Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

FARMASI KLINIK
PENGGUNAAN OBAT PADA USIA LANJUT

Disusun oleh :
ADELIN JUNITA P N211 13 006
SOENDARIA INTAN N211 13 012
HELMI NURLIANI H N2111 13 018
SERLYANTI TAPPI N211 13 703
MARDIANA N211 13 709
SEPRINA AMBATODING N211 13 715
FITRAH AYU N211 13 721

KELAS : A
PROGRAM PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2013
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Seorang

praktisi

medik

dalam

praktek

sehari-hari

sering

dihadapkan pada berbagai permasalahan pengobatan yang kadang


memerlukan

pertimbangan-pertimbangan

khusus,

seperti

misalnya

pengobatan pada kelompok umur tertentu (anak dan usia lanjut), serta
pada kehamilan. Meskipun prinsip dasar dan tujuan terapi pada kelompokkelompok tersebut tidak banyak berbeda., tetapi mengingat masingmasing memliki keistimewaankhusus dalam penatalaksanakannya, maka
diperlukan

pendekatan-pendekatan

yang

sedikit

berbeda

dengan

kelompok dewasa.
Salah satu kelompok umur yang sering luput dari pertimbanganpertimbangan khusus dalam pemakaian obat adalah kelompok usia lanjut.
Sejumlah perubahan yang terjadi dengan bertambahnya usia, termasuk
anatomi, fisiologi, psikologi juga sosiologi.Hal ini dapat dimengerti
mengingat usia lanjut secara fisiologis umumnya dianggap sama dengan
kelompok umur dewasa. Namun sebenarnya, pada periode tertentu telah
terjadi berbagai penurunan fungsi berbagai organ tubuh. Penurunan
fungsi bisa disebabkan karena proses menua, maupun perubahanperubahan lain yang secara fisik kadang tidak terdeteksi. Terdapat
perbedaan pendapat mengenai batasan usia lanjut, namun pada

umumnya para peneliti mengambil batas 65 tahun. Yang perlu mendapat


perhatian adalah, bahwa ternyata pada pasien usia lanjut, umumnya
dijumpai lebih dari satu jenis penyakit, satu atau lebih di antaranya bersifat
kronis, sementara penyakit lain yang akut, jika tidak ditangani dengan baik
dapat memperburuk kondisi penderita.
.

Pertimbangan pada usia lanjut, tidak saja diambil berdasarkan

ketentuan dewasa, tetapi perlu beberapa penyesuaian seperti dosis dan


perhatian lebih besar pada kemungkinan efek samping, karena adanya
perbedaan fungsi organ- organ tubuh, dan lebih rentannya usia lanjut
terhadap efek samping/efek toksik obat.
Populasi kelompok usia lanjut sangat bervariasi di bebagai negara,
namun umumnya kurang dari 15% jumlah total penduduk. Walaupun
jumlahnya relatif kecil, pemakaian obat pada usia lanjut dapat menjadi
masalah antara lain karena :

Kelompok usia lanjut mengkonsumsi 25% sampai 30% dari total obat
yang digunakan di pusat-pusat pelayanan kesehatan.

Praktek terapi polifarmasi sangat umum dijumpai pada pasien usia


lanjut, oleh karena umumnya menderita lebih dari satu macam
penyakit.

Penelitian-penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa kelompok usia


lanjut sangat rentan terhadap risiko efek samping obat. Risiko
terjadinya efek samping meningkat dengan bertambahnya jenis obat
yang diberikan.

Dari

aspek

penderita,

faktor-faktor

seperti

penurunan

aktivitas/fungsi organ, derajat penyakit, penurunan kemampuan untuk


mengurus diri sendiri, menurunnya masukan cairan dan makanan, serta
kemungkinan

menderita

lebih

dari

satu

macam penyakit, sering

mempersulit proses pengobatan secara optimal.


Dalam makalah ini akan dibahas pemakaian obat pada kelompok
pasien usia lanjut. Pertimbangan-pertimbangan pemakaian, faktor-faktor
yang mempengaruhi terapi serta masalah pemakaian obat akan dibahas
secara singkat agar dapat memberikan gambaran umum mengenai
masing-masing permasalahan. Selain itu juga akan dibahas beberapa
jenis obat yang sering digunakan pada pasien kelompok usia ini.

BAB II
PEMBAHASAN
Perubahan fisiologi yang terkait lanjut usia akan memberikan efek
serius pada banyak proses yang terlibat dalam penatalaksanaan obat.
Perubahan fisiologi yang terkait lanjut usia akan memberikan efek serius
pada banyak proses yang terlibat dalam penatalaksanaan obat. Efek pada
saluran pencernaan, hati dan ginjal dapat dilihat pada tabeL dibawah ini :
Reduksi sekresi asam lambung
Penurunan motilitas gastrointestinal
Reduksi luas permukaan total absopsi
Reduksi aliran darah jaringan
Reduksi ukuran hati
Reduksi aliran darah hati
Reduksi filtrasi glomerulus
Reduksi filtrasi tubuler ginjal
II.1 Perubahan farmakokinetik
Telah terbukti bahwa proses menua akan menyebabkan
penurunan fungsi organ, baik sebagai akibat proses degenerasi yang
secara ilmiah akan dialami oleh setiap orang, maupun akibat penyakitpenyakit

yang

diderita

sebelumnya.

Dengan

demikian,

ada

kemungkinan bahwa kecepatan dan derajat absorpsi, metabolisme,


maupun ekskresi obat berubah pada usia lanjut.
Absorpsi
Perubahan dalam hal absorpsi obat pada usia lanjut belum
diketahui secara jelas, tetapi tampaknya tidak berubah untuk sebagian
besar obat. Keadaan yang mungkin dapat mempengaruhi absorpsi ini

antara lain perubahan kebiasaan makan, tingginya konsumsi obat-obat


non resep (misalnya antasida, laksansia) dan lebih lambatnya
kecepatan pengosongan lambung.
Bila dibandingkan dengan yang terjadi pada diri usia dewsa,
keefektifan absorpsi suatu obat pada diri lansia mungkin dapat
berubah. Keadaan ini disebabkan oleh terubahnya beberapa ubahan
(variable) fisiologi penting selama proses menua. Yakni, menurunnya
sekresi asam lambunt (25 35%), alir darah saluran cerna, produksi
tripsin pankreatik, gerakan saluran cerna atau waktu pengosongan
lambung, dan jumlah sel pengabsorpsi atau luas permukaan jaringan.
Dampak terubahnya beberapa ubahan fisiologi di atas dapat berupa
penurunan laju absorpsi, yang lebih lanjut dapat memperlama mula
kerja efek famkologi obat terkait. Teoritis keadaan ini perlu
dipertimbangkan bila ingin memberikan obat yang mula kerjanya
diharapkan cepat berlangsung, seperti analgesik-antipiretika. Meskipun
demikian, kenyataan menunjukkan bahwa untuk sebagian besar obat,
baik laju maupun besarnya obat yang diabsorpsi tidak terubah.
Penurunan keefektifan absorpsi hanya menunjukkan mankna klinis
yang nyata pada usia 80 tahun ke atas (bagi obat yang absorpsinya
melalui mekanisme difusi pasif). Pada sisi lain, bagi obat yang
absorpsinya diperantarai oleh mekanisme transport aktif, keefektifan
absorpsinya dapat diprakirakan akan lebih nyata penurunannya.

