Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH AEI

SISTEM EKONOMI ISLAM MENJAWAB KEBUTUHAN MASYARAKAT


Disusun oleh : Syahrifa Aulia Nastiti Natasari Chyntia Ghaida Subroto Anis Riswati Alimatun Nashira Risma Syafitri Ristanti Fitri Ramadanti Cessita Putri Mediantari Sani Yudha Febriani 15211067 15211105 15211106 13011014 13011018 18110035 18111025 17011005 17011021

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI. .................................................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. ................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah. .......................................................................................... 2 BAB II Teori Dasar 2.1 Prinsip-prinsip Ekonomi Islam 2.2 Riba dan Jenisnya BAB III PEMBAHASAN 3.1 Sejarah Perkembangan Ekonomi Islam 3.1.1 Pada saat pemerintahan Rasulullah SAW. 3.1.2 Pada saat pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq 3.1.3 Pada saat pemerintahan Utsman Bin Affan 3.1.4 Pada saat pemerintahan Ali Bin Abu Thalib 3.2 Jual Beli (Trading). ......................................................................................... 5 3.3 Perbankan. ....................................................................................................... 7 3.4 Pasar Modal .................................................................................................... 11 3.5 Asuransi. ......................................................................................................... 16 3.6 Pasar Valuta Asing. ......................................................................................... 19 3.7 Pemasaran Berjenjang (MLM)

BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan. ........................................................................................................ 35 4.2 Saran. .............................................................................................................. 36 DAFTAR PUSTAKA. ...................................................................................................... 38

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia di muka bumi memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan transaksi antar manusia menggunakan alat tukar, atau uang. Karena itulah, setiap negara dilihat kemakmurannya dari jumlah pendapatannnya. Dan kemakmuran ini dilihat dari jumlah uang yang dihasilkan. Sama seperti manusia, manusia dinyatakan miskin atau kaya dari hasil pendapatannya. Islam telah mengatur cara-cara yang halal dalam transaksi perekonomian. Untuk itu, kita harus mematuhi aturan tersebut agar transaksi kita berjalan dengan lancar dan halal. Pada zaman dulu, ketika lebih sedikit manusia dan lebih sedikit cara transaksi, lebih mudah untuk individu dan pemerintah mengontrol sistem perekonomian. Islam lebih mudah mengawasi perekonomian tersebut. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk, semakin banyak cara transaksi yang muncul dan kecurangan-kecurangan yang terjadi. Untuk itu, islam mulai mengeluarkan cara-cara lain dalam perekonomian untuk menjawab permasalahan perekonomian ini. islam menjawab dengan bank syariah, sistem bagi hasil dan lainnya. Selain itu, ulama-ulama sudah menjelaskan kekurangan dan kelebihan dalam setiap sistem perekonomian. Yang mana yang halal, yang mana yang merugikan. Halhal ini dilakukan agar, dalam setiap transaksi kita ada rasa saling percaya dan tentunya tidak mengalami kerugian bagi masing-masing pihak. Pada makalah ini akan dijelaskan sistem perekonomian yang ada pada masa sekarang dana bagaimana hukum Islam menanggapinya. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bagaimana sebaiknya jual beli dilakukan? Bagaimana sebaiknya perbankan dijalankan? Bagaimana sebaiknya pasar modal dijalankan? Bagaimana sebaiknya sistem asuransi diberlakukan? Bagaimana sebaiknya tukar menukar valuta asing berlangsung? Bagaimana sebaiknya pemasaran barang menurut Islam?

BAB II TEORI DASAR 2.1 Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam Prinsip ekonomi syariah dikenal dengan empat prinsip yaitu : 1. Perbankan Non Riba Prinsip ini menjelaskan bahwa prinsip ekonomi syariah tidak mengenal adanya riba. Karena riba diharamkan dalam agama Islam, bedasarkan ketentuan di dalam Al-Quran dan Al-Hadist serta ijma ketiga dasar tersebut sangat jelas dan qoti. Riba dalam semua agama tidak diperbolehkan apalagi agama Islam. 2. Perniagaan Halal dan Tidak Haram Prinsip kedua dalam berbisnis adalah mesti halal bukan berbisnis barang-barang yang diharamkan oleh Islam. Islam memerintahkan pemeluknya untuk melaksanakan hal-hal yang baik dan menghindari hal-hal yang dibenci Allah. Dalam perdagangan tidak dibenarkan memperjualbelikan atau melakukan tindakan haram. Misalnya, Islam melarang menjual minuman keras, benda atau hewan yang najis, alat-alat perjudian, dll. 3. Keridhaan pihak-pihak dalam berkontrak Prinsip ekonomi syariah menjelaskan bahwa etika berbisnis dalam islam menginginkan setiap yang berkontrak mendapatkan kepuasan dalam mengadakan transaksi. Sebab itu mesti ada kerelaan pihak-pihak yang berkontrak. 4. Pengurusan Dana yang Amanah, Jujur, dan Bertanggung Jawab Dalam melakukan berbisnis dan transaksi, nilai kejujuran, amanah dalam mengurus dana merupakan ciri yang mestiharus ada, Karena selain mendapatkan pinjaman modal nasabah juga tidak dikenakan bunga. 2.2 Riba dan jenisnya Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari rabaa yarbuu, yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. Asal arti kata riba adalah ziyadah tambahan. Kata Riba dalam ayat-ayat Al-Quran digunakan sebagai terjemahan dari bungan uang yang tinggi. Sistem ini telah dikenal pada masa

