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana kegiatan sektor pertanian sebelum dan pasca panen secara tepat, dan terjangkau. Kegiatan : 1. Pendirian balai pembibitan pertanian dan perikanan 2. Pembuatan jalan yang menghubungkan sentra produksi dengan sentra pemasaran. Program VII Peningkatan pemasaran sektor pertanian Kegiatan : 1. Pendirian pusat informasi produk pertanian dan perikanan 2. Pameran produk pertanian dan perikanan

Peningkatan peluang kerja pada sektor pertanian. Program I Peningkatan jumlah usaha kecil dan menengah Kegiatan : Peningkatan dan penyebarluasan infrormasi mengenai usaha pertanian berdasarkan profil sektor

Peningkatan peluang kerja pada sektor pertanian. Program I Peningkatan jumlah usaha kecil dan menengah Kegiatan : Pembinaan kepada para pengusaha skala menengah dan besar untuk mendukung terbentuknya kelompok usaha.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

54

Executive Summary

2010
2011-2015 unggulan Peningkatan kemampuan usaha masyarakat. Program I Peningkatan kemampuan wirausaha Kegiatan : Pelatihan budidaya pertanian bagi pemuda Peningkatan peran kelembagaan desa dalam pendampingan masyarakat Program I Mendorong terbentuknya kerjasama yang baik antara kelompok tani dan pengusaha Kegiatan : Penyediaan pola Bapak Asuh bagi kelompok usaha informal/formal skala kecil Peningkatan kualitas sarana dan prasarana sektor pertanian Program I Peningkatan infrastruktur Kegiatan : 1. Perbaikan dan peningkatan kualitas pelabuhan 2. Pendirian pusat penyimpanan ikan di tiap pelabuhan Revalitasi kelembagaan petani dari usaha budaya menjadi lembaga usaha Program I Pengembangan usaha agroindustri Kegiatan : 1. Pelatihan pembuatan produk berbasis beras, ubi kayu, singkong 2. Pelatihan pembuatan bahan bakar bioenergi 3. Pelatihan pengemasan dan pemasaran produk pertanian Program II Peningkatan jumlah usaha informal/formal sektor pertanian Revitalisasi kelembagaan petani dari usaha budaya menjadi lembaga usaha Program I Pengembangan usaha agroindustri Kegiatan : 1. Pendirian pabrik pembuatan produk berbasis beras, ubi, kayu 2. Pendirian depot bahan-bahan bioenergi 2016-2020 2021-2025

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

55

Executive Summary

2010
2011-2015 2016-2020 Kegiatan : Pendirian usaha penyediaan kebutuhan untuk sektor pertanian dan perikanan Peningkatan pemberdayaan kemampuan masyarakat dalam usaha Program I Memperkokoh kelembagaan usaha ekonomi Kegiatan : Pelatihan pengembangan usaha bagi kelompok usaha 2021-2025

1.18.2 Sektor Jasa
2011-2015 Peningkatan jumlah wisatawan Program I Penataan objek wisata Kegiatan : 3. Inventarisasi objek wisata 4. Inventarisasi kepemilikan lahan objek wisata 5. Penegasan kepastian hak milik kepemilikan lahan objek wisata 2016-2020 Peningkatan jumlah wisatawan Program I Terciptanya regulasi yang mendorong peningkatan sektor pariwisata Kegiatan : 1. Fasilitas pengurangan pajak 2. Kemudahan dalam perijinan 3. Adanya regulasi yang mengatur persaingan usaha yang memungkinkan masyarakat lokal lebih berperan dalam usaha kepariwisata 2021-2025 Peningkatan jumlah wisatawan Program I Terciptanya regulasi yang mendorong peningkatan sektor pariwisata Kegiatan : 1. Fasilitas pengurangan pajak 2. Kemudahan dalam perijinan 3. Adanya regulasi yang mengatur persaingan usaha yang memungkinkan masyarakat lokal lebih berperan dalam usaha kepariwisata

Program II Peningkatan informasi sektor pariwisata Kegiatan : 3. Pendirian pusat informasi pariwisata di tingkat kabupaten 4. Pembuatan website sebagai sumber informasi pariwisata Provinsi Papua Barat. 5. Pengadaan pameran pariwisata dan budaya 6. Pendampingan oleh pemerintah dalam promosi pariwisata baik di dalam maupun luar negeri. Program III Terciptanya regulasi yang

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

56

Executive Summary

2010
2011-2015 mendorong peningkatan sektor pariwisata Kegiatan : 1. Fasilitas pengurangan pajak 2. Kemudahan dalam perijinan 3. Adanya regulasi yang mengatur persaingan usaha yang memungkinkan masyarakat lokal lebih berperan dalam usaha kepariwisata 2016-2020 2021-2025

Program IV Terciptanya regulasi yang mendorong peningkatan sektor pariwisata Kegiatan : 1. Pemberian fasilitas pengurangan pajak 2. Pemberian kemudahan dalam perijinan 3. Adanya regulasi yang mengatur persaingan usaha yang memungkinkan masyarakat lokal lebih berperan dalam usaha kepariwisataan.

Pemberdayaan masyarakat lokal sebagai daya dukung pariwisata Program I Peningkatan keterlibatan masyarakat lokal Kegiatan : 1. Terbentuknya kelompok penggerak budaya lokal 2. Pelatihan kewirausahaan masyarakat untuk mendukung daerah wisata 3. Badan usaha milik desa dalam pengelolaan objek wisata 4. Peningkatan keterlibatan pemuda dan pemudi sebagai penggerak budaya lokal 5. Peningkatan kapasitas lembaga adat, tokoh agama untuk meningkatkan motivasi dan kepedulian masyarakat akan keberadaan objek wisata. 6. Terciptanya sistem ganti rugi

Pemberdayaan masyarakat lokal sebagai daya dukung pariwisata Program I Peningkatan keterlibatan masyarakat lokal Kegiatan : Terciptanya sistem ganti rugi yang adil antara pemegang hak ulayat dengan pengelola daerah wisata.

Pemberdayaan masyarakat lokal sebagai daya dukung pariwisata Program I Peningkatan keterlibatan masyarakat lokal Kegiatan : Terciptanya sistem ganti rugi yang adil antara pemegang hak ulayat dengan pengelola daerah wisata.

Program II Memanfaatkan budaya lokal untuk meningkatkan wisatawan Kegiatan : 1. Investarisasi budaya lokal daerah wisata yang bisa menarik wisatawan 2. Peningkatan kerjasama lembaga adat dengan lembaga adat dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal

Program II Memanfaatkan budaya lokal untuk meningkatkan wisatawan Kegiatan : 1. Investarisasi budaya lokal daerah wisata yang bisa menarik wisatawan 2. Peningkatan kerjasama lembaga adat dengan lembaga adat dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

57

Executive Summary

2010
2011-2015 yang adil antara pemegang hak ulayat dengan pengelola daerah wisata. Program II Memanfaatkan budaya lokal untuk meningkatkan wisatawan Kegiatan : 1. Investarisasi budaya lokal daerah wisata yang bisa menarik wisatawan 2. Peningkatan kerjasama lembaga adat dengan lembaga adat dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal 3. Pelatihan daya tarik budaya lokal kepada masyarakat 4. Peningkatan pertunjukkan budaya lokal untuk menarik wisatawan Peningkatan kualitas sarana dan prasarana sektor pariwisata Program I Peningkatan kawasan wisata Kegiatan : 1. Invetarisasi kualitas infrastruktur kawasan wisata 2. Peningkatan kualitas infrastruktur kawasan wisata 3. Peningkatan kualitas fasilitas umum di kawasan wisata 4. Peningkatan kualitas keamanan di daerah wisata Optimalisasi keterlibatan masyarakat lokal sebagai daya dukung sektor pariwisata Program I Peningkatan kualitas SDM sektor pariwisata Kegiatan : 1. Pelatihan bahasa asing untuk petugas wisata dan masyarakat sekitar lokasi wisata 2. Pelatihan pengelolaan daerah wisata bagi aparat pemerintah 3. Peningkatan petugas teknis pariwisata dengan Peningkatan kualitas sarana dan prasarana sektor pariwisata Program I Peningkatan kawasan wisata Kegiatan : Perencanaan pengembangan kawasan wisata berbasis budaya lokal 2016-2020 Peningkatan pertunjukkan budaya lokal untuk menarik wisatawan 2021-2025 3. Peningkatan pertunjukkan budaya lokal untuk menarik wisatawan

3.

