P. 1
BULETIN I Edisi 3 Tahun 2006

BULETIN I Edisi 3 Tahun 2006

|Views: 1,136|Likes:
Dipublikasikan oleh adminkkptanjungpriok

More info:

Published by: adminkkptanjungpriok on Aug 13, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Sections

Oleh : Sysoraya

ABSTRAK

Salah satu tupoksi Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah
melaksanakan cegah tangkal keluar masuknya penyakit
karantina dan penyakit menular potensial wabah.
Menurut beberapa ahli, penyakit karantina adalah
penyakit yang mempunyai ciri-ciri antara lain :
penyebarannya yang cepat, menimbulkan banyak
kematian serta sampai saat ini belum ditemukan
obatnya. Lalu apa sajakah penyakit karantina itu?
Bagaimana gejalanya? Bagaimana penyebarannya? Dan
yang lebih penting lagi bagaimana pencegahan dan
pengobatannya?

Berikut ini sedikit informasi tambahan tentang penyakit
karantina yang mudah-mudahan dapat menjadi tambahan
referensi bagi kita semua sebagai staff Kantor Kesehatan
Pelabuhan khususnya dan masyarakat luas umumnya

C H O L E R A

P E S

C H O L E R A

A. Apa itu Kolera?

Kolera adalah suatu penyakit diare akut disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae jenis
O1 ataupun O139. Kedua jenis bakteri tersebut bisa menyerang anak-anak maupun
orang dewasa. Seseorang dapat terinfeksi dengan meminum air yang tercemar
atau makan makanan yang tercemar oleh bakteri tersebut. Sumber
infeksi/peradangan yang umum diakibatkan oleh memakan hasil laut mentah atau
yang kurang baik memasaknya, sayur-mayur dan buah mentah, dan makanan lain
yang telah tercemar selama persiapan atau penyimpanannya.

Kebanyakan gejala penyakit kolera tidak terlihat spesifik, kadangkala orang yang
telah terkena infeksi tidak menunjukan gejala khusus/ hanya diare biasa. Namun
dapat juga ditandai dengan diare yang berkelanjutan (buang air encer/berair terus
menerus) dan disertai muntah. Hilangnya sejumlah cairan terus menerus dapat
menyebabkan dehidrasi yang dapat menyebabkan kematian jika dalam 3 – 4 jam
pasien pasien tidak segera ditangani dengan baik.

B. Apa yang harus saya lakukan jika saya terkena kolera?

Jika Anda terkena diare, terutama diare berkelanjutan, apalagi jika Anda mengalami
diare ketika Anda berada di suatu daerah yang terjangkit kolera, maka segeralah
mencari perawatan ke RS, Puskesmas atau ke dokter terdekat. Selama perjalanan
menuju ke perawatan medis, pertolongan pertama yang dapat Anda lakukan sendiri
yakni dengan minum cairan yang tidak manis, seperti sup ayam ?

26

YELLOW FEVER

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

Penggantian cairan dapat menyelamatkan
pasien yang terkena kolera. Kebanyakan
pasien dapat pulih dengan cepat dengan
hanya melalui hidrasi kembali. Prinsip
perawatan kolera yang paling utama
adalah dengan mengganti cairan yang
terdiri dari ion-ion dan garam yang hilang
saat diare berkelanjutan dan muntah
terjadi. Paket ion-ion dan garam atau yang
biasa kita sebut oralit tersedia di banyak
tempat, bahkan dapat kita ramu sendiri
dengan menggunakan garam dam gula.
Untuk pasien yang mengalami dehidrasi
parah dapat diberikan cairan melalui vena.
Suatu

zat

pembunuh

kuman
(Antidiarrhoeal), seperti loperamide, untuk
membantu memperpendek keluhan dari
pasien

terinfeksi

kholera

tidaklah
direkomendasikan, dan seharusnya tidak
diberikan.

Dimana sajakah terjadinya wabah cholera?

