Anda di halaman 1dari 110

1 BABIV HASILDANPEMBAHASAN Dalam bab ini berturutturut disajikan: 1. Gambaran umum pesantren, 2.

2. Gambaran khusus pesantren: Unsurunsur sistem pendidikan pesantren, dan 3. Dinamika sistem pendidikan pesantren: prospekbentukpendidikanpesantrendimasadepan. 1.GambaranUmumPesantren Dunia pesantren ternyata tidak seragam. Masingmasing pesantren memiliki keunikankeunikan sendiri sehingga sulit dibuat satu perumusan yang dapat menampung semua pesantren. Namum, berikut ini dicoba disajikan gambaran umum mengenai pesantren sebagai hasil temuan lapangan yang sejauh mungkin dapat menampung semua pesantren. Makin abstrak suatu rumusan makin banyak pesantren yang dapat ditampung, sebaliknya makin konkret suatu rumusan makin sedikit pesantren yangdapatditampungnya. Pada umumnya gambaran mengenai pesantren sebagaimana diuraikan dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA pada halaman di muka, telah banyak berubah sesuai dengan perubahan zamannya, meskipun beberapa ciricirinya masih dapat dilihat sampai sekarang. Dari hasil temuan lapangan dapat dilaporkan gambaranumumpesantrensebagaiberikut: 1.1.ArtiPesantren Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedomanperilakuseharihari. Pengertian "tradisional" dalam batasan ini menunjuk bahwa lembaga ini hidup sejak ratusan tahun (300400 tahun) yang lalu dan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagianbesarumatIslamIndonesia,yangmerupakangolonganmayoritasbangsaIndonesia,dan.telah mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perjalanan hidup umat; bukan "tradisional" dalamartitetaptanpamengalamipenyesuaian. 1.2.TujuanPesantren Se1ama ini belum pernah ada rumusan tertulis mengenai tujuan pendidikan pesantren. Rumusan berikut merupakan rangkuman hasil wawancara dengan para pengasuh pesantren yang menjadi objek penelitian.

2 Tujuan pendidikan pesantren adalah "Menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat tetapi rasul yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad (mengikuti sunah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengahtengah masyarakat ('izzul Islam wal Muslimin), dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia. Idealnya pengembangan kepribadianyanginginditujuialahkepribadianmuhsin 1 ,bukansekadarmuslim. Pimpinan pesantren memandang bahwa kunci sukses dalam hidup bersama adalah moral agama, yang dalam hal ini adalah perilaku keagamaan yang memandang semua kegiatan kehidupan seharihari sebagai ibadah kepada Tuhan. Mengamati dari dekat perilaku santri, jelas bahwa pendidikan pesantren dipusatkan pada pendalaman dan penghayatan agama, lengkap dengan pengamalannya dalam perilaku keseharian.Halhalyangberhubungandenganorientasikehidupanyangbercorakkeduniawian(sekular) terasa agak tersisih. Santri cenderung berperilaku sakral dan lebih menekankan perilaku yang idealistis normatifmenurutramburambuhukumagama(fikih)daripadaperilakuyangrealistismaterialistisdalam relevansinya dengan pengalaman hidup keduniawian. Misalnya: "Bencinya" santri Madura terhadap karapan sapi, karena dalam karapan sapi itu terdapat segisegi penyiksaan binatang, perjudian dan perilaku menyimpang lainnya. Ketika proses aduan berlangsung, sapi dicambuk dengan cambuk yang kadangkadang diberi pakupaku kecil yang tajam agar berlari kencang. Pada setiap karapan selalu disertai perjudian. Sebelum diadu, sapi dipelihara dan dimanjakan melebihi anakanaknya. Ia dimandikan, diberi minum bir dicampuri dengan telur, dan sebagainya agar menjadi kuat. Pemilik sapi tidak segansegan mengeluarkan biaya tinggi untuk memelihara sapi karapan; sedang kepentingan rumah tangganya, dan pendidikan anakanaknya ditelantarkan. Sebaliknya mereka (santri) tidak melihat kerapan sapi sebagai salah satu seni budaya bangsa yang dapat ditampilkan di forum internasional melaluipromosipengembanganpariwisatanasional,yangdisampingmengenalkanbudayabangsa,juga mendatangkandevisanegara. Demikian pula halnya dengan "bencinya santrisantri Gontor terhadap kesenian reog, yang dinilai adanya unsurundur perjudian, homoseksusal, dan sebagainya yang diharamkan agama. Padahal kesenian reog juga merupakan satu seni budaya bangsa yang dapat ditampilkan dalam forumforum
Dalam numenklatur Islam dikenal istilahistilah mukmin, muslim dan muhsin, yang berbeda secara gradual. Mukmin: sekedar beriman kepada Allah dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, tetapi belum tentu mengamalkannya. Muslim: beriman, mengamalkan secara konsekuen dan selalu merasa dekat dengan Allah dan RasulNya. Muhsin: memiliki perilaku yang lebih mendalam dari Muslim. Pengabdiannya kepada Tuhan dilakukannyasematamatakarenarasacintakepadaNya,tanpaadarasakepentingandantakut,danrasacintaitu sudah mendarah daging merupakan bagian dari biological mechanismnya. Istilahistilah tersebut sebanding denganistilahistilahIman(mukmin),Islam(muslim),danikhsan(muhsin).
1

3 berskala internasional dalam rangka mengenalkan budaya bangsa dan menambah devisa. Padahal pendidikan pesantren juga bertujuan mengembangkan kepribadian Indonesia. Hal itu tampak misalnya padakegiatankegiatankepramukaan,senampagiIndonesia,ikutsertadalamperingatanhariharibesar nasional, seperti apel bendera di kecamatan, kabupaten, dan sebagainya; juga adanya namanama asrama: "Indonesia satu, dua, tiga, dan empat", dan sebagainya, seperti yang terdapat pada PP Gontor. Selanjutnyalihatbutirbutirtujuanpesantrenpadalampiran3. Namun,Islamtidakmenolakseni.Keduahaltersebut(karapansapidanreog)dibenciolehwarga pesantrenkarenaadanyaekseseksesyangmenympangdariakidahsyariahagamaIslam. 1.3.MasyarakatPesantren Pesantrenmerupakansuatukomunitastersendiri,dimanakiai,ustaz,santridanpenguruspesantren hidup bersama dalam satu kampus, berlandaskan nilainilai agama Islam lengkap dengan normanorma dan kebiasaankebiasaannya sendiri, yang secara eksklusif berbeda dengan masyarakat umum yang mengitarinya. Ia merupakan suatu keluarga besar di bawah asuhan seorang kiai atau ulama, dibantu olehbeberapakiaidanustaz.Dalamduniapesantren,santrimempunyai dua orangtua,yakniibubapak yang me!ahirkan dan kiai yang mengasuhnya. Ia juga mempunyai dua macam saudara, yaitu saudara sesusuandansaudaraseperguruan(sesamasantri). Semua ramburambu yang mengatur kegiatan dan batasbatas perbuatan: halalharam, wajib sunah, baikburuk, dan sebagainya dipulangkan kepada hukum agama, dan semua kegiatan dipandang dan dilaksanakan sebagai bagian dan ibadah keagamaan, dengan kata lain semua kegiatan kehidupan selalu dipandang dalam struktur relevansinya dengan hukum agama. Misalnya: (a) Dalam hal waktu. Jika kita mengadakan perjanjian kerja dengan mereka, pada umumnya digunakan perjanjian waktu menurut pembagian waktu lima kali salat wajib sehari semalam, seperti: sesudah isya, sesudah subuh, sebelum zuhur, sesudah asar, sesudah magrib, dan sebagainya. Atau jika kegiatan tersebut menyangkut jangka waktu bulanan atau jangka panjang lainnya, biasanya digunakan perjanjian menurut bulanbulan peribadatan tertentu seperti: sesudah Ramadan, dalam bulan Haji dan sebagainya. Pendek kata semua kegiatan diintegrasikan dengan ibadah keagamaan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika (misalnya) menjelang maghrib masih ada santri yang mencuci pakaian, memasak makanan di malam hari, mengadakan perjanjian kerja pada pagipagi buta sesudah subuh, dan sebagainya. Bahkan dalam bulan Puasa kontak sering dilakukan pada jam 34 pagi, sekalian membangunkan waktu makan sahur. Halhal yang demikian itu kiranya kurang wajar terjadi di masyarakat umum yang menggunakan patokan waktu 24jamkerjadanpedomanpadanilaidannormanormayangbukanagamaIslam.(b)Dalamhalkebersihan atau kesehatan. Banyak halhal yang dianggap bersih dan suci oleh pesantren, karena dibolehkan oleh hukum agama, tetapi tidak bersih atau tidak sehat menurut konsepsi ilmu kesehatan. Misalnya tentang "air". Ada air yang bersih dan sehat menurut konsep ilmu kesehatan, tetapi tidak sah untuk mengambil wudu karena dianggap tidak bersih atau najis. Sebaliknya ada air yang sah untuk wudu, tetapi tidak sehat dan tidak bersih menurut ilmu kesehatan. "Debu" yang menurut konsep ilmu kesehatan

4 mengandung banyak bakteri penyakit, tetapi sah hukumnya untuk dipakai wudu, sebagai pengganti air jikatidakadaairyangdapatditemuiuntukwudu,demikiandanseterusnya 1.4.UnsurunsurPesantren Unsurunsur pesantren adalah: (1) Pelaku: kiai, ustaz, santri, dan pengurus. (2) Sarana perangkat keras: Mesjid, rumah kiai, rumah ustaz, pondok, gedung sekolah, tanah untuk berbagai keperluan kependidikan, gedunggedung lain untuk keperluankeperluan seperti perpustakaan, aula, kantor pengurus pesantren, kantor organisasi santri, keamanan, koperasi, perbengkelan, jahitmenjahit, dan keterampilanketerampilan lainnya, dan (3) Sarana perangkat lunak: Tujuan, kurikulum, sumber belajar yaitu kitab, buku buku dan sumber belajar lainnya, cara belajarmengajar (Bandongan, sorogan, halaqah,danmenghafal)danevaluasibelajarmengajar. Di antara unsurunsur tersebut, kiai adalah tokoh kunci yang menentukan corak kehidupan pesantren. Semua warga pesantren tunduk kepada kiai. Mereka berusaha keras melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya, serta menjaga agar jangan sampai melakukan halhal yang sekiranya tidak direstui kiai, sebaliknya mereka selalu berusaha melakukanhalhalyangsekiranyadirestuikiai.(Lihathalaman25). 1.5.NilaiPesantren Nilainilaiyang mendasari pesantrendapat digolongkan menjadi dua kelompok: (1) Nilainilai agama yang memiliki kebenaran mutlak, yang dalam hal ini bercorak fikihsufistik, dan berorientasi kepada kehidupan ukhrawi, dan (2) Nilainilai agama yang memiliki kebenaran relatif, bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan sehari hari menurut hukum agama. Kedua kelompok nilai ini mempunyai hubungan vertikal atau hierarchis. Kelompok nilai pertama superior di alas kelompok nilai kedua, dan kelompok nilai kedua tidak boleh bertentangan dengan kelompok nilai pertama. (Lihat halaman 16 dan 26). Dalam kaitan ini, kiai menjaga nilainilai agama kelompok pertama, sedang ustaz dan santri menjaganilainilaiagamakelompokkedua.inilahsebabnyamengapakiaimempunyaikekuasaan mutlak di pesantrennya. Ketaatan, ketundukan dan keyakinan santri terhadap kiainya sangat besar. Mereka yakin bahwa kiainya selalu mengajarkan halhal yang benar, dan mereka tidak percaya kalau kiai dapat berbuat salah atau keliru. (Lihat Lampiran 5, Butir 1317). Tampaknya pandangan santri yang demikian itu dipengaruhi oleh ajaran yang menyatakan bahwa kiai atau ulama adalah pewaris nabi. Mereka (santri) menyamakan pengertian kiai dengan pengertian ulama sebagaimana bunyi ajaran tersebut. Sehingga ajaranajaran yang diberikan oleh kiai atau ulama diterima sebagai memiliki kebenaran absolut. Hal ini juga merupakan akibat dipahaminya pengertiantarekatyanglepasdariinduknyasepertidikatakandimuka(halaman31).

5 1.6.PendekatanPesantren Sistem pendidikan pesantren menggunakan pendekatan holistik, artinya: para pengasuh pesantren memandang bahwa kegiatan belajarmengajar merupakan kesatupaduan atau lebur dalam totalitas kegiatan hidup seharihari, Bagi warga pesantren, belajar di pesantren tidak mengenal perhitungan waktu, kapan harus mulai dan harus selesai, dan target apa yang harus dicapai. Bagi dunia pesantren, hanya ilmu fardu ain yang dipandang sakral, sedang ilmu fardu kifayahdipandangtidaksakral. Dalam pandangan mereka,semua kejadian yang terjadi dalam kehidupan berawal dari Tuhan, berproses menurut hukumNya, dan berakhir atau kembali kepadaNya. Setiap peristiwa yang terjadi merupakan bagian dari keseluruhan dan selalu berhubungan satu sama lain dan akhirnya pasti bertemu pada kebenaran Tuhan. (Lihat Lampiran 5, Butir 18,19 dan 20). Kiai yakin bahwa apa saja yang dipelajari oleh santri adalah baik dan pada suatu saat akan mendatangkan manfaat bagi yang bersangkutan, jika sudahtibawaktunya. Misalnya,kalauseorangsantribelajarketerampilan:menjaditukaangkayu,bengkelmotor,jahit menjahit, membaca kitab, belajar pencak silat, dan sebagainya. Mungkin pada saat itu dan untuk beberapa saat kemudian keterampilanketerampilan tersebut tampak tidak bermanfaat. Tetapi dalam totalitas kehidupan, halhal tersebut pada suatu saat akan memberikan kegunaannya, setelah bertemu dengankejadiankejadianlain.Menurutkiai,hikmah ituadadimanamana,danhalitumerupakanmilik orang Islam yang harus dicari. Oleh karena itu, bagi orang yang benarbenar beriman, bertakwa dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan mampu menerima setiap kejadian yang amat tragis dan menyakitkan sekalipun, karena hal itu diyakini sebagai sesuatu yang belum final dan akan berakhir pada kebenaran Tuhan. Pada waktu menerima peristiwa itu ia belum mengerti, tetapi telah yakin bahwa dalam setiap peristiwa pasti ada hikmah Tuhan yang tersembunyi di dalamnya. Demikian pula halnya jika ia menerima sesuatu yang amat menyenangkan; ia tidak akan kehilangan arah atau lupa diri, sebab itujugaakankembalikepadaNya(Lihathalaman1314). Seiring dengan pendekatan yang holistich tersebut, maka tidak pernah dijumpai perumusan tujuan pendidikan pesantren yang jelas dan standar yang berlaku umum bagi semua pesantren; juga tidak ditemukan kurikulum, caracara penilaian yang jelas dan kalkulatif, serta syaratsyarat penerimaan santridantenagakependidikansecarajelaspula.Dalamcarapenerimaan:santribolehmasukpesantren pada setiap saat, tinggal di pesantren selama ia mau, dan meninggalkan pesantren sewaktuwaktu. Dalam penerimaan tenaga kependidikan, siapa saja boleh bekerja dan membantu asal ikhlas. Kecuali bagiprogrampendidikannormal,yaituuntukmasukmadrasahdansekolahumum,sertaPPGontoryang seluruhkegiatannyamenyelenggarakanpendidikanformal.

6 1.7.FungsiPesantren Ternyatapesantrentidakhanyaberfungsisebagailembagapendidikan,tetapijugaberfungsisebagai lembagasosialdanpenyiaranagama. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi), dan pendidikan non formal yang secara khusus mengajarkan agama yang sangat kuat dipengaruhi oleh pikiranpikiran ulama fikih, hadis, tafsir, tauhid dan tasawuf yang hidup antara abad ke713 Masehi. Kitabkitab yang dipelajarinya sebagaimana terlampir dalam Lampiran 2, meliputi: Tauhid, tafsir, hadis, fikih, usul fikih, tasawuf, bahasa Arab (Nahu, saraf, balagah, dantajwid),mantiq,danakhlak. Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak dari segala lapisan masyarakat muslim, tanpa membedabedakan tingkat sosialekonomi orangtuanya. Biaya hidup di pesantren relative murah daripada belajar di luar pesantren. Mereka dapat hidup dengan biaya yang sangat minim, sekitar Rp 1O.OOORp 15.000 sebulan di. luar beras, dengan jalan patungan atau masak bersama. Bahk.an beberapa di antaranya gratis, terutama bagi anakanak yatim piatu. dan keluarga miskin lainnya. Pada beberapa pesantren tertentu santri membangun pondoknya sendiri di atas tanah yang telah disediakan oleh pesantren tanpa dipungut biaya. Beberapa di antara calon santri sengaja datang ke pesantren untuk. mengabdikan diri kepada kiai dan pesantren. Beberapa orangtua sengaja mengirimkan anaknya ke pesantren dan menyerahkan kepada kiai untuk diasuh. Mereka percaya penuh bahwa kiai tidak akan menyesatkannya, bahkan sebaliknya dengan berkah kiai anak tersebut. akan menjadi orang baik. Juga banyak anakanak yang nakal atau memiliki tandatanda tingkah laku menyimpang, dikirimkan ke pesantrenolehorangtuanyadenganharapansembuhdarikenakalannya. Sementara itu, set.iap hari pesantren menerima tamu yang datang dari masyarakat umum, baik dari masyarakat lingkar pesantren maupun dari masyrakat Jauh meliputi radius kabupaten, propinsi, bahkandaripropinsipropinsilain Kedatangan mereka adalah untuk bersilaturahmi, bekronsultasi, minta nasihat, nasihat, "doa doa",berobat,danminta"ijazah",yaitusemacam'Jimat:'untukmenangkalgangguanhidup. Meraka dating dengan membawa berbagai macam masalah kehidupan, seperti: menjodohkan anak, kelahiran, sekolah, mencari kerja, mengurus rumah tangg, kematian, warisan, karier jabatan, maupun masalahmasalah yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat dan pelayanan kepentingan umum. Sebagi lembaga penyiaran agama, mesjid pesantren juga berfungsi sebagai mesjid umum, yaitu sebagai tempat be1ajar agama dan ibadah bagi masyarakat umum. Mesjid pesantren sering dipakai untuk menyelenggarakan majelis taklim (pengajian), diskusidiskusi keagamaan, dan sebagainya,olehmasyarakatumum. Sementara itu, kiai, ustaz, dan santrisantri senior pada umumnya memiliki daerah dakwah masingmasing. Luas tidaknya daerah dakwah, tergantung pada besar kecilnya popularitas masing masing pelaku dan pesantren yang bersangkutan. Masingmasing kiai memiliki daerah dak.wah sendiri

7 sendiri, ada yang berskala nasional, ada yang berskala propinsi, kabupaten, kecamatan, dan bahkan ada yang hanya berskala meliputi beberapa desa tertentu saja. Demikian pula halnya dengan para ustaz dan santrisantri senior lainnya, yang pada umumnya memiliki derah dakwah lebih sempit daripada daerah dakwahkiai. Sehubungan dengan ketiga fungsi pesantren tersebut, maka pesantren memiliki tingkat integritas yang tinggi dengan masyarakat sekitarnya, dan menjadi rujukan moral bagi kehidupan masyarakat umum. Masyarakat umum memandang pesantren sebagai komunitas khusus yang ideal terutama dalam bidang kehidupan moral keagamaan. Masingmasing pesantrren tampak memiliki semacam daerah pengaruh sendiri, yaitu komunitaskomunitas dalam masyarakat, sesuai dengan aliran yang dibawakannya. Misalnya ada daerahdaerah pengaruh pesantren Tebu Ireng yang terdapat pada beberapa komunitas yang ada di dalam masyarakat di Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, dan sebagainya. Demikian pula dengan pesantrenpesantren lain. Pembagian daerah pengaruh ini juga erat kaitannya dengan pengelompokan umat Islam ke dalam organisasi sosial keagamaan seperti NU (NahdatulUlama),Muhammadiyah,dansebagainya.Adapesantrenpesantrenyangdiasuholehkiaikiai dari NU, demikian pula halnya ada pesantrenpesantren yang diasuh kiaikiai dari aliran Muhammadiyah; mereka memiliki daerahdaerah atau komunitaskomunitas pengaruh sendirisendiri. Meskipun di antara daerah pengaruh yang satu dan yang lain tidak dapat ditarik garis batas yang jelas, tetapi secara sosiologis tampak jelas batasbatas mereka. Pada umumnya pesantren menerima bantuan darikomunitaspendukungnyaberupatanah,uang,ataubarangbarangnaturallainnya,bahkanadajuga yangberupatenaga.Sumbangansumbanganitudiberikansebagai:wakaf,zakat,infaqsedekah,amaljariah, dansebagainya Ketigafungsitersebutmerupakansatukesatuanyangbulatdanutuh. Meskipun demikian tampak bahwa fungsinya sebagai lembaga pendidikan menjadi semacam ujung tombaknyasedangfungsinyasebagailembagasosialdanpenyiaranagamamenjadisayapsayapsebelah kiridankanannya. Erat kaitannya dengan ketiga fungsi tersebut, pesantren tampak lebih menunjukkan orientasi kehidupannya ke masyarakat pedesaan daripada ke masyarakal perkotaan. Hal itu terlihat pada sikap dan perilaku warga pesantren yang menghargai tinggi kebersamaan dan keharmonisan. Manusia diperlakukan dalam kebulatan hubungan dengan kodrat alam semesta, lingkungan masyarakatnya, dan dengandirinyasendirisebagaimakhlukpencarikebenaranilahiah. 1.8.MetodikDidaktikPengajaranPesantren Metodikdidaktikpengajarannyadiberikandalambentuk:sorogan,bandongan,halaqah,danhafalan. sorogan,artinyabelajarsecaraindividualdimanaseorangsantriberhadapandenganseorangguru, terjadi interaksi saling mengenal di antara keduanya. Bandongan artinya belajar secara kelompok yang

8 diikuti oleh seluruh santri. Biasanya kiai menggunakan bahasa daerah setempat dan langsung menerjemahkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajarinya. Halaqah, artinya diskusi untuk memahami isi kitab, bukan untuk mempertanyakan kemungkinan benar salahnya apaapa yang diajarkan oleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oleh kitab. Santri yakin bahwa kiai tidak akan mengajarkan halhal yang salah, dan mereka juga yakin bahwa isi kitab yang dipelajari adalahbenar.(LihatLampiran5,Butir13,14,16,dan17). Namun, untuk menumbuhkan kemampuan berpikir rasional, sejak permulaan abad ke20 telah disadari perlunya pelajaran umum diberikan di pesantren, dan sejak tahun 1970an telah dikenalkan berbagai kursus keterampilan ke dalam pesantren. Sebagai lembaga pendidikan non formal dengan menggunakan pendekatan holistik seperti disebut di muka, sebenarnya kelerampilanketerampilan seperti:bertani,beternak,danpekerjaanpekerjaantanganlainnyatelahakrabdengankehidupansantri seharihari. Di samping itu dengan dikenalkannya kursus keterampilan sejak tahun 1970an tersebut, dimaksudkan untuk mengembangkan wawasan atau orientasi santri dari pandangan hidup yang terlaluberatpadaukhrowi.agarmenjadiseimbangdenganorientasikehidupanduniawi.Seiring dengan ini, sejak dua dasawarsa terakhir ini telah banyak bukubuku agama Islam yang berisi pembaruan pemikiran dalam Islam yang ditulis dalam hahasa Indonesia masuk ke dalam pesantren dan dipelajari oleh santri dan kiaikiai muda dalam bentukbentuk kegiatan belajar kelompok (Iihat Lampiran 9). Hal ini semua membawa dampak yang luas yang menggetarkan seluruhjaringankehidupanpesantren,sehinggalebihterbukadengansistemlaindiluardirinya 1.9.PrinsipprinsipSistemPendidikanPesantren Sesuai dengan tujuan pendidikan dan pendekatan holistik yang digunakan, serta fungsinya yang komprehensif sebagai lembaga pendidikan, sosial dan penyiaran agama seperti diuraikan dimuka,prinsipprinsipsistempendidikanpesantrenadalah: a. Theocentric Sistem pendidikan pesantren mendasarkan filsafat pendidikannya pada filsafat theocentric, yaitu pandangan yang menyatakan bahwa semua kejadian berasal, berproses, dan kembali pada kebenaran Tuhan. (Lihat halaman 16). Semua aktivitas pendidikan dipandang sebagai ibadah kepada Tuhan. Semua aktivitas pendidikan merupakan bagian integral dari totalitas kehidupan sebagaimana disebutkan di muka, sehingga belajar di pesantren tidak dipandang sebagai alat tetapi dipandang sebagai tujuan. Oleh karena itu kegiatan proses belajarmengajar di pesantren tidak memperhitungkan waktu. Dalam praktiknya, filsafat theocentric tersebut cenderung mengutamakan sikap dan perilaku yang sangat kuat berorientasi kepada kehidupan ukhrawi dan berperilaku sakral dalam kehidupan seharihari. Semua perbuatan dilaksanakan dalam struktur relevansinya dengan hukumagamadandemikepentinganhidupukhrawi.

9 b. Sukareladanmengabdi Seperti disebutkan di muka, para pengasuh pesantren memandang semua kegiatan pendidikan sebagai ibadah kepada Tuhan. Sehubungan dengan ini maka penyelenggaraan pesantren dilaksanakan secara sukarela dan mengabdi kepada sesama dalam rangka mengabdi kepada Tuhan. Santri merasa wajib menghormati kiai dan ustaznya serta saling menghargai dengan sesamanya, sebagai bagian dari perintah agama. Santri yakin bahwa dirinya tidak akan menjadi orang berilmu tanpa guru dan bantuan sesamanya. (lihat Lampiran5Butir13,14,15,16,dan17). c. Kearifan Pesantren menekankan pentingnya kearifan dalam menyelenggarakan pendidikan pesantren dan dalam tingkah laku seharihari. Kearifan yang dimaksudkan di sini adalah bersikap dan berperilaku sabar, rendah hati, patuh pada ketentuan hukum agama, mampu mencapaitujuantanpamerugikanoranglain,danmendatangkanmanfaatbagikepentingan bersama. d. Kesederhanaan Pesantren menekankan pentingnya penampilan sederhana sebagai salah satu nilai luhur pesantren dan menjadi pedoman perilaku seharihari bagi seluruh warga pesantren. Kesederhanaan yang dimaksudkan di sini tidak sama dengan kemiskinan, tetapi sebaliknya identik dengan kemampuan bersikap dan berpikir wajar, proporsional dan tidak tinggi hati. Kesederhanaan bukan monopoli orang miskin, bodoh, dan "kecil", tetapi juga dapat dimiliki oleh orang kaya, pandai, dan "besar". Sebaliknya kesombongan dan ketidaksederhanaan,juga bukan monopoli orang kaya, pandai, dan besar. Dalam kehidupan bersama ada orang kaya, pandai, dan besar tetapi rendah hati, sederhana tutur katanya, dan wajar dalam penampilan. Sebaliknya juga terdapat orang miskin, bodoh dan kecil tetapi sombong, tinggi hati dan berlebihlebihan. Jadi sederhana bukan dalam arti berlebihlebihanatauberkurangkurangan,tetapidalamartiwajar. e. Kolektivitas Pesantren menekankan pentingnya kolektivitas atau kebersamaan lebih tinggi daripada individualisme. Dalam dunia pesantren berlaku pendapat bahwa "dalam hal hak orang mendahulukan kepentingan orang lain, tetapi dalarn hal kewajiban orang harus mendahulukan kewajiban. diri sendiri sebelum orang lain". Sedang dalam hal memilih atau memutuskan sesuatu "orang harus memelihara halhal baik yang telah ada, dan mengembangkan halhal baru yang baik". Kedua nilai tersebut masih tetap berlaku. Sementara itu, kondisi fisik pesantren yang sederhana seperti kamar tidur yang sempit kirakira berukuran 2 x 2 m ditempati oleh 2 atau 3 santri. Pada umumnya kamar hanya untuk menyimpan barangbarang, sedang mereka banyak tidur di mesjid atau di tempat lain pada bangunan yang ada. Adanya dapur umum tempat santri memasak, ruang makan umum, tempat mandi umum, dan sebagainya, mendorong mereka untuk saling rnenolong untuk mengatasi berbagai kebutuhan bersama, terutama untuk rnengatasi kebutuhan belanja jika mengalami keterlambatan kiriman bekal dari rumah. Pada dasarnya apa yang dilukiskan oleh Djamil Suherman seperti dikutip

10 dalam BAB II TINJAUAN PUS TAKA halaman 35, masih tetap berlaku. (Lihat pula Lampiran 5; Butir21,22,dan23). f. Mengaturkegiatanbersama Sepertidisebutkandimuka,pelaksanaankelompoknilaikedua,yaitunilainilaiyangbersifat relatif, dilakukan oleh santri dengan bimbingan ustaz dan kiai. Para santri mengatur hampir semua kegiatan proses belajarmengajar terutama berkenaan dengan kegiatankegiatan kokurikuler, dari sejak pembentukan organisasi santri, penyusunan programprogramnya, sampai pelaksanaan dan pengembangannya. Mereka juga mengatur kegiatankegiatan perpustakaan, keamanan, pelaksanaan peribadatan, koperasi, olah raga, kursuskursus keterampilan, penataranpenataran, diskusi atau seminar dan sebagainya. Sepanjang kegiatan mereka tidak menyimpang dari akidah syariah agama, dan tata tertib pesantren, mereka tetap bebasberpikirdanbertindak.

g. KebebasanTerpimpin Seiring dengan prinsip di atas, maka pesantren menggunakan prinsip kebebasan terpimpin dalam menjalankan kebijaksanaan kependidikannya. Prinsip tersebut bertolak dari ajaran bahwa semua makhluk pada akhirnya tidak dapat keluar melampaui ketentuan sunatullah,. di samping itu juga kesadaran bahwa masingmasing anak dilahirkan menurut fitrahnya dan masingmasing individu memiliki kecenderungan sendirisendiri. Dalam kehidupan sosial, individu juga mengalami keterbatasanketerbatasan, baik keterbatasan kultural maupun struktural. Namun demikian, manusia juga memiliki kebebasan mengatur dirinya sendiri. Atas dasar itu pesantren memperlakukan kebebasan dan keterikatan sebagai hal kodrati yang harus diterima dan dimanfaatkansebagaimanamestinya dalamkegiatanbelajarmengajar.Halituantaralaintercermin dari pandangan kiai bahwa sejak pada masa dini, sampai kirakira berumur 10 tahun, kepada anak wajib ditanamkan jiwa agama, yang akan menjadi dasar kepribadiannya, tetapi kemudian sejak menginjak usia dewasa, anak itu sendirilah yang akan memilih jalan hidupnya, apakah akan menjadi ingkar Tuhan atau beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Misalnya: salah seorang kiai berkeyakinan bahwa kesan pertama yang ditanamkan kepada anak didik akan mempengaruhi secara mendalam kepribadian selanjutnya. Untuk itu sebelum mereka memasuki tingkat belajar yang lebih tinggi, kepadamerekapalingsedikitdiajarkan:kitabkitabawaltentangfikih,tasawuf,takrib,danTa'limMuta 'alimt (adab sopan santun bagi penuntut ilmu), dan sebelum itu anak harus dibiasakan mengikuti salat, puasa, dan sebagainya, meskipun mereka belum mengerti. Contoh lain dapat diteliti dari kebijaksanaan salah seorang kiai yang menyatakan bahwa "santri yang belajar di pesantren itu bagaikan orang yang sedang berbelanja di pasar. Di pasar dijual berbagai sayuran. Tergantung pada orang yang berbelanja apa yang mereka mau beli, berapa banyak mereka mau beli, dan mau memasakapa,danseterusnya.Halinitergantungpadaberapabanyakuangyangdibawanya". Sehubungan dengan itu maka sikap pesantren dalam melaksanakan pendidikan adalah membantu dan mengiring anak didiknya, tetapi pesantren juga keras berpegang pada tata tertib pesantren,terutamapadahukumagama.

11 h. Mandiri Sejak awal santri sudah dilatih mandiri. Ia mengatur dan bertanggung jawab atas keperluannya sendiri, seperti: mengatur uang belanja, memasak, mencuci pakaian, merencanakan belajar, dan sebagainya. Bahkan banyak di antara mereka yang membiayai diri sendiri selama belajar di pesantren. Prinsip ini tidak akan bertentangan dengan prinsip kolektivitas tersebut di muka, bahkan sebaliknya justru menjadi sebagian dari padanya, karena mereka menghadapi nasib dan kesukaran yangsama,makajalanyangbaiksetiapindividumengatasimasalahnyaialahtolongmenolong.Pada umumnya terdapat semacam "acara penyambutan" bagi santri baru oleh santrisantri lama, yaitu semacam"perpeloncoan'untukmenghilangkanjiwaegoismenyadanmeleburmenjadijiwakolektif Misalnya dengan cara memanjakan pendatang baru secara berlebihIebihan, atau sebaliknya sengaja milik pribadi pendatang baru tersebut dilanggar dan dipergunakan untuk kepentingan bersama tanpa seizinnya, mengejek kesombongannya, menguji kemampuannya, dan sebagainya. Semuanyadilaksanakansecaratidakresmidikalangansantrisendiri,dandiakhiridengankeakraban. i. Pesantrenadalahtempatmencariilmudanmengabdi Para pengasuh pesantren menganggap bahwa pesantren adalah tempat mencari ilmu dan mengabdi. Tetapi pengertian ilmu menurut mereka tampak berbeda dengan pengertian ilmu dalam arti science. lImu bagi pesantren dipandang suci dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran agama. Mereka selalu berpikir dalam kerangka keagamaan, artinya semua peristiwa empiris dipandang dalam struktur re1evansinya dengan ajaran agama. Model pemikiran mereka berangkat dari keyakinan dan berakhir pada kepastian. Mereka percaya semua kejadian berawal dan akan bertemu,sertaberakhirpadakebenaranTuhan.(LihatLampiran5,BUlir18,19,dan20). Tata keyakinan dan tata pikir yang demikian itu berbeda dengan pola keyakinan dan pemikiran scientist yang memandang setiap gejala dalam struktur relevansinya dengan kebenaran relatif dan bersyarat. Scientist memandang ilmu sebagai instrumen untuk memecahkan masalah dan memajukan kehidupan. Mereka berangkat dari keraguan dan berakhir pada pertanyaan. Kebenaran yang ditemukan setiap saat dapat berubah sesuai dengan fakta baru yang dijumpai kemudian. Scientistberpikirpositifdancenderungmenolakapasajayangtidakmasukakaldantidakterdukung oleh datadata empiris. Sebaliknya, pihak pesantren sering kali memandang ilmu sebagai tidak identik dengan kemampuan berpikir metodologis, tetapi dipandang sebagai "berkah" yang dapat datang dengan sendirinya melalui pengabdian kepada kiai; terutama pengetahuan agama secara keseluruhan dianggap sudah mapan kebenarannya sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka (santri) percaya bahwa apaapa yang diajarkan kiai adalah benar, tidak perlu diperdebatkan, tetapi perludiamalkan. j. Mengamalkanajaranagama Seperti disebutkan di muka pesantren sangat mementingkan pengamalan agama dalam kehidupan seharihari. Setiap gerak kehidupannya selalu berada dalam batas ramburambu hukum agama(fihih).

12 k. Tanpaijazah Seiring dengan prinsipprinsip sebelumnya, prinsip lain dari pesantren adalah bahwa pesantren tidakmemberikanijazahsebagaitandakeberhasilanbelajar.Keberhasilanbukanditandaiolehijazah yangberisikanangkaangkasebagaimanamadrasahdansekolahumum,tetapiditandaiolehprestasi kerjayangdiakuiolehkhalayak(masyarakat),kemudiandirestuiolehkiai. l. Restukiai 2 Semua perbuatan yang dilakukan oleh setiap warga pesantren sangat tergantung pada restu kiai. Baik ustaz maupun santri selalu berusaha jangan sampai melakukan halhal yang tidakberkenandihadapankiai. Prinsipprinsip pendidikan pesantren tersebut sebenarnya merupakan nilainilai kebenaran universal, dan pada dasarnya sama dengan nilainilai luhur kehidupan masyarakat Jawa. (Lihat buku Neils Mulder, Pribadi clan Masyarakat diJawa, dan buku Clifford Geertz, Santri, Abangan,danPriyayi,). 1.10.Tantanganpesantrenmasadepan Tantangan yang dihadapi oleh pesantren semakin hari semakin besar, kompleks, dan mendesak sebagai akibat semakin meningkatnya kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tantangan ini menyebabkan terjadinya pergeseranpergeseran nilai di pesantren, baik nilai yang menyangkut sumber belajar maupun nilai yang menyangkut pengelolaanpendidikan. Sementara itu, semakin hari pesantren semakin dalam memasuki budaya masyarakat industri. Sifatsifat dari masyarakat industri antara lain adalah tata hubungan semakin rasional, dinamis dan kompetitif. Produk barangbarang yang dihasilkan bersifat massive dan standard, tetapi juga terspesialisasi. Di bidang pendidikan, lulusan dari lembaga pendidikan yang sejenis dan setingkat memiliki corak kualitas yang sama; misalnya lulusan SD, SMTP, dan sebagainya. Kerja kependidikanakansemakindidominasiolehkegiatanpengembangansainsdanteknologi. Halhal tersebut akan "memaksa" pesantren untuk mencari bentuk baru yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi tetap dalam kandunganimandantakwakepadaTuhanYangMahaEsa.

Pemakaian kata restu bagi kiai atau ulama mengacu kepada pemberian doa dan kekuatan karismatik, sedang pemakaiannya bagi pejabat atau orang awam lainnya, mengacu kepada pemberian izin atau legalistik berdasarkan aturanaturan atau kewenangan administratifbirokratik sebagaimana berlaku dalam hidup keseharian.
2

13 Beberapa indikator pergeseran yang dialami oleh pesantren antara lain terlihat pada hal halberikut: a. Kiai bukan lagi merupakan satusatunya sumber belajar. Dengan semakin beraneka ragam sumbersumber belajar baru, dan semakin tingginya dinamika komunikasi antara sistem pendidikan pesantren dan sistem yang lain, maka santri dapat belajar dari banyak sumber. Sejak tahuntahun terakhir ini, kirakira 10 tahun yang lalu, banyak bukubuku pembaruan pemikiran dalam Islam yang ditulis, dalam bahasa Indonesia, baik oleh para cendekiawan muslim Indonesia maupun merupakan terjemahan dan bukubuku yang ditulis oleh sarjana sarjana Islam luar negeri, memasuki dunia pesantren dan dibaca oleh santrisantri dan ustaz. Hal ini merupakan sumber belajar baru bagi mereka. (Lihat Lampiran 9). Meskipun demikian, kedudukan kiai di pesantren masih tetap merupakan tokoh kunci dan menentukan corak pesantren, dan kiai menyadari hal yang demikian itu. Oleh karena itu, ia merestui santrinya belajar apa saja asal tetap pada akidahsyariah agama, dan berpegang pada moral agama dalamhidupseharihari. b. Dewasa ini hampir seluruh pesantren menyelenggarakan jenis pendidikan formal, yaitu madrasah, sekolah umum dan perguruan tinggi. Jenis pendidikan pesantren sendiri sebagai jenis pendidikan non formal tradisional yang hanya mempelajari kitabkitab Islam klasik seperti disebut di muka, merupakan bagian yang sangat kecil, sekitar 12% 3 dari seluruh kegiatan pendidikan pesantren. Hampir seluruh santri belajar di madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pesantren yang bersangkutan. Menyadari hal yang demikian ini kiai mewajibkan semua santri harus mengikuti pengajian kitab yang diseleng garakan oleh pesantren dan programprogram ubudiah (keagamaan) yang dibuat oleh pesantren. Kiai tetap berprinsip bahwaidentitas belajar di pesantren adalah agama. Oleh karen itu santri harus pandai mengaji dan mempelajari kitabkitab yang diajarkan di pesantren. Mereka yang hanya mengikuti program ubudiah tidak diwajibkan merangkap belajar di madrasah, sekolah umum atau Perguruan Tinggi, tetapi sebaliknya mereka yang belajar di pendidikan formal tersebut "wajib" mengikuti program ubudiah atau program pendidikan non formal. c. Seiring dengan pergeseranpergeseran tersebut, santri membutuhkan izasah dan penguasaan bidang keahlian, atau keterampilan yang jelas, yang dapat mengantarkannya untuk menguasai lapangan kehidupan tertentu. Dalam era modern tidak cukup hanya berbekal dengan moral yang baik saja, tetapi perlu dilengkapi dengan keahlian atau keterampilan yang relevan dengan kebutuhankerja. d. Sehubungan dengan hal tersebut, maka di kalangan santri terdapat kecenderungan yang semakin kuat untuk mempelajari sain dan teknologi pada lembagalembaga pendidikan formal, baik di madrasah maupun sekolah umum, untuk memperoleh keahlian dan atau ketrampilan yang dimaksud, tetapi mereka juga ingin tetap belajar di pesantren untuk mendalami agama dalamrangkamemperolehmoralagama.