Optimalisasi keterlibatan masyarakat lokal sebagai daya dukung sektor pariwisata Program I Peningkatan kualitas SDM sektor pariwisata Kegiatan : Penerapan sistem sertifikasi bagi pengelolaan sektor pariwisata

Optimalisasi keterlibatan masyarakat lokal sebagai daya dukung sektor pariwisata Program I Peningkatan kualitas SDM sektor pariwisata Kegiatan : Penerapan sistem sertifikasi bagi pengelolaan sektor pariwisata

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

58

Executive Summary

2010
2011-2015 melibatkan masyarakat setempat 4. Penerapan sistem sertifikasi bagi pengelolaan sektor pariwisata Pelestarian budaya setempat Program I Penataan budaya lokal Kegiatan : 1. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya local 2. Pemilihan kawasan wisata terbaik berbasis budaya lokal Perlindungan daya tarik wisata Program I Pemanfaatan sumber daya lingkungan Kegiatan : Peningkatan kesadaran wawasan lingkungan 2016-2020 2021-2025

Pelestarian budaya setempat Program I Penataan budaya lokal Kegiatan : Peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya local

Pelestarian budaya setempat Program I Penataan budaya lokal Kegiatan : Peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya local

Perlindungan daya tarik wisata Program I Pemanfaatan sumber daya lingkungan Kegiatan : Pembentukan Perda yang mengatur pemanfaatan sumber daya lingkungan di sekitar objek wisata

1.18.3 Sektor Industri
2011-2015 Peningkatan potensi perekonomian daerah melalui ekonomi masyarakat Program I Peningkatan kesempatan berusaha bagi masyarakat tidak mampu Kegiatan : Terciptanya kebijakan pengembangan UMKM 2016-2020 Peningkatan potensi perekonomian daerah melalui ekonomi masyarakat Program I Peningkatan kesempatan berusaha bagi masyarakat tidak mampu Kegiatan : Terciptanya kelompok usaha kecil bagi masyarakat 2021-2025 Peningkatan potensi perekonomian daerah melalui ekonomi masyarakat Program I Peningkatan kesempatan berusaha bagi masyarakat tidak mampu Kegiatan : 1. Peningkatan sarana dan prasarana agroindustri 2. Peningkatan program kemitraan Program II Pengembangan agroindustri berbasis sektor pertanian dan perikanan Kegiatan : 1. Terbentuknya kluster agroindustri berbasis tanaman pangan

Program II Pengembangan agroindustri berbasis sektor pertanian dan perikanan Kegiatan : 1. Pengadaan workshop pengembangan bioenergi berbasis singkong 2. Kajian pengembangan bioenergi berbasis singkong

Program II Pengembangan agroindustri berbasis sektor pertanian dan perikanan Kegiatan : 1. Peningkatan wirausaha baru di bidang agroindustri berbasis singkong dan perikanan melalui magang di

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

59

Executive Summary

2010
2011-2015 3. Pengadaan workshop pengembangan bioenergi berbasis perikanan 4. Komunikasi dan kerjasama dengan perusahaan penggunana bioenergi 2016-2020 beberapa pabrik pengolahan makanan, industri kimia, industri biofuel di Indonesia. 2. Peningkatan wirausaha baru di bidang agrobisnis berbasis singkong melalui magang di beberapa pabrik pengolahan, makanan di Indonesia 2021-2025 2. Terciptanya industri bioenergi berbasis singkong 3. Terbentuknya kluster agroindustri berbasis perikanan

Peningkatan nilai investasi Program I Peningkatan pelayanan publik Kegiatan : 1. Terbentuknya perda tentang penanaman modal bagi swasta 2. Terbentuknya pelayanan perijinan satu atap 3. Peningkatan bantuan perkuatan dana bergulir bagi kelompok usaha masyarakat. Program II Peningkatan regulasi untuk mempermudah perkembangan invetasi. Kegiatan : 1. Review terhadap perda izin mendirikan bangunan 2. Review terhadap penetapan NJOP Pajak Bumi dan Bangunan 3. Review mengenai Perda retribusi izin Undang-undang gangguan dan Surat Izin Tempat Usaha 4. Review tentang pertanahan Peningkatan kualitas SDM Program I Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan Kegiatan : 1. Peningkatan jumlah dana bantuan operasional siswa (BOS) dan beasiswa untuk masyarakat. 2. Peningkatan jumlah tempat pelatihan keterampilan bagi masyarakat

Peningkatan nilai investasi Program I Peningkatan pelayanan publik Kegiatan : Penyusunan insentif ekspor bagi produk olahan singkong dan ikan

Peningkatan nilai investasi Program I Peningkatan pelayanan publik Kegiatan : Penerapan insentif ekspor bagi produk olahan singkong dan ikan

Program II Penguatan informasi potensi usaha Kegiatan : Peningkatan ekspor produk olahan singkong dan ikan melalui promosi, misi dagang, perjanjian bilateral, regional dan multilateral

Program III Peningkatan regulasi untuk mempermudah perkembangan invetasi.

Peningkatan kualitas SDM Program I Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan Kegiatan : 1. Pelatihan teknis pengolahan biofuel 2. Pelatihan teknis pengolahan ikan 3. Kerjasama dengan instansi terkait dalam menciptakan alat pengolahan ikan untuk usaha skala kecil 4. Kerjasama dengan instansi terkait dalam menciptakan

Peningkatan kualitas SDM Program I Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan Kegiatan : Peningkatan mutu SDM sektor agroindustri dalam oenguasaan teknologi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

60

Executive Summary

2010
2011-2015 2016-2020 alat pengolahan biofuel untuk usaha skala kecil Meningkatkan peluang besar 2021-2025

Meningkatkan peluang besar Program I Pengembangan produk unggulan Kegiatan : 1. Identifikasi keunggulan sektor pertanian dan perikanan.

Meningkatkan peluang besar Program I Pengembangan produk unggulan Kegiatan : 1. peningkatan mutu produk sesuai dengan keinginan pasar 2. pengembangan diversifikasi produk agroindustri

Program I Peningaktan informasi sektor agroindustri Kegiatan : 1. Mendirikan pusat informasi produk agroindustri di tingkat kabupaten 2. Pembuatan website sebagai sumber informasi agroindustri Provinsi Papua Barat 3. Pameran produk agroindustri 4. Pendampingan oleh pemerintah dalam promosi produk agroindustri baik di dalam maupun di luar negeri Peningkatan penguatan daya beli Program I Percepatan realisasi program pembangunan pemerintah Kegiatan : 1. Peningkatan jumlah kelompok usaha tani yang berbasis pada budidaya singkong 2. Peningkatan jumlah kelompok usaha perikanan

Peningkatan penguatan daya beli Program I Percepatan realisasi program pembangunan pemerintah Kegiatan : 1. Peningkatan peran serta masyrakat lokal dalam aktivitas pelaksanaan pembangunan infrastruktur sebagai tenaga kerja 2. Peningkatan peran serta masyarakat lokal dalam aktivitas pelaksanaan pembangunan infrastruktur sebagai partner kerja 3. Pelatihan kerja bidang konstruksi bagi masyarakat lokal

1.18.4 Sektor Keuangan
2011-2015 Peningkatan sumber pembiayaaan bagi pengembangan ekonomi Program I Peningktan akses elaku usaha skala kecil terhadap skim kredit Kegiatan : Pengembangan skim kredit yang tersedia menjadi skim 2016-2020 Peningkatan sumber pembiayaaan bagi pengembangan ekonomi Program I Peningktan akses elaku usaha skala kecil terhadap skim kredit Kegiatan : 1. Peningkatan kerjasama dengan lembaga keuangan 2021-2025 Peningkatan sumber pembiayaaan bagi pengembangan ekonomi Program I Peningktan akses elaku usaha skala kecil terhadap skim kredit Kegiatan : Mengembangkan pola subsidi bunga kredit agar kredit

1.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

61

Executive Summary

2010
2011-2015 kredit yang lebih mudah diakses oleh UMKM 2016-2020 untuk pengembangan pembiayaan sektor unggulan 2. Mengembangkan pada pertanian kredit UMKM 3. Menjalin kerjasama antara perbankan dan pemda guna memberikan peluang terhadap peningkatan modal UMKM 2021-2025 perbankan terjangkau oleh UMKM Mengembangkan sistem Chanelling guna memberikan peluang terhadap peningkatan modal UMKM

2.

