Anda di halaman 1dari 14

Materi Perancangan Peraturan Perundang-undangan (Dr. Enny Nurbaningsih, S.H,M.

Hum) Koordinator Kelas A: Wisnu (18848) Sekretaris Kelas A: Andri (19319) Koordinator Kelas B: Alex (18932) Sekretaris Kelas B: Thao Feng (18943) Koordinator Kelas C: Moh. Arief (18847) Sekretaris Kelas C: Maya (18793) Koordinator Kelas D: Fauzan (18671) Sekretaris Kelas D: Veronica (18725) No 1 Pokok Bahasan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik Pengertian Asas asasnya Hirarki perundangundangan Prinsip pembentukan Metode Pembelajaran 1. Soehino, Hukum Perundang- 1. Ceramah undangan, Liberty, 1997. dengan 2. Maria Farida, Ilmu Perundangbantuan LCD undangan 2. Tanya jawab 3. Bagir Manan, Dasar-Dasar Perundang-Undangan Indonesia,Kanisius, 2007. 4. Bagir Manan, Sistem dan Teknik Pembuatan Peraturan Perundangundangan Tingkat Daerah, Ind-Hill, Jakarta, 1992. 5. A. Hamid Attamimi, Teori Perundang-undangan Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar UI, 1992. 6. A.Hamid Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Disertasi, UI, 1990. 7. Jimly Asshidiqie, Perihal UU. 8. Aan Seidman & Robert B, Seidman, and Abeyeskere, Nalin, 2001, Legislative Drafting for Rujukan

Democratic Social Change A Manual for Drafters, Kluwer Law


International, London. UU No. 12 Tahun 2011

Teknik perencanaan pembentukan peraturan perundang-undangan (Prolegnas Prolegda): 1. Perumusan latar belakang masalah 2. Keterkaitan dengan peraturan perundangundangan secara vertikal dan horizontal 3. Sararan yang ingin diwujudkan (apakah masalah dapat terselesaikan dengan hadirnya peraturan tersebut) 4. Jangkauan arah pengaturan Metode dan Tahapan penyusunan Peraturan Perundang-undangan. identifikasi permasalahan,

1. Ceramah dengan bantuan LCD 2. Tanya jawab

3 -4

Tujuan dan Opsi Penyusunan NA Pengertian Dasar Hukum Tujuan dan Manfaat Sistimatika Latihan menyusun NA

UU No. 12 Tahun 2011. UU No. 27/2009

1. Ceramah dengan bantuan LCD 2. Tanya jawab 3. Ceramah dengan bantuan LCD 4. Tanya jawab 1. Ceramah dengan Bantuan LCD 2. Praktik Kelompok

Teknik Perancangan Peraturan Perundangundangan Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di tingkat Pusat: UU PP Perpres Peraturan Menteri Penyusunan Peraturan Perundang-undangan tingkat daerah: Perda Peraturan Kepala Daerah. Peraturan Bersama KDH

UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan

Idem Permendagri No 53/2011

1. Ceramah dengan Bantuan LCD 2. Praktik Kelompok

6 -7

Latihan dan Presentasi

Idem

Praktik Kelompok Diskusi

Pengantar Sebagai hasil peninjauan kembali Kurikulum Fakultas Hukum telah ditetapkan Kurikulum baru 2012 yang mendesain kembali materi perkuliahan perancangan peraturan perundangundangan yang dipisahkan dari MPPH, karena dipandang jika pemberian materi tersebut digabungkan tidak mencukupi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kurikulum baru penyusunan peraturan perundang-undangan (legal drafting) ditempatkan sebagai salah satu mata kuliah kemahiran hukum yang bersifat wajib, sehingga semua mahasiswa fakultas hukum harus mengambil mata kuliah tersebut. Kondisi ini sesuai dengan kebutuhan yang berkembang di masyarakat. Lembaga pemerintah sangat membutuhkan lulusan perguruan tinggi hukum yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menyusun peraturan perundang-undangan sekalipun masih merupakan kemahiran dasar yang lebih mudah dikembangkan daripada tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu sama sekali. Dengan pengetahuan tersebut mahasiswa dapat menilai suatu peraturan perundangundangan apakah baik ataukah tidak. Setelah memasuki dunia kerja diharapkan lulusan FH UGM dapat andil dalam penyusunan peraturan perundang-undangan yang baik, baik pada tingkat pusat maupun peraturan perundang-undangan pada tingkat daerah. Kebutuhan lulusan yang ahli di bidang penyusunan peraturan perundang-undangan ini semakin mendesak terutama dengan diberikannya kewenangan daerah untuk mengatur rumah tangganya. Dengan semakin banyak orang/lulusan yang berkiprah dalam penyusunan peraturan perundang-undangan yang baik, dapat turut membantu mengurangi lahirnya produk hukum yang bermasalah dan menimbulkan resistensi di masyarakat. Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa memiliki pengetahuan dasar tentang penyusunan peraturan perundangundangan yang baik berdasarkan asas-asas dan prinsip-prinsip yang melingkupinya, serta pemahaman tentang metode penyusunannya. 2. Mahasiswa terlatih merancang peraturan perundang-undangan yang mendasarkan pada permasalahan hasil penelitian yang dituangkan dalam Naskah Akademik dengan sistematika yang tepat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