Jahiliyah dan periode awal Islam, yakni sebagai bunga uang yang sangat tinggi yang dikenakan terhadap modal pokok. Sebagaimana Allah telah berfirtman dalam Al-Quran Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka barangsiapa yang telah sampai kepadanya pengajaran Tuhannya (larang riba) kemudian ia berhenti maka baginya harta riba yang sudah diambilnya dan urusannya kembali kepada Allah dan siapa yang kembali memakan riba maka mereka itu para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (QS Al Baqarah [2] : 275). Dalam Islam, dikenal dua jenis riba yaitu riba fadhl dan riba nasiah. Riba fadhl adalah tukar menukar barang yang sejenis dengan ada tambahan, misalnya tukar menukar uang dengan uang, menu makanan dengan makanan yang disertai dengan adanya tambahan. Riba nasiah ialah tambahan yang sudah ditentukan di awal transaksi, yang diambil oleh si pemberi pinjaman dari orang yang menerima pinjaman sebagai imbalan dari pelunasan bertempo.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Sejarah Perkembangan Ekonomi Islam 3.1.1 Pada saat pemerintahan Rasulullah SAW Sebelum Islam datang, situasi kotaYatsrib sangat tidak menentu karena tidak mempunyai pemimpin yang berdaulat secara penuh. Dalam jangka waktu yang relatif singkat, Rasulullah SAW telah menjadi pemimpin sebuah komunitas kecil yang jumlahnya terus meningkat hingga sampailah Rasulullah menjadi pemimpin bangsa Madinah. Setelah diangkat sebagai kepala Negara, Rasulullah SAW segera melakukan perubahan drastis dalam menata kehidupan masyarakat Madinah termasuk dalam menata system Ekonomi saat itu. Sistem ekonomi yang diterapkan oleh Rasulullah SAW berakar dari prinsip-prinsip Qurani. Prinsip Islam yang paling mendasar adalah kekuasaan tertinggi hanya milik Allah semata dan manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Menurut para Musafir dan sejarahwan, perintah terakhir tentang pelarangan riba datang pada tahun 9H dan diumumkan oleh Rasulullah pada saat menyampaikan khutbah Haji Wada.Ketika melarang segala bentuk praktik ribawi, sisi lain, Islam memperkenalkan sebuah konsep baru yang telah dapat mengubah cara pandang kaum Muslimin. Konsep tersebut berupa perintah mengeluarkan sedekah, baik yang bersifat wajib ataupun sunnah. Rasulullah memerintahkan kepada kaum Muslimin yang memiliki kelebihan harta untuk membelanjakan sebagian pendapatannya di jalan Allah, hanya mengharap keridhaan Allah semata. Sebelum Islam hadir ditengah-tengah umat manusia, pemerintah suatu Negara dipandang sebagai satu-satunya penguasa kekayaan dan perbendaharaan Negara. Dalam Negara Islam, tampuk kekuasaan dipandang sebagai amanah yang harus dilaksanankan sesuai perintah Al-Quran. Rasulullah merupakan kepala Negara pertama yang memperkenalkan konsep baru di bidang keuangan Negara pada abad ketujuh, yakni semua hasil pengumpulan Negara harus dikumpulkan terlebih dahulu dan kemudian dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan Negara. Status harta hasil pengumpulan itu adalah milik Negara dan bukan milik individu. Tempat pengumpulan itu disebut sebagai Baitul Mal. Pada masa pemerintahan Rasulullah, Baitul Mal terletak di Masjid Nabawi yang

ketika itu digunakan sebagai kantor pusat Negara yang sekaligus sebagai tempat tinggal Rasulullah SAW. 3.1.2 Pada saat pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar As-Shiddiq terpilih menjadi Khalifah Islam yang pertama. Dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan umat Islam, Khalifah Abu Bakar melaksanakan berbagai kebijakan ekonomi seperti yang telah dipraktikan Rasulullah SAW. Dalam mendistribusikan harta Baitul Mal, Abu BAkar menerapkan prinsip kesamarataan, yakni memberikan jumlah yang sama kepada semua sahabat Rasullah, dan tidak membedabedakan antara sahabat yang terlebih dahulu masuk Islam dengan sahabat yang kemudian, antara hamba sahaya dengan orang merdeka, antara pria dengan wanita. Dengan demikian, selama masa pemerintahan Abu Bakar, harta Baitul Mal tidak pernah menumpuk dalam jangka waktu yang lama karena langsung didistribusikan kepada seluruh kaum Muslimin. Apabila pendapatan meningkat, seluruh kaum Muslimin diberikan bagian yang sama darei hasil pendapatan Negara. 3.1.3 Pada saat pemerintahan Umar Bin Khattab Seiring dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam pada masa pemerintahan Utsman Bin Affan, pendapatan Negara mengalami peningkatan yang sangat sigfnifikan. Setelah melakukan musyawarah dengan para pemuka sahabat, Utsman Bin Affan mengambil keputusan untuk tidak menghabiskan harta Baitul Mal sekaligus, tetapi dikeluarkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan yang ada, bahkan diantarannya disediakan dana cadangan. Baitu Mal berfungsi sebagai pelaksana kebijakan fiskal Negara Islam dan Khalifah merupakan pihak yang berkuasa secara penuh terhadap Baitul Mal. Kekayaan Negara terseut ditujukan untuk berbagai golongan tertentu dalam masyrakat dan harus dibelanjakan sesuai dengan prinsip-prinsip Al-Quran. Untuk mendistibusikan harta Baitul Mal, Khalifah Umar Bin Khattan mendirikan beberapa departemen. 3.1.4 Pada saat pemerintahan Utsman Bin Affan Pada enam tahun pertama masa pemerintahannya, Khalifah Utsman Bin Affan melakukan penataan baru dengan mengikuti kebijakan Umar Bin Khattab. Khalifah Utsman

bin Affan tetap mempertahankan sistem pemberian bantuan dan santunan serta memberikan sejumlah besar uang kepada masyarakat yang berbeda-beda. Dengan demikian, dalam pendistribusian harta Baitul Mal, Khalifah Utsman Bin Affan menerapkan prinsip keutamaan seperti halnya Umar Bin Khattab. Memasuki enam tahun masa keuda pemerintahan Utsman Bin Affan, tidak terdapat perubahan situasi ekonomi yang cukup signifikan. Berbagai kebijakan Khalifah Utsman Bin Affan banyak menguntungkan keluarganya telah

menimbulkan kekecewaan pada sebagian besar kaum Muslimin. Akibatnya, pada masa ini, pemerintahannya banyak diwarnai kekacauan politik yang berakhir dengan terbunuhnya sang Khalifah. 3.1.5 Pada masa pemerintahan Ali Bin Abi-Thalib Pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib, prinsip utama dari pemerataan distribusi uang rakyat telah diperkenalkan. Sistem distribusi setiap pekan sekali untuk pertama kalinya diadopsi. Hari kamis adalah hari pendistribusian atau hari pembayaran. Pada hari itu, smeua penghitungan diselesaikan dan pada hari Sabtu dimulai penghitungan baru. Cara ini mungkin solusi yang terbaik dari sudut pandang hukum dan kondisi Negara yang sedang berada dalam masa-masa transisi. 3.2 Jual-Beli (Trading) Jual beli adalah bentuk kegiatan ekonomi paling mendasar bagi manusia memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pada dasarnya, menurut Islam, akad jual beli memiliki rukunrukun tertentu, yaitu adanya : 1)penjual, 2)pembeli, 3)barang yang diperjualbelikan, 4)harga yang disepakati, 5) ijab qobul. Dalam bentuk paling sederhananya adalah jual beli dengan pembayaran tunai dan barang langsung beralih tangan dari penjual ke pembeli. Sistem ini masih kerap ditemui di toko atau pasar jika baranga yang dibeli relatif kecil dan/atau murah. Namun, pada masa kini, ada banyak sekali akad jual beli yang mungkin dilakukan. Hal ini karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi telah memungkinkan transaksi dilakukan tanpa tatap muka langsung penjual dan pembeli dan tanpa barang harus hadir secara fisik, misalnya pada perdagangan online. Hal yang paling membedakan ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam pada sisi jual beli adalah diharamkannya segala aspek ketidakpastian dan ketidakjelasan dalam

