Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR FEMUR

Disusun Oleh: Diajeng Sekar Ayu Kinasih NIM: 1102026

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN STIKLES BETHESDA YAKKUM YOGYAKARTA

PERNYATAAN PERSETUJUAN Laporan Pedahuluan Fraktur Femur ini sudah diteliti dan disetujui oleh Pembimbing Laboratorium Klinik STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta

Yogyakarta, November 2013

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

Isnanto, S.Kep.,Ns

Ns. FA Muji Raharjo,S.Kep

Mengetahui, Ka Prodi S1 Ilmu Keperawatan

Nurlia Ikaningtyas, M.Kep.,Sp.Kep.MB

BAB I LANDASAN TEORI FRAKTUR FEMUR

A. KONSEP MEDIS 1. Pengertian Fraktur adalah hi;langnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian. Fraktur Femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang disaebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis. (Arif Muttaqin, 2008)

2. Epidemiologi Fraktur subtrochanter femur banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60 tahun dimna tulang sudah mengalami osteoporosis, trauma yang dialami oleh lansia biasanya ringan (karena terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penmderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, femur supracondyler, fraktur intercondyler , fraktur condyler femur banyak terjadi pada penderita laki-laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh dri ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh waktu bermain.

3. Anatomi Fisiologi a. Anatomu Tulang Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan menjadi tempat untuk melekatnya otot-otot yang

menggerakkan tubuh. Tulang dlh jaringan terstruktur dengan baik dan mempunyai 5 fungsi utama: 1) Membentuk rangka badan 2) Sebagi pengumpil dan tempat melekat otot 3) Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan

mempertahankan alat-alt dalam (otot, sumsum tulang belakang, jantung, dan paru-paru) 4) Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium, fosfat, magnesium dan garam. 5) Ruang ditengah tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi tambahan lain, yaitu sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Komponen utama jaringan tulang adalah mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat

membentuk suatu kristal garam (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik tulang juga disebut osteosid. Sekitar 70% dari osteosid adalah kolagen tipe I yang kaku dan memberi tinggi pada tulang. Materi organik lain yang juga menyusun tulang berupa proteoglikan. Secara garis besar, tulang dibagi menjadi 6; 1) Tulang panjang (long bone): femur, tibia, fibula, ulna, humerus. 2) Tulang pendek (short bone): tulang-tulang karpal 3) Tulang pipih (flat bone): tulang parietal, iga, skapula, dan pelvis. 4) Tulanmg tak beraturan (irregular bone): tulang vertebra 5) Tulang Sesmoid: tulang patella 6) Tulang Sutura: atap tengkorak

Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luarnya yang disebut dengan korteks dan bagian luarnya dilapisi periosteum. b. Fisiologi tulang Tulang terdiri dari 3 jenis sel: 1) Osteoblast Membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses yangh disebut osifikasi. 2) Osteosit Adalah sel tulang dewasa yng bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. 3) Osteoklas Adalh sel besar yang berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat di absorbsi. Sel ini menghasilkan enzim proteolitik, yang memecah matriks dan beberapa asam yang melarutklan mineral tulang sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. (Arif Muttaqin, 2008) c. Os Femur Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar yang terhubung dengan asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. Disebelah atas dan bawah kolumna femoris terdapat taju yang disebut trokanter mayor dan trokanter minor. Di bagian

ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut kondilus medialis dan kondilus lateralis. Di antara kedua kondilus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patela) yang disebut dengan fosa kondilus.

Os tibialis dan fibularis merupakan tulang pip yng terbesar sesudah tulang paha yang membentuk persendian dengan os femur. Pda bagian ujungnya terdapat tonjolan yang disebut maleolus lateralis atau mata kaki luar. Os tibia bentuknya lebih kecil, pada pangklal melekat os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os maleolus medialis. (Syaifuddin, 2006)

4. Etiologi Penyebab fraktur femur antara lain: a. Fraktur femur terbuka Disebabkan oleh trauma langsung pad paha b. Fraktur femur tertutup Disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang (osteoporosis) dan tumor atau keganasan tulang paha yang menyebabkan fraktur patologis. (Arif Muttaqin, 2011)