Didukung bukti terbatasnya absorpsi galaktosa, 3-metilglukosa,


kalsium, tiamina, vitamin B12, dan besi pada diri lansia.

Tabel 1. Ringkasan aneka faktor yang mempengaruhi nasib obat dalam


tubuh lansia

menurun;

meningkat;

tidak berubah GFR = Laju

Filtrasi Glomerulus; MFO = Mixed-function oxidase


Distribusi
Selain

oleh

sifat

fisiko-kimiawi

molekul

obat,

distribusi

ditentukan pula oleh komposisi tubuh, ikatan protein plasma dan aliran
darah organ. Dengn bertambahnya usia, prosentase air total dan masa
tubuh yang tidak mengandung lemak (lean body mass) menjadi lebih
sedikit. Obat yang mempunyai sifat lipofili yang kecil, misalnya digoksin

dan propranolol, menjadi lebih tinggi kadarnya dalam darah, walaupun


pada dosis yang lazim untuk dewasa. Untuk obat yang mempunyai
sifat lipofilik yang besar, misalnya benzodiazepin, klordiazepoksid,
peningkatan komposisi lemak menyebabkan menurunnya kadar obat
dalam darah.
Komposisi protein total pada usia lanjut praktis tidak berubah,
tetapi biasanya terjadi perubahan rasio albumin globulin. Penurunan
albumin secara mencolok pada usia lanjut umumnya disebabkan oleh
menurunnya aktivitas fisik. Tetapi dapat juga memberi petunjuk
beratnya penyakit sistemik yang diderita, seperti miokard infark akut,
penyakit-penyakit inflamasi dan infeksi berat. Sehingga obat-obat yang
terutama terikat pada albumin akan lebih banyak berada dalam bentuk
bebas. Dengan kata lain, kadar obat-obat tersebut akan meningkat
dalam plasma. Molekul obat yang terikat pada albumin adalah yang
bersifat asam lemah.

Gambar 1. Distribusi komponen-komponen tubuh utama karena proses


menua.
Ubahan fisiologi yang mempengaruhi keefektifan distribusi obat
terkait dengan komposisi tubuh (cairan tubuh, bobot tubuh tak
berlemak, lemak tubuh) dan ikatan protein plasma, jaringan, atau
organ. Namun, untuk menilai perubahan keefektifan distribusi obat
pada lansia, juga perlu dipertimbangkan sifat keterlarutan obat
bersangkutan.
Selama proses menua, terjadi perubahan yang besar dalam
komposisi tubuh (Gambar 1). Sebagian besar jaringan yang secara
metabolik aktif, perlahan-lahan diganti oleh lemak. Pada lelaki lemak
tubuh meningkat 18 36%, sedangkan pada wanita 33-48% (crooks
dkk, 1976). Akibatnya, terdapat pengurangan bobot atau masa tubuh
takberlemak. Seperti terlihat pada Tabel 1, obat-obat yang sangat
larut-lipid

(misal

didokaina,

klordiazepoksida,

diazepam)

akan

menunjukkan peningkatan volume distribusi (Vd), yang mungkin diikuti


oleh tertundanya mula kerja efek farmakologi dan penumpukan serta
lajak takar (overdosage) pada pemberian dosis berganda. Sebaliknya
obat-bat

yang

sangat

larut-air

(misal

Fenazon,

dikgoksin),

menunjukkan penurunan Vd dan kadarnya di dalam plasma menjadi


lebih besar. Tidak seperti lemak, cairan tubuh total berkurang 1015%
yang disebabkan oleh turunnya cairan dalam sel (cairan luar sel tetap).

Berbicara tentang keefektifan distribusi pada diri lansia, juga


perlu dipertimbangkan adanya perubahan ikatan protein. Meskipun
kadar protein total relatif masih tetap, kada albumin pada lansia turun
lebih kurang 0,4 0,6 g/d, sebaliknya kadar alfa-glikoprotein dan
gamaflobulin meningkat. Akibatnya, fraksi bebas (takterikat albumin)
obat-obat yang bersifat asam dan terikat kuat (> 80%) dengan albumin,
akan meningkat. Lebih lanjut mungkin akan memperbesar efek
famakologi

atau

toksikologinya.

Wallace

dan

Whiting

(1976)

memperlihatkan meningkatan yang nyata kadar obat takterikat albumin


dai salisilat, sulfasalazina, dan fenilbutazon pada lansia. Demikian pula
kadar fenitoin takterikat albumin meningkat 25 40% pada lansia,
sehingga kadar toksik minimalnya terlampaui. Uraian di atas
memperlihatkan bahwa pada lansia perubahan keefektifan distribusi
obat memungkinkan pergeseran kinerja farmakologi atau toksikologi
obat terkait. Hal yang terakhir terutama penting bagi obat-obat yang
memiliki indeks terapi sempit seperti fenitoin.

Metabolisme
Hepar berperan penting dalam metabolisme obat, tidak hanya
mengaktifkan obat ataupun mengakhiri aksi obat tetapi juga membantu
terbentuknya

metabolit

terionisasi

yang

lebih

polar

yang

memungkinkan berlangsungnya mekanisme ekskresi ginjal. Kapasitas


hepar untuk memetabolisme obat tidak terbukti berubah dengan

bertambahnya umur, tetapi jelas terdapat penurunan aliran darah


hepar

yang

metabolisme

tampaknya
obat.

Pada

sangat
usia

mempengaruhi

lanjut

terjadi

kemampuan

pula

penurunan

kemampuan hepar dalam proses penyembuhan penyakit, misalnya


oleh karena virus hepatitis atau alkohol. Oleh sebab itu riwayat
penyakit

hepar

terakhir

seorang

lanjut

usia

sangat

perlu

dipetimbangkan dalam pemberian obat yang terutama dimetabolisme


di hepar. Sementara itu beberapa penyakit yang sering pula terjadi
pada usia lanjut seperti misalnya kegagalan jantung kongestif, secara
menyolok dapat mengubah kemampuan hepar untuk memetabolisme
obat dan dapat pula menurunkan aliran darah hepar.
Metabolisme obat terutama terjadi di dalam hati, yang fungsinya
sebagai sarana peniraktifan hayati (bioinaktivasi) obat (penirkhasiatan
atau peniracunan) dan/atau pengaktifan hayati obat (pengkhasiatan
atau peracunan). Fungsi metabolisme bersangkutan berlangsung
memlaului jalur reaksi rahap I (oksidasi, reduksi, hidrolisis) atau tahap
II (konjugasi glukuronidasi, sulfatasi, asetilasi, glutationisasi), atas
bantuan sistem enzim tertentu.
Terdapat beberapa ubahan fisiologi penting yang terkait dengan
keefektifan metabolisme obat. Yakni, daya tampung (kapasitas) enzim,
alir darah ke hati, dan derajat ikatan obat-protein. Pada lansia, daya
tampung metabolisme obat di hati pada umumnya berkurang. Namun,
keberagaman hasil penelitiannya cukup tinggi.