Peningkatan akses masyarakat terhadap dunia perbankan Program I Review regulasi perbankan untuk mendukung perkembangan ekonomi unggulan. Kegiatan : 1. Perumusan kebijakan pembiayaan kredit 2. Optimalisasi penyaluran kredit bagi usaha skala UMKM

Peningkatan akses masyarakat terhadap dunia perbankan Program I Review regulasi perbankan untuk mendukung perkembangan ekonomi unggulan. Kegiatan : Penyempurnaan regulasi perbankan untuk memberikan peluang terhadap peningkatan modal usaha skala UMKM

Peningkatan kualitas SDM Program I Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan Kegiatan : 1. Peningkatan jumlah dana bantuan operasional siswa (BOS) dan beasiswa untuk masyarakat. 2. Peningkatan jumlah tempat pelatihan keterampilan bagi masyarakat Peningkatan potensi perekonomian daerah melalui ekonomi masyarakat Program I Peningkatan kesempatan berusaha bagi masyarakat tidak mampu Kegiatan : Terciptanya kebijakan pengembangan pembiayaan

Peningkatan kualitas SDM Program I Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan Kegiatan : Pendampingan bagi UMKM

Peningkatan kualitas SDM Program I Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan Kegiatan : Peningkatan mutu SDM sektor agroindustri dalam oenguasaan teknologi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

62

Executive Summary

2010
2011-2015 bagi UMKM 2016-2020 2021-2025

Pengembangan sektor keuangan untuk mendukung peningkatan potensi perekonomian Program I Peningkatan potensi lembaga keuangan daerah untuk pembiayaan UMKM Kegiatan : 1. Mengembangkan Lembaga Keuangan Khusus Agroindustri (LKKA) untuk pembiayaan UMKM 2. Mengembangkan Lembaga Keuangan Khusus Mikro (LKM) untuk pembiayaan UMKM Peningkatan penguatan daya beli Program I Percepatan realisasi program pembangunan pemerintah Kegiatan : Peningkatan peran serta masyarakat lokal dalam aktivitas perlaksanaan pembangunan infrastruktur sebagai partner kerja

Pengembangan sektor keuangan untuk mendukung peningkatan potensi perekonomian Program I Peningkatan potensi lembaga keuangan daerah untuk pembiayaan UMKM Kegiatan : Penyusunan kebijakan untuk pembiayaan komersil untuk pembiayaan usaha agroindustri skala menengah dan besar

Peningkatan penguatan daya beli Program I Percepatan realisasi program pembangunan pemerintah Kegiatan : Peningkatan peran serta masyarakat lokal dalam aktivitas pelaksanaan pembangunan infrastruktur sebagai partner kerja.

Peningkatan penguatan daya beli Program I Percepatan realisasi program pembangunan pemerintah Kegiatan : Peningkatan peran serta masyarakat lokal dalam aktivitas pelaksanaan pembangunan infrastruktur sebagai partner kerja

1.18.5 Sektor Perdagangan
2011-2015 Peningkatan nilai investasi sektor unggulan Program I Pemberdayaan dan penataan basis produksi dan distribusi Kegiatan : Peningkatan dan memperkuat basis produksi agroindustri, utamanya melalui pengembangan industri-industri pendukung (supporting industries) 2016-2020 Peningkatan nilai investasi sektor unggulan Program I Pemberdayaan dan penataan basis produksi dan distribusi Kegiatan : Pengembangan agroindustri skala kecil dan menengah 2021-2025 Peningkatan nilai investasi sektor unggulan Program I Pemberdayaan dan penataan basis produksi dan distribusi Kegiatan : Pengembangan sistem informasi dan distribusi daerah dalam kesatuan pasar nasional

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

63

Executive Summary

2010
2011-2015 2016-2020 2021-2025

Pengelolaan kemampuan dan produktivitas Program I Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas sumber daya manusia Kegiatan : 1. Inventarisasi sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi 2. Peningaktan kompetensi sumber daya manusia

Peningkatan daya saing produk unggulan Program I Pengembangan produk unggulan Kegiatan : Oncentarisasi pusat saluran dsitribusi agroindustri dan pariwisata

Peningkatan daya saing produk unggulan Program I Pengembangan produk unggulan Kegiatan : Pengembangan pola kemitraan agroindustri, perdagangan dan pariwisata

Peningkatan daya saing produk unggulan Program I Pengembangan produk unggulan Kegiatan : 1. Peningkatan saluran distribusi agroindustri dengan tujuan berkembangnya kluster agroindustri 2. Peningkatan saluran distribusi jasa pariwisata dengan tujuan berkembangnya jasa pariwisata

Program II peningkatan sistem jaringan ekonomi antar kabupaten guna meningkatkan daya saing agroindustri dan pariwisata Kegiatan : 1. Pengutan struktur kelembagaan ekonomi 2. Sosialisasi pengembangan sistem jaringan distribusi antar kabupaten

Program II Peningkatan sistem jaringan ekonmi antar kabupaten guna meningkatkan daya saing agroindustri dan pariwisata Kegiatan : Koordinasi dengan SKPD terkait dalam rangka sinkronisasi pengembangan agrobisnis dan wisata

Program II Peningkatan sistem jaringan ekonomi antar kabupaten guna meningkatkan daya saing agroindustri dan pariwisata Kegiatan : Sinkronisasi tata niaga antar kabupaten dalam rangka pengembangan agrobisnis dan pariwisata Pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif Program I Peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur

Pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif Program I Peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur

Pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif Program I Peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

64

Executive Summary

2010
2011-2015 Kegiatan : 1. Inventarisasi kebutuhan sarana prasarana guna pengembangan agroindustri dan pariwisata 2. Peningkatan akses infrastruktur kawasan pusat pertumbuhan ekonomi 3. Peningkatan akses fasilitas umum di kawasan pusat pertumbuhan ekonomi 2016-2020 Kegiatan : 1. Peningkatan kualitas infrastruktur kawasan pusat 2. Peningkatan kualitas fasilitas umum di kawasan pusat 2021-2025 Kegiatan : 1. Peningkatan kualitas infrastrukutr kawasan pusat pertumbuhan ekonomi 2. Peningkatan kualitas fasilitas umum di kawasan pusat petumbuhan ekonomi

Peningkatan peran sera masyarakat lokal dalam perekonomian berbasis sektor unggulan Program I Perluasan dan penguatan lembaga pendukung usaha kecil dan menengah Kegiatan : 1. Mengembangkan kluster UMKM yang berbasis potensi sumber daya unggulan daerah 2. Meningkatkan jasa layanan teknis kepada industri UMKM.

Peningkatan peran sera masyarakat lokal dalam perekonomian berbasis sektor unggulan Program I Perluasan dan penguatan lembaga pendukung usaha kecil dan menengah Kegiatan : Peningkatan penguasaan pasar dalam negeri, utamanya melalui promosi dan informasi dalam pemberdayaan produk.

Peningkatan peran sera masyarakat lokal dalam perekonomian berbasis sektor unggulan Program I Perluasan dan penguatan lembaga pendukung usaha kecil dan menengah Kegiatan : Pengembangan klinik layanan bisnis (HAKI, ISO, pengembangan SDM, pembiayaan, teknologi, promosi dan informasi)

1.18.6 Aspek Sumber Daya Alam
2011-2015 Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Eko Wisata Guna Meningkatkan Jumlah Wisatawan Lokal Maupun Mancanegara sesuai dengan kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan 2016-2020 Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Eko Wisata Guna Meningkatkan Jumlah Wisatawan Lokal Maupun Mancanegara sesuai dengan kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan 2021-2025 Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Eko Wisata Guna Meningkatkan Jumlah Wisatawan Lokal Maupun Mancanegara sesuai dengan kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan

Program I Program Pengembangan Ekowisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Lokal Kegiatan : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Lokasi Ekowisata Bersama Masyarakat Lokal 2. Pelatihan Capacity Building

Program I Program Pengembangan Ekowisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Lokal Kegiatan : 1. Penataan dan rehabilitasi lokasi ekowisata bersama masyarakat lokal 2. Penataan Kampung/Desa

Program I Program Pengembangan Ekowisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Lokal Kegiatan : 1. Penataan dan rehabilitasi lokasi ekowisata bersama masyarakat lokal 2. Penataan Kampung/Desa

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

65

Executive Summary

2010
2011-2015 Bidang Kepariwisataan di Provinsi Papua Barat Pemetaan Potensi Pasar Ekowisata di tingkat pelaku usaha Penataan dan rehabilitasi lokasi ekowisata bersama masyarakat lokal Penataan Kampung/Desa Wisata Alam Bersama Masyarakat Lokal 2016-2020 Wisata Alam Bersama Masyarakat Lokal 2021-2025 Wisata Alam Bersama Masyarakat Lokal

3.

