Anda di halaman 1dari 33

R.CHANDRA PRADANA, S.

Kep, Ns

Friedman membagi pola komunikasi keluarga menjadi 2 yaitu pola komunikasi fungsional dan pola komunikasi disfungsional.
Curan dalam Friedman (2010) : Bahwa sifat yang utama dari keluarga sehat adalah komunikasi yang jelas dan kemampuan untuk saling mendengarkan. Komunikasi yang baik diperlukan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan saling mencintai antar anggota keluarga.

Komunikasi Fungsional : Pengiriman dan penerima pesan baik isi maupun tingkat instruksi pesan yang langsung dan jelas serta sebagai sasaran antara isi dan tingkat instruksi (Sells,1973). Komunikasi fungsional dipandang sebagai kunci bagi sebuah keluarga yang berhasil dan sehat dan didefinisikan sedemikian terang, transmisi langsung, dan penyambutan terhadap pesan, baik pada tingkat instruksi maupun isi. Dan juga kesesuaian antara tingkat perintah/instruksi dan isi (Satir, 1983).

Komunikasi fungsional dalam lingkungan keluarga menuntut bahwa maksud dan arti dari pengirim yg dikirim lewat saluransaluran yang relatif jelas dan bahwa penerima pesan mempunyai suatu pemahaman terhadap arti dari pesan itu yang mirip dengan pengirim (Sells, 1973).
Komunikasi fungsional dipandang sebagian landasan keberhasilan keluarga yang sehat

(Watzlick & Goldberg, 2000)

Dengan kata lain komunikasi fungsional dan sehat dalam suatu keluarga memerlukan pengirim untuk mengirimkan maksud pesan melalui saluran yang relatif jelas dan penerima pesan mempunyai pemahaman arti yang sama dengan apa yang dimaksud oleh pengirim (Sells).

(Anderson dalam Friedman,2010)

Transmisi tidak jelas atau tidak langsung yang diterima dari salah satu atau beberapa anggota keluarga. Isi dan instruksi yang disampaikan pesan tidak jelas dan adanya ketidaksesuaian antara tingkat isi dan instruksi dari pesan. Salah satu faktor yang utama yang menimbulkan pola komunikasi disfungsional adalah terdapatnya rasa harga diri yang rendah pada anggota dan atau keluarganya

1. 2. 3.
4. 5.

Berkomunikasi secara jelas dan selaras Komunikasi emosional Area komunikasi yang terbuka dan keterbukaan diri Hirarki kekuasaan dan peraturan keluarga Konflik dan resolusi konflik keluarga

1. 2. 3. 4.

Egosentris, Kebutuhan akan persetujuan secara total. Empati Area komunikasi yang tertutup.

Menurut Friedman (1998) : 1. Keterbukaan 2. Kejujuran 3. Adanya toleransi 4. Memahami ketidaksempurnaan 5. Mampu mengakui kebutuhan dan emosi 6. Adanya musyawarah/diskusi dalam keluarga 7. Menerima perbedaan pendapat 8. Menghargai pendapat orang lain 9. Tidak menyalahkan 10. Menyelesaikan masalah dengan tenang

1.
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Harga diri yang rendah Pemusatan pada diri sendiri Kurang empati Tidak ada toleransi Ekspresi perasaan tidak jelas Ketidakmampuan mengungkapkan kebutuhan karena takut ditolak Penerima disfungsional (tidak berfungsi)

1.