Misalnya, di PP GulukGuluk terdapat sekitar 50 orang santri yang hanya mempelajari agama dalam pengertiandimaksud.DiPPSukorejo,sekitar100orangsantri,diPPBlokAgungsekitar60orangsantri,diPPTebu Irengsekitar35orangsantri,diPPPacirantidakada,diPPGontorjugatidakada.
3

14 e. Belajar dengan uang sudah memasuki dunia pesantren. Saat ini ratarata biaya belajar di pesantren Rp 20.000, perbulan per santri. Hampir semua santri menerima kiriman uang dari orangtuanya.AnggaranpenyelenggaraanpesantrenratarataRp1015jutapertahun. f. Sejak awal tahun 1920an, dengan telah dikenalnya model madrasah dengan sistem kelas dan diajarkan ilmu pengetahuan umum ke dalam pesantren, maka sejak itu sebenamya pesantren telah memasuki sistem pendidikan umum, dan akhirnya secara resmi telah menjadi subsistem pendidikan nasional dalam pemerintahan sendiri (dalam alam kemerdekaan). Adapun posisi dan peran pesantren sebagai subsistem pendidikan nasional, terletak pada sumbangannya sebagai pendidikan moral yang merupakan "sisi sebelah mata uang" dan sistem pendidikan nasional yang menekankan pentingnya pendidikan akal atau ilmu pengetahuan. Adalah suatu kenyataan bahwa dominasi pendidikan pesantren terletak pada moral agama di atas akal, sebaliknya dominasi pendidikan nasional terletak pada akal di atas moral agama. Kecuali itu, dengan semakin berkembangnya jenisjenis pendidikan formal dan berbagai buku ilmu pengetahuan dan kitab kontemporer agama Islam yang masuk ke dunia pesantren, maka hal itu mempengaruhi kualitas santri sebagai calon murid untuk belajar lebih lanjut di perguruan tinggi (agama dan umum) dalam jalur Sistem Pendidikan Nasional. Jadi ada saling ketergantunganantarakeduanya(pesantrendanpendidikannasional). 2.GambaranKhususPesantrenUnsurunsurSistemPendidikanPesantren Unsurunsur sistem pendidikan pesantren dapat dikelompokkan menjadi 11 unsur, sebagai berikut: 2.1.Tujuan Rumusantujuanpendidikanpesantrensebagaimanadisebutkanpadahalaman5556dimuka, merupakan rangkuman dari pendapat para kiai pengasuh pesantren objek penelitian, sebagaimanadisebutkandalamLampiran3. Dari rumusan tersebut tampak jelas bahwa pendidikan pesantren sangat menekankan pentingnya tegaknyaIslam ditengahtengah kehidupan sebagai sumber utama moral atau akhlak mulia, dan akhlak mulia ini merupakan kunci rahasia keberhasilan hidup bermasyarakat. Dengan kata lain orientasi tujuan pendidikan pesantren sesungguhnya masih lebih banyak bersifat inward looking daripada outward looking, atau masih lebih banyak melihat ke dalam daripada ke luar. "Pandangan ke dalam" berpendapat bahwa dengan tegak dan tersebarnya agama Islam di tengah tengah kehidupan, maka kehidupan bersama dengan sendirinya akan menjadi baik, jadi semacam ada trickling down effect, yaitu efek moral baik yang diturunkan sebagai akibat tegaknya Islam di tengah tengah kehidupan. Dengan demikian, sebenarnya "pandangan ke dalam" itu berpikir alternatif dan otomatis, yang dalam hal ini Islam sebagai alternatif atau pilihan untuk menggantikan tata nilai kehidupanbersama,jikakitamenginginkankehidupanbersamayanglebihbaikataulebihmaju.

15 Sebaliknya "pandangan ke luar" tidak berpikir alternatif dan otomatis, tetapi berpikir melengkapi kekurangan, meluruskan yang bengkok atau memperbaiki yang salah atau rusak, dan memberikan sesuatu yang baru yang belum ada dan diperlukan. Dengan demikian, prioritas pertamadari"pandangankeluar"ialahtegakdanmajunyakehidupanbersamaberdasarkanpada nilainilai kebudayaannya sendiri; kemudian, agama membantu, melengkapinya, dan mengarahkannya agar nilainilai dan tata nilai yang mengatur kehidupan masyarakat tersebut tidakbertentangandenganakidahdansyariahagamaIslam. Dalam praktik hidup seharihari dapat diamati bahwa pesantren telah berhasil mendidik santrinya menjadi orang beragama dalam arti taat menjalankan ibadah agamanya (salat, puasa, dan sebagainya), dan mendalami ajaran agamanya sesuai dengan kitabkitab yang dipelajarinya, tetapi kurang berhasil dalam pendidikan ilmu pengetahuan umum dan teknologi, dan kebudayaan nasional. Tegaknya agama tanpa dilengkapi dengan ilmu dan teknologi untuk mengembangkan atau memajukan masyarakat, tidak akan menghasilkan kehidupan yang baik dan sejahtera; dan kehidupan yang demikian itu tidak mungkin terjadi tanpa berdiri di atas nilainilai budaya sendiri. Santri cenderung berperilaku ibadah atau memandang sakral berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seharihari menurut hukum agama. Misalnya "bencinya" santri kepada karapan sapi di Madura, reog di Ponorogo, dan sebagainya, karena halhal tersebut biasanya diiringi dengan perbuatanperbuatan yang tidak terpuji, seperti: perjudian, penyiksaan pada binatang, pelacuran, minumminuman yang memabukkan, dan sebagainya; tanpa melihatnya dari sisi lain, yaitu sisi seni dalam kaitannya dengan pembinaan dan pengembanganbudayabangsa.SesungguhnyaIslamtidakmenolaksenijikasekiranyahaltersebuttidak bertentangan dengan akidah agama. Di satu segi santri menggeneralisasikan penglihatan yang berat sebelah tersebut untuk menolak seni budaya daerah secara keseluruhan, sehingga sering terasa bahwa dunia pesantren terlalu suci dan tidak menyentuh realitas kehidupan seperti kesenian atau budaya daerah dalam struktur relevansinya dengan kebudayaan nasional, yang belum tentu secara mutlak bertentangan dengan akidah syariah agama, di pihak lain juga sering salah paham bahwa agama menolak seni, padahal yang ditolak eksesnya yang tidak sesuai dengan akidah syariah agamanya, bukan senidalamtolalitasnya. Meskipundemikian,kiranyadapatdisimpulkanbahwapengalamanpesantrendalampendidikan moral keagamaan perlu dikaji lebih mendalam dan dikembangkan lebih lanjut dalam perspektif sistem pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional pada hakikatnya adalah untuk mengembangkan moral bangsa, yaitu Moral Pancasila, dan ciri khas Moral Pancasila itu ialah adanya dimensi: KeIndonesiaan (Budaya Nasional), keInlelektualan (ilmu dan Teknologi) dan keImanan atau keBeragamaan. Dalam hal ini sistem pendidikan pesantren telah menunjukkan keberhasilan dalam mendidik santrisantrinya untukmenjadiorangyangtaatmenjalankanagamanya. Dengan demikian, menurut para kiai, aspek kepribadian yang sangat penting untuk dikembangkan ialah sikap dan perilaku yang berdasarkan moral keagamaan. Sehubungan dengan ini, makacorakkegiatanbelajarmengajardipesantrentampaklebihdidominasiolehmodelpemikiranyang deduktifdogmatisagamadaripadapemikiranyanginduktifrasionaldanfaktual.

16 Kehidupan dalam era modern, tidak cukup hanya berbekal dengan moral yang baik saja, tetapi juga memerlukan bekal kemampuan teknokratik khusus sesuai dengan semakin tajamnya pembagian kerja dan profesi yang dibutuhkan. Hal ini berarti bahwa pesantren di tuntut menyempurnakan tujuan pendidikannya kembali, dengan kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologikhususnyadengankebutuhankerja. 2.2.FilsafatdanTataNilai Sebagai suatu lembaga pendidikan Islam, pesantren mendasarkan filsafat dan tata nilai pendidikannya pada ajaran Islam. Seperti disebutkan dalam "Gambaran Umum Pesantren" di muka, ajaran Islam yang mendasarkan pendidikan pesantren bercorak fikihsufzstik dan didominasi oleh pikiran ahli fikih dan para sufi dari abad ke713 Masehi. Dalam hal teologi, seluruh pengasuh pesantren mengikuti teologi Asy'ariah, dalam hal fikih, hampir seluruh pengasuh pesantren mengikuti mazhab Syafi'i, dan dalam hal tasawuf, pada umumnya mengikuti ajaran Imam al Ghazali. Corak ajaran yang fikihsufistik tersebut bertemu dengan mistik Jawa dari mana para kiai dibesarkan dan diasuh. (Lihat uraian selanjutnya: Butir 2.5. tentang kiai). Selama paham mistik Jawa tersebut tidak bertentangan dengan akidah ia dijadikan alat pendekatan untuk mengajarkan Islamkepadasantrinyadanmasyarakatumum 4 . Seperti juga telah disebutkan dalam "Gambaran Umum Pesantren" di muka, filsafat dan tata nilai yang mendasari pendidikan pesantren pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yang mempunyai hubungan vertikal otoriter, yaitu nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak yang diasuh oleh kiai, dan nilai agama yang memiliki kebenaran relatif yang diasuh oleh ustazdansantrinya. Kedua daerah asuhan tersebut sejak awal abad ke20 menghadapi tantangan nilai yang semakin hari semakin gencar, sehingga menimbulkan pergeseranpergeseran penting (lihat halaman 6668 di muka) dan mempengaruhi perubahan tata nilai dan tata laksana penyelenggaraan pesantren, seperti tampak pada laporan selanjutnya (Iihat Butir 3: Dinarnika SistemPendidikanPesantren:PerspektifBentukPendidikanPesantrendiMasaDepan). Seperti disebutkan di muka (halaman 6162), sejak awal abad ke20 pelajaran umum telah diajarkan di pesantren, pada tahun 1970an kursuskursus keterampilan kerja tangan dan akal mengenai berbagai bidang kehidupan diberikan di pesantren, dan sejak beberapa tahun terakhir ini telah banyak bukubuku yang berisi pembaruan pemikiran dalam Islam yang ditulis oleh para cendekiawan Islam, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia, memasuki dunia pesantren. Selain bukubuku tersebut, juga majalahmajalah, jurnal jurnal penelitian mengenai Islam, pendidikan, sosial, ekonomi, seni, dan budaya, juga masuk ke
Lihat hasil penelitan Wolfgang Karcher, dalam Dinamika Pesantren, Manfred Oepen dan Wolfgang Karcher(Editor),P3M,Jakarta,1987,hlm.257.
4

17 dalam pesantren. Bukubuku tersebut tampak digemari dan dibaca oleh santri, ustaz, dan bahkan kiai.(LihatLampiran9). Masih dalam hal tantangan nilai yang dihadapi oleh pesantren; sebagai akibat kemajuan di bidang komunikasi informasi yang terjadi pada sistem di luar pesantren, "memaksa" pesantren, mau tidak mau harus berhubungan atau berkomunikasi dengan berbagai sistem lain di luar dirinya, dan mengadakan kerja sama dengan mereka, baik dengan pihak dalam negeri maupun luarnegeri.Denganpihakdalamnegeri,misalnyadenganDepartemenPenerangan,DalamNegeri, Transmigrasi, Koperasi, dan sebagainya. Banyak bidangbidang pembangunan yang "dititipkan" kepada pesantren untuk berpartisipasi dalam pelaksanaannya. Pada keenam pesantren yang menjadi objek penelitian terdapat Pusat Informasi Pesantren yang merupakan rintisan hasil kerja sama dengan Departemen Penerangan Republik Indonesia. Selain dengan pihak Departemen, pesantren juga mengadakan kerja sama dengan perguruanperguruan tinggi negeri dan lembagalembaga swasta lainnya yang bergerak di bidangbidang pengembangan sumber daya manusia, sosial, pendidikan, penelitian, dan keilmuan lainnya, seperti: ITB (Institut Teknologi Bandung), LP3ES (Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat),dansebagainya. Sedang lembaga luar negeri yang banyak bekerja sama dengan pesantren, antara lain adalah: CIDA (Canadian Intemational Development Agency), IDEX (International Development Exchange), UNICEF (United Nation for International Children and Education Fund), JIEC (japan International ExchangeofCulture).Kerjasamadenganluarnegeritersebutberwujudbantuantenagapengajarbahasa Inggris,sepertiyangditerimaolehpesantrenGulukGulukdanTebuIreng,dankerjasamapadaberbagai proyek pengembangan masyarakat. Sedang kerja sama dengan negaranegara Timur Tengah, pada umumnya mengenai bantuan pengajaran: bahasa Arab, agama, penerimaan santri dari negaranegara tersebut untuk belajar di pesantren, pengiriman santri untuk belajar di luar negeri pada negaranegara tersebut, kitabkitab agama dan bahasa Arab, gedunggedung, alatalal pengajaran, dan sebagainya, sebagaimanaterjadidipesantrenpesantrenGontor,TebuIrengdanSukorejo. Masih dalam hal tantangan yang dihadapi dunia pesantren sebagai akibat kemajuan komunikasi informasi; melalui organisasi intern santri: Santrisantri sering mengadakan seminar, diskusi, atau penataranpenataran bersama antar santri dari berbagai pesantren mengenai berbagai kegiatan, seperti: penataran kepemimpinan, penelilian, koperasi, dan sebagainya. Sebagai salah satu contoh yang menggambarkan betapa pesantren telah membuka diri dan bekerja sama dengan sistemsistem lain di luar dirinya, baik dengan pihak dalam negeri maupun laur negeri, dapat dilihat dari Lampiran 8, mengenai kegiatan biro pengabdian masyarakal pesantren GulukGuluk. Memang tidak semua pesantren mempunyai derajat kebutuhan dan keluasan jaringan kerja sama dengan pihak luar, hal itu sangat tergantung kepada besar kecilnya pesantren, dan luastidaknya wawasan kiai pengasuhnya. Tetapi yang jelas dunia pesantren berada dalam kehidupan berjuang antara mempertahankan identitasnya dan menghadapi nilainilai yang datang dari luar dirinya. Dalam kaitan ini, cenderung diperoleh kesan bahwa perubahan nilai pesantren menuju ke orientasi pemikiran yang lebih mendunia, induktif, empiris, dan rasional, mengimbangi corak pemikiran yang deduktifdogmatis sebagaimana

18 selama ini mendominasi pola pemikiran pesantren. Tandatanda tersebut antara lain tampak bahwa santri memerlukan ijazah untuk melanjutkan ke sekolah formal yang lebih tinggi. Suatu kasus yang terjadi pada salah satu santri dan pesantren Paciran: Pada suatu ketika seorang santri "tertangkap basah" oleh kiai, karena ia melanggar tata tertib pesantren yaitu pulang malam melampaui ketentuan waktu tata tertib pesantren, melebihi jam 21.00. Ketika kiai akan menjatuhkan sanksi dengan cukur kepala sesuai dengan ketetapan tata tertib pesantren, santri tersebut protes dan tidak mau dicukur gundul. Menghadapi protes santri tersebut, kiai mengatakan, 'jika kamu tidak mau dicukur, baiklah, tetapi saya (kiai) tidak akan mendaftarkan namamu untuk ikut ujian persamaan negeri 5 . Menghadapi ancaman kiai tersebut, akhirnya santri yang bersangkutan mau dicukur. Baginya lebih baik dicukur daripada kehilangan kesempatan ikut ujiannegeri. Dalam tradisi pesantren jika ada santri berani menatap mata kiai, apalagi protes, merupakan suatu kejadian (pergeseran nilai) yang luar biasa. Tandatanda lain yang dapat diamati adanya pergeseran nilai yang terjadi di pesantren ialah semakin membesarnya jenis pendidikan formal, yang dalam hal ini berbentuk madrasah dan sekolah umum, serta perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pesantren, sehingga porsi pesantren sebagai lembaga pendidikan non formal yang khusus mengajarkan agama menjadi amat kecil, sekitar 12% dari seluruh porsi kegiatan pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren. Menghadapi hal yang demikian ini, kiai As'ad Syamsul Arifin dari pesantren Sukorejo, secara tegas mewajibkan seluruh santri yang belajar di madrasah dan sekolah umum, serta perguruan tinggi, merangkap belajar pada jenis pendidikan pesantren tersebut dan mengikuti semua kegiatan ubudiah, karena kiai berpendapat bahwa ciri khas pesantren adalah mempelajari agama, maka santri harus pandai mengaji, mengetahui agama, dan beragama. Sebaliknya kiai mewajibkan santri yang belajar khusus agama pada pendidikan non formal pesantren merangkap belajar di madrasah, sekolah umum atau perguruan tinggi. Meskipun kiai dari pesantrenpesantren lain tidak secara tegas mewajibkan santrisantrinya yang belajar di madrasah dan sekolah umum, agar merangkap belajar agama di pesantren sebagaimanakiaiAs'adSyamsulArifintersebut,namundalamkenyataannyahampirsemuasantri yang belajar di madrasah, sekolah umum, atau perguruan tinggi di pesantrenpesantren lain, merangkap belajar agama, yaitu mempelajari kitabkitab kuning yang diajarkan oleh pesantren, danmengikutisemuaprogramkegiatanubudiah Pergeseranpergeseran nilai tersebut menuntut kepada pesantren untuk melakukan reorientasi tata nilai dan tata laksana penyelenggaraan pesantren untuk mencari bentuk baru yang relevan dengan tantangan zamannya, tanpa kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam. Tampaknya pola pikir yang ideal bagi pesantren di masa depan akan mondar mandir di antara: deduktifdogmatis yang bersumber kepada kebenaran mutlak (wahyu Tuhan) dan induktifrasional berdasarkan datadata empiris atau bersifat faktual, yang memiliki derajat kebenaranrelatif,tetapiakrabdengankehidupanseharihari.
5

SantriyangbersangkutanbelajardiSMApadaPPPaciran.

19 Gambaran mengenai filsafat atau tata nilai pesantren dapat diikuti pada laporan selanjutnyamengenailingkungankehidupanpesantrendalampembahasanunsurketiga. 2.3.StrukturOrganisasiPesantren Pembahasan mengenai struktur organisasi dan Iingkungan kehidupan pesantren ini meliputi: (1) Status Kelembagaan, (2) Struktur Organisasi, (3) Gaya Kepemimpinan, dan (4) Suksesi Kepemimpinan. 1. StatusKelembagaan Status kelembagaan pesantren dapat dikelompokkan menjadi dua golongan: sebagai milik pribadi dan milik institusi. Dari enam pesantren yang menjadi objek penelitian ini, 4 pesantren tergolong milik pribadi, yaitu Pondok Pesantren GulukGuluk, Pondok Pesantren Sukorejo, Pondok Pesantren Blok Agung, dan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Sedang 2 pesantren lainnya tergolong milik institusi, yaitu Pondok Pesantren Paciran yang sejak tahun 1980 menjadi milik yayasan yang diatur oleh Majelis Pusat Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah, dan PondokPesantrenGontoryangsejaktahun1958telahmenjadimilikBadanWakaf. Perbedaan status kelembagaan tersebut sangat penting artinya jika dikaitkan dengan perspektif pembinaan dan pengembangan pesantren dalam struktur relevansinya dengan pengembangan Sistem Pendidikan Nasional. Masingmasing status memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pesantren dengan status pribadi, antara lain ialah: mereka memiliki kebebasan menentukan jalan hidupnya sendiri dan bebas merencanakan pola pengembangannya. Tetapi mereka juga memiliki kelemahan, antara lain ialah sangat tergantung pada kemauan dan kemampuan perorangan yang sering kali kurang berbobot dan kurang konsisten dalam melaksanakan kebijakan, karena tidak terstruktur dalam suatu pola yang dapat memberikan masukanmasukan yang kaya dan beragam dalam suatu tatanan yang sistematis dengan ukuran yang objektif, sehingga dapat dikontrol dan dievaluasi kemajuan dan kemundurannya; di samping itu, umur pesantren dengan status milik pribadi tergantung pada umur pemiliknya, yang biasanya lebih pendek daripada umur institusi. Sebaliknya, kelebihan pesantren dengan status milik institusi antara lain ialah: tidak tergantung kepada perorangan, tetapi tergantung pada institusi lengkap dengan mekanismesistemnya, sehingga dapat dikontrol dan dievaluasi kemajuan dan kemundurannya dengan menggunakan tolok ukur yang objektif. Sedangkan kelemahannya antara lain ialah: adanya kemungkinan terbelenggu dengan aturanaturan birokrasi sehingga tidak lincah dalam mengambil keputusan yang dapat menghambat kemajuan. Namun, secara keseluruhan, baik bagi pesantren dengan status milik pribadi maupun milik institusi, kiai tetap merupakan tokoh kunci, dan keturunannya memiliki peluangterbesaruntukmenjadipenggantinya

20 2. StrukturOrganisasi Setiap pesantren memiliki struktur organisasi sendirisendiri yang berbedabeda satu terhadap yang lain, sesuai dengan kebutuhan masingmasing 6 . Meskipun demikian, daripadanya dapat disimpulkan adanya kesamaankesamaan yang menjadi ciriciri umum struktur organisasi pesantren, dan tampak adanya kecenderungan perubahan yang sarna di dalammenatapmasadepannya,sebagaiberikut: a. Pada dasarnya struktur organisasi pesantren dapat digolongkan menjadi dua sayap sesuai dengan pembagian jenis nilai yang mendasarinya, yaitu nilai agama dengan kebenaran absolut dan nilai agama dengan kebenaran relatif. Sayap1 penjaga nilai kebenaran absolut, dan Sayap2 penjaga nilai kebenaran relatif, jadi bertanggung jawab pada pengamalan nilai kebenaran absolut, baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren; sedangSayap1bertanggungjawabpadakebenaranataukemurnianajaranagama. b. Sesuai dengan hierarkis pembagian jenis nilai sebagaimana tersebut pada halaman 16, makaSayap1mempunyaisupremasiterhadapSayap2,danolehkarenaituSayap2tidak boleh bertentangan dengan Sayap1, apalagi kalau sampai melakukan perbuatan perbuatan yang melanggar akidahsyariah agama dan sunah pondok. Sayap1 rnerupakan sumber informasi dan konfirmasi bagi Sayap2 dalam melakukan tugasnya seharihari. Ajaran kiai, ustaz dan kitabkitab agarna yang diajarkan di pesantren diyakini sebagai memilikikebenaranabsolutolehsantri,danoleh karenaitutidakperludipertanyakanlagi kebenarannya,hanyaperludipahamimaksudnya. c. Sayap1 dijaga oleh kiai utama dengan dibantu oleh kiaikiai dan ustaz yang telah dinilai kemampuan ilmu agamanya oleh kiai utama. Para pembantu kiai utama ini adalah juga santrisantri dari kiai utama. Sayap2 dijaga oleh kiaikiai muda, ustaz dan santri. Semua kerja Sayap2, bahkan semua perilaku warga pesantren, harus memperoleh restu kiai utama, atau setidaktidaknya diperbolehkan atau tidak dilarang oleh kiai utama. (Lihat halaman 34). Mengenai penjagaan nilai pada Sayap1 ini terdapat variasi kepengasuhan daripesantrenyangsatukepesantrenyanglain: 1). PP GulukGuluk. Penjagaan nilai agama dilakukan oleh generasi ke34 sesudah pendiri, dan dilakukan secara kolektif. Mereka terdiri atas 14 kiai dan 17 nyai, dipimpin oleh saudara tertua di antara mereka, yaitu K.H. Amir Ilyas. PP GulukGuluk sebenarnya merupakan bentuk pesantren federal, di dalamnya terdapat 4 pesantren daerah, yaitu PP Lubangsa Raya, PP Lubangsa Selatan, PP Latee dan PP Nirmala, (Iihat Lampiran 10 pada bagan struktur organisasi PP GulukGuluk). Masingmasing pesantren daerah tersebut, ke dalam memiliki kedaulatan penuh, lengkap dengan kiai, ustaz, santri, pondok, musala atau mesjid dan tata tertib sendirisendiri. Tetapi ke luar mereka menggunakan satu bendera atas nama PP GulukGuluk atau PP AnNuqoyah. Terdapat 4 faktor yang mengikat mereka untuk bergabung menjadi satu di bawah nama PP GulukGuluk tersebut yaitu: (a) Masingmasing pesantren daerah dipimpin oleh saudara seketurunan dari pendiri PP GulukGuluk, (b) Hampir seluruh santri dari masingmasing pesantren daerah tersebut
Antara lain sebagaimana tercermin dalam masingmasing bagan struktur organisasi seperti terdapat dalamlampiran10.
6

21 belajar pada madrasah dan sekolah tinggi yang diseienggarakan oleh PP GulukGuluk, (c) Semua santri dari pesantren daerah manapun mengikuti program pengembangan dan pengabdian pada masyarakat yang dikoordinasi oleh Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) PP GulukGuluk, dan (d) Seluruh pesantren daerah berada dalam satu yayasan, yaitu badan usaha yang bertugas mencari dana bagi PP GulukGuluk. Keberadaan empat pesantren daerah tersebut bukan karena satu pesantren induk (PP GulukGuluk) dipecah menjadi empat bagian menurut pembagian warisan di antara sesama saudara seketurunan, tetapi hal itu merupakan perluasan dari PP GulukGuluk; yaitu setelah lahir keturunan yang dinilai mampu mendirikan pesantren baru, maka mereka diizinkan mendirikan pesantren baru sehingga merupakan perluasan bagi PP GulukGuluk. Dengan demikian PP GulukGuluk adalahpesantrenmilikkeluargaataupribadi. 2). PP Sukorejo. Berbeda dengan PP GulukGuluk, penjagaan nilai agama pada Sayap1 dilakukan oleh kiai dari generasi kedua dan dilakukan secara tunggal, yaitu K.H.R. As'ad Syamsul Arifin. Dalam menjalankan tugasnya ia dibantu oleh tiga sekretaris pribadi, dan di dalam memberikan tugas kepada Sayap2 ia mengangkat mansya, semacam perdana menteri dan lurah pondok sebagai pendampingnya. Se1anjutnya, seperti PP GulukGuluk, pesantren Sukorejo juga milik pribadi kiai dan semuanya tergantung kepadanya (lihat Lampiran10,baganstrukturPPSukorejo). 3).PPBlokAgung.HampirsamadenganPPSukorejo,penjagaannilaiagamapadaSayap1 PP Blok Agung dilakukan secara tunggal oleh pendiri, yaitu K.H. Muchtar Syafaat. Dalam melaksanakantugasnyaiadibantuolehbeberapakiaiyangdiangkatolehnyasebagaimajelis pertimbangan, dan dalam membagi kerja pada Sayap2, sayap ini dibagibagi menjadi tujuh bagian kekuatan, yang dua dari tujuh ketua bagian adalah putranya, yaitu sebagai Ketua Pembangunan Pesantren dan Ketua Pengajian Kitab (lihat Lampiran 10 pada bagan PP Blok Agung).KeduabagiankeketuaantersebutmerupakanintistrukturorganisasiPPBlokAgung. Keketuaan pengajian kitab merupakan esensi ajaran PP Blok Agung, sedang keketuaan bagianumummerupakanpusatmanajemenyangmengaturseluruhkehidupanpesantren. Dengandemikian,sepertipadapesantrenpesantrenterdahulu,PPBlokAgungjugamilik pribadi kiai dan oleh karena itu kehidupan dan pengembangan pesantren ini sangat tergantungkepadanya. 4). PP. Tebu Ireng. Agak berbeda dengan ketiga pesantren terdahulu, penjagaan nilai agama pada Sayap1 dilakukan oleh suatu dewan kiai, terdiri atas tiga orang kiai. Mereka adalah para alumni senior dari PP Tebu Ireng, santri dari K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri PP Tebu Ireng. Tetapi pimpinan tertinggi dari PP Tebu Ireng adalah K.H. Yusuf Hasyim yang merupakan generasi kedua dari pendiri. Pimpinan tertinggi ini memimpin baik Sayap1 maupun Sayap2, dan pimpinan tertinggi ini mirip dengan direktur yang memimpin sebuah

22 direktorat. Jadi dilihat dari segi ajaran, mekanisme penyelenggaraan pesantren tunduk pada dewan kiai, tetapi jika dilihat dari segi organisasi penyelenggaraan pesantren tundukpadadirekturpesantren. Dalam kenyataannya, dewan kiai merupakan bagian dari se1uruh organisasi pesantren, oleh karena itu dewan kiai juga berada di bawah kepemimpinan direktur pesantren. (lihat Lampiran 10, pada bagian struktur organisasi PP Tebu Ireng). Hal ini menarik perhatian, karena dengan demikian ada semacam isyarat pergeseran kewenangan, di mana supremasi organisasi Sayap1 larut ke dalam kewenangan Sayap2(lihaturaiantentangGayaKepemimpinan,halaman79). EratkaitannyadengansemakinberkembangnyamanajerialkerjaSayap2tersebut, PP Tebu Ireng mengarahkan orientasi kerjanya dari sematamata mementingkan kepuasan hubungan kemanusiaan dalam kerja (human oriented), berkembang ke arah pentingnyapenyelesaiantargetkerja(targetoriented),denganmenggunakanalatalat teknologi modern, seperti komputer, memiliki percetakan fotokopi, jasa bank, dan sebagainya. Di tengahtengah PP Tebu Ireng telah berdiri Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mengatur lalu lintas pembayaran biaya belajar di pesantren dan mendorong santri untuk menjadi nasabah bank. Beroperasinya sebuah bank di tengahtengah pesantren salaf seperti PP Tebu Ireng merupakan suatu kejutan, karena masalah ini dapat menimbulkan polemik prokontra mengenai bunga bank yang sebagian umat menganggapsebagairibayangdiharamkandalamIslam. 5).PP.Paciran.Berbedadenganstrukturorganisasipesantrenterdahulu,penjagaannilai agama pada Sayapl dilakukan oleh pimpinan pesantren yang langsung dipimpin oleh K.H. Abdurachman Syamsoeri, pendiri PP Paciran, dan penjagaan nilai agama pada Sayap2 dipimpin oleh pengurus pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang ketua yang menjadi ketuaperguruandarijenisjenispendidikanyangdiasuholehPPPaciran. Sebenarnya PP Paciran ini lebih merupakan perguruan Muhammadiyah lengkap dengan sekolahsekolah formal sebagaimana perguruan Muhammadiyah pada umumnya, daripada bercorak pesantren sebagaimana keempat pesantren terdahulu. Namun ia tetap diperlakukan sebagai pesantren karena di dalamnya terdapat unsur unsur yang memenuhi ciriciri umum pesantren, seperti adanya mesjid, pondok, kiai, ustaz, santri, dan pengurus yang hidup dalam satu kampus, dan di dalamnya juga diselenggarakan pengajian kitabkitab keagamaan Islam klasik (kitab kuning), sebagai kegiatan ekstra kurikuler guna melengkapi pendidikan agama pada sekolah yang diasuhnya.(lihatLampiran10,pathbaganstrukturorganisasiPPPaciran). 6). PP Gontor. Berbeda dengan struktur organisasi dari kelima pesantren terdahulu, penjagaannilaiagamapadaSayapldariPPContorberadapadabadantertinggipesantren, yaitu Badan Wakaf Pondok, terdiri atas lima belas orang cendekiawan muslim (kiai,

23 sarjana, militer, dan cendekiawan lainnya) 7 . Dalam praktiknya penjagaan Sayap1 dilakukan oleh Balai Pendidikan Pondok yang dipimpin oleh 3 orang dengan sebutan trimurti, yaitu K.H. Syukri Abdullah Zarkasji MA, K.H. Drs. Hasan A. Sahal, dan K.H. Shoiman Lukman Hakim. Sebutan ini berasal dari pendiri di mana pada periode awalnya PP Gontor ini didirikan dan dipimpin oleh 3 orang bersaudara, yaitu K.R.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.R.H. Imam Zarkasyi, dengan sebutan trimurti. Kepemimpinan PP Gontor pada saat ini merupakan generasi kedua sesudah pendiri, tetapi sebelum pergantiannya, pimpinan generasi pertama telah menyerahkan PP Gontor kepada lima belas orang cendekiawan dimaksud sebagai wakaf pada tanggal 12 Oktober 1958, jadi dengan demikian sejak tanggal tersebut PP Gontor secara resmi telah berpindah status dari milik pribadi menjadi milik institusi yang dalam hal ini berbentuk badan wakaf, dengan salah satu ketentuan bahwa selama para pendiri masih hidup mereka tetap memegang pimpinan pondok. Ternyata setelah tiba saatnya pergantian pimpinan, Badan Wakaf Pondok mengangkatpimpinanbarutetapdalambentuktrimurti,danduadaripemimpinyang baruituadalahputradaripendiri,sedangyangsatulagiadalahalumnidariPPGontor sendiri. Balai Pendidikan Pondok itulah yang menjadi badan eksekutif, sedang Badan Wakaf sebagai lembaga legislatifnya. (Lihat Lampiran 10, pada bagan struktur organisasi PP Gontor). Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Pendidikan Pondok telah mengembangkan kerja interacting antarunitunit kerja dan memakai teknologi modern, memiliki percetakan dan penerbitan sendiri. Seperti juga PP Tebu Ireng, PP Gontor juga mengembangkan orientasi kerjanya tidak sematamata human oriented tetapi juga target oriented. Dengan demikian penjagaan nilai agama pada Sayapl dilakukan secara kolektif sebagaimana pada PP GulukGuluk. Tetapi keduanya tetap berbeda. Kalau pada PP GulukGuluk hal itu berada pada kepemimpinan kekeluargaan, sedang pada PP Gontor hal itu berada pada kepemimpinan institusional. d. Kiai utama merupakan pimpinan spiritual dan tokoh kunci pesantren. Kedudukan, kewenangan dan kekuasaannya amat kuat. Hubungan antar santri, dan atara santri dan pimpinan (kiai, ustaz, dan pengurus) bersifat kekeluargaan dan penuh hormat. Ketundukandankepatuhansantriterhadappimpinan,terutamaterhadapkiai,luarbiasa. Bagi segenap warga pesantren, terutama santri, menghargai kiai adalah kewajiban moral. Ada 3 kata kunci yang melandasi hubungan mereka, yaitu (1) Berkah, (2) Ikhlas, dan (3) Ibadah.
Kelimabelascendekiawanmuslimdimaksudadalah:(1)K.H.IdhamChalid,(2)AliMurtadho,(3)Shoiman BHM., (4) Ghazali Anwar, (5) Let.Kol H. Hasan Basri, (6) H. Mahfudz, (7) Kapten Irchammi, (8) Aly Syaefullah, (9) Abdullah Syukri, (10) Hayidin Rifai, (11) Amsin, (12) Muhammad Thaif, (13) Maroka Rauf, (14) Ali Muhammady dan(15)AbdullahMahmud.
7

24 Artinya: santri dan bahkan seluruh anggota pesantren memandang seluruh perbuatannya sebagai ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu hal tersebut harus dilakukannya denganpenuhkeikhlasan,dandalamrangkamemperolehberkahkiai. e. Pembagian kerja antar unitunit kerja sering kali kurang tajam dan banyak terdapat kesamaan. Misalnya antara unit yang mengurusi pendidikan dan pengajaran dengan unit yang mengurusi pengajian, kehumasan, kemasyarakatan, kesejahteraan santri, dan sebagainya sering kali mempunyai tugas yang sama. Seperti samasama mempunyai program mengadakan pengajian, mengerahkan santri untuk kerja bakti membersihkan pesantren, memperbaiki jalananjalanan dalam kampus pesantren, membersihkan kamar mandi, dan sebagainya. Namun tidak tampak adanya pertentangan atau konflik di antara unitunit kerja dimaksud, karena semuanya berlandaskan pada tiga kata kunci tersebut, sehingga corak kerja dalam pesantren bersifat kekeluargaandanlebihmenekankanpadapentingnyahumanorienteddaripadatargetoriented. Inisiatif kerja pada umumnya datang dari dan tergantung langsung pada pimpinan masing masing unit, untuk selanjutnya secara langsung tergantung pada restu kiai. Pada dasarnya masingmasing unit bebas berinisiatif dan berbuat, sepanjang yang dilakukannya itu untuk kebaikan dan kamajuan santri, pesantren, tidak bertentangan dengan akidahsyariah agama, tidakbertentangandengansunnahpondokdandibolehkanolehkiai.Dalamkeadaansepertiitu, di mana kedudukan dan kekuasaan pemimpin sangat kuat, hubungan dengan anggota baik, pembagian kerja antarunit kurang tajam dan sangat tergantung pada pemimpin, maka gaya kepemimpinan otoriterkebapakan berjalan sangat efektif (lihat laporan selanjutnya tentang gayakepemimpinan). f. Gaya kerja dalam struktur organisasi pesantren pada umumnya masih merupakan garis lurus ke atas, artinya setiap unit kerja bergantung pada atasan langsung. Keberhasilan kerja dalam struktur organisasi pesantren secara keseluruhan merupakan penjumlahan dari hasil masing masing unit kerja. Hubungan kerja antarunit kerja bersifat coacting bukan interacting (lihat Lampiran 10, bagan struktur organisasi dari enam pesantren objek studi). Hubungan kerja yang bersifat coacting itu sarna dengan keberhasilan kerja suatu tim bulu tangkis, di mana masing masing partai bekerja sendirisendiri. Jika dalam satu tim terdiri atas lima partai, dan jika tiga dari lima partai telah menang, maka keseluruhan tim bulu tangkis tersebut telah menang; keberhasilan tiap partai tidak tergantung pada partai yang lain, tetapi jumlah kemenangan partai menentukan kemenangan tim secara keseluruhan. Sebaliknya hubungan kerja yang bersifat interacting itu sama dengan keberhasilan kerja di bidang sepak bola, dimana keberhasilan setiap pemain sangat tergantung pada pemain yang lain, dan secara keseluruhan menentukan kemenangan kesebelasan sepak bola yang bersangkutan. Namun pada beberapa unit kerja dalam struktur organisasi beberapa pesantren, seperti pada PP Gontor dan PP Tebu Ireng, serta PP Paciran sudah mulai tampak ada hubungan kerja yang bersifat interacting. Pada perkembangan mendatang, tampaknya akan terjadi perkembangan hubungan kerja dari coacting menjadi interacting sesuai dengan tantangan kerja yang semakin kompleks dan karenanya semakin dibutuhkan hubungan kerja antarunit yang semakin saling ketergantungan satu terhadap yang lain (interacting). Dan laporan mengena struktur organisasi tersebut, tampak adanya perubahanperubahan penting yang menggambarkan dinamika sistem pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan zamannya,antaralainsebagaiberikut: 1. Mengiringi adanya perubahan status kelembagaan dari status milik pribadi menjadi statusmilikinstitusisebagaimanadilaporkanpadabutir(1)dimuka(halaman73),maka

25 juga terdapat perubahan dari penjagaan nilai agama dengan kebenaran absolut: dan penjagaan secara individual ke penjagaan secara kolektif. Bahkan dalam kasus PP Gontor, penjagaan nilai agama absolut pada SayapI, tidak lagi oleh kiai (salaf) secara individu,tetapiolehsekelompokcendekiawanmuslim.Haliniberartibanyakpemikiran pemikiranrasionaldalammemahamidanmengembangkanajaranagamasesuaidengan tantanganzamannya. 2. Perubahanhubungankerjaantarunitunitkerjadalamstrukturorganisasipesantrendari hubunganyangbersifatcoactingmenjadiinteracting. 3. Terdapat kecenderungan semakin menunggalnya kerja Sayapl dan Sayap2, bahkan pada kasus PP Tebu Ireng bidang kerja Sayapl masuk menjadi bagan atau bidang kerja Sayap2 tanpa mengurangi esensial nilai ajaran agama yang harus dijaga kebenaran dan kemurniannya. 4. Semakin disadari pentingnya orientasi target, perencanaan, dan penggunaan teknologi canggih dalam mencapai tujuan, seperti pemakaian komputer, jasa bank, percetakan, penerbitan,dansebagainyadalampenyelenggaraanpesantren. (3)GayaKepemimpinan Yang dimaksud dengan kepemimpinan dalam pembahasan berikut ini adalah seni memanfaatkan seluruh daya (dana, sarana, dan tenaga) pesantren untuk mencapai tujuan pesantren. Manifestasi yang paling menonjol di dalam "seni" memanfaatkan daya tersebut adalah cara menggerakkan dan mengarahkan unsur pelaku pesantren untuk berbuat sesuatu sesuai dengankehendakpemimpindalamrangkamencapaitujuanpesantrentersebut. Menurut ajaran Islam, setiap orang adalah pemimpin. Setiap insan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada sesamanya, semasa ia hidup, dan kelak kepada Tuhansetelahiamati.Namundemikian,yangdimaksuddenganpemimpindalampembahasanini bukan setiap individu warga pesantren, dan bukan pula pemimpin unitunit kerja dalam struktur organisai pesantren, tetapi kiaipengasuh pesantren yang menjadi tokoh kunci atau pimpinan spiritual pesantren, sebagaimana dimaksudkan dalam uraian mengenai struktur organisasi di muka. Pembahasan masalah kepemimpinan ini meliputi: Gaya kepemimpinan, dan suksesi kepemimpinan. Seperti uraian mengenai struktur organisasi di muka, gaya kepemimpinan pesantren juga berbedabedasatudariyanglain,sesuaidengankondisisosialbudayamasyarakatnya: a.PPGulukGuluk Kedudukan dan kekuasaan pimpinan sangat kuat dan mantap. Hal ini disebabkan adanya tata nilai dalam kehidupan mereka, bahwa: yang muda menghormati yang tua, murid menghormati guru, dan seorang murid tidak akan menjadi orang baik dan pandai tanpa guru. Nilai kehidupan yang demikian ini tidak hanya berlaku dalam masyarakat pesantren, tetapi telah membudaya di kalangan masyarakat Madura, khususnya dalam komunitas muslim. Masyarakat Madura sangat hormat kepada kiai dan menghargai lembaga pendidikan pesantren. Gambaran sikap hormat