5. Patofisiologi

6. Tanda dan gejala a. Nyeri Terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasi.Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirncang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. b. Gerakan luar biasa Bagian bagian yang tidak dapat digunkan cendrung bergerak secara tidak alamiah bukannya tetap rigid seperti normalnya. c. Pemendekan tulang Terjadi pada fraktur panjang. Karena kontraksi otot yang melekat di atas dan dibawah tempat fraktur. d. Krepitus tulang (derik tulang) Akibat gerakan fragmen satu dengan yang lainnya.

e. Pembengkakan dan perubahan warna tulang Akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini terjadi setelah beberapa jam atau hari. (Brunner Suddarth, 2001)

7. Klasifikasi Dua tipe fraktur femur adalah sebagai berikut; a. Fraktur interkapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul, dan melalui kepala femur (fraktur kapital). b. Fraktur ekstrakapsular 1) Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokanter femur yang lebih besar / lebih kecil/ pada daerah intertrokanter. 2) Terjadi di bagian distal menuju leher femur, tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokanter minor. Klasifikasi fraktur femur: a. Fraktur leher femur Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada orang tua terutama wanita usia 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis. Fraktur leher femur pada anak anak jarang ditemukan fraktur ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan tersering pada usia 11-12 tahun. 3:2. Insiden

b. Fraktur subtrokanter Dapat terjadi pada semua usia, biasanya disebabkan trauma yang hebat. Pemeriksaan dpat menunjukkan fraktur yang terjadi dibawah trokanter minor.

c. Fraktur intertrokanter femur Pada beberapa keadaan, trauma yang mengenai daerah tulang femur. Fraktur daerah troklear adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan minor. Frkatur ini bersifat

ekstraartikular dan sering terjadi pada klien yang jatuh dan mengalami trauma yang bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara trokanter mayor dan minor tempat fragmen proksimal cenderung bergeser secara varus. Fraktur dapat bersifat kominutif terutama pada korteks bagian posteomedial.

d. Fraktur diafisis femur Dapat terjadi pada daerah femur pada setiap usia dan biasanya karena trauma hebat, misalnya kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian.

e. Fraktur suprakondilar femur Daerah suprakondilar adalah daerah antar batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Trauma yang mengenai femur terjadi karena adanya tekanan varus dan vagus yang disertai kekatan aksial dan putaran sehingga dapat menyebabkan fraktur pada daerah ini. Pergeseran terjadi karena tarikan otot. (Arif Muttaqin, 2008)

8. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan berdasar jenis fraktur femur: a. Fraktur leher femur Pemeriksaan radiologis dapat mengetahui jenis fraktur dan jenis pengobatan yang dapat diberikan.

b. Fraktur subtrokanter Pemeriksaan radiologis dapat menunjukkan fraktur yang terjadi di bawah trokanter minor. Garis fraktur dapat bersifat transversal, oblik atau spiral dan sering bersifat kominutif. Fragmen proksimal dalam posisi fleksi, sedangkan fragmen distal dlam posisi adksi bergeser ke proksimal. c. Fraktur diafisis femur Klien mengalami pembengkakan dan deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai. Klien mungkin datang dengan keadaan syok. d. Fraktur suprakondilar femur Adanya pembengkakan dan deformitas terdapat krepitasi. (Arif Muttaqin, 2008)

9. Penatalaksanaan a. Fraktur Femur Terbuka Menurut Apley (1995), fraktur femur terbuka harus dinilai dengan cermt untuk mengetahui ada tidaknya kehilangan kulit, kontaminasi luka, iskemia otot, cedera pada pembuluh darah dan saraf. Intervensi tersebut meliputi: 1) Profilaksis antibiotik 2) Debridemen Pembersihan luka dan debridemen harus dilakukan dengan sedikit mungkin penundaan. Jika terdapat kematian jaringan yang mati dieklsisi dengan hati-hati. Luka akibat penetrasi fragmen luka yang tajam juga perlu dibersihkan dan dieksisi, terapi yang cukup dengan debridemen terbatas saja. 3) Stabilisasi Dilakukan pemasangan fiksasi interna atau eksterna.

