Anda di halaman 1dari 22

Kata Pengantar

Alhamdulillah puji syukur Penulis panjatkan atas rahmat-Nya sehingga Penulis bisa menyajikan makalah yang berjudul PASAR SEMEN DI INDONESIA MENGARAH OLIGOPOLI sebagai persyaratan dan bahan akademis dalam menjalankan pendidikan di Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957. Dengan segala keterbatasan informasi dan buku-buku penunjang yang Penulis miliki, maka Penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyampaikan dan membuat makalah ini seobjektif mungkin dan sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya. Oleh karena itu Penulis harapkan pembaca mampu memberikan masukan kepada Penulis guna memperluas wawasan Penulis dan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Retna Rindayani

DAFTAR ISI Daftar isi Kata Pengantar i ii

BAB I: Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Batasan Masalah 1.3 Manfaat 1.4 Metode Pengumpulan Data 1 2 2 2

BAB II: Tinjauan Pustaka 2.1 Konsep Dasar Oligopoli 2.2 Penilaian Terhadap Pasar Oligopoli 2.3 Hambatan Memasuki Pasar Oligopoli 2.4 Kebijakan Pemerintah 3 5 6 7

BAB III: Pembahasan 3.1 Oligopoli Industri Pasar Semen dalam tubuh Undang-Undang 3.2 Situasi Persaingan Industri Pasar Semen di Indonesia 3.3 Produsen dan Kapasitas Produksi Semen 3.4 Dilihat Dari Aspek Kepemilikan Saham 3.5 Situasi Persaingan Perusahaan Semen Ternama di Indonesia 14 9 10 13 14

BAB IV: Penutup 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran 19 19

BAB V: Daftar Pustaka

20

BAB I PENDAHLUAN 1.1 LATAR BELAKANG Di dalam kondisi negara Indonesia yang terus tumbuh saat ini di tahun 2009 dengan laju pertumbuhan 4,3% menimbulkan segala konsekuensi terhadap pertumbuhan riil bangsa Indonesia. Tercatat laju inflasi terus stabil yang mencapai 3,9 % YoY pada tahun 2009 sedangkan pada bulan November 2009 terjadi deflasi sebesar 0,03%. Namun suku bunga Bank Indonesia (BI rate) cenderung tidak berubah, sementara inflasi semakin melemah. Tercatat BI rate tetap berada pada kisaran 6,5 % sejak semester II-2009, sedangkan laju inflasi hingga 2010 diperkirakan berada disekitar 5% plus minus 1%, sehingga diperkirakan penguatan pertumbuhan Negara Indonesia hingga tahun 2010 masih akan berlanjut. Selain itu, depresiasidollar terhadap mata uang negara lain juga akan menguatkan investasi terhadap negaranegara berkembang.

Fenomena pertumbuhan ekonomi negara yang terus bergerak naik serta dukungan pemerintah terhadap iklim investasi memberikan beberapa harapan terhadap perkembangan sektor rill dan sektor keuangan. Salah satu sektor yang cukup baik untuk dicermati adalah sektor semen yang juga mendapat dukungan dari pemerintah berupa program kerja pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur negara. Contoh industri yang termasuk oligopoly adalah industri semen di Indonesia. Pasar semen di Indoensia di golongkan ke dalam pasar oligopoly hal ini dikarenakan produksi semen di Indonesia hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan saja. Diantaranya adalah Semen Cibinong, Indocement, Holcim, Semen Padang dan Semen Gresik. Pasar semen di Indonesia dapat digolongkan ke dalam pasar oligopoli, hal ini dikarenakan produksi semen di Indonesia hanya dikuasai oleh beberapa perusahaan saja, diantaranya adalah Semen Cibinong, Indocement, Holcim, Semen Padang dan Semen Gresik.

1.2

BATASAN MASALAH 1. Mengapa Pasar semen di Indonesia dianggap oligopoli? 2. Gambaran Situasi Industri Pasar Semen di Indonesia? 3. Seperti apa situasi Persaingan Perusahaan Semen Ternama di Indonesia?

1.3

MANFAAT Manfaat Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca tentang jenis pasar oligopoly dalam hal ini memperdalam salah satu contoh jenis pasar oligopoly yaitu pasar semen dan gambaran tentang persaingan pasar semen di Indonesia.