26 masyarakat Madura terhadap kiai dan pesantren ini dapat dilihat pada laporan selanjutnya tentang lingkungan masyarakat yang mengelilingi PP GulukGuluk. Hubungan antara anggota dan pemimpinnya, yaitu antara santri, ustaz, pengurus dan kiai sebagai satu keluarga dalam rumah tangga, di mana kiai dan nyai sebagai guru, bapak, ibu dan pemimpin mereka. Seperti dikemukakan di muka, hubungan kerja kepemimpinan dalam pesantren dilandasi oleh tiga kata kunci: "ikhlas", "berkah", dan "ibadah". Tatanan kerja organisasinya kurang jelas, pembagian tugas antarunitunit kerja tidak terpisahkan secara tajam. Masingmasing pimpinan unit bebas berinisiatif dan bekerja untuk kemajuan dan kebaikan pesantren. Selama apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan sunnah pondok, dan memperoleh restu kiai atau setidak tidaknya diperbolehkan oleh kiai atau tidak dilarang oleh kiai, maka selama itu pula pekerjaan bolehditeruskan. Sehubungan dengan itu, maka gaya kepemimpinan di PP GulukGuluk memiliki ciriciri paternalistik, dan free rein leadership (laisser faire), di mana pemimpin pasif, sebagai seorang bapak yang memberikan kesempatan kepada anakanaknya untuk berkreasi, tetapi juga otoriter, yaitumemberikankatakatafinaluntukmemutuskanapakahkaryaanakbuahyangbersangkutan dapat diteruskan atau harus dihentikan. Sementara itu, dari gambaran tentang sikap hormat warga pesantren dan masyarakat terhadap kiai, juga dapat disimpulkan bahwa sumber kewibawaan kepemimpinan PP GulukGuluk adalah karismatikkeagamaan, di mana kiai sebagai pemimpin spiritual. Ratarata sekitar 1520 orang berkunjung kepada kiai untuk berbagai keperluan, seperti berobat, minta do a, "ijazah", urusan menjodohkan anak, mencari kerja, dan sebagainya. b.PPSukorejo Jika kepemimpinan PP GulukGuluk dilakukan secara kolektif, maka kepemimpinan dalam PP Sukorejo dilakukan secara pribadi oleh K.H.R. As'ad Syamsoel Arifin sebagai pimpinan tunggal pesantren. K.H.R. As'ad Syamsoel Arifin selain sebagai pimpinan tertinggi, ia adalah Mustasyar Am NU 8 (Nahdatul Ulama) seluruh Indonesia. Di kalangan warga NU pada umumnya, dan warga PP Sukorejo pada khususnya, K.H.R. As'ad Syamsoel Arifin dianggap memiliki karamah, yaitu suatu

NU adalah organisasi ulama. Strutktur organisasinya dibagi dua besaran: Syuriah (penjaga nilai agama) dan Tanfiziah(penjaganilai non agama atau badanpelaksana Syuriah), yang mempunyai supremasi atas Tanfiziah. Lembaga syuriah dibentuk dari tingkat pusat sampai ke ranting. Siapa pun yang menjadi anggota NU harus bersedia mendukung ulama, tidak boleh tidak setuju apalagi berusaha mendongkelnya. (K.H. Ahmad Siddiq Rais amNUatauketuaumumsyuriahNU,dalamKhittahNahdiyah,BalaiBukuSurabaya,1979:4548)
8

27 kekuatangaibyangdiberikanolehTuhanhanyakepadasiapayangdikehendakiNya;dankekuatan iniselapislebihrendahdaripadamukjizatyanghanyadiberikankepadanabi 9 . Ratarata setiap harinya terdapat 2530 orang tamu yang berkunjung kepadanya, baik individu maupun kolektif, baik pejabat maupun masyarakat biasa terutama warga NU dari berbagai daerah cabang atau wilayah NU; untuk berbagai macam keperluan, dari yang hanya untuk kepentingan silaturahmi sampai untuk kepentingan organisasi. Tidak jarang pimpinan teras pemerintahan dari presiden, menteri, gubernur, dan seterusnya pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Sukorejo. Begitu besarnya karisma kepemimpinan kiai, sampaisampai mengenai masalah yang paling mustahil dalam agama pun tidak ada orang yang berani mempersoalkannya. Misalnya: setiap hari Jumat kiai tidak tampak salat Jumat di mesjid, padahal salat Jumat hukumnya wajib. Sebaliknya terdapat pendapat di kalangan sebagian warga pesantren dan masyarakat, bahwa kiai salat Jumat di Mekah. Adalah sudah menjadi adat kebiasaan bahwa tamu hanya menunggu kesempatan, sampai kiai sendiri berkenan menanyakan keperluannya, para petugas tamu tidak berani memberitahukan kepada kiai bahwa ia sedang ditunggu tamu, kecuali untuk tamutamu tertentu, seperti pejabat teras pemerintahan yang diatur melalui protokoler atau yang telah mengadakan perjanjianlebihdahulu.Demikianlah,masihbanyakceritaceritamistislainnyamengenaikekaramah an kiai yang tersebar di kalangan warga pesantren dan masyarakat sekitarnya yang sangat mencekam kehidupan mereka. Dalam riwayat hidupnya, disebutkan bahwa kiai adalah keturunan langsung Nabi Muhammad, dari garis keturunan putri Nabi: Fatimah, dan merupakan generasi ke 28 dan sudah disiapkan penggantinya yaitu putranya bernama Raden Fawaid, yang akan merupakan generasi ke29. Dari gambaran tersebut dapat dimengerti bahwa ketundukan dan kepercayaan anggota terhadap pemimpinnya sangat luar biasa. Dalam keadaan seperli itu, dapat diamali bahwa jenis kepemimpinanPPSukorejoberciri: Karismatik (Spiritual leader), dan otoriterpaternalistik. Berbeda dengan gaya kepemimpinan PP GulukGuluk dengan derajat kepemimpinan laisser fairenya yang besar, maka derajat kebebasan dalam kepemimpinanPPSukorejoterasalebihkeciljikadibandingkandengankebebasandalamkepemimpinan PP GulukGuluk tersebut. Pada umumnya pembagian kerja pada unitunit kerja dalam struktur organisasi PP Sukorejo lebih jelas dan resmi daripada pembagian kerja pada unitunit kerja dalam strukturorganisasiPPGulukGuluk.WibawakepemimpinanPPSukorejoterasamenyentuhkegiatanunit kerja.Misalnyapadasuatuketika,setelahhariketigapenelitiberadadiPPSukorejo,penelitiberbincang bincang dengan dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimiyah, untuk minta petunjuk kepadanya bagaimana caranya agar peneliti dapat berjumpa dengan Kiai As'ad Syamsoel Arifin; dekan tersebut menyarankan kepada peneliti agar peneliti mengaji (baca AI quran) dimakam orangtua kiai. Dekan
Dalam ajaran Islam, ada 4 kekuatan gaib yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia: (a). Istidraj diberikan kepada non muslim, sifatnya memanjakan, (b). Maunah diberikan kepada muslim, sifatnya untuk kebaikan, (c). Karamah diberikan kepada muslim, sifatnya untuk kebaikan dan kekuatan, (d). Mujizat hanya kepadadiberikankepadaNabi.
9

28 tersebut percaya bahwa kiai sudah tahu keinginan peneliti untuk bertemu kepadanya, sekalipun kiai belum memberitahukan kepadanya. Dengan demikian setiap unit kerja merasa diawasi oleh kiai setiap saat,sehinggaproseskegiatanterasaberjalanlebihketatdaripadaapayangterjadidiPPGulukGuluk. c.PPBlokAgung Seperti kepemimpinan PP Sukurejo, kepemimpinan PP Blok Agung juga dilakukan secara pribadi oleh KH. Muchtar Syafaat sebagai pimpinan tunggal pesantren. KH. Muchtar Syafaat adalah Mustasyar NU untuk seluruh daerah Blambangan dan sekitarnya. Setiap hari ratarata tercatat 1520 orang tamu yang datang dari berbagai lapisan masyarakat, berkunjung kepadanya untuk bersilaturahmi minta: nasihat, do'ado'a dan "izasah" (semacam 'Jimat) kepada kiai. Mereka datang dengan membawa berbagai masalah kehidupan atau "kemelut hati", dari sejak masalah kelahiran, perjodohan, sampai ke masalah warisan. Berbeda dengan KH.R. As'ad Syamsoel Arifin tersebut di atas, K.H. Muchtar Syafaat tampak salat di mesjid, dan para petugas tamu berani memberi tahu kiai bahwa ia sedang ditunggu tamu dan sebagainya. Namun, kepemimpinannya yang karismatik terasa sangat mencekam dalam kehidupan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Berkat ajaran tasawuf yang diberikan secara intensip, sehingga menjadi ciri khas Pondok Pesantren Blok Agung sebagai pesantren tasawuf dan tarekat, maka banyak santri Pondok Pesantren Blok Agung yang menjalankan puasa sunah, dan kebiasaan yang demikian itu bertentangan dengan kebiasaan yang ada di Pondok Pesantren Sukorejo yang menganjurkan santrinya untuk tidak berpuasa sunah selama belajar, tetapi harus makan makanan yang banyakdanbergizi. Dengan demikian kedudukan dan kewenangan atau kekuasaan kiai sebagai pimpinan spiritual sangat kukuh. Hubungan antara anggota dan pemimpin sangat baik; anggota menghargai dan percaya penuhkepadakiai,tidakhanyasebagaipemimpin,tetapijugasebagaibapakdanguru. Sementara itu, seperti diuraikan dalam struktur organisasi Blok Agung di muka, deskripsi tugas untuk masingmasing unit kerja kurang jelas dan saling bersamaan. Masingmasing unit kerja sangat tergantung pada atasan langsung. Namun, Kiai Muchtar Syafaat memberikan kebebasan yang luas pada pimpinan unit kerja dari Sayap2 untuk berkreasi dan berbuat apa saja yang dianggap baik bagi dirinya dan bagi kemajuan pesantren, asal perbuatanperbuatan tersebut tidak menyimpang dari ajaran agama dantatatertibpesantren. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan PP Blok Agung, sebagaimana gaya kepemimpinan pesantrenpesantren terdahulu, adalah: paternalistik, otoriter, dan juga laisser fair ataubebas;semuanyaberadadalamstrukturrelevansiajaranagama. d.PPTebuIreng Seperti disebutkan di muka, saat ini pimpinan PP Tebu Ireng dijabat oleh K.H. Yoesoef Hasyim, salah seorang putra pendiri PP Tebu Ireng: K.H. Hasyim Asy'ari yang terkenal dengan sebutan "Kiai Tebu Ireng".

29 DariuraianmengenaistrukturorganisasiPPTebuIrengdimuka,tampakadanyakecenderungan kedudukandewankiaisebagaipenjaga kemurniannilaiagamamenjadibagian atausalahsatuunit kerja dari kesatuan administrasi pengelolaan penyelenggaraan pesantren. Sementara itu, hubungan antara anggotadanpimpinanbaikdanhormat;artinyaanggotamenghormatipimpinan,sebagaimanalayaknya murid menghargai gurunya, atau santri menghargai kiainya. Namun juga tampak adanya perubahan hubungan antara anggota dan pemimpin sekarang, jika dibandingkan dengan 2030 tahun yang lalu. Padamasadulu,terutamapadaperiodeawalusiapesantren,ketundukandanhormatanggotaterhadap pimpinan atau kiai digambarkan sebagai "luar biasa". Santri tidak berani berbicara dengan menatap matakiai.Tetapisekaranghubungansepertiitutelahberubah;santritampakseringterlibatdiskusiatau dialog dengan pimpinan pesantren mengenai berbagai masalah. Perubahan tersebut, sangat terasa sejak diselenggarakannya sekolahsekolah formal, baik madrasah maupun sekolah umum yang diselenggarakan oleh PP Tebu Ireng, serta adanya perguruan tinggi, yaitu Universilas Hasyim Asy'ari di kampus PP Tebu Ireng. Dengan semakin banyaknya santri yang menjadi siswasiswa dan mahasiswa, merekamenampakkanperilakuyangberbedadenganperilakusantripadamasadulu.Misalnyadarisegi caraberpakaian:dewasainimerekamemakaicelana,hem,sepatu,lepaspeci,danseragamsekolahatau pramuka sebagaimana layaknya murid sekolah umum; demikian pula halnya ketika salat di mesjid banyak di antara mereka yang memakai celana panjang, hem dan tanpa peci. Gambaran yang demikian ini sangat berbeda dengan gambaran masa lalu, bahkan menurut sejarah pada awal usia pesantren ini, belajar dengan memakai celana, sepatu, dan duduk di atas bangku dan menggunakan papan tulis, diharamkan,karenahalitumerupakankebiasaankafir(Belanda)ataupenjajah. Di sisi lain,job description atau pembagian tugas di kalangan unitunit kerja juga cenderung berubah menuju pembagian kerja yang lebih rinci dan spesifik, dengan menggunakan teknologi baru, yaitu bank dan komputer yang sudah mulai dipergunakan sebagai sarana kerja. Dengan kata lain, sejak dibukanya sekolahsekolah umum di kampus pesantren, sejak itu sangat terasa bahwa pendidikan dengan uang" sudah memasuki dunia pesantren. Gaji atau honor guru, sumbangan uang belajar, gaji pegawai, biaya pendidikan dan pembangunan gedunggedung, harga alatalat pendidikan, dan biaya kependidikan lainnya, sudah diperhitungkan secara rinci, teliti dan hemat; target pendidikan yang harus dicapai juga harus dihitung dengan cermat, dan sebagainya. Semuanya ini membawa dampak yang luas dan menggetarkan jaringan mekanisme kerja penyelenggaraan pesantren, yang padaujungnyamenuntutpenyesuaiangayakepemimpinanyangsesuaidengannya Dalam kondisi kehidupan pesantren seperti itu, pimpinan tertinggi PP Tebu Ireng sekarang lebih dikenal sebagai "pemimpin" Pesantren Tebu Ireng, daripada sebagai "Kiai" Pesantren Tebu Ireng. Kiai Yoesoef Hasyim memiliki latar belakang pengalaman lebih banyak di bidang militer (tokoh gerilyawan diJawaTimur) dan politik(anggota DPR RI daritahun 19551982), daripadalatar belakang pengalaman di bidang perkiaian. Hal ini dapat menyebabkan munculnya kecenderungan gaya kepemimpinan diplomatis yang berbeda dengan gaya kepemimpinan pesantren sebagaimana disebutkan di muka, gaya kepemimpinan diplomatik tersebut kadangkadang dikombinasikan dengan gaya kepemimpinan partisipatif. Gaya kepemimpinan diplomatis mencoba mendekati anggotanya secara persuasif dengan jalan menjual ideide (a sell type leader), tetapi jika terdesak ia

30 menggunakan gaya autokratis; sedang gaya kepemimpinan partisipatif mencoba mendekati anggotanya untuk berbuat secara terbuka. Namun tidak perlu ada kekhawatiran akan hilangnya kewenangan dan kewibawaan dengan munculnya gaya kepemimpinan diplomatis dan partisipatif tersebut, sebab bagaimanapun juga "modal pokok" yang menjamin kelestarian kepemimpinan Pesantren Tebu Ireng tetap dimiliki oleh K.H. Yoesoef Hasyim sebagai ahli waris Pesantren Tebu Ireng,sehinggahakprerogatifmemimpintetapberadapadaketurunanpendiri. e.PPPaciran PP Paciran dipimpin oleh K.H. Abdurachman Syamsoeri, pendiri pesantren. Dari uraian mengenai struktur organisasi PP Paciran tersebut di muka diperoleh kesan bahwa PP Paciran banyak menunjuk corak "keperguruan" di samping corak "kepesantrenan". Meskipun demikian, seperti disampaikan di muka, corak "kepesantrenannya" masih lebih menonjol daripada corak "keperguruannya". Corak"keperguruan"nya yang cukup besar, dan cukupmewarnai kehidupan PP Paciran, karena hampir semua kegiatan pendidikan yang diselenggarakannya adalah sekolah sekolah formal sebagaimana layaknya perguruan Muhammadiyah, dan jumlah mereka yang tinggal dikampuspesantren(santrimukim)sekitar35%dariseluruhsantriyangbelajardiPPPaciran,65% pulang ke rumah masingmasing (santri kalong). Hal ini berbeda dengan keadaan di pesantren pesantrenlain,yanghampirseluruhsantritinggaldipesantren. Meskipun demikian, hubungan antara anggota baik, dalam arti para santri atau pelajar merasa membutuhkan atau tergantung pada lembaga pendidikan yang diselenggarakannya, untuk meraih kesempatan belajar secara resmi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kedudukan dan kewenangan kiai sebagai pimpinan inti pesantren kuat. Meskipun status PP Paciran merupakan salah satu bagian dari Maje1is Pendidikan Pusat Muhammadiyah, jadi berstatus milik instansi, sehingga secara resmi status kepemimpinannya sangat tergantung pada keputusan instansi induknya, namun kedudukan K.H. Abdurachman Syamsoeri kuat karena dalam sejarah PP Paciran ia adalah pendiri dan pemilik pesantren, sehingga tidak mudah untuk diganti sewaktuwaktu oleh instansi induknya. Di samping itu, kiai sendiri memiliki karisma kepemimpinan yang kuat di kalangan warga pesantren. Ia sangat disegani dan dihormati anak buah dan santrinya, sebagaimana layaknya pemimpin spiritual keagamaan pada umumnya. Sementara itu, pembagian kerja atau job description dari masingmasing unit tampaklebihjelasdanresmi,sebagaimanalayaknyapembagiankerjamenurutunitsekolahformalpada umumnya. Jadwal pengajian kitabkitab sebagai pengajian ekstra kurikuler juga tampak berlaku secara teratur. Namun, sebagaimana dilaporkan dalam uraian mengenai struktur organisasi PP Paciran di atas, masingmasingunitkerjasecaralangsungtergantungpadaatasanlangsung. Dalam kondisi seperti itu gaya kepemimpinan yang tampak berlaku pada PP Paciran adalah: Kombinasi antara gaya otoriter, paternalistik, dan birokratik (sesuai dengan aturanaturan formal yang ada).

31 f.PPGontor Seperti disebutkan dalam uraian mengenai struktur organisasi PP Gontor di muka, pimpinan harian PP Gontor berbentuk trimurti atau tiga serangkai. Kedudukan dan kewenangan pimpinan kuat, hubungan antara anggota dan pemimpin baik, dan pembagian tugas antarunitunit kerja jelas. Disiplin dan solidaritas juga terasa amat kuat mewarnai kehidupan PP Gontor. Jaringan solidaritas mereka tidak hanya terbatas pada kalangan keluarga dalam pesantren saja, tetapi juga menjangkau warga pesantren yangadadidaerahdaerah,danluarnegeri. Kekompakan tersebut antara lain tampak pada diumumkannya beritaberita organisasi pada setiap salat Jumat di mesjid raya pesantren, menyangkut beritaberita: gembira, sedih dan sebagainya. Misalnya berita tentang keberhasilan belajar dari santri Gontor yang sedang belajar di Mesir, Pakistan, Saudi Arabia dan sebagainya, atau berita duka, seperti sakit, meninggal dan sebagainya. Hal yang demikian itu, di samping melalui pengumumanpengumuman di saat salat Jumat, juga dimuat dalam majalah dinding, majalah pesantren dan mediamedia cetak lain. Mengenai gambaran disiplin dalam tata pergaulan di PP Gontor dapat disaksikan antara lain: ketatnya program pelajaran bahasa Arab dan Inggris, di mana santri setiap hari wajib berbicara dengan menggunakan bahasabahasa tersebut, dilarang menggunakan bahasa daerah. Bahasa Indonesia biasanya digunakan jika melayani tamutamu. Kedisiplinanjugatampakpadaacaraacaraantri:mandi,makan,berpakaiandansebagainya(lihaturaian selanjutnya mengenai lingkungan dalam kehidupan PP Gontor, halaman 120126). Begitu ketatnya disiplin yang berlaku di PP Gontor, sehingga cenderung diperoleh kesan bahwa santri serba diatur dan sangat sedikit kesempatan bagi santri untuk berlaku bebas di luar waktuwaktu yang ditentukan dalam tatatertibpondok. Selain itu, pimpinan pondok saat ini adalah generasi kedua sete1ah pendiri, dua dari trimurti berumur muda, sekitar 4550 tahun, berpendidikan universitas, salah satunya menyelesaikan masternyadiluarnegeri,danyangseoranglagiberumursekitar6070tahun,alumniPPGontor. Dalam situasi seperti itu maka gaya kepemimpinan di PP Gontor adalah kombinasi antara gayagaya kepemimpinan: birokratik, diplomatik, paternalistik. Sebagai pimpinan dalam kubu keagamaan,makajugaterkesanadanyajeniskepemimpinanyangbergayakarismatikkeagamaan. Gaya yang terakhir ini terasa dipengaruhi oleh jenis karismatik pendiri yang amat besar, terutama karisma K.H. Imam Zarkhasyi dan K.H. Ahmad Sahal. Ajaran dan katakata nasihat dari kedua tokoh ini selalu dicetak ulang dan merupakan bacaan yang wajib dibaca dan ditaati oleh setiapsantri. Dari uraian mengenai keenam gaya kepemimpinan pesantren tersebut, dapat diturunkan beberapabutirpengertiansebagaiberikut: 1. Jenis kepemimpinan pesantren adalah karismatik keagmnaan, yang untuk selanjutnya disebut karismatik, yang berbeda dengan kar'ismatik keilmuan, yang untuk selanjutnya disebutjeniskepemimpinanrasional.

32 2. Pada dasarnya gaya kepemimpinan pesantren adalah kombinasi dari gayagaya kepemimpinanpesantren:karismatik,otoriterkebapakan,danLaisserFaire. 3. Terdapat perbedaan gradual antara gaya kepemimpinan pesantren yang satu terhadap yanglain,danadanyakecenderunganperubahansebagaiberikut: a. DarijenisKarismatikmenujukeRasional. b. DariOtoriterKebapakanmenujukeDiplomatikPartisipatif. c. DariLaisserFairemenujukeBirokratik. Tetapiperjalananperubahantersebutbelumsampaimemasukidaerahgayakepemimpinan yang baru, kecuali perubahan gaya kepemimpinan dari Laisser Faire ke Birokratik, pada beberapa pesantren tampak ketat dengan peraturan tertulis yang telah ditetapkan, jadi jika digambarkan dalam satu garis lurus yang kontinum, maka gambaran itu lebih kurang sebagai berikut. Misalnya perubahandariKarismatikkeRasional,modelperubahantersebutbelumsampaimemasukidaerah jenis kepemimpinan Rasional, masih berada dalam daerah gaya kepemimpinan Karismatik, demikian pula halnya dengan perubahan gaya kepemimpinan OtoriterPaternalistik ke Diplomatik Partisipatif. Jika dituangkan dalam bentuk diagram perubahan, maka diagramnya lebih kurang sebagai berikut: (a) Diagram posisi keenam pesantren dalam perubahan jenis kepemimpinan Karismatik ke Rasional.

Keterangan : 1. Makin ke kanan posisi pesantren, makin kecil jenis kepemimpinan Karismatik, dan makin besar jenis kepemimpinan Rasionalistik. 2. Rata-rata gaya kepemimpinan adalah: - Karismatik > 50 - Rasionalistik < 50

33 3. Nomor urut nama-nama Pondok Pesantren: (1) Sukorejo, (2) Blok Agung, (3) Guluk-Guluk, (4) Paciran, (5) Tebu Ireng, (6) Gontor. (b) Diagram posisi keenam pesantren dalam perubahan gaya kepemimpinan dari Otoriter - Paternalistik ke Diplornatik - Partisipatif

1. Makin ke kanan posisi pesantren makin kecil gaya kepemimpinan Otoriter - Paternalistik, makin besar gaya kepemimpinan Diplomatik - Partisipatif. Rataratagayakepernimpinan: OtoriterPatemalistik>50 DiplomatikPartisipatif<50 Nomorurutnamanamapondokpesantren:

34 (1) Sukorejo,(2)BlokAgung,(3)GulukGuluk,(4)Paciran,(5)TebuIreng,(6)Gontor. (c) Diagram posisi keenam pesantren dalam perubahan gaya kepemimpinan dari Laisser Faire keBirokratik. (0) Keterangan: 1. Makinkekananposisipesantren,makinkecillLaisserFaire,danmakinbesarBirokratik. 2. Rataratagayakepemimpinan: Birokratik<50 LaisserFaire>50 3.Namanamagayakepemimpinanmerekaadalah: (1)GulukGuluk,(2)BlokAgung,(3)Sukorejo,(4)TebuIreng,(5)Paciran,(6)Gontor. BIROKRATIK 1 2 3 4 5 6 50 100

35 (4)SuksesiKepemimpinan Estafet pergantian kepemimpinan pesantren, terutama pada pesantren milik pribadi adalah darike: pendirianakmenantucucusantri senior. Artinya: Ahli waris pertama adalah anak laki Iaki, yang senior dan dianggap cocok oleh kiai dan oleh masyarakat untuk menjadi kiai, baik dari segi kealimannya maupun dari segi kedalaman ilmu agamanya. Jika hal ini tidak mungkin, misalnya karena pendiri tidak punya anak lakilaki yang cocok untuk menggantikannya, maka ahli waris kedua adalah menantu, kemudian sebagai ahli waris ketiga adalah cucu. Jika semuanya itu tidak mungkin, maka ada kemungkinan dilanjutkan oleh bekas santri senior. Tetapi biasanya santrilebihsukamendirikanpesantrensendiri,danbilahaliniterjadimakaberakhirlahpesantren yang bersangkutan karena tidak ada yang meneruskannya. Misalnya riwayat pergantian PP Tebu Ireng: Diawali dari PP Nggedang, yang didirikan oleh kiai Usman pada pertengahan abad ke19. Kemudian dilanjutkan oleh menantunya kiai Asy'ari, dengan mendirikan pondok baru di Desa Keras, pada tahun 1876an, dan popularitas pondok Nggedang menjadi menurun yang akhirnya mati. Kemudian diganti oleh putranya Muhammad Hasyim, dengan mendirikan pesantren baru, yang kemudian terkenal dengan nama Pondok pesantren Tebu Ireng pada tahun 1899. Dengan munculnya Pondok Pesantren Tebu Ireng di bawah pimpinan K.H. Hasyim Asy'ari, popularitas Pondok Pesantren Keras menurun dan akhirnya mati. K.H. Hasyim Asy'ari kemudian digantikan oleh K.H.A. Wahid Hasyim (19471950). Kemudian, karena K.H A. Wahid Hasyim pindah ke Jakarta sehubungan dengan kesibukan di Jakarta, maka diganti oleh saudaranya, yaitu K.H.A. Karim Hasyim (19501951). K.H.A. Karim Hasyim hanya sempat menduduki kepemimpinan selama 1 tahun, karena meninggal, maka diganti oleh saudara iparnya. yaitu K.H.A. Baidhawi (19511952). K.H.A. Baidhawi diganti lagi oleh keturunan pendiri, yaitu K.H.A. Khaliq Hasyim (19521965). K.H.A. Khaliq Hasyim meninggal, digantikan oleh saudaranya H.M. YusufHasyimdaritahun1965sampaisekarang. Riwayat pergantian pimpinan Pondok Pesantren Sukorejo: dari pendiri pertama K.H. Raden Syamsoel Arifin (19141951) kemudian diganti oleh putranya K.H Raden As'ad Syamsoel Arifin (1951 sekarang),dansekarangsudahdisiapkancalonpenggantinya,yaituputranyayangsaatinibaruberumur sekitar15tahun. Riwayat pergantian pemimpin Pondok Pesantren GulukGuluk dari generasi pertama (K.H. Syarkawi, 1887) sampai pimpinan sekarang, merupakan generasi ketiga dan keempat dipimpin oleh K.H. Amir Ilyas. Pondok Pesantren Blok Agung dan Paciran sampai saat ini masih dipimpin oleh generasi pertama, tetapimerekajugasudahmenyiapkanpenggantinya,yaituputramerekasendiri. Demikian dalam kenyataannya, pengganti kepemimpinan pesantren adalah keturunan dari pendiri, paling tidak mengikuti garis estafet seperti digambarkan di atas. Hal yang demikian itu tidak hanya berlaku bagi pesantren milik pribadi tetapi juga masih berlaku bagi pesantren milik institusi. Meskipun sceara resmi sudah ada ketentuan bahwa ahli waris pendiri tidak dengan sendirinya menjadi pengganti. Misalnya suksesi kepemimpinan Pondok Pesantren Gontor: saat ini dua dari tiga trimurti pimpinan

36 Pondok Pesantren Gontor adalah keturunan langsung dari pendiri. Hal ini terjadi: (a) Karena masih dekatnya periode dari generasi pertama (pendiri) ke generasi kedua (pimpinan sekarang), jadi pengaruh daripendirimasihterasasangatberpengaruhdansekaligussebagaipernyataanterimakasihdanhormat kepadapendiri,dan(b)Karenaduadaritigatrimurtisekarangadalahmemilikitingkatpendidikantinggi, satudaripadanyaadalah"MasterofArts"dariluarnegeri.Jadidengankatalain,suksesiitukarenafaktor pendidikandanketurunan.Tampaknyauntukmasamasaselanjutnya,keturunandaripendiriakantetap kuatmendudukijabatankepemimpinanpesantren,karenapendidikanmerekamemangtinggi,yangsaat ini sedang menyelesaikan pelajarannya di berbagai universitas di Timur Tengah: Mesir, Pakistan, Saudi Arabia, dan sebagainya. Meskipun demikian, faktor pendidikan makin lama makin kuat dan akan menggeser faktor keturunan. Demikian pula dengan status pemilikan pesantren; tampaknya status milikinstitusiakansemakinkuatdanmerupakankebutuhandibandingdenganstatusmilikpribadi. 2.4.LingkunganKehidupanPesantren Konsep lingkungan kehidupan di sini meliputi lingkungan kehidupan masyarakat dalam pesantren, baik lingkungan fisik maupun lingkungan non fisik, yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pembentukan dan perkembangan kepribadian anak didik atau santri. Kepribadianindividudankelompokdibentukolehlingkungankehidupanyangmengasuhnya.Dalam lingkungan kehidupan, perilaku individu dan kelompok diseleksi, dispesialisasi, dan distratifikasi: apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang wajib dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan, serta apa yang seyogianya dilakukan dan apa yang seyogianya ditinggalkan. Suatu kebiasaan yang secara terusmenerus dialami oleh seseorang dari tahun ke tahun selama 24 jam setiap harinya, akhirnya membentuk kepribadian, dan jika hal itu te1ah diterima menjadi nilai kehidupan bersama, maka sejak itu terbentuklah kepribadian kolektif yang sukarsekalidiubah. Pembahasan mengenai lingkungan kehidupan dalam bab ini bertolak dari teori pengaruh lingkunganterhadappembentukandanpengembangankepribadiantersebut. JawaTimurmerupakandaerahkonsentrasipesantrenkeduasesudahJawaBarat.Menuruthasil pendataan Departemen Agama tahun 1984/1985. jumlah pesantren di enam kabupaten di mana keenam pesantren objek penelitian ini berada adalah: Di Kabupaten Sumenep, tempat PP Guluk Guluk, ada 129 buah pesantren, dengan jumlah santri: 29.781 orang, dan kiai atau ustaz yang mengajar sebanyak 900 orang. Di Kabupaten Situbondo, asal daerah PP Sukorejo, ada 75 pesantren, dengan jumlah santri: 14.781 orang, dan kiai atau ustaz yang mengajar 293 orang. Di Kabupaten Banyuwangi. daerah asal PP Blok Agung ada 99 pesantren, dengan jumlah santri: 15.922 orang, dan kiai atau ustaz yang mengajar 174 orang. Di Kabupaten Jombang ada 37 pesantren, dengan jumlah santri 9.463 orang, dan kiai atau ustaz yang mengajar 174 orang. Di Kabupaten Lamongan daerah asal PP Paciran, ada 46 pesantren dengan jumlah santri: 18.132 orang dan kiai atau ustaz yang mengajar 681 orang, dan di Kabupaten Ponorogo daerah asal PP Gontor, ada 17 pesantren,denganjumlahsantri:7.256orang,dankiaiatauustazyangmengajar76orang.

37 Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jawa Timur dapat digolongkan menjadi 3 wilayah budaya Islam: (a) Pesisir; meliputi: Bojonegoro, Tuban, Pasuruan. Sifatnya terbuka dan "bergerak" atau mobile (b) Madura., meliputi: Madura, Gresik, Surabaya, dan Banyuwangi bagian Utara dan Timur. Sifatnya: sama dengan daerah pesisir. (c) Pedalaman, meliputi: Banyuwangi Selatan dan Barat, Jember Selatan, Lumajang, Malang Selatan. Blitar, Pacitan, Trengga1ek, Jombang, Tulung Agung, Kediri, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, sampai daerah perbatasan Jawa Tengah. Sifatnya: agrarisdan"diam"atauunmobile,sertabercampurdenganmistikJawa 10 . Dengan demikian, PP GulukGuluk termasuk dalam wilayah budaya Pesisir dan Madura, PP Blok Agung dalam wilayah budaya pedalaman, PP Tebu Ireng dalam wilayah budaya pedalaman, tetapi karena cepatnya pertumbuhan kotakota Surabaya, jombang, Kediri dan kotakota di sekitarnya, maka PP Tebu Ireng masuk dalam wilayah budaya PedalamanPerkotaan, sedang PP Blok Agung tersebut berada dalam wilayah budaya pedalamanPedesaan. PP Paciran berada dalam wilayah budaya Pesisir, danPPGontorberadadalamwilayahbudayaPedalamanPedesaan. a.PPGulukGuluk

a.I.Lingkungankehidupanmasyarakatluarpesantren Masyarakat Madura dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat, menghormati kiai atau ulama dan pesantren. Pulau Madura merupakan daerah konsentrasi pondok pesantren dan madrasah yang besar 11 . Pondok pesantren GulukGuluk terletak di desa GulukGuluk, kecamatan GulukCuluk, Kabupaten Sumenep.jarakantarapesantrendankotaSumenepsekitar25km.Letak pesantrendarijalanrayayang menghubungkan antarkota kabupaten (masuk ke dalam desa GulukGuluk) sekitar 10 km. Hampir di setiappelosokdesa terdapatkelompokkelompok pengajian,seperti: Tahlilan, Ya.sinan,danmajelismajelis taklim lainnya. Di desa GulukGuluk sendiri terdapat 11 buah mesjid, 9 di antaranya dipergunakan salat Jumat, dan 30 musala. Ratarata setiap kelompok pengajian beranggotakan 3010 orang dan bergerak di bidangubudiahyangbersifatakhirat,artinyaberorientasipadakehidupanakhirat.

10

LIPI,Nadhar(Jurnallaporanpenelitian),seri7,Juli1987,hlm.3.

MenurutdatapemetaanwilayahsosialkeagamaandiMaduratahun1974:jumlahpesantrendiMadura ada 2281 buah, sekolah umum 731 buah; 60% penduduk melek huruf Arab, 50% melek huruf Latin. Dalam tahun 1984 terdapat 6 SD negeri, dan 1 SMP, 7 Ibtidaiyah, 1 Tsanawiyah, dan 2 Aliyah. (dalam bukubuku M. Dewan Rahardjo,ED,PesantrendanPengembanganMasyarakat,LP3ES,Jakarta,1974,hlm27).

11

38 Lingkungan fisik masyarakat sekitar pesantren pada umumnya: tanahnya gersang, berbukitbukit, dan bertanah kapur yang sulit diresapi air. Sebagian besar (75%) merupakan tanah tegalan yang kurang subur ditanami tembakau dan silih berganti waktu dengan tanaman jagung yang sangat bergantung padamusim. Sisanya (25%) berupa tanah pekarangan dan sawah tadah hujan. Mata pencaharian penduduk: sebagian besar bertani (65%) dengan tanah garapan ratarata 0,13 ha, sebagian kecil (3%) pedagang, pegawainegeri,gurudanABRl,sedangsebagianbesar(32%)adalahpenganggur,dalamartitidakmemiliki pekerjaan tetap, termasuk di dalamnya buruh tani. Melengkapi keadaan tanah yang gersang dan sulit air, serta kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang ratarata rendah 12 , keadaan kehidupan menjadisemakinrisaukarenadidalammasyarakatbanyakpendudukyangterllibatdengansistemgadai tanahdanutangdariparapelepasuang,terutamapadasaatsaatmenjelangtanamtembakau. Kondisi kehidupan yang miskin tetapi taat menjalankan agama dan menghargai kiai dan pesantren, merupakan suatu kesempatan tersendiri bagi pondok pesantren GulukGuluk untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat guna melaksanakan misinya menyebarkan agama dan memperolehdukunganmasyarakat. Gambaran hormat masyarakat Madura kepada kiai dan pesantren tersebut dapat dilukiskan sebagai berikut: Jika mereka (penduduk desa) bertemu dengan kiai di tengah jalan, dan mereka sedang tidak memakai peci, maka jika mereka bersalaman dengan kiai, tangan kanannya menjabat tangan kiai, sedang tangan kirinya memegang kepalanya sendiri sebagai ganti peci Apabila mereka sedang naik sepeda atau mengendarai sepeda motor dan bertemu atau melewati di muka kiai, maka mereka turun danmemberikanhormatkepadakiai.Sebaliknya,jikakiaisedangberjalanmelewatimereka,yangsecara kebetulan sedang dudukduduk dan berbincangbincang di pinggirpinggir jalan, misalnyapada sore hari sekitar jam 17.30, maka mereka spontan berdiri dan memberi jalan serta hormat kepada kiai dengan sikapmenundukdantangandilipatkebawahataungapurancang.Bagiparaperantauyangmerantaudi kotakota besar di Jawa, bila mereka sedang berkunjung pulang ke rumah (kampung halaman), mereka mempunyai kebiasaan bersilaturahmi (berkunjung) ke kiai dan pesantren. Kecuali itu, banyak pejabat dan rakyat biasa, yang datang menghadap kiai untuk minta doa, obatobatan, minta "ijazah", fatwa keagamaan, dan berkonsultasl mengenai berbagai masalah kehidupan dari mengerjakan halhal kedinasan,sampaikesoalsoalmencarijodohataumengawinkananak,mencarisekolahsampaimencari pekerjaandanmembahaskematian.