Sekarang ini penyakit kolera ada di negara
– negara yang padat penduduknya.
Wabah baru dapat terjadi secara sporadis
di bagian dunia manapun jika persediaan
air kurang, pemeliharaan kesehatan tidak
terjaga, sanitasi makanan dan pelayanan
kesehatan tidak baik. Oleh karena itu,
alangkah baiknya jika Anda akan
mendatangi suatu daerah, terlebih dahulu
mencari informasi apakah ada penyakit
kolera di daerah tersebut.

Apakah vaksinasi bekerja melawan
penyakit kolera?

Vaksin Kolera tradisional yang diberikan
melalui suntikan, melindungi dalam jangka
waktu singkat (kurang sempurna), oleh
karena

itu

penggunaannya

tidak

direkomendasikan.
Menurut rekomendasi WHO terakhir (update
2005), vaksin kolera oral menyediakan
perlindungan tingkat tinggi dengan jangka
waktu perlindungan lebih lama dalam
melawan kolera yang disebabkan oleh
Vibrio cholerae 01. Namun vaksin kolera oral
ini baru tersedia di beberapa negara saja.
Vaksin kolera oral menunjukan efektifitasnya
untuk digunakan oleh setiap orang.
Beberapa negara-negara yang beresiko
tinggi telah mempunyai dan menggunakan
vaksin oral untuk mencegah wabah kolera.
Namun, walau bagaimanapun juga
mencegah lebih baik dari pada mengobati.
Peningkatan persediaan air, pemeliharaan
kesehatan,

sanitasi

makanan

dan
kesadaran masyarakat adalah lebih baik
dalam mencegah penyakit kolera, seperti
halnya juga mencegah penyakit diarre
lainnya.

Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari
kolera?

Pencegahan utama dapat dilakukan
dengan

memperhatikan

makanan
minuman yang dikonsumsi (terutama
makanan kaleng dan makanan yang
dikonsumsi saat bepergian). Adapun hal –
hal yang perlu diperhatikan dari makanan
dan minuman yang dikonsumsi adalah
sebagai :

27

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

Minumlah air yang telah mendidih atau
didesinfeksi dengan khlor, yodium atau
produk lainnya.
Hindari es batu kecuali jika yakin dibuat dari
air yang aman.

Makan makanan yang telah dimasak
dengan sempurna (matang).
Makanan masak yang telah didiamkan
pada suhu kamar dalam waktu beberapa
jam dan disajikan tanpa dipanaskan
kembali bisa menjadi sumber infeksi.

Hindari makanan hasil laut mentah dan
makanan mentah lain, kecuali buah-
buahan dan sayur-mayur yang sudah
dikupas.

Susu yang tidak disterilkan sebelumnya
dapat menjadi sumber infeksi.

Pastikan makanan matang yang dibeli
ataupun dijual telah dimasak secara
sempurna.

Bayi di bawah enam bulan yang masih
menyusui, belum menerima makanan
tambahan, mempunyai resiko yang rendah.

Sampel apa yang diperiksa?

Pengambilan sampel dilakukan sebelum
diberikan antibiotik pada pasien. Sampel
yang dapat diperiksa untuk diagnosa
penyakit kolera yakni melalui faeces segar.

YELLOW FEVER

Apa itu Yellow Fever ?

Yellow Fever/ Demam kuning adalah suatu
penyakit karena virus yang telah
menyebabkan terjadinya wabah besar di
Afrika dan Amerika Serikat. Menurut
sejarahnya, virus ini telah ada sejak 400
tahun yang lalu. Infeksi/Peradangan
menyebabkan suatu spektrum penyakit
melebar/ meluas, dari mulai timbulnya
gejala, rasa sakit hingga menyebabkan
kematian. Walaupun telah tercipta suatu
vaksin yang efektif untuk 60 tahun, namun
masih banyak orang yang terkena infeksi,
terutama selama dua dekade terakhir ini
semakin meningkat. Demam kuning kini
menjadi suatu masalah serius bagi
kesehatan masyarakat.

Apa penyababnya?