Pengirim Fungsional : Satir (1967) menjelaskan bahwa pengiriman yang berkomunikasi secara fungsional dapat menyatakan maksudnya dengan tegas dan jelas, mengklarifikasi dn mengualifikasi apa yang ia katakan,meminta umpan balik dan terbuka terhadap umpan balik.

a.Menyatakan kasus dengan tegas dan jelas Salah satu landasan untuk secara tegas menyatakan maksud seseorang adalah penggunaan komunikasi yang selaras pada tingkat isi dan instruksi (Satir,1975). b. Intensitas dn keterbukaan. Intensitas berkenaan dengan kemampuan pengirim dalam mengkomunikasikan persepsi internal dari perasaan, keinginan,dan kebutuhan secara efektif dengan intensitas yang sama dengan persepsi internal yang dialaminya. Agar terbuka, pengirim fungsional menginformasikan kepada penerima tentang keseriusan pesan dengan mengatakan bagaimana penerima seharusnya merespon pesan tersebut.

c. Mengklarifikasi dan mengualifikasi pesan Karakteristik penting kedua dari komunikasi yang fungsional menurut Satir adalah pernyataan klarifikasi dan kualifikasi. Pernyataan tersebut memungkinkan pengirim untuk lebih spesifik dan memastikan persepsinya terhadap kenyataan dengan persepsi orang lain.
d. Meminta umpan balik

Unsur ketiga dari pengirim fungsional adalah meminta umpan balik, yang memungkinkan ia untuk memverifikasi apakah pesan diterima secara akurat, dan memungkinkan pengirim untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk mengklarifikasi maksud.

e. Terbuka terhadap umpan balik Pengirim yang terbuka terhadap umpan balik akan menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan, bereaksi tanpa defensive, dan mencoba untuk memahami. Agar mengerti pengirim harus mengetahui validitas pandangan penerima. Jadi dengan meminta kritik yang lebih spesifik atau pernyataan memastikan, pengirim menunjukkan penerimaannya dan minatnya terhadap umpan balik.

Menurut Anderson (1972) : Penerima fungsional mencoba untuk memahami pesan secara penuh sebelum mengevaluasi.ini berarti bahwa terdapat analisis motivasi dan metakomunikasi, serta isi. Informasi baru, diperiksa dengan informasi yang sudah ada, dan keputusan untuk bertindak secara seksama dipertimbangkan. Mendengar secara efektif, memberi umpan balik, dan memvalidasi tiga tekhnik komunikasi yang memungkinkan penerima untuk memahami dan merespons pesan pengirim sepenuhnya.

a.Mendengarkan Kemampuan untuk mendengar secara efektif merupakan kualitas terpenting yang dimiliki oleh penerima fungsional. Mendengarkan secara efektif berarti memfokuskan perhatian penuh pada seseorang terhadap apa yang sedang dikomunikasikannya dan menutup semua hal yang akan merusak pesan. Penerima secara penuh memperhatikan pesan lengkap dari pengirim bukan menyalahartikan arti dari suatu pesan. (Gottman, Notarius,

Gonso dan Markman, 1977).

Memberikan umpan balik kepada pengirim yang memberitahu pengirim bagaimana penerima menafsirkan pesan. Pernyataan ini mendorong pengirim untuk menggali lebih lengkap. Umpan balik juga dapat melalui suatu proses keterkaitan, yaitu penerima membuat suatu hubungan antara pengalaman pribadi terdahulu (Gottman et.al,

1877)

c. Memberi validasi Dalam menggunakan validasi penerima menyampaikan pemahamannya terhadap pemikiran dan perasaan pengirim. Validasi tidak berarti penerima setuju dengan pesan yang dikomunikasikan pengirim, tetapi menunjukan penerimaan atas pesan tersebut berharga.