10

4) Penundaan tertutup 5) Penundaan rehabilitasi

b. Fraktur Femur Tertutup Pengkajian ini diperlukan oleh perawat sebagai peran kolaboratif dalam melakukan asuhan keperawatan. Denagn mengenal tindakan medis, perawat dapat mengenal impliksi pada setiap tindakan medis yang dilakukan. 1) Fraktur trokanter dan sub trokanter femr, meliputi: a) Pemasangan traksi tulang selama 6-7 minggu yang

dilanjutkan dengan gips pinggul selama 7 minggu merupakn alternaltif pelaksanaan pada klien usia muda. b) Reduksi terbuka dan fiksasi interna merupakan pengobatan pilihan dengan memergunakan plate dan screw. 2) Fraktur diafisis femur, meliputi: a) Terapi konserfativ b) Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif untuk mengurangi spasme otot. c) Traksi tu;lang berimbang denmgan bagian pearson pada sendi lutut. Indikasi traksi utama adalah faraktur yang bersifat kominutif dan segmental. d) Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah union fraktur secara klinis

3) Terapi Operasi a) Pemasangan plate dan screw pada fraktur proksimal diafisis atau distal femur

11

b) Mempengaruhi k nail, AO nail, atau jenis lain, baik dengan operasi tertutup maupun terbuka. Indikasi K nail, AO nail terutama adalah farktur diafisis. c) Fiksassi eksterna terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected pseudoarthrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat. 4) Fraktur suprakondilar femur, meliputi: a) Traklsi berimbang dengan menggunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson, cast bracing, dan spika panggul. b) Terapi operatif dilakukan pada fraktur yang tidak dapat direduksi secara konservatif. Terapi dilakukan dengan mempergunakan nail-phorc dare screw dengan berbagai tipe yang tersedia. (Arif Muttaqin, 2011)

10. Komplikasi a. Fraktur leher femur Komplikasi bergantung pada beberapa faktor. Komplikasi yang bersifat umum adalah trombosis vena, emboli paru, pneumonias, dan dekubitus. Nekrosis avaskular terjadi pada 30% klien fraktur femur yang disertai pergeseran dan 10% fraktur tanpa pergeseran. Apabila lokasi fraktur lrbih ke proksimal, kemungklinan terjadi nekrosis avaskular lebih besar. b. Fraktur diafisis femur 1) Komplikasi dini Komplikasi dini harus segera ditangani dengan serius olh perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan pada klien fraktur diafisis femur. Perawat dapat melakukan pengenalan dini dan pengawasan yang optimal apabila telah mengenal konsep anatomi, fisiologi, dan patofisioloigi patah tulang.

12

Komplikasi yang biasanya terjadi pada fraktur diafisis femur adalah sebagai berikut: a) Syok. Terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walapun fraktur bersift tertutup. b) Emboli lemak. Sering didapatkan pada penderita muda dengan fraktur femur. Klien perlu menjalani pemeriksaan gas darah. c) Trauma pembuluh darah besar. Ujung fragmen tulang menembus jaringan lunak dan merusak arteri femoralis sehingga menmyebakan kontusi dan oklusi atau terpotong sama sekali. d) Trauma saraf. Trauma pada pembuluh darah akibat tusukan fragmen dapat disertai kerusakan saraf yang berfariasi dari neuropraksia sampai ke aksonotemesis. Trauma saraf dapat terjadi pada nervus iskiadikus atau pada cabangnya, yaitu nervus tibialis dan nervus peroneus komunis. e) Trombo emboli. Klien yag mengalami tirah baring lama, misalnya distraksi di tempat tidur, dapat mengalami komplikasi trombo-emboli. f) Infeksi. Infeksi terjadi pada fraktur terbuka akibat luka yang terkontaminasi. Infeklsi dapat pula terjadi setelah dilakukan operasi. 2) Komplikasi lanjut Komplikasi fraktur diafisis femur hampitr sama dengan komplikasi bebrapa jenis fraktur lainnya. Oleh karena itu setiap perawat penrlu memperhatikan dan mengetahui komplikasi yang biasa terjadi agar komplikasi tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan. Pada beberapa situasi, perawat akan berhadapan dengan klien fraktur diafisis femur yang menga;lami komplikasi lanjut. Perawat yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang baik dapat

