Anda di halaman 1dari 12

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

PENGARUH JUMLAH PASTA TOMAT TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA MENCIT DIABETES Ririn Chairunnisa Fakultas Teknologi Industri Pertanian, PASCA UNAND Jl. M. Hatta, Limau Mannis Email : rcfurqon@gmail.com ABSTRAK Penelitian tentang Pengaruh Jumlah Pasta Tomat terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Mencit Diabetes telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian dan Labor Farmakologi Universitas Andalas Padang dari bulan Oktober sampai Januari 2012. Penelitian ini bertujuan Menentukan konsentrasi likopen dari produk pasta tomat terhadap penurunan kadar gula dalam darah pada mencit diabetes, mengetahui pengaruh jumlah pasta tomat terhadap penurunan kadar gula dalam darah pada mencit diabetes dan engetahui kadar pasta tomat tebaik terhadap penurunan kadar gula darah pada mencit diabetes. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pasta tomat berpengaruh terhadap kadar gula darah mencit diabetes. Jumlah pasta tomat yang paling efektif untuk menurunkan kadar gula darah adalah perlakuan B (62 mg pasta tomat 40 mg likopen) dengan persentase penurunan kadar gula darah mencapai 75,60%. Pada pure, kandungan likopen 135 mg/100g, vitamin C 37,84 mg/100g, daya antioksidan 446,76, kadar air 94,51%, sedangkan pada pasta kandungan likopen 169 mg/100g, vitamin C 4,58 mg/100g, daya antioksidan 386,61, kadar air 92,86% dan rendemen 66,15% Key Words : Pasta, Likopen, antioksidan, Gula Darah PENDAHULUAN Tomat (Lycopersicum esculentum, Mill) merupakan salah satu komoditas pertanian yang berpotensi multiguna untuk diolah sebagai produk pangan. Menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2003 produksi tomat di Sumatera Barat mencapai 14.481 ton/tahun, tahun 2004 terjadi peningkatan menjadi 16.341 ton/tahun,sedangkan pada tahun 2005 terjadi penurunan menjadi 11.824 ton/tahun. Dan terjadi peningkatan lagi dari tahun 2006-2007 yaitu dari 22.348-25.578. ton/tahun. Tomat termasuk sayuran yang banyak digemari karena rasanya enak, segar dan sedikit asam. Buah tomat banyak mangandung zat gizi seperti vitamin A dan vitamin C sebagai antioksidan, sehingga baik untuk kesehatan. Buah tomat tergolong komoditas yang sangat mudah rusak. Hal ini disebabkan karena memiliki kadar air yang tinggi yaitu lebih dari 93%, yang mengakibatkan umur simpan pendek, susut bobot tinggi akibat penguapan, perubahan fisik cepat, pertumbuhan mikroba terpicu, serta perubahan fisikokimia. Kerusakan buah tomat berpengaruh terhadap tingkat kesegaran, selain berakibat terhadap penurunan mutu fisik, Kerusakan juga menyebabkan penurunan nilai gizi, untuk mengatasinya tomat perlu diolah lebih lanjut. Dengan berkembangnya pola konsumsi masyarakat, tomat tidak saja dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi juga dalam bentuk aneka poduk olahan. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam pengolahan bahan pangan adalah pengolahan pada suhu tinggi khususnya teknologi pemanasan. Produk hasil pemanasan ini diantaranya pasta tomat. Proses ini mampu mempertahankan keunggulan karakteristik organoleptik yang dimiliki buah tomat. Pasta tomat adalah tomat konsentrat yang mengandung 24% atau lebih padatan terlarut tomat alami. Pasta tomat mempunyai keunggulan dibandingkan dengan produk olahan tomat lainnya karena mengandung antioksidan yang sangat tinggi. Antioksidan ini adalah likopen yang merupakan karotenoid pigmen merah terang yang banyak ditemukan dalam buah tomat dan buah-buahan lain yang berwarna merah. Likopen sangat dibutuhkan oleh tubuh dan dapat menetralkan radikal bebas, molekul yang tidak stabil yang

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

dihasilkan oleh berbagai proses kimia normal tubuh / radiasi matahari, asap rokok. Likopen juga memiliki manfaat untuk mencegah penyakit cardiovascular, kencing manis, osteoporosis, infertility, dan kanker (kanker kolon, payudara, endometrial, paru-paru, pankreas, dan terutama kanker prostat) (Di Mascio P. et al., 1989). Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 1995, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 5 juta Pada tahun 2000 jumlah penderita 8.400.000 jiwa, pada tahun 2003 jumlah penderita 13.797 juta pada tahun 2005 sekitar 24 juta orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun yang akan datang (Soegondo, 2008). Menurut Tandra (2008) beberapa diantara penderita diabetes baru mengetahui sakit yang diderita ketika sudah mengalami komplikasi. Ketidaktahuan ini disebabkan karena kebanyakan penyakit diabetes terus berlangsung tanpa keluhan sampai beberapa tahun dan disebabkan karena minimnya informasi yang diperoleh masyarakat tentang penyakit diabetes itu sendiri. Diabetes merupakan penyakit dimana tubuh penderita sudah tidak mampu mengendalikan kadar gula dalam darah. Penderita mengalami gangguan metabolisme pada proses penyerapan gula oleh tubuh, karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara normal. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, merupakan zat utama yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah. Penurunan hormon insulin mengakibatkan seluruh glukosa dalam darah yang dikonsumsi di dalam tubuh akan meningkat. Peningkatan kadar glukosa darah disebabkan oleh kerusakan pankreas yang tidak dapat menghasilkan insulin. Kerusakan pankreas ini dapat disebabkan oleh senyawa radikal bebas yang merusak sel-sel pada pankreas sehingga tidak dapat berfungsi (Studiawan, 2004, cit Purboyo, 2009). Berdasarkan penelitian terdahulu, yang dilakukan di Italy oleh Polidoridi et al. (2000) bahwa diabetes disebabkan karena miskin vitamin A, vitamin E dan karotenoid. Pada keadaan yang demikian gejala diabetes dapat di atasi dengan pengaturan kembali keseimbangan metabolisme zat gizi dalam