1. Pengirim Disfungsional Komunikasi pengirim disfungsional sering tidak efektif pada satu atau lebih karakteristik dasar dari pengirim fungsional. Dalam menyatakan kasus, mengklarifikasi dan mengkualifikasi, dalam menguraikan dan keterbukaan terhadap umpan balik. Penerima sering kali ditinggalkan dalam kebingungan dan harus menebak apa yang menjadi pemikiran atau perasaan pengirim pesan. Komunikasi yang tidak sehat terdiri dari :

a. Membuat asumsi

Ketika asumsi dibuat, pengim mengandalkan apa yang penerima rasakan atau pikiran tentang suatu peristiwa atau seseorang tanpa memvalidasi persepsinya. Pengirim disfungsional biasanya tidak menyadari asumsi yang mereka buat, ia jarang mengklarifikasi isi atau maksud pesaan sehingga dapat terjadi distorsi pesan. Apabila hal ini terjadi, dapat menimbulkan kemarahan pada penerima yang diberi pesan, yang pendapat serta perasaan yant tidak dianggap.

b. Mengekspresika perasaan secara tidak jelas

Tipe lain dari komunikasi disfungsional oleh pengirim adalah pengungkapan perasaan tidak jelas, karena takut ditolak, ekspresi perasaan pengirim dilakukan dengan sikap terselubung dan sama sekali tertutup. Komunikasi tidak jelas adalah sangat beralasan . Apabila kata-kata pengirim tidak ada hubunganya dengan apa yang dirasakan. Pesan dinyatakan dengan cara yang tidak emosional. Berdiam diri merupakan kasus lain tentang pengungkapan perasaan tidak jelas. ( Satir, 1991)

Respon yang menhakimi adalah komunikasi disfungsional yang ditandai dengan kecenderungan untuk konstan untuk menbgevaluasi pesan yang menggunakan system nilai pengirim. Pernyataan yang menghakimi selalu mengandung moral tambahan. Pesan pernyataan tersebut jelas bagi penerima bahwa pengirim pesan mengevaluasi nilai dari pesan orang lain sebagai benar, atau salah, baik atau buruk, normal atau tidak normal.

Pengirim disfungsional tidak hanya tidak mampu untuk mengekspresikan kebutuhangnya. Namun juga karena takut ditolak menjadi tidak mampu mendefenisikan prilaku yang ia harapkan dari penerima untuk memenuhi kebutahan mereka.sering kali pengirim disfungsiopnal tidak sadar merasa tidak berharga, tidak berhak untuk mengungkapkan kebutuhan atau berharap kebutuhan pribadinya akan dipenuhi.

Penampilan komunikasi yang tidak sesuai merupakan jenis komunikasi yang disfungsional dan terjadi apabila dua pesan yang bertentangan atau lebih secara serentak dikiri (Goldenberg, 2000). Dalam kasus ketidaksesuaian pesan verbal dan nonverbal, dua atau lebih pesan literal dikirim secara secara serentak bertentangan satu sama lain. Pada ketidaksesuaian verbal nonverbal pengirim mengkomunikasikan suatu pesan secara verbal, namun melakukan metakomunikasi nonverbalyang bertentangan dengan pesan verbal. Ini biasanya diketahuinsebagai pesan campuran, misalnya saya tidak marah pada anda diucapakan dengan keras, nada suara tinggi dengan tangan menggempal.

Jika penerima disfungsional, terjadi komunikasi yang terputus karena pesan tidak diterima sebagaimana dimaksud, karena kegagalan penerima untuk mendengarkan, atau menggunakan diskualifikasi. Merespon secara ofensif, gagal menggali pesan pengirim, gagal memvalidasipesan, merupakan karakteristik disfungsional lainnya.

Dalam kasus gagal untuk mendengarkan, suatu pesan dikirim, namun penerima tidak memperhatikan atau mendengarkan pesan tersebut. Terdapat beberapa alasan terjadinya kegagalan untuk mendengarkan, berkisar dari tidak ingin memerhatikan hingga tidak memiliki kemampuan untuk mendengarkan. Hal ini biasanya terjadi karena distraksi, seperti bising, waktu yang tidak tepat, kecemasan tinggi, atau hanya karena gangguan pendengaran.

