Anda di halaman 1dari 21

Journal Reading New Treatments for Bacterial Keratitis Jenis Artikel : Review Article

Oleh : Nurlestari 07.06.0013

DATA JURNAL
NAMA PENULIS : Raymond L. M. Wong, R. A. Gangwani, Lester W. H. Yu, Jimmy S. M. Lai JUDUL TULISAN : New Treatments for Bacterial Keratitis JOURNAL ASAL : Journal of Ophthalmology 2012 ; 1-7. Doi:10.1155/2012/831502. Available from : http://www.hindawi.com/journals/jop/2012/831 502/

PENDAHULUAN
Keratitis infeksius adalah kondisi okular yang berpotensi membutakan pada kornea yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan yang parah jika tidak diobati pada tahap awal. Jika pengobatan antimikroba yang tepat tertunda Hanya 50% dari mata memperoleh kesembuhan visus yang baik. Studi terbaru menunjukkan semakin banyak bukti resistensi mikroba terhadap agen antimikroba.

Tujuan : Meninjau pengobatan baru yang tersedia untuk mengobati keratitis infeksius termasuk yang resisten terhadap terapi antimikroba.

METODE
literatur PubMed pencarian dilakukan sampai dengan April 2012 kata-kata kunci berikut: "keratitis infeksius", "keratitis Mikroba", "keratitis infeksi", "pengobatan baru untuk keratitis infeksius", "fluoroquinolones generasi keempat", "Moksifloksasin", "gatifloksasin", "kolagen cross-linking", dan "Terapi photodynamic".

Artikel yang melaporkan khasiat penggunaan fluoroquinolones generasi keempat atau terapi photodynamic dalam pengobatan keratitis infeksius dipilih dan dianalisis.

PILIHAN PENGOBATAN
Fluoroquinolone
menghambat DNA gyrase (topoisomerase II) dan enzim topoisomerase IV

Fluoroquinolone

kematian sel bakteri

GENERASI I : Asam nalidiksat GENERASI II : Ciprofloxacin dan ofloxacin GENERASI III : Levofloxacin GENERASI IV : Moksifloksasin dan gatifloksasin
meningkatkan potensi antibiotik terhadap organisme Gram-positif dengan tetap mempertahankan aktivitas spektrum luas yang melawan bakteri Gram-negatif. mengurangi risiko organisme yang resisten

Dalam tulisan ini, Penulis meninjau literatur dan melihat penggunaan klinis dari fluoroquinolones generasi keempat dalam pengobatan keratitis infeksius.

Potensi In Vitro Fluoroquinolones


Kowalski dkk, menentukan MIC dari 177 isolat keratitis bakteri terhadap ciprofloxacin, ofloxacin, levofloxacin, gatifloksasin, dan moksifloksasin MIC bakteri Gram-positif secara signifikan lebih rendah untuk fluoroquinolones generasi keempat daripada generasi kedua atau ketiga Namun, siprofloksasin (generasi 2) masih lebih baik daripada fluoroquinolones generasi ketiga dan generasi keempat terhadap organisme Gramnegatif (Pseudomonas aeruginosa)

moksifloksasin : MIC statistik lebih rendah untuk sebagian besar bakteri Gram-positif gatifloksasin : di sisi lain tercatat memiliki MIC lebih rendah untuk sebagian besar bakteri Gram-negatif.

Sueke dkk., 772 isolat bakteri dari kasus keratitis bakteri pada beberapa pusat di Inggris : Di antara fluoroquinolones (ciprofloxacin, ofloxacin, levofloxacin, dan moksifloksasin), moksifloksasin menunjukkan MIC terendah untuk bakteri baik Gram-positif maupun Gram-negatif. Oliveira dkk., : Ciprofloxacin memiliki MIC lebih rendah dari dua fluoroquinolones generasi keempat untuk bakteri Gram negatif, terutama untuk spesies Pseudomonas.