tubuh dengan tersedianya zat gizi dalam suatu makanan. Upritchard et al. (2000) menyatakan bahwa likopen mampu mengurangi kerusakan oksidatif pada DNA seluler dan mengurangi lemak peroksidasi yang disebabkan oleh penyakit diabetes. Berdasarkan penelitian Agha (2009) yang di lakukan di Kairo bahwa likopen dapat meningkatkan konsentrasi insulin, penurunan H202 sehingga dapat berfungsi sebagai antidiabetes. Penelitian ini diberi perlakuan jumlah pasta tomat 54 mg, 62 mg, 69 mg, dan 77 mg . Upritchard (2000) menyatakan bahwa mengkonsumsi jus tomat 500 ml/hari dengan jumlah likopen 35 mg dapat menurunkan kerusakan oksidatif pada penderita diabetes. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi likopen dari produk pasta tomat terhadap penurunan kadar gula, dalam darah pada mencit diabetes mengetahui pengaruh jumlah pasta tomat terhadap penurunan kadar gula dalam darah pada mencit diabetes, mengetahui kadar pasta tomat tebaik terhadap penurunan kadar gula darah pada mencit diabetes METODE PENELITIAN Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah Tomat Hibrida (F1) martha . Bahan kimia yang digunakan untuk analisis berupa : aquades, larutan kanji 1%, tepung mayzena, larutan, iod 0,01N , asam sitrat, Na asetat, asam askorbat, heksana, aseton, etanol, aloksan, dan larutan glukosa 10 %. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi peralatan pembuatan pasta tomat seperti : Mixer, blender, pisau, timbangan, kompor, botol kaca, baskom dan sendok. Sedangkan alat-alat untuk analisis kimia berupa : pengaduk, timbangan analitik, oven, gelas ukur, buret, pipet tetes, , alat-alat gelas, panci, labu takar , kertas saring, erlenmeyer, stirrer dan spekttofotometer. METODE 1. pembuatan pasta tomat

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Proses pembuatan pasta buah tomat berpedoman pada (Agustinisari dan Sunarmani, 2006).adalah sebagai berikut : Buah tomat dipilih yang masak dan masih keras, kemudian dicuci hingga bersih Tomat diblansir pada suhu 80oC selama 15 menit. Tomat dipotong kecil-kecil kemudian diblender dan diasring Pure tomat di campur dengan asam sitrat 0,1 gr dan tepung meyzena 1 gr Adonan tomat yang sudah dihancurkan, kemudian dimixing sampai homogen selama 15 menit. Selanjutnya, adonan dipanaskan dengan menggunakan, evaporator dengan 80oC Tahap terakhir, pasta tomat dikemas dalam botol kaca. 2. Persiapan Diabetes Hewan Percobaan

(A) 21,71 g, (B) 23,67g, (C) 26,63g, (D) 29,59g. Dosis pemakaian untuk mencit dapat dihitung dengan mengkalikan dosis pemakaian pada manusia tersebut dengan faktor konversi manuasia ke tikus yaitu 0.0026, sehingga didapat dosis pemakaian untuk mencit dengan berat 20 g adalah (A) 54, (B) 62, (C) 69, (D) 77. 4. Uji Likopen

Sebelum digunakan hewan diaklimatisasi selama satu minggu dengan diberi makan dan minum yang cukup. Hewan dinyatakan sehat jika tidak mengalami perubahan berat badan lebih dari 10 % dan secara visual menunjukkan perilaku normal (Anonymous, 1979). Mencit yang akan diinduksikan diabetes dipuasakan selama 16 jam (air minum tetap diberikan). Kemudian mencit didiabetkan dengan cara menginjeksikan larutan dingin aloksan secara intraperitonial dengan dosis 150 mg/kg BB. Mencit diberi makan pellet dan minum yang mengandung glukosa 10% selama dua hari setelah pemberian aloksan. Pada hari ke-2 dan seterusnya glukosa 10% diganti dengan air minum biasa, setelah 5 hari diukur glukosa darahnya. Mencit dipindahkan ke kandang metabolit yang berisi satu ekor mencit tiap kandang. Mencit yang akan digunakan untuk uji antidiabetes adalah mencit yang telah dinyatakan diabetes dengan kadar glukosa darah puasanya besar dari 150 mg/dl. 3. Penentuan Besar Dosis Perlakuan

Dalam pengujian/analisis likopen dalam produk tomat dapat dilakukan dengan menggunakan metode seperti HPLC, spektrofotometri atau melalui pengukuran warna. Dalam penelitian ini akan diuraikan pengujian kadar likopen dengan menggunkan metode spektrofotometri (Sunarmani, 2003). Pasta tomat ditimbang 5 gram, masukkan ke dalam Erlenmeyer bertutup yang dilapisi dengan kertas aluminium foil pada bagian luar & terlindungi dari cahaya tambahkan 50 ml larutan (heksana : aseton : etanol = 2 : 1 : 1) v/v, dikocok selama 30 menit dengan magnetik stirer, pindahkan ke corong pisah kemudian tambahkan 10 ml aquabidest kemudian dikocok lagi selama 15 menit. Pisahkan lapisan polar dan lapisan non polar, ambil semua lapisan atas (non polar) masukkan dalam labu ukur 100 ml tambahkan pelarut organik sampai tanda batas. Tentukan kadar likopen total darilapisan non polar (bagian atas) dengan spektrofotometer UV Vis pada panjang gelombang maksimum 471 nm. Menurut Sharma SK (1996) cit Regina (2008), rumus untuk menentukan kadar likopen antara lain: C=

Keterangan : C = konsentrasi ( g/100 ml ) A = absorban b = tebal kuvet ( cm )