perdagangan yang syariah. Jadi, Islam tidak melarang transaksi-transaksi tanpa tatap muka dan tanpa barang hadir asalkan kelima rukun tadi dapat dipenuhi secara jelas. Misalnya tentang barang, barang yang diperjualbelikan dengan spesifikasi tertentu sesuai yang disepakati harus sudah pasti ada. Haram hukumnya menjual barang yang belum sepenuhnya dimiliki si penjual. Dengan demikian, system ijon dalam ekonomi konvensional jelas-jelas diharamkan. Karena dalam ijon, bibit yang dimiliki petani belum menghasilkan namun sudah dibeli tanpa diukur secara spesifik produknya (yang memang belum ada). Begitu juga dalam harga, tidak dipermasalahkan adanya pembayaran secara kredit (cicilan) yang membuat harga lebih mahal dibanding pembelian tunai jika sudah secara jelas disepakati dan pembeli memilih pembayaran kredit, bukan dipaksa membayar kredit. Hal ini dikarenakan, dengan pembayaran kredit pada dasarnya ditawarkan kemudahan berupa pembeli tidak harus menyediakan uang tunai yang banyak dalam satu waktu. Sekalipun ada banyak sekali jenis akad jual beli dalam Islam, dalam uraian ini, penulis akan menjelaskan tiga jenis jual beli yang termasuk banyak dilakukan dalam ekonomi syariah sebagai usaha untuk tetap melakukan praktek umum dalam ekonomi sesuai prinsip syariah. Tiga jenis akad itu adalah baial-murabahah, baias-salam, dan baial-istishna. Pada baial-murabahah, penjual menjual barang dengan harga asal (harga saat ia membelinya) ditambah keuntungan yang disepakati. Tentu saja agar penjual untung, setiap penjual akan meninggikan harga barangnya. Namun dalam praktek baial-murabahah ini, biasanya jual beli yang dimaksud adalah jual beli berdasarkan pemesanan di mana si pembeli memesan pada penjual untuk dicarikan barang. Penjual harus memberi tahu pembeli biaya modalnya dalam mendapatkan barang tersebut, bagaimana ia mendapatkan barang tersebut (misal dengan pembayaran tunai atau kredit), berapa keuntungan yang ia dapat, dan cacat yang terjadi selama barang tersebut ada di tangan penjual. Jika syarat tersebut tidak dipenuhi, pembeli berhak untuk membatalkan kontrak pemesanan. Hal ini untuk menjamin tidak ada unsur riba dan cara-cara haram dalam mendapatkan barang tersebut. Pada ekonomi konvensional, kita memesan barang pada orang lain hanya sebatas harga dan spesifikasi barang, tidak ada jaminan bahwa barang itu didapatkan si penjual dengan cara yang halal juga. Pada baias-salam, pembeli melakukan pembayaran di muka sedangkan barangnya akan diserahkan penjual di kemudian hari. Landasan syariah untuk transaksi baias-salam terdapat dalam Al Baqarah : 282 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu

bermuamalah

tidak

secara

tunai

untuk

waktu

yang

ditentukan,

hendaklah

kamu

menuliskannya. Selain itu ada pula hadis di mana Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. datang ke Madinah di mana penduduknya melakukan salaf (salam) pada buahbuahan untuk jangka waktu satu, dua, atau tiga tahun. Beliau bersabda, Barang siapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula untuk jangka waktu yang diketahui. Berdasarkan landasan ini, jelas bahwa pembayaran di muka seperti pada ekonomi konvensional diperbolehkan, namun dengan rukun-rukun tertentu yaitu : 1) muslam atau pembeli, 2) muslam ilaih atau penjual, 3) modal atau uang, 4) muslam fiihi atau barang, 5) sighat atau ucapan. Selain itu syaratnya juga barang yang akan disuplai sudah jelas jenis, kualitas, dan jumlahnya. Barang yang sudah disepakati dituliskan dalam dokumen dan tidak diperkenankan mengganti dengan barang lain. Penyerahan barang harus dilakukan sesuai waktu dan tempat yang disepakati. Pembayaran akan dilakukan di tempat kontrak untuk mencegah riba. Sementara itu, baial-istishna merupakan kontrak jual beli antara pembeli dan pembuat barang. Dalam kontrak ini, pembuat barang menerima pesanan dari pembeli lalu berusaha membuatkan atau membelikan barang sesuai spesifikasi pesanan. Kedua belah pihak akan bersepakat atas harga serta system pembayaran apakah tunai, cicilan, atau ditangguhkan. Praktek ini sangat umum terjadi pada ekonomi konvensional, misalnya pada pemesanan pakaian pada tukang jahit, atau membayar orang untuk membangunkan rumah. Dalam mazhab Hanafi, pada mulanya baial-istishna termasuk akad yang dilarang karena bertentangan dengan semangat bai secara qiyas. Namun karena masyarakat telah mempraktekkannya secara terus menerus tanpa keberatan sama sekali, hal ini menjadikan baial-istishna sebagai kasus ijma atau konsensus umum. Agar tetap terjamin kesesuaiannya dengan syariah para fuqaha menganjurkan pencantuman spesifikasi dan ukuran-ukuran serta bahan material pembuat barang tersebut.