13

mengidenmtifikasi kelainan yang timbul akibat komplikasi tahap lanjut dari fraktur diafissi femur. Komplikasi yang sering terjadi pada klien dengan fraktur diafisis femur adalah sebagai berikut: a) Delayed Union. Fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam empat bulan. b) Non union. Apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik, perawat perlu mencurigai adanya non union. Oleh karena itu, diperlukan fiksasi internal dan bone graft. c) Mal union. Bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, diperlukan pengamatan terus menerus selama perawatan. Angulasi lebih sering ditemukan. Mal union juga mnyebabkan pemendekan tungkai sehingga dipelukan

koreksi berupa osteotomi. d) Kaku sendi lutut. Setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan pergerakan pada sendi lutut. Hal ini dapat dihindari apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal. e) Refraktur. Terjadi pada mobilisasi dilakukan sebelum union yang solid. (Arif Muttaqin, 2008)

11. Prognosis Penderita fraktur femur setelah operasi pemasngan fiksasi interna denmgan plate dan screw bila tanpa komplikasi dan mendapat p[elayanan fisioterapi yang cepat dan adekuat diharapkan kemampuan fungsionalnya membaik.

14

B. Keperawatan 1. Pengkajian a. Anamnesis 1) Identitas klien Meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahsa yang digunkan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor register, tanggal dan jam masuk rumah sakit, dan diagnosis medis. Pada umumnya, keluhan utama pada kasus fraktur femur adalah rasa nyeri yang hebat. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap mengenai rasa nyeri klien, perawat mengunakan OPQRSTUV. O (onset) P (Provoking Incident): hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah trauma bagian pada Q (quality of pain): klien merasakan nyeri yang bersifat menusuk. R (Region, Radiation, Relief): nyeri yang terjadi di bagian paha yang mengalami patah tulang. Nyeri dapt reda dengan imobilisasi atau istirahat. S (Scale of pain): Secara subyektif, nyeri yang dirasakan klien antara 2-4 pada skala pengukuran 0-4 T (Treatment) U (Understanding) V (Value) 2) Riwayat penyakit sekarang Kaji kronologi terjadinya trauma yang menyebabkan patah tulang paha, pertolongan apa yang telah didapatkan, dan apakah sudah berobt ke dukun patah. Dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaaan, perawat dapat mengetahui luka kecelakaan yang lain.

15

3) Riwayat penyakit dahulu Penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget menybabkan fraktur patologis sehingga tulang sulit untuk menyambung. Selain itu, klien diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadi osteomielitis akut dan kronis dan penyaklit diabetes melitus menghambat proses penyembuhan tulang. 4) Riwayat penyaklit keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan patah tulang paha adalah faktor predispossisi terjadinya fraktur, seperti osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik. 5) Riwayat psikospiritual Kaji respon emosis klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran klien dalam keluarga, masyarakat, serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun masyarakat. b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status gheneral) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokal) 1) Keadaan umum Keadaan baik dan buruknya klien. Tanda-tanda gejala yang perlu dicatat adalah kesadaran diri pasien (apatis, sopor, koma, gelisah, komposmetis yang bergantung pada keadaan klien), kesakitan atau keadaaan penyakit (akut, kronis, berat, ringan, sedang, dan pada kasus fraktur biasanya akut) tanda vital tidak nmormal karena ada gangguan lokal baik fungsi maupun bentuk. 2) B1 (Breathing) Pada pemeriksaan sistem pernafasan, didapatkan bahwa klien fraktur femur tidak mengalami kelainaan pernafasan. Pada palpasi