Seperti teringkas pada Tabel 1, hari yang menua mengalami


beberapa berubahan seluler: pengurangan laju bersih metabolik
(bersih hati intrinsik) yang beragam sekali di antara individu;
kehilangan masa (turun dari 2,5% bobot badan menjadi 1,6%);
pengurangan alir darah sekitar 12 40% pada usia 65 tahun, atau 0,3
1,5% tiap tahun setelah usia 30 tahun); penurunan kadar albumin
yang nyata, meskipun protein total relatif tidak berubah (sekitar 0,4
0,8 g/l dari usia 20 sampai 80 tahun).
Jadi, pada lansia, dua dari tigas penentu bersih hati obat,
berkurang dengan nyata. Yakni, alir darah ke hati dan derajat
pengikatan obat tertentu. Penurunan alir darah ke hati terkait dengan
berkurangnya laju curah jantung sekitas 30 40%. Penurunan ini
dapat menyebabkan berkurangnya keefektifan penyarian (ekstraksi)
obat oleh hati dan lebih lanjut kefektifan metabolismenya, terutama
bagi obat yang memilki nisbah (ratio) penyarian hari yang tinggi (>0,7).
Sebaliknya, bagi obat yang memiliki nisbah penyarian hati yang rendah
(<0,3), penurunan derajat ikatan protein yang nyata akan lebih
dominan mempengaruhi bersih hari atau keefektifan metabolismenya.
Penentu bersih hati obat yang laiin (bersih hati intrinsik),
penurunannya di antara individu sangat beragam. Lebih kurang hanya
5% dari sejumlah individu lansia yang diteliti menunjukkan penurunan
bersih hati intrinsik yang benar-benar terkait dengan proses menua.
Keadaan ini terutama dikacaukan oleh adanya faktor lain, terutama

faktor

lingkungan

(merokok)

dan/atau

status

gizi,

yang

juga

mempengaruhi bersih hati intrinsik dan lebih lanjut keefektifan


metabolisme

obat-obat

tertentu.

Terbukti

beberapa

peneliti

menunjukkan bahwa keterpacuan sistem enzim sitokro, P-450


mikrosoma hati, menjadi kurang rentan terhadap efek pacuan rokok.
Misal, bersih hati teofilina ditemukan 55% lebih tinggi pada individu
dewasa yang merokok daripada yang tidak merokok, sedangkan pada
individu lansia yang merokok hanya 40% lebih tinggi daripada yang
tidak

merokok.

Temuan

ini

didukung

oleh

adanya

laporan

berkurangnya angka kejadian efek samping teofilina pada lansia yang


merokok bila dibandingkan dengan yang tidak merokok.
Ditinjau dari segi jalur mekanisme reaksinya, penurunan
keefektifan metabolisme obat nampaknya lebih banyak terkait dengan
penurunan jalur metabolisme tahap I, terutama yang dikatalis oleh
sistem enzim sitokrom P-450 MFO mirosoma hati. Didukung oleh bukti
bahwa bersih hati fenozon, klordiazepoksida, dan teofilina berkurang
pada

lansia.

Meskipun

demikian,

seberapa

besar

penurunan

keefektifan metabolisme tersebut mempengaruhi kinerja farmakologi


dan/atatu toksikologinya, sampai saat ini belum banyak diungkapkan.
Berbagai uraian di atas memperlihatkan bahwa pada lansia
kemungkinan terjadi penurunan keefektifan metabolisme obat. Namun,
untuk dapt mengevaluasi besar penurunan maupun dampak klinisnya,
perlu dipertimbangkan beberapa aspek penting. Yakni: jenis obat dan

harga nisbah penyarian hatinya; serta faktor-faktor lain seperti


lingkungan, penyakit, status gizi, atau antaraksi obat.
Ekskresi ginjal
Ginjal merupakan jalur utama ekskresi sebagian besar obat,
baik dalam bentuk obat- induk (obat-utuh) maupun berbagai bentuk
metabolitnya. Aneka obat dan metabolitnya, muncul dalam air kencing
sebagai konsekuensi filtrasi glomeruler, sekresi tubuler, dan reabsorpsi
tubuler, atau kombinasi beberapa proses bersangkutan. Seperti hanya
organ-organ lain, ginjal juga mengalami perubahan fisiologi dan
anatomi akibat proses menua. Beberapa perubahan mencerminkan
adanya pengurangan curah jantung (alir darah-ginjal), sedangkan yang
lain mencerminkan perubahan dalam diri saluran ginjal (laju filtrasi
glomeruler = GFR, sekresi aktif tubuler), yang pengaruhnya terhadap
keefektifan ekskresi obat teringkas pada Tabel 1.
Pada lansia, keefektifan filtrasi glomeruler akan berkurang.
Keadaan ini sebagian terkait dengan hilangnya sekitar 35% nefron dan
30% jumlah glomeruli yang berfungsi, serta sebagian karena
berkurangnya alir darah-ginjal sekitar 45 53% pada proses menua.
Meskipun tidak linier, keadaan ini menyebabkan menurunnya GFR
sekitar 6% tiap 10 tahun setelah usia 20 tahun, (dari usia 20 sampai 90
tahun terjadi penurunan GFR dari 120 menjadi 60 ml/menit/1,73 m2).
Akibatnya, keefektifan filtrasi glomeruler obat apa pun yang takterikat
dengan protein-plasma, akan berkurang pada lansia.

Setelah difiltrasi, obat mungkin akan direabsorpsi ke dalam


plasma melintas tubulus ginjal (bergantung pada keterlarutan-lipid, pH
medium, gradien kadar, dan besar molekul obat terkait). Pada proses
menua, terjadi pengurangan masa sel dan jumlah tubulus. Selain itu,
juga terjadi penurunan daya tampung pemekatan dan pengasaman air
kencing. Akibatnya dapat mempengaruhi laju dan besar reabsorpsi
obat yang bersifat asam lemah (pKa 37,5) atau basa lemah (pKa 7,5
10).
Sekresi aktif tubuler merupakan jalur penting mekanisme
ekskresi sebagian besar obat. Dalam hal ini, transport obat
diperantarai oleh suatu protein-pembawa dan tidak dipengaruhi oleh
derajat

pengikatan

obat

dengan

protein-plasma.