Menurutdatapemetaanwilayahsosialkeagamaandarisumberyangsama:Drs.DawamRahardjo,Ibid; dalam tahun 1980: desa GulukGuluk yang luasnya 1.668.955 ha dihuni oleh 16.240 jiwa yang tergabung dalam 2320 KK. Dari jumlah tersebut tercatat usia sekolah 8.507 jiwa dengan perincian; 4.730 jiwa ( 55%) tidak bersekolah, 712 jiwa (8,36%) tidak tamat SD, 3008 jiwa (35%) tamat SD, dan hanya sekitar 1% lebih sedikit tamat sekolahlanjutandanperguruantinggi.
12

39 Memanfaatkan kondisi lingkungan seperti itu, Pondok Pesantren GulukGuluk mengembangkan pengabdian masyarakatnya dengan membentuk Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) sejak tahun 1979. Dengan menggunakan pendekatan bahasa agama, Pondok Pesantren GulukGuluk mengajak masya rakat bangkit kembali dari "tidur akhiratnya" untuk memikirkan dan menanggulangi berbagai masalah kehidupan yang mereka hadapi seharihari secara bersamasama. Yang dimaksud dengan pendekatan bahasa agama ialah pendekatan melalui kelompokkelompok pengajian tersebut di atas. Seusai penga jian (tahlilan, membaca Yasin, zikir, dan sebagainya), diisi dengan penjelasanpenjelasan mengenai berbagai ajaran agama yang berkenaan dengan tugas dan tanggung jawab manusia dalam hidup keseharian. Misalnya: Nasib manusia tidak akan berubah menjadi baik dan maju, jika manusia sendiri tidak berusaha mengubahnya. Agama menyuruh kerja sama dan tolongmenolong (taawun) dalam hidup bermasyarakat; antara lain dengan melakukan kewajiban membayar zakat, menyisihkan sebagian rezeki yang diperolehnya untuk diberikan kepada fakir miskin, karena di dalam setiap rezeki yang diperolehnya itu ada bagian (milik) orang lain, yaitu si miskin, yang harus dibayarkan kepada yang berhak. Penjelasanpenjelasan semacam ini kemudian diikuti dengan perluasan kerja kelompok, dari hanya mengurusi halhal yangberkenaan dengan kepentingan ukhrawi, juga rnengenai halhal konkret yangmenjadikebutuhansetiapharidalamkehidupanduniawi. Mulamula Pondok Pesantren GulukGuluk mengarahkan perhatiannya untuk mengatasi kesulitan air, baik untuk kepentingan rumah tangga maupun untuk mengairi ladangpekarangan. Kegiatan ini langsung dipimpin oleh salah seorang kiai dengan didampingi oleh santri seniornya, yang jugamenjadisalahseorangustaz.Merekamelacaksumbermataairsampaisejauh4kmyangterletakdi desa Rembang, suatu desa miskin yang terlelak di lereng pegunungan. Melalui kerja sama dengan berbagaipihak,baikpemerintahmaupunlembagalembagaswasta,baiktingkatlokal,nasional,maupun internasional, akhirnya mereka berhasil menemukan sumber mata air yang dicari, sehingga dapat mengairi ladang penduduk setempat. Keberhasilan ini menggema ke desadesa sekitarnya sampai menjangkau radius sejauh 11 km ke desa Pekamban Dayah, dan mengundang tokohtokoh desa tersebut untuk datang berkonsultasi dan mengajak Pondok Pesantren GulukGuluk bekerja sama untuk melakukanhalyangsama. SampaisaatinitidakkurangdaritujuhpompaairyangtelahdidirikanolehPondokPesantrenGuluk Guluk bekerja sama dengan berbagai pihak, dan tersebar di tiga daerah kecamatan. Banyak desadesa yang sudah memiliki penerangan listrik, kamar mandi, kakus, dan sebagainya. Karena hal itu sernua maka pada tahun 1981 Pondok Pesantren GulukGuluk memperoleh hadiah Kalpatmu dari pemerintah pusat. Kecuali pengairan, PP GulukGuluk juga bergerak di bidang pengembangan masyarakat lainnya melalui usaha pembebasan tanah rakyat kecil yang tergadaikan kepada pelepas uang, dengan jalan membentuk koperasi simpan pinjam, pengadaan pupuk dan sebagainya, yang antara lain seperti tersebut dalam Lampiran 8 tentang daftar kegiatan BPK PP GulukGuluk lengkap dengan lembaga lembagaswadayamasyarakatdanpemerintahyangmendukungnya.

40 Keberhasilan PP GulukGuluk di bidang pengabdian masyarakat tersebut menyebabkan PP Guluk Guluk dikenal sebagai pusat pengembangan mayarakat sekitarnya melalui dakwah bil hal, yang kemudianmenjadicirikhasnyadikalanganduniapesantren. Tetapi karena BPM tersebut langsung dipimpin oleh kiai dan ustaz, maka secara edukatif santri kurangikutsertaterlibat didalamnya, karenamerekamerasasegansebagaiakibatrasaterlalutawaduk mereka terhadap kiai dan ustaz. Dengan demikian, sesungguhnya keberhasilan PP GulukGuluk tersebut adalah dalam arti: yang berhasil pesantrennya sebagai lembaga, bukan proses belajar mengajar yang dialami oleh santrinya. Menyadari hal ini maka sejak tahun 1987/1988 ini kegiatan tersebut mulai dialihkanuntukditanganisecaralangsungolehsantrimelaluikegiataninternorganisasimerekasendiri a.2.Lingkungankehidupanmasyarakatdalampesantren Situasi kehidupan dalam PP GulukGuluk antara lain dapat digambarkan sebagai berikut: Luas kampuspesantrensekitar5ha,diatasnyaberdirisejumlahbangunanantaralain:2rnesjid,6rnusala,42 ruang kelas, 485 pondok (kamar) santri (berupa rumahrumah kecil dibuat dari kayu dan bambu, terdiri atas satu ruangan atau satu kamar dengan teras, dan dibuat sendiri oleh santri), 1 aula, 1 toko koperasi santri,1ruangperpustakaan,1kantor,1ruangtamu,1tamankanakkanak,dan1ruangpusatinformasi pesantren. Jenis pendidikan yang diselenggarakan adalah "Pesantren" (pendidikan non formal) dan Madrasah (pendidikan formal) yang terdiri atas: Taman Kanakkanak, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Sekolah Tinggi I1mu Syariah (Hukum Islam) dan Tarbiyah (Pendidikan Islam). Sejak Ibtidaiyah, penyelenggaraan madrasah dilaksanakan secara terpisah antara kelas putra dan putri. Madrasah dikelompokkan menjadi 2 ke1ompok: madrasah I diselenggarakan dalam kampus pesantren dan siswanya tinggal di dalam pesantren (santri mukim), dan madrasah II diselenggarakan di luar kampus pesantren dan santrinya tidak tinggal di pesantren, tetapi di rumah masingmasing (santri kalong). Kurikulum Madrasah I: 70% agama dan 30% umum, sedang kurikulum Madrasah II: 70% umum dan 30% agama; di samping itu murid dari Madrasah I, karena mereka tinggal di dalam kampus pesantren, mengikuti jenis pendidikan "pesantren", yaitu mengikuti pengajian kitab kuning, dan kegiatankegiatan ubudiah lainnya, seperti salatjemaah,membacaAlquran,dansebagainyaselama24jamdalamkehidupanpesantren. Seperti disebutkan di muka, PP GulukGuluk merupakan pesantren federal terdiri atas 4 pesantren; masingmasing pesantren daerah ini memiliki program pengajian kitabkitab kuning, dan kegiatan kegiatan ubudiah lainnya, masingmasing pesantren memiliki programnya sendirisendiri. Meskipun demikian, santri dari pesantren yang satu bebas mengikuti pengajianpengajian yang diselenggarakan oleh pesantren yang lain sesuai dengan waktu dan tingkat pengajian kitab yang dimiliki oleh santri yang bersangkutan.Jumlahsantridarike4"pesantrendaerah"tersebutadalah:(a)PesantrenLubangsaRaya: 798 putra dan 299 putri, dengan 226 kamar, (b) Pesantren Latee: 615 putra dan 334 putri, dengan 169 kamar, (c) Pesantren Nirmala: 74 putra dan 57 putri, dengan 33 kamar dan, (d) Pesantren Lubangsa Selatan: 100 putra dan 0 putri, dengan 30 kamar. Dengan demikian, maka jumlah santri yang ada di

41 dalam pesantren 2387 orang, terdiri atas 1597 putra dan 690 putri, dengan jumlah kamar 458; jadi kepadatan kamar ratarata 45 orang per kamar, sedangkan ukuran kamar ratarata 2x3 m, jadi kondisinya padat sekali. Dalam kepadatan kamar seperti itu, maka fungsi kamar praktis hanya untuk menyimpan barangbarang seperti koper, pakaian dan sebagainya, dan untuk istirahat dalam waktu waktu tertentusecara bergantian.Pada umumnya sanin belajar dan tidur di luar kamar, seperti serambi mesjid, musala, dan sebagainya. Keadaan udara yang agak panas, menjadikan mereka nyaman tidur di luarkamardenganberlantaikanubin. Padaumumnya,santri(75%)datangdaridaerahKabupatenSumenepdanselebihnya(25%) dari berbagai daerah lain, seperti: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Surabaya, Lamongan, Situbondo, Jember, Bali,Jawa Barat, dan Kalimantan. Jumlah santri yang tinggal di pesantren ada sekitar80% atau 1 orang yang biasanya disebut santri mukim, 20% atau 457 orang tinggal rumah masingmasing, disebut santri kalong. Adapun jumlah perbandingan santri jika dilihat dari jenis pendidikan yang diikuti adalah: hanya sekitar 50 santri dari seluruh santri (tidak termasuk murid TK) yang mengikuti pendidikan "pesantren"tanpamerangkapbelajardimadrasah,jadihanya Sekitar1,6%,sedangselebihnya98,04%disampingbelajardimadrasahmerekamengikutipengajian kitab dan programprogram ubudiah yang diselenggarakan oleh pesantren, terutama bagi mereka yang tinggal di dalam pondok. Dengan kata lain: seluruh santri mengikuti kegiatan "pendidikan pesantren" (mengaji kitab kuning) yang bersifat non formal, tetapi tidak semua santri mengikuti program pendidikan formal (madrasah), dan dengan demikian dalam kegiatan proses belajarmengajar, tampak adanya integrasi antara pendidikan non formal (pesantren) dan formal (madrasah): mereka saling melengkapisatusamalain. Mengenai kehidupan santri seharihari dalam pesantren, dapat digambarkan sebagai berikut: para santri mengurus dirinya sendiri, dari sejak mendirikan pondok (kamar) sampai pada memenuhi kebutuhan hidup seharihari, seperti: memasak, cuci pakaian, bahkan ada yang sambil kerja. Pada umumnya kedatangan santri ke pesantren diantar oleh keluarganya dengan dibantu oleh sejawatnya dari kampung membawa sarana pembangunan dan mendirikan pondok di atas lokasi yang telah disediakan oleh pesantren. Ada juga yang datang karena dibawa teman atau saudaranya yang telah lebih dulu menjadi santri sehingga mereka langsung dapat bergabung tempat (kamar) yang sudah ada. Tidak ada pembatasan waktu kapan santri harus datang, pergi, dan berapa lama ia harus tinggal di pesantren; tetapi ada batasan waktu pendaftaran dan lama belajar di madrasah. Dengan demikian terdapat pertemuan antara cara pendidikan tradisional (pesantren) dan cara pendidikan modern (madrasah), atau dengan kata lain: telah terjadi jenis pendidikan formal diselenggarakan dalam iklim kehidupanpendidikannonformal. Para kiai menyadari bahwa santrinya memerlukan ijazah negeri sebagai syarat untuk meniti karier selanjutnya, baik untuk melanjutkan belajar maupun untuk bekerja. Tetapi mereka juga tetap pada pendirian bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan untuk mendalami ilmuilmu agama dan mengamalkannya dalam perilaku seharihari, dengan demikian kiai menghadapi masalahmasalah: antara mempertahankan identitas dan membuka diri untuk menerima kenyataan. Jalur Madrasah

42 (sekolah formal) merupakan jembatan yang menghubungkan dunia pesantren dengan Sistem Pendidikan nasional, karena melalui jalur sekolah formal tersebut para santri dapat melanjutkan belajarnya ke sekolahsekolah lain yang jenjangnya lebih tinggi, baik ke lAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang sangat menjadidambaanmereka(karenalAINmemangmerupakanjaluryangpalingmemungkinkanmenerima merekadibandingkandenganperguruantingginegerilainnya),maupunkeuniversitas. Jadwalkegiatansantriseharihariadalah: Jadwalhidupkesehariansantriselama24jam, PondokPesantrenGulukGuluk
No. 1. Jam 03.30-04.30 Kegiatan Bangun pagi, siap diri, membaca Alquran, wirid, puji-pujian, menunggu salat berjemaah subuh di mesjid

2.

04.30-04.50

Salat subuh berjamaah.

3.

04.50-05.30

Mengaji Alquran di bawah bimbingan ustaz menurut tingkat masing-masing, mengaji kitab kuning dengan bimbingan kiai.

4.

05.30-06.15

Bergotong royong membersihkan lingkaungan sekitar pondok pesantren atau pekerjaan-pekerjaan lain. Sebagaian melanjutkan mengaji kitab.

5.

06.15-07.00

Siap diri (mandi-mandi, dan sebagainya) sekolah (madrasah)

43

6.

07.00-12.00

Masa belajar di Madrasah

7.

12.00-13.00

Memasak, bersih diri, makan.

8.

13.00-13.30

Mengaji Alquran, dilanjutkan dengan salat Zuhur berjemaah.

9.

13.30-15.00

Istirahat, melakukan perkerjaan lain yang bermanfaat.

10.

15.00-16.00

Bersiap diri salat Asar berjemaah.

11.

16.00-17.30

Masuk sekolah diniyah.

12.

17.30-18.00

Bersiap diri ke mesjid, musala, salat Magrib berjemaah.

13.

18.00-18.45

Masuk sekolah diniyah (lanjutan).

14.

18.45-19.00

Bersiap diri salat Isya berjemaah.

15.

19.00-19.15

Waktu salat Isya berjemaah.

16.

19.15-21.30

Mengaji kitab menurut tingkat masing-masing, belajar kelompok kegiatan organisasi daerah masing-masing.

17.

21.30-22.30

Memasak, makan, belajar sendiri, siap-siap masuk tidur dan sebagainya.

18.

22.30-03.30

Istirahat, tidur.

44

19.

03.30-04.30

Kembali seperti kegiatan hari kemarin.

Setiap salat wajib berjemaah diimami oleh kiai sendiri. Para kiai memimpin langsung pengajianpengajian kitab kuning di daerah pesantren masingmasing, dan masingmasing kiai membawakankitabkitabtertentusesuaidenganbidangnyamasingmasing.Pengajiandiadakandi luarjamjambelajarresmidimadrasah,biasanyapadawaktusesudahsalatwajib,disorehariatau malamhari.Masingmasingkiaisudahpunyajadwalsendirisendiri. Sebelum dan sesudah salat berjemaah mereka (santri) melakukan salat sunnah, membaca puji pujian, membaca Alquran, wirid atau doadoa lainnya. Tentu saja tidak semua salat wajib didahuluidandiakhiridengansalatsunnah. Hari Jumat adalah hari libur, sehingga sangat terasa kegembiraan mereka pada hari Kamis sore, malam, danJumat pagi sampai menjelang siapsiap diri salat Jumat, dan sore sampai malam harinya siapsiap menyongsong hari belajar di minggu kedua. Biasanya hari Jumat itu diisi dengan kegiatankegiatan mencuci pakaian, membersihkan kamar dan lingkungan, berbelanja, olah raga, atau kerja bakti secara umum untuk memperbaiki kampus pesantren, halaman mesjid dan sebagainya, sesuai dengan keperluan. Para santri pergi ke perbukitan sekitar pondok mereka untuk mengambil batu kapur guna mengeraskan jalan kampus atau halaman mesjid tersebut. Sangat menarik perhatian karena ribuan santri mengambil batu dengan cara membawanya yang bermacammacam pula: dibungkus sarung, sajadah, handuk, dibawa dengan tangan telanjang dan sebagainya. Dengan diambilnya batubatu kapur keras tersebut sekaligus berarti membuka lahan untuk tanaman lain yang lebih bermanfaat, karena dengan demikian tanah menjadi lebih gembur sehinggadapatditanamijagung,ataupepohonanlain(akasia)dansebagainya. "Gugur gunung' seperti itu tanpa diiringi kiai atau ustaz. Mereka mengatur diri mereka sendiri. Pimpinan atau lurah pondok hanya mengatakan pentingnya mereka mengambil batu untuk mengeraskan jalanan atau halaman mesjid. Tetapi pada saat batubatu telah bertumpuk kiai secara langsung ikut bekerja bersama mereka mengeraskan jalan atau halaman mesjid tersebut. Dengansuasanakerjayangsepertiitusantrimerasaikutsertamemilikikampusmereka. Di samping jadwal kegiatan selama 24 jam, santri harus menaati tata tertib pesantren. Keempat daerah pesantren di GulukGuluk memiliki tata tertib sendirisendiri, namun terdapat kesamaandiantaramereka,seperti:

45 1. Santri diharuskan mengikuti salat wajib berjemaah di mesjid atau musala dan tidak meninggalkannyasebelumdoabersama. 2. Santri diharuskan bersekolah dan mengaji kitab, sekurangkurangnya dua kali dalam sehari semalam. 3. Santri harus mendapat izin bila hendak meninggalkan pesantren dalam waktu lebih dari satu malamdanmelaporkembalibilapulangkepesantren. 4. Santri tidak boleh membeli makanan dan minuman atau jajan dan dimakan di warung di luar pesantren,kecualidalamjaraklebihdari6km. 5. Santritidakbolehmenontonatauhiburandiluarpesantren. 6. Santritidakbolehnongkrongataududukduduksambilngobroldijalanataudipinggirjalan. 7. Santritidakbolehberambutgondrongdanbilakeluarpesantrenharusberpakaianrapi. 8. Santritidakbolehmenyetelradio,kecualiwaktuberita. 9. Kalausantrimandiditempatumumharusmemakaitelasan,yaitukainsarung. 10. Santri tidak boleh memasak nasi di kamar, mereka harus memasak di dapur umum, dan tidak boleh memasakpadawaktumenjelangMagribdansesudahjam23.30. 11. Santriharusmembayariuranpesantren. 12. Santriharusmenjagakebersihandanmembuangsampahditempatyangsudahdisediakan. Dari jadwal kegiatan dan tata tertib tersebut tampak bahwa santri ditempa oleh hidup keberagamaan dalam arti belajar dan beribadah secara ketat dari hari ke hari. Kegiatan atau kebiasaan mereka sangat berbeda dengan kebiasaan hidup masyarakat umum di sekitar mereka, sehingga pesantren disebut sebagai subkultur dari masyarakat lingkungannya. Kegiatan kehidupan mereka terpaku dalam struktur waktu ibadah, yaitu lima kali sehari semalam, Suasana yang seperti itu membawa mereka pada suatu kesepakatan bahwa hidup kolektif dan menjauhkan sifat mementingkan diri sendiri adalah jalan terbaik untuk mengatasi masalah mereka, dengan kata lain: memupuk kebersamaandanmenjauhipersainganataukonflikmerupakansikapdanperilakuyangterpuji. Dengan demikian, dari analisis mengenai lingkungan luar dan dalam dari Pondok Pesantren Guluk Guluk tersebut dapat diperoleh tiga butir sistem pendidikan pesantren yang penting untuk dikembangkandalamperspektifsistempendidikanpesantren,yaitu: (1) Pendekatan melalui bahasa agama untuk mengajak rakyat menanggulangi atau memperbaiki nasibmerekasendiri. (2) Penciptaan "budaya" kependidikan yang mampu mengexposed anak didik kepada budaya yang dianggap baik secara terusmenerus dan kuat atau to inculcate menuju terciptanya perilaku tawakal sebagaimana tercermin dalam skor pandangan mereka terhadap belajar di pesantren. Hal itu mereka lakukan melalui proses kegiatan belajarmengajar yang bersifat self govemment, yaitu mengatur diri sendiri dalam belajar. Tampaknya hal itu disebabkan mereka hidup dalam asrama di mana pendidik dan terdidikhidupdalamkampusataucommunitydibawahketeladananpendidik. (3)Kesatupaduan(integrasi)antarapendidikannonformaldanformal.

46 b.PPSukorejo b.l.Lingkungankehidupanmasyarakatluarpesantren Pondok Pesantren Sukorejo terletak di desa Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Kewedanaan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Jarak pesantren dari jalan raya SurabayaBanyuwangi sekitar 2 km. Seperti masyarakat Madura, masyarakat Situbondo juga tergolong taat menjalankan ibadah agama, menghormati kiai dan pesantren. Tetapi, Pondok Pesantren Sukorejo dikelilingi oleh tempattempat yang merujuk pada kegiatan budaya yang berskala nasional, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pesantren sehingga pandangan dan perilaku santri Pondok Pesantren Sukorejo berbeda dengan pandangan dan perilaku santri Pondok Pesantren GulukGuluk sebagaimana tercermin dalam pandangan mereka terhadap belajar di pesantren (Lampiran 4). Tempattempat yang dimaksud adalah: (a) Pusat Pelelangan Ikan di pelabuhan Nimba, berjarak sekitar 3 km dari pesantren, (b) Taman Wisata Nasional Baluran, berjarak sekitar 5 km, (c) Landasan tempur pusat latihan terbang di Sedung, berjarak sekitar 5 km, (d) Dam Liwung sumber mata air di Kecamatan Banyuputih, berjarak sekitar3km,dan(e)PabrikguladanpengupasankapasdiAsembagus,berjaraksekitar4km. Budaya Madura terasa sangat mewarnai kehidupan Pondok Pesantren Sukorejo, terutama tampak dari segi bahasa yang dipergunakan seharihari. Pimpinan Pondok Pesantren Sukorejo (KH. Raden As'ad Syamsoel Arifin) adalah keturunan bangsawan Madura dan berasal dari Pondok Pesantren Kembang KuningLaranganPamekasan,suatupesantrenterkenaldiMadurapadaabadke17an,danmenjadicikal bakal pesantrenpesantren di Madura sampai menyeberang ke daerah Jawa Timur sepanjang pesisir utara bagian timur. Status kebangsawanan, kekayaan, dan keutamaan pendiri dan pengurus Pondok Pesantren Sukorejo tersebut, menyebabkan ia mempunyai kedudukan dan pengaruh yang kuat di masyarakatsekitarpondokpesantren. Sejarah pendirian Pondok Pesantren Sukorejo diawali dengan pembukaan hutan di sekitar desa di kawasan Banyuputih oleh K.H. Raden Ibrahim Syamsoel Arifin pada tahun 1908, dan pada tahun 1914 memperoleh pengesahan dari Bupati Situbondo. Keadaan penduduk masa itu sangat Jarang, dan kiai melalui kekayaan dan status sosialnya yang tinggi berhasil menguasai tanah sampai mencapai radius sekitar 7 km2. Dengan semakin berkembangnya pesantren, semakin menarik minat penduduk untuk membangun rumah atau bertempat tinggal di sekitar pesantren. Kiai "mengundang" dan memberi kesempatan kepada mereka yang berminat untuk mendirikan rumah di sekitar pesantren, di atas tanah miliknya, dengan jalan membeli dengan harga murah melalui pembayaran secara mengangsur menurut kemampuan mereka. Sampai penelitian ini dilakukan masih dapat ditemui beberapa penduduk yang belum melunasi angsurannya, padahal pimpinan pesantren saat ini sudah menginjak ke periode kedua dan siapsiap memasuki periode ketiga (pimpinan pesantren sekarang sudah berumur sekitar 90 tahun). Menurut mereka angsuran itu (sekarang) ratarata Rp 25 Rp50 setiap bulan,jadi praktis sama dengan gratis. Informasi kesejarahan tersebut menggambarkan kedudukan kiai dalam pesantren yang sangat kuat ditengahtengahkehidupanmasyarakatsekitarnya.Haltersebutlebihdiperkuatlagidengankedudukan

47 K.H. Raden As'ad Syamsoel Arifin (pimpinan pesantren sekarang) sebagai RaisAm NU, dan pusat kepemimpinan NU saat ini telah beralih dari Pondok Pesantren Tebu Ireng ke Pondok Pesantren Sukorejo. Kukuhnya kehadiran pesantren di tengahtengah masyarakat tersebut memudahkan baginya untuk memperolehdukunganmasyarakat,dansantribanggabelajardipesantrennya. Lingkungan fisik masyarakat sekitar pesantren pada umumnya: berupa lahan sawah untuk tanaman padi, sebagian untuk menanam anggur, dan sebagian lagi merupakan daerah nelayan. Oleh brena itu, sebagian besar penduduknya (60%) bertani padi, anggur, dan nelayan, sebagian kecil (5%): pegawai negeri, guru, ABRI dan sebagainya. Sebagian besar kedua (35%) tidak menentu: bekerja apa saja, seperti jualjasa,buruhtani,tukangsado,jualbuah,bukawarungnasiataumakananuntukmelayanikebutuhan santri, dan sebagainya. Santrisantri Pondok Pesantren Sukorejo pada umumnya tidak memasak sendiri dan pesantren tidak menyediakan makan bersama, Oleh karena itu, mereka membeli makanan di warungwarung nasi atau warung makanan yang ada di sekitar pesantren tetapi tidak boleh dimakan di warung. harus dimakan di dalam pesantren. Dengan demikian, keadaan sekitar pesantren ramai orang berdagang, dan dengan itu pula berarti pesantren lelah meramaikan kehidupan ekonomi masyarakat desasekitar. Hubungan baik pesantren dengan masyarakat sekitar memudahkan santri bergerak di masyarakat untuk melakukan kegiatan dakwah dan kegiatankegiatan kemasyarakatan lainnya, seperti usaha pertanian, pengairan, dan sebagainya. Namun, pimpinan pesantren membatasi dan mengontrol hubungan santri dengan masyarakat sekitarnya, agar santri tidak terpengaruh oleh beberapa adat jelek yang ada di masyarakat, seperti: judi, mabuk, main perempuan, atau bergadang malam yang tidak bermanfaat,dansebagainya b.2.LingkungankehidupandalammasyarakatPesantrenSukorejo Situasi kehidupan dalam Pondok Pesantren Sukorejo, antara lain dapat digambarkan sebagaiberikut:Luaskampuspesantrensekitar8ha,diatasnyaberdirisejumlahbangunan antara lain: 1 mesjid, 6 musala, 9 gedung sekolah dengan kapasitas 76 ruang, 3 Kantor dengankapasitas10ruang,3aula,3gudang,8perumahanguru,3lokalwismatamu,3wismadosen, 9lobikamarmandidengankapasitas101kamar,4dapur,3sumurbor,7rumahdisel,3balaikesehatan, 2 keamanan, 6 pertokoan, 29 lokal asrama dengan kapasitas 260 kamar, 2 garasi, 1 ruang keterampilan, 1asramatakmirmesjid, 1 gedungperpustakaan,1pusatinformasipesantren, 1Kantororganisasisantri, 2kantorpendidikandanpengajaran,dan1kandangternak. Jenis pendidikan yang diselenggarakan adalah "Pesantren", madrasah (dari TKAliyah), sekolah umum (dari SDSMA) dan Fakultas Syariah dan Tarbiyah Jumlah seluruh santri 6.186 orang, terdiri atas 4.204 putra dan 1.982 putri. Jumlah pengasuh (kiai): 1 orang, sebagai pemilik dan pimpinan tunggal, dibantuoleh9ustaz,dan300guru:terdiriatas251putradan49putri.SepertiPondokPesantrenGuluk

48 Guluk, penyelenggaraan pendidikan di Pondok Pesantren Sukorejo dilaksanakan secara terpisah antara anakputradanputri. Sebagian besar santri (98%) bertempat tinggal di dalam pesantren, sekitar 2% tinggal di luar atau pulang ke rumahnya. Jumlah mereka yang hanya belajar di pesantren dan tidak merangkap belajar di madrasah atau sekolah umum tersebut sangat sedikit, sekitar 1,52% (sekitar 100 orang). Mereka tidak diwajibkan merangkap belajar di madrasah atau sekolah umum, dan mereka itu pada umumnya sudah bekerja, membantu di rumahrumah atau pesantren; sedang hampir seluruhnya (98%) memasuki sekolah formal (madrasah atau sekolah umum) dan mereka ini diwajibkan mengikuti belajar agama di "Pesantren". Ukuran kamar ratarata 4x6 m, dihuni sekitar 1015 orang sehingga keadaannya cukup padat, dan banyak santri yang tidur di luar. Kiai selalu mengingatkan santrinya agar selama belajar mereka banyak makan makanan yang bersih dan bergizi, serta melarang mereka berpuasa selama sedangbelajar,baikpuasasunnah,maupunmenggantipuasawajib.Sebagaipesantrensalaf,peringatan kiai tersebut merupakan "hal baru" di kalangan dunia pesantren. Meskipun kiai sendiri adalah ahli tasawuf dan tarekat, tetapi ia melarang santrinya untuk mempraktikkannya dalam hidup seharihari di pesantren. Kiai menjelaskan kepada mereka bahwa tujuan mereka datang ke pesantren adalah untuk belajar, mencari ilmu dan beribadah, oleh karena itu mereka sendirilah yang harus belajar, sedang kewajiban dan tanggung jawab kiai adalah berdoa dan mengusahakan segala sesuatunya agar mereka dapatbelajardenganbaik.Bagikiai,santribolehbelajarapasajasesuaidengankecenderungannya,asal mereka tetap menekuni ilmuilmu wajib, yang dalam hal ini adalah ilmu agama, dan bermoral agama dalam hidup keseharian, sebab moral agama adalah kunci keselamatan dan keberhasilan hidup bermasyarakat. Dalam pengalaman, banyak orang pandai yang gagal dan tidak memperoleh penghormatan atau penghargaan dari masyarakat karena mereka tidak bermoral. Inilah sebabnya mengapa kiai mewajibkan santrinya untuk mengikuti semua kegiatan ubudiah (keagamaan) dan mengabdi pada kiai dan ustaz. Kiai sendiri tidak pernah mengajar ngaji, semua kegiatan belajar mengajar agama diserahkan kepada para ustaz, guruguru, dan santri senior. Kiai merupakan pimpinan spiritual dan memberikan keputusan akhir mengenai apa yang harus dan tidak harus, yang boleh dan tidakboleh,danyangsebaiknyadilakukanolehpesantren. Mengenai gambaran kehidupan santri seharihari selama 24 jam dalam kampus adalah sebagai berikut:

49 Jadwalhidupkesehariansantriselama24jam, PondokPesantrenSukorejo
No. 1. Jam 04.00-05.15 Kegiatan Bangun pagi, siap salat subuh berjemaah di mesjid atau musala, membaca puji-pujian, Alquran dan kitab tertentu Keterangan Semua salat jemaah diimami oleh ustaz atau santri senior, dan selalu didahului dengan puji-pujian dan salat sunah (sebelum dan sesudah salat wajib) sesuai dengan ketentuan peribadatan salat wajib yang bersangkutan.

2.

05.15-06.40

Mandi, makan pagi

3.

06.40-07.30

Siap masuk sekolah, absensi, membaca nazam (hafalan)

4.

07.30-11.30

Belajar di sekolah (agama)

5.

11.30-13.15

Istirahat, siap salat Zuhur berjemaah di masjid/musala, membaca puji-pujian, Alquran, Kitab-kitab tertentu, makan siang

Pengajian-pengajian dilakukan ada waktu-waktu di luar jam belajar di madrasah atau sekolah formal. Pada umumnya sesudah salat 5 waktu diselenggarakan di mesjid atau musala

6.

13.15-15.00

Belajar di kelas (umum)

7.

15.00-15.15

Siap-siap salat Asar berjemaah di mesjid atau musala, membca puji-pujian, Alquran dan kitab-kitab tertentu.

8.

15.15-17.15

Belajar di kelas (umum) dan kuliah bagi mahasiswa.

50

9.

17.15-17.45

Istirahat, makan sore

10.

17.45-18.45

Siap salat magrib berjamaah di mesjid atau musala, membaca puji-pujian, Alquran, dan kitab-kitab tertentu.

11.

18.45-19.15

Siap salat Isya berjemaah di mesjid atau musala, membaca puji-pujian, al Quran dan kitab-kitab tertentu.

12.

19.15-21.30

Belajar sendiri, perkamar, membaca al Quran, kitab-kitab tertentu dan kuliah bagi mahasiswa.

13.

21.30-04.00

Istirahat malam.

Di samping jadwal kegiatan harian, juga terdapat jadwal kegiatan mingguan dan bulanan, serta tatatertibpesantrensebagaiberikut:

51 Jadwalkegiatanmingguan
No 1. Hari Malam Selasa Kegiatan Membaca kitab wajib Tahsinu qiraatil quran

2.

Malam Jumat

Membaca wasiat dan barzanji Tahsinu qiraatil quran

3.

Jumat pagi

Mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi, dan kegiatan-kegiatan lain yang sifat rekreatif.

Jadwalbulanan: 1. Setiapminggupertamadanketigadiadakandiskusi(pelajaran) 2. Tiap minggu kedua dan keempat diadakan bahSul masa'il, yaitu mengupamengupas berbagai masalahkehidupandarisudutfihih(hukumagama). Selain jadwal kegiatan tersebut, santri hams menaati tata tertib pesantren; beberapa di antara ketentuannyaadalahsebagaiberikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Santriwajibmelaksanakanshalatberjamaah,terutamasalatjumat. Santriwajibmenjagakesopanan,kebersihandankerapihan Santriwajibbelajardanatumengajardimadrasah. Santri wajib bermu.tala'ah (mendalami materi) tarhhim (bacaan doa sebelum subuh) dan hhat haligrafi,yangwaktudanpelaksanaannyadiaturolehpengasuh. Santri harus membaca Alquran sebelum salat subuh dan magrib di mesjid, di surau atau di tempat lainyangtelahdiaturolehpengasuh. Santriwajibmengisiairkamarmandi Santridilarangmemasak Santridilarangjajandandimakanataudiminumdiwarungdiluarkomplekspesantren. santri dilarang berkatakata kotor, keji, memaki, dan menghina orang lain, serta berseteru dengan oranglain. Santri dilarang memiliki, menyimpan dan membunyikan radio, tape recorder, atau sejenisnya tanpa seizinpengasuh. Santridilarangkeluarkomplekspesantrensesudahjam21.00. Santridilarangbergaulsecaraberlebihlebihandengantetanggaatauorangkampung

52 Adapunsanksiatauhukumanataspenyimpanganpenyimpanganataupelanggaranpelanggarandari kebiasaankebiasaan dan tata tertib pesantren dari yang ringan ke yang berat adalah: kerja, denda, dicukur rambut kepalanya, disita barangbarang bukti, dan dicabut haknya sebagai santri atau dipulangkankeorangtuanya. Dari jadwal kegiatan dan tata tertib tersebut tampak bahwa mesjid dan musala menjadi pusat kegiatanbelajardanperibadatan.Dariwaktukewaktusantridikondisikandalamkehidupanagamayang fikihsufistik. Halhal yang bersifat keduniawian terasa agak tergeser dan lebih terpusat pada agama, misalnya dilarang membunyikan radio, dan sebagainya. Kecuali itu, dari jadwal kegiatan dan tata tertib tersebut, juga tampak bahwa cara belajar dengan hafalan dan menguasai materi sebanyakbanyaknya mendominasi kegiatan belajarmengajar di pesantren. Cerminan dari pandangan dan perilaku mereka (santri) sebagai hasil dari pendidikan pesantren dapat dilihat dari Lampiran 5 mengenai skor pandangan santriterhadapbelajardipesantren. c.PPBlokAgung c.l.Lingkungankehidupanmasyarakatluarpesantren PondokPesantrenBlokAgungterletakdidesaBlokAgung,KecamatanJajak,KabupatenBanyuwangi. Jarakpesantrendengankotakecamatan,sekilar17km,dankendaraanyangmenghubungkanpesantren dengan kota adalah angkutan pedesaan, dokar, atau ojek (sepeda motor). Desa Blok Agung merupakan desapertanianyangsuburterletakdidaerahkakipegunungandandilingkaridengansungaipegunungan (Sungai Baru) yang besar dan curam berfungsi sebagai sumber air bagi masyarakat desa. Dengan demikianPPBlokAgungberadadiwilayahbudayaagama"PedalamanPedesaan". BudayaJawaterasasangatmempengaruhikehidupanPondokPesantrenBlokAgungdanmasyarakat desa sekitarnya. Hal ilu tampak dari dipergunakannya bahasa Jawa di dalam pergaulan seharihari dan dijadikan sebagai bahasa pengantar dalam mengajarkan kitabkilab agama (kitabkitab kunng oleh kiai. Cara kiai mengajarkan kitah kuning, dalam hal ini kitab Ihya Ulumuddin karya Imam alGhazali, selalu menggunakan bahasa Jawa dan tamsiltamsil kejawaan yang menggambarkan konsep manusia menurut pandangan Jawa sebagai insan yang mendambakan manunggaling kawulo Gusti yaitu bersatunya diri dengan Penciptanya dalam rangka mencari kebenaran mutlak. Misalnya, kiai memandang kedudukan dan peran manusia dalam tata kehidupan ini bagaikan wayang yang sepenuhnya sangat terganlung pada Dalangnya, dan kiai melukiskan bahwa tujuan pendidikan pesantren ialah menjadikan anak yang berkepribadian sebagai kawula tetapi rasul, artinya menjadi pelayan kehidupan (mengabdi kepentingan bersama) sebagai rasul (Nabi Muhammad) dengan jalan menyampaikan risalah ajaran agama, atau menjadi dai kepada manusia. Seperti diketahui, Nabi Muhammad diutus oleh Tuhan untuk menegakkan moral agama dalam kehidupan. Dengan kata lain,

53 pesantren memusatkan tujuan pendidikannya pada pembinaan dan pengembangan moral agama sebagaikuncikeberhasilandalamhidupbersama. Menurut kiai, kehidupan ini merupakan satu sistem atau tatanan kosmologi yang sempurna dan pasti terjadi. Setiap makhluk memiliki tempat dan kegunaannya masingmasing. Mereka akan saling bertemu dan satu sama lain akan saling membutuhkan. Misalnya, kiai mengajarkan kepada santrinya bahwa jika ada dua orang yang bertamu ke rumah seseorang yang mempunyai seekor kambing kesayangan, tamu yang satu datang dengan mambawa kulit pisang, sedang tamu yang satu lagi tidak membawa apaapa, maka dengan sendirinya senyuman yang lebih ramah tertuju kepada tamu yang membawa kulit pisang daripada lamu yang tidak membawa apaapa, karena hal itu dengan sendirinya terkait pada kebutuhan kambingnya yang menyukai kulit pisang. Demikian pula tamsil kiai mengenai kedudukan santri yang belajar di pesantren, diibaratkan sebagai orang yang berbelanja di pasar (halaman 129). Semua tamsiltamsil tersebut menggambarkan paradigma budaya Jawa dalam memandangkehidupan 13 . Pondok Pesantren Blok Agung dikenal sebagai pesantren yang memusatkan perhatiannya pada tasawuf dari Imam alGhazali. Kitab Ihya' 'Ulumiddin diajarkan dua kali sehari yang diikuti oleh seluruh santri. Dua kali sebulan untuk masyarakat lingkar pesantren tingkat kecamatan, dan satu kali setiap selapan hari atau 38 hari (perhitungan Jawa) untuk masyarakat lingkar pesantren tingkat kabupaten. Pengajian kitab Ihya' 'Ulumiddin tersebut tamat setiap 3 tahun, meskipun demikian, banyak santri yang mengulang sampai dua atau tiga periode berikutnya dengan alasan untuk memantapkannya; pengajian diberikan dalam bentuk bandongan, jadi secara masal. Meskipun madrasah dan sekolah umum yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Blok Agung memiliki jam resmi kapan pelajaran harus dimulai, tetapi hal ini dapat digeser, atau diundurkan mulainya, jika jam pengajian kitab Ihya' 'Ulumiddin yang diberikan oleh kiai belum selesai. Setiap pagi pengajian kitab ini diberikan dari sesudah subuh sampai jam 07.00, kemudian dilanjutkan dengan siapsiap masuk jam sekolah umum pada jam 07.30. Namun jika pada suatu ketika jam pengajian kitab Ihya' 'Ulumiddin selesai jam 08.00, maka jam pelajaran bagi sekolahumumtersebutharusdiundurkan. Berkatkuatnyapengajiankitablhya''UlumiddintersebutyangdiikutiolehtidakhanyasantriPondok Pesantren Blok Agung, tetapi juga oleh masyarakat lingkar pesantren sampai tingkat kabupaten, maka kedudukan Pondok Pesantren Blok Agung di tengahtengah masyarakat sangat kuat. Tampaknya tasawuf yang disampaikan melalui penjelasanpenjelasan atau tamsiltamsil kejawaan cocok dengan pandangan hidup masyarakat sekitarnya. Masyarakat Banyuwangi tergolong pemeluk agama yang taat dan menghargai tinggi kiai serta pesantren. Di seluruh daerah Banyuwangi terdapat 99 pesantren dan tiga ulama terkenal, satu di antaranya K.H. Muchtar Syafaat pimpinan Pondok Pesantren Blok Agung, yang juga menjadi MustasyarNU untuk daerah Blambangan dan sekitarnya (Jawa ujung timur).
Lihat:NeilsMulder,PribadidanMasyarakatDiJawa,SeriBudayaNo.3,SinarHarapanJakarta,1985,Bab II,halaman3471.
13

54 Kedudukan tersebul menambah kuatnya kehadiran kiai dan Pondok Pesantren Blok Agung di tengah tengahmasyarakat. Peri kehidupan masyarakat lingkar pesantren adalah petani (80%), sebagian kecil (3%) menjadi pegawai, guru, ABRI dan sebagainya, sebagian besar kedua (17%) adalah pedagang, kerajinan rumah tangga (membuat batu bata, perabot rumah tangga, dan sebagainya), dan tidak menentu. Pondok PesantrenBlokAgungdikelilingiolehkeluargakeluargabekassantriataualumniPondokPesantrenBlok Agung, dan di antara mereka (antara pesantren dan masyarakat pesantren tersebut) terdapat pasar santri, tempat berbelanja antara santri dan masyarakat sekitarnya, dan pasar inilah tampaknya yang mengilhami kiai, bahwa belajar di pesantren ibaratnya orang yang sedang belanja di pasar; dengan demikian kontak kultur antara pesantren dan masyarakat sekitarnya sangat akrab; banyak santri yang mandi dan cuci pakaian di kali yang melingkari desa Blok Agung tersebut, dan dengan demikian juga terjadi kontak budaya antara santri dan masyarakatnya. Dengan semakin mantapnya kehadiran pesantren di tengahtengah masyarakat, maka masyarakat menjadi bertambah ramai dan perekonomian masyarakat semakin berkembang. Harga tanah di sekitar pesantren menjadi mahal (Rp 5000perm2),sedanghargatanahjauhdaripesantrenRp2000perm2. Salah satu ciri Pondok Pesantren Blok Agung dalam kaitannya dengan masyarakat sekitarnya ialah banyaksantri,sekitar40%darijumlahseluruhsantri(2487orang)belajarsambilbekerjamencarinafkah. Pekerjaan mereka bermacammacam, di antaranya adalah: ikut mengerjakan sawah penduduk, membantu bekerja di rumahrumah penduduk, seperti membantu membersihkan pekarangan, dan sebagainya dengan upah ala kadarnya atau ikut menumpang makan, dan sebagainya. Istilahnya "santri" memiliki mbokmbokan yaitu induk semang atau semacam orangtua asuh. Pada saat penelitian ini diadakan, adasekitar300santriyangmempunyaimbokmbokan. Masihmengenaisoalmencarimakantersebut,pendudukdesasudahmaklumdancepatmenangkap gejala,jikamerekamelihatsantrisedangkeluarpondokdanmasukdesauntukmencaridedaunanuntuk sayuran yang dapat dimasak. Hal itu merupakan pertanda bahwa mereka membutuhkan bantuan makanan; sehingga banyak penduduk yang memberi: singkong, jantung pisang, dan sebagainya; atau meminta tenaga santri untuk mengerjakan keperluan rumah tangga untuk sekadar mencari jalan membayar upah santri. Pimpinan pesantren sendiri menyadari hal tersebut, sehingga meliburkan santri dari kegiatan belajarmengajar, terutama mereka yang hanya belajar di jalur pendidikan "pesantren" dan tidak terikat oleh belajar di madrasah alau sekolah umum, pada musim panen padi, agar mereka dapat ikut kegiatan panen padi dan memperoleh ongkos. Bahkan kiai sering memberi surat keterangan jalan bagi santri yang ingin boro, yaitu mencari pekerjaan atau nafkah sampai ke daerah yang jauh seperti:Jember,Sidoarjo,Surabaya,dansebagainya. Gambaran tersebut menunjukkan betapa akrabnya kontak budaya antara pesantren dan masyarakat sekitarnya, yang dipatri dengan ajaran tasawuf yang cocok dengan mistik Jawa, dan sekaligus membuka kontak budaya masyarakat desa dengan berbagai budaya daerah atau sukusuku yangadadiIndonesiamelaluisantri.