1% 1cm

xb

1% 1cm

= 3,450 4.5.1.1.2

Volume cairan yang diberikan pada hewan percobaan tidak melebihi jumlah tertentu. Batas volume maksimal (ml) yang diberikan pada mencit adalah 1 ml/bb mencit . Dosis likopen yang digunakan oleh manusia adalah perlakuan (A) 35mg, (B) 40mg, (C) 45mg, (D) 50mg, setara dengan jumlah pasta

5. Kandungan Vitamin C (Sudarmadji et al., 1984) Bahan sebanyak 10 gram dimasukkan dalam labu ukur 100 ml dan diencerkan sampai tanda batas. Saring larutan tersebut dengan

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

memakai kertas saring. Filtrat yang diperoleh sebanyak 25 ml dimasukkan kedalam erlemeyer, kemudian ditambahkan 1 ml larutan kanji 1 %. Setelah itu larutan dititrasi dengan larutan iod 0,01 N sampai timbul warna biru. Setiap 1 ml 0,01 N iod ekuivalen dengan 0,88 mg asam askorbat. Kadar vitamin C dalam produk dihitung dengan rumus :

ml iod 0,01N x 0,88 x p x100 berat sampel

ditimbang. Contoh dimasukkan sebanyak 5 gr kedalam cawan alumunium. Cawan alumunium yang berisi sampel contoh dimasukkan kedalam oven dengan suhu 105oC. Setiap pemanasan 1 jam cawan dikeluarkan dari oven dan dipindahkan kedalam desikator selama 10-15 menit dan kemudian ditimbang. Pemanasan dilanjutkan sampai berat tetap. Kadar air sampel diperoleh dengan rumus :

Dimana : A = mg asam askorbat/ 100 gr bahan P = faktor pengenceran (p diganti FP biar sama dg yg diatas) 6. Aktivitas antioksidan

a b x 100 % a Keterangan : a = berat awal sampel (g) b = berat sampel setelah dioven (g)
Kadar air (bb) = 3.5.1.1.2 Rendemen Pasta Rendemen dihitung dalam persen yang menyatakan jumlah pasta yang terdapat di dalam bahan berdasarkan berat basah. Rendemen pasta dapat dihitung dengan rumus : Rendemen pasta =

Aktifitas antioksidan dianalisa berdasarkan kemampuannya menangkap radikal bebas (radical scavenging activity) DPPH menurut metode yang dikembangkan oleh Kubo et all., (2002) cit Rufaida (2008). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan buffer asetat 100 mM (pH 5,5), 1,87 ml metanol, 0,1 ml radikal bebas DPPH (1,1 diphenyl-2-pikrylhydrazyl) 3 mM dalam metanol, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Larutan DPPH dibuat segar setiap akan digunakan. Selanjutnya, sebanyak 0,03 ml larutan sampel ditambahkan kedalam tabung tersebut dan diinkubasi pada suhu 25 0C selama 20 menit. Sebagai larutan blanko sampel, digunakan 0,03 ml methanol sebagai pengganti larutan sampel. Absorbansi yang dihasilkan dibaca pada 517 nm. Absorbansi menunjukkan adanya aktivitas antioksidan. Untuk pembuatan kurva standar digunakan asam askorbat. Dengan demikian, satuan pengukuran dapat dinyatakan sebagai AEAC (Ascorbic acid Equivalent Antioxsidant Capacity) Daya antioksida = absorban sampel X 100% kontrol 7. Absorban kontrol Absorban Oven)

berat pasta ( g ) x 100 % berat bahan ( g )

3.5.1.1.2 Kadar Gula (Sudarmajdi et al., 1984) Penentuan sakarosa didasarkan atas selisih antara gula reduksi sebelum dan sesudah inversi. Dalam hal ini gula reduksi dinyatakan sebagai gula invert. Kadar gula dapat dihitung dengan rumus :

volumeblangko volumesampel 0,1 DxF .Pengenceran x 100% sampel (mg )


Keterangan D = Daftar Lufff 3.5.2 Mencit Kadar Gula

Kadar Air (Metoda (Sudarmajdi et al., 1984)

Cawan aluminium bersih dikeringkan dalam oven selama 1 jam pada suhu 105oC. Dinginkan dalam desikator. Setelah dingin

3.5.2.1 Uji efek pasta terhadap mencit diabetes Mencit putih jantan diabetes sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok secara acak yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor dan diperlakukan sebagai berikut : Kelompok A sebagai blanko tanpa diberi pasta tomat, B, C, D dan E merupakan kelompok mencit diabetes dan diberi pasta tomat berturut-turut dengan dosis 270 mg/KgBB,

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

312 mg/KgBB, 347 mg/kg BB dan 388 mg/kg BB, sebanyak satu kali sehari selama 7 hari secara oral diberikan setelah mencit dinyatakan diabetes. Selama penelitian, semua kelompok mencit diberikan makanan standar mencit dan minum setiap hari kecuali pada hari pengukuran kadar glukosa darah. 8. Pengukuran kadar glukosa darah Penentuan kadar glukosa darah mencit dilakukan setelah 5 hari diinduksi dengan aloksan dan satu hari setelah pemberian terakhir ekstrak uji. Pemberian ekstrak diberikan sejak mencit dinyatakan diabetes. Pengambilan darah ekor mencit dilakukan dengan cara : menggosokkan kapas yang telah diberi alkohol disekitar ekor mencit, potong sedikit bagian ujungnya dengan menggunakan gunting, dan diurut dari pangkal ekor secara perlahan agar memudahkan darah keluar. Tetesan darah pertama dibuang. Pengukuran kadar glukosa darah mencit dilakukan dengan cara meneteskan darah pada strip test yang telah dipasang pada alat advantage glucosemeter (Roche) hingga menutupi seluruh permukaan strip test. Kadar gula darah akan terbaca dalam waktu 15 detik kemudian. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Analisis Kimia Pure Tomat dan Pasta Tomat

