Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kabupaten Nunukan adalah salah satu Kabupaten hasil pemekaran berdasarkan Undang-undang Nomor 47 Tahun 1959 tentang Pemekaran Daerah Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur yang tujuannya adalah agar dapat memberikan pelayanan serta peningkatan kesejahteraan kepada masyarakat. Namun dalam mengimplementasikannya Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan mengalami keterbatasan dan kendala seperti belum adanya jalan dari ibukota Kabupaten menuju ke Kecamatan/Desa-Desa di wilayah perbatasan yang selama ini hanya dapat ditempuh dengan menggunakan alat transportasi udara. Kendala serta hambatan yang lain adalah rencana pembukaan akses jalan tersebut melalui/memasuki/memakai kawasan hutan lindung dan Taman Nasional Kayan Mentarang. Meski demikian hal-hal tersebut adalah tuntutan dari masyarakat Kabupaten Nunukan terutama masyarakat di daerah perbatasan. Kawasan Hutan Lindung pulau Nunukan di tetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 169/KPts/IM/3/1979, dimana pada isinya menyebutkan bahwa sebagian areal hutan Pulau Nunukan seluas kurang lebih 1.000 Ha yang terletak di Dati II Bulungan, Dati I Kalimantan Timur mempunyai fungsi hydro orologis yang penting artinya bagi pengaturan tata air, pencegahan bahaya banjir dan tanah longsor serta erosi, dan berhubung dengan hal tersebut dipandang perlu menunjuk sebagian areal hutan Pulau Nunukan seluas kurang lebih 1.000 Ha yang terletak di Dati II Bulungan, Dati I Kalimantan Timur sebagai kawasan hutan dengan fungsi sebagai hutan lindung. Dari substansi surat keputusan tersebut jelas melegitimasi bahwa Hutan lindung Pulau Nunukan memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di Kabupaten Nunukan. Namun ketika ada kegiatan pembangunan infrastuktur pembangunan jalan umum di dalam kawasan hutan lindung tersebut, maka jelas akan berdampak pada fungsi kawasan hutan yang selama ini menjadi penyeimbang mutu serta daya dukung lingkungan di daerah itu. Meskipun terus menjadi perdebatan, namun proyek pembangunan jalan umum di hutan lindung Pulau Nunukan tetap di teruskan padahal pembangunan jalan ini sudah mengubah fungsi bentang alam kawasan.

Proyek pembangunan jalan umum di kawasan hutan lindung ini mulai di kerjakan Pemerintah Kabupaten Nunukan sejak tahun 2005 melalui anggaran belanja tambahan (ABT) tahun 2005. Dan terus dilanjutkan pada tahun berikutnya, namun yang menjadi catatan penting adalah pembangunan jalan umum di dalam kawasan hutan lindung Pulau Nunukan ini belum mendapat izin dari Menteri Kehutanan sementara jalan terus di kerjakan. Pemerintah Kabupaten Nunukan seakan tidak gentar untuk terus membangun jalan di kawasan itu, memalui APBD tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Nunukan kembali mengusulkan pembangunan jalan di kawasan hutan lindung tersebut.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang dan permasalahan yang telah kami uraikan secara singkat sebelumnya, maka kami merumuskan beberapa permasalahan dan akan dibahas lebih lanjut dalam Makalah ini. Adapun rumusan permasalahan tersebut antara lain: 1. Bagaimana kronologis kegiatan pelaksanaan pembangunan jalan di kawasan hutan lindung Pulau Nunukan? 2. 2. Apakah kegiatan pembangunan jalan umum di dalam kawasan hutan lindung Pulau Nunukan bertentangan dengan UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 Tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan hutan dan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan ?