Penyakit disebabkan oleh virus demam
kuning, yang tergolong flavivirus. Di Afrika
ada dua jenis dengan prototypes yang
berbeda dihubungkan dengan Afrika Timur
dan Afrika Barat. Amerika Selatan
mempunyai dua jenis virus berbeda, tetapi
sejak 1974 hanya satu jenis yang ditemukan
sebagai penyebab terjadinya wabah
penyakit.

Bagaimana gejalanya?

Virus sudah berada dalam tubuh selama
masa inkubasi yakni 3-6 hari. Kemudian

28

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

terjadi 2 tahap dari penyakit. Tahap
pertama yakni sejak infeksi/peradangan
tidak menunjukkan gejala, kemudian akut
yang biasanya ditandai dengan demam,
sakit otot (sakit punggung), sakit kepala,
nafsu makan hilang, mual dan muntah.
Sering juga, demam tinggi serta denyut nadi
lambat. Setelah 3-4 hari kebanyakan pasien
membaik dan gejalanya hilang.

Akan tetapi, dalam waktu 24 jam sebanyak
15% dari kasus Yellow Fever masuk ke Tahap
Beracun. Demam muncul kembali dan
beberapa sistem badan terganggu.
Penyakit Yellow Fever dengan cepat
berkembang, penderita mengeluh sakit
abdominal dan muntah. Pendarahan dapat
terjadi dari mulut, hidung, mata dan/atau
perut. Ketika ini terjadi, darah ikut keluar
dalam muntah dan tinja. Fungsi Ginjal
memburuk; ini dapat diketahui dari
keluarnya protein (albumin) secara
abnormal melalui air seni dan dampak lebih
buruknya yakni berkurang/ tidak adanya
produksi air seni (anuria). 50% pasien yang
masuk dalam Tahap Beracun ini mati dalam
waktu 10-14 hari.

Yellow Fever sukar untuk dikenali, terutama
sepanjang tahap awal, gejalanya hampir
mirip dengan malaria, penyakit tipus,
rickettsia,

Demam

berdarah,

atau
leptospirosis. Pemeriksaan lebih lanjut di
laboratorium diperlukan untuk memastikan
suatu kasus dari orang yang dicurigai. Test

Darah ( Serology Pengujian kadar logam)
dapat mendeteksi zat darah yang diserang
oleh kuman Yellow Fever. Beberapa teknik
lain yang digunakan untuk mengidentifikasi
virus itu yakni dengan memeriksa spesimen
darah atau jaringan/tisu hati yang
dikumpulkan setelah kematian. Test ini
hanya dapat dilakukan oleh staff
laboratorium yang sangat ahli/ terlatih dan
menggunakan material dan peralatan
khusus.

Dimana sajakah terjadinya wabah kolera?

Yellow Fever telah menjangkiti di 33 negara-
negara berpopulasi 468 juta orang di Afrika,
dengan perkiraan 200.000 kasus dan 30.000
kematian setiap tahunnya.

Yellow Fever juga merupakan 10 penyakit
terbesar Negara-Negara Amerika Selatan
dan Amerika Latin antara lain : Pulau
Caribbean, Bolivia, Brazil, Kolumbia,
Ecuador, Peru serta Venezuela.
Walaupun penyakit Yellow Fever pada
umumnya hanya menyebabkan kasus
sporadis dan dengan perjangkitan kecil,
namun adanya vektor nyamuk aedes
aegypti memperluas risiko penyebarluiasan
penyakit ini.

Meskipun Yellow Fever belum pernah
dilaporkan di Asia, tetapi kita harus tetap
waspada karena daerah ini berhadapan
dengan risiko sebab adanya nyamuk aedes
aegypti.

29

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

Bagaimana penularannya?

Manusia dan Monyet adalah yang paling
mungkin terkena infeksi/ tersebar. Virus
dibawa dari satu binatang ke binatang lain
( transmisi horisontal) melalui nyamuk
(vektor). Nyamuk dapat juga dilewati oleh
virus,

setelah

terinfeksio,

kemudian
menyebar ke telor ke keturunan nya
(transmisi vertikal).

Bagaimana perawatannya?