55 Meskipun demikian, di balik keakraban tersebut, Pondok Pesantren Blok Agung mangandung potensi yang dapat mengancam hubungan baik tersebut. Secara endogeen: dengan semakin pesatnya perkembangan jenis pendidikan formal yang diasuh oleh pesantren (madrasah dan sekolah umum) berarti semakin mendesak jenis pendidikan "pesantren", dan semakin sedikit santri yang hanya belajar di "pesantren", yang berarti semakin sedikit pula santri yang mampu balajar sambil mancari nafkah, karena waktu mereka semakin tidak longgar sebab secara struktur formal terikat dengan rencana pelajaran di sekolah atau madrasah dan semakin banyak santri yang tergantung pada kiriman uang dari rumahnya. Hal tersebut berarti semakin mengurangi frekuensi waktu dan kedalaman berintegrasi dengan masyarakat sekitarnya; dan secara exogeen masyarakat desa sendiri juga semakin dituntut menghadapi persaingan hidup yang semakin tajam dan komersial, serta semakin memerlukan tempo yangsemakintinggiataucepat. Kedua hal tersebut terasa semakin menggeser kedudukan dan peran pesantren dari pro aktif, yaitu aktif membimbing dan membina masyarakat, menjadi reaktif, yaitu mereaksi apa yang terjadi di masyarakat dalam rangka menjaga identitasnya, antara lain dengan jalan menyeleksi pergaulan santri dengan masyarakat sekitarnya, lebih berhatihati dan lebih ketat agar tidak terpengaruh oleh halhal negatif yang datang dari masyarakat sekitarnya. Sebenarnya hal seperti ini dihadapi oleh semua pesantren dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin tajam, kompleks, dan komersial akibat dampak global dari modernisasi, dan tampaknya dunia pesantren belum siap dengan konsepsi integrasibaru. c.2.Lingkungankehidupammasyarakatdalampesantren Situasi kehidupan dalam Pondok Pesantren Blok Agung antara lain dapat digambarkan sebagai berikut: luas kampus pesantren ada sekitar 4,5 ha, di atasnya berdiri sejumlah bangunan: 1 mesjid, 4 musala, 5 dapur umum, 5 kantor, 19 asrama, 3 toko kelontong dan bukubuku, 4 warung makanan, 39 wc, 1 kantor pengembangan masyarakat, 12 kamar mandi, 6 gedung madrasah, 2 gedung diesel, 1 makam,1perbengkelan,dan1ruangperpustakaan(menempatisebagianruangdalamkantor). Pengasuh: pimpinan tunggal: 1 orang kiai, dibantu oleh 2 orang kiai dan sejumlah ketuaketua bagian:(1)pendidikandanpengajaran,(2)kesejahteraansantri,(3)badanpengembanganamilzakat,(4) humas, (5) keamanan dan ketertiban, (6) protokoler dan tamu, (7) pesantren putri, (8) pesantren putra, (9)keterampilan,dan(10) pengembangansosialdanteknologi;dansejumlahkepalasekolahsertaguru guru atau ustaz, baik yang mengajar di Sekolah Umum, Madrasah atau Diniyah.Jenisjenis pendidikan yangdiselenggarakandiPondokPesantrenBlokAgungadalah:(a) Diniyah:khususbelajaragama,terdiri

56 atas: Awaliyah (dasar), Wusta (menengah) dan 'Ulya (atas). (b) Sekolah kurikulum 14 . Taman kanak kanak, Sekolah Menengah Ekonomi tingkat Atas, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, dan (c) Takhassus: yaitu khusus mengaji Alquran, Hadis, dan Kitabkitab kuning. Pada jalur pendidikan diniyah masih diberikanpelajaranumum,sekitar5%,sedangjalurtakhassus,100%pelajaranagama. Jumlah seluruh santri ada 2487 orang, terdiri atas 1584 putra dan 903 putri, 150 guru, terdiri atas108putradan42putri. Penyelenggaraansekolahdilaksanakansecaraterpisahantarakelasputradankelasputri. Hampir semua santri tinggal di pesantren, kecuali murid TK atau shifir dan beberapa santri yang rumahnya sangat berdekatan dengan pesantren Ukuran kamarnya sedang, sekitar 3x4 m dihuni oleh sekitar 78 orang, sehingga keadaan sangat padat. Keunikan dari sejarah pembangunan gedunggedung Pondok Pesantren Blok Agung ini ialah semua gedunggedung dan sejak menggali tanah, membuat batu bata, dan seterusnya sampai bangunan berdiri (selesai) dikerjakan oleh santri, kecuali halhal tertentu yang memang membutuhkan tukang ahli. Pesantren sudah mempunyai langganan tukang. tukang ahli dari desa setempat. Para penduduk sekitar bergiliran membantu tenaga; yang tidak sempat menyumbangkan tenaga, membantu bahan bangunan, sedang bagi yang merasa kurang mampu, membantu makanan untuk orangorang yang sedang bekerja. Masyarakat berpandangan bahwa membantu santri dan pesantren, berarti amal ibadah, karena membantu orang yang sedang berjuang menuntutilmu. Dengan ikut sertanya santri dan masyarakat membangun pesantren maka mereka merasa ikut memiliki pesantren. Mengenai situasi kehidupan santri seharihari dalam pesantren adalah sebagai berikut:
Mereka memakai istilah sekolah kurikulum untuk menyatakan jenis pendidikan formal, baik yang berbentukmadrasahmaupunsekolahumum,karenasekolahsekolahinimemakaikurikulumresmi.
14

57 Jadwalhidupkesehariansantriselama24jam PondokPesantrenBlokAgung
No 1. Jam 03.30-04.30 Kegiatan Bangun tidur, siap menuju mesjid, salat Sunah, membaca Alquran, pujipujian kepada Tuhan, selawat Nabi, dan sebagainya. Salat berjemaah dengan diimami oleh kiai.

2.

05.00-06.00

Belajar secara Bandongan: Alquran, Fikih dasar, Ta'lim muta 'allim, Fathul Muin, Durratun nasihin, Tijan Daruri (tauhid), dan sebagainya. Dilakukan di serambi mesjid pondok masing-masing dengan bimbingan ustaz sesuai dengan program masing-masing.
Mengaji kitab lhya' 'Ulumiddin (al-Ghazali) langsung oleh kiai, dan diikuti oleh seluruh santri. Pengajian ini tamat setiap 3 tahun sekali. Jam belajar di madrasah dan sekolah umum, kecuali yang tidak mengikuti sekolah formal, terus mengaji sampai jama 10.00 (membaca Alquran atau kitab latin).

3.

07.00-08.00

4.

08.00-13.00

5.

13.00-14.00

Siap salat Zuhur berjemaah dengan didahului dan diakhiri puji-pujian, salat sunat dan doa-doa.

6.

14.00-16.00

Masuk Sekolah Diniyah Ula, Wustho dan Ulya. Shifir masuk pagi. Dilanjutkan siap-siap salat Asar berjemaah di mesjid. Salat Asar berjemaah di mesjid diimami oleh kiai. Pengajian kitab Ihya' 'Ulumiddin (al-Ghazali) lanjutan pagi hari, oleh kiai. Bagi anak-anak sekolah diniyah tingkat Ula, mengadakan taqrar (mengulang dan menghafal pelajaran). Istirahat, siap-siap salat Magrib berjemaah di mesjid. Dengan membaca pujipujian dan selawat Nabi. Salat Magrib berjemaah, diimami oleh kiai; diakhiri wirid, doa-doa dan salat sunat. Mengaji tafsir Alquran, dipimpin oleh anak kiai, calon pengganti kiai di masa mendatang. Bagi mereka yang tidak mengikuti (karena programnya berbeda), melakukan sorogan, mempelajari kitab tertentu sesuai dengan program masing-masing di bawah bimbingan masing-masing ustaz.

7.

16.00-16.30

8.

16.30-17.30

9.

17.30-18.30

10.

18.30-19.00

11.

19.00-20.00

58
Salat isya berjemaah. Didahului dan diakhiri salat sunah, puji-pujian, salawat nabi, wirid dan doa.

12.

20.00-20.30

13.

20.30-22.30

Mengadakan taqrar pelajaran masing-maasing di bawah bimbingan santri senior di serambi mesjid dan pondok pesantren masing-masing; kemudian dilanjutkan dengan sorogan atau bandongan. Bagi mereka yang sudah belajar di tingkat Ulya (dewasa) pengajian dilanjutkan sampai pukul 24.00.

Mengiringi jadwal kegiatan tersebut, berikut ini adalah tata tertib pesantren, yang antara lain berisibutirbutirsebagaiberikut: 1. Sebelum jam 22.00 santri tidak boleh masuk kamar. Mereka harus belajar atau mengikuti programprogramkegiatansepertitersebutdiatas. 2. SetiapSenindanKamismalamtidakadakegiatansepertitersebutdiatas.Tetapidiagntidengan kegiatan blajar sendiri. Melakukan taqrar atau lalaran (mengulang dan menghafal): Imriti, alfiyah,sarf, balagah,berzanji,selawat Nabi,danbelajarpraktikperibadatanlainsesuaidengan keperluan. 3. Jumat: hari libur; diisi dengan kegiatankegiatan lain selain belajar. Dari jam 06.3008.00 melakukan kerja bakti yang disebut ro'an, misalnya melakukan kebersihan umum, melakukan perbaikanperbaikan, dan sebagainya yang semuanya ditujukan untuk kepentingan pesantren (bukanmasingmasing)kamar. 4. Di samping kelompok kerja ro 'an tersebut, di Pondok Pesantren Blok Agung dibentuk kelompok kerja negaran, yaitu kelompok kerja khusus dan tetap untuk memelihara kebersihan dan perbaikan gedunggedung, dan saranasarana pesantren. Mereka ini hanya belajar agama saja (program takhasus) dan hidup mereka dijamin oleh pesantren. Tujuan mereka untuk mengaji, mengabdikepadakiai,ataungalapberkahkiai. 5. SetiaphariJumatdarijam08.0010.00(sesudahkerjaro'an) diadakankursusbahasaArab,Inggris, dan PKK bagi santri putri. Sesudah salat Jumat mereka belajar seni baca Alquran, dan pada malamharinyabelajarpidato. 6. Santri Blok Agung memasak sendiri. Bagi yang kebetulan tidak ikut programprogram pengajian tertentu, memasak untuk temanteman yang tidak sempat, karena mengikuti pengajian. Hal ini merekalakukansecarabergantian. 7. Terdapat 3 larangan yang dengan keras ditekankan dalam tata tertib pesantren (a) dilarang mencuri, (b) dilarang berkelahi, (e) dilarang menghina, menertawakan atau mengolokolok temanyangkurangpandai, 8. Santri harus minta izin dan melapor bila meninggalkan dan kembali ke pesantren, membayar iurandansebagainya. Laporan lingkungan hidup pesantren tersebut menggambarkan suasana kehidupan di pesantren yang sangat mencekam oleh disiplin kehidupan fikih sufistik yang tinggi. Pada waktu penelitian ini diadakan,terdapatsekitar250orangsedangmelakukanpuasadalail,yaitupuasaterusmenerusselama tahun tamat. Banyak di antara mereka yang meneruskan sampai ke periode kedua, ketiga dan

59 seterusnya, sehingga ada di antara mereka yang sudah menginjak tahun keempat, kelima dan seterusnya. Kecuali itu juga terdapat sekitar 2030 orang melakukan puasa 40 harian tamat, sekitar 2530 orang melakukan puasa ngrowot, yaitu puasa tanpa batas. tetapi boleh makan makanan tertentu saja seperti nasi putih atau buahbuahan saja, dan hanya dua orang yang diketemukan (dalam waktu penelilian ini) berpuasambisu,yaitutidakmauberbicarapadasaatberpuasa. Bacaan yang dibaca selama puasa dalail, dan puasapuasa seperti tersebut di atas adalah berisi pujipujiankepadaTuhan,mohonampunanNya,dandoasertaselawatNabiMuhammad.Merekayang melakukan puasapuasa sunnah seperti tersebut di atas, mempunyai "guruguru" mistis sendirisendiri yang berada di luar kampus pesantren, yang dulu juga belajar di Pondok Pesantren Blok Agung. Dengan demikian,suasanafikihsufistiktidakhanyaterdapatdalamkampuspesantren,tetapijugadimasyarakat lingkar pesantren. Programprogram nonagama seperti: olah raga, seni, dan keterampilan tampaknya kurangberjalanlancar,kecualipramukadanpelajaranPKKbagisantriputri. Suasana fikihsufistik di Pondok Pesantren Blok Agung tersebut di atas sangat berbeda dengan apa yang berjalan di 2 pesantren sebelumnya (Pondok Pesantren GulukGuluk dan Sukorejo), bahkan di Pondok Pesantren Sukorejo santri dilarang puasa selama belajar, padahal pimpinan mereka datang dari kelompok yang sama, yaitu samasama pimpinan NU, mengikuti paham teologi dan mazhab yang sama, tetapimerekaberbedadalampendidikan,pengalamandantipebudayaagama. Dari gambaran mengenai situasi hidup keseharian selama 24 jam dari tahun ke tahun dan tata tertib yang harus dipatuhi seperti tersebut di atas, jelas sekali bahwa cara belajar dengan menghafal, menguasai materi belajar secara kognitif, dan sifat belajar yang mekanistis, tampak mendominasi cara belajar di pesantren. Sebaliknya juga tampak bahwa santri secara intensif telah dikenalkan dengan kehidupan masyarakat sekitarnya melalui cara hidup yang fikihsufistik, dilatih mandiri, dan ikut serta dalam membangun pesantrennya. Meskipun demikian, seperti di dua pesantren terdahulu, halhal yang bersifat duniawi juga terasa tersisih dibandingkan dengan halhal yang ukhrawi. Semuanya ini akan melahirkansikaphidupyangtawakal,berserahdanmenyesuaikandiridengankeadaan. d.PPTebuIreng d.l.Lingkungankehidupanmasyarakatluarpesantren Pondok Pesantren Tebu Ireng terletak di desa Tebu Ireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten jombang. jarak pesantren dengan kota kabupaten sekitar 8 km. Lokasi pesantren terletak di pinggir jalan raya: Surabaya: JombangPareKediri. Dengan semakin berkembangnya daerah perkotaan jombang dan semakin ramainya kendaraan yang menghubungkan kotakota tersebut, maka Pondok Pesantren Tebu Irengpraktisberadadalamlingkunganperkotaan.Setiapsaatsantridapatbergerakkepusatpusatkota.

60 Dalam waktu 10 menit mereka dapat mencapai jombang, dan dalam waktu kurang dari 2 jam mereka dapatmencapaiSurabayaatauKediri,dansebagainya. Meskipun demikian mata pencaharian penduduk desa Tebu Ireng: sebagian besar (70%) petani padi, dalam waktuwaktu tertentu sawahnya disewakan untuk tanaman tebu, karena di desa Cukir, tetangga sebelah desa Tebu Ireng, terdapat pabrik gula. Dengan demikian selama musim tanam tebu penduduk mengalihkan perekonomian dari tani padi ke berbagai macam kegiatan perekonomiannya: dagang, mengolah pekarangan, dan kegiatankegiatan lainnya yang tidak menentu. Sebagian kecil (5%) menjadi pegawai negeri, guru, ABRI, dan sebagainya, dan sebagian besar kedua (25%): tidak menentu, pedagang kecil, jual tenaga, menganggur, dan sebagainya. Dengan demikian PP Tebu Ireng sebenarnya berada dalam wilayah budaya agama "PedalamanPerkotaan", bukan "PedalamanPedesaan" sebagaimanaPPBlokAgung. Sampai saat ini daerah Kabupaten Jombang masih tekenal sebagai pusat konsentrasi pesatnren. Keempat pintu masuk kota Jombang dijaga oleh 4 pesantren terkenal berskala nasional, sebelah utara: PondokPesantrenTambakberas,berjaraksekitar3kmdaripusatkotaJombang;sebelahtimur:Pondok Pesantren Darul Ulum, berjarak sekitar 7 km; sebelah selatan: Pondok Pesantren Tebu Ireng, berjarak sekitar 7 km; sebelah barat: Pondok Pesantren Denanyar, berjarak sekitar 1,5 km. keempat pesantren inimerupakansatualiran,tergabungdalamkelompokNU. Pondok Pesantren Tebu Ireng sendiri juga dikelilingi pesantrenpesantren lain yang cukup dikenal dalam skala nasional, antara lain: Pondok Pesantren Cukir, Pondok Pesantren Seblak, Pondok Pesantren Tahfiz Alquran, khusus untuk mendalami dan menghafal Alquran, Pondok Pesantren Masruriyah dan Pondok Pesantren Kwaron. Kelima pondok pesantren ini sebenarnya merupakan satu keluarga dengan Pondok Pesantren Tebu Ireng, dan pimpinan mereka mempunyai hubungan darah (keluarga) satu dari yang lain (saudara sepupu, saudara ipar, dan sebagainya), tetapi mereka berdiri sendirisendiri secara otonom, baik dalam hal bertindak ke luar maupun ke dalam, jadi Pondok Pesantren Tebu Ireng bukan merupakan "Pesantren Federal" sebagaimana Pondok Pesantren Guluk Guluk. Sejak beberapa tahun terakhir ini, sekitar 1015 tahun yang lalu, popularitas Kabupaten Jombang sebagai daerah konsentrasi pesantren mulai berkurang. Hal ini disebabkan dinamika masyarakat luar pesantren yang semakin menuju ke watak masyarakat industri dengan kebutuhan model pendidikan yang semakin massive, formal, dan standard. Pertumbuhan jenisjenis pendidikan formal, baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah umum, berjalan lebih cepat daripada jenis pendidikan model "pesantren", Di dalam pesantren sendiri: kedudukan madrasah dan sekolah umum mendominasi pendidikan pesantren. Hal yang seperti ini sesungguhnya tidak hanya dihadapi oleh Pondok Pesantren Tebu Ireng sendiri, tetapi oleh hampir seluruh pesantren, sehingga seperti dikemukakan di muka, dunia pesantren dewasa ini sedang dalam dinamika antara memantapkan identitasdanberkomunikasisecaraterbuka.

61 d.2.Lingkungankehidupanmasyarakatdalampesantren Situasi kehidupan Pondok Pesantren Tebu Ireng dapat digambarkan sebagai berikut: luas kampus pesantren 7 ha, letaknya agak terpencar sehubungan dengan perluasannya melalui beberapa tahap, dengan jalan membeli tanah penduduk sekitar pesantren. Di atas tanah ini berdiri bangunanbangunan: 1 mesjid, l rumah kiai (pimpinan), 14 pondok atau asrama santri dengan jumlah kamar 140, berukuran ratarata 4x5 m. Jumlah santri menetap di pesantren 1555 orang 15 , jadi kepadatannya sangat tinggi, ratarata per kamar dihuni 1112 orang; 6 gedung madrasah dan sekolah, 1 gedung perpustakaan, 1 keamanan, 2 toko barang kebutuhan santri, 1 bank (BRI), dan 1 kompleks bangunan universitas yang terdiriatasFakultas:Syariah,Dakwah,danTarbiyah,dansejumlahruanganruanganlainnya. Adapun rumahrumah pengasuh para kiai dan ustaz, serta beberapa musala terletak di luar pagar kampus, jadi berada di masyarakat sekitar. Meskipun demikian suasana masyarakat di sekitar kampus terasa seperti uasana dalam satu kampus pesantren, di samping karena dekat dengan pesantren, juga karena adanya pesantrenpesantren kecil lainnya yang mengelilingi Pondok Pesantren Tebu Ireng seperti tersebut di muka, dan banyak santri yang mondok atau kontrak rumah, serta adanya rumahrumahkiai,ustazdankaryawan,ditengahtengahmereka(masyarakat). Berbeda dengan kampuskampus pesantren lainnya, seperti Pondok Pesantren GulukGuluk, Sukorejo dan Gontor, pada kampus Pondok Pesantren Tebu Ireng perumahan kiai, santri, dan ustaz berada di luar pagar pesantren. Dengan letak perumahan yang demikian itu, ditambah dengan adanya jalan raya yang menghubungkan pesantren dengan pusatpusat keramaian kota seperti diuraikan di muka, di mana kondisi geografis Pondok Pesantren Tebu Ireng sangat terbuka dan mobilitas fisik sangat tinggi,kampuspesantrenmembaurdalamdinamikakehidupanyangbercorakpinggirankota. Jenis pendidikan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Tebu lreng adalah "Pesantren", Madrasah, dan Sekolah Umum. Pelaksanaan pendidikan diselenggarakan secara terpisah antara kelas putradanputri. Pergaulan antara anak putra dan putri lebih longgar bila dibandingkan dengan pergaulan santri putra dan putri di Pondok Pesantren GulukGuluk, di mana di Pondok Pesantren GulukGuluk sampai sampaiada'Jalanwanita"dalamkampuspesantren,artinyahanyabolehdilaluiolehsantriputri,sedang santri putra dilarang. Sebaliknya di dalam kampus Pondok Pesantren Tebu Ireng, anak lakilaki lebih mudah bertemu dengan anak perempuan dalam pergaulan hidup keseharian, sebagaimana layaknya dalamkehidupanmasyarakatkota.Tentusajasemuanyainidalambatasbatastatatertibpesantren. Santri menyiapkan kebutuhannya sendiri, seperti mengurus makan, tetapi pada umumnya mereka tidak memasak sendiri, melainkan langganan di warung atau indekos di rumah penduduk
Jumlah santri pada saat penelitian ini ada 2522 orang, yang tinggal dalam pesantren (santri mukim): 1552 orang, yang 970 orang mondok atau menyewa kamar pada penduduk kampung, beberapa diantaranya pulangkerumahsendiri(santrikalong).
15

62 sekitar; hanya sebagian kecil yang memasak sendiri. Mereka tidak membuat pondok sendiri sebagaimana santri dari Pondok Pesantren GulukGuluk, atau tidak ikut membangun pesatrennya sebagaimana santri dari Pondok Pesantren Blok Agung, santri Pondok Pesantren Tebu Ireng datang mondok ke pesantren, dan jika ternyata kamarkamar sudah penuh mereka mencari pondokan ke rumahrumahpenduduksekitarpesantren. Pondok Pesantren Tebu Ireng diasuh oleh pimpinan pesantren yang bertindak sebagai direktur pesantren yang sekaligus pemilik pesantren, dan didampingi oleh suatu dewan kiai (lihat halaman 75 76).Dewankiaiinilahyangmenjadipenjaganilaiagamadanmengajarkitabkitabkuningpadasantri. Adapunjadwalkehidupansantridalamkeseharianadalah: Jadwalhidupkesehariansantriselama24jam PondokPesntrenTebuIreng
No. 1. Jam 04.30-05.00 Kegiatan Salat Subuh didahului dengan salat sunah, atau membaca pujipujian kepada Tuhan dan selawat Nabi. Mengaji kitab kuning sesuai dengan kebutuhan dan tingkat, dibimbing oleh kiai, ustaz atau santri senior, diselenggarakan di mesjid, menurut jadwal. Siap-siap masuk sekolah formal (madrasah atau sekolah umum). Jam belajar di sekolah formal. Salat Zuhur berjemaah di mesjid. Istirahat siang Mengaji kitab kuning di mesjid, dilanjutkan dengan salat Asar (sesuai dengan jadwal) Salat Asar Mengjai kitab kuning sesuai dengan jadwal Istirahat, persiapan salat Magrib Sorogan Alquran, dibimbing oleh kiai, atau ustaz atau santri senior Salat Isya berjemaah di mesjid Semua santri diwajibkan mengikuti jam Mutalaah ( menghafal

2.

05.00-06.30

3. 4. 5. 6. 7.

06.30-07.00 07.00-12.30 12.30-13.00 13.00-14.00 14.00-16.00

8. 9. 10. 11.

16.00-16.30 16.30-17.30 17.30-18.00 18.00-19.00

12.

19.00-19.30

63
13. 19.30-21.00 atau mengulang pelajaran) Semua santri sudah harus berada dalam kampus. Pintu masuk pesantren ditutup dan dibuka lagi jam 04.00 untuk memberi kesempatan masyarakat luar salat subuh.

14.

21.00

Melengkapi jadwal kegiatan tersebut, santri berkewajiban melaksanakan tata tertib pesantrcn.antaralain: (1).Setiapsantridiwajibkanmengajipalingsedikitempatkitab. (2). Setiap Kamis dan Senin malam: libur. Pada waktuwaktu tertentu diadakan acara khusus untuk mengaji kitab tertentu yang dibacakan oleh santri senior dengan bimbingan kiai. (3) Mengikuti kerja bakti (raan) setiap hari Jumat pagi. Sanksi terberat atas suatu pelanggaran akan dipulangkan (dikeluarkan dari pesantren) yang paling ringan diperingatkan. Kecuali itu santri membentuk organisasiorganisasi daerah menurut daerahnya masing masing, misalnya Ikatan Santri Madura, Organisasi Pelajar Islam Malang, Banyuwangi, Surabaya, Kediri, Madiun, Jember, Cirebon, dan sebagainya. Kegiatankegiatan mereka antara lain: belajar pidato, memperingati harihari besar Islam, menyelenggarakan berbagai kursus, Musabaqah TilawatilQuran,Dakwah,dansebagainya. Selain organisasi daerah, santri juga tergabung dalam organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), dan Organisasi Kompleks, yaitu organisasi menurut kompleks kamarkamar pondokan mereka. Di samping organisasi yang bersifat studi, santri juga membentuk perkumpulanperkumpulan olah raga seperti sepak bola, bola voli, bulu tangkis, catur, dan sebagainya. Suasana dalam kehidupan Pesantren Tebu Ireng terasa lebih longgar dan mobile, sesuai dengan corak kehidupan urban. Pakaian santri seharihari tampak tidak jauh berbeda dengan pakaian pelajarpelajar umum: pakai celana, baju lengan pendek atau panjang, sepatu, tidak selalu pakai peci, dan sebagainya. Santri putri memakai jilbab, seperti juga jilbab yang dipakai olehsiswisekolahumum.Banyaknyasantriyangtinggalataumondokdiluarpagarpesantrendan banyaknya ustaz serta kiai yang juga tinggal di luar pagar pesantren, dan mudahnya mencapai pusatpusat kota, menyebabkan santrisantri pesantren lebih terbuka untuk bergerak (mobile) dan menjalin hubungan dengan pihak lain di luar pesantren, sehingga perilaku santri dalam

64 keseharian juga tidak banyak berbeda dengan perilaku pelajar umum. Gambaran bahwa santri tunduk secara penuh di hadapan guru sebagaimana digambarkan dalam kitab Ta'lim Muta 'allim dan laporanlaporan dari pesantren lain sebagaimana dilukiskan oleh Jamil Suherman (halaman 35) di muka, tidak dijumpai lagi di pesantren Tebu Ireng. Suatu hal yang menarik untuk dicatat dalam kaitannya dengan tata kehidupan modern ialah di dalam Pondok Pesantren Tebu Ireng terdapat Bank Rakyat Indonesia (BRI). Kelahiran lembaga perbankan di tengahtengah dunia pesantren, apalagi kelompok pesantren salaf seperti Tebu Ireng ini merupakan hal baru yang cukup menarik perhatian, sebab saat ini dipertanyakan di kalangan umat Islam: apakah bunga bank identik dengan riba atau tidak, sedang riba dalam Islam hukumnya jelas haram. (Lihat laporanmengenaistrukturOrganisasiTebuIrengdimuka). Apa yang dapat diperoleh dari analisis mengenai lingkungan pesantren Tebu Ireng untuk dikembangkan dalam perspektif sistem pendidikan nasional adalah (I) adanya dewan kiai yang berusaha mempertahankan identitas pesantren di dalam menangkis dampak negatif dari modernisasi.Tetapitampaknyahaliniakanmengalamikesulitankarenamerekamempergunakan metode tradisional, yaitu hafalan dan pengajian yang diberikan secara masal. (2) "Keberanian" Pondok Pesantren Tebu Ireng melakukan kontak terbuka dengan sistem lain di luar dirinya, yaitu dengan memasukkan lembaga perbankan merupakan salah satu indikator tata ekonomi modern ke dalam dunia pesantren. Hal ini perlu memperoleh elaborasi lebih mendalam karena dapat berdampak jauh dalam rangka meletakkan sendisendi pembaruan pemikiran dalam Islam, yang padaakhirnyaakanmempengaruhipemikirandalammerencanakanpendidikanIslam. e.PPPaciran e.1.Lingkungankehidupanmasyarakatluarpesantren Pesantren ini terletak di desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Karena nama Paciran selain sebagai nama desa juga menjadi nama kecamatan, maka desa Paciran sesungguhnya merupakan daerah pinggiran perkotaan. Daerah pesisir umumnya merupakan daerah konsentrasi keagamaan yang 1ebih kuat dibandingkan dengan daerah pedalaman. Di dalam desa Paciran sendiri terdapat banyak perguruan. Empat di antaranya adalah berupa pesantren: (1) Pondok Pesantren Muhammadiyah Karang Asem, yang dikenal sebagai Pondok PesantrenPaciran(yangmenjadiobjekpenelitian),(2)PondokPesantrenMaza'aratul,(3)Pondok Pesantren modern Muhammadiyah Paciran, dan (4) Pondok Pesantren AlAlamin. Letak mereka saling berdekatan satu sama lain (terletak dalam satu gang kecil, sepanjang sekitar 1,5 km). jadi dalam satu gang tersebut terdapat 2 pesantren Muhammadiyah. Selain itu, di desa Paciran juga terdapat:1SMPNegeri,5SMPSwasta,1SMANegeri,4SMASwasta,dan2SDNegeri:SDNegenI danSDNegeriII. Komposisi lapangan kerja penduduk adalah: 45% tani dan buruh tani 40% nelayan dan buruh nelayan, 5% pegawai negeri, ABRI, dan sebagainya, 3% kerajinan, dan 22% lainlain, tidak

65 menentu. Perekonomian masyarakat sekitar pesantren (dalam radius kurang lebih 2 km dari pesantren) miskin, pekerjaan mereka pada mumnya nelayan kecil, penambang batu Kapur bahan membuat kaca (dhalmite), penggaduh sapi dan kambing, ratarata 34 ekor di setiap rumah tangga,pengangkutbatubatukapur,pedagangecerandansebagainya Hubungan pesantren dengan masyarakat sekitar baik; antara kampus pesantren dan masyarakat sekitar tidak dibatasi oleh suatu pagar atau tembok pembatas. jadi tidak ada garis batas antara pesantren dan masyarakat sekitarnya. juga hubungan keempat pesantren terletak dalamsatugangJalanyanghanyasepanjang1,5km,tampaksalingmenghargaisatusamalain. Berbeda dengan kelima pesantren terdahulu, status kelembagaan Pondok Pesantren Paciran berada langsung dalam organisasi Muhammadiyah. dan secara resmi garis kepengurusannya berada langsung di bawah kebijakan Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah Pusat. Pondok Pesantren Paciran ini merupakan salah satu tempat kelahiran kaderkaderMuhammadiyah. e.2.Lingkungankehidupanmasyarakatdalampesantren Suasana kehidupan dalam Pondok Pesantren Paciran antara lain dapat digambarkan sebagai belikut: luas kampus pesantren 3,5 ha, di atasnya terletak sejumlah bangunanbangunan: 1 mesjid , 5 rumah pengasuh, 5 lokal asrama putra, 5 lokal asrama putri, 1 musala putri, 7 lokal gedungsekolahatauruangbelajar,1kantordanperpustakaan,1aula,1gedungFakultasSyariah (Hukum), cabang dari Universitas Muhammadiyah Malang, dan sejumlah bangunan lain seperti: kamarmandi,kamarkecil,sumur,dansebagainya Jumlah santri saat ini ada 2442 orang, terdiri atas 1166 putra dan putri, 35% (854) menetap di pesantren (santri mukim), 65% (1158) pulang ke rumah (santri kalong); 231 guru, terdiri atas 197 lakilaki dan 34 wanita. Jenis dan jenjang pendidikan yang diasuh adalah: (a) madrasah dari tingkat Bustanul Atfal (TK) sampai Aliyah, dan Fakultas Syariah yang langsung diurus oleh Universitas Muhammadiyah Malang dan (b) Sekolah Umum meliputi SMP dan SMA. Sehubungan dengan statusnya sebagai pesantren Muhammadiyah, maka corak pendidikannya mengikuti pola yang ditetapkan oleh Muhammadiyah yang berlaku menyeluruh secara nasional daripusatsampaikecabangcabangdanrantingrantingMuhammadiyah. Suasana kehidupan belajarmengajar di dalam kampus lebih menunjukkan corak keperguruan (pendidikan formal) daripada kepesantrenan (pendidikan nonformal). Corak keperguruan itu antara lain tampak pada caracara berpakaian seperti seragam sekolah, dan hubungan antara santri dan ustaz seperti hubungan antara murid dan guru pada sekolahsekolah formalyangantaralainditandaidengansituasitanyajawabataudialogdiantaramereka,hahkan pergaulan antara santri dan ustazustaz muda sering akab sebagai teman sepergaulan, bahkan santri sering tampak mengajukan usulusul dan protes jika ia merasa tidak di perlakukan secara

66 adil. (Lihat kasus protes seorang santri pada halaman 7172). "Protes" seorang santri terhadap kiai dalam dunia pesantren merupakan hal yang sangat menarik perhatian, dan sekaligus merupakantandaadanyagejalapergeserannilai,yangdalamhalini"berani"melawankiai.Tetapi peristiwa semacam itu terasa "tabu" di kalangan pesantren salaf (lama) dan pesantrenpesantren lain pada umumnya. Selain itu, peristiwa tersebut juga menunjukkan adanya suatu pergeseran nilai kependidikan: dari nilai sematamata belajar, juga mebcari ijazah negeri untuk mengejar karier selanjutnya. Suasana kegiatan belajarmengajar di Pondok Pesantren Paciran seharihari tercermindalamjadwalkehidupanmerekasehariharisebagaibcrikut: Jadwalhidupkesehariansantriselama24jam PondokPesantrenPaciran No I. Kegiatan PendidikanSekolah Waktu 07.0012.40 13.3017.20 Pesertadidik SMTPSMTA Ibtidaiyah Fak.Syariah Pembina KepalaSekolah KepalaSekolah Fakultas

2. Bimbinganmembaca

05.0006.00

Santriputra

Ustazmuda

Alquran

15.0017.30 18.0019.30

dariSDSMP Santriputra Tsanawiyah Santriputri Ibtidaiyah, Tsanawiyah,SMP

(Iakilaki) Ustazmuda (lakiIaki) Ustazmuda (putri)

67 No 3. Kegiatan Tahfidzul Quran Waktu 06.00-08.00 Peserta didik Santri SMTP, Fak. Syariah 05.00-06.00 Santri putra SMTP-SMTA 15.00-17.00 5. Kursus Bahasa Arab 18.30-19.30 Santri putri Semua santri (putra-putri) 6. Mengaji kitab 14.30-18.00 Santri dari SMTP-SMTA (putri) 12.00-13.00 19.30-21.30 15.00-17.00 SMTA (putra) Fak. Syariah Semua santri Wakil pengasuh Wakil pengasuh Klub masingmasing 10. Guru kelas Pembina Kiai (pengasuh utama) Kiai (wakil pengasuh) Ustaz Ustaz

4.

Tafsir Alquran

( Riyadussalihin/ Bulugul Maram)


7. 8. 9. Mengaji Alfiyah (Nahu)

Bidayatu.l Mujtahid
Olah raga

Muhadarah

18.00-20.00 (setiap malam senin dan Selasa) 18.00-21.00 Setiap Jumat 15.00-16.30 18.00-10.30 07.00- 11.00 I9.00-22.00

Semua santri

Kelompok studi

11. 12. 13. 14. 15. 16.