4.

Program II Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi di Bidang Ekowisata Kegiatan : Promo Investasi Ekowisata di Tingkat Lokal dan Mancanegara

Program II Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi di Bidang Ekowisata Kegiatan : Promo Investasi Ekowisata di Tingkat Lokal dan Mancanegara

5.

Program II Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi di Bidang Ekowisata Kegiatan : 1. Penyusunan Pedoman Perijinan Investasi di Bidang Ekowisata 2. Penyusunan Pedoman Insentif Investasi di Bidang Ekowisata 3. Lokakarya Fungsi Community Base Development Organization (CBDO) Terkait Hak Ulayat Bersama Pelaku Usaha dan Masyarakat Lokal 4. Promo Investasi Ekowisata di Tingkat Lokal dan Mancanegara Program III Program Pengembangan Promosi Ekowisata di Tingkat Lokal dan Mancanegara Kegiatan : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Wilayah Ekowisata 2. Pelatihan Promosi Ekowisata Bagi Aparat Bidang Kepariwisataan 3. Pekan Promosi Destinasi Ekowisata di Tingkat Nasional 4. Pekan Promosi Destinasi Ekowisata di Tingkat Mancanegara Optimalisasi Pemanfaatan potensi sumber daya alam melalui peluang pasar yang tersedia sesuai dengan kebijakan pembangunan

Program III Program Pengembangan Promosi Ekowisata di Tingkat Lokal dan Mancanegara Kegiatan : 1. Pekan Promosi Destinasi Ekowisata di Tingkat Nasional 2. Pekan Promosi Destinasi Ekowisata di Tingkat Mancanegara

Program III Program Pengembangan Promosi Ekowisata di Tingkat Lokal dan Mancanegara Kegiatan : 1. Pekan Promosi Destinasi Ekowisata di Tingkat Nasional 2. Pekan Promosi Destinasi Ekowisata di Tingkat Mancanegara

Optimalisasi Pemanfaatan potensi sumber daya alam melalui peluang pasar yang tersedia sesuai dengan kebijakan pembangunan

Optimalisasi Pemanfaatan potensi sumber daya alam melalui peluang pasar yang tersedia sesuai dengan kebijakan pembangunan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

66

Executive Summary

2010
2011-2015 berwawasan lingkungan 2016-2020 berwawasan lingkungan 2021-2025 berwawasan lingkungan Program I Program Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Berwawasan Lingkungan Kegiatan: Promo Investasi Sumber Bidang Sumber Daya Perikanan Program II Program Pemanfaatan Sumber Daya Kehutanan di Pasar Karbon Dunia Kegiatan : 1. Sosialisasi Sumber Daya Kehutanan Sebagai Penyerap dan Penyimpan Karbon Dunia 2. Promo Investasi Sumber Daya Kehutanan di Pasar Karbon Dunia

Program I Program Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Berwawasan Lingkungan Kegiatan : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Sumber Daya Perikanan Bersama Masyarakat Lokal 2. Pembuatan Profil Sumber Daya Perikanan 3. Pemetaan Peluang Pasar Sumber Daya Perikanan 4. Penyusunan Pedoman Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis Cooperative Management 5. Pelatihan Capacity Building Dinas Perikanan Mengenai Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis Cooperative Management 6. Promo Investasi Sumber Bidang Sumber Daya Perikanan

Program I Program Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Berwawasan Lingkungan Kegiatan : 1. Pemetaan Peluang Pasar Sumber Daya Perikanan 2. Penyusunan Pedoman Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis Cooperative Management 3. Promo Investasi Sumber Bidang Sumber Daya Perikanan Program II Program Pemanfaatan Sumber Daya Kehutanan di Pasar Karbon Dunia Kegiatan : 1. Sosialisasi Sumber Daya Kehutanan Sebagai Penyerap dan Penyimpan Karbon Dunia 2. Promo Investasi Sumber Daya Kehutanan di Pasar Karbon Dunia

Program III Program Pemanfaatan Sumber Daya Tambang dan Galian Berwawasan Lingkungan Kegiatan : Promo Investasi Sumber Bidang Sumber Daya Tambang dan Galian

Program II Program Pemanfaatan Sumber Daya Kehutanan di Pasar Karbon Dunia Kegiatan : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Sumber Daya Kehutanan Sebagai penyerap dan penyimpan karbon (carbon sink) 2. Pembuatan Profil Sumber Daya Kehutanan Sebagai Penyerap dan Penyimpan Karbon dunia (carbon sink) 3. Sosialisasi Sumber Daya Kehutanan Sebagai Penyerap dan Penyimpan Karbon Dunia 4. Promo Investasi Sumber Daya Kehutanan di Pasar Karbon Dunia

Program III Program Pemanfaatan Sumber Daya Tambang dan Galian Berwawasan Lingkungan Kegiatan : 1. Pemetaan Peluang Pasar Sumber Daya Tambang dan Galian 2. Penyusunan Pedoman Pengelolaan Sumber Daya Tambang dan Galian Berbasis Cooperative Management Diantara Stakeholders 3. Promo Investasi Sumber Bidang Sumber Daya Tambang dan Galian

Program III Program Pemanfaatan Sumber Daya Tambang dan Galian Berwawasan Lingkungan Kegiatan :

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

67

Executive Summary

2010
2011-2015 Pemetaan Potensi dan Masalah Sumber Daya Tambang Bersama Masyarakat Lokal Pembuatan Profil Sumber Daya Tambang dan Galian Pemetaan Peluang Pasar Sumber Daya Tambang dan Galian Penyusunan Pedoman Pengelolaan Sumber Daya Tambang dan Galian Berbasis Cooperative Management Diantara Stakeholders Pelatihan Capacity Building Dinas Pertambangan dan Galian Mengenai Pengelolaan Sumber Daya Tambang dan Galian Berbasis Cooperative Management Diantara Stakeholders Promo Investasi Sumber Bidang Sumber Daya Tambang dan Galian 2016-2020 2021-2025

1.

2. 3.

4.

5.

6.

Optimalisasi pengelolaan dan Perlindungan Wilayah Rawan Bencana Alam sesuai dengan Kebijakan Pembangunan Berwawasan lingkungan Program I Program Perlindungan dan Konservasi Wilayah Rawan Bencana Alam di Papua Barat Melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal Kegiatan : 1. Pemetaan Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam dan Permasalahannya Bersama Masyarakat Lokal 2. Penyusunan Pedoman Pengelolaan dan Perlindungan Wilayah Rawan Bencana Alam Bersama Masyarakat Lokal 3. Penyediaan Sistem Tanggap Darurat Bagi Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam 4. Penataan Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam Bersama Masyarakat Lokal

Optimalisasi pengelolaan dan Perlindungan Wilayah Rawan Bencana Alam sesuai dengan Kebijakan Pembangunan Berwawasan lingkungan Program I Program Perlindungan dan Konservasi Wilayah Rawan Bencana Alam di Papua Barat Melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal Kegiatan : 1. Pelatihan Capacity Building Pengelolaan dan Perlindungan Wilayah Rawan Bencana Alam Bagi Aparat Pemerintah Lintas Sektoral 2. Pelatihan Capacity Building Pengelolaan dan Perlindungan Bagi Masyarakat Lokal 3. Penyediaan Sistem Tanggap Darurat Bagi Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam 4. Penataan Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam Bersama Masyarakat Lokal

Optimalisasi pengelolaan dan Perlindungan Wilayah Rawan Bencana Alam sesuai dengan Kebijakan Pembangunan Berwawasan lingkungan Program I Program Perlindungan dan Konservasi Wilayah Rawan Bencana Alam di Papua Barat Melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Kegiatan : 1. Penyediaan Sistem Tanggap Darurat Bagi Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam 2. Penataan Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam Bersama Masyarakat Lokal Program II Program Pengawasan kegiatan illegal logging Secara Partisipatif melalui pendekatan cooperative management (pelibatan semua stakeholders) Kegiatan :