3.3 Perbankan Bank pada hakikatnya bank adalah lembaga intermediasi antara penabung dan investor. Tabungan hanya akan berguna apabila diinvestasikan dan pada dasarnya Islam mendukung investasi. Hal ini karena dalam Islam tidak dikenal money demand for speculation. Uang pada hakikatnya adalah milik Allah SWT yang diamanahkan kepada kita untuk dipergunakan sebesarbesarnya bagi kepentingan kita dan masyarakat. Oleh karena itu menimbun uang (dibiarkan tidak

produktif) tidak diperbolehkan karena berarti mengurangi jumlah uang yang beredar dan dapat mengurangi tingkat pendapatan masyarakat. Namun, investasi sendiri bukan pekerjaan yang mudah, di mana tiap penabung tidak dapat diharapkan untuk melakukannya sendiri dengan sukses. Nasabah menyimpan uang di bank karena kepercayaan bahwa bank dapat memilih investasi yang baik. Dengan demikian jelas bahwa baik bank syariah maupun bank konvensional sama-sama adalah lembaga keuangan yang melaksanakan penyimpanan dan perputaran uang melalui kegiatan penabungan, pembiayaan, perkreditan, dan lain-lain, sehingga wajar jika tidak jauh berbeda dalam sisi teknis penerimaan uang. Akan tetapi, ada perbedaan mendasar pada aspekaspek tertentu untuk menjamin bahwa kegiatan bank tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Perbedaan tersebut terutama pada aspek legalitas (akad), struktur organisasi, usaha yang bisa/boleh dibiayai, dan lingkungan kerja. Sistem perbankan syariah mulai berusaha diterapkan di beberapa negara Islam atau mayoritas Islam sekitar tahun 1940-an di Malaysia dan Pakistan. Di sana, diupayakan pengelolaan dana jamaah haji secara nonkonvensional. Rintisan institusional lain kemudian timbul ketika didirikan Islamic Rural Bank di Kairo pada tahun 1963. Setelah dua rintisan awal tersebut, perbankan Islam tumbuh dengan pesat dalam menjawab kebutuhan masyarakat muslim untuk makin aktif berkegiatan ekonomi di era globalisasi dengan tetap melandaskan kegiatannya pada Al-Quran dan As-Sunnah. Akad memiliki posisi yang sangat penting dalam setiap transaksi syariah, karena akad memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi. Selain itu akad menjamin pelaksanaan transaksi sesuai dengan hukum Islam. Dalam akad segala kesepakatan dan detail transaksi dijabarkan dengan jelas sehingga tidak ada lagi ruang bagi ketidakpastian dan penipuan di antara pihakpihak yang bertransaksi. Dalam akad akan dijelaskan barang atau jasa apa yang dilibatkan, termasuk spesifikasi barangnya, seperti harga, ukuran, umur, keadaan dan lain-lain. Disebutkan pula tempat penyerahan barangnya, mekanisme pembayarannya, dan lain-lain. Akad dalam transaksi bank syariah akan berbeda dengan akad bank konvensional. Pertama, dalam akad bank syariah, tidak akan melibatkan barang yang haram. Kedua, dalam akad bank syariah, tidak ada bunga, baik bunga dalam pembungaan uang simpanan nasabah, maupun bunga pinjaman dari pembiayaan yang dilakukan oleh bank, karena kedua bunga tersebut dianggap adalah riba. Yang ada dalam perbankan syariah adalah bagi hasil. Bagi hasil

ini bukan merupakan istilah lain yang diada-adakan untuk menggantikan riba agar bank tetap berjalan dan mendapat untung. Memang ada perbedaan mendasar antara bunga dan bagi hasil. Bunga dibayarkan oleh bank sesuai suku bunga yang berlaku dari keuntungan yang didapat bank dari memberikan kredit kepada investor. Kredit investor ini adalah pinjaman berbunga sehingga pengelola bank mendapat untung. Melihat alasan ini, bunga yang diperoleh nasabah belum tentu halal karena bisa jadi merupakan hasil riba. Menyimpan uang di bank dan membiarkan uang tersebut berbunga menjadi hal yang haram jika demikian kasusnya. Sementara itu, dalam sistem bank syariah, penyimpanan uang (wadiah) diakadkan sebagai suatu perjanjian investasi sesuai prinsip mudharabah. Bank akan berfungsi sebagai mudharib yang mengelola uang nasabah (shahibul maal) untuk memperoleh hasil yang lebih besar. Hasil investasi akan dibagi antara pihak bank sebagai pengelola dan nasabah sebagai investor. Inilah yang disebut dengan bagi hasil. Hal yang sama juga berlaku bagi pembiayaan atau pemberian pinjaman oleh bank. Pihak yang dibiayai akan memberikan sebagian hasil usahanya sesuai presentase dan waktu yang telah disepakati dalam akad kepada bank syariah, tidak dalam jumlah tetap sebagai bunga. Jadi jika usaha tersebut kurang menguntungkan, bank syariah juga menanggung kekurang-untungan tersebut sebagai partner kerja sama. Usaha-usaha yang boleh dibiayai bank berasaskan Islam tentu tak terlepas dari saringan syariah. Dalam perbankan syariah, suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok, diantaranya adalah apakah objek pembiayaan halal atau haram, apakah proyek menimbulkan kemudharatan bagi masyarakat, dan apakah proyek merugikan syiar Islam baik langsung maupun tidak langsung. Struktur organisasi bank syariah pun memiliki perbedaan dengan perbankan konvensional. Ini karena dalam perbankan syariah harus ada Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah. Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank untuk menjamin efektivitas dari setiap opini yang disampaikan Dewan Pengawas Syariah. Transaksi-transaksi yang harus diawasi dalam bank syariah bersifat sangat khusus jika dibanding bank konvensional, karena itu diperlukan garis panduan yang mengaturnya. Garis panduan ini disusun dan ditentukan oleh Dewan Syariah Nasional negara tersebut. Bank Syariah akan bertanggung jawab kepada Dewan Syariah Nasional. Di Indonesia, Dewan Syariah Nasional dibentuk pada tahun 1997 dan merupakan lembaga otonom di bawah

Majelis Ulama Indonesia. Lembaga ini telah bekerja sama dengan Badan Pemerintah Pengawas Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk meneliti dan mengaudit lembaga-lembaga keuangan, termasuk bank, yang menggunakan dasar hukum syariat Islam.