Madrasah Pramuka Mengaji Hadis Mengaji Alfiyah Kursus, PKK, Jahit dan sebagainya Pencak Silat

Semua santri Semua santri Santri SMTA, putri Santri putri, SMTA Kelompok peserta Kelompok peserta

Kelompok belajar Pramuka Kiai kil Pengasuh Kiai W kil pengasuh Kelompok belajar Kelompok belajar

68 Dari jadwal kegiatan tersebut jelas tergambar bawha Pondok Pesantren Paciran lebih menekankan kegiatan belajarmengajar ilmu pengetahuan agama di ruangruang kelas dan melalui kegiatan kursuskursus. Hal ini berbeda dengan kegiatankegiatan kelima pesantren terdahuluyangbanyakmemusatkankegiatanperibadatandimesjid. Pada saat salat Jumat di mesjid (Pondok Pesantren Paciran), banyak penduduk sekitar yang mengikuti salat jemaah. Seperti disebutkan di muka, dengan tidak adanya pagar pembatas geografis yang membatasi kampus pesantren dengan masyarakat sekeliling, sangat memudahkan penduduk setempat menuju mesjid, karena dengan tidak adanya batasan tersebut praktis perkampungan mereka masuk ke dalam kampus pesantren. Sesungguhnya,banyaknya orang dari masyarakat yang ikut salat di mesjid pesantren, terjadi pada semua pesantren, karena mesjid pesantren adalah juga mesjid untuk masyarakat sekitarnya. Yang menjadi imam sering kali orang kampung, bukan santri, kiai atau ustaz. Pada umumnya sebelum dan sesudah salat jemaah, tidak diawali atau diakhiridengan pujipujian atau mengaji Alquran,salatsalat sunnah dansebagainya. Situasi yang demikian itu berbeda dengan apa yang berjalan di pesantrenpesantren di Guluk Guluk, Sukorejo, Blok Agung, Gontor, dan Tebu Ireng. Itulah antara lain halhal yang menjadi sebab mengapa suasana kehidupan dalam Pondok Pesantren Paciran lebih banyak menggambarkan suasana keperguruan daripada kepesantrenan; di samping sebab lain, yaitu karenayangtinggaldalampesantrenlebihsedikitdaripadayangtinggaldiluarpesantren. Jadwal kegiatan tersebut sekaligus merupakan tata tertib pesantren yang wajib dilaksanakan oleh santri. Kecuali itu dalam Pondok Pesantren Paciran terdapat seperangkat laranganyangharusditaatiolehsantri.Santridilarang: I) mencuri, (2) memakai milik orang lain tanpa izin dari pemiliknya, (3) bertengkar atau berkelahi, (4) merokok, (5) tidur di kamar orang lain, (6) bergurau atau berteriak melampaui batas, (7) berambut gondrong, (8) keluar malam melebihi jam 22.00, (9) mengadakan hubungan santriputraputri,(10)menyimpanbendatajamyangbukanpadatempatnya. Pelanggaran atas laranganlarangan dan kewajibankewajiban dalam tata tertib tersebut dikenakan hukuman yang sesuai dengannya, dari paling ringan, yaitu berupa penugasan penugasan,baikdalambentukpemberianpekerjaansekolahmaupunkerjafisik,sampaikepaling berat,yaitudikeluarkandaripesantren. Butir yang dapat dipetik dari suasana kehidupan belajarmengajar dalam Pondok Pesantren Paciran tersebut, untuk dikembangkan dalam sistem pcndidikan nasional adalah penyelenggaraan kursuskursus keagamaan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Paciran untuk mengimbangi pendidikan keilmuan yang diberikan melalui sekolah umum dan madrasah dengan kurikulum pemerintah (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Agama). Pondok Pesantrcn Paciran tidak hanya menyelenggarakan kursuskursus keagamaan dan

69 keterampilanketerampilan lain, seperti Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Pencak Silat, dan sebagainya, tetapi juga belajar menghafal Alquran. Ternyata hal yang terakhir ini merupakan salahsatudayapikatPondokPesantrenPaciran. f.LingkungankehidupanmasyarakatPPGontor f.1.Lingkungankehidupanmasyarakatluarpesantren PesantreniniterletakdidesaGontor,KecamatanMlarak,KabupatenPonorogo,PropinsiJawa Timur. Daerah Madiun pada umumnya dan daerah Kabupaten Ponorogo pada khususnya bukan daerah konsentrasi pesantren sebagaimana daerahdaerah sebelumnya, PP GulukGuluk, Sukorejo, Blok Agung, dan Paciran. Bahkan sebaliknya dalam sejarah Indonesia, daerah Madiun dan Ponorogo pernah menjadi daerah basis PKI (Partai Komunis Indonesia). Pemberontakan PKI Madiun tahun 1946 sempat menyerbu dan membuat kacau balaunya PP Gontor. Konon nama "desa Gontor" berasal dari kata panggonan kotor, artinya tempat yang kotor, dalam arti tidak bermoral. Sampai sekarang di daerah Ponorogo dan sekitarnya, sampai ke pelosokpelosok desa, terkenalkesenianreog 16 denganwaroksebagaipemimpinnya,dangemblaksebagai"istri"warok. Warok adalah seorang jagoan yang memiliki kesaktian kanuragan atau ilmu kebal badan, tergolong kekuatan black magic. Memperistri anak lakilaki tersebut, berarti terjadi hubungan homoseksualantarawarokdangemblaknya. Dalam kepercayaan dunia hitam warok, jika seseorang ingin memiliki kesaktian tubuh (kebal), maka orang tersebut harus pantang wanita. Oleh karena itu untuk menyalurkan nafsu seksualnya, warok memelihara gemblak sebagai istrinya. Homoseksual sebenarnya sudah dikenal lama di masyarakat Jawa, setidaktidaknya menurut serat Centini hal ini sudah dikenal sejak awal abad ke18, dan sampai saat ini tradisi gemblak ternyata masih dapat ditemui di desadesa di dalam Kabupaten Ponorogo, antara lain di desa BalKan, 17 km sebelah Tenggara kota Ponorogo 17 ,dansekitar10kmdaridesaGontor.

Reog adalah kesenian tradisional dari daerah Ponorogo. Pemain utamanya memakai topeng besar menyerupai kepala harimau yang dihiasi bulubulu ekor burung merak berwarnawarni dan indah. Pemain utama tersebut menarinari dengan berselubungkan topeng harimau tersebut, dan diatasnya duduk duduk seorang anak lakilaki remaja menjelang dewasa berusia 617 tahun bertampang bagus. Anak inilah yang disebut gemblak yang menjadiistriwarok,yaitupemainutamatersebut.
17 16

Hasilpenelitiandr.IsmetYusuf,dalamTempo,No.32,tahunXVII,10101987,hlm.30.

70 Kesenian reog lengkap dengan gemblaknya biasanya disertai dengan kebiasaan kebiasaan jelek lainnya, seperti perjudian, minumminuman atau mabukmabukan, dan perilaku perilakutidakterpujilainnya. Tetapi kini keadaan telah berubah, PP Gontor telah hadir di tengahtengah masyarakat dengan kuat, banyak perguruanperguruan agama yang didirikan oleh alumni pesantren dan bahkan beberapa pesantren juga telah didirikan oleh mereka. Meskipun demikian, dalam radius sekitar 10 km, PP Gontor masih menghadapi budaya komunis, yaitu sisasisa pengaruh PKI Madiundanbudayaperdukunan,yaitusisinegatifdaribudayareogtersebut. Pondok Pesantren Gontor mempunyai program pembinaan masyarakat lingkar pesantren beradius 5 km, meliputi kegiatankegiatan: (1) Pembentukan pesantrenpesantren cabang oleh para alumni untuk menampung santrisantri yang tidak dapat ditampung oleh PP Gontor. Pesantrenpesantren itu antara lain: (a) PP Ngabar, khusus untuk pesantren putri. Jumlah santri yang diasuh saat ini ada 200 orang, (b) PP Arrisalah, khusus untuk pesantren putra. Jumlah santri yangdiasuhsaatiniada200orang.KeduapesantrentersebutadadiKecamatanSlahun,tetangga Kecamatan Mlarak di mana desa Gontor terletak di dalamnya. (2) Sekolahsekolah agama, baik yang bernaung di bawah organisasi NU maupun Muhammadiyah. Suatu hal yang menarik perhatian ialah: terdapat guruguru Muhammadiyah mengajar di sekolahsekolah NU dan sebaliknya,merekamerasadapatbertemukarenamerekaadalahsatualumnidariPPGontor. Selain pembinaan masyarakat melalui pembentukan pesantren dan sekolahsekolah,juga dilakukan pembinaan melalui bidang perekonomian: (a) PP Gontor menjadi konsultan Koperasi Unit Desa (KUD) dan pembeli terbesar beras KUD; setiap bulan pesantren membutuhkan sekitar 1.000 ton gabah. (b) Pesantren sendiri juga mengusahakan penggilingan padi bekerja sama dengan KUD setempat. (c) Pesantren menyediakan tanah sawahnya sekitar 15 ha, disediakan kepada buruh tani yang ingin mengolahnya. Di kalangan masyarakat lingkar pesantren tersebar paham bahwa jika mengerjakan sawah pesantren terkandung berkah, misalnya padinya tidak terseranghamawereng,dansebagainya.SecarakeseluruhanPPGontormemilikitanahpertanian seluas250hayangdapatdijadikansumberdukunganbiaya.Selainitu,pesantreninijugamemiliki usaha percetakan dan restoran yang juga dijadikan sumber dana. (d) Pesantren juga memberi kesempatan kepada penduduk setempat untuk membuka berbagai usaha melayani kebutuhan santri, misalnya: menjadi binatu (tukang cuci), tukang cukur, dan sebagainya. Mereka juga diberikan kesempatan untuk menitipkan makanan kecil atau kuekue di kantin pesantren. Setiap bulan omzet penjualan meliputi sekitar Rp 90 juta. Mata pencaharian masyarakat sekitarnya sebagian besar pertanian (70%), sebagian kecil (5%) pegawai negeri, ABRI, dan sebagainya, dan sebagian besar kedua (25%) adalah tidak menentu: buruh tani, jual tenaga, berdagang kecil kecilansepertijualrokok,makanan,dansebagainyatermasukpengangguran. Usahausaha pembinaan masyarakat lingkar pesantren seperti tersebut, akhirnya menciptakan hubungan baik antara pesantren dan masyarakat sekitarnya. Saat ini PP Gontor

71 tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat sekitar, tetapi juga merupakan salah satu aset nasionaldibidangpendidikan. f.2.Lingkungankehidupanmasyarakatdalampesantren Suasana kehidupan dalam PP Gontor antara lain dapat digambarkan sebagai berikut: luas kampus pesantren sekitar 8,5 ha, di atasnya terletak sejumlah bangunan antara lain: 3 rumah para pengasuh (trimurti), 2 mesjid (mesjid raya dan mesjid lama), 9 asrama, dengan jumlah sekitar450kamar.Jumlahsantri2.599orang,semuanyalakilaki,danjumlahguru277orang.Jadi ratarata setiap kamar dihuni antara 46 orang, ukuran kamar cukup besar 4x6 m sehingga cukup memadai dan bersih, semua santri tidur di atas kasur. Terdapat 6 kompleks perumahan guru dan dosen, 3 ruang tamu (wisma tamu cukup besar, bersih, dengan kamar mandi di dalam), 1 perpustakaan, 1 kantor, l balai pertemuan, 1 balai kesehatan, 2 toko koperasi santri, 2 warung santri, 2 ruang makan dan dapur umum, 3 lokal kompleks kamar mandi, 1 kantor santri (OPPM: OrganisasiPelajarPondokModern),4gedungsekolah,masingmasingberlantai4(sebagianlantai bawah ditempati: asrama, dan guruguru muda). Bangunanbangunan lain: gedung disel listrik, percetakan, penggilingan padi, dan lainlain. Lapanganlapangan olah raga: seperti sepak bola, bola basket,bolavoli,danbadminton.

Secara keseluruhan keadaan lingkungan fisik: teratur, dan memadai. Para ustaz atau guru-guru yang masih bujangan menempati kamar-kamar sebagaimana santri pada umumnya dan berlokasi di tengah-tengah kamar para santri. Dengan demikian mereka (para guru) dapat bergaul dan membimbing santri setiap saat. Jenis pendidikan yang diasuh PP Gontor hanya satu, yaitu sekolah KMI (Kuliyatul Mu 'alimin Islamiyah) selama 6 tahun, setingkat Tsanawiyah ditambah Aliyah, dan IPD (Institut Pendidikan Darussalam, hampir sama dengan IKIP). Cara hidup keseharian santri dan guru PP Gontor dapat dilihat dari jadwal kehidupan mereka, yang sekaligus merupakan pedoman adat sopan santun atau etiket dan tata tertib yang harus mereka taati. Terdapat 3 jadwal kegiatan: (l) Jadwal harian, (2) Jadwal mingguan, (3) Jadwal bulanan/tengah tahunan.

72

Jadwal hidup keseharian santri dalam 24 jam PP Gontor

No. 1.

Jam 04.00

Kegiatan Bangun pagi, mandi, salat subuh, membaca Alquran, mengulangi pelajaran, makan pagi, siap masuk sekolah

2.

05.30-06.30 Senam pagi atau berolah raga, bagi mereka yang menginginkan

3.

06.30-06.45 Makan pagi, diteruskan menuju ke sekolah

4.

07.00-12.30 Bersekolah

5.

12.30 Salah Zuhur, dilanjutkan dengan makan siang

6.

12.30-14.00 Istirahat siang diisi dengan membaca bacaan ringan, surat kabar, dan sebagainya. Mereka dilarang tidur siang

7.

14.00-15.00

Belajar lanjutan di sekolah, atau mengikuti kursus-kursus atau pelajaran tambahan: dan dilanjutkan dengan salat Asar

8.

15.30-17.15

Kesempatan bagi mereka berolah raga sore hari, atau mandi, jalanjalan sore, membaca bacaan ringan, dan kegiatan santri lainnya

9.

17.15-17.45

Semua santri sudah harus siap di mesjid untuk melakukan salat magrib berjamaah

10

17.45-18.30

Melakukan salat magrib, dilanjutkan membaca Alquran selama sekitar 30 menit, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.

73

11. 12. 13.

18.3019.00 19.1022.00 22.0004.00

SiapsiapmenujumesjiduntuksalatIsyaberjemaahBelajar malam: mengulang pelajaran yang danmenyiapkanpelajaranesokharinya

baru

diperoleh

Istirahat atau tidur malam. Jumlah tidur santri sehari semalamtidak boleh kurang dari 6 jam dan tidak boleh lebih dari 8jam

Setiapsalatlimawaktuberjemaahdimesjidselaludiawalidandiakhiridengansalatsunat, menurut hukumnya, karena tidak semua salat wajib selalu diawali dan diakhiri dengan salat sunat, membaca Alquran, pujipujian kepada Tuhan atau membaca Selawat Nabi; dan diimami oleh santri sendiri. Demikian pula halnya dengan salat Jumat, semuanya dilaksanakan oleh santri (imam dan khatib oleh santri). Khotbahkhotbah salat Jumat diberikan dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Di dalam salat Jumat itu diberikan pengumumanpengumuman baik yang mengenai organisasi santri, maupun mengenai beritaberita duka dan gembira tentang para alumni pesantren di mana pun mereka berada atau tentang keluarga santri yang berada di kampung halamannya, yang perlu diberitakan. Semua pengumumanpengumuman juga diberikan dalambahasaArabataubahasaInggris. Dengan demikian, maka kekompakan keluarga santri dapat dijaga dan beritaberita merekaterusdapatdimonitor. JadwalMingguan Selainjadwalharian,merekajugamempunyaijadwalmingguan: 1. 2. 3. 4. 5. SetiapSelasadanJumatpagi,darijam05.3006.00laripagi. Minggumalamdarijam19.2021.00MuhadarahbahasaInggris. Kamissiang11.0012.30MuhadarahbahasaArab. Kamismalam19.2021.00MuhadarahbahasaIndonesia. Kamissorepramuka.

Ciri khas dari Pesantren Gontor ialah disiplinnya yang tinggi dan sehariharinya menggunakan bahasa Arab atau Inggris. Bahkan dalam memberikan komentar pada siaran sepak bola juga dilakukan dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Untuk menghafal katakata bahasa Arab atau

74 Inggris, di pohonpohon atau di tempattempat tertentu ditempel daftar katakata atau idiom idiom yang perlu dikuasai oleh mereka. Pemakaian bahasa Arab dan Inggris seharihari selalu diawasi dan dibimbing oleh santrisantri senior dan para ustaz. Untuk itu, para ustaz semaksimal mungkinharusselalubersamamereka. Santri PP Gontor tidak memasak sendiri, mereka makan bersama dalam suatu ruang makan umum yang sudah disiapkan oleh pesantren. Mengenai mencuci pakaian, sebagian mencuci sendiri, sebagian yang lain mengirimkan ketukang cuci dan binatu di sekitar pesantren. Mereka diwjibkan berpakaian rapi dan dianjurkan membeli jas dan dasi, sehingga sebagian besar dari mereka terutama pada waktu salat berjemaah dan salat jumat hampir semuanya memakai jas. Dalamhidupkeseharianterdapat4ragamberpakaianmenurutkegunaannya: (a)Padawaktukesekolah(celana,hem,sepatu). (b)Padawaktusalat(sarung,ikatpinggang,kemeja,jasdankopiah).Merekatidakdipaksakan membelijas,tetapijikainginmenambahpakaian,bajudanjasharusdidahulukan. (e)Padawaktuolahragaatausenam(pakaianolahraga). (d)Padawaktuistirahat(pakaiansantaidengantetapmenjagakesopanan). Jadwalbulanan/tengahtahunan Sewaktuwaktu diadakan kebersihan umum untuk memperbarui semangat. Tiaptiap setengah tahun diadakan perpindahan umum dari satu pondok ke pondok yang lain (tukar asrama).Selainuntukmemperbaruisemangat,jugadimaksudkanagarsemuamerasakannya. Melengkapi etiket pergaulan tersebut, santri dilarang berhubungan terlalu akrab dengan orang kampung atau desa sekitarnya, maksudnya untuk menyaring pengaruh buruk yang datang dari orang kampung. Untuk berhubungan dengan orangorang desa, sudah ada santri khusus yang ditugaskan untuk berdakwah ke kampungkampung; santri tidak boleh melakukan (berhubungandenganorangkampung)sendirisendiri. Semuasantribergabungdalam0PPM,yaituOrganisasiPelajarPondokModern.Organisasi ini merupakan kelompok terbesar dalam tubuh organisasi PP Gontor secara keseluruhan, dan organisasi ini mengambil bagian terbesar dari seluruh kegiatan operasional belajarmengajar dalam pesantren, sejak dan mengorganisasi masalah pengajaran, penerangan, kesenian, olah raga, perpustakaan, penerimaan tamu, keamanan, koperasi, kesehatan, rayonisasi (organisasi santri menurut kelompok asrama), konsulat (organisasi menurut asal), dan mcngatur kepulangan santri ke rumah masingmasing pada saat libur panjang; sedang mengenai alumni diurusi oleh badantcrsendiri,yaituIKPM(IkatanKeluargaPondokModern).

75 Sementaraitu,ada3halpelanggarandansanksiyangamatkuatditekankandalamdisiplin kehidupan santri seharihari, yaitu (1) Pencurian,(2) Wanita (mengadakan hubungan dengan wanita yang bukan muhrimnya), dan (3) Menghina anak yang taat dan rutin; seperti mengolok olok dan sebagainya;termasuk berkelahi.Ketigahal ini merupakan pelanggaranberatyang dapat diancamdenganhukumandikeluarkannyasantridaripesantren. Selain etiket pergaulan santri seperti tersebut di atas, di PP Gontor juga terdapat etiket guru,yailutatatertibmengajaryangharusdipenuhiolehguru: 1. Sebelum mengajar guru harus dapat membuat persiapan lahir dan batin. Persiapan lahir megenai materi pelajaran yang harus dibuat dengan tertulis, sedang persiapan batin mengenai kesiapan hati dan niat bahwa mengajar karena Allah semata dan karena itu harusdimulaidenganmemanjatkandoakepadaNya. 2. Guru tidak hanya mengajar dalam arti kata menyampaikan ilmu semata, tetapi ia berkewajibanmendorongberkembangnyaiman,girahdiniyahdanamalsaleh. 3. Guru harus berdisiplin dengan waktu (jangan terlambat, dan sebagainya) dan berdisiplin mengajar (mengajar secara efektif dan efisien, serta selalu siap mengisi jam pelajaran kosong). 4. Guru harus disiplin dalam bahasa (selalu menggunakan bahasa Arab atau Inggris) dan disiplindalampakaian,rambut(berpakaiansopandantidakgondrong). 5. Guruharusdisiplindalamsalatberjemaah. 6. Guru harus disiplin dalam peningkatan diri (meningkatkan ilmu, bahasa, metode mengajar,mengunjungiperpustakaan,dansebagainya). Etiket tersebut sesuai dengan pendidikan mereka, yaitu Kuliyatul Mualimin Islamiyah, yang artinyasekolahguru. Dari uraian mengenai kegiatan hidup keseharian santri dan guru seperti tersebut di atas, tampak adanya proses kegiatan belajarmengajar secara self government dengan seperangkat ramburambu disiplin yang tinggi dan ketat. Dari jadwal kegiatan belajarmengajar tersebut di atas juga tampak bahwa kegiatan pengajian Kitab Kuning di PP Gontor, kalah kuat dengan pengajianKitabkitabKuningdiPPSukorejo,BlokAgung,GulukGuluk,danTebulreng. Kesimpulan yang patut dipetik dari lingkungan daerah kerja Pondok Pesantren Gontor tersebut yang perlu dikembangkan dalam perspektif Sistem Pendidikan Nasional antara lain adalah: (I)Disiplinyangtinggidalamproseskegiatanbelajarmengajar. (2)Satunyakehidupansantridangurudalamprosesbelajarmengajar. (3) Usaha dari pesantren untuk memberikan kesempatan dan fasilitas kepada guru dan keluarga guru, sehingga mereka dapat melaksanakan tugasnya sebagai bagian ibadah kepada Tuhan,danbukankarenauangataupamrihmateri.

76 (4) Usaha pesantren untuk mengintegrasikan diri dengan masyarakat lingkungannya melalui programpembinaanmasyarakatsekitar. Dari gambaran lingkungan kehidupan keenam pesantren tersebut dapat dirangkum ke dalam suatu perumusan singkat bahwa: pada dasarnya filsafat pendidikan pesantren adalah theocentric yang cenderung lebih menekankan pentingnya orientasi kehidupan ukhrawi daripada duniawi. Selama 24 jam, dari tahun ke tahun anak didik diexposed secara intensif untuk mendalami ajaran agama lengkap dengan pengamalannya. Mereka selalu berbuat dalam rambu rambu hukum agama yang membedakan yang halal dan yang haram, menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Hormat kepada kiai dan Ustaz, serta saling menolong dan saling menyayangi dengan sesama santri dalam tata pergaulan pesantren yang dipandangnya sebagai kewajibanmoral.Berkahkiaidipandangsebagaikuncisukseselalambelajar,dandalamkehidupan bermasyarakat. Kiai dan juga ustaz adalah orangorang saleh yang alim yang jauh dari ketidak jujuran dan keliru. Kitabkitab agama yang diajarkan oleh mereka diterima sebagai suatu kebenaran. (lihat jadwalkegiatanhidupsantridimasingmasingpesanternpadahalaman90126,dangamabaranhidupdi asramapadahalaman153) Semuanya itu membentuk pribadi muslim yang cenderung berperilaku sakral dalam hidup keseharian. Namun, di balik itu semua, tampak adanya gejala kehidupan yang semakin mendunia untuk mengimbangikehidupanukhrawi 2.5.KiaidanUstaz Yang dimaksud dengan kiai dalam laporan ini adalah kiai pengasuh pesantren yang menjaga nilai agama sebagaimana dibhaas dalam unsurunsur sebelumnya. Sedang yang dikamsud dengan ustaz adalahsantrikiaiyangdipercayaiuntukmengajaragamakepadaparasantridandisupervisiolehkiai. Seperti diuraikan pada pembahasanpembahasan di muka, banyak pandangan dan tantangan kehidupan yang berbedabeda yang dihadapi oleh kiai dan ustaz, dan inilah salah satu faktor yang menentukankeragamanpesantren. a.PPGulukGuluk Seperti dikatakan di muka bahwa kiai atau ulama yang memimpin kelompok pengasuh PP Guluk Guluk adalah K.H. Amir Ilyas. Keadaan dia pada saat ini sudah uzur dan menderita sakit mata yang mengancam kebutaan total. Menurutnya, penyakitnya sudah ditangani oleh dokter ahli, dan dokter mengatakan bahwa penyembuhannya memakan waktu lama. Tetapi pada waktu itu (1986an) ia ingin pergi haji, dan untuk itu ia menghentikan sementara pengobatannya dari dokter ahli tersebut. Sementara itu ia pindah ke tabib mata yang menyanggupi penyembuhannya dan tidak perlu membatalkan niatnya untuk pergi haji. Sepulang dari haji ternyata penyakitnya bertambah berat, dan

77 untuk itu ia kembali ke dokter ahli semula. Dokter tetap berusaha menyembuhkan matanya dengan memberikan obatobatan dengan dosis tinggi. Keadaan matanya pada waktu penelitian ini dilakukan ternyata bertambah buruk dan praktis menjadi buta. Tampaknya ia menerima perjalanan nasib seperti itudenganbaik.bagiKiaiAmir,pergihajiadalahamatpentingdanmengalahkansemuaacarakehidupan yangpentingsekalipun.Pandanganhidupyangdemikianinitampakditerimadandidukungolehanggota pengasuh yang lain. Kepergian ke Mekah adalah "segalanya" selama masih mungkin dilaksanakan, dan tampaknya pendapat ini juga menjadi idaman bagi masyarakat muslim Madura. Nasib seseorang telah tertulisdanberjalanmenurutketentuanNya. Dalam keadaan seperti itu maka pendapatpendapat yang berkapasitas mewakili pandangan atau pendapat pesantren GulukGuluk diwakili oleh K.H. Ashiem llyas, salah seorang yang paling senior sesudahK.H.AmirIlyas. Menurut pimpinan PP GulukGuluk, manusia pada dasarnya mencintai yang maruf (kebaikan) dan membenci yang munkar (kejahatan), tetapi dalam praktiknya manusia senang melakukan yang munkar daripada yang maruf. Hal Ini disebabkan manusia mempunyai kecenderungan mencitai dunia. Oleh karena itu, untuk memperbaiki sikakp dan perilakunya, anak didik (santri) tidak perlu lagi didorongdorong untuk mencintai dunia, karena merka tidak akan melupakan dunia. Sebaliknya, merek perlu didorong dengan sekuat tenaga untuk mencintai kehidupan ukhrawi, karena kehidupan ukhrawi adalah kehidupan yang kekal dan sesungguhnya, sedang kehidupan duniawi adalah kehidupan sementara dan bukan kehidupan sesungguhnya. Selain itu, mendidik mereka untuk mencintai kehidupan ukhrawi adalah lebih sulit daripada mendidik mereka untuk mencintai kehidupan duniawi, karena kehidupan ukhrawi itu sifatnya abstrak dan tidak langsung berhubungan dengan kebutuhan dan kesenangan hidup seharihari. Oleh karena itu metodologi pendidikan dan pengajaran di pesantren tidak cukup hanya dengan penalaran saja, tetapi juga memerlukan metode doktrin, hafalan, keteladanan, dan kepemimpinan yang karismatik sebagai sumberwibawa.BagiPPGulukGuluk,dalamhidupiniyangadahanyakewajiban,bukanhak.Hak adalah akibat yang diperoleh karena melaksanakan kewajiban. Sehubungan dengan itu, maka dalam hal kewajiban orang harus mendahulukan tugasnya sebelum orang lain, tetapi dalam hal hakorangharusmendahulukankepentinganoranglainsebelumkepentingandirisendiri. Dari uraian tersebut tampak adanya orientasi hidup yang kuat pada kehidupan ukhrawi melebihi duniawi. Sementara itu, seperti berulang kali disebutkan di muka, nilai yang mendasari kerja sama di kalangan mereka adalah: ikhlas dan ibadah. Tetapi dengan semakin majunya pembangunan, kemajuan ilmu dan teknologi, dan interaksi yang semakin intensif dengan sistem lain di luar pesantren, maka para pengasuh menghadapi tantangantantangan yang serius di dalammenyelenggarakankerjakependidikan. Setidaktidaknya, kiai menghadapi 3 (tiga) krisis besar, yaitu: (l) kiai bukan lagi menjadi satusatunya sumber mencari ilmu, dan moral. Namun, dalam hal moral tampaknya kiai masih tetap menjadi benteng pertahanan pesantren yang sangat kukuh, sebagaimana dilukiskan di muka, betapa hormatnya santri dan masyarakat Madura terhadap kiai. (2) Kiai menghadapi

78 kebutuhan ekonomi yang semakin besar. Ia dalam keadaan berjuang antara berkorban dan bekerja untuk pendidikan, atau menjadi korban kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Tetapi tampaknya para kiai memiliki lapangan usaha yang baik di bidang pertanian dan perdagangan tembakau, dan perdaganganperdagangan lain. Beberapa di antaranya berusaha di bidang politik (menjadi anggota DPRD Kabupaten Sumenep), menjadi dai, dan sebagainya, sehingga ratarata kehidupan mereka tampak berkecukupan. Melihat usahausaha mereka di bidang keduniawian tersebut tampaknya hal ini bertentangan dengan orientasi mereka yang kuat pada ukhrawi sebagaimana disebutkan di muka, tetapi sebenarnya tidak demikian, mereka memandang semua kerja duniawi tersebut dalam struktur relevansinya dengan orientasi ukhrawi. Tetapi bagaimanapun, seperti dikatakan di muka, sistem pendidikan dengan uang sudah memasuki PP GulukGuluk.SaatinibiayarataratabelajardiPPGulukGuluk:Rp.11.000perbulan. Analogdengangambarankiaitersebut,gambaranmengenaiustaznyajugamengikutijejak gambaran kiai. Ustaz sepenuhnya percaya dan tunduk pada kiai. Sampai saat ini masih banyak ustaz yang bekerja tanpa menerima honor, mereka hidup mengikuti gerak kehidupan bersama sama: jika ada rezeki dimakan bersama, dan beberapa di antaranya masih menerima kiriman uang dari orangtuanya. Ada semacam anggapan yang menyatakan bahwa membantu orang yang sedangbelajardanmengajarmerupakanamaljariah.Olehkarenaitumengirimuangkepadaanak yangbelajardanmengajaragamadipesantren,berartiberamaljariah. Tetapi seperti halnya dengan kiai, para ustaz juga mengalami krisis yang menguji keikhlasan mereka sebagai pengajar di pesantren. Tantangan mereka berkisar pada 3 hal pula, yaitu antara (1) mengabdi, (2) mencari nafkah dan (3) mengembangkan karier dengan cara mencari ilmu yang lebihtinggi.Banyakdiantaramerekayangmelakukanpengajianataumengajardiluaragardapat melanjutkan ke sekolah tinggi yang diselenggarakan oleh PP GulukGuluk. Pada awalnya para ustaz bekerja tanpa honor, pada saat ini honorarium sudah mulai eksis di pesantren meskipun kecil.HonormerekaratarataRp.30.000pertahun(diberikanpadawaktututuptahunajaran). Dari uraian tersebut, tampak adanya perubahan yang sedang terjadi, yaitu semakin meningkatnya kebutuhan ilmu dan ekonomi, jelas akan membawa dampak,besar, dan oleh karenaitupendidikanpesantrenperluditatakembali. b.PPSukorejo Seperti diuraikan di muka, pimpinan PP Sukorejo (K.H.R. As'ad Syamsoel Arifn) memiliki karamahyangpalingbesardiantarakiaipengasuhkelimapesantrenobjekpenelitianlainnya.Kiai menekankan pentingnya sikap berani, mandiri, teguh dalam pendirian, mempunyai ide murni, dan akhlak yang mulia dalam hidup bermasyarakat. Menurut pimpinan PP Sukorejo, banyak orang pandai yang gagal dan tidak dihargai orang dalam hidup bersama ini, karena mereka tidak memiliki sikapsikap tersebut, terutama karena mereka tidak memiliki akhlak yang mulia; dan akhlak mulia yang dimaksud hanya dapat ditemukan dalam agama (Islam). Oleh karena itu maka

79 PPSukorejomewajibkansantrinyayangbelajardisekolahumum,merangkapbelajaragamapada sekolah diniyah dan mengikuti semua program ubudiah yang diselenggarakan oleh pesantren, dan tidak mewajibkan yang sebaliknya, yaitu santri yang belajar agama tidak diwajibkan merangkap belajar ilmu pengetahuan umum di sekolah umum. Hal ini disebabkan hakikat pesantrenmenurutPPSukerejoadalahuntukbelajaragama. Dari uraian tersebut jelas tampak adanya kesamaan orientasi dalam memandang kehidupan dengan pengasuh PP GulukGuluk tersebut; hanya di sini lebih ditekankan pada pentingnyamoralsebagaikuncisuksesdalamkehidupan. Seperti kiai PP GulukGuluk, ia menghadapi tantangan yang sama. Dalam dunia yang semakinmodernsemakinbanyakdibutuhkankepemimpinanrasional,danprofesionaldisamping moral. Mengenai kedudukan ustaz di hadapan kiai tidak berbeda dengan sikap hormat ustaz ustaz PP GulukGuluk di hadapan kiainya. Namun di sini agak berbeda dengan ustaz di PP Guluk Guluk. Penampilan mereka tampak lebih formal dan profesional sebagai guru sekolah umum, karena di PP Sukorejo memang banyak sekolahsekolah umum. Ratarata mereka menerima honor Rp. 400.000 per tahun. Mengenai tantangan dan kebutuhan mereka pada umumnya sama dengan apa yang dihadapi oleh rekanrekan mereka di PP GulukGuluk, yaitu di seputar: pengabdian,ekonomi,danstudilebihtinggi. c.PPBlokAgung PimpinanPPBJokAgung:K.H.MuchtarSyafaatmemilikitingkatkarismakeduasesudahK.H.R. As'ad Syamsoel Arifin. Kiai memandang dunia kehidupan manusia ini sebagai panggung pertunjukan di mana manusia sebagai wayang yang semuanya tergantung pada dalangnya (Tuhan). Masingmasing individu telah ditentukan tempat dan peran atau kegunaannya sendiri sendiri dalam tata kehidupan, dan tata kehidupan ini merupakan suatu sistem yang sempurna yangtelahdiciptakanolehTuhan.Masingmasinganakdilahirkandenganbakatnyasendirisendiri yang akan berkembang menjadi keahlian atau keterampilan masingmasing. Masingmasing keahlianitusifatnyasalingmembutuhkansatudariyanglain,danmerekapastiakanbertemudan saling melengkapi satu sama lain. Misalnya: "orang pandai" dan "orang bodoh". Kedua orang ini sesungguhnya saling membutuhkan satu sarna lain. "Orang bodoh" memerlukan orang pandai" untuk belajar daripadanya, dan "orang pandai" memerlukan "orang bodoh" untuk mengajarkan ilmunya, agar ia sendiri menjadi lebih pandai lagi. "Ilmu" itu sebagai api yang akan menyala. Oleh karena itu ia membutuhkan rerumputan kering yang mudah terbakar, bukan air. "Orang pandai" harus mendatangi "orang bodoh", jangan mengharapkan "orang bodoh" mendatangi "orang pandai", karena ia tidak tahu bagaimana mendatangi "orang pandai", sebaliknya "orang pandai"

80 tahubagaimanacaramendatangi"orangbodoh".Demikiandanseterusnya,setiapsesuatudalam tatakehidupaniniselaluadapasangannyamasingmasing,merekasalingmencaridanpadasuatu saatpastibertemu.Olehkarenaitumasingmasingindividuharusmenyelesaikantugasnya. Bagi PP Blok Agung, anak belajar di pesantren itu bagaikan orang belanja di pasar; terserah orang mau belanja apa saja sesuai dengan uang yang mereka miliki dan selera masakan yang akan mereka buat. Dalam pesantren anak akan belajar sesuai dengan kecenderungan dan kemampuannya. Kiai dan ustaz hanya membantu dan melayaninya. Meskipun demikian, ada syaratsyaratminimalyangharusdipenuhi,yaituanakharusmemilikilandasanmoralagamayang kukuh sebelum anak mengikuti arus kehidupan selanjutnya. Untuk itu, anak sedikitnya harus diajarkanbeberapakitabawalkeagamaansebagaimanadisebutkandalamhalaman64dimuka. Tantangan yang dihadapi oleh kiai pada dasarnya sama dengan tantangan yang dihadapi kiaikiai terdahulu. Dalam kehidupan modern orang semakin memerlukan pemikiranpemikiran positif di samping kepuasan tasawuf. Dapat dipastikan, bahwa kebutuhan tasawuf dalam kehidupan modern tidak akan hilang, tetapi kehidupan dalam masyarakat modern tidak cukup hanya dengan tasawuf saja. Laporan mengenai keadaan ustaz, pada dasarnya sama dengan keadaan ustaz terdahulu, dalam arti mereka tetap tunduk dan hormat pada kiainya. Namun ada perbedaanyangperludicatat,ialahpredikatutazuntukguruyangmengajaragamadengankitab, yaitu bukubuku agama berbahasa Arab atau bertulisan Arab, dan predikat "guru" untuk mereka yang mengajar sekolah umum, dengan menggunakan "buku" yang ditulis dengan bahasa Indonesia (huruf Latin). Jadi sekalipun orangnya sama, ia mungkin mendapatkan gelar ustaz atau guru, tergantung pada saat itu ia mengajar ilmu apa dan menggunakan kitab atau buku yang ditulis dengan bahasa Arab atau bahasa Indonesia. Pada umumnya ustaz memakia sarung, sedang guru memakai celana panjang, mengenai tantangan yang dihadapi mereka juga sama dengan tantangan yang dihadapi ustazustaz di pesantren lain, yaitu antara mengabdi, mencari nafkah dan mencari ilmu. Honor mereka ratarata Rp. 48.000 per tahun untuk ustaz yang mengajar diniyah (agama) yaitu pendidikan non formalpesantren, dan Rp. 120.000 untuk guru yangmengajardisekolahumum. d.PPTebuIreng Seperti disebutkan di muka, dewan kiai yang mendampingi pimpinan pesantren saat ini adalah para alumni Pesantren Tebu Ireng, sehubungan dengan itu pandangan dasar pengasuh PP Tebu Ireng mengenai halhal yang bersifat filosofis, berpedoman pada ajaran atau pandangan para pendahulunya, yaitu bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk beragama, oleh karena itu, mereka selalu, mendambakan petunjuk agama dalam kehidupannya. Mengenai akal, pengasuh PP Tebu Ireng menyatakan bahwa akal berperan besar sekali dalam memajukan kehidupan manusia. Oleh karena itu ia harus selalu dilatih agar kemampuannya terus meningkat

81 untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan, yang semakin hari semakin besar dan kompleks. Meskipun demikian, kemampuan akal itu terbatas, dan manakala akal menemui jalan buntu dan kebingungan sehingga tidak mampu memecahkan masalah yang sedang dihadapi, manusia menjadi frustrasi dan "gelap". Dalam keadaan seperti itu manusia memerlukan pertolongan agama untuk memperoleh petunjuk dari Tuhan. Agama dapat memberikan konfirmasi, informasi, kepastian, dan harapan, sehingga hati manusia menjadi bersih kembali, dan akal pun akan dapat bekerja kembali. Demikian seterusnya, dengan pertolongan agama akal selalumampubekerjakembali. Dengan demikian, PP. Tebu Ireng telah meletakkan dasar teknologi pendidikannya, yaitu pendidikanagamasebagaidasardanpetunjukbagipendidikanakal. Gambaran mengenai ustaz di PP Tebu Ireng: seperti pada pesantren terdahulu, predikat "ustaz" untuk mereka yang mengajar agama dan "guru" untuk mereka yang mengajar di sekolah sekolah umum. Hubungan ustaz dengan kiainya: baik sebagaimana layaknya hubungan antara santri dengan kiainya, yaitu penuh tawaduk. Sedang hubungan antara guru dan pimpinan sekolah, antara guru dan guru, dan antara guru dan kepala sekolah, tampak berbeda dengan hubungan antara ustaz dan kiai, atau hubungan antar ustaz. Seperti dilaporkan pada gambaran ustaz dari PP Paciran di muka, hubungan kerja pada kelompok guru, tampak adanya sifatsifat egalitarian, resmi, dan fungsional, sedang pada kelompok "ustaz" lebih bersifat tidak resmi, hierarkis, dan kekeluargaan, dengan didasari sikap tawaduk. Selalnjutnya seperti berlaku juga pada ustazustaz dari pesantrenpesantren terdahulu, ustaz dan guruguru di Pesantren Tebu Ireng juga menghadapi tantangan yang sama, yaitu "dialog' antara: pengabdian, mencari nafkah, dan mencari ilmu. Dalam hal ini tampaknya posisi ustaz dan guru dari PP Tebu Ireng tidak berbeda jauh berbeda dengan ustaz atau guruguru di PP Paciran, di mana perihal "mencari nafkah" tampak penting. Ratarata honor mereka Rp. 480.000 per tahun; di samping mengajar di lingkungan perguruan dalam PP Tebu Ireng, mereka juga menjadi guru di tempattempat lain, sedang ustaz di samping mengajar agama di pesantren, pada umumnya menjadi mubalig di masyarakat. e.PPPaciran Pandangan pimpinan PP Paciran mengenai pendidikan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pimpinan pesantren terdahulu. Pimpinan PP Paciran menekankan pentingnya anak didik mencontoh kepribadian Rasul (Nabi Muhammad) sebagai pribadi yang sempurna. Seperti pesantrenpesantren yang lain, Pesantren Paciran juga berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan fitrahnya masingmasing. Dengan adanya tenagatenaga guru yang berasal dari alumni PP Gontor, maka pandangannya terhadap anak didik dan gaya dalam melaksanakan kegiatan belajar

82 mengajar banyak mencontoh pengalaman PP Gontor, yang antara lain berusaha menerapkan konsep"pancajiwapondok"PPGontor. Seperti dilaporkan di muka bahwa pesantren ini banyak memiliki corak keperguruan, yang dalam hal ini adalah perguruan Muhammadiyah, maka gambaran mengenai ustaznya juga tampak berbeda dengan penampilan dari ustazustaz pada pesantrenpesantren terdahulu; di sini penampilan ustaz tidak jauh berbeda dengan penampilan guruguru sekolah umum: dari segi pakaian dan hubungan antara mereka dan antara mereka dengan pimpinan pesantren lebih bersifat egalitarian, resmi, dan fungsional, tetapi tampak "kurang tawaduk" jika dibandingkan dengan hubungan ustaz dengan kiai pada pesantrenpesantren terdahulu, terutama pada Pesantren GulukGuluk, Blok Agung, dan Sukorejo. Ratarata gaji atau honorarium yang mereka terima Rp 480.000 per tahun; dan banyak di antara mereka menjadi guruguru pada sekolah negeri, mereka mengajar di sekolahsekolah yang diselenggarakan pesantren sebagai tenaga honorer. f.PPGontor Seperti disebutkan di muka, pengasuh PP Gontor terdiri atas tiga kiai, dalam kesatuan trimurti, dan dengan sangat kuatnya berpedoman pada ajaranajaran atau pandanganpandangan yang telah diletakkan oleh pendahulunya. Pimpinan PP Gontor menekankan pentingnya setiap individu melaksanakan tugasnya dalam tata kehidupan bersama, sebagaimana dikatakan oleh PP Blok Agung di atas. Untuk itu PP Gontor memberi petunjuknya kepada segenap warga pesantren yang dituangkan dalam "panca jiwa pondok": (l) Ikhlas, yaitu mereka harus memandang semua perbuatannya sebagai ibadah kepada Tuhan. (2) Sederhana, yaitu mereka harus memberikan penampilan yang sederhana dan wajar, baik lahiriah maupun batiniah. Misalnya: tidak memakai pakaianyangberlebihlebihanatauberkurangkurangan.Tidakbolehmemamerkankekayaanyang dapatmenimbulkanirihatidanmengundangkejahatanoranglain,dansebaliknyajugatidakboleh menunjukkan kemiskinan yang dapat mengundang belas kasiahan orang lain. Tidak boleh memakai gaya potongan rambut gondrong atau anehaneh", dan sebagainya. Dalam hal sikap mental, mereka harus berpikir dan berkata lugas, positif, dan optimistis. Jadi pengertian sederhana" di sini tidak identik dengan kemiskinan dan kebodohan. (3) Mandiri, yaitu minimal setiap individu harus mampu menolong dirinya sendiri, dan bahkan harus berusaha menolong orang lain yang membutuhkan. (4) Ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan sesama muslim, baik di dalam maupun di luar pesantren. (5) Bebas berpikir, yaitu mereka harus bebas memikirkan masa depan dan memilih jalannya sendiri, tetapi bukan bebas berpikir dalam arti tidak peduli terhadap semua situasi dan kondisi, sebaliknya yang dimaksudkan dengan bebas berpikir di sini ialahterikatdalamdisiplinyangtelahmenjadi"sunnahpondok"(tatatertibpondok). Melengkapi filsafat "pancajiwa pondok" tersebut, PP Gontor mewajibkan para warganya untuk memandang pesantren sebagai tempat ibadah, dan mencari ilmu, bukan tempat mencari

83 kelas dan ijazah untuk menjadi pegawai negeri. Menurut istilah mereka pesantren adalah tempat untuk: talabul'ilmi, bukan talabul Fasli. Oleh karena itu, maka orientasi hasil pendidikannya adalah prestasi, bukan gengsi; dan untuk itu PP Gontor tidak memberikan ijazah, danolehkarenaitusantrinyatidakikutujiannegara. Gambaran mengenai ustaz dari PP Gontor, dapat dilaporkan sebagai berikut: sehubungan dengan jenis pendidikan yang diselenggarakannya, yaitu Kuliyatul Mualimin Islamiyah, semacam Pendidikan Guru Agama setingkat menengah atas, 6 tahun, maka ustaz atau guruguru yang mengajar di sana adalah muridmurid yang duduk di kelas V, sekaligus untuk memberikan bekal latihan mengajar; murid kelas VI sengaja dibebaskan dari mengajar dan berorganisasi agar dapat menyiapkan ujian akhir. Dengan demikian maka hubungan antara guru dan kiai: baik dan tawaduk sebagaimana layaknya hubungan santri dengan kiainya. Agak berbeda dengan posisi ustaz atau guruguru dari pesantren terdahulu, ustadz di PP Gontor tidak menerima honorarium dalam bentuk uang, tetapi sebagai gantinya mereka memperoleh fasilitasfasililas dan kemudahan kemudahandalamkehidupandipesantren. Dari pembahasan terhadap unsur kiai dan ustaz terhadap keenam pesantren tersebut, dapat diturunkananalisisberikut: 1. Pada umumnya para kiai pengasuh pesantren memiliki orientasi kehidupan yang sama, yaitu memandang kehidupan "nanti" atau ukhrawi lebih esensial dan penting daripada kehidupan "sekarang" atau duniawi. Kehidupan ukhrawi adalah kehidupan final, sedang kehidupanduniawiadalahkehidupansementara. 2. Terdapat perbedaan gradual di antara pengasuh pesantren dalam memandang eksistensi dan peran manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ada kiai yang memandang manusia sebagai"wayangyangsepenuhnyatergantungpadadalangnya",artinyanasibsetiaporang telah tertulis dalam "kartu nasib" oleh Tuhan, dan manusia tidak perlu merencanakannya, tetapi menyesuaikan dan menjalani hidup seperti wayang yang tergantung dalangnya. Sementara itu, ada juga kiai yang memandang bahwa manusia di samping sebagai objek kehidupan, juga sebagai subjek kehidupan; untuk itu manusia butuh ilmu untuk meningkatkan daya akalnya, namun manakala akalnya menemui jalan buntu, ia butuh agama untuk memperoleh jalan keluarnya. Pada dasarnya manusia adalah makhluk beragamadanmemerlukanagamasebagaipedomanhidup. 3. Para pengasuh pesantren memusatkan pengarahaan pendidikannya untuk menyongsong kehidupan nanti, melalui pendalaman dan pengamalan ajaran agama, terutama pada ilmu yang tergolong fardu ain dalam kehidupan seharihari: mana yang wajib mana yang bukan wajib, mana yang halal mana yang haram, dan sebagainya. Mereka cenderung mengarahkan santrinya untuk memiliki perilaku yang zuhud, yaitu semua perbuatan ditempatkandalamstrutkturrelevansinyadenganibadahkepadaTuhan. 4. Namun, sehubungan dengan kebutuahn pembangunan dan kemajuan ilmu dan teknologi, baik kiai maupun ustaz menghadapi tantangan yang serius yang dapat mengancam atau menggetarkan kedudukan tiga kata kunci yang menjadi landasan dan sekaligus ciri kependidikanpesantrenyaitu:berkah,ikhlas,danibadah.