Penerima disfungsional dapat menerapkan pengelakkan untuk mendiskualifikasi suatu pesan dengan menghindari isu penting. Diskualifikasi adalah respon tidak langsung yang memungkinkan penerima untuk tidak menyetujui pesan tanpa memungkinkan penerima untuk tidak menyetujui pesan tanpa benar-benar tidak menyetujuinya

Sikap ofensif komunikasi menunjukkan bahwa penerima pesan bereaksi secara negatif, seperti sedang terancam. Penerima tampak bereaksi secara defensif terhadap pesan yang mengasumsikan sikap oposisi dan mengambil posisi menyerang. Pernyataan dan permintaan dibuat dengan konsisten dengan sikap negatif atau dengan harapan yang negatif

Untuk mengklarifikasi maksud atau arti dari suatu pesan, penerima fungsional mencari penjelasan lebih lanjut. Sebaliknya, penerima disfungsional menggunkan respon tanpa menggali, seperti membuata asumsi , memberikan saran yang prematur, atau memutuskan komunikasi.

Validasi berkenaan dengan penyampaian penerimaan penerima. Oleh karena itu, kurangnya validasi menyiratkan bahwa penerima dapat merespon secara netral atau mendistorsi dan menyalahtafsirkan pesan. Mengasumsikan bukan mengklarifikasi pemikiran pengirim adalah suatu contoh kurangnya validasi.

Dua jenis urutan intearksi komunikasi yang tidak sehat, melibatkan baik pengirim maupun penerima, juga secara luas didiskusikan dalam literatur komunikasi. Komunikasi yang tidak sehat merupakan kominikasi yang mencerminkan pembicaraan parallel yang menunjukan ketidakmampuan untuk memfokuskan pada suatu isu. Dalam pembicraan paralel, setiap individu dalam interaksi secara konstan menyatakan kembali isunya tanpa betul-beetul mendengarkan pandangan orang lain atau mengenali kebutuhan orang lain. Orang yang berinteraksi disfungsional, mungkin tidak mampu untuk memfokuskan pada satu isu. Tiap individu melantur dari satu isu ke isu lain bukannya menyelesaikan satu masalah atau meminta suatu pengungkapan.

Istilah gangguan kesehatan adalah berkenaan dengan setiap perubahan yang mempengaruhi proses kehidupan klien (psikologis, fisiologis, sosial budaya, perkembangan dan spiritual) (Carpenito, 2000). Pola temuan penelitian tentang adaptasi keluarga terhadap penyakit kronik dan mengancam kehidupan secara konsisten menunjukkan bahwa factor sentral dalam fungsi keluarga yang sehat adalah terdapatnya keterbukaan, kejujuran, dan komunikasi yang jelas dalam mengatasi pengalaman kesehatan yang menimbulkan stress serta isu terkait lainnya (Khan, 1990, Spinetta &

Deasy Spineta, 1981).

Jika keluarga tidak membahas isu penting yang dihadapi oleh masing masing mereka, akan menyebabkan terjadinya jarak emosi dalam hubungan keluarga, dan mengkatnya stress dalam keluarga (Friedman, 1985; Walsh, 1998). Stres yang meningkat mempengaruhi hubungan keluarga dan kesehatan keluarga serta anggota keluarganya (Hoffer, 1989).

Masalah komunikasi keluarga merupakan diagnosis keperawatn keluarga yang sangat bermakna, (NANDA) belum mengidentifikasi diagnosis komunikasi yang berorientasi keluarga. NANDA menggunakan perilaku komunikasi sebagai bagian dari pendefinisian karakteristik pada beberapa diagnosis mereka;seperti proses berduka disfungsional. Salah satu diagnosis keperawatn yang terdapat dalam daftar NANDA adalah hambatan komunikasi verbal, yang berfokus pada klien individu yang tidak mampu untuk berkomunikasi secara verbal. menegaskan bahwa hambatan komunikasi verbal tidak mempertimbangkan kebudayaan klien sehingga secara kebudayaan tidak relevan dengan diagnosis keperawatan. (Giger & Davidhizar (1995)

TERIMA

KASIH