Karenanya,

kemunduran dalam fungsi tubulus pada lansia terbuksi penurunkan


keefektifan ekskresi obat seperti penisilin dan prokainamida.
Jadi, keefektifan ekskresi obat pada lansia dapat mengalami
kemunduran. Akibatnya, waktu paruh eliminasi (t 2) obat-utuh atau
metabolitnya dapat diperpanjang, lebih lanjut keberadaan obat di
dalam tubh. Keadaan ini jelas memungkinkan perpanjangan kinerja
farmakologi dan/atau toksikologi obat terkait. Beberapa metabolittoksik obat yang dapat menumpuk karena gangguan ekskresi ginjal
pada

lansia

meliputi

metildopa,

oksifenbutazon,

levodopa, asetoheksamida, dan oksipurinal.

spironolakton,

Berkurangnya keefektifan ekskresi obat lewat ginjal pada lansia


lebih banyak mendapat perhatian, karena dampak kinetika maupun
klinisnya lebih nyata. Selain kemunduran fisiologi dalam filtrasi
glumereler serta sekresi dan reabsorpsi tubuler, penderita lansia
terutama mudah terkena gangguan ginjal karena dehidrasi, gagal
jantung kongestif hipotensi, atau karena patologi ginjal-intrinsik seperti
nefropati-diabetik

atau

pielonefritis,

yang

kesemuanya

dapat

mengubah keefektifan ekskresi obat lewat ginjal. Berarti komplikasi


penyakit pada lansia perlu mendapat perhatian yang lebih saksama,
mengingat dapat merumitkan pemilihan obat maupun dosis dan aturan
pemberiaanya, Selain itu, kemungkinan efek yang parah dari lajak
takar beberapa obat seperti digoksin, litium, antibiotika aminoglikosida,
dan

klorpropamida

juga

perlu

dipertimbangkan

sebelum

memberikannya pada lansia. Karenanya, secara umum penderita


lansia lebih baik diberi dosis yang lebih rendah daripada penderita
dewasa, utamanya untuk aneka obat yang semata-mata diekskresi
lewat ginjal.
II.2 Perubahan farmakodinamik
Meskipun

perbedaaan

kinerja

farmakokinetika

dapat

menjelaskan sebagian besar masalah perubahan kinerja famakologi


atau toksikologi suatu obat pada lansia, terkadang masalah tersebut
hanya

dapat

farmakodinamika

dijelaskan
obat

melalui

terkait.

adanya

Misal,

perbedaan

meningkatnya

kinerja

tanggapan

(respons)

lansia

terhadap

efek

antikoagulan

kumarin

atau

berkurangnya tanggapan lansia terhadap efek agonis adrenergik


(esoproterenol) dan antafonisnya (propranolol).
Sebagian

obat

memberikan

efek

farmakologi

atau

toksikologinya sebagai akibat antaraksi obat-reseptor. Pada lansia


mungkin terjadi perubahan keefektifan antaraksi tersebut, karena
kinerja famakodinamika obat terkait pada tempat reseptor tertentu
lebih besar atau lebih kecil daripada yang terjadi pada individu
dewasa. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh penurunan atau
peningkatan kepekaan reseptor terhadap dinamika obat, yang terkait
dengan perubahan atau kereaktifan tempat kerja reseptor. Meskipun
demikian, hal ini tidak dapat diberlakukan secara umum mengingat
jumlah reseptor tidak pasti, tetapi diatur oleh sejumlah faktor yang
meliputi keparahan penyakit tertentu (iskemia, hipertensi, gagal
jantung, hipertropi kardiak), obat (glukokortikoid, hormon, agonis dan
antagonis adrenergik), dan proses menua itu sendiri.
Pada lansia, sistem adrenoseptor-beta berubah. Misal, pada
lansia resisten terhadap agonis adrenergik (isoproterenol) dan
antagonisnya (propranolol). Keadaan ini mungkin diperantarai oleh
berkurangnya jumlah dan daya ikat (afinitas) reseptor bersangkutan.
Terbukti ada korelasi positif antara proses menua dan aras (level)
norepinefrin-plasma. Barangkali norepinefrin-sirkulasi berkompetisi
dengan senyawa penyekat-beta dalam neduduki reseptor- beta,

sehingga afinitasnya terhadap antagonis bersangkutan nampak


berkurang. Selain itu, proses menua juga berkorelasi positif dengan
resistensi jantung terahadap tanggapan kronotropik isoproterenol.
Meskipun masih terdapat silang pendapat, ada yang menyarankan
untuk meningkatkan dosis isoproterenol agar mampun menaikkan laju
jantung 25 beats/menit pada lansia, 4 6 kali lebih besar daripada
dosis dewasa. Uraian tersebut memperlihatkan bahwa perubahan
kinerja famakodinamika juga dapat berperan dalam mempengaruhi
perubahan kinerja famakologi obat tertentu pada lansia, asal faktorfaktor lainnya dapat diabaikan pengaruhnya.
II.3 EFEK SAMPING OBAT PADA USIA LANJUT
Berbagai studi menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif
antara jumlah obat yang diminum dengan kejadian efek samping obat.
Artinya, makin banyak jenis obat yang diresepkan pada individuindividu usia lanjut, makin tinggi pula kemungkinan terjadinya efek
samping. Secara epidemiologis, 1 dari 10 orang (10%) akan
mengalami efek samping setelah pemberian 1 jenis obat. Resiko ini
meningkat mencapai 100% jika jumlah obat yang diberikan mencapai
10 jenis atau lebih. Secara umum angka kejadian efek samping obat
pada usia lanjut mencapai 2 kali lipat kelompok usia dewasa. Obatobat yang sering menimbulkan efek samping pada usia lanjut antara
lain analgetika, antihipertensi, antiparkinsion, antipsikotik, sedatif dan
obat-obat gastrointestinal. Sedangkan efek samping yang paling

banyak dialami antara lain hipotensi postural, ataksia, kebingungan,


retensi urin, dan konstipasi.
Tingginya angka kejadian efek samping obat ini nampaknya
berkaitan erat dengan kesalahan peresepan oleh dokter maupun
kesalahan pemakaian oleh pasien.
a. Kesalahan peresepan
Kesalahan peresepan sering kali terjadi akibat dokter kurang
memahami adanya perubahan farmakokinetika/farmakodinamika
karena usia lanjut. Sebagai contoh adalah simetidin yang acap kali
diberikan pada kelompok usia ini, ternyata memberi dampak efek
samping yang cukup sering (misalnya halusinasi dan reaksi
psikotik), jika diberikan sebagai obat tunggal. Obat ini juga
menghambat metabolisme berbagai obat seperti warfarin, fenitoin
dan beta blocker. Sehingga pada pemberian bersama simetidin
tanpa lebih dulu melakukan penetapan dosis yang sesuai, akan
menimbulkan efek toksik yang kadang fatal karena meningkatnya
kadar obat dalam darah secara mendadak.
b. Kesalahan pasien
Secara

konsisten,

kelompok

usia

lanjut

banyak

mengkonsumsi obat-obat yang dijual bebas/tanpa resep (OTC).