16

thorak, didapatkan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi tidak terdapat suara tambahan. 3) B2 (Blood) Inspeksi tidak ada iktus jantung, palpasi nadi meningkat iktus tidak teraba, auskultasui suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur. 4) B3 (Brain) a) Tingkat kesadaran biasanya komposmentis. Kepala: Tidak ada gangguan, yaitu normosefalik, simetris., tidak ada penonjolan, tidak ada sakit kepala. Leher: Tidak ada gangguan, simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada. Wajah : Wajah terlihat menahan sakit dan bagian wajah yang lain tidak mengalami perubahan fungsi dan bentuk. Wjah simetris, tidak ada lesi dan edema. Mata: Tidak ada gangguan, konjungtiva tidak anemis (pada klien dengan patah tulang tertutup tidak terjadi perdarahan). Klien yang mengalami fraktur femur terbuka biasanya mengfalami perdarahan sehingga konjungtiva nya anemis. Telinga : Tes bisik dan weber msih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi dan nyeri tekan. Hidung: Tidak ada deformitas, tidak ada pernafasan cuping hidung. Mulut dan Faring: Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat. b) Pemeriksaan fungsi serebral Status mental, observasi penampilan, dan tingkah laku klien. Biasanya status mental tidak mengalami perubahan. c) Pemeriksaan saraf kranial Saraf I: fungsi pendiuman tidak ada gangguan. Saraf II: ketajaman penglihatan normal
17

Saraf III, IV, VI: tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata, pupil isokor. Saraf V: tidak mengal;ami paralisis pada otot wajah dan reflek kornea tidak ada kelainan. Saraf VII: persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris. Saraf VIII: tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi. Saraf IX dan X: kemampuan menelan baik Saraf XI: tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Saraf XII: ;idah simeteris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada faskulasi. Indra pengecapan normal.

d) Pemeriksaan refleks Biasnya tidak ditemukan reflek patologis. d) Pemeriksaan sensori Daya raba klien fraktur femur berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedangkan indra yang lain dan kognitifnya tidak menga;lami gangguan. Selian itu, timbul nyeri akibat fraktur. 5) B4 (Bladder) Kaji urine yang meliputi wana, jumlah dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine. Biasanya klien fraktur femur tidak mengalami gangguan ini. 6) B5 (Bowel) Inspeksi abdomen: bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. Palpasi: turgor baik, tidak ada defans muskular dan hepar tidk teraba. Perkusi: suiara timpani, ada pantulan gelombang cairan. Auskultasi peristaltik normal. Inguinal,genital: hernia tidak teraba, tidak ada pembesaran limfe dan tidak ada kesulitan BAB.

18

7) B6 (Bone) Adanmya fraktur femur akan mengganggu secara lokal, baik fungsi motorik, sensorik maupun peredaran darah. 8) LOOK Pada sistem integumen terdapat eritema, suhu disekitar daerah trauma meningkat, bengkak, edema dan nyeri tekan. Perhatikan adanya pembengklakan yang tidak biasa (abnormal) dan

deformitas. Perhatikan adanya sindrom kompartemen pada bagian distal fraktur femur. Apabila terjadi fraktur terbuka, perawat dapat menemukan adanya tanda-tanda trauma jaringan lunak sam[pai kerusakann intergritas kulit. Fraktur obli, spiral atau bergeser mengakibatkan pemendekan batang femur. Ada tanmda cedera dan kemungkinan keterlibatan berkas pembuluh darah) paha, sepertoi neurovaskular (saraf dan bengkak atau edema.

Ketidakmampuan menggerakkan tungkai. 9) FEEL Kaji adnya nyeri tekan dan krpitasi pada daerah paha. 10) MOVE Pemeriksaan dengan menggerakkan eksteremitas apakh terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Dilakukan pencatatan rentang gerak. Dilakukan pemeriksaan gerak aktif dan pasif. Berdasar pemeriksaan didapat adanya gangguan / keterbatasan gerak tungkai, ketidakmampuan menggerakkan tungkai, penurunan kekuatan otot.

2. Diagnosa Keperawatan a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik. b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan

muskuloskeletal, kerusakan integritas struktur tulang, penurunan kekuatan otot.

19

c. Defisit perawatan diri (mandi, eliminasi) berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal, hambatan mobilitas. d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tonjolan tulang. e. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pemasangan fiksasi interna. f. Ansietas berhubungan dengan stres, krisis situasional.