3.4 Pasar Modal Perkembangan perbankan yang berbasis syariah sejak tahun 1970-an ternyata ikut mendorong perkembangan penggunaan prinsip-prinsip syariah di sektor pasar modal. Jual beli efek di pasar modal/bursa efek rawan melanggar tatacara perdagangan dalam Islam, terutama karena faktor ketidak pastiannya. Bursa efek adalah suatu pasar abstrak, di mana penjual, pembeli, dan barang belum tentu bertemu dalam suatu tempat untuk melakukan ijab qobul. Barang yang diperjual belikan sendiri umumnya bukanlah barang yang secara fisik sudah ada. Produk yang diperjual belikan di pasar modal antara lain adalah saham dan obligasi. Saham merupakan surat berharga yang merepresentasikan penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan, sedangkan obligasi pada esensinya merupakan suatu surat utang. Menurut pemikiran ahli ekonomi Islam, jual beli dalam pasar modal adalah bagian dari muamalah dan tidak ada yang salah dengan itu, karena sekalipun konsepnya adalah pasar abstrak, bursa efek sangat transparan dan perusahaan yang bisa menjadi emiten/penawar dalam bursa efek haruslah jelas dalam mendekripsikan produk yang ditawarkannya. Selain itu, jual beli saham bukanlah suatu judi sekalipun harga saham yang selalu naik turun terkesan seperti permainan untung-untungan bagi orang yang melakukan jual beli saham. Sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, judi didefinsikan sebagai permainan dengan memakai uang atau barang berharga sebagai taruhan. Para ahli fikih mengkategorikan judi sebagai permainan yang sifatnya zero sum game. Misalnya, ada 4 (empat) orang bermain kartu dengan taruhan Rp 1.000. Maka dalam satu kali permainan maka akan ada satu orang pemenang dengan mendapatkan uang sebanyak Rp 3.000 dan ada tiga orang yang kalah, masing-masing kalah Rp 1.000 atau total Rp 3.000. Sato orang pemenang akan mendapat positif Rp 3.000 dan tiga orang yang kalah akan membayar/negative Rp 3.000. Positif Rp 3.000 kalau dijumlahkan dengan negative Rp 3.000 maka kan menghasilkan nilai nol (0). Pemain yang kalah jika ingin modalnya balik atau uang yang diperoleh melebihi modalnya maka dia harus bertaruh lagi (menyetor uang lagi). Itulah konsepsi dasar dari perjudian. Berbeda dengan judi, transaksi saham di bursa efek tidaklah bersifat zero sum game. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Bahwa transaksi saham di bursa

efek adalah transaksi jual-beli. Oleh karena itu, untung atau rugi seseorang tidak mengakibatkan untung atau rugi pihak lain. Misalnya seorang investor A membeli saham PT Telkom Tbk pada harga Rp7.000. Selanjutnya, setelah beberapa saat saham tersebut dimilikinya, investor A berniat untuk menjualnya. Terdapat dua kemungkinan potensi harga jual atas saham PT Telkom Tbk. tersebut, yaitu bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari harga belinya. Pada kemungkinan pertama harga jualnya lebih tinggi dari harga belinya, misalnya harga di pasar senilai Rp7.500, maka investor A akan memperoleh keuntungan (capital gain) sebesar Rp500. Pada transaksi ini, keuntungan yang diperoleh investor A dari penjualan saham tersebut bukan akibat dari kerugian lawan transaksinya (pembeli). Secara konsep, saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan tersebut. Konsep penyertaan modal dengan hak bagian hasil usaha ini merupakan konsep yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Prinsip syariah mengenal konsep ini sebagai kegiatan musyarakah atau syirkah. Berdasarkan analogi tersebut, maka secara konsep saham merupakan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Namun demikian, tidak semua saham yang diterbitkan oleh Emiten dan Perusahaan Publik dapat disebut sebagai saham syariah. Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh: Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah. Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria sebagai berikut: kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah sebagaimana diatur dalam peraturan IX.A.13, yaitu tidak melakukan kegiatan usaha:

perjudian dan permainan yang tergolong judi; perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa; perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu; bank berbasis bunga; perusahaan pembiayaan berbasis bunga; jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian(gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;

memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI; dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat;

melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah); rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total ekuitas tidak lebih dari 82%, dan

ii.

iii.

rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha dan total pendapatan lainnya tidak lebih dari 10%.

Produk pasar modal berbasis syariah pertama kali dirintis oleh Yordania dan Pakistan di mana pada tahun 1978 Pemerintah mengizinkan penerbitan obligasi syariah. Namun obligasi syariah pertama yang pertama diterbitkan dan cukup sukses adalah yang dikeluarkan pemerintah Malaysia pada tahun 1983, yaitu The Government Investment Issue. Kini berbagai obligasi syariah telah beredar di beberapa pasar modal di dunia, termasuk di Indonesia. Di negara kita ini, pasar modal berbasis syariah secara resmi diluncurkan pada 14 Maret 2003. Bapepam-LK dan DSN MUI bekerja sama untuk pengaturan yang efektif dan efisien dalam rangka akselerasi pertumbuhan produk syariah. Beda pasar modal berbasis syariah dengan pasar modal konvensional ada pada mekanisme untuk mengawasi saham agar tidak melanggar prinsip syariah dan pada peraturan penerbitan obligasi syariah. Agar saham atau obligasi tidak melanggar prinsip syariah, DSN MUI mengeluarkan daftar saham-saham dan obligasi yang termasuk saham syariah berdasarkan

pengawasan terhadap kegiatan dan produk perusahaan emiten saham tersebut. Perusahaan rokok tidak akan bisa mengeluarkan saham yang masuk ke daftar saham syariah karena produknya sendiri (rokok) adalah haram, begitu pula bank konvensional karena produk tabungannya melibatkan riba. Tetapi bank konvensional yang memiliki produk tabungan syariah dapat mengeluarkan obligasi syariah yang dijual untuk mendanai pembiayaan produk tabungan syariah tersebut. Obligasi syariah akan berbeda dengan obligasi biasa karena system bunga yang jelasjelas riba diganti dengan sistem bagi hasil.