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

68

Executive Summary

2010
2011-2015 Program II Program Pengawasan kegiatan illegal logging Secara Partisipatif melalui pendekatan cooperative management (pelibatan semua stakeholders) Kegiatan : 1. Identifikasi dan survey wilayah-wilayah hutan rawan kegiatan illegal logging 2. Pembuatan data base wilayah-wilayah rawan kegiatan illegal logging 3. Penyusunan Pedoman Pengawasan Kegiatan Illegal Logging Secara Partisipatif Bersama Stakeholders (Pemerintah, Pelaku Usaha, Masyarakat Lokal) Program III Program Peningkatan Kualitas dan Akses Infornasi WilayahWilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral Kegiatan : 1. Lokakarya Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Wilayah Rawan Bencana Alam 2. Pelatihan Capacity Building Bagi Sektor Terkait Wilayah Rawan Bencana Alam 3. Penyusunan Data Base Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral 4. Peningkatan Kualitas Wilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral 2016-2020 Program II Program Pengawasan kegiatan illegal logging Secara Partisipatif melalui pendekatan cooperative management (pelibatan semua stakeholders) Kegiatan : 1. Pembuatan data base wilayah-wilayah rawan kegiatan illegal logging 2. Penyusunan Pedoman Pengawasan Kegiatan Illegal Logging Secara Partisipatif Bersama Stakeholders (Pemerintah, Pelaku Usaha, Masyarakat Lokal) 3. Capacity Building Pengawasan Kegiatan Illegal Logging Bagi Stakeholders 2021-2025 Pembuatan data base wilayahwilayah rawan kegiatan illegal logging

Program III Program Peningkatan Kualitas dan Akses Infornasi WilayahWilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral Kegiatan : Peningkatan Kualitas Wilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral

Program IV Program Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks Kegiatan Illegal Logging Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan : 1. Penyusunan Data Base Wilayah-Wilayah Eks Illegal Logging

Program III Program Peningkatan Kualitas dan Akses Infornasi WilayahWilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral Kegiatan : 1. Penyusunan Data Base Wilayah-Wilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral 2. Pembentukan Kelembagaan Lintas Sektoral Bagi Pengelolaan dan Perlindungan WilayahWilayah Rawan Bencana Alam 3. Peningkatan Kualitas Wilayah Rawan Bencana Alam Lintas Sektoral

Program IV Program Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks Kegiatan Illegal Logging Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Kawasan Bekas Illegal Logging 2. Penyusunan Data Base Wilayah-Wilayah Eks Illegal Logging

Program IV Program Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks Kegiatan Illegal Logging Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan : 1. Penyusunan Data Base Wilayah-Wilayah Eks Illegal Logging 2. Pelatihan Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

69

Executive Summary

2010
2011-2015 Penyusunan Pedoman Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks Illegal Logging Bersama Masyarakat Lokal Pelatihan Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks Illegal Logging Bagi Masyarakat Lokal Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks Illegal Logging Bersama Masyarakat Lokal 2016-2020 Illegal Logging Bagi Masyarakat Lokal Pemulihan dan Rehabilitasi Kawasan Eks Illegal Logging Bersama Masyarakat Lokal 2021-2025

3.

3.

4.

5.

Penciptaan pola hubungan sinergis (cooperative management) diantara pemangku kepentingan (stakeholders) dalam pengelolaan SDA

Penciptaan pola hubungan sinergis (cooperative management) diantara pemangku kepentingan (stakeholders) dalam pengelolaan SDA

Program I Program Pengelolaan dan Konservasi SDA Melalui Pendekatan CBDO Kegiatan : 1. Lokarya antar stakeholders mengenai pengelolaan SDA Berwawasan Lingkungan 2. Lokakarya Penyusunan Pedoman Pembentukan CBDO di setiap Kabupaten/Kota dalam Pengelolaan SDA 3. Lokakarya Pembahasan Payung Hukum CBDO dan Implementasinya di Provinsi Papua Barat Melalui Pola Cooperative Management

Program I Program Pengelolaan dan Konservasi SDA Melalui Pendekatan CBDO Kegiatan : 1. Penyusunan Payung Hukum Bagi Pembentukan CBDO Melalui Cooperative Management 2. Pengawasan dan Monitoring Pelaksanaan CBDO di setiap wilayah Kota/Kab.

1.18.7 Aspek Sumber Daya Manusia
2011-2015 Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Miskin, Melalui Optimalisasi Peluang Kerja Dan Usaha Pada Berbagai Kegiatan Investasi 2016-2020 Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Miskin, Melalui Optimalisasi Peluang Kerja Dan Usaha Pada Berbagai Kegiatan Investasi 2021-2025 Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Miskin, Melalui Optimalisasi Peluang Kerja Dan Usaha Pada Berbagai Kegiatan Investasi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

70

Executive Summary

2010
2011-2015 Program I: Program Peningkatan peluang kerja dan usaha pada setiap kegiatan investasi bagi masyarakat local Kegiatan I : Pemetaan potensi dan masalah peluang kerja dan usaha dari setiap kegiatan investasi 2016-2020 Program I: Program Peningkatan peluang kerja dan usaha pada setiap kegiatan investasi bagi masyarakat local Kegiatan I : 1. Koordinasi dengan setiap pelaku usaha dalam peningkatan peluang kerja dan usaha bagi masyarakat miskin 2. Pelatihan ketrampilan dan pembinaan masyarakat miskin guna mengisi peluang kerja pada kegiatan investasi 3. Monitoring pelaksanaan kegiatan investasi dalam pemberian peluang kerja dan usaha bagi masyarakat miskin 4. Monitoring pelaksanaan kegiatan peluang kerja dan usaha bagi masyarakat miskin Optimalisasi Kebijakan Pemerintah Dalam Peningkatan Kualitas SDM Guna Meningkatan Taraf Hidup Masyarakat Miskin Program I: Peningkatan fungsi pemerintah dalam peningkatan kualitas SDM Kegiatan I: Kegiatan I: 1. 1. Peningkatan dan Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Dalam Mendukung Peningkatan Kualitas SDM Revitalisasi Kebijakan Pemerintah Dalam Mendukung Peningkatan Peningkatan dan Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Dalam Mendukung Peningkatan Kualitas SDM Pelatihan Aparat Pemerintah Dalam Menunjang Kegiatan Peningkatan Kualitas SDM Kegiatan I: Sosialisasi Kegiatan Pemerintah dalam Peningkatan Kualitas SDM 2021-2025 Program I: Program Peningkatan peluang kerja dan usaha pada setiap kegiatan investasi bagi masyarakat local Kegiatan I : 1. Koordinasi dengan setiap pelaku usaha dalam peningkatan peluang kerja dan usaha bagi masyarakat miskin 2. Pelatihan ketrampilan dan pembinaan masyarakat miskin guna mengisi peluang kerja pada kegiatan investasi 3. Monitoring pelaksanaan kegiatan investasi dalam pemberian peluang kerja dan usaha bagi masyarakat miskin 4. Monitoring pelaksanaan kegiatan peluang kerja dan usaha bagi masyarakat miskin Optimalisasi Kebijakan Pemerintah Dalam Peningkatan Kualitas SDM Guna Meningkatan Taraf Hidup Masyarakat Miskin Program I: Peningkatan fungsi pemerintah dalam peningkatan kualitas SDM

Optimalisasi Kebijakan Pemerintah Dalam Peningkatan Kualitas SDM Guna Meningkatan Taraf Hidup Masyarakat Miskin Program I: Peningkatan fungsi pemerintah dalam peningkatan kualitas SDM

2.

2.

Peningkatan Kualitas Kesehatan Dan Pendidikan Penduduk Lokal Agar Dapat Bersaing Dengan Penduduk Pendatang

Peningkatan Kualitas Kesehatan Dan Pendidikan Penduduk Lokal Agar Dapat Bersaing Dengan Penduduk Pendatang

Peningkatan Kualitas Kesehatan Dan Pendidikan Penduduk Lokal Agar Dapat Bersaing Dengan Penduduk Pendatang

Program I: Pemetaan kondisi dan masalah masyarakat miskin di Provinsi Papua Barat

Program I: 1. Pelatihan Capacity Building Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Bagi Peningkatan

Program I: 1. Pelatihan Capacity Building Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Bagi Peningkatan

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

71

Executive Summary

2010
2011-2015 Kegiatan II: 1. Pelatihan Capacity Building Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi Guna Meningkatkan Pelayanan Pendidikan 2. Pelatihan Peningkatan Kualitas Mengajar bagi Tenaga Pendidik Tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi 3. Penyediaan Sarana dan Prasarana Pendidikan 4. di Wilayah Terpencil 5. Pemberian Bea Siswa Bagi Siswa Berprestasi Untuk Seluruh Jenjang Pendidikan di Provinsi Papua Barat Peningkatan Skill/Ketrampilan Usia Angkatan Kerja Penduduk Lokal Agar Dapat Bersaing Dengan Tenaga Kerja Pendatang Program I: Pemberdayaan usia Angkatan Kerja Penduduk Lokal Melalui Peningkatan Ketrampilan Secara Terpadu Kegiatan I: 1. Pemetaan potensi dan masalah penduduk usia angkatan kerja Pelatihan Peningkatan Ketrampilan usia angkatan kerja bagi penduduk lokal 2016-2020 Kualitas Kesehatan Penduduk Miskin 2. Pelatihan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin 3. Penyediaan Fasilitas dan Petugas Kesehatan di Wilayah Terpencil 4. Penyediaan Pelayanan Kesehatan Gratis Bagi Masyarakat Miskin di Provinsi Papua Barat 2021-2025 Kualitas Kesehatan Penduduk Miskin 2. Pelatihan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin 3. Penyediaan Fasilitas dan Petugas Kesehatan di Wilayah Terpencil 4. Penyediaan Pelayanan Kesehatan Gratis Bagi Masyarakat Miskin di Provinsi Papua Barat

2.