1.4

METODE PENGUMPULAN DATA Dalam pengumpulan data Penulis menggunakan metode kepustakaan dimana Penulis mengumpulkan data dan informasi-informasi dari buku, serta beberapa rujukan dari internet

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pasar Oligopoli Pasar oligopoli adalah pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh (Wikipedia, 2011). Dalam Pasar Oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan Pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka. Praktek Oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk kedalam Pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan Oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek Oligopoli menjadi tidak ada. Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel, sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebagiknya digabung dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel. Pasar Oligopoli adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dan penawaran dimana terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai seluruh permintann pasar. Pasar Oligopoli adalah suatu bentuk persaingan pasar yang didominasi oleh beberapa produsen atau penjual dalam satu wilayah area. Contoh industry yang termasuk oligopoly adalah: Industri semen di Indonesia
5

Pasar layanan operator seluler Industri mobil (pasar otomotif) Pasar yang bergerak dalam industry berat Dll Sifat Pasar Oligopoli:

Harga produk yang dijual relative sama Pembedaan produk yang unggul merupakan kunci sukses Sulit masukke pasar karena butuh sumber daya yang besar Perubahan harga akan diikuti perusahaan lain Untuk membedakan pasar oligopoly dengan pasar lainnya, dapat dilihat berdasarkan cirri-ciri berikut:

Terdapat banyak pembeli di pasar Terdapat beberapa penjual/produsen dominan yang menguasai pasar (4-8 perusahaan) dalam kasus khusus dalam industri hanya terdapat dua perusahaan (duopoli).

Produk yang dijual bias bersifat identik, namun bisa pula berbeda dengan standar kualitas yang sudah ditentukan

Adanya hambatanuntuk memasuki pasar bagi pesaing baru Adanya saling ketergantungan antar perusahaan (produsen) Penggunaan iklan sangat sensitif Barang yang diperjualbelikan dapat homogeny dan dapat pula berbeda corak (differentiated product), seperti air minum aqua

Satu diantaranya para oligopolies merupakan price leader yaitu penjual yang memiliki pangsa pasar yang terbesar. Penjual ini memiliki kekuatan yang besar untuk menetapkan harga dan para penjual lainnya harus mengikuti harga tersebut. Contoh: pasar air mineral

Pengambilan keputusan interdependen Persaingan non harga

Kaitan antar produsen yang tidak melakukan persepakatan: Dalam pasar Oligopolis, penurunan harga dari suatu perusahaan berkecenderungan menyebabkan perusahaan lain melakukan penurunan harga agar tidak kehilangan pelanggan Jika terdapat satu perusahaan yang menaikkan harga, perusahaan lain tidak ikut menaikkan harga yang akan berakibat bertambahnya

konsumen/pelanggan bagi mereka

Berdasarkan produk yang diperdagangkan, pasar oligopoly dapat dibedakan menjadi 2 jenis: Pasar Oligopoli Murni (pure Oligoply) ini merupakan praktek oligopoli dimana barang yang diperdagangkan merupakan barang yang bersifat identik, misalnya praktek oligopoli pada produk air mineral dalam kemasan. Produkproduk air mineral dalam kemasan merupakan salah satu contoh bentuk praktek pasar oligopoli murni, sebab barang yang dipasarkan besifat identik. Selain itu pasar semen juga termasuk pasar Oligopoli Murni. Pasar Oligopoli dengan pembedaan (differentiated oligopoly) pasar ini merupakan suatu bentuk praktek Oligopoli dimana barang yang

diperdagangkan dapat dibedakan, misalnya pasar sepeda motor di Indonesia yang dikuasai oleh beberapa merk terkenal seperti Honda, Yamaha dan Suzuki. 2.2 Penilaian Terhadap Pasar Oligopoli Efisiensi dalam pembangunan sumberdaya dipandang kurang efisien sebab MR=MC,harga jual (konsumen membeli terlalu mahal). Dipandang efisien jika menikmati skala ekonomis dibandingkan perusahaan bersaing sempurna dengan bersaing dalam jumlah output yang sedikit. Pengembangan teknologi dan inovasi didorong demi memaksimalkan efisiensi manajemen ini bertujuan agar perusahaan menikmati laba diatas normal dan perusahaan menilai bahwa bersaing dalam teknologi dan inovasi lebih memungkinkan dari pada bersaing dalam bidang harga.