84 Krisisyangdihadapiolehkiai Pertama: Krisis kedudukan sebagai sumber tunggal mencari ilmu dan moral. Seperti disebutkan dalam halaman 66, kedudukan kiai bukan lagi merupkan sumber tunggal untuk memperoleh ilmu, dan juga bukan sumber tunggal untuk belajar moral. Seiring dengan kemajuan zaman, lembagalembaga pendidikan agama, seperti persantren, semakin ditutuntut untuk membuka diri lebarlebar mengenai lektur keagamaan yang diajarkannya, tidak cukup hanya dengan mengajarkan materi keagamaan yang berdasarkan aliran atau paham tertentu saja. Sebagaiakibatsemakintajamnyailmupengetahuanumumdananalisiskeagamaanyangsemakin tajamdariberbagaisudutpandangataualiranfilsafatagama. Kedua:krisisekonomi Kiaijugamenghadapikrisisekonomiyangdapatmengancamfaktorkeikhlasanyangselamaini merupakan landasan kukuh dan ciri khas pendidikan pesantren. Dengan semakin tajamnya persaingan ekonomi dalam kehidupan, maka perekonomian dengan uang semakin memasuki setiap aspek kegiatan kehidupan termasuk dunia pendidikan, apalagi dunia pesantren yang selama ini dianggap jauh dari uang; kini pendidikan dengan uang sudah memasuki dunia pesantren dan semakin lama semakin mendalam. Saat ini ratarata biaya belajar setiap bulan di PPGulukGuluk(Rp.11.000),PPSukorejo(Rp.25.000),PPBlokAgung(Rp.20.000),PPTebuIreng (Rp. 25.000), PP Paciran (Rp. 20.000), dan PP Gontor (Rp. 30.000). Sedang di satu pihak kebutuhan ekonomi kiai menghadapi tantangan yang semakin besar dan tajam, tidak berbeda dengankebutuhanekonomirumahtanggaorangawam.Dengandemikiankiaihaustetapmampu mempertahankan kehidupan ekonomi keluarganya bebas dari kekayaan pesantren atau bebas dari memperoleh penghasilan, karena menyelenggarakan pesantren sebagai bagian dari idealisme atau pengabdiannya, berhadapan dengan jumlah waktu yang ia pergunakan untuk bekerja di pesantren, sedang di sisi lain ia harus pememperoleh penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Sampai saaat ini masalah ekonomi tersebut masih tabu untuk dieteliti, dan dalam kenyataan lahiriahnya kehidupan ekonomi rumah tangga kiai adalah terkuat di antara warga pesantren. Rezeki kiai tetap lestari dan melimpah. Tampak beberapa kiai melakukan usahausaha perdagangan, pertanian, dan usahausaha lainnya. Selain itu, juga tampak banyak sumbangan sumbangan yang diberikan oleh masyarakat pendukungnya kepada pesantren melalui kiai atau pengasuh yang lain dalam rangka melaksanakan amal jariyah, sedekah, zakat, infaq, dan sebagainya. Beramal dan menyumbang orang yang sedang belajar agama, mengajar agama di lembagapendidikanagamasepertipesantren,merupakanperbuatanterpujidalamajaranagama. Meskipun demikian lembaga perkiaian tetap menghadapi batu sandungan dalam mempertahankan keikhlasan sebagaisalah satu identitas pesantren. Dalam teori, menurut ajaran agama,keikhlasantetapdapateksissekalipuntidakharusdisertaidengansyaratbebasuang,dan

85 kehadiran uang tidak harus membunuh keikhlasan, tetapi (terutama bagi orang awam) sulit sekali menjaga keihklasan dari pengaruh uang atau pengaruh harta kekayaan lainnya. Salah satu ajaran agama menyatakan bahwa iman seseorang diuji dengan keadaannya: orang kaya diuji dengan kekayaannya, orang miskin dengan kemiskinannya, orang pandai dengan kepandaiannya, dansebagainya. Ketiga:KrisisKelembagaan Di satu pihak kiai dituntut mampu memertahankan idealismenya bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan untuk belajar mencari ilmu dan tempat beramal, bukan mencari kelas dan ijazah untuk menjadi pegawai negeri, tetapi di pihak lain santri menuntut kelas dan membutuhkan ijazah untuk meniti belajar selanjutnya dan melamar opekrjaan, baik untuk menjadi peggawai negeri maupun untuk memasuki lapangan kerja yang lain. Seiring dengan ini, santri juga menuntut bekal ilmu dan teknologi atau bekal keahlian untuk mengarungi kehidupan modern,disampingbekalmoralsebagaimanaselamainidapatdiperolehdaripesantren. Keempat:Krisiskepemipinan Sumber wibawa kepemimpinan 18 kiai salama ini ialah karisma. Tetapi dengan makin majunya kehidupan, khalayak semakin menuntut gaya kepemimpinan yang rasional karena gaya kepemimpinanyangkarismatikmakinlamamakinmenurunkekuatannya. Krisisyangdihadapiolehustaz Seperti kiai, ustaz juga mengalami krisis perilaku sesuai dengan kedudukan dan perannya sebagai guru di persantren. Pada dasarnya krisis ustaz terletak pada tarikmenarik antara 3 kepentingan: mengabdi, mencari nafkah, dan mengembangkan karier. Pada awalnya mereka memandang pekerjaan mengajar di pesantren sebagai ibadat kepada Tuhan, dilaksanakan dengan ikhlas dan hanya mengharapkan rida Tuhan. Tetapi kemudian, dengan semakin tajamnya persaingan dan meningkatnya kebutuhan ekonomi, mereka dituntut oleh keadaan untuk mencari nafkah (uang) guna manghidupi keluarganya dan mengatasi kebutuhankebutuhan yang lain. Mereka harus memperhitungkan atau menghargai waktu yang dipergunakan untuk mengajar di pesantren dengan uan. Mereka tidak dapat lagi bekerja sematamata untuk mengabdi di pesantren, tetapi mereka harus bekerja karena dapur. Honorarium mereka ratarata setiap
Menurut French dan Raven, ada 5 sumber wibawa : (1) coersive, (2) reward, (3) legitimate, (4) refernt, dan(5)expert.KemudianDuncantmenambahkansatulagi:(6)Charisma.(TerdapatdalambukuDrs.AdamIbrahim IndrawijayaMPA,ibid,hlm.129).
18

86 tahun adalah: PP GulukGuluk (Rp. 30.000), PP Sukorejo (Rp. 400.000), PP Blok Agung (Rp. 48.000), untuk sekolah diniyah, dan Rp. 120.000 untuk sekolah kurikulum, yaitu guruguru yang mengajar di sekolah umum atau madrasah, PP Tebu Ireng (Rp. 480.000), dan PP Paciran (Rp. 480.000). Sedang untuk ustaz PP Gontor, tetap tidak dihitung dengan uang, tetapi memperoleh fasilitas perumahan dan kesempatan ikut usaha dagang: menjual makanan dan melayani kebutuhan santri, bekerja mengerjakan tanah yayasan pesantren, dan fasilitasfasilaitas lain yang diberikanmelaluikeluarganya,sehinggaparaustazdapatmelaksanakantugasnyatanpadiganggu olehpikirantentanguang. Seiring dengan angkaangka tersebut tampak adanya perbedaan gradual pengabdian mereka dari pesantren satu ke pesantren yang lain. Guru dari PP GulukGuluk paling mengabdi dibandingkan dengan guru dari pesantren lain; ranking kedua ditempati oleh guru dari PP Blok Agung, sedang guruguru dari pesantren lain lebih dekant ke kriteria bekerja mencari nafkah daripada mengabdi. Bahkan di PP GulukGuluk masih terdapat beberapa guru yang masih menerima kiriman uang dari orangtuanya, karena orangtuanya menganggap bahwa mengirim uang kepada anaknya yang sedang mengajar agama kepada orang lain berarti beramal di jalan Tuhan. Sedang untuk guruguru dari PP Gontor, upaya tersebut merupakan jalan baru yang patut dikaji secara mendalam dalam rangka mencari jalan keluar dari dilema antara mengabdi dan mencari nafkah. Sebagian besar guruguru yang mengajar di PP Gontor adalah santrisantri kelas V yang diberi tugas untuk mengajar kelaskelas di bawahnya, sedang murid kelas VI dibebaskan mengajar karena menghadapi ujuian akhir studi, dan mereka (murid kelas VI) diajar oleh guruguru yang lebih senior yang pada umumnya adalah alumni dari PP Gontor adalah KMI (Kuliatul Mualimin Islamiyah selama 6 tahun), yang berarti sekolah guru. Jadi dengan demikian kewajibanmengajartersebutmerupakanpraktikataukelengkapanpendidikanmereka. Titik krisis ketiga yang dihadapi oleh para guru pesantren adalah keinginan untuk mengembangkankariernya.Untukmemenuhihasratini,sebagiandarigurugurumudamengikuti kuliahdiperguruantinggiyangdiselenggarkanolehpesantrenyangbersangkutan,ataumengikuti kuliah pada perguruan tinggi Islam swasta lainnya yang ada di sekitarnya. Hasrat untuk melanjutka ke perguruan tinggi tersebu menunjukkan suatu bukti bahwa mereka memerklukan gelar dan status formahjl dalam memasuki sistem kehidupa yag semakin menruntut syartsyrat gormal mnegenai kaeahlian yang semakin jelas. Para ustaz amndambakan dpat melanjutkan pelajran nya ke perguruanperguran tinggi, terutama IAIN (Institut Agama Islam Negeri), sebagai tanggauntukmenitikariernyalebihtinggi. 2.6.Santri Pada mulanya, pesantren diselenggarakan untuk mendidik santrisantri agar menjadi orang yang taatmenjalankanagamanyadanberakhlakmulia;danorangtuamengirimkananaknyadengankeinginan agar anaknya menjadi orang baik, yaitu mengerti dan taat menjalankan perintah agama dalam hidup

87 keseharian. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, santri dituntut memiliki kajelasan profesi. Sedang selama belajar di pesantren mereka baru mempelajari ilmuilmu agama yang sifatnya dasar dan umum, yang akan membekali mereka landasan moral dalam kehidupan bersama. Pesantren tidak pernah mengkhususkan tujuan pendidikannya, sebagaimana sekolahsekolah kejuruan, atau merencanakan pendidikannya seperti sekolahsekolah umum yang memberikan ilmuilmu dasar yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi berbagai profesi atau spesialisasi bidang studi melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya pesantren hanya menyiapkan landasan moral agama, sedang mengenai bentuk kahidupan atau nasib selanjutnya terserah pada perjuangan hidup di masyarakat nanti. Masingmasing orang akan 'Jatuh" di tempatnya sendirisendiri, yang akan diketahuinya sesudah yang bersangkutan menempatinya; maksudnya masingmasing orang telah mempunyai nasib sendiri sendiridannasibnyaitubarudiketahuisetelahyangbersangkutanmenjalaninya. Tabel berikut menggambarkan frekuensi keinginan bidangbidang yang akan ditekuni oleh santri seusaibelajardipesantren. Tabel: Frekuensi pilihan bidang kegiatan yang ingin ditekuni oleh santri seusai mereka belajar di pesantren No. BIDANG KEGIATAN Guluk Guluk 59 13 30 9 12 55 Suko rejo 55 60 40 8 10 30 PESANTREN Blok Agung 69 28 30 9 10 35 Tebu Ireng 58 19 33 I1 18 41
Paciran

Gontor

332 165 242 59 78 245

Dai Kiai Guru Pegawai Negeri Pedagang Pergurua 6. BeJajar ke n 1. 2. 3. 4. 5. Tinggi Menjadi apa saja bermanfaat bagi masyara JUMLAH

45 16 50 12 15 47

46 29 59 10 13 37

7.

32 210

20 223

39 220

30 210

26 211

22 216

169 1290

Jadi, kalau dibandingkan urutan bidang yang ingin ditekuni oleh santri seusai mereka belajar di pesantren: menrurut seluruh santri (1290 orang) dan menurut kelompokkelompok santri dari masing masingpesantren,makadaritabeltersebutdapatdiperolehgambaransebagaiberikut:

88 Urutan pi Urutan pilihan menurut kelompokkelompok santri lihan me darimasingmasingpesantren nurut sem Guluk Suko Blok Tebu Paciran Gontor uasantri Guluk rejo Agung Ireng 1 5 3 7 6 2 4 1 5 4 7 6 2 3 2 1 3 7 6 4 5 1 5 4 7 6 3 2 1 5 3 7 6 2 4 3 5 1 7 6 2 4 2 4 1 7 6 3 5

NO

BIDANG KEGIATAN

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Dai Kiai Guru Pegawainegeri Pedagang Belajar ke perguruanTinggi Menjadi apa saja yang bermanfaat bagimasyarakat

Dari urutan pilihan bidang kegiatan tersebut di atas, ternyata idealisme santri adalah menyebarkan agama, mandiri dalam kehidupan, terus belajar dan menjadi apa saja yang bermanfaat bagi masyarakat. Meskipun demikian, kesimpulan ini perlu diuji kembali: mengapa santri meletakkan bidang pilihan "Pegawai Negeri" sebagai ranking terakhir? Mengapa bidang "perdagangan" juga kurang diminati?Demikianpulahalnyadengan"kiai":mengapasantritidakmenempatkan"kiai"sebagaipilihan mereka yang pertama, padahal mereka selalu menyaksikan bahwa kiai adalah tokoh kunci yang sangat dihormati dan disegani. Tidak ditempatkannya "kiai" sebagai pilihan pertama (kecuali oleh santri dari Pondok Pesantrcn Sukorejo), sama dengan pernyataan Mahmud Yunus 19 , yaitu bahwa sistem pendidikan pesantren, jika dilihat dari jumlah kiai atau ulama yang dihasilkan, mcmpunyai angka drop outtertinggiyaitu99%. Lampiran 5 menggambarkan pandangan santri terhadap be1ajar di pesantrennya meliputi pandangan terhadap: Takdir Tuhan, Kiai dan Kitab, ilmu dan Akal, Kepentingan bersama, dan Kepentingan pribadi. Pada dasarnya pandangan mereka adalah dependence dan inward loohing.
19

Prof.H.M.Yunus,SejarahPendidikanIslamdiIndonesia,Mutiara,Jakarta,1979,hlm.58.

89 Misalnya,merekapercayabahwapindahagamadariagamayangsatukeagamayanglainadalahkarena takdir Tuhan; skor mereka ratarata: 3,11, sedang skor maksimal yang dipergunakan dalam pengukuran ini adalah 4, jadi dengan skor 3,44 berarti mereka sangat setuju bahwa peristiwa perpindahan agama tersebut adalah takdir Tuhan. Mereka juga sangat setuju (skor ratarata 3,45) bahwa hidup yang baik adalah hidup yang sesuai denga hukum agama (fikih), bukan kenyataan, sekalipun kenyataan itu secara materi menguntungkan. Mereka setuju bahwa dengan menjalankan ibadah dengan baik (salat, puasa, zakat, dan sebagainya) dengan sendirinya mereka akan terjaga (terpelihara) dari musibah, (skor mereka ratarata : 2,79). Mereka tidak percaya kalau kiai/ulama adalah orangorang pandai dan alim, tetapi sangatsetujubahwamenghormatikiaiatauustazsepanjanghidupadalahkewajibanmoralbagiseorang santri, jika mereka tidak ingin ilmu yang mereka peroleh hilang dengan percuma.. (skor mereka rata rata: 3,32), dan mereka percaya bahwa berkah kiai merupakan kunci keberhasilan belajar di pesantren. (skor mereka ratarata: 2,68). Dengan kata lain, santri percaya bahwa mereka tidak akan menjadi orang terpelajar(learnedman)atauorangberadab(culturman)tanpaguru. Meskipun demikian, mereka tidak setuju kalau manusia tidak perlu bekerja keras untuk memperbaiki kehidupannya di dunia ini meskipun Tuhan telah menuliskan kartu nasibnya (ratarata skor: 3,26). Mereka sangat setuju bahwa baik buruknya nasib manusisa di dunia ini sepenuhnya tergantung pada usaha manusia itu sendiri, (skor ratarata: 3,17). Tetapi mereka tidak setuju bahwa manusia dengan kemampuan akalnya mampu menguasai ilmu dan teknologi, yang selanjutnya dengan ilmudanteknologi,manusiamampumenciptakanduniadantujuanhidupnya. Ketiga persetujuan mereka yang terakhir tersebut tampaknya berlawanan arah dengan persetujuanpersetujuan mereka sebelumnya, tetapi sesungguhnys tidak demikian. Ketiga persetujuan mereka yang terakhir itu terjadi karena teks ajaran agamanya menyatakan hal yang demikian itu, yaitu bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib manusia di dunia ini kalau manusia sendiri tidak mengubahnya, dan dengan akalanya manusia akan mampu memahami ayatayat Tuhan dan menggunakannya untuk memajukan kehidupannya. Masalahnya sekarang adalah: mampukah santri menerjemahkan teks ajaran agamanya sesuai dengan konteksnya? Kunci jawaban atas pertanyaan ini terletak pada pemberian pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi (secular education) kepada mereka. Berdasarkan atas uraian mengenai filsafat dan tata nilai yang mendasari pendidikan pesantren seperti tersebut di atas, maka sistem pendidikan pesantren mempunyai potensi terbuka untuk menyelenggarakan pendidikan sekular sepanjang hal itu tidak melanggar akidahsyariah. Dan kenyataannya, madrasah (sekolah agama) dan sekolah umum telah dibuka di hampir semua pesantren, bahkan makin hari makin mendominasi kehidupan pendidikan pesantren. Mereka yang khusus belajar agama tanpa merangkap belajar ilmu pengetahuan umum di madrasah atau di sekolah umum yang diselenggarakan oleh pesantrennya, sedikit sekali, sekitar 122% dari seluruh santri yang ada di pesantren, dan hampir semua dari mereka itu adalah orangorang yanh sudah bekerja dalam masyarakat, seperti: bertani, berdagang, menjadi pembantu rumah tangga, dan sebagainya. Mereka belajar agama agar lebih mampu menempatkan diri lebih baik di tengahtengah pergaulan hidup bersamadanmencaribekaluntukkehidupannantidiakhirat.Berkembangnyapendidikanmadrasahdan sekolah umum tersebut adalah sebagai dampak global dari pembangunan nasional dan tata kehidupan

90 internasional terhadap pesantren, dan pesantren tidak dapat mengelakkan diri dan harus mengadakan perubahan atau pergaeseran orientasi, jika mereka ingin tetap eksis dalam kehidupan. Pada umumnya santri berasal dari kalangan keluarga muslim yang baik, taat menjalankan agamanya, dan dari daerah pedesaan(tani,nelayan,pedagang,guru,pegawai,ABRI,dansebagainya).Adalahsuatugejalabaruyang sudah umum di kalangan keluarga di Jawa TImur untuk mengirimkan anaknya melanjutkan ke sekolah sekolahlanjutansepertiSMP,SMA,danseterusnya,tetapipulangkepondokagarsempatbelajaragama atau merasakan suasana hidup pesantren. Beberapa kiai sengaja membuka pesantren tetapi tidak menyelenggarakan pendidikan formal baik madrasah atau sekolah umum, hanya menyediakan sarana danbelajaragamadiwaktusore,malamdanpagihari. Sementara itu, terdapat gejala lain, yaitu adanya kecenderungan dari pimpinan pesantren, para guru, para cendikiawan muslim, dan para pemimpin muslim, mengirimkan anakanak mereka ke madrasah atau sekolahsekolah umum atau perguruan tinggi umum negeri yang lebih baik dan lebih modern. Gambaran B.J. Boland mengenai kecenderungan orangtua memilih pendidikan bagi anaknya padaumumnyabanyakmenunjukkankebenaran. Kecenderungan tersebut adalah wajar, selama masih ada lembaga pendidikan yang lebih baik dan murah, yaitu yang dapat memberikan jaminan moral dan jaminan kerja, serta terjangkau pembiayaannya,makaorangtuapastimengirimkananakmerekakelembagapendidikantersebut. Sementara itu, motivasi pertama orangtua mengirimkan anaknya ke pesantren adalah agar anaknya menjadi orang baik, dihormati, dan disegani dalan hidup bermasyarakat, dan taat menjalankan perintahagamanya.Padadasarnyamotivasiyangdemikainitutetapmasihadapadamereka,(dansantri masih tetap taat dan hormat, pada kiai, orangtua dan orang lain). Namun demikian, akhirakhir ini juga terdapt alasan lain dari orangtua untuk mengirimkan anaknya belajar ke pasantren, yaitu biaya relatif murah dibandingkan dengan pergurun lain, dan dilihat dari kepentingan anak didik mereka juga memperoleh kesempatan mendapatkan ijazah negeri melalui jalur pendidikan formal yaitu: madrasah atau sekolah umum yang dieselenggarakan oleh pesantren. Dengan demikian minimal ada 3 alasan mengapa mereka mengirimkan anaknya ke pesantren, yaitu (a) Belajar agama (b) Kesempatan terebuka untukmemerolehijazahnegeri,dan(c)Biayarelativemurah. Santri semakin merasakan bahwa dalam mengarungi kehidupan di zaman pembangunan ini manusia memerlukan dua kekuatan sekaligus, yaitu kekuatan moral dan mental spiritual sebagai dasar dan pedoman hidup, dan kemampuan keterampilan atau keahlian, sebagai bekal memasuki pasaran kerja.Olehkarenaitu,merekaharusmempelajariagamasesuaidengankonteksnya. 2.7Pengurus Penguruspesatrenadalahbeberapawargapesantrenyangdiutussebagaibukankiai,bukanustaz, dan bukan santri. Tetapi keberadaan dan peran mereka amat diperlukan untuk ikut serta mengurus dan memajukanpesantrenbersamaunsurunsurpelakuyanglain.

91 Namun, pada umumnya mereka juga adalah kiai, ustaz dan santri senior, yang juga alumni dari pesantren yang bersangkutan. Sehubungan dengan ini maka keberadaan dan peran mereka tidak hanuya mengurus pesantren dalam bidang manajerial, pembangunan fisik pesantren, dan halhal lain yang sifatnya non edukatif saja, tetapi mereka juga ikut memberikan pelajaran agama, memberi bimbingan kepada santri, bahkan memberikan pertimbangan kepada kiai di dalam mengambil keputusan. Seperti juga pengelompokan penjagaan nilainiai yang mendasari pesantren, pengurus juga dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengurus yang membantu kiai dalam menjaga nilai kebenaran absolut, dan pengurus yang membantu kiai dalam pengamalan nilainilai agama dengan kebenaran relatif. Keberadaan dan peran masingmasing pengurus berbedabeda dari pesantren yang satu ke pesantrenyanglain.Misalanya:(a)PPGulukGuluk:Seluruhkiaidannyaiyangmengasuhpesantrendan mendampingi K.H. Amir Ilyas adalah unsur pengurus PP GulukGuluk yang memberi pertimbangan pada K.H.AmirIlyasdalammenetapkankebijakannyamemimpinpesantren.Disampingitujugaadapengurus lain yang bertugas mengurus halhal lain yang sifatnya teknis operasional dan tidak secara langsung berkaitan dengan halhal yang bersifat pendidikan dan pengajaran; misalnya pengurus yang mengurus gedunggedung bangunan, pendanaan, hubungan dengan instansiinstansi lain, baik pemerintah maupun non pemerintah, dan sebagainya. (b) PP Sukorejo: Sekretaris pribadi kiai, mansya, lurah pondok, pejabatpejabat struktural lainnya, adalah pengurus pesantren. Apa pun kedudukan dan peran mereka,darimenguruskegiatankegiatanyangsangatteknis,fisik,danoperasional,sampaimemberikan pertimbangan kepada kiai; mereka semua adalah pembantu kiai. Dan hal yang demikain ini berlaku bagi semua pesantren. (c) PP Blok Agung: Sebagian pengurus menduduki majelis pertimbangan yang memberi masukanmasukan bagi kiai dalam mengambil kebijakan, dan sebagian lagi mengurus organisasi dan manajemen pesantren. (d) PP Tebu Ireng: Dewan kiai yang secara khusus menjaga kemurnian ajaran agama yang di ajarkan di pesantren, mereka yang bertanggung jawab atas kemajuan yayasan,sampaikepadamerekayangmengurusibangunandankeuanganpesantren,dalahpengurusPP TebuIreng.(e)PPPaciran:Merekayangbertugasmengurusmasalahmasalahadminsitratifnonedukatif adalah pengurus pesantren. Pada Lampiran 11 bagan struktur organisasi PP Paciran, jelas ada Bagan Susunan Pimpinan Pesantren (A) dan ada Bagan Susunan Pengurus Pesantren (B). Seperti juga pada pesantrenpesantren yang lain, organ B membantu A. (f) PP Gontor: Badan Wakaf Pondok Modern Gontor adalah kelompok pimpinan pesantren dan merupakan lembaga tertinggi dari struktur organisasi PP Gontor. Sementra itu, Balai Pendidikan Modern Gontor dan organisasi OPPM merupakan pengurs yang bertugas melaksanakan amanat badan wakaf tersebut. (Lihat Lampiran11, bagan strutktur organisasi PP Gontor, A dan B). Kepengurusan OPPM berstatus membantu Balai Pendidikan Modern Gontor,danbalaiinimerupakanlembagaeksekutifdaribadanwakaf. Jadi dengan demikian, semua unsur pelaku yang secara organisatoris mengurus dan bertanggung jawab atas kemajuan pesantren, dari sejak kiai utama yang merupakan pimpinan puncak samapi ke pembantu yang mengurus halhal yang sifatnya teknis operasional selama memiliki kewenangan memutuskan dan melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya, adalah pengurus pesantren. Hal iniuntukmembedakannyadengantukang,pembantu,danunsurunsurpelakulainnya.

92 2.8.InteraksiPelaku Sifat dan fungsi suatu organisasi menentukan tinggi rendahnya status resmi perilaku anggotanya. Misalnyadalamsuatuperguruantinggistatusresmiperilakudosenlebihtinggidaripadakaryawan.Pada suatu rumah sakit, status dokter lebih tinggi daripada ahli ekonomi atau ahli pertanian yang bekerja di rumahsakittersebut.. Sehubungan dengan itu, maka di pesantren, status resmi perilaku tertinggi adalah kiai, peringkat keuda:ustaz,ketiga:santri,keempat:pengurusyangkadangkadangmenempatiperingkatkedua,tatapi kadangkadang peringkat kelima, dan kelima: orang lain yang membantunya. Makin tinggi status resmi yang dimiliki, makin besar tanggung jawab, kekuasaan, dan risiko yang dihadapi. Di sisi lain, perilaku anggotasuatuorganisasidibentukdandikembangkanolehtradisiyangmenjadinilaikehidupanmereka, makin tinggi tingkat keeratan mereka dan karenanya makin homogen kadar perilaku para anggota. Sementara itu, tingkat keeratan hubungan antara anggota yang sangat tinggi dapat menimbulkan perilaku kelompok yang sangat kuat, dan salah satu akibat dari perilaku kelompok seperti itu ialah menurunnya tingat keterbukaan untuk menerima informasi atau ideide baru yang datang dari luar, apalagikalauhalhalyangdatangdariluaritudapatmenimbulkankonflikdalamkehidupanmereka 20 . Berdasarkan teori tersebut, ternyata di dalam pesantren terdapat homogenitas pandangan dan perilaku diantara para warga pesantren yang cukup tinggi, sebagaimana tercermin dalam skor pandangansantriterhadapbelajardipesantren(lihatLampiran5). Seiring dengan kemajuan atau medernisasi di berbagai aspek kehidupan, maka perilaku para pelaku pesantren mengalami keguncangan sehingga dalam menjalankan tugas seharihari mereka dalam keadaan role ambiguity dan role conflict. Peran mendua dan konflik yang dialami oleh para pelaku pesantren tersebut tercermin dalam kehidupan yang dialami oleh kiai, ustaz, dan santri sebagaimana dilaporkan di muka. Hubungan antara mereka juga bergeser dari gaya hubungan searah dari atas ke bawah, cenderung menjadi hubungan dua arah, atau dari semangat paternalistik ke semangat egalitarian, dari semangat otoriter ke semangat demokrasi, dari semangat tertutup ke semangat terbuka, dan seterusnya; sebagaimana tercermin dalam kecenderungan perubahan gaya kepemimpinan dimuka. 2.9.KurikulumdanSumberBelajar Seperti dilaporkan di muka, dewasa ini pada setiap pesantren terdapat tiga jenis pendidikan: pesantren, madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi Islam, ada yang berbentuk sekolah tinggi, institut, dan universitas. Bahkan tampak sudah menjadi mode atau kecenderungan di Jawa Timur, bahwa pada beberapa pondok pesantren hanya disediakan pendidikan pesantren lengkap dengan
20

Drs.AdamIbrahimIndrawijayaMPA,PerilakuOrganisasi,SinarBaru,Bandung,1983,hlm.117.

93 asrama dan kiainya, tatapi santrinya belajar secara formal di madrasahmadrasah, sekolahsekolah umum,danpergurantinggidiluarpesantren. Jenis pendidikan pesantren bersifat non formal, hanya mempelajari agama, bersumber pada kitabkitab klasik sebagaimana disebut dalam Lampiran2, meliputi bidangbidang studi: Tauhid, Tafsir, Hadis,Fikih,UsulFikih,Tasawuf,BahasaArab(Nahu,Saraf,BalagahdanTajwid),Mantik,danAkhlak. Kurikulum dalam jenis pendidikan pesantren berdasarkan tingkat kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam kitab, jadi ada tingkat awal, tingkat menengah dan tingkat lanjut, misalnya Pondok Pesantren Blok Agung berkeyakinan bahwa sebelum seorang anak belajarlebihlanjut,miminalmerekaharusmempelajarikitabkitabawalkeagamaanfikiksufistik. Setiapkitabbidangstudimemilikitingkatkemudahankomplesktiaspembahasanmasingmasing. Sehubungan dengan itu, maka evaluasi kemajuan belajar pada pesantren juga berbeda dengan evaluasidarimadrsahdansekolahumum. Jenis pendidikan madrasah dan sekolah umum bersifat formal, dan kurikulumnya mengikuti ketentuan pemerintah. Madrasah mengikuti ketentuan dari Departemen Agama, dengan menggunakan perbandingan 30% berisi mata pelajaran agama, dan 70% berisi mata pelajaran umum, tatapi beberapa pesantren menyelenggarakan perbandingan terbalik, dengan bobot perbandingan yang agak berbeda: 20% berisi pelajar umum, 80% berisi pelajaran agama; misalnya pada kurikulum madrasah yang diasuh PPTebuIreng. Padasekolahsekolahumumberlakuketentuankurikulumsebagaimanadiatur olehDepartemen PendidikandanKebudayaan.SedangdimadrasahberlakukurikulumdariDepartemenAgama. Tetapi pada umumnya masingmasing pesantren menyesuaikan kurikulumkurikulum yang datang dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tersebut menurut kepentingan dan keyakinan masingmasing. Misalnya pada SMEA di PP Blok Agung, kurikulumnya ditambah dengan mata pelajaran teknik mengajar, karena mereka melihat bahwa banyak lulusan SMEA juga ikut mangajar (menjadi guru), jika mereka belum mendapat pekerjaan sesuai jenis sekolahnya (SMEA), maka lebih baik diberi bekal keterampilan mengajar. Demikian pula halnya dengan kurikulum kurikulum yang berlaku pada perguranperguran yang diasuh PP Paciran, di samping mereka menggunakan kurikulumkurikulum resmi dari departemen tersebut, mereka juga menambahkan dengan pelajaran keMuhamadiyahan. Kurikulum di PP Gontor juga melakukan perubahan sesuai dengan selera dan keyakinannya. Misalnya sebagai penggati pelajaran matematika diberikan pelajaran berhitung,dansebagainya. Seperti disebutkan di muka, lahirnya jenis pendidikan formal: madrasah dan sekolah umum tersebut adalah untuk memenuhi ketentuan pembangunan dan kemajuan ilmu dan teknologi atau dengan kata lain ntuk memenuhi tantangan zamannya. Kedua jenis pendidikan ini ternyata menjadi jembatan bagi pesantren yang menghubungkannya dengan sistem pendidikan nasional, dan sebaliknya kedua jenis pendidikan formal tersebut juga mendapat penyempurnaan dari

94 jenis pendidikan non formal, yaitu pesantren, terutama mengenai moral yang tidak dapat didikan secara formal di madrasah dan sekolah umum tersebut. Dengan demikian terjadi simbiosis mutualis kurikulum antara ketiga jenis pendidikan tersebut: pesantren, madrasah, dan sekolah umum. Dengan kata lain, makna pesantren sebagai jenis pendidikan non formal, berbeda dengan makna pendidikan non formal dalam term pendidikan umum; dimana makna pendidikan non formal dalam term yang terkahirberartimemberikankomplemendansuplemenpadaketerampilanataukemampuanyangtelah dimiliki anak didik agar lebih mampu melayani kebutuhan yang semakin meningkat sehubungan dengan semakin kompleksitasnya tantangan pekerjaan yang dihadapinya, sedang makna pendidikan non formal pada pesantren berarti mendasari, menjiwai, dan melengkapi akan nilainilai pendidikan formal. Tidak semua hal dapat diajarkan atau dididikkan melalui programprogram sekolah formal; disni pesantren mengisikekeurangantersebut. Seiring dengan semakin berkembangnya pendidikan formal dalam pesantren dan semakin intensifnya pesantren berinteraksi dengan sistem lain di luar dirinya, maka sebagaimana disebutkan dalam Gambaran Umum Pesantren di muka, banyak bukubuku Islam kontemporer yang diterbitkan dalam bahsa Indonesia memasuki dunia pesantren. Semuanya ini merupakan sumber belajar baru bagi santrimelengkapikitabkitabklasikagamayangdipelajaridipesantren.Kesemuanyaituberdampakluas danmempengaruhiwawasansantridalammemandangmasadepannya.(LihatLampiran9). 2.10.ProsesBelajarMengajardanEvaluasi Teknik pengajaran yang diberikan pada jenis pendidikan pesantren, adalah: sorogan dan bandongan.Keduateknikmengajarinisangatpopulersehinggamenjadicirikhaspesantren. Sorogan: Pelajaran diberikan secara individual. Kata sorogan bersal dari kata Jawa Sorog artinya menyodorkan. Seorang santri menyodorkan kitabnya kepada kiai untuk meminta diajari. Dengan teknik ini antara santri dan kiai terjadi saling mengenal secara mendalam. Karena sifatnya yang individual,makasantriharusbenarbenarmenyiapkandirisebelumnya:mengenaihalapa(dariisi kitabyangbersangkutan)yangakandiajarkanolehkiai. Bandongan: Pelajaran diberikan secara kelompok, seluruh santri. Kata bandongan, berasal dari bahasa Jawa Bandong artinya pergi berbondongbondong secara kelompok. Baik cara sorogan maupun bandongan, pelajaran disampaikan dalam bahasa Jawa atau bahasa Madura, menurut bahasa daerah kiai. Santri secara cermat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kiai dengan

95 memberikan catatancatatan tertentu pada kitabnya masingmasing dengan kodekode tertentu pula, sehingga kitabnya disebut kitab jenggot, karena banyaknya catatancatatan yang menyerupai jenggot seseorang, kiai menerjemahkan kitab tersebut secara kata demi kata, atau kalimat demi kalimat dari isi kitab ke dalam bahsa Jawa, tidak ada tanya jawab. Dengan teknik bandongan, kiai tidak mengetahui secara individual siapasiapa santri yang datang mengikuti pengajiannya. Disampingduacaratersebut,jugadikenalduacaralagi,tetapimerupakankegiatanbelajar mandiriolehsantri,yaituhalaqahdanlalaran. Halaqah artinya belajar bersama secara diskusi untuk saling mencocokkan pemahaman mengenai arti terjemahan dari isi kitab, jadi bukan mendiskusikan apakah isi kitab dan terjemah yang diberikan oleh kiai tersebut benar atau salah. Jadi mendiskusikan segi apanya, bukan mendiskusikansegimengapanya. Lalaran adalah belajar sendiri secara individual dengan jalan menghafal; biasanya dilakukandimanasaja:didekatmakam,serambimesjid,serambikamardansebagainya. Masih dalam kegiatan proses belajarmengajar, santri biasnya seminggu sekali, pada saat sesudah salat Isya, mengadakan belajar pidato atau belajar memberikan ceramahceramah keagamaan; ceramahnya terserah pada masingmasing santri, tetapi kebanyakan berkisar pada kebagusan moral Nabi Muhammad, kepahlawanan dan kejujuran para sahabat Nabi, arti ayat ayatdanhadishadistertentu,dansebagainya. Teknikteknik kegiatan belajarmengajar tersebut bertolak dari keyakinan bahwa isi kitab yang diajarkan adalah benar dan kiai atau ustaz tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang keliru dan menyesatkan; jadi sifatnya mekanis, dan oleh karena itu, mereka cenderung mempelajari isi kitabsecaraberurutandantidakmelompatlompat.(LihatLampiran5,Butir13,14,15,16,17,18, 19, 20, 24, dan 26). Bagi santri, belajar itu sendiri sudah merupakan ibadah kepada Tuhan, oleh karena itu diperoleh tidaknya ilmu sebagai hasil belajar sangat tergantung pada rida Tuhan, diperolehnya melalui usaha dengan segenap kesucian jiwa, tirakatan, puasa, salat, dan sebagainya (lihat Lampiran 5 butir 8, 9, 10, dan 11). Sehubungan dengan cara belajar seperti itu, maka tidak diperlukan fasilitas belajar yang mahal dan canggih seperti, over hand projector, papanpapanpanel,laboratorium,dansebagainya. Teknik belajar tersebut berbeda dengan ciriciri belajar pada madrasah dan sekolah sekolah umum, walaupun pada kedua jenis pendidikan ini juga cenderung banyak hal yang perlu dihafal. Meskipun demikian terdapat perbedaan esensial diantara keduanya. Pada proses mempelajari kitabkitab keagamaan tersebut: proses belajar dipandang sebagai ibadah dan sakral, sedang dalam mempelejari science dalam pelajaranpelajaran di madrash dan sekolah umumdipandanginsturmentaldanprofan.