3.5 Asuransi Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, di mana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. (Wikipedia) Secara umum, orang-orang bersedia mengikuti asuransi karena mereka membutuhkan jaminan dan perlindungan atas kecelakaan-kecelakaan atau kondisi buruk yang mungkin terjadi. Dalam prinsip ekonomi Islam, aturan syariah ada untuk menjamin hak setiap pihak dalam transaksi dan secara umum menyejahterakan masyarakat. Namun, meski alasan masyarakat mengikuti asuransi adalah mendapat perlindungan dari mudharat, dalam asuransi konvensional, ada beberapa hal dari penyelenggaraan asuransi yang memiliki unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip syariah. Yaitu adanya riba, qimar (unsur judi), dan ghoror (ketidak jelasan atau spekulasi tinggi).Akad dalam asuransi konvensional adalah akad untuk mencari keuntungan (muawadhot). Jika kita tinjau lebih mendalam, akad asuransi sendiri mengandung ghoror (unsur ketidak jelasan). Ketidak jelasan pertama berkaitan dengan waktu nasabah akan menerima timbal balik berupa klaim. Tidak setiap orang yang menjadi nasabah bisa mendapatkan klaim. Ketika ia mendapatkan kecelakaan atau resiko, baru ia bisa meminta klaim. Padahal yang disebut kecelakaan di sini bersifat tak tentu, tidak ada yang bisa mengetahuinya. Boleh jadi seseorang mendapatkan kecelakaan setiap tahunnya, boleh jadi selama bertahun-tahun ia tidak mendapatkan accident. Ketidakjelasan kedua adalah dari sisi besaran klaim sebagai timbal balik yang akan diperoleh. Tidak diketahui pula besaran klaim tersebut. Padahal Rasul shallallahu alaihi wa sallam telah melarang pencarian keuntungan yang mengandung ghoror atau spekulasi tinggi sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata, - - Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli ghoror (mengandung unsur ketidak jelasan) (HR. Muslim no. 1513). Selain itu, asuransi mengandung qimar atau unsur judi karena ada spekulasi yang besar tadi. Pihak pemberi asuransi bisa jadi untung karena tidak mengeluarkan ganti rugi apa-apa. Suatu waktu pihak asuransi bisa rugi besar karena banyak yang mendapatkan musibah atau accident. Dari sisi nasabah sendiri, ia bisa jadi

tidak mendapatkan klaim apa-apa karena tidak pernah sekali pun mengalami accident atau mendapatkan resiko. Bahkan ada nasabah yang baru membayar premi beberapa kali, namun ia berhak mendapatkan klaimnya secara utuh, atau sebaliknya. Inilah judi yang mengandung spekulasi tinggi. Padahal Allah jelas-jelas telah melarang judi berdasarkan keumuman ayat, Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir (berjudi), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (QS. Al Maidah: 90). Di antara bentuk maysir adalah judi. Asuransi mengandung unsur riba fadhl (riba perniagaan karena adanya sesuatu yang berlebih) dan riba nasiah (riba karena penundaan) secara bersamaan. Bila perusahaan asuransi membayar ke nasabahnya atau ke ahli warisnya uang klaim yang disepakati, dalam jumlah lebih besar dari nominal premi yang ia terima, maka itu adalah riba fadhel. Adapun bila perusahaan membayar klaim sebesar premi yang ia terima namun ada penundaan, maka itu adalah riba nasiah (penundaan). Dalam hal ini nasabah seolaholah memberi pinjaman pada pihak asuransi. Tidak diragukan kedua riba tersebut haram menurut dalil dan ijma (kesepakatan ulama). Hal yang lebih vital lagi, asuransi konvensional dapat dilihat sebagai bentuk memakan harta orang lain dengan jalan yang batil . Pihak asuransi mengambil harta namun tidak selalu memberikan timbal balik. Padahal dalam akad muawadhot (yang ada syarat mendapatkan keuntungan) harus ada timbal balik. Jika tidak, maka termasuk dalam keumuman firman Allah Taala, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku saling ridho di antara kamu (QS. An Nisa: 29). Tentu setiap orang tidak ridho jika telah memberikan uang, namun tidak mendapatkan timbal balik atau keuntungan. Dari penjelasan di atas tentu saja kita dapat menyimpulkan haramnya asuransi, apa pun jenisnya jika terdapat penyimpangan-penyimpangan di atas meskipun mengatasnamakan asuransi syariah sekali pun. Yang kita lihat adalah hakekatnya dan bukan sekedar nama dan slogan. Seorang muslim jangan tertipu dengan embel syari belaka. Betapa banyak orang memakai slogan syari, namun nyatanya hanya sekedar slogan. Asuransi yang benar-benar syariah tidak akan mengandung unsur-unsur di atas karena sedari awal diakadkan dengan cara yang berbeda.

Asuransi syariah secara umum menggunakan akad tolong menolong (tabarruat). Sekelompok orang yang mengikuti asuransi bersama-sama melakukan akad bahwa mereka mempercayakan sejumlah tertentu uang (yang pada asuransi konvensional disebut premi) kepada pengelola asuransi. Pengelola asuransi akan memutar uang tersebut dengan usahausaha yang halal (investasi) dan hasilnya akan dibagi sesuai prinsip musyarakah dengan peserta asuransi pada jatuh tempo asuransi yang disepakati. Namun, ketika salah seorang dari peserta asuransi mengalami musibah atau kecelakaan atau resiko tertentu sesuai akad sebelumnya, berdasarkan prinsip tolong menolong, peserta tersebut berhak mendapatkan uang klaim dari pengelola asuransi. Dalam hal ini uang klaim tersebut dapat dilihat sebagai bentuk tolong menolong antar peserta asuransi kepada peserta yang sedang dalam kesulitan. 3.6 Pasar Valuta Asing Pada era globalisasi seperti sekarang, perdagangan antar negara makin maju dan gencar. Makin banyak pula warga suatu negara yang bekerja di negara lain, atau orang yang bepergian antar negara. Karena tiap negara memiliki mata uang yang berbeda-beda, jika seseorang ingin bertransaksi dengan negara lain atau di negara lain, salah satu pihak harus menukar mata uangnya dengan mata uang negara lain. Tempat di mana seseorang dapat menjual mata uang A untuk membeli mata uang B disebut pasar valuta asing (foreign exchange/Forex). Berdasarkan unsur waktu, pasar valuta asing konvensional dibedakan menjadi spot market dan forward market. Spot market untuk pertukaran valuta asing dengan waktu penyerahan maksimal dalam dua hari kerja, sedangkan forward market untuk penyerahan pada suatu tanggal tertentu di masa mendatang. Ada perbedaan yang mendasar antara harga valuta asing di kedua jenis pasar ini. Harga di pasar valuta asing di suatu negara dinyatakan dengan cara yang sama sebagaimana untuk menyatakan harga barang dan jasa di negara tersebut dalam mata uang lokal. Misalnya di Indonesia, harga suatu barang A adalah 80.000.000 IDR sedang di Amerika harga barang A adalah USD 10.000. Maka kita dapat menghitung harga USD terhadap IDR yang sering disebut sebagai kurs yaitu 80.000.000/10.000 = Rp 8.000,00/USD. Jika transaksi dilakukan secara spot market, maka aturannya sudah jelas. Pembeli dolar akan membayarkan rupiah sejumlah Rp 8.000,00 untuk memperoleh 1 USD. Jika pembeli dolar menukarkannya di tempat di mana orang menyediakan berbagai pilihan mata uang, harga dolar ditambah margin tertentu sebagai keuntungan penyedia jasa penukaran uang yang dikenal sebagai kurs beli. Untuk forward transaction, penentuan harganya akan dipengaruhi oleh interaksi antar kedua mata uang sehingga