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan komposisi pure dan pasta tomat sebagai berikut : Tabel 5. Komposisi pure tomat dan pasta tomat pada 100gr bahan Komponen pure Pasta Likopen( mg/100g) 135 169 VitaminC 37,84 4,58 (mg/100g) 446,76 386,61 Daya antioksidan (ppm as.askorbat ) 94,51 92,86 Kadar air% 66,15 Rendemen % 66,15

4.1.1 Likopen Hasil penelitian yang dilakukan pada (Tabel 5), kadar likopen pasta lebih tinggi dibandingkan likopen pure tomat dalam per 100 gram bahan. Kandungan likopen pure dan pasta tomat adalah 135 mg dan 169 mg. Namun, berdasarkan hasil rendemen pasta yaitu 66,15, terjadi penurunan likopen sebesar 24 mg. Hal ini disebabkan karena adanya proses pemanasan selama pengolahan. Takeoka et al., (2001) menyatakan bahwa pemanasan dan proses pembuatan pasta tomat mengakibatkan penurunan konsentrasi likopen 9-28%. Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan sunarmani dan Kun Tanti (2008) bahwa tomat yang dimasak atau dihancurkan dapat mengeluarkan likopen lebih banyak. Namun dengan proses pemanasan bukan untuk menghasilkan likopen lebih banyak, tetapi mampu melepaskan likopen dari struktur sel tomat dan mengubah bentuk likopen dari trans ke cis sehingga mudah diserap oleh tubuh. Tsang (2005) menjelaskan bahwa likopen terikat dengan struktur sel tomat dan perubahan suhu dalam proses pengolahan dapat melepaskan likopen dari struktur sel tomat . Stahl dan Sies (1992) menambahkan bahwa pemanasan jus tomat dengan minyak jagung selama 1 jam mengubah likopen dari bentuk trans menjadi cis, sehingga meningkatkan penyerapannya oleh tubuh. Menurut Clinton (1996) secara umum sifat isomer cis bersifat lebih polar, lebih larut dalam pelarut hidrokarbon, lebih mudah bergabung dengan lipoprotein maupun struktur lipid subseluler, lebih mudah masuk ke dalam sel. Berdasarkan Tabel 5, likopen yang diperoleh lebih tinggi yaitu 169 mg/100 g, jika dibandingkan dengan likopen pasta tomat pada penelitian Tsang (2005) yaitu 42,2 mg/100 g. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh varietas tomat yang digunakan sehingga tingkatan komposisi kimia tomat berbeda. Varietas tomat yang digunakan pada penelitian ini adalah tomat hibrida. Menurut Wang (2006) faktor yang mempengaruhi aktivitas antioksidan dalam buah adalah varietas yang digunakan, tingkat kematangan buah, cahaya, suhu, kelembaban, iklim, dan jenis tanah dari tanaman tersebut.

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

4.1.2. Vitamin C Kadar Vitamin C yang diperoleh pada pure tomat adalah 37,84 mg/100g sedangkan pada pasta tomat adalah 4,58mg/100g. Dalam hal ini terjadi penurunan Kadar vitamin C selama proses pengolahan pure tomat menjadi pasta tomat. Penurunan terjadi karena adanya proses blansir dan evaporasi dengan menggunakan suhu 80oC yang dapat menyebabkan terjadinya proses oksidasi vitamin C pada pasta tomat. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Roni (2010) bahwa kadar vitamin C mulai berkurang hingga 37,35% setelah pemanasan pada suhu 50oC selama 30 menit. Menurut Sherlat dan Luh (1976) menjelaskan bahwa kandungan vitamin C berkurang dengan semakin tingginya suhu yang digunakan dalam proses pemanasan. Hal tersebut terjadi akibat oksidasi dan degradasi vitamin C pada suhu proses yang lebih tinggi. Winarno (1989) menambahkan bahwa kerusakan vitamin C disebabkan kerana adanya oksidasi vitamin C menjadi asam Ldehidroaskorbat dan mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam L- diketogulonat yang tidak memiliki keaktifan vitamin C. Sehingga vitamin C pada pasta tomat tidak opimal lagi yang berfungsi sebagai antioksidan. Gaman and Sherrington (1994) menyatakan asam askorbat sangat larut dalam air. Asam askorbat mudah teroksidasi. pada suhu tinggi dan terkena sinar matahari. 4.1.3 Daya antioksidan Berdasarkan Tabel 5, daya antioksidan pada pure tomat adalah 446,76 ppm sedangkan pada pasta tomat yaitu 386,61 ppm. Dari hasil yang didapatkan terjadi penurunan daya antioksidan pada pengolahan pure tomat menjadi pasta tomat. Hal ini disebabkan karena adanya proses pemanasan yang mengakibatkan terjadinya proses degradasi senyawa-senyawa yang berperan sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan suatu senyawa yang dapat menangkal radikal bebas selama proses metabolisme tubuh. Beberapa senyawa yang berperan sebagai antioksidan pada buah tomat yaitu vitamin C dan likopen yang merupakan betakaroten. Menurut Tranggono et al. (1988) tomat merupakan sumber vitamin B, C, E, dan betakaroten. Prakash et al. (2001) menambahkan, antioksidan dapat diperoleh dari asupan