Keuntungan perusahaan yang diatas normal akan mengakibatkan harga barang menjadi lebih tinggi dan pilihan barang semakin terbatas yang akan mendorong kearah monopoli. Pada prakteknya pasar Oligopoli memiliki keuntungan dan kelemahan. Kelebihan: Adanya efisiensi dalam menjalankan kegiatan produksi Persaingan diantara perusahaan akan member keuntungan bagi konsumen dalam hal harga dan kualitas barang Kelemahan: Dibutuhkan investasi dan modal yang besar untuk memasuki pasar, karena adanya skala ekonomis yang telah diciptakan perusahaan sehingga sulit bagi pesaing baru untuk masuk kedalam pasar Apabila ada perusahaan memiliki hak paten atas sebuah produk, maka tidak memungkinkan bagi perusahaan lain untuk memproduksi barang yang sejenis Perusahaan yang telah memiliki pelanggan setia akan menyulitkan perusahaan lain untuk menyainginya Adanya hambatan jangka panjang seperti pemberian hak waralaba oleh pemerintah sehingga perusahaan lain tidak bisa memasuki pasar Adanya kemungkinan terjadi kolusi antara perusahaan dipasar yang dapat membentuk monopoli atau kartel yang merugikan masyarakat. Kartel adalah kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga untuk membatasi suplai kompetisi 2.3 Hambatan Memasuki Pasar Oligopoli Skala ekonomi merupakan salah satu hambatan produsen baru masuk pasar dimana makin rendah biaya per unit produksi sehingga harga jual bias semakin rendah. Jika terdapat permintaan tambahan mereka memunyai kesempatan yang lebih besar untuk merebut penambahan tersebut sehingga mereka semakin menguasai pasar. Biaya produksi yang berbeda juga merupakan hamabatan memasuki pasar Oligopoli karena jumlah output yang berbeda, biayapun bias berbeda
8

pada tingkat output yang sama. Pengetahuan lawan produsen yang lebih dalam akan bidang tersebut. Pekerja lebih berpengalaman dalam menjalankan

produksi. Akses dana, bahan baku dan jaringan perdagangan lebih mudah. Keistimewaaan hasil produksi juga merupakan hambatan memasuki biaya produksi, ini terjadi karena terkenalnya suatu produk (terpercaya), produknya rumit (komplek), menghasilkan banyak produk yang sejenis.

2.4

Kebijakan Pemerintah Guna menghindari dampak buruk yang mungkin ditimbulkan oleh pasar oligopoli, maka pemerintah dapat membuat kebijakan sebagai berikut: 1. Memberi aturan kemudahan bagi perusahaan baru untuk masuk ke dalam pasar dan ikut menciptakan persaingan, seperti masuknya Petronas dan Shell 2. Memberlakukan Undang-Undang anti kerjasama antar produsen, yaitu dengan diberlakukannya UU anti monopoli No.5 tahun 1999 Salah satu indicator tingkat oligopoly adalah CR4 yaitu Rasio Konsentrasi Market oleh 4 perusahaan terbesar atau dominan. Sebuah industry dikatakan berstruktur oligopoli bila CR4 >40%. Faktor terjadinya pasar Oligopoli: 1. Efisiensi skala besar a. Investasi awal sangat besar b. Biaya produksi murah bila skala produksi sangat besar 2. Kompleksitas manajemen a. Industry padat modal dan ilmu pengetahuan b. SDM kualitas tinggi c. Multi disiplin d. Persaingan non harga e. Intelijen bisnis Kekuatan dan keterbatasan oligopoli: 1. Kekuatan: a. Mampu mengakumulasi laba super normal
9

b. Produksi paling prima dan dinamis c. Pionir riset dan pengembangan teknologi d. Pionir pengembangan SDM 2. Keterbatasan: a. Berpotensi membentuk kekuatan monopoli b. Kapasitas tak terpakai c. Kesejahteraan yang hilang Tiga model oligopoli: 1. Non Kolusi (Kinked Demand Model) diantara oligopolies tidak mau melakukan kerjasama 2. Kolusi dalam penetapan harga (Collusive Pricing) kerja yang dilakukan misalnya secara resmi dengan membentuk kartel, tetapi jika secara resmi dilarang, dapat dilakukan secara informal atau implicit 3. Kepemimpinan harga (price leadership) perusahaan-perusahaan yang dominan memegang kendali dalam penetapan harga sehingga mendapat harga yang lebih besar