1.18.8 Aspek Sosial Budaya
2011-2015 Optimalisasi Wisata Budaya Dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Wisatawan Lokal Dan Mancanegara Program I : Pengembangan potensi wisata budaya berbasis pemberdayaan komunitas local 2016 - 2020 Optimalisasi Wisata Budaya Dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Wisatawan Lokal Dan Mancanegara Program I : Pengembangan potensi wisata budaya berbasis pemberdayaan komunitas local 2021 – 2025 Optimalisasi Wisata Budaya Dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Wisatawan Lokal Dan Mancanegara Program I : Pengembangan potensi wisata budaya berbasis pemberdayaan komunitas local

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

72

Executive Summary

2010
2011-2015 Kegiatan I : 1. Pemetaan potensi wisata budaya bersama dengan masyarakat lokal Pemetaan Potensi Pasar Wisata Budaya di tingkat pelaku usaha Penataan Kampung/Desa Wisata Budaya Bersama Masyarakat Lokal 2016 - 2020 Kegiatan I : Penataan Kampung/Desa Wisata Budaya Bersama Masyarakat Lokal 2021 – 2025 Kegiatan I : Penataan Kampung/Desa Wisata Budaya Bersama Masyarakat Lokal

2.

3.

Program II : Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi di Bidang Wisata Budaya Kegiatan I : 1. Penyusunan Pedoman Perijinan Investasi di Bidang Wisata Budaya Penyusunan Pedoman Insentif Investasi di Bidang Wisata Budaya Promo Investasi Wisata Budaya di Tingkat Lokal dan Mancanegara

2.

3.

Program III : Program Pengembangan Promosi Ekowisata di Tingkat Lokal dan Mancanegara Kegiatan I : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Wilayah Wisata Budaya Pelatihan Promosi Wisata Budaya Bagi Aparat Bidang Kepariwisataan Pekan Promosi Destinasi Wisata Budaya di Tingkat Nasional Pekan Promosi Destinasi Wisata Budaya di Tingkat Mancanegara Sinergitas Pengakuan Hak Ulayat Dan Keterbukaan Masyarakat Lokal Dengan Kegiatan Investasi Sinergitas Pengakuan Hak Ulayat Dan Keterbukaan Masyarakat Lokal Dengan Kegiatan Investasi

2.

3.

4.

Sinergitas Pengakuan Hak Ulayat Dan Keterbukaan Masyarakat Lokal Dengan Kegiatan Investasi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

73

Executive Summary

2010
2011-2015 Program I : Pemberdayaan dan optimalisasi peran lembaga adat dan hak ulayat dalam menciptakan kondisi yang harmonis dan kondusif Kegiatan I : 1. Pemetaan potensi dan masalah keberadaan lembaga adat dan hak ulayat Pembinaan peningkatan peran lembaga adat dalam menciptakan iklim yang harmonis dan kondusif 2016 - 2020 Program I : Pemberdayaan dan optimalisasi peran lembaga adat dan hak ulayat dalam menciptakan kondisi yang harmonis dan kondusif Kegiatan I : Pembinaan peningkatan peran lembaga adat dalam menciptakan iklim yang harmonis dan kondusif Program II : Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan dan Pembangunan Bagi Masyarakat Adat Kegiatan I : 1. Kegiatan I : 1. Pemetaan potensi dan masalah serta kebutuhan masyarakat adat Pembinaan pengembangan wawasan kebangsaan dan pembangunan bagi masyarakat adat Pembinaan penyelarasan kebiasaan masyarakat dengan kegiatan investasi Pembinaan pengembangan wawasan kebangsaan dan pembangunan bagi masyarakat adat Pembinaan penyelarasan kebiasaan masyarakat dengan kegiatan investasi 2021 – 2025 Program I : Pemberdayaan dan optimalisasi peran lembaga adat dan hak ulayat dalam menciptakan kondisi yang harmonis dan kondusif Kegiatan I : Pembinaan peningkatan peran lembaga adat dalam menciptakan iklim yang harmonis dan kondusif Program II : Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan dan Pembangunan Bagi Masyarakat Adat Kegiatan I : Pembinaan penyelarasan kebiasaan masyarakat dengan kegiatan investasi

2.

Program II : Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan dan Pembangunan Bagi Masyarakat Adat

2.

Program III : Program Community Base Development Dalam Pelaksanaan Hak Ulayat Pada Kegiatan Investasi Kegiatan I : 1. Pembinaan penyelarasan keberadaan hak ulayat dengan kegiatan investasi Pemberdayaan masyarakat dalam penerapan hak ulayat pada kegiatan investasi

2.

Program III : Program Community Base Development Dalam Pelaksanaan Hak Ulayat Pada Kegiatan Investasi Kegiatan I :

3.

Program III : Program Community Base Development Dalam Pelaksanaan Hak Ulayat Pada Kegiatan Investasi Kegiatan I : Pemetaan potensi dan masalah penerapan hak ulayat pada kegiatan investasi Optimalisasi Peran Organisasi-Organisasi Sosial Sebagai Modal Sosial Dalam Menciptakan Iklim Investasi Yang Kondusif Program I : Optimalisasi Peran Organisasi-Organisasi Sosial Sebagai Modal Sosial Dalam Menciptakan Iklim Investasi Yang Kondusif Program I : 2. 1. Pembinaan penyelarasan keberadaan hak ulayat dengan kegiatan investasi Pemberdayaan masyarakat dalam penerapan hak ulayat pada kegiatan investasi

2.

Optimalisasi Peran Organisasi-Organisasi Sosial Sebagai Modal Sosial Dalam Menciptakan Iklim Investasi Yang Kondusif Program I :

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

74

Executive Summary

2010
2011-2015 Program Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Swadaya Masyarakat Sebagai Modal Sosial Dalam Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif 2016 - 2020 Program Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Swadaya Masyarakat Sebagai Modal Sosial Dalam Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif 2021 – 2025 Program Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Swadaya Masyarakat Sebagai Modal Sosial Dalam Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif

Kegiatan I : Pemetaan potensi dan masalah kelembagaan masyarakat

Kegiatan I : 1. Lokakarya Pengembangan Kapasitas Keswadayaan Masyarakat Dalam Menunjang Kegiatan Investasi Pelatihan capacity building bagi peningkatan peran kelembagaan swadaya masyarakat

Kegiatan I : 1. Lokakarya Pengembangan Kapasitas Keswadayaan Masyarakat Dalam Menunjang Kegiatan Investasi Pelatihan capacity building bagi peningkatan peran kelembagaan swadaya masyarakat

2.

2.