ditentukan oleh suku bunga yang berlaku di kedua negara. Misalnya A di Indonesia ingin menukarkan IDR dengan USD yang dimiliki B 30 hari mendatang. Pada saat kontrak dilakukan, suku bunga di Indonesia adalah 20% per tahun sedang suku bunga di USA adalah 10% per tahun. Selama periode 30 hari sebelum uang dipertukarkan berarti A tidak memiliki kesempatan menggunakan USD, tetapi masih memiliki kesempatan menggunakan IDR dengan suku bunga 20%. Sebaliknya berarti B tidak memiliki kesempatan menggunakan IDR yang bersuku bunga 20% karena ia belum mendapatkan IDR tersebut. Artinya, ada selisih tingkat bunga (interest differencial) sebesar 12%. Karena yang kehilangan kesempatan bunga 12% ini adalah B, maka ia mendapat diskon dari A dalam jual beli mata uang ini. Sebaliknya, A harus membayar premi kepada B. Dalam kasus di atas, besarnya diskon tersebut adalah perbedaan bunga = 0,12 x 30/ 360 = 0,01. Jadi, jika kurs di pasar spot saat itu Rp 8.000,00/USD, maka 30 hari lagi, A harus membayarkan Rp 8.080,00 untuk mendapatkan USD (1-0,01) = USD 0,99 dari B. Menurut syariah Islam, tidak ada yang salah dengan transaksi dalam pasar spot. Dakam kitab al-Masaqah, ada hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda, Emas (hendaklah dibayar) dengan emas, perak dengan perak, bur dengan bur, syair dengan syair, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, sama dan sejenis haruslah dari tangan ke tangan (cash). Maka apabila berbeda jenisnya, juallah sekehendak kalian dengan syarat kontan. Namun dalam Forex yang dilakukan secara berjangka, ada unsur riba, ghoror, dan judi yang dilibatkan. Unsur riba karena penentu harga adalah suku bunga bank konvensional yang mengandung riba. Unsur ghoror dan bahkan judi karena sekalipun suku bunga per tahun relatif tetap, kurs jual-beli valuta asing senantiasa naik turun bergantung pada jumlah uang yang beredar. Karena itu, transaksi untuk masa depan seperti ini cenderung bersifat untung-untungan dan hanya mengandalkan spekulasi. Salah satu pihak di antara A atau B dapat dirugikan apabila tiba-tiba terdapat lonjakan kurs yang sangat besar seperti yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia. Jika seperti itu, dengan adanya tambahan premi yang harus dibayar salah satu pihak, tidak ada yang dapat menjamin bahwa pihak tersebut mampu membayar premi. Karena itu, Islam mengharamkan forward market kecuali berupa perjanjian akan membeli sejumlah tertentu mata uang asing berdasarkan kurs pada saat yang ditetapkan. 3.7 Pemasaran Berjenjang (Multi Level Marketing) Pada zaman sekarang, banyak badan usaha yang menerapkan sistem multi level marketing (MLM). MLM adalah menjual atau memasarkan langsung suatu produk baik berupa

barang atau jasa konsumen sehingga biaya distribusi dari barang yang dijual atau dipasarkan tersebut sangat minim bahkan sampai ke titik nol. MLM juga menghilangkan biaya promosi dari barang yang hendak dijual karena distribusi dan promosi ditangani langsung oleh distributor dengan sistem berjenjang. Mekanisme operasional pada MLM ini adalah seorang distributor dapat mengajak orang lain untuk ikut juga sebagai distributor. Kemudian orang lain itu dapat mengajak pula orang lain lagi untuk ikut bergabung. Begitu seterusnya, semua yang diajak dan ikut merupakan suatu kelompok distributor yang bebas mengajak orang lain lagi sampai level yang tanpa batas. Inilal salah satu perbedaan MLM dengan pendistribusian secara konvensional yang bersifat single level. Pada pendistribusian konvensional, seorang agen mengajak beberapa orang bergabung ke dalam kelompoknya menjadi penjual atau sales atau wiraniaga. Pada sistem single level para wiraniaga tersebut meskipun mengajak temannya, hanya sekedar pemberi referensi yang secara oraganisasi tidak di bawah koordinasinya melainkan terlepas. Mereka berada sejajar sama-sama sebagai distributor. Dalam MLM terdapat unsur jasa. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya seorang distributor yang menjualkan barang yang bukan miliknya dan ia mendapatkan upah dari presentase harga barang. Selain itu jika ia dapat menjual barang tersebut sesuai dengan target yang telah ditetapkan maka ia mendapatkan bonus yang ditetapkan perusahaan. Menurut catatan APLI (Asosiasi Penjual langsung Indonesia), saat ini terdapat sekitar 200-an perusahaan yang menggunakan sistem MLM dan masing-masing memiliki karakteristik, spesifikasi, pola, sistem dan model tersendiri. Sehingga untuk menilai satu persatu perusahaanMLM sangat sulit sekali. MLM / Pemasaran berjenjang disebut sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung, dimana harga barang yang ditawarkan ditingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena tidak secara langsung telah membantu kelancaran distribusi. Komisi yang diberikan dalam pemasaran berjenjang dihitung berdasarkan banyaknya jasa distribusi yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan pembelian barang. Promotor akan mendapatkan bagian komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa atas perekrutan bawahan. Dalam mengkaji hukum halal-haramnya MLM dibutuhkan pendekatan yang lebih mendalam. Dimulai dari manajemen perusahaannya, sistem marketingnya, kegiatan operasionalnya serta produk yang dijualnya apakah sesuai dengan prinsip dalam syariah. Sistem MLM konvensional rawan bertentangan dengan syariah karena seringkali ada aspek ghoror di dalamnya. Pemasaran yang berjenjang hingga sampai tanpa batas