BAB II Pembahasan A. Kronologis Pembangunan Jalan Umum di Kawasan Hutan lindung Pulau Nunukan Kawasan Hutan Lindung pulau Nunukan di tetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 169/KPts/IM/3/1979, dimana pada isinya menyebutkan bahwa sebagian areal hutan Pulau Nunukan seluas kurang lebih 1.000 Ha yang terletak di Dati II Bulungan, Dati I Kalimantan Timur mempunyai fungsi hydro orologis yang penting artinya bagi pengaturan tata air, pencegahan bahaya banjir dan tanah longsor serta erosi, dan berhubung dengan hal tersebut dipandang perlu menunjuk sebagian areal hutan Pulau Nunukan seluas kurang lebih 1.000 Ha yang terletak di Dati II Bulungan, Dati I Kalimantan Timur sebagai kawasan hutan dengan fungsi sebagai hutan lindung. Pada tanggal 26 November 2005 Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nunukan menerbitkan surat penunjukan pemenang tentang pemberian pekerjaan kegiatan perbaikan perumahan dan pemukiman (P2P) Kabupaten Nunukan dengan nomor surat : 640/10.K/GUN-P2P/ABT-XI/2005. Yang memutuskan CV. JAFFINDO sebagai pemenang tender sekaligus menjadi pelaksana pekerjaan pembuatan pembukaan badan lokasi jalan Imam Bonjol RT.04 Kampung Baru Sedadap Kecamatan Nunukan. Pada tanggal 29 November 2005 disepakati surat perjanjian kerja (kontrak) antara penanggung jawab anggaran Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nunukan Tahun Anggaran 2005 (Kepala Dinas PU Kabupaten Nunukan) dengan nomor : 640/11/SPPP-P2P/ABTXI/2005 dengan kesepakatan harga Rp 2.875.000.000 (menggunakan anggaran belanja tambahan daerah). Dimana lokasi pembuatan pembukaan badan lokasi jalan tersebut memasuki kawasan hutan lindung pulau nunukan. Pada tanggal 10 Mei 2007 Bupati Kabupaten Nunukan mengajukan surat kepada Menteri Kehutanan Republik Indonesia di Jakarta perihal pinjam pakai kawasan hutan lindung dan TNKM dengan suratnya nomor : 050/112/BAPP-II/V/2007 dengan alasan untuk kepentingan masyarakat umum, adapun kegiatan pembangunan jalan umum yang memakai kawasan hutan lindung Pulau Nunukan tersebut adalah sebagai berikut : Pembangunan Jalan : 1. Imam Bonjol Kp. Tator Simpeng Fatahilah sepanjang 6 km (12 Ha) 2. Panamas Makodim Nunukan sepanjang 10,68 km (21,36 Ha) 3. Kuburan Kp. Tator Sei Fatimah sepanjang 4,39 km (8,98 Ha).

Pada Tanggal 5 September 2007 Bupati Kabupaten Nunukan mengajukan surat kepada Gubernur Propinsi Kalimantan Timur perihal permohonan Rekomendasi Pinjam Pakai Kawasan Hutan dengan suratnya nomor : 050/229/BAPP-II/IX/2007. Dalam Surat Permohonan ini Bupati Kabupaten Nunukan mencamtumkan pembangunan jalan umum yang memakai kawasan hutan lindung Pulau Nunukan tersebut adalah sebagai berikut : Pembangunan Jalan : 1. Imam Bonjol Kp. Tator Simpeng Fatahilah sepanjang 6 km (12 Ha) 2. Panamas Makodim Nunukan sepanjang 10,68 km (21,36 Ha) 3. Kuburan Kp. Tator Sei Fatimah sepanjang 4,39 km (8,98 Ha) 4. Limau Mangga Sedadap sepanjang 7, 59 km (15,18 Ha). Pada tanggal 28 November 2007 Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Timur memberikan saran pertimbangan teknis Permohonan Pinjam Pakai Kawasan Hutan kepada Gubernur Propinsi Kalimantan Timur dengan suratnya nomor : 522.21/7273/DK-VIII/2007. Salah satu point penting dalam surat tersebut dinyatakan bahwa pemohon (Pemerintah Kabupaten Nunukan) tidak diperkenankan melakukan aktivitas di dalam kawasan hutan lindung sebagaimana yang dimohonkan sebelum mendapat surat persetujuan dan penetapan dari Menteri Kehutanan. Selanjutnya Surat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Nunukan kepada Kepala BAPPEDA Kabupaten Nunukan nomor : 593.45/498/DKB-III/VIII/2008 perihal Pinjam Pakai Hutan Lindung, salah satu pointnya menyebutkan terdapat pembangunan jalan di dalam areal Reboisasi Kawasan Hutan Lindung.Pada tanggal 31 Desember 2008 Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Nunukan memberikan advice teknis kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Nunukan dengan suratnya nomor : 520/742/DKB-IV/XII/2008. Dari sejumlah data tersebut di peroleh kejelasan bahwa proyek pembangunan jalan umum yang dikakukan oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan di Kawasan Hutan Lindung Pulau Nunukan telah berlangsung sejak tahun 2005 yang pada awalnya menggunakan anggaran belanja tambahan daerah Kabupaten Nunukan. Namun sikap yang sangat tidak disiplin dan tidak kooperatif adalah permohonan-permohonan mengenai izin pinjam pakai kawasan hutan lindung tersebut baru di sampaikan kepada Menteri Kehutanan dan Gubernur justru pada tahun 2007.