1.18.9 Aspek Kelembagaan Investasi
2011-2015 Optimalisasi Peran Lembaga Adat Dan Pemerintah Daerah Dalam Memfasilitasi Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Di Kelembagaan Investasi Program I : Program pemberdayaan lembaga adat dalam fasilitasi stakeholders di kelembagaan investasi Kegiatan I ; 1. Lokakarya Kontribusi Peran Lembaga Adat dalam Fasilitasi Stakeholders di Kelembagaan Investasi 2. FGD Potensi dan Masalah Lembaga Adat dalam Fasilitasi Stakeholders Program II : Program Sinergitas lembaga adat, pelaku usaha dan pemerintah daerah dalam kelembagaan investasi 2016 - 2020 Optimalisasi Peran Lembaga Adat Dan Pemerintah Daerah Dalam Memfasilitasi Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Di Kelembagaan Investasi Program I : Program pemberdayaan lembaga adat dalam fasilitasi stakeholders di kelembagaan investasi Kegiatan I : Pembinaan Peran Lembaga Adat dalam Fasilitasi Stakeholders di Kelembagaan investasi 2021 – 2025 Optimalisasi Peran Lembaga Adat Dan Pemerintah Daerah Dalam Memfasilitasi Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Di Kelembagaan Investasi Program I : Program pemberdayaan lembaga adat dalam fasilitasi stakeholders di kelembagaan investasi Kegiatan I : Pembinaan Peran Lembaga Adat dalam Fasilitasi Stakeholders di Kelembagaan investasi

Program II : Program Sinergitas lembaga adat, pelaku usaha dan pemerintah daerah dalam kelembagaan investasi Kegiatan I :

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

75

Executive Summary

2010
2011-2015 Kegiatan I : 1. Lokakarya Lembaga Adat dan Pemerintah Daerah, pelaku usaha dalam Kelembagaan Investasi Pembentukan Forum Kemitraan dalam Kelembagaan Investasi Optimalisasi Peran UMKM Guna Meningkatkan Aktivitas Usaha Di Papua Barat Program I : Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah Yang Konduksif Kegiatan I : Kegiatan I : 1. 2. 3. 4. Pemetaan Potensi dan Masalah UMKM Lokakarya pemberdayaan UMKM Fasilitasi kemudahan berusaha bagi UMKM FGD masalah dan kebutuhan UMKM FGD masalah dan kebutuhan UMKM Kegiatan I : Pelatihan sistem pemasaran UMKM berbasis internet Program II : Program Pengembangan Kewirausahaan Dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah Kegiatan I : 1. 2. Pelatihan Penelitian Pemasaran Bagi UMKM Pelatihan Pengembangan Design Produk Bagi UMKM Program II: Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Kegiatan I : 1. Pelatihan Capacity Building Koperasi 2. Lokakarya Peningkatan Peran Koperasi dalam Menunjang Perekonomian Wilayah Optimalisasi Peran UMKM Guna Meningkatkan Aktivitas Usaha Di Papua Barat Program I : Program Pengembangan Kewirausahaan Dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah 2016 - 2020 Pembentukan Forum Kemitraan dalam Kelembagaan Investasi 2021 – 2025

2.

Optimalisasi Peran UMKM Guna Meningkatkan Aktivitas Usaha Di Papua Barat Program I : Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah Yang Konduksif

Program II : Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah Kegiatan I :

Program III : 1. 2. Fasilitasi UMKM dalam akses informasi pasar Fasilitasi UMKM dalam akses peningkatan kualitas produksi Fasilitasi UMKM dalam akses permodalan Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Kegiatan I : 1. 2. Pelatihan Capacity Building Koperasi Lokakarya Peningkatan Peran Koperasi dalam Menunjang perekonomian Wilayah

3.

Program III : Program Pengembangan Kewirausahaan Dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah Kegiatan I : Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan bagi UMKM

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

76

Executive Summary

2010
2011-2015 2016 - 2020 2021 – 2025

Program IV : Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Kegiatan I : 1. Pemetaan potensi dan masalah koperasi 2. FGD dengan Pengurus Koperasi Mengenai peningkatan kualitas kelembagaan koperasi\

Optimalisasi Peran Lembaga Keuangan Guna Menunjang Aktivitas Usaha Di Papua Barat Program I : Program Peningkatan Peran Lembaga Keuangan dalam Menunjang Kegiatan Investasi Kegiatan : 1. Analisa Potensi dan Masalah Peran Lembaga Keuangan dalam menunjang kegiatan usaha Lokakarya Peningkatan Peran Perbankan Dalam Menunjang Kegiatan Investasi Pemberian Kemudahan Operasi Bagi Lembaga Keuangan Fasilitasi Pola Kerjasama Lembaga Keuangan dengan Pelaku Usaha Pemberian Insentif Pajak Bagi Dukungan Lembaga Keuangan Dalam Menunjang Kegiatan Investasi

Optimalisasi Peran Lembaga Keuangan Guna Menunjang Aktivitas Usaha Di Papua Barat Program I : Program Peningkatan Peran Lembaga Keuangan dalam Menunjang Kegiatan Investasi Kegiatan : Lokakarya Peningkatan Peran Perbankan Dalam Menunjang Kegiatan Investasi

Optimalisasi Peran Lembaga Keuangan Guna Menunjang Aktivitas Usaha Di Papua Barat Program I : Program Peningkatan Peran Lembaga Keuangan dalam Menunjang Kegiatan Investasi Kegiatan : Lokakarya Peningkatan Peran Perbankan Dalam Menunjang Kegiatan Investasi

2.

3.

4.

5.

Optimalisasi Dukungan Dan Fasilitasi Pemerintah Daerah Dalam Kelembagaan Investasi Guna Mengatasi Berbagai Hambatan Investasi Baik Dari Pusat Maupun Secara Global Program I :

Optimalisasi Dukungan Dan Fasilitasi Pemerintah Daerah Dalam Kelembagaan Investasi Guna Mengatasi Berbagai Hambatan Investasi Baik Dari Pusat Maupun Secara Global Program I :

Optimalisasi Dukungan Dan Fasilitasi Pemerintah Daerah Dalam Kelembagaan Investasi Guna Mengatasi Berbagai Hambatan Investasi Baik Dari Pusat Maupun Secara Global Program I :

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

77

Executive Summary

2010
2011-2015 Program Peningkatan Kapasitas Pemerintah Dalam Kelembagaan Investasi Kegiatan I : 1. Pembentukan Perangkat Daerah Provinsi Bidang Penanaman Modal Penerapan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pemberian Insentif dan Kemudahan Investasi dan Penanaman Modal di Daerah Penyusunan Payung Hukum Pelibatan Masyarakat Lokal Sebagai Tenaga Kerja 2016 - 2020 Program Peningkatan Kapasitas Pemerintah Dalam Kelembagaan Investasi Kegiatan I : 1. Pengembangan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) Pengaturan Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu 2021 – 2025 Program Peningkatan Kapasitas Pemerintah Dalam Kelembagaan Investasi Kegiatan I : 1. Pengaturan Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu

2. 3.

2.

2.

3.

4.

Sinergitas Bantuan Dana Internasional Dalam Menunjang Kegiatan Investasi Di Papua Barat Dengan Dukungan Keuangan Daerah Dalam Meningkatkan Realisasi Investasi Program I: Program Pengembangan Kerjasama Pemerintah Daerah dan Lembaga Pendanaan Internasional dalam Menunjang Kegiatan Investasi

Sinergitas Bantuan Dana Internasional Dalam Menunjang Kegiatan Investasi Di Papua Barat Dengan Dukungan Keuangan Daerah Dalam Meningkatkan Realisasi Investasi Program I: Program Pengembangan Kerjasama Pemerintah Daerah dan Lembaga Pendanaan Internasional dalam Menunjang Kegiatan Investasi

Sinergitas Bantuan Dana Internasional Dalam Menunjang Kegiatan Investasi Di Papua Barat Dengan Dukungan Keuangan Daerah Dalam Meningkatkan Realisasi Investasi Program I: Program Pengembangan Kerjasama Pemerintah Daerah dan Lembaga Pendanaan Internasional dalam Menunjang Kegiatan Investasi

Kegiatan I : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Program Pengembangan Kerjasama Pemerintah Daerah dan Lembaga Keuangan Internasional Pembuatan Profil Potensi Investasi di Provinsi Papua Barat Pembuatan Sistem Informasi dan Data Base Peluang Kerjasama Internasional

Kegiatan I : 1. Kajian Peluang Kerjasama Pemerintah Daerah dan Lembaga Keuangan Internasional Pembuatan Sistem Informasi dan Data Base Peluang Kerjasama Internasional

Kegiatan I : 1. Penyusunan Pedoman Kerjasama Pemerintah Daerah dan Lembaga Keuangan Internasional Koordinasi dan Peningkatan Hubungan Kerjasama dengan lembaga-lembaga pendanaan internasional Peningkatan Pola Kemitraan dan Kerjasama dengan lembaga-lembaga pendanaan internasional

2.

2.

2.

3.

3.