RINCIAN MATERI PEMBELAJARAN Tatap Muka : Kesatu Topik Bahasan : Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik Sub Pokok Bahasan : Pengertian; asas-asas dalam pembentukan peraturan perundangundangan yang baik; hierarki Peraturan Perundang-undangan; Prinsip/ landasan Penyusunan Peraturan; Perencanaan pembentukan peraturan 1. Pengertian Pengertian peraturan perundang-undangan dalam ketentuan UU No. 12 Tahun 2011 adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Pengertian mengikat umum sebagaimana disebutkan dalam UU No 12 Tahun 2011 tidak dijelaskan. Ten Berge merumuskan unsur-unsur yang menjadi ciri dari peraturan yang mengikat umum adalah: 1. Waktu : tidak hanya berlaku pada saat tertentu 2. Tempat : tidak hanya berlaku pada tempat tertentu 3. Person/orang : tidak hanya berlaku pada orang tertentu, dan 4. Fakta hukum : tidak hanya ditujukan pada fakta hukum tertentu, tetapi untuk berbagai fakta hukum yang dapat berulang-ulang, dengan kata lain untuk perbuatan yang berulang-ulang). Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian de Commisie Wetgevingsvraagstukken, peraturan yang mengikat umum haruslah suatu peraturan yang memiliki sifat umum. Peraturan yang hanya berlaku untuk peristiwa konkrit atau yang ditujukan pada orang-orang yang disebutkan satu per satu (individuil) tidak memenuhi syarat sebagai peraturan perundangundangan atau peraturan umum, melainkan disebut sebagai penetapan (beschikking) Secara teoritik ada dua pengertian perundang-undangan yaitu:: a. perundang-undangan merupakan proses pembentukan/proses membentuk peraturan-peraturan negara, baik di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. b. perundang-undangan adalah segala peraturan negara yang merupakan hasil pembentukan peraturan-peraturan, baik di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah 2. Asas-asas dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang Baik Van der Vlies dan A. Hamid S. Attamimi membedakan 2 (dua) kategori asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang patut/baik (beginselen van behoorlijk regelgeving): asas formal dan asas material. Asas-asas formal: 1. Asas tujuan jelas (Het beginsel van duideijke doelstelling) 2. Asas lembaga yang tepat ( Het beginsel van het juiste orgaan) 3. Asas perlunya pengaturan (Het noodzakelijkheid beginsel) 4. Asas dapat dilaksanakan (Het beginsel van uitvoerbaarheid) 5. Asas konsensus (Het beginsel van de concensus) Asas-asas material: 1. Asas kejelasan teminologi dan sistematika (Het beginsel van

Asas-asas ini lebih bersifat normatif, meskipun bukan norma hukum. Sifat normatifnya akibat pertimbangan etik yang masuk ke dalam ranah hukum. Penjelasan pengertian masing-masing

2. Asas bahwa peraturan perundang undangan mudah dikenali (Het beginsel van den kenbaarheid) 3. Asas persamaan (Het rechts gelijkheids beginsel) 4. Asas kepastian hukum (Het rechtszekerheids beginsel) 5. Asas pelaksanaan hukum sesuai dengan keadaan individual (Het beginsel van de individuele rechtsbedeling)

terminologie en duidelijke systematiek)

de duidelijke

Asas tujuan yang jelas Mencakup 3 hal, yaitu; ketepatan letak peraturan, tujuan khusus peraturan yang akan dibentuk, tujuan bagian-bagian dari peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk. Dalam UU No. 5 Tahun 1990 tujuan tersebut tertuang dalam Pasal 3: Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya

sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Asas lembaga/organ yang tepat Pada prinsipnya menafsirkan perlunya kejelasan kewenangan organ/lembaga yang membentuk peraturan perundang-undangan. Asas perlunya pengaturan Muncul karena dalam penyelesaian masalah penyelenggaraan kehidupan manusia terdapat berbagai alternatif yang tidak selalu harus dituangkan dalam bentuk peraturan perundangundangan. Hal ini bukan berarti tidak ada peraturan (ontregelen) namun pembentukan peraturan itu berpegang pada prinsip penyederhanaan (soberheid). Asas dapat dilaksanakan merupakan asas yang menghendaki suatu peraturan dapat ditegakkan. Tidak akan ada gunanya merumuskan berbagai aturan dalam berbagai norma jika pada akhirnya norma tersebut tidak dapat ditegakkan. Salah satu penegakkan norma tersebut melalui penjatuhan sanksi terhadap pelanggaran peraturan (lihat UULAJR). Asas konsensus menunjukan adanya kesepakatan rakyat untuk melaksanakan kewajiban dan menanggung akibat yang ditimbulkan oleh peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. Asas ini dapat tercapai jika dilakukan diseminasi secara terarah. Persoalannya jika peraturan yang diberlakukan pada saat yang bersamaan sangat banyak jumlahnya, maka keberadaan asas ini tidak efektif. Asas terminologi lebih tepat Asas ini lebih menekankan kepada teknik merancang kata-kata, struktur dan susunan peraturan sehingga pada akhirnya membentuk norma yang mengikat. Asas dapat dikenali Sangat penting artinya terutama bagi peraturan perundang-undangan yang membebani masyarakat dengan berbagai kewajiban. Apabila suatu peraturan perundang-undangan tidak dikenali dan diketahui setiap orang, lebih-lebih bagi orang yang berkepentingan maka ia akan kehilangan tujuannya sebagai peraturan. Asas perlakuan yang sama dalam hukum menghendaki dalam pembentukan perturan perundang-undangan muatannya tidak bersifat diskriminatif sehingga mengakibatkan adanya ketidaksamaan dan kesewenang-wenangan. Asas kepastian hukum merupakan konsekuensi sendi negara berdasarkan atas hukum. Oleh karena itu setiap peraturan yang dibentuk harus jelas. Tidak dapat merumuskan pemberlakuan surut suatu norma hukum (retroaktif), apalagi yang bersifat pembebanan (misal: pajak, retribusi) karena bertentangan dengan asas kepastian hukum. Pengecualian terhadap norma yang bersifat retroaktif dapat dilakukan tetapi harus sangat hati-hati, jelas dan transparan. Ketidaktepatan rumusan akan berpengaruh pada efektifitas berlakunya aturan. Sekalipun fiksi hukum mengatakan setiap orang dianggap tahu hukumnya (een ieder geacht de wet te kennen), tetapi jika tanggal pemberlakuannya tidak jelas maka akan mempersulit implementasi fiksi hukum tersebut, dan capaian kepastian hukum. Asas pelaksanaan hukum sesuai dengan keadaan individu Bahwa selain muatan peraturan perundang-undangan berlaku umum tapi dapat juga diterapkan untuk menyelesaikan persoalan secara khusus atau keadaan-keadaan tertentu (in-concreto). Namun dalam penerapan asas ini harus penuh kehatian karena dapat meniadakan asas kepastian hukum dan asas persamaan. Oleh karena itu penerapan sepenuhnya diserahkan pada penegak peraturan perundang-undangan (hakim). Pengaturan dalam UU No. 12 Tahun 2011 Dalam rangka menciptakan good regulatory governance UU No. 12 Tahun 2011 jo. UU No. 32 Tahun 2004 mengadopsi pendapat A. Hamid S Attamimi dengan memasukkan materi asas-asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik yaitu: a. kejelasan tujuan; b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat; c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;

d. dapat dilaksanakan; e. kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. kejelasan rumusan; dan g. keterbukaan. Di samping asas-asas di atas, dalam membentuk peraturan harus diperhatikan pula materi muatan yang akan dituangkan dalam peraturan tersebut. Setiap jenis peraturan perundang-undangan mempunyai materi muatan tersendiri yang biasanya didasarkan pada peraturan perundang-undangan di atasnya. Di dalam Pasal 6 UU No. 12 Tahun 2011 ditentukan bahwa materi muatan peraturan perundang-undangan mengandung asas: a. pengayoman; b. kemanusiaan; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Pada prinsipnya asas pembentukan dan asas materi muatan dalam pembentukan peraturan yang baik di atas dapat dikategorikan sebagai asas formal dan asas material, yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk melihat sekaligus menilai apakah peraturan yang sedang berlaku atau yang sedang dalam proses pembentukan sudah mencerminkan peraturan perundang-undangan yang baik. Asas-asas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik sebagaimana diatur dalam UU No. 12 Tahun 2011 sejalan dengan konsep yang dikembangkan oleh negara-negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). tahun 1995. OECD merekomendasikan daftar pernyataan (checkslist) untuk pengambilan keputusan pembentukan regulasi yang baik, yaitu: 1
6

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Apakah masalahnya telah dirumuskan dengan tepat oleh pembentuk peraturan? Apakah tindakan membuat peraturan beralasan ? Apakah tindakan membuat peraturan yang terbaik ? Apakah terdapat dasar membuat peraturan tersebut ? Tingkatan pemerintahan manakah yang paling tepat untuk melakukan tindakan ini? Apakah manfaat memberlakukan peraturan melebihi biayanya? Apakah efek distribusi di masyarakat cukup transparan? Apakah rumusan peraturan jelas, konsisten, mudah dipahami, dan dapat diakses oleh masyarakat? 9. Apakah semua pihak yang berkepentingan telah mendapat kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya (aspek partisipasi publik)? 10. Bagaimana tingkat kepatuhan masyarakat terhadap peraturan dicapai? Uraian detil ke 10 checklist ini akan memudahkan perancang dalam menyusun konsep dan norma yang akan dibentuk dengan tidak menimbulkan komplikasi regulasi. No Checkslist Hasil/ uraian 1 Masalah Jelaskan apa masalahnya sehingga Peraturan tersebut harus dibentuk atau direview. Misalnya terkait dengan penanaman modal di Kulon Progo, dicanangkan dalam RPJMD suatu cita-cita bahwa Kab. Kulon Progo Go International. Regulasi yang berlaku di Kulon Progo belum mendukung sepenuhnya cita-cita tersebut. 2 Alasan Belum ada Perda Penanaman Modal yang dapat mendorong peningkatan investasi di daerah sesuai dengan kondisi kebutuhan lokal 3 Urgensi (regulasi sebagai Untuk mempercepat upaya peningkatan penanaman tindakan terbaik modal dst...... 4 Dasar pembentukannya Ada 3 dasar yang harus muncul: 1. Dasar pembentukan daerah otonom untuk menunjukkan eksistensi daerah (cari UU
6