memungkinkan ketidakjelasan dari mana sebenarnya penjual pertama kali mendapatkan barangnya, dan apakah didapatkan dengan cara yang syariah atau tidak. Untuk mengatasi itu, perusahaan harus menerapkan MLM secara syariah. Secara sepintas, MLM Syariah bisa saja tampak tidak berbeda dengan praktek-praktek bisnis MLM konvensional. Namun, kalau kita telaah lebih jauh dalam proses operasionalnya, ternyata ada beberapa perbedaan mendasar yang cukup signifikan antara kedua varian MLM tersebut. Pertama, sebagai perusahaan yang beroperasi syariah, niat, konsep, dan praktek pengelolaannya senantiasa merujuk kepada Alquran dan Hadist Rasulullah SAW. Dan untuk itu struktur organisasi perusahaan pun dilengkapi dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dari MUI untuk mengawasi jalannya perusahaan agar sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Jalannya perusahaan dan pemasaran mencakup barang yang diperjualbelikan, akad penjualannya, sistem administrasinya, sistem pemasaran, dan harga yang ditetapkannya. Dari segi barang, produk yang dipasarkan hendaklah dipastikan benar-benar halal, thayyib (berkualitas) dari semua aspek dan terhindar dari syubhat. Dalam hal akad, akad antara pihak penjual (al-Ba'i) dan pembeli (al-Musytari) dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak ada paksaan dan manipulasi. Segala administrasi jual beli hendaknya memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat jual beli sebagaimana yang terdapat di dalam hukum fiqh. Dari segi harga, barang harus diperjualbelikan dengan harga yang wajar sesuai kualitasnya. Sistem pemasaran hendaknya dilakukan secara transparan dan jelas tanpa adanya penipuan dan manipulasi. Kedua, usaha MLM Syariah pada umumnya memiliki visi dan misi yang menekankan kepada pembangunan ekonomi nasional (melalui penyediaan lapangan kerja, produk-produk kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau, dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah di tanah air) demi meningkatkan kemakmuran, kesejahteraan, dan meninggikan martabat bangsa. Ketiga, sistem pemberian insentif disusun dengan memperhatikan prinsip keadilan dan kesejahteraan. Dirancang semudah mungkin untuk dipahami dan dipraktekkan. Selain itu, memberikan kesempatan kepada distributornya untuk memperoleh pendapatan seoptimal mungkin sesuai kemampuannya melalui penjualan, pengembangan jaringan, ataupun melalui kedua-duanya. Keempat, dalam hal marketing plan-nya, MLM Syariah pada umumnya mengusahakan untuk tidak membawa para distributornya pada suasana materialisme dan konsumerisme, yang

jauh dari nilai-nilai Islam. Bagaimanapun, materialisme dan konsumerisme pada akhirnya akan membawa kepada kemubaziran yang terlarang dalam Islam.

BAB IV SIMPULAN 4.1 Simpulan Penerapan prinsip-prinsip syariah dalam ekonomi pada dasarnya bertujuan untuk melindungi setiap pihak yang melakukan kegiatan ekonomi karena menghilangkan unsur riba, ghoror, dan judi. Perbedaan paling mendasar adalah bagaimana akad transaksi tersebut dan adanya Dewan Pengawas Syariah yang memastikan segala operasi berjalan sesuai prinsip syariah. 1. Dalam hal jual beli secara syariah, praktek-praktek yang umum dilakukan dalam jual beli konvensional diperbolehkan selama akadnya tetap mengikuti rukun-rukun yang ditetapkan dan tidak merugikan salah satu pihak. 2. Dalam perbankan syariah, dalam akad transaksi, sistem bunga yang bersifat riba dihapuskan. Transaksi nasabah dengan bank dilihat sebagai suatu perjanjian investasi sesuai prinsip mudharabah dan nasabah akan memperoleh bagi hasil (syirkah) dari investasi tersebut. Demikian pula saat bank meminjamkan uang tidak dianggap sebagai suatu pinjaman berbunga, melainkan suatu pembiayaan usaha yang untung dan ruginya ditanggung bersama secara kekeluargaan. 3. Dalam hal transaksi pasar modal, Islam mendukung segala usaha yang produktif asalkan kegiatan-kegiatan usaha tersebut bukan merupakan suatu yang haram, menyebabkan kemudharatan bagi masyarakat, dan tidak menghalangi syiar Islam. Pemberian modal dalam obligasi tidak dilihat sebagai utang yang berbunga, melainkan perjanjian pembiayaan dan akan diberikan bagi hasil. 4. Dalam hal asuransi yang pada system konvensional merupakan bentuk usaha mencari untung yang sarat dengan unsur riba, spekulasi, ghoror, dan judi, Islam secara jelas mengharamkannya jika diniati sebagai usaha mencari untung. Namun, Islam menawarkan bentuk asuransi yang diakadkan sebagai suatu perjanjian saling tolong menolong antar peserta asuransi manakala terjadi resiko atau musibah tertentu. 5. Dalam hal pertukaran valuta asing (Forex), Islam mensyaratkan agar transaksi dilakukan pada tempatnya secara kontan agar tidak muncul unsur judi dan spekulasi yang dapat merugikan salah satu pihak.

6. Dalam hal pemasaran, Islam tidak mengharamkan adanya pemasaran berjenjang (MLM), asalkan pengelolaan dan pemasarannya jelas, tidak mengandung unsur penipuan, dan diniati sebagai sarana mencari uang yang halal. Untuk menjamin keberlangsungannya, MLM syariah akan diawasi pula oleh Dewan Pengawas Syariah.

DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad Syafii. 2001. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Karim, Adiwarman Azwar. 2004. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam edisi ketiga. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada Sutendi, Adrian. 2011. Pasar Modal Syariah : Sarana Investasi Keuangan. Jakarta : Sinar Grafika Anonim, Beda MLM Syariah dengan MLM Konvensional (URL : http://islamicbusinessnetwork.wordpress.com/2008/06/10/beda-mlm-syariahdengan-mlm-konvensional/ diakses 23 Maret 2013) Anonim, Hukum Asuransi (URL : http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-asuransi.html diakses 23 Maret 2013) Anonim, Bab Riba (URL : http://alislamu.com/muamalah/11-jual-beli/263-bab-riba.html diakses tanggal 24 Maret 2013)