makanan yang banyak mengandung vitamin C, vitamin E dan betakaroten serta senyawa fenolik. Bahan pangan yang dapat dijadikan sumber antioksidan alami antara lain rempah-rempah, coklat, biji-bijian, buahbuahan, sayur-sayuran seperti buah tomat, pepaya, jeruk dan sebagainya. Sebagai antioksidan, vitamin C bekerja sebagai donor elektron, dengan cara memindahkan satu elektron ke senyawa logam Cu. Selain itu,vitamin C juga dapat memberi elektron pada reaksi biokimia intraseluler dan ekstraseluler. Vitamin C mampu menghilangkan senyawa oksigen reaktif di dalam sel netrofil, monosit, protein lensa, dan retina. Vitamin C juga dapat bereaksi dengan Fe-ferritin. Diluar sel, vitamin C mampu menghilangkan senyawa oksigen reaktif, mencegah terjadinya LDL teroksidasi, mentransfer elektron ke dalam tokoferol teroksidasi dan mengabsorpsi logam dalam saluran pencernaan (Levine, et al., 1995). Sedangkan kerja likopen sebagai antioksidan menurut Di Mascio et al., (1989) bahwa elektron dalam ikatan rangkap akan menyerap energi dalam jumlah besar untuk menjadi ikatan jenuh, sehingga energi dari radikal bebas yang merupakan sumber penyakit dan penuaan dini dapat dinetralisir oleh likopen. Menurut agarwal, (2000) dan Sudradjat (2003) mekanisme likopen dalam mencegah penyakit kronis dan degeneratif yaitu melalui mekanisme oksidatif, sebagai antioksidan akan mengikat oksigen reaktif dan meningkatkan potensi antioksidan sehingga mengurangi kerusakan oksidatif pada lipid (termasuk lipid membrane dan lipoprotein), protein, dan DNA. Sedangkan mekanisme nonoksidatif melalui fungsi gen, memperbaiki gapjunction communication, modulasi hormon dan respon imun atau pengaturan metabolisme yang semuanya akan menyebabkan penurunan penyakit kronis. Dari hasil yang diperoleh pada (Tabel 5) , kadar vitamin C dan kadar likopen yang berperan sebagai antioksidan mengalami penurunan selama proses pengolahan dari pure menjadi pasta tomat. Namun yang diharapkan bukan kadar vitamin C atau kadar likopen yang harus tinggi, tetapi adanya perubahan likopen dari bentuk trans menjadi cis agar lebih mudah diserap oleh tubuh. Dimana likopen merupakan daya antioksidan yang dapat berfungsi sebagai penangkal radikal bebas mampu mencegah terjadinya timbulnya

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

penyakit-penyakit di dalam metabolisme tubuh, yang bersifat degeneratif, salah satunya adalah diabetes. Menurut Soesirah (1990) diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh kerusakan pankreas yang tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup. Suyono (2002) menambahkan bahwa insulin bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel dan digunakan sebagai bahan bakar. Bila insulin tidak ada, maka glukosa tidak dapat masuk ke sel, yang mengakibatkan glukosa tetap berada di dalam darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat. Studiawan (2004) menyatakan bahwa penurunan hormon insulin mengakibatkan seluruh glukosa dalam darah yang dikonsumsi di dalam tubuh akan meningkat. Peningkatan kadar glukosa darah disebabkan oleh kerusakan pankreas yang tidak dapat menghasilkan insulin. Kerusakan pankreas ini dapat disebabkan oleh senyawa radikal bebas yang merusak sel-sel pada pankreas sehingga tidak dapat berfungsi antioksidan dapat melindungi sel pankreas agar tidak teroksidasi dengan radikal bebas. Antioksidan bisa menjadi pasangan elektron bebas yang ada di dalam tubuh. Antioksidan merupakan senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali dan dapat memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas (Kumalaningsih2006). Menurut Ong et al. (1995) mekanisme kerja antioksidan antara lain ; (1) dapat berinteraksi langsung dengan oksidan, radikal bebas atau oksigen tunggal; (2) Mencegah pembentukkan jenis oksigen reaktif; (3) Mengubah jenis oksigen reaktif menjadi kurang toksik; (4) Mencegah kemampuan oksigen reaktif; (5) Memperbaiki kerusakan yang timbul. 4.1.4 Kadar Air Dari data yang diperoleh, kadar air pasta tomat lebih rendah dari pure tomat . Kadar air pure dan pasta tomat adalah 94,51% dan 92,86%. Hal ini desbabkan karena adanya proses evaporasi, yang bertujuan untuk menguapkan air. Namun jika dilihat dari selisih perbedaan kadar air pure dengan kadar air pasta tidak jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan pada proses evaporasi hanya 60 menit dan suhu 80oC,

sehingga hanya sebahagian kecil air yang menguap pada pasta tomat. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan nilai gizi pada pasta tomat. Berdasarkan Tabel 5, kadar air pasta tomat yang diperoleh lebih tinggi jika dbandingkan dengan kadar air pasta tomat pada penelitian Ramdani (2010) yaitu 76,60 % dan penelitian Iskandar (2001) dengan kadar air pasta tomat 85,6%. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kualitas alat yang digunakan lebih bagus dan dipengaruhi juga oleh waktu yang digunakan untuk evaporasi lebih lama, sehingga mampu menguapkan air lebih banyak. 4.1.5 Rendemen Tabel 5 menunjukkan terjadinya pengurangan berat pure tomat setelah diolah menjadi pasta tomat yakni sebesar 34% . Rendemen yang diperoleh pada pure tomat adalah 66,15%. Pengurangan berat pure tomat disebabkan karena terjadinya evaporasi selama proses pemanasan. Menurut Wirakartakusumah (1989), proses evaporasi merupakan proses yang melibatkan pindah panas dan pindah massa secara silmutan. Pada proses ini, sebagian air akan diuapkan sehingga akan diperoleh suatu yang kental (konsentrat). 4. 2 Uji Kadar Glukosa Darah pada Mencit Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan ada hubungan antara konsentrasi pasta tomat yang diberikan terhadap kadar gula darah mencit. Dari analisis ragam (lampiran 9) menunjukkan bahwa ada perbedaan pemberian konsentrasi terhadap perubahan kadar gula darah mencit. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pasta tomat pada berbagai konsentrasi, berpengaruh secara nyata terhadap kadar glukosa darah pada mencit diabetes. Penurunan kadar gula darah mencit setelah diberikan pasta tomat dapat dilihat pada gambar 3.