96 Evaluasi Seperti dijabarkan di muka, evaluasi keberhasilan belajar di pesantren ditentukan oleh penampilan kemampuan mengajarkan kitab kepada orang lain. Jika audiencenya merasa puas, maka hal itu berarti santri yang bersangkutan telah lulus. Sebagai legalisasi kelulusannya adalah restu kiai bahwa santri yang bersangkutan boleh pindah mempelajari kitab lain yang lebih tinggi tingkatnannya dan boleh mengajrka n kitab yang telah dikusia kepada orang lain. Evaluasi keberhasilan belajar tersebut berbeda dengan evaluasi keberhasilan belajar pada madrasah dan sekolahsekolah umum yang menggunakan ujian resmi dengan pemberian angkaangka tanda lulusataunaiktingkat. Enrolment Seiring dengan keterangan tersebut, dan seperti dilaporkan dalam Gambaran Umum Pesantrendimuka,dimanabelajardipesantrentidakkenalbataswaktuawaldanakhir,maka enrolment penerimaan santri baru dan penyelesaian belajar di pesantren juga tidak ada syarat syarat tertentu dan batasan waktu yang pasti kapan mulai dan kapan berakhir. Sebaliknya enrolmentuntukmadrasahdansekolahsekolahumumjelassyaratsyaratdanwaktunya. 2.11.PengelolaandanDana Seperti dilaporkan di muka, kiai pengasuh pesantren adalah pimpinan tertinggi dan tokoh kunci pesantren. Oleh karena itu, pada dasarnya mengenai masalah pengelolaan dan dana ada di tangan kiai; tetapi secara teknis oprasional ditangani oleh unitunit kerja dalam kelompok sayap 2. Pembagian kerja dari unitunit kerja pada umumnya kurang jelas dan para administrator juga belum ahli; sistem dokumentasi atau filling system belum teratur dan akurat. Meskipun demikin, dalam pengelolaan dana, sarana, dan dokumendokumen berharga lainnya, hampir dapat dipastikan tidak ada kebocorankebocoaran dalam arti korupsi. Kelemahan yang terjadi akibat kurang profesional mengelola adalah tidak efektif, tidak efisien dan tidak akurat, serta seringtumpangtindih.Misalanyasulitmemperolehjumlahsantrisecarapastimenurutjenisjenis program studinya. Banyak mesinmesin jahit dan alatalat keterampilan lainnya tidak dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien, dan sebagainya. Ketiadaan penyelewengan atau korupsi tersebut karena adanya kepercayaan yang benar terhadap karisma kiai, mereka merasa diawasi langsung oleh Yang Maha Mengetahui, takut dosa, dan sebagainya jadi semacam adanya pengawasan yang benar telah melekat dalam diri sanubarinya. Dengan kata lain terjadinya kelemahan dalam mengelola bukan karena faktor hal, tetapi sematamata karena belum adanyaprofesiataukeahliandanketerampilanmengelolanya.

97 Mengenai sumber dana, pada umumnya diperoleh dari: (1) usaha yayasan yang dibentuk oleh pesantren, (2) sumbangan dari santri, (3) sumbangan dari masyarakat, baik pribadi maupun kelompokkelompok, yang biasanya berupa barangbarang natura, uang, tanah, tenaga, dan sebagainya; berstatus sebagai: amal jariyah, wakaf, infak, sedekah, dan sebagainya, atau melaui proyekproyekkerjasama,danbantuanpemerintahpusatmaupundaerah. Karena pada umumnya tidak terdapat perencanaanperencanaan yang tepat dan tidak mempunyai rencana induk pengembangan pesantren baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, maka sulit diukur memadaitidaknya dana, tetapi secara keseluruhan akan tampak perbedaan dari pesantren satu terhadap yang lain. Hal ini tampak dari jumlah gedung yang dimiliki, tanah, sumber sumber dana, dan fasilitasfasilitas lainnya, serta banyaknya santri yang diasuhnya. Hal terakhir ini merupakan indikator popularitas atau kebesaran pesantren. Bagi pesantren berlaku semboyan: dana berapa pun cukup dan dana berapa pun tidak cukup. Sama halnya, dengan pandangan pesantren terhadap jumlah santri: berapa pun jumlah santri, sepanjang yang bersangkutan mau menjadi santri dapat ditampung kecuali PP Gontor karena menyelenggarakan pendidikan formal: Kuliyatul Mualimin Islamiyah, dan telah memiliki persyaratanpersyaratan tertentu yang jelas, seperti: rasio muridguru, jam atau waktu belajar menyelesaikan studi, dan sebagainya. Pesantren tidak kenal drop out, tetapi madrasah dan sekolah umum mengenalnya. Pesantren tidak menilai jumlah lulusan tetapi hanya kualitaslulusan,yaitumutusantriyangtelahmenjadikiaibesar. Tatapi, pada waktuwaktu ini telah tampak tandatanda baru bahwa pesantren menyadari pentingnya perencanaanperencanaan yang akurat untuk mengembangkan dirinya di masa mendatang. Seperti: mendaftar jumlah alumni, lahirnya organisasi atau ikatanikatan santri dari pesantren tertentu, memikirkan dan memporses pembelian tanah untuk perluasan pesantren, pembangunan gedung gedung baru atau aula yang dapat menampung sejumlah santri atau audience yang diinginkan, dan sebagainya. 2.12.SarandanAlatalatPendidikan Sebagaimana disebutkan di muka, saranasaran esencial, yang sekaligurs merupakan cirri khas pesantren adalah: (a) Mesjid atau surau, (b) Rumah kiai, (c) Rumah ustaz, (d) Asrama santri, (e) Gedung belajar, (f) Perkantoran, (g) Pos keamanan, (h) Ruang tamu, (i) Perpustakaan, (j) Tempat mandiWC, (k) Dapur, (l) Ruang makan, (m) dan sebagainya, sesuai dengan besar kecilnya pesantren yang bersangkutan. Pesantren yang paling kecil memiliki: a, b, c, dan d; yang lebih besar ditambah dengan e, f,g,h,I,j;yanglebihbesarlagimemilikisemuanyaditambah dengansaranasaranaolahraga,seni,balai pertemuan,rumahtamu, dansebagainya.Darienampesantren objekpenelitan,dilihat darisegisarana, urutannya dari yang paling besar adalah: PP Gontor, PP Sukorejo, PP Tebu Ireng, PP Blok Agung, PP GulukGuluk,danPPPaciran(LihatLampiran1). Alatalat pendidikan, dalam arti alat untuk belajarmengajar bagi jenis pendidikan pesantren sepertidisebutkan diatas,amatsederhanakarenasifatbelajarnyayangmemangtidakmemerlukannya.

98 Tetapi bagi madrasah dan sekolah umum, terdapat alatalat pendidikan dan pengajaran yang lebih lengkap: bangku, papan tulis, alat tulismenulis, alat pengeras suara, over hand projector, dan alatalat kekinian tampak mulai muncul. Mereka tampak memiliki laboratoriumlaboratorium untuk madrasah dansekolahumumyangdiselenggarkannya.Darisegialatalatpendidikanyangdimilkitampaknyamasih jauh memadai jika dilihat dari kemajuan ilmu dan teknologi saat ini. PP Tebu Ireng memiliki komputer, yang masih dipergunakan untuk keperluan yang sangat terbatas. Sedang PP Gontor pada saat penelitan ini sedang dalam perjalanan memebeli komputer. Tetapi sudah banyak pesantren pesantren yang memiliki telefon dan percetakan, serta mobil untuk kepentingan tranportasi komunikasi dengan sistem laindiluardirinya. Bagaimanapunperkembanganselanjutnyaakansangattergantungpadakemampuanmengelola dandananya. 3.DinamikaSitemPendidikanPesantren:PerspektifBentukPendidikanPesantrendiMasaDepan. Berdasarkan sejarah kehidupan pesantren, dapat disimpulkan bahwa pesantren telah mampu mempertahankan kehadirannya di tengahtengah kehidupan masyarkat dari zaman ke zmana. Pada periode awalnya ia berjuang melawan agama dan kepercayaan yang percaya pada serba Tuhan dan takhayul; tampil dengan membawakan misi agama tauhid. Setiap kehadiran pesantren baru selalu diawali dengan perang nilai antara nilaiputih yang dibawa oleh pesantren dan nilaihitam yang ada di masyarakat setempat, diakhiri dengan kemenangan pesantren. Bentuk dan sifat pesantren pada waktu itu: sebagi lembaga pndidikan, sosial, dan penyiaran agama dengan sifat pendidikan dan pengajaran yang didominasi oleh pikiran ahli fikih dan tasawuf dari abad ke713 Masehi, dengan kitab kitabkeagamaanyangberorientasipadafikihdankesufian.(lihatlampiran2).Hampirsemuakiaipendiri dan pengasuh pesantren dilaporkan sebagai memiliki ceritacerita legendaris lengakp dengan kesaktian kesaktian badaniah dan misteri kekuatan batiniah yang luar biasa di samping memiliki ilmu agama yang tinggi untuk melawan kekuatankekuatan hitam dan kebodohan masyarakat terhadap agama. Keberhasilan demi keberhasilan diraih oleh pesantren sehinta i memeperoleh tampat di tengahtenagh kehdiupn masyarakat, dan menjadi rujukan bagi masyarakat setempat. Pesantren dipandang sebagai masyarakat ideal di bidang moral keagamaan. Kiai tidak hanya menjadi pemimpin spiritual dan tokoh kunci di dalam pesantren, tetapi juga di masyarakat sekitarnya. Pada skala nasional, pesantren telah memperoleh pengakuan sebagai lembaga pendidikan yang ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa setidaktidaknya di kalangan mayoritas umat Islam Indonesia yang juga merupakan golongan mayoritas daribangsaindonesia. Kemudiandalamperiodezamanpenjajahan,pesantrentetapeksisdalamkehidupanmasyarakat muslim dengan posisi uzlah yaitu terpisah dari tata kehidupan pemerintah kolonial pada umumnya karena pemerintah kolonial takut pada perkembangan Islam di Indonesia, dan keadaan pendidikan pesantren jika dilihat dari kacamata pemerintah sangat jelek, sehingga agak sulit dimasukkan ke dalam sistem pendidikan pemerintah. Tidak jelas batasbatas antara lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan

99 lembaga penyiaran agama; tidak jelas kedudukan antara guru, pimpinan spiritual, penyiar agama, dan pekerja sosial keagamaan 21 . Tulisan bahasa Arab sebagai bahasa yang dipelajari dan dipergunakan dalam pesantren sangat berbeda dan sulit dipadukan dengan tulisan Latin yang dipergunakan dalam system pendidikan pemerintah. Tulisan Arab mulai dari kanan sedang tulisan Latin mulai dari kiri. Tidak jelas tujuan kurikulum system evaluasinya, dan sebagainya. Akhirnya, posisi pesantren tetap berada di luar system pendidikan pemerintah. Dalam keadaan uzlah tersebut, pesantren tetap menjalankan fungsinya sebagai lembaga untuk memperdalam ajaran agama yang bercorak fikihsufistik tersebut. Pesantrendilarangmengajarkanhalhalyangberkaitandenganurusanurusankeduniawiankecualiyang menyangkut hukum waris (faraid). Hal tersebut membawa keuntungan dan kerugian sekaligus bagi pesantren. Keuntungannya ialah pesantren berhasil menjadi lembaga pendidikan yang berhasil mengembangkan pertahanan mental spiritual, solidaritas, dan kesederhanaan hidup yang kuat, tetapi kelemahannya ialah bahwa pendidikan pesantren bagaikan lepas dari kehidupan nyata, tidak mendarat di bumi, karena orientasi kehidupannya telalu berat ke akhirat dan kurang memperhatikan kepentingan hidupduniawi.Sampaisekarangwarnaorientasiyangdemikianinimasihdapatdilihatdenganjelas. Kemudian datang zaman pergerakan dan persiapan perang kemerdekaan. Seiring dengan semakin matangnya waktu pesantren yang pada awalnya merupakan pusat pemurnian ajaran agama dan kepercayaan, brubah menjadi salah satu pusat perjuangan nasional, dan pada periode perang fisik kemerdekaan tersebut, pesantren menjadi pusatpusat gerilyawan (tentara Hizbulloh) yang berjuang melawan penjajah. Awal pembentukan Tentara Nasiona Indonesia, terutama pada angkatan daratnya, banyak yang barasal dari santri dan diwarnai dengan corak kehidupan atau kultur santri. Di tingkat pimpinan dan melalui jalur perjuangan diplomasi, tidak sedikit kiaikiai dan pengasuh pesantren yang menjadi pemimpin nasional dan ikut serta memberikan andilnya dalam menegakkan kemerdekaan bangsa, melalui penyusunan dasardasar konstitusi Negara. Bentuk dan sifat pesantren pada waktu itu masih tetap sebagai lembaga pendidikan agama (tafaquh fiddin), social keagamaan, dan penyiaran agama,dengancorakajarannyayangfikihsufistiklengkapdenganorientasiukhrawinya. Tetapi sejak awal abad ke20 ilmuilmu pengetahuan umum telah mulai diajarkan di pesantren, dan sejak tahun 1970an latihanlatihan keterampilan mengenai berbagai bidang, seperti: jahit menjahit, pertukangan, perbengkelan, peternakan, dan sebagainya, juga diajarkan di pesantren. Seperti disebutkan di muka, pemberian keterampilan tersebut dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk mengembangkan wawasan warga pesantren dari orientasi kehidupan yang amat berat ke akhirat menjadi berimbang dengan kehidupan duniawi. Sebab sebenarnya sejak awalnya santri telah akrab denganbebagaiketerampilansepertipertanian,danpekerjaanpekerjaanpraktisipragmatislainnya. Corak ajaran yang bersifat fikihsufistik tersebut, membawa santri berperilaku sakral dalam kehidupan seharihari dan kepekaan yang luar biasa terhadap kejadiankejadian yang berkaitan dengan hukum agama (halalharam, pahaladosa, wajibsunahmakruh dan dilarang, dan sebagainya), sehingga
Lihat Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi, Dalam Masyarakat Jawa, Pustaka Jaya, Jakarta, 1981, halaman242243.
21

100 menimbulkan pribadi yang peka terhap halhal yang sifatnya karitas atau charitable, dan kurang peka terhadap halhal yang sifatnya sekular, programatis dan kalkulatif. Misalnya santri lebih peka terhadap seekor anjing yang kehausan atau duri yang melintang di jalanan daripada sebuah tanah longsor atau jembatan yang putus yang menyangkut langsung hajat atau kebutuhan hidup orang banyak. Sikap karitas yang seperti itu sebenarnya memang tidak keliru, Karena memang agama juga mengajarkanhalhalyangdemikian,tetapimasalahnyaadalahbagaimanamendudukkanajarantersebut secara proporsional sesuai dengan tempat dan masalahnya. Ilmu umum, dan keterampilan tersebut dimasukkan ke dalam pesantren, dimaksudkan untuk mengembangkan wawasan keduniawian, dan kesadaran bahwa yang sekular ini adalah bagian dari akhirat, dan keduanya adalah sama esensialnya untuk digumuli. Keduanya merupakan satu kesatuan kewajiban yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain, tetapi mereka hanya dapat dibedakan, dan masingmasing memiliki nilai tersendiri yang tidak dapatsalingmenggantikansatuterhadapyanglain.Misalnya:orangyangsalatnyabaikdanbenar,tetapi jikaiaberbuattidakjujur,iatetap berdosa.Jugaberlakusebaliknya:sekalipuniaselaluberperilakujujur dan banyak menolong orang dalam hidup keseharian, tetapi jika ia tidak salat maka ia tetap berdosa karenatidaksalatdankejujurannyatersebuttidakdapatmenggantikanfungsisalat. Kemudian dalam masamasa mutakhir, sejak 2030 tahun yang lalu, sebagai akibat tantangan yang semakin gencar dari perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi, maka kini sudah menjadi pemandangan seharihari bahwa di dalam pesantren telah diselenggarakan jenis pendidikan formal, yaitu madrasah dan sekolah umum yang mempelajari ilmuilmu umum. Sumbersumber belajar pun telah berkembang dengan luar biasa, tidak hanya terbatas pada kitabkitab kuning yang bercorak fikih sufistik tersebut, tetapi telah berkembang pula pada pelajaranpelajaran filsafat lengkap dengan cabang keilmuannya. Banyak buku tentang filsafat dan pembaruan pemikiran dalam Islam yang ditulis oleh cendekiawan muslim, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dan diterbitkan dalam bahasa Indonesai,memasukiduniapesantren(lihatLampiran8). Semua hal tersebut menggambarkan seluruh jaringan sistem pendidikan pesantren telah berubah tidak hanya menyangkut nilainilai yang sifatnya mendasar, tetapi juga nilianilai instrumental. Yang dimaksud dengan nilainilai yang mendasar ialah ajaran yang bersumber pada kitabkitab klasik, seperti disebutkan dalam Lampiran 2, sedang yang dimaksud nilainilai instrumental antara lain adalah munculnya lembagalembaga pendidikan formal, pergeseranpergeseran gaya kepemimpinan, diselenggarakannya traningtraning kepemimpinan, seminarseminar, penelitianpenelitian, dan sebagainya secara langsung maupun tidak langsung merupkan pengembangan proses belajarmengajar dipesantren. Pada masa kini pesantren sedang berada dalam pergumulan antara: "identitas dan keterbukaan"; artinya di satu pihak ia dituntut untuk menemukan identitasnya kembali, di pihak lain ia harus secara terbuka bekerja sama dengan sistemsistem yang lain di luar dirinya yang tidak selalu sepaham dengan dirinya. Kiai mengalami tantangantantangan: (I) la bukan lagi sebagai satusatunya sumber mencari ilmu dan moral, (2) la harus bekerja mengatasi kebutuhan ekonomi rumah tangganya, dan(3)laharusmenghadapikrisiskelembagaanpesantrensebagaitempatidealuntukmengaliilmudan mengabdi, telah berkembang selain menjadi tempat untuk mencari ilmu dan mengabdi, juga

sebagai tempat untuk mencari nafkah dan kesempatan untuk meniti karier resmi yang lebih tinggi. Kecuali kiai, ustaz, santri, dan orangtua santri juga menghadapi tantangan yang serupa,

101

yang pada dasarnya adalah selain mereka membutuhkan moral dan pengabdian, mereka juga butuhkerja,mengembangkankarier,danmencarinafkah.
Dengan demikian, sejauh ini telah terjadi perubahanperubahan bentuk, sifat dan fungsi pesantren sebagaiberikut: a. Semakin jelas batasanbatasan: fungsinya sebagai lembaga pendidikan sosial dan penyiaran agama. b. Fungsinya sebagai lembaga pendidikan terasa semakin menonjol dibandingkan kedua fungsi yanglain,yangberartisemakinmenujukearahprofesionalismedibidangpendidikan. c. Dengan semakin berkembangnya sumbersumber belajar dan berkembangnya pendidikan formal dalam pesantren, maka semakin beragam (diverifikasi) jenisjenis pendidikan yang diselenggarakannya, dan semakin menyatu dengan sistem pendidikan nasional. Kedua jenis pendidikan formal tersebut (madrasah dan sekolah umum) merupakan jembatan bagi santri santri untuk memasuki sekolahsekolah formal yang lebih tinggi tingkatannya dalam sistem pendidikannasional. Sementara itu, kecenderungan global perkembangan dunia pendidikan dalam budaya industri ini adalah sifatnya yang semakin masif, standar, dan rasional. Pendidikan keilmuan akan semakin menonjol di masamasa mendatang, termasuk ilmuilmu agama. Sebagaimana diketahui saat, pembagian bidang studi untuk tingkat pendidikan menengah atas: A1 (Matematika dan Fiisika), A2 (Biologi dan Kimia), A3 (Sosial), A4 (Bahasa dan Budaya), A5 (Agama). Di sini jelas yang dimaksudkan dalam A5 tersebut adalah ilmu agama. Lembagalembaga pendidikan akan semakin didominasi dengan pekerjaanperkerjaan untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu daripada mengembangkan nilainilai dan kearifan. Tidak semua hal dalam kehidupan ini (nilai dan kearifan) dapat diajarkan dan dididikkan melalui lembaga pendidikan formal atau sekolahsekolah. Guru dapat mengajar filsafat, tatapi ia tidak dapat mengajar kebijakan. Pendidikan nilai dan kearifan akan lebih efektif bila dilakukan melalui jenis pendidikan non formal yang lebur dalam kehidupan seharihari, sebagaimana dilakukan oleh pesantren selama ini, di mana sangat ditekankan pentingnya pengalaman ajaran agaman dan moral dalam kehidupan sehari hari. Diverifikasi pengembangan bentuk dan jenisjenis pendidikan pesantren tersebut, dapat dilihat denganlebihjelasmelaluibaganberikut:

102

I II

: :

Pendidikan non formal, khusus mempelajari kitab-kitab klasik agama (kitab kuning). Keterampilan-keterampilan jahit-menjahit, pertanian, peternakan, perbengkelan, dan sebagainya.
Pendidikan formal: madrasah dan sekolah umum, baik untuk tingkat menengah pertama maupun atas.

III

IV A IV B :

Perguruan Tinggi, Sekolah tinggi Agama, Institut Agama, dan sebagainya. Jalur ini khusus untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu agama Islam, seperti: Ushuluddin, Syariah, Tarbiyah, Dakwah, dan sebagainya. Perguruan Tinggi berbentuk universitas, sampai saat ini fakultas-fakultas yang diasuhnya tidak hanya fakultas-fakultas agama, tetapi sangat potensial dibuka fakultas-fakultas umum, karena sejak dalam kotak III sudah diselenggarakan sekolahsekolah umum di samping sekolah-sekolah agama.

Sehubungan dengan itu, maka arah perkembangan pendidikan pesantren diperkirakan akan beljalan menempuh bentuk-bentuk sebagai berikut: 3.1. Tetap berbentuk lama, yaitu sebagai pendidikan non formal, khusus mendalami ilmu-ilmu agama, yang menekankan pentingnya pengamalan agama dalam hidup sehari-hari, bersumber dari penilaian para ahli fikih dan sufistik dari abad ke-7-13 Masehi dengan kitab-kitab klasik keagamaan. (Lihat lampiran 2). Tampaknya bentuk tersebut secara murni dan konsekuen sudah tidak memadai lagi untuk dipertahankan, tetapi beberapa nilai tertentu rnasih amat penting untuk dipertahankan dan bahkan perlu dikembangkan. Misalnya keikhlasan, kesederhanaan, kebersamaan, dan moral keberagamaan sebagai pedoman dalam hidup keseharian.

103 3.2. Berbentuk tetap sebagai pendidikan non formal di bidang agama tetapi dilengkapi dengan berbagai keterampilan; dengan catatan bahwa bidang studi keagamaan juga terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan pemikiran dalam Islam, jadi tidak hanya terbatas pada sumber-

sumber ajaran lama seperti tersebut di atas, yaitu terbatas pada fikih-sufistik saja, tetapi perlu dilengkapi dengan filsafat, dan pemikiran-pemikiran baru dalam Islam sesuai dengan perkembangan zamannya. Tanpanya tentu ini akan dapat bertahan terus, tetapi kelemahannya, ia tidak mampu mengakomodasikan perkembangan ilmu dan teknologi termasuk ilmu-ilmu agama, secara teoritis di masa-masa mendatang. Bentuk kedua ini berarti pesantren lebih menjadi lembaga pemakai ilmu daripada sebagai lembaga pengembagan ilmu.
3.3. Berbentuk seperti alternatif kedua ditambah dengan penyelenggaraan pendidikan

formal, baik madrasah maupun sekolah umum, sebagaimana sekarang ini berlaku: pesantren madrash, dan sekolah umum, hidup dalam satu kampus pesantren. Bentuk ini diperkirakan akan dapat bertahan di masa-masa depan, karena dengan demikian akan selain mengisi kekurangan masing-masing antara pesantren sebagai jenis pendidikan non formal yang menggarap bidang nilai yang dalam hal ini sebagai lembaga tafaqquh fiddin dan pengalaman agama, dengan pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) yang menggarap bidang ilmu. Dengan kata lain bentuk yang ketiga ini adalah: pendidikan formal diselenggaraka dalam lingkar budaya pesantren. Tetapi dengan alternatif ketiga ini pesantren akan tetap menjadi pendidikan non formal, yang hidup berdampingan dengan pendidian formal.

3.4.

Berubah menjadi bentuk pendidikan formal yang mengasuh khusus ilmu-ilmu agama, dalam pengertian sebagaimana disebut dalam alternatif pertama di muka. Bentuk ini kiranya tidak dapat dipertahankan karena ilmu-ilmu yang diajarkan kurang memadai dengan kebutuhan. Berubah menjadi altrenatif keempat ditambah dengan ilmu-ilmu pengetauhan umum, dan ilmu-ilmu agama yang diajarkan juga dikembangkan sesuai dengan perkembangan pemikiran dalam Islam. Jadi dalam alternatif kelima ini: pengajaran ilmu-ilmu agama menjadi mayoritas, sedang ilmu pengetahuan umum menjadi minoritas. Alternatif kelima ini sama dengan sekolah-sekolah percobaan yang diadakan oleh Departemen Agama yang disebut Madrasah Plus, yang sejak 2-3 tahun yang lalu diadakan di Padang, Ujung Padang, Jawa Timur. Sekolah percobaan tersebut dimaksudkan untuk mencari masukan calon-calon mahasiswa bagi IAIN, dengan perbandingan kurikulum : 70% ilmu agama, 30% ilmu pengetahuan umum. Berubah menjadi bentuk pendidikkan formal, sebagaimana alternatif kelima di atas, tetapi dengan perbandingan terbalik: 70% akal (ilmu pengetauhn umum atau metode berpikir), 30% moral (agama). Betnuk ini sama dengan bentuk yang sekarang berlaku bagi madrsahmadrasah yang diasuh oleh Departemen Agama, sebagai hasil keputusan Menteri Agama, Pendidikan dan Kebudayaan, dan Dalam Negeri, tahun 1975. Pola in sebenarnya satu

3.5.

3.6.

104

model dengan perguruan-perguruan yang diselenggarakan oleh perguruan-perguruan Islam swasta seperti Muhamadiyah, NU, dan sekolah Islam lainnya, seperti UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta, dan sebagainya. Hanya pada perguruan-perguruan yang terakhir ini mungkin pengajaran agamanya ada yang lebih kecil dari 30%, dan ada yang lebih besar dari 30% sesuai dengan seleranya masing-masing; tetap 1 yang jelas dalam alternatif keenam ini, kurikulum ilmu agama merupakan kelompok minoritas, sedang ilmu umum merupakan kelompok mayoritas. Alternatif keenam tersebut akan menjadi tipe ideal bagi bentuk pesantren di masa depan, karena dengan komposisi kurikulum 30% agama, 70% umum tersebut memungkinkan diletakkan kerangka dasar pemikairan rasional, dan hal itu diselenggarakan dalam kultur pesantren lengkap dengan sistem asramanya, setelah disesuaikan dengan kebutuhan zamannya. Dikaitkan dengan persepektif kedudukan pesantren sebagai subsistem pendidikan nasional, maka tidak semua aspek kultur (asrama) pesantren perlu dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional; ada aspek-aspek tertentu daripadanya yang harus ditinggalkan karena sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman. Dengan diletakkannya landasan dasar metodologi berpikir rasional yang kuat, memungkinkan santri mengembangkan kemampuan daya intelektual dan ilmunya, sedang dengan hanya kekayaan materi tanpa metodologi hanya akan membawa santri berpikir dogmatis. Gambaran asrama pesantren pada saat ini ialah: Merupakan tempat tinggal bersama: selama 24 jam, mata santri memandang mesjid atau surau sebagai tempat ibadah, telinganya selalu mendengar alunan suara-suara bacaan ayat-ayat suci Alquran, mulutnya selalu mengumandangkan suara-suara istigfar, takbir, tahmid, dan pujian-pujian selawat nabi, kaki dan tangannya selalu basah dengan air wudhu dan siap melangkah ke mesjid untuk menunaikan salat, dan seluruh gerak langkahnya selalu berlomba dalam mengamalkan agama dan mengaharapkan berkah kiai. Keadaan yang seperti itu, selain dapat menimbulkan hal-hal positif seperti berkembangnya moral keagamaan yang baik dan pertahanan mental-spiritual keagamaan yang kuat juga dapat menghambat perkembangan individualitas (jati diri), karena pribadi individu telah larut ke dalam kepribadian kolektif, dan dapat menimbulkan penyimpangan - penyimpangan kejiwaan lainnya yang tidak diharapakan, seperti hubungan seksual dengan sesama jenis kelamin, sikap tertutup, fanatisme agama yang sempit, dan sebagainya. Oleh Karena itu, diperlukan pembauran konsep asrama di masa depan agar pesantren mampu menyatakan kehadirannya sebagai subsitem pendidikan nasional secara mantap di masa-masa depan. Tampaknya kebutuhan asrama di masa dapan ialah bahwa asrama bukan sekadar tempat hidup berasrama selama 24 jam dari tahun ke tahun seperti tersebut di atas, tetapi asrama hendaknya juga berfungsi sebagai forum studi bersama yang secara kreatif dan inovatif mampu mengembangkan Ilmu, teknologi dan agama, sesuai dengan tantangan zamannya dan mengembangkan individualitas atau jati diri masing-masing anggotanya yang seimbang dengan perkembangan kepribadian kolektif. Oleh karena itu, masalah penting bagi konsep "asrama masa depan" bukan terletak pada hidup bersamanya semua anggota dalam satu tempat secara terus-menerus, tetapi adalah pemikiran selama 24 jam untuk merencanakan atau memprogramkan kegiatankegiatan pengembangan ilmu dan teknologi yang dipandu oleh moral agama sebagai satu kesatuan yang diamalkan dalam hidup keseharian; jadi dengan demikian asrama juga berfungsi sebagai forum dialog antara murid dan guru, dan antara murid dan sesamanya.

105

Dalam kaitan tersebut, pesantren perlu mengadopsi kultur Sistem Pendidikan Nasional. dalam hal wawasan berpikir keilmuan, meliputi metode berpikir: deduktif, induktif, kausalitas, dan kritis untuk memahami ajaran-ajaran agama secara kontekstual dan mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan umum dan teknologi dalam struktur relevansinya dengan ajaran agama. Dengan dilaksanakannya sistem madrasah dengan kurikulum 30% agama, 70% umum, dalam kultur dan asrama pesantren menurut konsep asrama baru tersebut, diharapkan pesantren dapat menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan dan mengamalkan bidang keahliannya dengan tetap dipandu dan dipadu oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; dan dengan alternatif keenam ini juga terbuka kesempatan untuk mengembangkan disiplin ilmu agama Islam sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Agama No. 110 tahun 1982 (Iihat Lampiran 9).

4. Rekapitulasi Deskripsi Hasil Temuan Penelitian

Matriks berikut menggambarkan dinamika pesantren dalam mengarungi kehidupannya:

Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Dulu, Sekarang dan Kecenderungannya Mendatang No. 1. Hal Status Dulu * Uzlah* Milik Pribadi * Pesantren (PNF) Sekarangdan Mendatang I * Sub Sistem Pendidikan Nasional * Milik Institusi * Pesantren (PNF) * Madrasah (PF) * Sekolah Umum (PF) * Perguruan Tinggi (PF)
3.
Fungsi

2.

Jenis Pendidikan

* Lembaga Pendidikan

* Lembaga Pendidikan

* Lembaga Sosial * Lembaga Penyiaran Agama 4. Sifat

* Bebas Waktu
Dan Tempat

* Masih berlaku bagi PNF,


tidak berlaku bagi PF

106

5.

Pendekatan Corak Kehidupan

* Bebas Biaya. * Bebas Syarat * Holistik

* Spesifik * F.S. + Ilmu * Ukhrawi + Duniawi * Sakral + Profan * Manusia Objek + Subjek
(vitalistik)

6.

* Fikih-Sufistik
(tarekat)

* Orientasi Ukhrawi * Sakral * Manusia sebagai


objek (fatalistik) 7. Sumber Belajar

* Kiai/Ustaz * Kitab Klasik


Agama (Kitab Kuning)

* Kiai/Ustaz * Kitab Klasik * Kitab-Kitab Kontemporer


Agama dan Ilmu-ilmu Umum

8.

Bahasa Pengantar

* Daerah * Arab

* Indonesia * Daerah * Arab * Inggris * Sorogan * Bandongan * Halaqah * Lalaran * Diskusi-diskusi, Training,
Seminar-seminar menuju pengayaan metodologi (dialog)

9.

Metode Belajar

* Sorogan * Bandongan * Halaqah * Lalaran * Kaya Materi,


Miskin (menghafal)

No. Hal lImu Dulu Sekarang dan Mendatang

10.

* Sakral, mapan dan


diperoleh melalui berkah Kiai

* Profan, Instrumental,
belum mapan, dan dicari melalui akal

11.

Keterampilan

* Tekstual * Merupakan bagian


integral dari kehidupan santri

* Kontekstual * Merupakan sarana pendi.


dikan untuk mengembangkan wawasan pemikiran keduniawian

12.

Perpustakaan,Dokumentasi dan

* Tidak ada * Manual

* Ada * Manual, Elektronikal

107
Alat Pendidikan

13.

Tujuan

* Agama (Ukhrawi) *
Memahami mengamalkannya secara (tekstual)

* Agama (Duniawi) * Memahami dan mengamalkannya sesuai dengan tempat dan zamannya (kontekstual)

14.

Kurikulum

* Menurut penjenjangan Kitab

* Menurut penjenjangan
Kitab (PNF)

* Menurut Dept. Agama


(Madrasah)

* Menurut Depdikbud
(Sekolah Umum)

* Perguruan Tinggi:
Menyesuaikan; Dept. Agama/Depdikbud

15.

Sumber dan Pengelolaan Dana

* Pribadi, Masyarakat * Pribadi Kiai * "Dua Kulah


22

* Pribadi; Masyarakat dan * * Kran/Ledeng * Membayar * Bayar Makan dan Penatu * Menerima Wesel Uang
Pemerintah Yayasan

16. 17.

Air Santri

* Tidak Membayar * Memasak dan


mencuci

No.
Hal Dulu Sekarang dan Mendatang

* Menerima bekal
in natura

* Tidak mencari nafkah * Celana, Sepatu * Mencari Ilmu dan Ijazah

* Mencari nafkah * Sarung &: Peci * Mengabdi Kiai dan


Cari Ilmu

18.

Ustaz

* Mengabdi pad a
Kiai dan belajar

* Mengabdi pad a Kiai,


belajar dan mencari nafkah

19.

Orangtua

* Menyerahkan anaknya kepada Kiai untuk dididik dan

* Mengirimkan anaknya ke
Pesantren untuk belajar agama agar menjadi

22

Lihatcatatankakihlm.35.

108
memperoleh berkah Kiai orang baik dan berkeahlian

20.

Pengurus

* Mengabdi Kiai

* Bertanggungjawab pada
unit kerjanya

* Memberi masukan/pertimbangan Kiai

21.

Kiai

* Sumber Belajar/
Moral Tunggal

* Bukan merupakan sumber tunggal; namun kiai masih tetap menjadi tokoh kunci

22.

Jenis Kepemimpinan

* Karismatik * Keturunan * Berkah Kiai * Ikhlas * Ibadah * Hidup bersama *Menerima, memiliki
ilmu dan mengamalkannya

* Rasional * Keahlian * Ibadah * Ikhlas * Berkah Kiai * Hidup bersama * Dialog * Menjadikan ilmu sebagai
sarana pengembangan diri

23. 24.

Suksesi Nilai Kunci

25.

Asrama

109 Analisis Meskipun demikian, secara makro dewasa ini masih terasa adanya dua corak dalam Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pendidikan akal ada pada pendidikan umum (baca pendidikan nasional) dan pendidikan moral ada pada pendidikan agama (baca pesantren). Padahal keduanya seharusnya merupakan satu kesatuan bagaikan sisisisi satu mata uang dalam satu Sistem Pendidikan Nasional. Untuk ini Sistem Pendidikan Nasional perlu mengadopsi pendidikan moral dari pesantren dan pendidikan, pesantren perlu mengadopsi pendidikan akal dari Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini hanya mungkin jika kita mampu memandang bahwa ilmu harus bersumber pada sunnatullah, dan oleh karena itu, profesionalisme yang dikembangkan melalui pendidikan formal harus dipadu oleh iman dan takwa kepada Tuhan. Ilmuwan harus sadar akan kehadiran Tuhan setiap saat, dan ia harus sadar pula bahwa kebenaranyangdimilikipadasatusaattidakmustahilakanberubahataudibatalkanolehpendapatbaru yang lebih benar, sesuai dengan data dan fakta yang datang kemudian. Melalui ilmu dan teknologi, ilmuwan mampu mengidentifikasi dayadaya positif dan negatif yang secara kodrati ada pada objek studinya, sehingga ia mampu mengembangkan dan memanfaatkan dayadaya positif dan meredam dayadaya negatif bagi kepentingan hidup bersama dalam rangka mengabdi kepadaNya; jadi ilmuwan janganhanyaasyikdenganilmu,teknologidanhukumalamsajayanglepasdaripenciptaNya,sebabhal ini dapat membawanya "Iupa Tuhan" atau ateisme. Misalnya teori evolusi Darwin. Sebaliknya, ia harus sadar bahwa dirinya tidak akan mampu membuat hukum baru melampaui sunnatullah. Dengan kata lain, tanggung jawab pendidikan adalah menjadikan anak didiknya mampu memahami dan menghayati maknasujudnyamakhlukpadaPenciptanya,yaituTuhan. Matriksberikutmenggambarkananalisisperbandinganantarapesantrendanpendidikanumum:

110