Tidak ada perawatan spesifik untuk Yellow
Fever. Penurunan Demam dapat dilakukan
dengan pemberian garam / hidrasi kembali
dan dengan pemberian paracetamol.
Disamping itu juga, Infeksi/peradangan
apapun harus dilakukan pemberian zat
pembunuh kuman yang sesuai (antibiotik).

Bagaimana pencegahannya?

Vaksinasi merupakan satu-satunya cara
paling utama untuk mencegah Yellow
Fever. Dosis satu kali vaksin bisa memberikan
perlindungan hingga 10 tahun dan selama
ini tidak diketemukan efek samping yang
sangat serius.
Vaksinasi sangat direkomendasikan untuk
orang yang akan berpergian ke daerah
yang berisiko tinggo terhadap penyakit
Yellow Fever. Sertifikat vaksinasi diperlukan
untuk memasuki banyak negara-negara,
terutama sekali untuk orang yang

berpergian / tiba di Asia dari Afrika Atau
Amerika Selatan.

Sebenarnya yang harus ditingkatkan adalah
upaya

pengendalikan

nyamuk.
Pengendalian nyamuk merupakan cara
yang

efektif

dan

penting

untuk

mengendalikan

penyakit

mosquito-
transmitted. Karena saat ini pencegahan
dan kendali Yellow Fever, hanya diprioritas
pada vaksinasi.

P E S

Apa itu PES ?

Pes adalah suatu penyakit zoonotic yang
menyebar (sebagian besar) antar binatang
kecil dan kutu mereka. Penyebabnya
adalah virus Yersinia pestis yang dapat juga
menginfeksi manusia. Pes bisa menjadi
suatu penyakit yang sangat menjengkelkan
bagi manusia, dengan suatu case-fatality
dengan perbandingan 30%-60% jika tidak
lakukan tindakan yang tepat dan cepat.
Setelah masa inkubasi 3-7 hari, orang yang
terkena infeksi pada umumnya mulai
dengan gejala seperti influenza. Gejala
yang khas adalah : serangan demam yang
mendadak, rasa dingin, sakit kepala, sakit
otot dan kelemahan, muntah dan mual.
Infeksi/Peradangan pes secara klinis dibagi
dalam tiga bagian sesuai dengan rute
infeksi/peradangan :
Penyakit pes dengan pembengkakan limpa
adalah bagian penyakit pes yang

30

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

umumnya terjadi sebagai hasil gigitan dari
kutu yang terinfeksi. Baksil Wabah masuk
kulit dari lokasi gigitan dan berjalan
sepanjang sistem yang mengandung getah
bening menuju getah bening (yang paling
dekat). Getah bening membengkak
kemudian menjadi sangat menyakitkan dan
dapat menimbulkan nanah.
Penyakit Pes Septicaemic terjadi ketika
infeksi/peradangan menyebar secara
langsung melalui/sampai bloodstream
tanpa adanya "bengkak". Virus penyakit pes
berkembang di dalam darah. Penyakit Pes
Septicaemic bias diakibatkan oleh kutu
yang mebngigit atau dari kontak langsung
dengan infective material melalui letusan
dalam kulit.
Penyakit Pes Pneumonic adalah yang
paling mematikan/jahat dan merupakan
peradangan lanjutan dari pembengkakan
limpa.

Dimana sajakah terjadinya wabah pes?
Penyakit Pes merupakan endemid di
negara-negara Afrika, di Perserikatan Soviet
(dahulu), America dan Asia. Pada tahun
2003, 9 negara melaporkan 2118 kasus dan
182 kematian.

Bagaimana perawatannya?

Perawatan dan hasil diagnosa dini adalah
penting untuk mengurangi kesulitan dan
kematian.

Metoda

perawatan

/
pengobatan dapat dilakukan untuk semua

pasien penyakit pes jika didiagnose pada
waktunya.

Bagaimana pencegahannya?