Uji Klinis Fluoroquinolones


Constantinou dkk., (229 pasien dengan keratitis bakteri) : kelompok moksifloksasin (1.0%), kelompok ofloksasin (0,3%), dan kelompok kombinasi tobramycin (1,33%) / cefazolin (5,0%). tidak satupun yang resisten terhadap moksifloksasin, 2,5% resisten terhadap ofloksasin, 2,8% terhadap ciprofloxacin, 14,8% cefazolin, 1,6% dengan tobramycin, dan 17,5% terhadap kloramfenikol.

Shah dkk., pada tahun 2010 (61 pasien)

5.2% resisten terhadap tobramycin dan 10,4% resisten terhadap cefazolin, Semua isolat rentan terhadap kedua fluoroquinolones generasi ke 4 yang diteliti.

Colagen Cross-Linking (CXL)


Kolagen Cross-Linking (CXL) adalah teknik yang menggunakan riboflavin dan Ultraviolet-A iradiasi
efek penguatan pada jaringan kornea
Stroma kornea terdiri dari fibril kolagen yang tersusun secara teratur dengan adanya keratocytes. Bakteri dan jamur menghasilkan enzim yang memiliki kemampuan untuk mencerna kolagen dan menyebabkan kornea mencair.

meningkatkan kekakuan kornea

Prosedur kolagen cross-linking


Menghilangkan epitel kornea Riboflavin (riboflavin / larutan dekstran 0,50,1%) ditanamkan di atas permukaan kornea untuk jangka waktu 20-30 menit pada interval 2-3 menit. Diikuti dengan pencahayaan kornea menggunakan lampu UV-X, UV-A 365 nm, dengan radiasi dari 3.0mW/cm2 dosis total 5,4 J/cm2.

In Vitro Studi CXL


Martins dkk., melakukan uji in vitro dengan menunjukkan sifat antimikroba dari riboflavin / UVA (365 nm) terhadap patogen umum : pengobatan ini efektif terhadap bakteri tertentu seperti Staphylococcus aureus (SA), Staphylococcus epidermidis (SE), methicillinresistant S. aureus (MRSA), Pseudomonas aeruginosa, dan Streptococcus pneumoniae yang resistan terhadap obat. tetapi tidak efektif terhadap Candida albicans

Studi Klinis CXL


Makdoumi dkk.,(7 mata kornea yang mencair) epitelisasi lengkap dicapai dalam semua kasus setelah pengobatan kolagen cross-linking dengan riboflavin. Pada dua pasien dengan hypopyon, hypopyon tersebut berkurang setelah dua hari penggunaan CXL. Makdoumi dkk., CXL telah berhasil digunakan sebagai pengobatan utama pada subyek dengan keratitis infeksius

PEMBAHASAN
Studi In vitro tentang MIC antibiotik yang berbeda terhadap isolat keratitis telah memberikan gambaran tentang potensi dari fluoroquinolones generasi keempat ; terhadap patogen keratitis infeksius. Teknik invasif minimal dari CXL awalnya digunakan dalam pengelolaan kondisi ectatic kornea seperti keratoconus, yang diikuti dengan laser situ keratomileusis (LASIK) telah efektif digunakan untuk pengobatan keratitis infeksius dengan atau tanpa risiko kornea mencair.

KESIMPULAN
Topikal fluoroquinolones generasi keempat merupakan alternatif yang baik untuk kombinasi memperkuat antibiotik dalam pengelolaan keratitis infeksius. dapat digunakan sebagai terapi empiris setelah scraping kornea Hasil uji coba CXL sangat menjanjikan dan menyiratkan bahwa modalitas pengobatan baru mungkin berguna dalam pengobatan resisten infeksi ulkus kornea atau sebagai tambahan untuk pengobatan antibiotik standar. namun, bukti lebih lanjut diperlukan sebelum akan dianjurkan untuk menggunakan CXL sebagai pengobatan lini pertama untuk ulkus kornea infeksius.

TERIMAKASIH