Sumber: OECD (1995), OECD Recommendation on Improving the Quality of Government Regulation1

pembentukan Kabupaten Kulon Progo). 2. Dasar kewenangan lembaga mengatur UU Pemda 3. Dasar mengatur materi Cari UU yang memerintahkan mengatur Perda penanaman modal Peraturan yang dicari mulai dari UU sampai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dari Perda. (lakukan RegMap). Melalui mapping ini diperoleh dasar sekaligus konsistensi dan sinkronisasi. Susun dasar tersebut sesuai dengan hirarkinya. Hal ini sekaligus memudahkan perancang menyusun dasar Mengingat. Ketepatan Lembaga Tentukan berdasarkan pembagian kewenangan atau urusan, dan kewenangan mengatur materi. Jangan sampai terjadi pemda mengatur mengatur materi yang bukan pada level kewenangannya. Perancang menguraikan: Pemda Kulon Progo memiliki kewenangan mnegatur Perda, dan DPRD bersama dengan Kepala Daerah merupakan lembaga yang memiliki kewenangan mengatur materi muatan tersebut. Manfaat dan biaya (cost Uraikan apa untung dan ruginya diatur Perda and benefit analysis) Penanaman Modal. Manfaat (keuntungannya): 1. Proses 2. Mekanisme 3. Lembaga 4. Waktu 5. Dst Kerugian: ............................. Konsultasi publik

3. Landasan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Menurut ilmu pengetahuan, sekurang-kurangnya ada tiga landasan pembentukan perundang-undangan yang harus dipenuhi : a. Landasan Filosofis Perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan filosofis apabila rumusan ketentuan atau normanya mendapatkan pembenaran secara filosofis, dalam arti sesuai dengan cita-cita dan pandangan hidup bermasyarakat, cita-cita keadilan dan kesusilaan. b. Landasan Sosiologis Suatu perundang-undangan mempunyai landasan sosiologis apabila rumusan ketentuan atau normanya sesuai dengan keyakinan umum atau kesadaran hukum masyarakat. Hal ini penting agar ketentuan tersebut ditaati oleh masyarakat. c. Landasan Yuridis. Landasan yuridis, landasan hukum atau legalitas adalah landasan atau dasar yang terdapat dalam ketentuan hukum yang dapat dibedakan dalam dua aspek: - Aspek formal, yaitu ketentuan hukum yang memberi kewenangan kepada badan pembentuknya. - Aspek material yaitu ketentuan hukum tentang masalah atau persoalan yang harus diatur. Aspek ini penting terutama bagi jenis perundang-undangan pelaksana yang derajadnya di bawah undang-undang. Ketiga landasan ini dapat dirumuskan jika pembentukan peraturan dilakukan melalui tahapan penelitian kepustakaan (data sekunder) dan penelitian lapangan (data primer). Data sekunder diperlukan untuk memberikan kejelasan landasan yuridis pembentukan peraturan perundang-undangan, sedangkan data primer sangat diperlukan untuk memberikan kejelasan kondisi sosiologis yang berkembang serta nilai-nilai hukum yang diterapkan oleh masyarakat dalam menghadapi suatu permasalahan yang memerlukan pengaturan. Ketiga landasan ini secara teknik perundang-undangan terakomodasi dalam sistematika perundang-undangan terutama menjadi dasar pembentukan konsideran menimbang dan mengingat.

4.