Pemakaian obat-obat OTC pada penderita usia lanjut bukannya
tidak memberi resiko, mengingat kandungan zat- zat aktif dalam
satu obat OTC kadang-kadang belum jelas efek farmakologiknya

atau malah bersifat membahayakan. Sebagai contoh adalah


beberapa antihistamin yang mempunyai efek sedasi, yang jika
diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi kognitif akan
memberi efek samping yang serius. Demikian pula obat-obat
dengan kandungan zat yang mempunyai aksi antimuskarinik akan
menyebabkan retensi urin (pada penderita laki- laki) atau
glaukoma, yang penanganannya akan jauh lebih sulit dibanding
penyakitnya semula.
c. Ketidakjelasan informasi pengobatan
Pasien-pasien usia lanjut sering pula menjadi korban dari
tidak jelasnya informasi pengobatan dan beragamnya obat yang
diberikan oleh dokter. Keadaan ini banyak dialami oleh penderitapenderita penyakit yang bersifat hilang timbul (sering kambuh).
Kesalahan umumnya berupa salah minum obat (karena banyaknya
jenis obat yang diresepkan pada suatu saat), atau berupa
ketidaksesuaian dosis dan cara pemakaian seperti yang dianjurkan.
Kelompok usia ini tidak jarang pula memanfaatkan obat-obat yang
kadaluwarsa secara tidak sengaja, karena ketidaktahuan ataupun
ketidakjelasan informasi.
Dengan

demikan,

pemakaian

obat

secara

bijaksana

pada

penderita-penderita usia lanjut akan membantu meningkatkan kualitas


hidup dan memperpanjang usia. Namun demikian, hal-hal yang perlu
dicatat dalam segi ketaatan pasien antara lain :

Meskipun secara umum populasi usia lanjut kurang dari 15%, tetapi
peresepan pada usia ini relatif tinggi, yaitu mencapai 25%-30% dari
seluruh peresepan.

Pasien sering lupa instruksi yang berkenaan dengan cara, frekuensi


dan berapa lama obat harus diminum untuk memperoleh efek terapetik
yang optimal. Untuk antibiotika, misalnya pasien sering menganggap
bahwa hilangnya simptom memberi tanda untuk menghentikan
pemakaian obat.

Pada penderita yang tremor, mengalami gangguan visual atau


menderita artritis, jangan diberi obat cairan yang harus ditakar dengan
sendok.

Untuk pasien usia lanjut dengan katarak atau gangguan visual karena
degenerasi makular, sebaiknya etiket dibuat lebih besar agar mudah
dibaca.

II.4 OBAT-OBAT YANG SERING DIRESEPKAN PADA USIA LANJUT


DAN PERTIMBANGAN PEMAKAIAN
Obat-obat sistem saraf pusat
Sedativa-hipnotika
Mengingat sering diresepkannya obat-obat golongan sedativahipnotika pada pasien usia lanjut, maka efek samping obat golongan
ini yang diketahui maupun tidak diketahui oleh pasien relatif lebih
sering terjadi. Pasien merasa tidak enak badan setelah bangun tidur
(dapat terjadi sepanjang hari), sempoyongan, kekakuan dalam bicara

dan kebingungan beberapa waktu sesudah minum obat. Sebagai


contoh, waktu paruh beberapa obat golongan benzodiazepin dan
barbiturat meningkat sampai 1,5 kali. Namun lorazepam dan
oksazepam mungkin kurang begitu terpengaruh oleh perubahan ini.
Efek samping yang perlu diamati pada penggunaan obat sedativahipnotika antara lain adalah ataksia.
Analgetika
Dengan menurunnya fungsi respirasi karena bertambahnya
umur, maka kepekaan terhadap efek respirasi obat-obat golongan
opioid (analgetika-narkotik) juga meningkat. Jika tidak sangat terpaksa
dan indikasi pemakaian tidak terpenuhi, maka pemberian analgetikanarkotik pada usia lanjutnya hendaknya dihindari
Antidepresansia
Obat-obat

golongan

antidepresan

trisiklik

yang

cukup

banyak

diresepkan ternyata sering menimbulkan efek samping pada usia lanjut,


yang antara lain berupa mulut kering, retensi urin, konstipasi, hipotensi
postural, kekaburan pandangan, kebingungan, dan aritmia jantung. Jika
terpaksa diberikan, maka sebaiknya dimulai dari dosis terendah, misalnya
imipramin 10 mg pada malam hari. Selain itu diperlukan pula pemantauan
yang terus menerus untuk mencegah kemungkinan efek samping
tersebut.
Obat-obat kardiovaskuler
Antihipertensi

Pengobatan hipertensi pada usia lanjut sering menjadi masalah,


tidak saja dalam hal pemilihan obat, penentuan dosis dan lamanya
pemberian, tetapi juga menyangkut keterlibatan pasien secara terus
menerus dalam proses terapi. Hal ini karena pengobatannya umumnya
jangka panjang. Jika terapi non-obat dirasa masih memungkinkan,
pembatasan masukan garam, latihan (exercise), dan penurunan berat
badan, serta pencegahan terhadap faktor-faktor risiko hipertensi
(misalnya merokok dan hiperkholesterolemia) perlu dianjurkan bagi
pasien dengan hipertensi ringan. Namun jika yang dipilih adalah
alternatif pengobatan, maka hendaknya dipertimbangkan pula hal-hal
berikut:

Penyakit lain yang diderita (associated illness)

Obat-obat yang diberikan bersamaan (concurrent therapy)

Biaya obat (medication cost), dan

Ketaatan pasien (patient compliance).


Pilihan pertama yang dianjurkan adalah diuretika dengan dosis

yang sekecil mungkin. Efek samping hipokalemia dapat diatasi dengan


pemberian suplemen kalium atau pemberian diuretika potassiumsparing seperti triamteren dan amilorida. Kemungkinan terjadinya
hipotensi postural dan dehidrasi hendaknya selalu diamati.
Jika diuretika ternyata kurang efektif, pilihan selanjutnya adalah
obat-obat antagonis beta-adrenoseptor (=beta bloker). Untuk penderita
angina atau aritmia, beta blocker cukup bermanfaat sebagai obat

tunggal, tetapi jangan diberikan pada pasien dengan kegagalan ginjal


kongestif, bronkhospasmus, dan penyakit vaskuler perifer. Pengobatan
dengan beta-1-selektif yang mempunyai waktu paruh pendek seperti
metoprolol 50 mg 1-2x sehari juga cukup efektif bagi pasien yang tidak
mempunyai kontraindikasi terhadap pemakaian beta-blocker. Dosis
awal dan rumat hendaknya ditetapkan secara hati-hati atas dasar
respons pasien secara individual.
Vasodilator perifer seperti prazosin, hidralazin, verapamil dan
nifedipin juga ditoleransi dengan baik pada usia lanjut, meskipun
pengamatan