Sementara itu pada tahun 2010 ada 4 (empat) proyek pembangunan jalan di kawasan hutan lindung pulau Nunukan yang masuk dalam APBD Kabupaten Nunukan dan APBD Kalimantan Timur. Keempat pembangunan jalan tersebut antara lain adalah : 1. Pembangunan jalan Panamas-Makodim Rp 12,3 Miliar. 2. Pembangunan jalan kuburan Tator-Sungai Fatimah Rp 4,06 Miliar. 3. Pembangunan jalan Poros Tengah-Sungai Nyamuk Bebatu Rp 1,4 Miliar 4. Pembangunan jalan pintas Km 2 Km 8 Binusan Rp 5,3 Miliar. Keterangan : Rp 3 Miliar berasal dari APBD Kaltim, sedangkan sisanya dari APBD Kabupaten Nunukan.

B. Tinjauan Yuridis Pembangunan Jalan Umum Di Dalam Kawasan Hutan Lindung Pulau Nunukan Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. Sementara Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. Jalan menurut undang-undang jalan raya No. 13 / 1980, adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalulintas. Menurut Moughtin (1992), jalan adalah garis komunikasi yang digunakan untuk melakukan perjalanan di antara dua tempat yang berbeda, baik menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki. Jika disebut jalur, jalan adalah cara untuk menuju akhir tujuan atau perjalanan. Jalan merupakan permukaan linier dimana pergerakan terjadi di antara dua tempat, sehingga dapat dikatakan fungsi jalan adalah menjadi penghubung antara dua bangunan, penghubung antara dua jalan dan penghubung antara dua kota. Pendapat ini diperkuat oleh Carr (1992), yang mengatakan bahwa jalan adalah komponen dari sistem komunikasi kota sebagai sarana pergerakan benda, masyarakat dan informasi dari suatu tempat ke tempat yang lain. Terkait pembangunan jalan di kawasan hutan termasuk kedalam penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Menurut pasal 38 UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan kegiatan tersebut hanya diperkenankan dilakukan di dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi. Penggunaan kawasan hutan untuk tujuan dimaksud harus dengan izin Menteri Kehutanan dan persetujuan DPR. Penggunaan

kawasan hutan lindung untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan di atur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan, sebagaimana di atur dalam Pasal 4 yang menyebutkan : (1). Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang mempunyai tujuan strategis yang tidak dapat dielakkan. (2). Kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan : a. religi; b. pertambangan; c. instalasi pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, serta teknologi energi baru dan terbarukan; d. pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiunpemancar radio, dan stasiun relay televisi; e. jalan umum, jalan tol, dan jalur kereta api; f. sarana transportasi yang tidak dikategorikan sebagai sarana transportasi umum untuk keperluan pengangkutan hasil produksi; g. sarana dan prasarana sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi air, dan saluran air bersih dan/atau air limbah; h. fasilitas umum; i. industri terkait kehutanan; j. pertahanan dan keamanan; k. prasarana penunjang keselamatan umum; atau l. penampungan sementara korban bencana alam Artinya, pembangunan jalan umum dalam kawasan hutan lindung dapat dilakukan. Namun dalam melakukan pembangunan jalan umum di kawasan hutan lindung harus memiliki izin dari Menteri Kehutanan. Jenis Izin yang belaku terkait penggunaan kawasan hutan lindung untuk pembangunan jalan umum adalah izin pinjam pakai kawasan hutan. Dalam Pasal 1 ayat 1 dan 2 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 Tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan, disebutkan : 1. Pinjam pakai kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan kepada pihak lain untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah status, peruntukan dan fungsi kawasan tersebut.