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

Tabel 6. Pengaruh konsentrasi pasta tomat terhadap kadar gula darah mencit diabetes. Konsentrasi Kadar gula Kadar gula darah mencit (mg/dL) Mg Pasta tomat Sebelum Setelah Penurunan (%) Peningkatan (%) (g) perlakuan perlakuan 54 (A) 63 213.33 60.00 70.14 a 69 (C) 80 271.67 76.33 71.21 a 62 (B) 72 323 60.67 75.60 b 77 (D) 89 300.33 164.00 50.08 c Kontrol ( E ) 349.67 453.33 31.37 KK = 3.096 Pada perlakuan D dengan konsentrasi 77 mg/100g pasta tomat terjadi penurunan terhadap persentase penurunan kadar gula darah pada mencit diabetes. Dapat diartikan, meskipun dengan pemberian pasta tomat dengan konsentrasi paling tinggi bukan berarti yang paling optimal dalam penurunan kadar gula darah pada mencit diabetes.
% Penurunan Kadar Gula Darah Mencit 80 60 40 20 0
54 ( A ) 62 ( B ) 69 ( C ) 77 ( D ) perlakuan (konsentrasi pasta tomat mg)

K. gula darah mencit (mg/dL)

Pengaruh Pemberian Pasta Tomat terhadap Kadar Gula Darah Mencit Diabetes 500 400 300 200 100 0 K.gula darah mencit sebelum perlakuan K. gula darah mencit setelah perlakuan K.gula darah mencit tanpa perlakuan

Gambar 4. persentase penurunan kadar gula darah mencit diabetes. Diabetes merupakan penyakit dimana pankreas tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup untuk menghantarkan glukosa ke dalam sel, apabila glukosa tetap berada di dalam maka glukosa di dalam darah meningkat. kenaikan kadar gula pasta tomat
kadar gula pasta tomat (g) 100 80 60 40 20 0 54 ( A ) 62 ( B ) 69 ( C ) 77 ( D ) perlakuan (konsentrasi pasta tomat (mg)

Konsentrasi pasta tomat (mg)

Gambar 3. Pengaruh Pemberian Pasta Tomat terhadap Kadar Gula Darah Mencit Diabetes.

Hal ini disebabkan karena kadar gula pasta tomat dengan konsentrasi dari 54mg sampai 77 mg pasta tomat terjadi peningkatan, dapat dilihat pada Tabel 6. Sehingga menyebabkan terjadinya penurunan persentase kadar gula darah mencit. Peningkatan kadar gula pasta dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Persentase kenaikan kadar gula pasta tomat. Beberapa hipotesis menjelaskan tentang jalur mekanisme peningkatan stres oksidatif akibat kadar gula yang meningkat

% Penurunan kadar gula darah mencit mg/dL)

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

yaitu jalur poliol pada saraf perifer, jalur peningkatan produksi Advanced Glycation End Products (AGEs), jalur aktivasi protein kinase C (PKC), jalur hexosamine pathway flux akibat modifikasi berlebihan dari protein oleh Nacetylglucosamine. autooksidasi glukosa pada diabetes melitus (Setiawan dan Suhartono, 2005) dan fosforilasi oksidatif (Robertson, 2004). Pada penderita diabetes melitus, stres oksidatif akan menghambat pengambilan glukosa di sel otot dan sel lemak serta penurunan sekresi insulin oleh sel- di pankreas. Stres oksidatif secara langsung mempengaruhi dinding vaskular, sehingga berperan penting dalam patofisiologi terjadinya komplikasi diabetes tipe 2 (Soetedjo, 2009). Berdasarkan Tabel 6, likopen diduga mempunyai potensi sebagai pencegah kenaikan kadar glukosa di dalam darah dan mampu meningkatkan sensitifitas reseptor insulin sehingga peningkatan kadar glukosa darah dapat ditekan sampai batas normal. Hal ini disebabkan karena pasta tomat yang mengandung likopen sebagai antioksidan yang kuat, sehingga mampunyai potensi yang tinggi dalam dalam menghambat radikal bebas. Sehingga mencegah terjadinya timbulnya penyakit-penyakit di dalam metabolisme tubuh, yang bersifat degeneratif, salah satunya adalah diabetes . Menurut Dimascio et al. (1989) Likopen memiliki manfaat untuk mencegah penyakit cardiovascular, kencing manis, osteoporosis, infertility, dan kanker terutama kanker prostat. Penurunan kadar gula darah mencit diabetes dapat dilihat pada gambar 5. Likopen diduga mampu melindungi kerja pangkreas dari radikal bebas, sehingga pankreas dapat bekerja secara optimal dalam menghasilkan insulin. Dimana likopen merupakan karotenoid yang bekerja sebagai antioksidan pemutus rantai. Likopen tergolong dalam antioksidan sekunder . menurut Kumalaningsih (2006) dan Gordon (1990) Antioksidan sekunder (antioksidan pencegah), didefinisikan sebagai suatu senyawa yang dapat memperlambat laju reaksi autooksidasi lipid. Antioksidan ini bekerja dengan berbagai mekanisme , seperti mengikat ion metal, menangkap oksigen, memecah hidroperoksida ke bentuk-bentuk non radikal menyerap radiasi UV atau mendeaktifkan singlet oksigen. Contoh yang populer dari antioksidan