Pencegahan dapat dilakukan dengan
menghindari kontak langsung dengan
binatang yang membawa penyakit pes,
mencegah gigitan kutu dan menangani
bangkai binatang dengan sebaiknya.
Upaya lain yang bisa dilakukan yakni
dengan melakukan pengawasan terhadap
binatang dan kutunya. Identifikasi binatang
dan jenis kutu di dalam nya secara berkala
di suatu daerah dapat dilakukan untuk
membatasi potensi penyebaran penyakit
pes.
Disamping itu, upaya lain yang dilakukan
adalah dengan melakukan vaksinasi
penyakit pes.

Uji Laboratorium?

Pemeriksaan

laboratorium

dilakukan
dengan memeriksa kulture darah, spesimen
pada daerah yang bengkak atau pun
dahak pasien.

Sumber : Beberapa edisi Weekly
Epidemiological

Report

WHO,

http://www.who.int/

31

BEKERJA HARUS KOMPAK !!!

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

1. Pemeriksaan

Kesehatan

ABK/Pengawasan Obat P3K Kapal.

KKP Kelas I Tanjung Priok selama semester I
tahun

2006

dalam

melaksanakan
Pemeriksaan Kesehatan ABK/Pengawasan
Obat P3K Kapal terhadap Kapal Asing
maupun RI menunjukan hasil penurunan
jumlah kapal yang diperiksa. Adapun
penurunan tersebut kurang lebih sebesar 9
% ( sekitar 64 kapal ) dari semester pertama
tahun 2006. Sedangkan kasus Obat P3K
Kapal yang tidak lengkap pada kapal RI
juga mengalami penurunan sebesar 10 % .
Grafik 1.

PEMERIKSAAN KESEHATAN ABK/PENGAWASAN OBAT P3K KAPAL

SEMESTER I TAHUN 2006

0

100

200

300

400

500

600

Januari

Pebruari

Maret

April

Mei

Juni

RI

ASING

RILENGKAP

ASING LENGKAP

RITAK LENGKAP

ASING TAK LENGKAP

Dari grafik diatas diketahui hasil
pemeriksaan yang dilakukan terhadap
kapal asing 100 % menyediakan obat P3K
Kapal dengan lengkap. Sedang untuk kapal
RI dari 674 kapal yang diperiksa 50
diantaranya obat P3K nya tidak lengkap

diantaranya obat P3K nya tidak lengkap,
atau sekitar 7 %.

2. Pemeriksaan Kesehatan Nahkoda, ABK,
Penjamah Makanan/TKBM

Selama kurun waktu 6 bulan pertama tahun
2006 jumlah Pemeriksaan Kesehatan yang
dilakukan oleh KKP Kelas I Tanjung Priok
dalam rangka pengujian kesehatan
Nahkoda, ABK,
Penjamah Makanan/TKBM serta masyarakat
umum dilakukan terhadap 4 fumigator ( of
Shore ), 45 masyarakat umum, 2 pelaut dan
57 penjamah makanan.Adapun gambaran
perbandingannya dapat dilihat dalam
grafik di bawah ini.

Grafik 2.

PEMERIKSAAN KESEHATAN NAHKODA, ABK,

PENJAMAH MAKANAN/TKBM

SEMESTER I TAHUN 2006

0

10

20

30

40

50

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Pelaut

Penjamah Makanan

Umum

Off shore

3. Pelatihan Kesehatan Kerja

Pelatihan Kesehatan Kerja oleh KKP Kelas I
Tanjung Priok, melalui Bidang UKP

INFORMASI BIDANG UKP KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS I TANJUNG PRIOK
Oleh : A.Rizal

32

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

diselenggarakan tanggal 22 sampai
dengan 24 Pebruari 2006 di Cipayung.
Pelatihan ini di tujukan untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap dan ketrampilan
program kesehatan kerja serta mampu
memfasilitasinya dilingkungan kerja masing –
masing.

a. Persiapan

Persiapan pelatihan dilakukan oleh 11 orang
yang terdiri dari 6 pejabat struktural dan 5
staf KKP Kelas I Tanjung Priok. Hal-hal yang
dibahas dalam persiapan tersebut ialah
penyusunan GBPP, Proposal, Undangan,
Materi yang akan disajikan, dan
sebagainya.