Hirarki Peraturan Perundang-undangan Pengertian hirarki atau tata urutan peraturan perundang-undangan adalah suatu Peraturan Perundang-Undangan selalu berlaku, bersumber dan berdasar pada Peraturan Perundang-Undangan yang lebih tinggi dan norma yang lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada Peraturan Perundang-Undangan yang lebih tinggi lagi, dan seterusnya sampai pada peraturan-perundang-Undangan yang paling tinggi tingkatannya. Konsekuensinya, setiap Peraturan Perundang-Undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan yang lebih tinggi sehingga tercipta suatu tertib peraturan perundang-undangan. Setelah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 terjadi perubahan jenis dan hirarki Peraturan Perundang-Undangan menjadi: 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia1945; 2. Tap MPR 3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu); 4. Peraturan Pemerintah; 5. Peraturan Presiden; 6. Peraturan Daerah Provinsi 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Selain Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana yang telah disebutkan diatas, terdapat peraturan perundang-undangan lainnya yang keberadaanya diakui dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan PerundangUndangan yang lebih tinggi, yaitu Peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Bank Indonesia, Menteri, Kepala Badan, Lembaga, atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh UndangUndang atau pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi, Peraturan Daerah Provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi bersama Gubernur. Selain diperlukannya penerapan asas pembentukan peraturan perundang-undangan dalam menyusun peraturan, terdapat pula berbagai adagium yang sangat mempengaruhi berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang salah satunya terkait dengan dianutnya hirarki peraturan: a. Lex Superior derogat legi inferior yang mengandung arti bahwa: peraturan perundang-undangan yang lebih rendah bersumber pada yang lebih tinggi, muatan peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan, mengubah atau menyampingkan peraturan yang lebih tinggi, serta suatu peraturan hanya dapat diubah, dicabut atau ditambah oleh yang sederajad atau lebih tinggi, dan peraturan yang lebih rendah tidak mengikat/tidak berkekuatan hukum jika bertentangan dengan yang lebih tinggi. Oleh karena itu materi perundangundangan yang lebih tinggi tidak dapat diatur oleh yang lebih rendah, kecuali jika didelegasikan dengan jelas.

b. Lex Specialis derogat legi generalis

Lex generalis merupakan hukum umum yang berlaku umum dan merupakan dasar, sedangkan lex specialis adalah hukum khusus yang menyimpang dari lex generalis. Namun demikian lex generalis merupakan dasar bagi adanya lex specialis. Dalam penerapannya peraturan khusus lebih diutamakan dari peraturan yang muatannya bersifat umum. Konflik dapat terjadi juga antara peraturan perundang-undangan yang lama dengan yang baru yang mengatur materi yang sama. Apabila diundangkan peraturan baru yang tidak mencabut peraturan lama yang mengatur materi yang sama sedangkan kedua-duanya saling bertentangan, maka berdasarkan asas ini ketentuan perundang-undangan yang baru menyampingkan yang lama.

c. Lex posteriori derogat legi priori

Tatap Muka : Kedua Topik Bahasan : Metode dan Tahapan dalam Penyusunan Sub Pokok Bahasan : Metode dan Tahapan Identifikasi permasalahan, Tujuan dan Opsi Cara Pemecahan Masalah 1. Metode dan Tahapan

Selama ini pengaturan tentang pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia sangat tumpang tindih karena banyaknya peraturan yaitu: a. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie, yang disingkat AB (Stb. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundangundangan nasional. b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. c. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan, Mengumumkan, dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai UndangUndang Federal. d. Selain Undang-Undang tersebut, terdapat pula ketentuan: (1) Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah; (2) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara, dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara; (3) Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia; (4) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang; (5) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan UndangUndang, Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Keputusan Presiden. e. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah, berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. Setelah berlaku UU No. 12 Tahun 2011 ditentukan tahapan pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan. Sebelumnya dalam UU No. 12 Tahun 2011 ditentukan tahapan dalam proses tersebut mencakup perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan. Berdasarkan ketentuan tersebut terdapat 5 tahapan yang diperlukan untuk menghasilkan peraturan yang berlaku dan mengikat yaitu: 1. Perencanaan 2. Penyusunan 3. Pembahasan 4. Pengesahan/penetapan 5. Pengundangan Dari 5 tahapan ini, tahapan yang sangat menentukan adalah perencanaan, karena jika pada tahapan ini tidak terkonsep dengan baik maka tahapan selanjutnya akan menghasilkan peraturan yang tidak baik pula. Terkait dengan hal ini ditegaskan dalam penjelasan UU bahwa tertib Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik, diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem, asas, tata cara penyiapan dan pembahasan, teknik, penyusunan maupun pemberlakuannya Namun demikian tidak dijelaskan bagaimana menyusun perencanaan tersebut dalam UU, karena UU No. 12 Tahun 2011 hanya menyebutkan perencanaan untuk UU dituangkan dalam Prolegnas dan perencanaan untuk pembentukan Perda dituangkan dalam Prolegda. Prolegnas dan prolegda merupakan daftar prioritas dalam pembentukan peraturan. Hal yang sangat mendasar adalah bagaimana prioritas tersebut disusun sehingga dapat dihasilkan suatu usulan daftar peraturan. Apakah ada suatu permasalahan atau perilaku bermasalah dalam masyarakat sehingga mendorong perlunya pengaturan.

2.