Sinkronisasi peraturan dan kebijakan investasi antara pusat dan daerah guna menciptakan iklim investasi yang kondusif

Sinkronisasi peraturan dan kebijakan investasi antara pusat dan daerah guna menciptakan iklim investasi yang kondusif

Sinkronisasi peraturan dan kebijakan investasi antara pusat dan daerah guna menciptakan iklim investasi yang kondusif

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

78

Executive Summary

2010
2011-2015 Program I : Program Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah Guna Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif Kegiatan I : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Tumpang Tindih Peraturan dan Kebijakan Antara Pusat dan daerah Lokakarya Pembahasan Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah Penyusunan Pedoman Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah Pelaksanaan Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah 2016 - 2020 Program I : Program Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah Guna Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif Kegiatan I : Penyusunan Pedoman Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah 2021 – 2025 Program I : Program Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah Guna Menciptakan Iklim Investasi yang Kondusif Kegiatan I : Pelaksanaan Penataan Peraturan dan Kebijakan Investasi Antara Pusat dan Daerah

2.

3.

4.

Peningkatan Kualitas Dan Kuantitas Aparatur Kelembagaan Investasi Guna Menunjang Kegiatan Investasi Di Provinsi Papua Barat Program I : Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Kelembagaan Investasi Guna Menunjang Kegiatan Investasi di Daerah

Kegiatan I : 1. Analisa Kinerja Aparat Pemerintah dalam menunjang kegiatan investasi Pelatihan Capacity Building Bagi Aparatur Terkait Mekanisme Kelembagaan Investasi, Peraturan dan Kebijakan Investasi, SOP Kegiatan Investasi

2.

Sinkronisasi Mekanisme Perijinan Investasi Di Daerah Dengan Payung Hukum Dan Kebijakan Investasi Dari Pusat

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

79

Executive Summary

2010
2011-2015 Program I : Program Penataan Perijinan Investasi dengan Payung Hukum dan Kebijakan Investasi dari Pusat Kegiatan I : 1. Pemetaan Potensi dan Masalah Tumpang Tindih Perijinan Investasi di daerah dengan payung hukum dan kebijakan investasi dari pusat Lokakarya Mekanisme Penataan Perijinan Investasi di daerah dengan Payung Hukum dan Kebijakan Investasi Pusat Penyusunan Pedoman Perijinan Investasi Berbasis Payung Hukum dan Kebijakan Investasi Pusat 2016 - 2020 2021 – 2025

2.

3.

1.18.10

Aspek Infrastruktur
2016-2020 Peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan transportasi darat, laut, udara guna menunjang percepatan pembangunan di Provinsi Papua Barat. Program I Program Peningkatan Pelayanan Transportasi Darat Berbasis Tata Ruang dan Wilayah Kegiatan : 1. Rehabilitasi /Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 2. Pembangunan Sistem Informasi /Data Base Jalan Dan Jembatan 3. Penyediaan sarana angkutan umum di wilayah terpencil 4. Penambahan sarana angkutan umum di setiap kabupaten/kota 5. Pembangunan Sistem Tanggap Darat Transportasi Darat 2021-2025 Peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan transportasi darat, laut, udara guna menunjang percepatan pembangunan di Provinsi Papua Barat. Program I Program Peningkatan Pelayanan Transportasi Darat Berbasis Tata Ruang dan Wilayah Kegiatan : 1. Rehabilitasi /Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 2. Pembangunan Sistem Informasi /Data Base Jalan Dan Jembatan 3. Penambahan sarana angkutan umum di setiap kabupaten/kota

2011-2015 Peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan transportasi darat, laut, udara guna menunjang percepatan pembangunan di Provinsi Papua Barat. Program I Program Peningkatan Pelayanan Transportasi Darat Berbasis Tata Ruang dan Wilayah Kegiatan : 1. Pemetaan potensi dan masalah pelayanan transportasi darat 2. Pembangunan Ruas Jalan dan Jembatan di setiap kabupaten/kota 3. Pembangunan Terminal Terpadu di Ibu Kota Kab/Kota 4. Rehabilitasi /Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 5. Pembangunan Sistem Informasi /Data Base Jalan Dan Jembatan 6. Penambahan sarana

Program II Peningkatan kapasitas petugas teknis pertanian. Kegiatan :

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

80

Executive Summary

2010
2011-2015 angkutan umum di setiap kabupaten/kota Pelatihan Capacity Building Kelembagaan Pelayanan Transportasi Darat Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Dinas Perhubungan 2016-2020 Program II Program Peningkatan Pelayanan Transportasi Laut Berbasis Tata Ruang dan Wilayah Kegiatan : Peningkatan jumlah petugas teknis lapangan. 2021-2025 Peningkatan jumlah petugas teknis lapangan.

7.

8.

Program III Pengembangan teknologi tepat guna pada fase produksi dan pasca panen

Program II Program Peningkatan Pelayanan Transportasi Laut Berbasis Tata Ruang dan Wilayah Kegiatan : 1. Pelatihan budidaya pertanian untuk petugas teknis lapangan 2. Peningkatan jumlah petugas teknis lapangan.

Kegiatan : Ketersediaan kapal pengolahan ikan terpadu

Program III Peningkatan kualitas SDM yang berkaitan dengan keterampilan, pengetahuan, dan teknologi produksi maupun distribusi sektor pertanian. Kegiatan : Pengadaan pelatihan capacity building kelompok usaha tani

Program IV Peningkatan kemampuan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah Kegiatan : Mediasi antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan dunia perbankan yang dilakukan oleh pemerintah Program V Peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana kegiatan sektor pertanian sebelum dan pasca secara tepat, dan terjangkau. Kegiatan : 3. Pendirian balai pembibitan pertanian dan perikanan 4. Pembuatan jalan yang menghubungkan sentra

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

81

Executive Summary

2010
2011-2015 produksi dengan sentra pemasaran 2016-2020 2021-2025

Program VI Peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana kegiatan sektor pertanian sebelum dan pasca panen secara tepat, dan terjangkau. Kegiatan : 3. Pendirian balai pembibitan pertanian dan perikanan 4. Pembuatan jalan yang menghubungkan sentra produksi dengan sentra pemasaran.

Program VII Peningkatan pemasaran sektor pertanian Kegiatan : 3. Pendirian pusat informasi produk pertanian dan perikanan 4. Pameran produk pertanian dan perikanan

Peningkatan peluang kerja pada sektor pertanian. Program I Peningkatan jumlah usaha kecil dan menengah Kegiatan : Peningkatan dan penyebarluasan infrormasi mengenai usaha pertanian berdasarkan profil sektor unggulan Peningkatan kemampuan usaha masyarakat. Program I Peningkatan kemampuan wirausaha Kegiatan : Pelatihan budidaya pertanian

Peningkatan peluang kerja pada sektor pertanian. Program I Peningkatan jumlah usaha kecil dan menengah Kegiatan : Pembinaan kepada para pengusaha skala menengah dan besar untuk mendukung terbentuknya kelompok usaha.

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

82

Executive Summary

2010
2011-2015 bagi pemuda 2016-2020 2021-2025

Peningkatan peran kelembagaan desa dalam pendampingan masyarakat Program I Mendorong terbentuknya kerjasama yang baik antara kelompok tani dan pengusaha Kegiatan : Penyediaan pola Bapak Asuh bagi kelompok usaha informal/formal skala kecil Peningkatan kualitas sarana dan prasarana sektor pertanian Program I Peningkatan infrastruktur Kegiatan : 1. Perbaikan dan peningkatan kualitas pelabuhan 2. Pendirian pusat penyimpanan ikan di tiap pelabuhan Revalitasi kelembagaan petani dari usaha budaya menjadi lembaga usaha Program I Pengembangan usaha agroindustri Kegiatan : 1. Pelatihan pembuatan produk berbasis beras, ubi kayu, singkong 2. Pelatihan pembuatan bahan bakar bioenergi 3. Pelatihan pengemasan dan pemasaran produk pertanian Program II Peningkatan jumlah usaha informal/formal sektor pertanian Revitalisasi kelembagaan petani dari usaha budaya menjadi lembaga usaha Program I Pengembangan usaha agroindustri Kegiatan : 1. Pendirian pabrik pembuatan produk berbasis beras, ubi, kayu 2. Pendirian depot bahanbahan bioenergi

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

83

Executive Summary

2010
2011-2015 2016-2020 Kegiatan : Pendirian usaha penyediaan kebutuhan untuk sektor pertanian dan perikanan 2021-2025

Peningkatan pemberdayaan kemampuan masyarakat dalam usaha Program I Memperkokoh kelembagaan usaha ekonomi Kegiatan : Pelatihan pengembangan usaha bagi kelompok usaha

Penyusunan Strategi Pengembangan Penanaman Modal dan Roadmap Investasi di Provinsi Papua Barat

84

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->