sekunder ini adalah vitamin E, vitamin C, dan betakaroten Sunarmani dan Kun Tanti (2008) menyatakan bahwa kemampuan likopen dalam meredam oksigen tunggal dua kali lebih baik dari pada betakaroten dan sepuluh kali lebih baik dari pada alfa-tokoferol. Dimascio et al. (1989) menambahkan bahwa likopen mampu mengendalikan radikal bebas 100 kali lebih efisien dari pada vitamin Eatau 12500 kali dari pada glutathione. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Proses pengolahan tomat menjadi pasta tomat, dapat menghasilkan likopen sebesar 169 mg/ 100g pasta tomat. 2. Pasta tomat dengan dengan berbagai konsentrasi (A) 54 mg pasta 35 mg likopen , (B) 62mg pasta 40mg likopen , (C) 69 mg pasta 45 mg likopen dan 77 mg pasta 50mg likopen berpengaruh terhadap kadar gula darah mencit diabetes. 3. Pemberian pasta tomat yang terbaik terhadap penurunan kadar gula darah mencit diabetes adalah perlakuan B (62 mg pasta tomat 40 mg likopen) yang mampu menurunkan kadar gula darah dari 323mg/dL menjadi 60,67 mg/dL dengan perentase penurunan kadar gula darah 75,60%. 4. Pemberian pasta tomat dapat menurunkan kadar gula darah pada mencit diabetes hingga mencapai batas normal darah. 5.2 Saran Berdasarkan hasil yang didapatkan dari penelitian maka, dapat disarankan pada peneliti selanjutnya menguji daya simpan dari pasta tomat, agar pasta tomat lebih tahan lama sehingga dapat dipasarkan. DAFTAR PUSTAKA Agarwal S, Rao AV. 2000. Tomato Lycopene and its role in human health and chronic diseases. Canadian Medical Association Journal; 163(6); 739-44. Anonymous. 1989. The United State Department of Agriculture.

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

Anonymous. 2005. Tomato and Tomato Processing System. Intermediate Technology Development Group. http://www.itdg.org Ali MM, FG Agha. 2009. Kemajuan dari streptozotocin-induced diabetes mellitus, stres oksidatif dan dislipidemia pada tikus dengan ekstrak tomat likopen. Scand J Clin Lab Invest. Agustinisari, I. dan Sunarmani, 2006. Perubahan Mutu Pasta Tomat Medium Selama Penyimpanan , Makalah disampaikan pada Diklat Fungsional Peneliti ang katan xxx tanggal 31 agustus 2006. Arab, L. and Steck, S., 2000. Lycopene and Cardiovaskular Disease. American Journal of Clinical Nutrition. 71 : 1691-1695. Bari, A., S. Musa, dan E. Sjamsudin. 2006. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian. Insitut Pertanian Bogor. Bogor. 91 hal. Boileau AC, Merchen. NR, Wasson K. 1999. Cis-lycopene is more biovailable than trans-lycopene in vitro and in vivo in lymph-cannulated ferrets. J. Nutr;129: 1176-8 Davies, J. 2000. Tomatoes and Health. Journal of Social Health. June : 120(2) : 81-82. Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2007. Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Tomat (lycopersicon esculentum mill.). Jakarta. Di Mascio, P ., Kaiser, S., Sies, H., 1989. Lycopene as The Most Efficient Biological Carotenoid Singlet Oxygen Quencher. Archives of Biochemistry and Biophysics. Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura. 2002. Budidaya Tomat. Direktorat Tanaman Sayuran, Wias dan Aneka Tanaman.

Edi.S, Julistia.B. 2010. Budidaya Tanaman Sayuran., Agro Inovasi, Jambi. Gaman P.M. and K. B. Sherrington., 1994. The Science of Food, An Introduction to Food Science, Nutrition, and Microbiology Second Edition. Penerjemah Murdjati, Sri Naruki, Agnes Murdiati, Sarjono Dalam Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. George, R.A.T. 1985. Vegetable Production. Longman. London. Seed

Gordon MH. 1990. The mechanism of antioxidant action in vitro. Di dalam: Hudson BJF, editor. Food Antioxidants . New York: Elseviere Applied Science. Iskandar, A. 2001. Kajian Teknologi Produksi Pasta Tomat menggunakan Evaporator Vakum. Tesis magister Sains. Program Pascasarjana. Institute Pertanian Bogor, Bogor. Jain MG, Hislop GT, Howe GR, Ghadirian P. 1999. Plant foods, antioxidants, and prostate cancer risk: Findings from case-kontrol studies in Canada. Nutr Cancer;34(2):173-84 Johnson, E. J., J. Qin, N. I. Krinsky, and R. M. Russell. 1997. Ingestion by Men of a Combined Dose of carotene and Lycopene Does Not Affect The Absorption of -carotene But Improves That of Lycopene. Journal of Nutrition. 127 : 1833-1837. Johnson EJ. 1998. Human studies on bioavailability and plasma response of lycopene. Proc Soc Exp Biol Med;218(2):115-20. Kelompok Studi WHO. 2000. Pencegahan Diabetes Mellitus. Hipokraket , Jakarta. Kumalaningsih S. 2006. Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisarana. Kumalaningsih, Sri dan Suprayogi. 2006. Tamarillo (Terung Belanda). Surabaya. Trubus Agrisarana. 81 hal

10

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

Levine, M, K.R.. Dhariwal, R.W. Welch, Y. Wang, dan J.B. Park 1995. Determination of Optimal Vitamin C Requirements in Humans. dalam: The WA MERICAN Journal of Clinical Nutrition. 62(Suppl) 1347S1356S. Mahmud, M, K,. 2008. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Kompas Gramedia . Jakarta. Meylina, F. 1996. Mempelajari penggunaan Karagenan Sebagai substitusi CMC Pada Produk Es Krim di PT. Galic Artabahari, Bekasi. Laporan Magang. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor. Ong, A.S.H., E. Niki, & L. Packer, 1995, Nutrition, Lipids, and Desease, AOCS, Press, Champaign, Illinois, pp.: 245 253. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. 2009. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Gramedia. Jakarta. Polidori MC, P Mecocci, W Stahl, B Parente, Cecchetti, Cherubini A, Cao, SIE H,. (2000). Plasma Levels of lipophilic antioxidant in very old patients with type 2 diabetes, Diabetes care 9-15. Pusat Penelitian Kimia.2005. Pati Jagung Termodifikasi Sebagai Bahan Aditif Makanan. http://www.kimia-lipi.net [4 November 2008] Prakash, A., 1989. Antioxidant Activity., Medallion Laboratories : Analithycal Progres Vol 19 No : 2. 1 4. Punvati. E. 2008. hubungan antara karakteristik fenotipik buah tomat dengan jumlah biji. Jurnal Agn'vigor. lSSN 1412-2286. Purboyo. A. (2009). Efek Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Jambu Biji (psedium guajaval ) pada Kelinci yang dibebani Glukosa. Universitas Muhammadiah Surakarta. Surakarta. Regina. 2008. Penentuan Aktivitas Antioksidan, Kadar Fenolat Total dan Likopen pada Buah Tomat (Solanum Lycopersicum L). Jurnal Sains dan