Identifikasi Permasalahan, Tujuan dan Opsi Fenomena munculnya peraturan perundang-undangan bermasalah baik di tingkat pusat maupun di daerah tidak dapat dilepaskan dari ketidakjelasan perencanaan. Salah satu aspek yang menentukan dalam perencanaannya adalah identifikasi permasalahan yang menyebabkan perlunya dibentuk peraturan seharusnya terumuskan dengan jelas. Ada 7 kategori (ROCCIPI) penyebab potensial yang dapat digunakan untuk mengembangkan hipotesa tentang penyebab perilaku bermasalah yang dapat dijadikan instrumen untuk memahami permasalahan2: 1. Rules (aturan): mengapa orang berperilaku sedemikian rupa dihadapan hukum. Fokus dari kategori ini tidak hanya soal moral mengapa orang mematuhi atau tidak mematuhi suatu UU. Tetapi lebih karena kekurangan UU itu sendiri. 2. Opportunity (kesempatan): apakah keadaan yang memungkinkan orang untuk berperilaku sebagaimana diperintahkan oleh UU? Atau apakah UU memungkinkan mencegah orang berperilaku menurut UU?. 3. Capacity (Kemampuan): apakah masyarakat memiliki keahlian, kemampuan dan sumber daya yang memadai untuk berperilaku sebagaimana diperintahkan oleh UU? 4. Communication (Komunikasi): apakah pihak-pihak yang berwenang telah mengambil langkah-langkah yang memadai untuk mengkomunikasikan UU yang ada yang mengatur perilaku? 5. Interest (Kepentingan): apakah imbalannya atau hukumannya dalam suatu UU mendorong atau tidak mendorong perilaku sebagaimana yang ditentukan oleh UU itu?.Orang berperilaku sedemikian ini apakah karena ada persepsi mereka terhadap manfaat pribadi dari UU tersebut. 6. Process (proses): langkah-langkah apa yang telah dilalui orang-orang atau institusi dalam memutuskan bagaimana perilaku sebagaimana yang ditentukan dalam UU. 7. Ideology ( Ideologi): sampai sejauhmanakah kepercayaan seseorang yang menyebabkan seseorang melanggar ketentuan dalam UU. Berdasarkan 7 kategori ini dapat diketahui permasalahan dan faktor penyebab timbulnya masalah baik pada pemegang peran (Role Occupant/RO) yaitu orang/kelompok orang yang menyebabkan timbulnya masalah/perilaku bermasalah, maupun pada lembaga pelaksana (Implementing Agency/IA) yaitu badan/pejabat yang seharusnya menegakkan peraturan atau menertibkan kehidupan masyarakat. Untuk memahami lebih jauh terhadap perumusan masalah dan tindak lanjut dari permasalahan tersebut dapat menggunakan tahapan yang telah diintroduksi dalam RIA (Regulatory Impact Assessment). Ada 7 tahapan yang dirumuskan untuk menganalisis pembentukan suatu peraturan dan dampaknya yaitu: 1. Perumusan masalah atau issue yang menimbulkan kebutuhan untuk menerbitkan suatu peraturan (melakukan tindakan); 2. Identifikasi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dengan peraturan tersebut dan Penilaian resiko (Risk Assessment); 3. Identifikasi berbagai alternatif tindakan (option) untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut; 4. Analisis manfaat dan biaya (keuntungan dan kerugian) untuk setiap option, dilihat dari sudut pandang pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, konsumen, dan ekonomi secara keseluruhan; 5. Konsultasi publik & komunikasi dengan stakeholders, terhadap semua tahapan pembentukan peraturan tersebut di atas; 6. Penentuan opsi terbaik (yang dipilih); 7. Perumusan strategi implementasi kebijakan. Untuk dapat mengetahui secara detil apakah permasalahan sehingga diperlukan adanya pengaturan dapat digunakan pertanyaan berikut: a. Apakah masalah yang sebenarnya baik pada sisi RO dan IA? b. Siapa yang berpengaruh, apakah RO atau IA? c. Apakah masalah yang ingin diselesaikan benar-benar ada, atau hanya gejalanya? d. Apakah ada masalah yang lebih mendasar? e. Apakah akar penyebab timbulnya masalah? f. Bagaimana persepsi stakeholders (pihak yang terkait) terhadap masalah tersebut? Apa masalah sesungguhnya yang dihadapi stakeholders?

2 Aan Seidman & Robert B, Seidman, and Abeyeskere, Nalin, 2001, Legislative Drafting for Democratic Social Change A Manual for Drafters, Kluwer Law International, London

