Anda di halaman 1dari 1

Lihat! Itu Si Pinkish!

Kata kakekku masa muda itu menyenangkan, tapi sepertinya teori itu tak berlaku untukku. Setiap musim penghujan perlakuan seperti ini sudah sering kudapatkan. Awalnya, semua berlaku normal. Tapi karena perkembangan jaman, teman-temanku mulai meninggalkan payung dan beralih mengenakan jas hujan saat bepergian setiap musim hujan. Nah, karena si jaman itu selalu maju dan aku jarang mengikutinya jadi beginilah aku . Masih menggunakan payung warisan kakakku yang berukuran mini dan berwarna pink ngejreng. Sebagian besar teman-teman yang bergender sama denganku mengenakan jas hujan, ada juga sih yang membawa payung tapi tidak se-norak milikku. Hey, bukan berarti aku bangga ya!

Sekarang. Ini tak bisa ditunda lagi. Aku harus mengakatannya sekarang. Ini awal bulan dan ibu pasti punya cukup uang bila aku memintanya sekarang. Aku sudah cukup menunggu, harga diriku tak bisa lagi dihancurkan oleh benda berwarna norak ini. Kulangkahkan kakiku ke dapur tempat biasa ibu berada saat hari minggu pagi seperti hari ini. Bu, aku ingin bicara sebagai lelaki dewasa- Calon lelaki dewasa tepatnya. Kamu pasti ingin dibelikan sesuatu kan? Tidak mungkin calon lelaki dewasa sepertimu bicara menggertak seperti itu. terkanya. Kenapa ibu bisa tahu? Aku kan belum menyelesaikan kalimatku. Kau anakku segala jenis kelakuanmu aku tahu. Ya, begitulah ibuku. Wajar, dia yang melahirkanku. Kau ingin apa, hm?