10

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Oligopoli Industri Pasar Semen dalam tubuh Undang-Undang Di dalam Undang-Undang Antimonopoli Oligopoli tidak didefinisikan secara

eksplisit. Lain halnya dengan monopoli adalah penguasaan produksi atas dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu yang dilakukan oleh satu atau beberapa pelaku usaha. Walaupun dalam UndangUndang itu tidak ada teks definisi tentang oligopoly, tetapi dalam pasal 4 Undang-Undang Antimonopoli ada penjelasan mengenai oligopoli. Sesuai dengan Undang-Undang Antimonopoli, oligopoli ditetepkan melalui suatu perjanjian tetapi menurut kebiasaan Oligopoli tidak dilakukan melalui suatu perjanjian, melainkan melalui penyesuaian (penyelarasan) perilaku masing-masing pelaku usaha. Secara umum pengertian Oligopoli adalah jika beberapa pelaku usaha yang mempunyai kekuatan pasar kurang lebih sebanding. Salah satu karakteristik pasar yang oligopolistik yang diperdagangkan adalah barangbarang yang homogeny seperti bensin, minyak mentah, bahan bangunan, pipa baja dan lain-lain. Di dalam pasar Oligopoli khususnya barang-barang yang homogen, terjadi keterkaitan reaksi. Jika satu pelaku usaha menaikkan atau menurunkan harga produknya maka akan diikuti oleh pesaing yang lain. Kondisi tersebut disebut dengan perilaku yang saling menyesuaikan diantara pelaku usaha. Hal ini terjadi, karena sifat barang yang homogen mengakibatkan tidak terdapat persaingan kualitas. Barang yang homogen umumnya mempunyai kualitas yang hamper sama. Oleh karena itu pasar Oligopoli tidak dilakukan melalui suatu perjanjian. Bertitik tolak dari penjelasan singkat ini, maka Oligopoli menurut UndangUndang Antimonopoli agak berbeda dengan apa yang dikenal dalam hokum persaingan usaha di Negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan lain-lain.

11

Pada dasarnya Undang-Undang Antimonopoli mempunyai tujuan untuk terselenggaranya persaingan yang sehat didalam pasar wilayah Republik Indonesia. Mengapa Undang-Undang Antimonopoli berupaya melindungi persaingan yang sehat? Supaya pelaku usaha yang satu dengan pelaku usaha yang lain dapat bersaing berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Jika pada pelaksanaannya ada pelaku usaha yang melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang Antimonopoli, maka Undang-Undang Antimonopoli dapat diterapkan atas pelanggaran (tindakan) pelaku usaha itu. Dengan demikian jika pelaku usaha industri semen melakukan kartel harga, penetapan jumlah produksi atau penetapan wilayah pemasaran yang mengakibatkan tidak ada kompetisi lagi diantara pelaku usaha semen tersebut, maka UU Antimonopoli tersebut diterapkan kepada para anggota kartel tersebut.

3.2

Situasi Persaingan Industri Pasar Semen di Indonesia Semen adalah komoditas yang strategis bagi Indonesia. Sebagai negara yang terus melakukan pembangunan, semen menjadi sesuatu yang mutlak. Terlebih lagi, beberapa tahun ke depan ini, pembangunan infrastruktur terus digenjot. Sehubungan dengan ini, kita perlu mengantisipasi akan terjadinya kelangkaan (shortage) semen untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dalam beberapa tahun ke depan. Kekhawatiran terjadinya shortage semen di dalam negeri ini cukup berasalan. Saat ini kapasitas produksi terpasang industri semen nasional sekitar 47,5 juta ton per tahun yang tersebar di sembilan lokasi pabrik semen di Indonesia. Sementara itu, rata-rata tingkat pemanfaatan efektif kapasitas produksi pabrik semen mencapai antara 80%-85% atau sekitar 38-40 juta per tahun. Sedangkan, tingkat konsumsi semen saat ini mencapai sekitar 33 juta ton. Untuk saat ini masih ada surplus pasokan semen di dalam negeri. Namun, bila tidak ada investasi baru untuk menambah kapasitas, diperkirakan tidak sampai 10 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami shortage semen di dalam negeri. Katakanlah, tingkat pemanfaatan efektif kapasitas produksi
12