2. Pinjam pakai kawasan hutan yang bersifat non komersil adalah kegiatan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang bertujuan tidak mencari keuntungan dan pemakai jasa tidak dikenakan tarif dalam memakai fasilitas tersebut. Pada pasal 2 di sebutkan, pinjam pakai kawasan hutan dilaksanakan atas dasar izin Menteri. Hal ini mengharuskan pihak-pihak yang akan menggunakan kawasan hutan untuk kegiatan pembangunan diluar kehutanan harus melalui izin menteri kehutanan dan mendapat persetujuan dari DPR. Dari beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sektor kehutanan tersebut memperbolehkan dilakukannya pembangunan jalan umum di kawasan hutan lindung namun harus dengan izin Menteri dan melihat manfaatnya bagi masyarakat serta tidak mengubah fungsi kawasan hutan tersebut. Sementara itu berbicara mengenai izin, izin dalam arti sempit merupakan suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah untuk dalam keadaan tertentu tidak menyimpang dari ketentuan perundang-undangan. Sementara itu menurut Van Der Fut izin adalah keputusan yang memperkenankan dilakukannya perbuatan yang pada prinsipnya dilarang oleh undang-undang. Terkait dengan pembangunan jalan umum di kawasan hutan lindung pulau nunukan, Pemkab setempat serta dinas pekerjaan umum selaku pelaksana proyek belum mendapatkan izin pinjam pakai kawasan hutan dari Menteri Kehutanan. Sementara itu dalam koordinasi rencana tersebut di lingkup daerah, PemKab yang dalam hal ini Bupati Kabupaten Nunukan seakan mengenyampingkan pentingnya koordinasi antar instansi setempat yang dalam koordinasi tersebut melibatkan peran serta dari DPRD, BAPPEDA, Dinas PU dan Dinas Kehutanan setempat. Hal ini terbukti koordinasi lintas sektoral dari sejumlah instansi tersebut tidak berjalan dengan baik. Pemkab seolah mengambil tindakan sepihak padahal hal ini tidak di benarkan oleh perundangundangan yang berlaku. Apapun alasan Pemkab dan Dinas PU perihal permasalahan ini yang terus berdalih bahwa pembangunan jalan umum ini untuk kepentingan umum namun dalam pelaksanaannya tetap harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku disektor kehutanan yaitu UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 Tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan hutan dan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan .

Kegiatan pembangunan jalan umum yang dilakukan oleh PemKab dan Dinas PU tersebut dapat dikatakan sebagai kegiatan pembangunan yang illegal, mengapa ? karena pelaksanaannya dilakukan sebelum adanya rekomendasi teknis dari Kepala Unit Pengelola maupun dari Dinas Kehutanan Propinsi serta belum terbitnya izin dari Menteri Kehutanan sebagaimana di atur dalam Peraturan menteri Kehutanan No. P.43/Menhut-II/2008 tentang Pinjam Pakai Kawasan Hutan di Luar Kegiatan Kehutanan, pada dasarnya dalam mengajukan permohonaan ada 5 (lima) hal yang harus ditempuh oleh pemohon, yaitu : 1) Penggunaan kawan hutan untuk kepentingan diluar kehutanan hanya dapat dilakukan di dalam kawasan hutan produksi dan hutan lindung serta yang dimohonkan untuk kepentingan yang bersifat strategis komersial dan non komersial serta mensejahterakan rakyat. 2) Menyediakan lahan kompesasi di wilyah Propinsi dan melekat dengan kawasan hutan dengan perbandingan kalau untuk komersial 1: 2 dan non komersial 1 : 1 serta tingkat keseburan yang sama dengan kawasan hutan yang dimohonkan dan clear (tidak dalam sengketa). 3) Mendapatkan rekomendasi teknis dari Kepala Unit Pengelola maupun dari Dinas Kehutanan Propinsi. 4) Sanggup melaksanakan reklamasi reboisasi apabila sudah berakhir masa pakainya. 5) Khusus untuk fungsi hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka dan perberian ijin pinjam pakai yang berdampak penting dan cakupanya luas serta bernilai stategis dilakukan oleh Menteri atas persetujuan DPR sebagaimana diatura pasal 38 ayat (3) dan (4) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, kemudian aturan ini dicabut dengan keluarnya UU No.19 Tahun 2004.