b. Pelaksanaan

Pelatihan di ikuti oleh 25 peserta dari stake
holder KKP Kelas I Tanjung Priok. Selain dari
lingkup Dep.Kes. Fasilitator juga berasal dari
PT. (persero) Pelindo II Cab. Tanjung Priok
dan BKKP. Adapun materi yang disajikan
diantaranya :

1. TUPOKSI KKP Kelas I Tanjung Priok
2. Program Kesehatan Kerja di KKP
3. Kebijakan dan Ruang lingkup
kesehatan kerja
4. Pemeriksaan dan Seleksi kesehatan
calon pekerja
5. Penyakit Akibat Kerja
6. Ergonomi dasar dan lain-lain

Metode

penyampaian

materi
menggunakan ceramah, tanya jawab dan

diskusi kelompok.

c. Hasil pelatihan

Pada umumnya pelatihan berjalan lancar
dan

peserta

mampu

memahami
keseluruhan materi yang disampaikan hal ini
dapat dilihat dari hasil post test yang
menunjukan adanya peningkatan nilai
dibanding pre test.

4. Pertemuan Jejaring dan Kemitraan
Kesehatan Kerja

Pertemuan Jejaring dan Kemitraan
Kesehatan Kerja KKP Kelas I Tanjung Priok
dilaksanakan di Cibogo, 22 sampai dengan
25 Mei 2006. Jumlah peserta adalah 16
instansi ( 9 instansi pemerintah dan 8 swasta
). Pertemuan ini membahas program
kesehatan kerja yang ada di masing-masing
instansi untuk menyatukan langkah dalam
rangka mewujudkan pelabuhan yang
sehat. Adapun bentuk pertemuan ini lebih
difokuskan pada forum diskusi.

5. Pelayanan Vaksinasi dan Penerbitan buku

ICV

Pelayanan Vaksinasi yang berada di KKP
kelas I Tg. Priok ditujukan kepada
masyarakat pelabuhan, Nahkoda dan ABK
yang membutuhkannya. Adapun jenis
pelayanan vaksinasi yang diberikan tahun
2006 adalah Yellow Fever, Typhoid. Jumlah
pelayanan vaksinasi selama semester
pertama tahun 2006 sesuai grafik 1
menunjukan jumlah ABK yang divaksinasi
Yellow Fever sebanyak 1142 orang ( 858

33

Bulletin Info Kesehatan Pelabuhan – Volume 1 No.3 TAHUN 2006

buku baru, 284 buku lama) , Typoid 3516
orang ( 2107 buku baru, 1409 buku lama ).
Grafik 3.

PELAYANAN VAKSINASI DAN PENERBITAN BUKU ICV

SEMESTER I TAHUN 2006

0

200

400

600

800

1000

1200

JANUARI

PEBRUARI

MARET

APRIL

MEI

JUNI

CHOLERA BUKUBARU

CHOLERA BUKULAMA

YELLOW FEVERBUKUBARU

YELLOW FEVERBUKULAMA

THYPOIDBUKUBARU

THYPOIDBUKULAMA

MENINGITIS BUKUBARU

MENINGITIS BUKULAMA

6. Pengawasan Penumpang pada situasi
khusus
Pengawasan penumpang pada situasi
khusus dilaksanakan setiap bulan, pada
khusus dilaksanakan setiap bulan, pada
hari-hari tertentu saat terjadi lonjakan

jumlah penumpang. Hasil dari kegiatan ini
menunjukan bahwa pada semester
pertama tahun 2006 jumlah penumpang
umum yang masuk ke pelabuhan Tanjung
Priok sebanyak 51814 orang dengan
keadaan sehat, dan TKI sebanyak 2501
orang, 1139 diantaranya sakit dan 2 di rujuk
ke rumah terdekat.

Grafik 4.

Pengawasan Penumpang Pada Situasi Khusus

0

2000

4000

6000

8000

10000

12000

14000

Januari

Pebruari

Maret

April

Mei

Juni

Penumpang umumJumlah

Penumpang umumSehat

Penumpang umumSakit

Penumpang umumRujukan

TKIJumlah

TKISehat

TKISakit

TKIRujukan

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->