yang

seksama

terhadap

kemungkinan

terjadinya

hipotensi ortostatik perlu dilakukan. Meskipun beberapa peneliti akhirakhir ini menganjurkan kalsium antagonis, seperti verapamil dan
diltiazem untuk usia lanjut sebagai obat lini pertama. Tetapi mengingat
harganya relatif mahal dengan frekuensi pemberian yang lebih sering,
maka dikhawatirkan akan menurunkan ketaatan pasien.
Obat-obat antiaritmia: Pengobatan antiaritmia pada usia lanjut akhirakhir ini semakin sering dilakukan mengingat makin tingginya angka
kejadian penyakit jantung koroner pada kelompok ini. Namun demikian
obat-obat seperti disopiramida sangat tidak dianjurkan, mengingat efek
antikholinergiknya yang antara lain berupa takhikardi, mulut kering,
retensi urin, konstipasi, dan kebingungan. Pemberian kuinidin dan
prokainamid hendaknya mempertimbangkan dosis dan frekuensi

pemberian, karena terjadinya penurunan klirens dan pemanjangan


waktu paruh.
Glikosida jantung: Digoksin merupakan obat yang diberikan pada
penderita usia lanjut dengan kegagalan jantung atau aritmia jantung.
Intoksikasi digoksin tidak jarang dijumpai pada penderita dengan
gangguan

fungsi

ginjal,

khususnya

jika

kepada

pasien

yang

bersangkutan juga diberi diuretika. Gejala intoksikasi digoksin sangat


beragam mulai anoreksia, kekaburan penglihatan, dan psikosis hingga
gangguan irama jantung yang serius. Meskipun digoksin dapat
memperbaiki kontraktilitas jantung dan memberi efek inotropik yang
menguntungkan, tetapi kemanfaatannya untuk kegagalan jantung
kronis tanpa disertai fibrilasi atrial masih diragukan. Oleh sebab itu,
mengingat kemungkinan kecilnya manfaat klinik untuk usia lanjut dan
efek samping digoksin sangat sering terjadi, maka pilihan alternatif
terapi lainnya perlu dipetimbangkan lebih dahulu. Diuretika dan
vasodilator perifer sebetulnya cukup efektif sebagian besar penderita.
Antibiotika
Prinsip-prinsip dasar pemakaian antibiotika pada usia lanjut
tidak berbeda dengan kelompok usia lainnya. Yang perlu diwaspadai
adalah pemakaian antibiotika golongan aminoglikosida dan laktam,
yang ekskresi utamanya melalui ginjal. Penurunan fungsi ginjal karena
usia lanjut akan mempengaruhi eliminasi antibiotika tersebut, di mana
waktu paruh obat menjadi lebih panjang (waktu paruh

gentasimin,

kanamisin, dan netilmisin dapat meningkat sampai dua kali lipat) dan
memberi efek toksik pada ginjal (nefrotoksik), maupun organ lain
(misalnya ototoksisitas).
Obat-obat antiinflamasi
Obat-obat golongan antiinflamasi relatif lebih banyak diresepkan
pada usia lanjut, terutama untuk keluhan-keluhan nyeri sendi
(osteoaritris).

Berbagai

studi

menunjukkan

bahwa

obat-obat

antiinflamasi non-steroid (AINS), seperti misalnya indometasin dan


fenilbutazon, akan mengalami perpanjangan waktu paruh jika diberikan
pada usia lanjut, karena

menurunnya kemampuan metabolisme

hepatal. Karena meningkatnya kemungkinan terjadinya efek samping


gastrointestinal seperti nausea, diare, nyeri abdominal dan perdarahan
lambung (20% pemakai AINS usia lanjut mengalami efek samping
tersebut), maka pemakaian obat-obat golongan ini hendaknya dengan
pertimbangan yang seksama. Efek samping dapat dicegah misalnya
dengan memberikan antasida secara bersamaan, tetapi perlu diingat
bahwa antasida justru dapat mengurangi kemampuan absorpsi AINS.
Laksansia
Pada usia lanjut umumnya akan terjadi penurunan motilitas
gastrointestinal, yang biasanya dikeluhkan dalam bentuk konstipasi.
Pemberian

obat-obat

laksansia

jangka

panjang

sangat

tidak

dianjurkan, karena di samping menimbulkan habituasi juga akan


memperlemah motilitas usus. Pemberian obat-obat ini hendaknya

disertai anjuran agar melakukan diet tinggi serat dan meningkatkan


masukan cairan serta jika mungkin dengan latihan fisik (olah raga).
II.5 PRINSIP PENGOBATAN PADA USIA LANJUT
Secara singkat, pemakaian/pemberian obat pada usia lanjut hendaknya
mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Riwayat pemakaian obat

Informasi mengenai pemakaian obat sebelumnya perlu ditanyakan,


mengingat sebelum datang ke dokter umumnya penderita sudah
melakukan upaya pengobatan sendiri.

Informasi

ini

diperlukan

juga

untuk

mengetahui

apakah

keluhan/penyakitnya ada kaitan dengan pemakaian obat (efek


samping), serta ada kaitannya dengan pemakaian obat yang
memberi interaksi.
2. Obat diberikan atas indikasi yang ketat, untuk diagnosis yang
dibuat. Sebagai contoh, sangat tidak dianjurkan memberikan simetidin
pada kecurigaan diagnosis ke arah dispepsia.
3. Mulai dengan dosis terkecil. Penyesuaian dosis secara individual
perlu dilakukan untuk menghindari kemungkinan intoksikasi, karena
penanganan terhadap akibat intoksikasi obat akan jauh lebih sulit.
4. Hanya resepkan obat yang sekiranya menjamin ketaatan pasien,
memberi resiko yang terkecil, dan sejauh mungkin jangan diberikan
lebih dari 2 jenis obat. Jika terpaksa memberikan lebih dari 1 macam

obat, pertimbangkan cara pemberian yang bisa dilakukan pada saat


yang bersamaan.
II.6 TUJUAN TERAPI OBAT
Ada beberapa hal yang perlu dibahas dalam rangka optimalisasi
terapi obat pada pasien lanjut usia.