Pada pasal 2 Peraturan menteri Kehutanan No. P.43/Menhut-II/2008 tentang Pinjam Pakai Kawasan Hutan di Luar Kegiatan Kehutanan di sebutkan, pinjam pakai kawasan hutan dilaksanakan atas dasar izin Menteri. Kasus pembangunan jalan umum di kawasan hutan lindung pulau Nunukan yang dilaksanakan tanpa adanya izin Menteri Kehutanan adalah jelas merupakan pelanggaran terhadap Pasal 38 dan pasal 50 UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan perbuatan ini dapat dipidanakan. Dalam Pasal 50 ayat 1, 2 dan 3 di sebutkan : (1) Setiap orang dilarang merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan. (2) Setiap orang yang diberikan izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta izinpemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, dilarang melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan. (3) Setiap orang dilarang: a. mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah; b. merambah kawasan hutan; c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan: *. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau; *. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa; *. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai; *. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai; *. 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang; *. 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai. d. membakar hutan; e. menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang; f. menerima, membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah; g. melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan, tanpa izin Menteri; h. mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama- sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan;

i. menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang; j. membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan, tanpa izin pejabat yang berwenang; k. membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang, memotong, atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang; l. membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan; dan m. mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang. Jelas perbuatan Pemerintah Kabupaten Nunukun memenuhi unsur perbuatan melawan hukum sebagaimana disebutkan pada pasal 50 ayat 1,2 dan 3. Dan dapat di ancam dengan ancaman penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal 5 miliar sampai 10 miliar.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah. Penggunaan kawasan hutan lindung untuk pembangunan jalan umum jelas akan merubah fungsi hutan lindung tersebut sehingga akan menyebabkan fungsi hutan lindung tersebut tidak mampu lagi menjadi perlindungan sistem penyangga kehidupan yang secara langsung akan berdampak pada keadaan lingkungan sekitar. Begitu pentingnya fungsi hutan lindung dalam kehidupan manusia mendorong pemerintah membuat regulasi-regulasi di sektor kehutanan yang bersifat preventif dan represif sebagai instrumen untuk melawan perbuatanperbuatan manusia yang dapat mengancam serta merusak kelestarian fungsi hutan lindung. UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 Tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan hutan dan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan telah meletakan dasar-dasar tata cara serta ketentuan yang yang berkaitan dengan pengunanan kawasan hutan dalam hal untuk kepentingan pembangunan kehutanan dan diluar pembangunan kehutanan. Adalah ironis ketika di temukan adanya pelanggaran hukum yang justru di lakukan oleh pemerintah apalagi oleh seorang pejabat sekapasitas Bupati yang seakan-seakan tidak mengerti prosedural cara memperoleh izin perihal pembangunan jalan di kawasan hutan lindung. Hal inilah yang terjadi di Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur mengenai pembangunan jalan umum di kawasan Hutan Lindung Pulau Nunukan, di peroleh temuan bahwa pada kegiatan pembangunan jalan umum di kawasan hutan lindung Pulau Nunukan tersebut, Pemerintah Kabupaten Nunukan ternyata telah melakukan kegiatannya sejak tahun 2005 hingga tahun 2010 tanpa memiliki alas hak atau dasar hukum berupa izin dari Menteri Kehutanan. Pihak yang paling bertanggung jawab dalam kasus penggunaan kawasan hutan lindung ini adalah yang memberikan izin dalam hal ini yaitu Bupati Kabupaten Nunukan.Kegiatan Pembangunan jalan tersebut yang belum memiliki izin dari Menteri Kehutanan sangat jelas melanggar pasal 38 dan pasal 50 dalam Undang-undanh No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Perbuatan melanggar hukum tersebut dapat di ancam dengan ancaman penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal 5 miliar sampai 10 miliar.

B. Saran Kapolres dan Kajari Kabupaten Nunukan dengan segera harus menyikapi dan menindaklanjuti permasalahan ini agar tidak menimbulkan polemik yang berkepanjangan di masyarakat dan mendapatkan kepastian hukum terhadap kegiatan proyek pembangunan jalan umum dalam kawasan Hutan Lindung Pulau Nunukan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 Tentang Kehutanan. Republik Indonesia, Peraturan Mentri Kehutanan Nomor P.43/ Menhut-II/ 2008 Tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan hutan. Republik Indonesia, Keputusan Mentri Kehutanan Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan. Republik Indonesia, Keputusan Menteri Pertanian Nomor 169 Tahun 1979 Tentang Penunjukan Sebagian Areal Hutan Pulau Nunukan Seluas + 1.000 Ha Yang Terletak Di Dati II Bulungan, Dati I Kalimantan Timur Sebagai Kawasan Hutan Dengan Fungsi Sebagai Hutan Lindung. Samarinda, Surat kabar Tribun Kaltim Terbitan Maret Tahun 2010. Samarinda, Surat Kabar Koran Kaltim Terbitan Januari Tahun 2009.