20

3. Nursing Care Plan No Diagnosa Keperawatan Rencana Perawatan Nursing Out Come (NOC) 1 Nyeri akut berhubungan dengan agen Setelah cedera fisik. dilakukan selama tindakan 3x24 jam Nursing Intervention Classification (NIC) a. Kaji nyeri pasien dengan pengkajian nyeri OPQRSTUV b. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien nyeri pada terhadap ketidaknyamanan (misal suhu ruangan, pencahayaan, dan kegaduhan) c. Berikan teknik relaksasi d. Ajarkan manajemen nyeri (misal nafas dalam) e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik. 2 Hambatan berhubungan mobilitas dengan fisik Setelah dilakukan selama pasien tindakan 3x24 jam a. Kaji mobilitas yang ada dan

keperawatan

diharapkan nyeri hilang/ berkurang dengan kriteria hasil: a. Melaporkan skala 0-1 b. TTV dalam batas normal c. Ekspresi wajah tidak

menahan nyeri

gangguan keperawatan

observasi kerusakan

terhadap

peningkatan

muskuloskeletal, kerusakan integritas diharapkan

mampu

struktur tulang, penurunan kekuatan melakukan aktifitas fisik sesuai

b. Pantau kulit bagian distal setiap hari

21

otot.

dengan

kemampuannya

dengan

terhadap adanya iritasi, kemerahan. c. Ubah posisi pasien yang imobilisasi

kriteria hasil: a. Mampu perpindahan b. Meminta bantuan untuk melakukan

minimal setiap 2 jam. d. Ajarkan klien untuk melakukan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit. e. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.

aktifitas mobilisasi. c. Tidak terjadi kontraktur

Defisit eliminasi)

perawatan

diri

(mandi, Setelah

dilakukan selama pasien

tindakan 3x24 jam

a. Kaji kemampuan penggunaa alat bantu b. Kaji kondisi kulit saat mandi c. Berikan mampu bantuan secara sampai mandiri pasien untuk

berhubungan

dengan keperawatan

gangguan muskuloskeletal, hambatan diharapkan mobilitas. peningkatan

mengalami dalam

perilaku

merawat diri dengan kriteria hasil: a. Klien mampu melakukan aktifitas perawatan

melakuakn perawatan diri d. Letakkan sabun, handuk, peralatan mandi, peralata BAB/BAK, didekat klien.

dirisesuai denmgan tingkat kemampuan b. Mengungkapkan verbal kepuasan secara tentang

e. Ajarkan pasien atau keluarga untuk menggunakan metode alternaltif

22

kebersihantubuh, mulut.

hygiene

dalam

mandi,

hygiene

mulut,

BAB/BAK. f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian supositoria kalau terjadi konstipasi

Kerusakan

integritas

kulit Setelah

dilakukan selama

tindakan 3x24 jam

a. Kaji adanya faktor resiko yang menyebabkan kerusakan integritas kulit b. Observasi kulit setiap hari dan catat sirkulasi dan sensori serta perubahan

berhubungan dengan tonjolan tulang.

keperawatan

diharapkan tidak terjadi kerusakan integritas kulit secara luas dengan kriteria hasil: a. Nyeri lokal ekstremitas

yang terjadi c. Berikan bantalan pada ujung dan

tidak terjadi b. Menunjukkan perawatan efektif. kulit rutinitas yang

sambungan traksi d. Jika memungkinkan ubah posisi 1-2 jam secara rutin e. Konsultasikan ka ahli gizi untuk maknan tinggi protein untuk

membantu penmyembuhan luka

23

Ansietas berhubungan dengan stres, Setelah krisis situasional.

dilakukan selama tingkat

tindakan 3x24 jam

a. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan klien b. Kaji cara pasien untuk mengatasi kecemasan c. Sediakan informasi yang aktual tentang diagnosa medis dan

keperawatan diharapkan

kecemasan

berkuranmg dengan kriteria hasil: a. Tidak menunjukkan

perilaku agresif b. Melaporkan manifestasi secara fisik. tidak ada

prognsis d. Ajarkan ke pasien tentang

kecemasan

peggunaan teknik relaksasi

24

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 3. Jakarta: EGC. Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:EGC. Arif Muttaqin. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:EGC Arif Muttaqin. 2011. Buku Saku Gangguan Mulskuloskeletal Aplikasi pada Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta:EGC. NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.

25