Teknologi Farmasi, Vol. 13, No. 1, Hal 9:11 Robertson. R.P., J. HARMON, P.O. TRAN and V. POITOUT. 2004. -Cell glucose toxicity, lipotoxicity, and chronic oxidative stress in type 2 diabetes. Diabetes 53: S119 S124 Rufaida, R. 2008. Pembuatan Minuman Klorofil daun Suji dan Evaluasi Mutunya selama Penyimpanan. Skripsi IPB. Bogor. Safaryani, N. Haryanti, S. Hastuti, E, D,. 2007. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Penurunan Kadar Vitamin C Brokoli (Brassica oleracea L). Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA UNDIP : Buletin Anatomi dan Fisiologi Vol. XV, No.2 Satuhu, S. 1994. Penanganan dan Pengolahan Buah. Jakarta. Penebar swadaya. 142 hal. Setiawan, B., dan Suhartono, E. (2005). Stres Oksidatif dan Peran Anti Oksidan pada Diabetes Melitus. Majalah kedokteran Indonesia. 55(2): 8689. Sidartawan. (2008). Hidup secara mandiri dengan Diabetes Melitus ;Kencing manis ;Sakit gula. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta Sherlat, F. dan B.S. Luh. 1976. Quality Factors of Tomato Pastes Mode at Several Break Temperature. J. Food Chen. 24 (6) : 1155-1158 Soegondo, Sidartawan dan Sukardji, Kartini. (2008). Hidup secara mandiri dengan Diabetes Melitus;Kencing manis;Sakit gula. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Soegondo Sidartawan, dkk. 2002. Diabetes Melitus Penatalaksanaan Terpadu. Jakarta: FKUITsang, G. Lycopene in Tomatoes and Prostate Cancer. http://www.healthcastle.com

11

Hasil Penelitian

Jurnal Teknologi Industri Pertanian

Soegondo. 2002. Kecendrungan Peningkatan Gizi Pada Diabetes Millitus. FKUI. Jakarta Soesirah. 1990. Diabetes Militus dan Penatalaksanaannya. http://www.sidenreng.com/2008/06/dia betes-melitus-dan-penatalaksanaanya Stahl, W. and Sies,H ., 1992. Uptake of Lycopene and Its Geometric Isomers is Greater from Heat-Processed than from Unprocessed Tomato Juice in Humans. Journal of Nutrition, 122 : 2161-2166. Studiawan H, Santosa M,H,. 2005. Uji Aktivitas Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Daun Eugenia polyantha Pada Mencit yang Diinduksi Aloksan. Media Kedokteran Hewan. 21(5). No 2 Sutedjo AY. 2009. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta : Amara Book.

Tandra, H. 2008. Segala Sesuatu yang harus Anda Ketahui tentang Diabetes. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Tim Penulis PS . 1993. Budidaya Tanaman Tomat Secara Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta. Tonucci, L., M.J. Holden, G.R. Beecher, F. Khacik, C.S. Davis, and G Mulokozi (1995), carotenoid content of thermally processed tomato based food product, J. Agric, Food Chem., (43):579-586. Tranggono, Zuheid N, dan Djoko W. 1988. Evaluasi Gizi Pengolahan Pangan. PAU Pangan Gizi UGM. Jogyakarta. Tugiyono, H., 2006. Bertanam Tomat., Penebar Swadaya, Jakarta.

Tsang, G. 2005 Lycopene in Tomatoes and Prostate Cancer. http://www.healthcastle.com Upritchard JE, Sutherland WHF, Mann JI (2000). Effect of supplementation with tomato juice, vitamin E, and vitamin C on LDL oxidation and products of inflammatory activity in Type 2 diabetes. Diabetes Care 23, 733738. Wang, S.Y. 2006. Effect of Pre-harvest Conditions on Antioxidant Capacity in Fruits. Agricultural Research Servic. U. S. Department of Agriculture, Beltsville. USA. Winarno, F. G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi.. PT. Gramedia Pustaka Utama. 251 hal. Jakarta Winarno, F. G. 1989. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama. 251 hal. Wirakartakusumah, A. 1989. Prinsip Teknik Pangan. dalam Bella, DS. 2002. Pengaruh Varietas dan Waktu Evaporasi terhadap Mutu Pasta Tomat. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Fateta. IPB.

Sudradjat SS, Gunawan I. 2003. Likopen (Lycopene). Majalah Gizi Medik Indonesia Vol 2 No 5; 7-8 Sukardji. (2008). Hidup secara mandiri dengan Diabetes Melitus;Kencing manis;Sakit gula. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta Sunarmani, 2003. Teknologi Pengolahan Pasta Tomat. Laporan Akhir Penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Sunarmani dan Tanti, K., 2008.Parameter Likopen Dalam Standarisasi Konsentrat Buah Tomat. Penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Suyono. 2002. Diabetes Militus dan Penatalaksanaannya. http://www.sidenreng.com/2008/06/dia betes-melitus-dan penatalaksanaanya. Takeoka, G.R., L. Dao, S. Flessa, D. M., Gillespie, W. T. Jewell, B. Huebner, D. Bertow dan S. E. Ebeler. 2001. Processing effect on Lycopene and Antioxidant activity of tomatoes,49 : 3713-3717.

12