pabrik semen mencapai 90% atau sekitar 42,75 juta ton per tahun, dengan tingkat pertumbuhan konsumsi diperkirakan mencapai 7% per tahun (asumsi pertumbuhan ekonomi), Indonesia akan mengalami shortage pada 2012. Pada saat itu, diperkirakan kebutuhan semen dalam negeri mencapai sekitar 47 juta ton sehingga ada shortage sekitar 5 juta ton. Bisa saja shortage ini dipenuhi dengan impor, misalnya dari China. Saat ini China memiliki kapasitas pabrik sekitar 1.100 juta ton sehingga menguasai 45% pangsa pasar produksi semen dunia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.000 juta ton diperuntukkan memenuhi kebutuhan dalam negeri dan selebihnya yaitu 100 juta ton akan diekspor. Sejak 2007 ini, diperkirakan China mengalami oversupply sekitar akibat telah selesainya pengerjaan sejumlah stadion raksasa untuk Olimpiade 2008. Diperkirakan, China akan melempar kelebihan pasokan itu ke Asia dan Timur Tengah dengan harga yang murah. Persoalannya, jika shortage ini dipenuhi dari impor, hal itu bisa merusak industry semen dalam negeri. Oleh karenanya, untuk memenuhi kepentingan industri dan konsumen, jalan terbaik adalah ekspansi pabrik baru. Dan untuk mendukung ekspansi pabrik di dalam negeri ini, jelas membutuhkan investasi besar. Dengan masa konstruksi pembangunan pabrik semen sekitar 3-4 tahun, memang tidak bisa lagi menunda

pembangunan pabrik baru. Penambahan kapasitas yang optimal adalah sekitar 2,5 juta ton per pabrik guna mencapai skala ekonomis terbaik. Investasi yang dibutuhkan membangun satu pabrik berkapasitas 2,5 juta ton ini sekitar US$275 juta US$325 juta, tergantung lokasinya. Supaya komposisi supply demand tetap terjaga seperti sekarang (yaitu masih ada ekspor), maka perlu penambahan kapasitas pabrik semen baru sekitar 20 juta ton agar pada 2012 nanti kapasitas nasional menjadi sekitar 65 juta ton. Sehingga, setidaknya dibutuhkan sekitar 4 pabrik baru. Saat ini ada tujuh produsen semen yang beroperasi di Indonesia, yaitu Semen Gresik Group (SGG) yang menguasai sekitar 45%, Indocement 30%, Holcim Indonesia (15%) dan lainnya sebesar 10% dibagi kepada Semen Andalas, Semen Baturaja, Semen Bosowa, dan Semen Kupang. Dilihat dari penguasaan pangsa pasar tersebut terdapat dua pelaku usaha yang
13

mempunyai pangsa pasar sebagai market leader, yaitu SGG (Semen Gresik Group) dan Indocement. Dengan struktur pasar seperti itu, pasar semen Indonesia adalah pasar yang oligopoli. Mungkin karena oligopoli, ada kecenderungan perilaku yang saling menyesuaikan diantara produsen semen. Sebagai contoh, sempat ramai menjadi pemberitaan bahwa di tahun 2007 ini beberapa produsen semen (seperti SGG, Indocement, dan Holcim) berencana mendirikan pabrik baru dengan kapasitas total 10 juta ton. Indocement bahkan diberitakan akan membangun pabrik baru dengan kapasitas 5 juta ton. Namun, entah kenapa, semua produsen semen tersebut seolah sepakat untuk menunda rencananya. Berdasarkan pemberitaan, SGG menganggarkan dana sekitar US$1,325 miliar, dimana sebesar US$645 juta untuk pembangunan pabrik baru dan US$350 juta untuk pembangunan pembangkit listrik (Antara News, 28 Juni 2007). Dana US$1,325 miliar tersebut sebesar 35% diambil dari kas internal dan 65% diambil dari luar (obligasi atau perbankan). Namun, rencana pembangunan pabrik baru, tampaknya paling cepat dapat dilakukan pada 2008, karena keputusan RUPS SGG kemarin belum final dan baru akan diputuskan pada RUPS Luar Biasa yang akan datang. Holcim menunda rencana pembangunan pabrik baru semen di Tuban, Jawa Timur karena pihaknya menilai tingkat kapasitas terpasang yang ada belum optimal, sehingga pihaknya memilih untuk meningkatkan produksi lebih dahulu ketimbang merealisasikan rencana pembangunan pabrik baru. Langkah ini diambil terkait dengan strategi Holcim yang akan meningkatkan pangsa pasar di Pulau Jawa dari 19% pada tahun 2006 menjadi 21% pada 2007. Jawa menjadi salah satu fokus penjualan semen Holcim mengingat Jawa merupakan pulau dengan populasi terpadat di Indonesia. Sebelumnya, Holcim menganggarkan nilai investasi pembangunan pabrik semen baru berkapasitas 3 juta ton per tahun itu sebesar US$300 juta atau sekitar Rp2,7 triliun. Holcim menjelaskan bahwa pada tahun depan perseroan akan lebih memfokuskan pada upaya efisiensi penggunaan energi. Sejak tahun lalu, perseroan telah menggunakan bahan bakar alternatif dari hasil olahan cangkang sawit (palm kernel shell) di samping memanfaatkan minyak bekas pakai. Indocement berencana akan meningkatkan kapasitas
14