Daftar tabel obat yang menimbulkan masalah pada pasien lanjut usia
Kelompok obat
Alasan
meningkatnya
resiko
masalah
Antidepresan trisilklik
Menyebabkan gangguan kognitif
Peningkatan distribusi ke adipose
Reduksi metabolism
Anti psikotik
Menyebabkan gangguan kognitif
Reduksi metabolisme
Opioid
Menyebabkan gangguan kognitif
Digoksin
Reduksi eksresi
Peninghambatan ACE
Reduksi eksresi
Warfarin
Peningkatan sensitifitas
Levodopa
Reduksi sensitifitas
Benzodiazepine
aksi
Reduksi metabolisme
panjang
B-bloker
Reduksi khasiat
Reduksi eksresi ginjal
Kortikosteroid
Ganggauan kognitif
Peningkatan toksisitas terhadap
lambung
Antimuskarinik
Peningkatan sensitifitas
Beberapa cefalosporin
Reduksi eksresi ginjal
Deuretika
Tidak efek pada gangguan ginjal
Hindari terapi obat yang tidak diperlukan
Perlu dicermati adanya kemungkinan alternative terapi tanpa
penmggunaan obat contoh pada hipertensi ringan mungkin dapat
diberi petunjuk tentang polahidup sehat terlebih dahulu, misalnya
berhenti merokok. Petunjuk diet juga dapat menjadi alternative . hal ini
terutama berguna bagi pasien dengan hiperlipidemia yang ringan.

Pada kasus yang lain, pemberian obat obatan tidak diperlukan sama
sekali, salah satu contoh yang baik adlah peresepan obat obatan
hipnotik. Pasien lanjut usia sering kali mengharapkan tidur melebihi
kebutuhannya. Hal ini dapat mendorong mereaka untuk mencapai
terapi hipnotik yang tidak tepat. Dalam usaha meningkatkan kualitas
tidur sebenarnya ada beberapa cara sederhana yang dpat dilakukan,
termasuk buang air kecil sebelum tidur atau optimalisasi keadaan
dalam ruang tidur.

Kualitas hidup
Sangatlah muda untuk melihat tujuan pemberian obat pada
pasien lanjut usia, yaitu memperpanjang masa harapan hidup.
Walaupun demikian, tanggung jawab untuk memperbaiki kualitas hidup
pasien tetap ada. Sebagai contohnya, seorang wanita lanjut usia
dengan osteoporosis dipinggulnya, akan paling baik diatasi dengan
operasi pinggul daripada terapi jangka panjang dengan obat AINS dan
resiko efek sampingnya.

Mengobati penyebab bukan sekedar gejala


Ketika seorang pasien lanjut usia menunjukkan suatu gejala,
sangatlah penting mencari penyebabnya. Merupakan tindakan yang
tidak tepat jika hanya mengobati gejalanya yang malah mungkin
menutupi masalah sebenarnya yang lebih serius. Seorang pasien
dapat menunjukkan gejala gangguan pencernaan tetapi ternyata
menderita tukak lambung. Mengobati pasien ini dengan antasida jelas

tidak tepat dan potensial menimbulkan bahaya karena penyakit yang


lebih serius tidak diobati. Oleh karena itu, penyebab dari gejala
tersebut harus diketahui terlebih dahulu, kemudian pengobatan
diberikan secara tepat.

Riwayat pengobatan
Mengetahui riwayat pengobatan pasien akan sangat membantu
dalam seleksi obat. Dari sini dapat diketahui jika pasien mengalami
alergi atau toleransi terhadap obat tertentu pada masa lalu. Disamping
itu, efek samping obat dan interaksi obat yang potensial terjadi juga
lebih muda untuk dihindari.

Titrasi dosis
Perubahan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik
pada lanjut usia biasanya menjadi sebab mengapa dosis yang lebih
rendah

diperlukan

untuk

memperoleh

efek

terapeutik

yang

dikehendaki. Pada sebagian besar kasus merupakan hal yang rasional


untuk memulai terapi dengan dosis serendah mungkin, kemudian jika
diperlukan dapat ditingkatkan secara bertahap dosis atau frekuensi
pemberiannya.

Penyakit medis yang bersamaan


Pasien lanjut usia sering kali menderita lebih dari satu kondisi
medis. Hal ini dapat mengakibatkan kontra-indikasi atau perlunya
perhatian khusus terhadap obat obat tertentu. Gangguan fungsi
ginjal dan disfungsi hati merupakan kondisi kondisi yang sering

muncul pada pasien lanjut usia sehingga diperlukan perhatian khusus


dalam pemilihan terapi obat.

Pemilihan obat dan bentuk sediaan yang tepat


Jika telah diputuskan untuk melakukan terapi obat, selanjutnya
sangatlah penting untuk memastikan bahwa obat terpilih adalah obat
yang tepat. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah efek samping
yang mungkin terjadi dan kondis medis pasien pada saat itu. Juga
termasuk pertimbangan bentuk sediaan yang akan digunakan. Pasien
lanjut usia sering kali lebih tepat untuk mendapat syrup, suspensi, atau
tablet terlarut. Untuk menelan tablet atau kapsul yang besar sering kali
menimbulkan kesulitan atau kecemasan tersendiri yang nantinya dapat
mengurangi tingkat kepatuhan.

II.6 KEPATUHAN PASIEN


Meskipun telah dibuat rencana pelayanan kefarmasian terbaik dan
peresepan paling tepat, tetapi jika pasien tidak patuh terhadap
pengobatannya maka hasil terapi yang optimal tidak akan tercapai.
Penelitian menunjukkan, apabila tidak ada penurunan kemampuan maka
tingkat kepatuhan pasien lsnjut usia akan sama halnya dengan pasien
dewasa

muda.

Tetapi

kenyataanya,

penurunan

itu

terjadi

pada

kebanyakan pasien lanjut usia. Sebagaian besar pasien lanjut usia


mengalami penurunan kemampuan kognitif dan kemungkinan untuk
mendapat bermacam-macam pengobatan dengan aturan dosis yang
rumit. Hal ini dapat mengakibatkan persoalan kepatuhan yang rendah

sehingga

menjadi

memperpanjang

kemungkinan

waktu

pengobatan.

penyebab
Pada

pengobatan

dan

penyakit-penyakit

yang

menetap seperti epilepsy atau hipertensi yang parah, diperlukan tingkat


kepatuhan sampai dengan 90% atau lebih untuk mendapat hasil
pengobatan yang memuaskan.
Factor-faktor yang menjadi penyebab ketidakpatuhan pasien lanjut
usia dapat disimpulkan sebagai berikut :
-

Tidak memahami tujuan pengobatan.

Hanya memperoleh sedikit atau tidak memperoleh manfaat dari

terapi pengobatan sebelumnya.