Jika permasalahan telah dapat terumuskan dengan baik dilanjutkan dengan perumusan tujuan. a. Apakah tujuan (sasaran) membuat peraturan sesuai dengan permasalahan? b. Apakah sasaran kebijakan dalam peraturan tersebut untuk menyelesaikan sebagian atau keseluruhan permasalahan yang dihadapi3? c. Apakah pembuat peraturan memiliki kewenangan mengeluarkan kebijakan tersebut dan apakah kebijakan tersebut konsisten dengan undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang lebih tinggi4. Tujuan ini harus dirumuskan secara detil karena tidak semua masalah harus diselesaikan dengan peraturan. Oleh karena itu dapat ditentukan tujuan apakah yang ingin dicapai dari permasalahan yang ada. Tahapan selanjutnya adalah penentuan altermatif tindakan. Tujuan utama tahap ini adalah untuk menghasilkan suatu daftar berbagai metode atau cara-cara untuk menyelesaikan masalah yang harus dipilih tetapi tidak bersifat mengikat. Dalam mengidentifikasi alternatif, dipertimbangkan apakah terdapat alternatif selain membuat peraturan yang dapat menyelesaikan masalah yang dituju (non-regulatory). Jika masalah tersebut akan diselesaikan melalui suatu pembentukan peraturan, masih harus dipertimbangkan muatan peraturan seperti apakah yang dapat diterapkan (alternative forms of regulation). Jadi yang dikaji/analisis adalah alternative to regulations, yang diikuti dengan pembahasan mengenai alternative forms of regulation. Dalam hal inilah perumus/pengkaji memberikan pembahasan mengenai beberapa pertimbangan yang diperlukan dalam memilih (screening) alternatif tindakan, yaitu: 1. Legalitas: apakah pembuat peraturan berhak secara hukum untuk melakukan tindakan tersebut sesuai dengan materi muatan peraturan yang dibentuknya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 2. Biaya (costs): berapa besar biaya yang harus dikeluarkan (terjadi) untuk melakukan tindakan tersebut? biaya ini mencakup biaya & kerugian yang ditanggung oleh pemerintah, konsumen, pelaku bisnis, dan UKM. 3. Dampak terhadap masyarakat menyangkut seberapa besar pengaruh dari tindakan tersebut terhadap masyarakat, yang mencakup antara lain: a. Apakah masyarakat melihat tindakan pemerintah tersebut cukup adil dan tidak menghalangi akses kaum miskin/lemah terhadap fasilitas dasar (faimess & access for the poor); b. Apakah perda mengganggu kegiatan masyarakat karena misalnya campur tangan pemerintah terlalu besar (Instrusiveness); c. Apakah tindakan tersebut terkait dengan aspek mendasar dalam bidang kesehatan, keselamatan kerja, dan pelestarian lingkungan hidup; d. Seberapa luas penyebaran dampak dari peraturan tersebut dalam mempengaruhi orang (sedikit atau banyak orang). Materi huruf a sampai dengan d ini berkaitan dengan pengkajian terhadap cost and benefit (biaya dan keuntungan) yang mencakup biaya ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dalam mengkaji aspek ini perumus perlu melibatkan ahli terkait dengan bidangnya sehingga hasil kajian dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sebagai contoh dalam program KKN PPM UGM yang telah berjalan untuk Tahap II dibutuhkan mahasiswa dari disiplin selain hukum, yang diharapkan mampu menelaah aspek aspek cost and benefit sesuai disiplin ilmunya. Tatap Muka Topik Bahasan Sub Pokok Bahasan : Ketiga dan keempat : Penyusunan Naskah Akademik : Pengertian; Dasar hukum; Tujuan dan Manfaat; Sistematika.

Tahapan-tahapan yang telah terumuskan di atas akan dapat diaplikasi dengan baik jika dituangkan dalam bentuk kajian akademik atau Naskah Akademik. Dalam konteks RIA kajian tersebut terurai dalam RIAS (regulatory Impact Assessment Statement).

3 Permasalahan yang ada biasanya cukup kompleks, sehingga diperlukan beberapa kebijakan untuk menyelesaikan problem secara menyeluruh, tidak hanya cukup dengan satu peraturan saja, sehingga perlu dirumuskan detil semua tujuan. 4 Beberapa Perda sangat tidak jelas tujuan yang ingin dicapai, kalaupun ada rumusan tujuan dalam perda seringkali tidak cocok dengan isi perda

10

PENGERTIAN NASKAH AKADEMIK (NA) Naskah awal yang memuat gagasan-gagasan pengaturan dan materi muatan perundang-undangan bidang tertentu disebut Naskah Akademik Peraturan Perundangundangan. Naskah Akademik merupakan potret atau peta tentang berbagai hal atau permasalahan yang ingin dipecahkan melalui undang-undang yang akan dibentuk dan disahkan. Makna yang sering dikemukakan bahwa dalam pertimbangan suatu RUU selalu dicantumkan dasar filosofis, sosiologis, dan yuridis mengingatkan bahwa betapa dasar atau landasan tersebut penting karena terkait dengan konstatasi fakta yang ada dan bagaimana fakta tersebut dapat dipecahkan melalui cara-cara yang mendasarkan pada filosofis dan yuridis. Dalam UU No. 12 Tahun 2011 ditegaskan pengertian NA adalah Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi, Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota, sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat. Kedudukan Naskah Akademik merupakan : 1. Bahan awal yang memuat gagasan-gagasan tentang urgensi, pendekatan, luas lingkup dan materi muatan suatu peraturan perundang-undangan; 2. Bahan pertimbangan yang dipergunakan dalam permohonanan izin prakarsa penyusunan RUU/RPP kepada Presiden; 3. Bahan dasar bagi penyusunan RUU/RPP. Sistematika NA terdapat dalam Lampiran I UU No. 12 Tahun 2011 Tatap Muka : Kelima Topik Bahasan : Teknik Perancangan Sub Pokok Bahasan : Sistimatika; Teknik Penulisan; dan latihan. Tahapan implementasi kebijakan dalam konteks RIA terkait dengan teknik penyusunan peraturan yang telah dipilih sebagai alternatif. Dalam ketentuan UU No. 12 Tahun 2011 diuraikan sistimatika perancangan peraturan perundang-undangan (legal drafting) yang dapat dijadikan pegangan bagi perumus baik pada pembentukan peraturan di tingkat pusat maupun di daerah. 1. SISTIMATIKA PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. Judul; B. Pembukaan; C. Batang Tubuh; D. Penutup; E. Penjelasan (Jika diperlukan); F. Lampiran (Jika diperlukan). A. JUDUL Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca. CATATAN: Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan; b. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim, kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian. Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan. Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan

11

yang sebenarnya sudah singkat. B. PEMBUKAAN Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa; 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan; 3. Konsiderans; 4. Dasar Hukum; dan 5. Diktum. Konsideran Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. Untuk peraturan pelaksanaan UU atau Perda tidak perlu detil mencantumkan landasan filosofis atau sosiologis. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundangundangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundangundangan tersebut. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundangundangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundangundangan tersebut. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan, ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut. Dasar Hukum Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundangundangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundang-undangan tersebut. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku, tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu, urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundangundangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya. Penulisan undang-undang, kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Diktum terdiri atas: a. kata Memutuskan; ditulis huruf kapital diletakkan ditengah marjin. b. kata Menetapkan; c. Nama Peraturan Perundang-undangan C. BATANG TUBUH 1. Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). 2. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: a. Ketentuan Umum; b. Materi Pokok yang Diatur; c. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan); d. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan); e. Ketentuan Penutup. Ad. a. Ketentuan Umum Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. Jika dalam Peraturan Perundangundangan tidak dilakukan pengelompokan bab, ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal.

12

Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. Ketentuan umum berisi: a. batasan pengertian atau definisi; b. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan; c. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud, dan tujuan. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi: Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu, maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali, namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab, bagian atau paragraf tertentu, dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan, maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. Karena batasan pengertian atau definisi, singkatan, atau akronim berfungsi, untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi, singkatan, atau akronim tidak perlu diberi penjelasan, dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda Ad.b. Materi Pokok Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum, dan jika tidak ada pengelompokkan bab, materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. Ad.c. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ad.d. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) Adanya ketentuan ini untuk memberi nyawa peraturan lama yang mati Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundangundangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku, agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab, pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup Ad.e. Ketentuan Penutup Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. Jika tidak diadakan pengelompokan bab, ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan; b. nama singkat; c. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada; dan d. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a. menjalankan (eksekutif), misalnya, penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin, mengangkat pegawai, dan lain-lain; b. mengatur (legislatif), misalnya, memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan.

13

Tatap Muka : Keenam dan Ketujuh Topik Bahasan : Latihan Penyusunan Sub Pokok Bahasan : Sistimatika dan Teknik Penulisan Setiap peserta latihan menyusun masing-masing jenis peraturan perundang-undangan sesuai dengan sistematikanya. Penilaian : Presensi, Tugas dan Ujian Tugas Kelompok : Menyusun Perencanaan, Naskah Akademik Raperda dan Draft Raperda. Ujian Tulis : Perspektif teoritis dan praktis terkait tugas Peraturan Perundangundangan: UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah UU No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Buku: Attamimi, A. Hamid S, 1990, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam

Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta. -------------------------------- , 1992, Teori Perundang-undangan Indonesia (Suatu Sisi Ilmu Jakarta. ---------------------------------,

Penyelenggaraan Pemerintahan Negara (Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan Dalam Kurun Waktu Pelita I Pelita IV), Disertasi, Pengetahuan Perundang-undangan Indonesia yang Menjelaskan dan Menjernihkan Pemahaman), Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
1993, Hukum Tentang Peraturan Perundang-Undangan dan Peraturan Kebijakan (Hukum Tata Pengaturan), Tanpa Penerbit, Fakultas Hukum

Universitas Indonesia, Jakarta. Manan, Bagir, 1992, Dasar-Dasar Perundang-undangan Indonesia, Penerbit Ind-Hill, Jakarta. ----------------, 1992, Sistem dan Teknik Pembuatan Peraturan Perundang-undangan Tingkat Daerah, Ind-Hill, Jakarta. Seidman, Ann., Seidman, Robert B., and Abeyeskere, Nalin, 2001, Legislative Drafting for Democratic Social Change A Manual for Drafters, Kluwer Law International, London. Soeprapto, Maria Farida Indrati, 2002, Kedudukan dan Materi Muatan Peraturan Pemerintah

Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta Soeprapto, Maria Farida Indrati, 2002, Ilmu Perundang-undangan (Dasar-dasar dan Pembentukannya), Kanisius Yogyakarta.

Pengganti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Keputusan Presiden Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara di Republik Indonesia, Disertasi,

14