-

Kemungkinan

efek

samping

tidak

dijelaskan

dan

sangat

menganggu bagi pasien


-

Aturan dosis yang rumit

Ketika melakukan pengobatan sendiri, tidak memahami instruksi

dosis. Hal ini dapat disebabkan kesulitan dalam membaca, bahasa atau
mendengar.Factor ketidakpatuhan tidak hanya mempengaruhi hasil
pengobatan pada pasien, tetapi juga mempengaruhi secara financial.
Laporan yang berasal dari Amerika serikat menyimbulkan bahwa lebih
dari 11 5 alasan masuk rumah sakit terkait langsung dengan ketidak
patuhan. Hal ini melibatkan 2 juta alas an masuk rumah sakit yang bernilai
lebih dari $7 milyar.
Jadi jelaslah bahwa masalah kepatuhan perlu diperhatikan, baik
dari segi terapeutik maupun dari segi financial. Farmasis dapat

memegang peranan penting disini, yaitu dengan memberikan informasi


yang benar kepada pasien, seringkali melalui orang yang membawanya,
untuk mendorong kepatuhan yang benar pula.
-

Motivasi pasien

Farmasis harus menunjukkan ketertarikan yang nyata terhadap


kesehatan pasien. Dalam hal ini nantinya akan melibatkan atmosfer
empati, pengertian tentang problem-problem yang dihadapi pasien dan
memperbolehkan pasien untuk ikut ambil ambil bagian dalam mengambil
keputusan tentang pengobatannya.
-

Informasi tentang obat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembekalan beberapa informasi


tertentu kepada pasien akan membantu meningkatkan kepatuhan :nama
obat ,untuk apa. Mengapa diberikan, bagaiman dan kapan harus
diberikan, apa efeknya, efek samping apa yang dapat terjadi, dan apa
yang harus dilakukan jika ada dosis yang terlewatkan. Informasi secara
lisan dari farmasis akan memperkuat informasi yang telah ada secara
tertulis. Jawaban yang diberikan farmasis untuk pertanyaan pasien harus
ringkas dan jelas, sehingga pasien atau orang yang merawatnya akan
lebih mudah untuk mengigatnya.
-

Aturan pemberian obat

Aturan pemberian obat yang sederhana akan berakibat pada


kepatuhan yang lebih baik. Sebagai bagian dari aktivitas pemantauan
peresepan, farmasis idealnya menempatkan diri sebagai penasihat dokter

dalam hal perbaikan aturan pemakaian obat yang ada. Sebagai contohnya
adalah modifikasi aturan pemakaian fenitoin dari satu tablet tiga kali sehari
menjadi tiga tablet pada malam hari. Hal ini tidak akan mengurangi jumlah
frekuensi

pemberian,

tetapi

juga

akan

mengurangi

kemungkinan

terjadinya efek sedasi sepanjang hari.


Sarana bantu kepatuhan (compliance aids)
Catatan harian peresepan (prescription diaries)
System dosis yang terpantau (monitored dosage system)
Peralatan audio, alarm
Penandaan warna pada wadah
Konseling oleh farmasis
Mengubah rute pemberian obat
Evaluasi aturan dosis
Alat bantu mekanik, contohnya : haleraid, autodrop
II.7 DAFTAR PERIKSA DALAM PERESEPAN
Suatu pendekatan yang menyeluruh terhadap proses pemantauan
peresepan untuk pasien lanjut usia hanya dapat meningkatkan layanan
kefarmasian mereka.

Di bawah ini adalah contoh daftar yang dapat

digunakan dalam praktek :


Pastikan bahwa peresepan sudah tepat
Hindarkan polifarmasi
Pertimbangkan penanganan obat yang berubah
Pemeriksaan kepatuhan
Pencatatan dan pelaporan efek samping obat
Evaluasi peresepan secara teratur

Apakah tujuan terapi obat sedang dicapai .

BAB III
KESIMPULAN
Pendekatan yang rasional terhadap pengobatan pada lansia,
nampaknya memerlukan pemahaman terhadap aneka perubahan kinerja
farmakokinetika maupun farmakodinamika selama proses menua. Kedua
kinerja bersangkutan saling terkait serta mempengaruhi keberadaan obat
di tempat kerja tertentu dan keefektifan antar aksinya dengan tempat kerja
terkait. Yang lebih lanjut, ini akan menentukan kinerja farmakologi dan
toksikologi

obat

bersangkutan.

Meskipun

demikian,

pengambilan

keputusan terapi pada lansia, seyogyanya tidak hanya didasarkan pada


pertimbangan-pertimbangan pergeseran nasib obat karena proses menua
saja, tetapi juga pergeseran nasib obat karena komplikasi penyakit,
kebiasaan polifarmasi (antaraksi obat), faktor lingkungan (merokok), dan
status gizi, yang pada hakikatnya sulit dipisahkan secara jelas dengan
faktor proses menua.

DAFTAR PUSTAKA
Crooks, J., OMealley, K., and Stevenson, I.H. 1976. Pharmacokinetics in
the Elderly. Clin. Pharmacokinet., 1: 280-296.
Gibson, G.G. and Skett, P. 1986. Introduction to Drug Metabolism.
Chapman and Hall: London.
Holloway, D.A. 1974. Drug Problem in the Geriatric Patient. Drug Intell.
Clin, Pharm., 8: 632- 642.
Katzung BG (1986) Basic and Clinical Pharmacology, 3rd edition. Lange
Medical Book, California.
Lamy, P.P. 1990. Nonprescreption Drugs and the Elderly. In American
Phaemaceutical
Associations
(APHA).
Handbook
of
Nonprescription Drugs. 9th ed. APHA: Washington, D.C.
Massoud, N. 1984. Pharmacokinetic Considerations in Geriatric Patients.
Dalam: Benet, L.Z., Massoud, N., and gambertoglio, J.G. (eds).
Pharmacokinetic Basis for Drug Treatment. Raven Press: New
York.
Pfeifer, H.J. and Greenblatt, D.J. 1978. Clinical Toxicity of Theophyoine in
Relation to Cigarette Smoking. Chest, 73: 455-459.
Rowland, M. and Tozer, T.N. 1989. Clinical Pharmacokinetics, Concepts
and Aplication. 2nd ed. Lea and Febiger: Philadelphia.
Schumacher, G.E. 1980. Pharmacokinetic Factors Influensing Drug
Therapy in the Aged. Am. J. Hosp. Pharm., 37: 559-562.
Shull, H.J. Wilkinson, G.R. Johnson, R. and Schenker, S. 1976. Normal
Disposition of Oxazepam in Acute Viral Hepatitis and Cirrhosis.
Ann. Intern. Med., 84: 420-425.

Speight TM (1987) AverysDrug Treatment: Principles and Practice of


Clinical Pharmacology and Therapeutics, 3rd edition. ADIS Press,
Auckland.
Triggs, E.J. and Nation, R.L. 1975. Pharmacokinetics in the Aged, a
Review. J. Pharmacokinet. Biopharm., 3: 387-417.
Vestal, R.E. 1978. Drug Use in the Elderly, a Review of Problems and
Special Considerations. Drugs, 16: 358-382.
Wilkinson, G.R. 1978. Effects og Aging and Liver Disease on Disposition
of Lorazepam. Clin. Pharmacol. Ther., 24: 411-419.
World Health Organization (WHO). 1985. Drugs for the Elderly. WHO
Regional Office of Europe: Copenhagen.