produksi menjadi 20 juta ton per tahun mulai 2009 dengan membangun pabrik baru. Keinginan tersebut dilakukan dengan strategi, yaitu selain membangun pabrik baru di lokasi pabrik yang sekarang, Indocement juga tengah menyiapkan berbagai proyek untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pada 2007 kapitas produksi Indocement ditargetkan mencapai 17,1 juta ton per tahun, tahun lalu yang hanya 16,5 juta ton. Setelah tahun 2009, Indocement berencana membangun pabrik semen baru dengan kapsitas 10 ribu ton klinker per hari. Tetapi, sama dengan Holcim, Indocement tampaknya akan lebih memilih untuk melakukan peningkatan utilitasi atas pabrik yang telah terpasang dibandingkan harus membangun pabrik baru. Sebagai catatan, tingkat utilitasi atas kapasitas pabrik Holcim dan Indocement masih lebih rendah dibandingkan SGG, yaitu kurang dari 80%, sementara SGG sudah lebih dari 90%. Oleh karenanya, langkah yang diambil oleh Holcim dan Indocement ini, dipandang dari sisi kepentingan perusahaan adalah tepat. Pertanyaannya adalah kapan merupakan waktu tepat untuk melakukan ekspansi, sementara ancaman shortage sudah di depan mata? Adakah dibalik penundaan tersebut merupakan trik untuk mempertahankan agar harga semen tetap tinggi di masa mendatang? Meski dugaan ini masih prematur, para pelaku industri semen sepertinya berupaya menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran yang muaranya adalah untuk menjaga tingkat keuntungan masing-masing. 3.3 Produsen dan Kapasitas Produksi Semen Saat ini sembilan produsen semen yang beroperasi di Indonesia yang terbagi atas 5 perusahaan milik pemerintah, yaitu Semen Gresik Group (SGG) yang menguasai sekitar 45 pangsa pasar semen, serta 4 perusahaan lainnya milik swasta, yaitu Indocement yang menguasai 30% pangsa pasar, Holcim Indonesia yang menguasai 15% pangsa pasar, dan produsen semen lainnya yang terbagi atas Semen Andalas, Semen Baturaja, Semen Bosowa, dan Semen Kupang, menguasai 10% pangsa pasar secara total. Dilihat dari penguasaan pangsa pasar tersebut, terdapat dua pelaku usaha yang mempunyai pangsa pasar sebagai market leader, yaitu SGG dan Holcim.

15

Berdasarkan struktur pasar tersebut, pasar semen Indonesia adalah pasar oligopoli. Berdasarkan kapasitas produksinya, perusahaan semen swasta saat ini mempunyai kapasitas produksi yang lebih besar dibanding perusahaan semen milik negara (BUMN), yaitu mencapai 60% dari total kapasitas produksi nasional, sisanya sebesar 40% milik BUMN. Perusahaan semen yang mempunyai kapasitas produksi terbesar saat ini adalah PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk dengan kapasitas produksi sebesar 15,65 juta ton/tahun. Peringkat kedua adalah PT Holcim Indonesia Tbk dengan kapasitas terpasang 9.7 juta ton/tahun, sedangkan peringkat ketiga dikuasai oleh PT Semen Gresik Tbk dengan kapasitas produksi 8,65 juta ton/tahun. Selanjutnya adalah PT Semen Padang dengan kapasitas produksi 5,87 juta ton/tahun dan PT Semen Tonasa dengan kapasitas produksi 3,48 juta ton/tahun. SGG sendiri secara total memiliki kapasitas produksi terbesar, yaitu mencapai 20 juta ton/tahun. Total kapasitas produksi semen Indonesia di tahun sejak 2006 hingga 2008 tidak berubah, yaitu sebesar 46,54 juta ton/tahun. Bahkan kami estimasikan angka kapasitas produksi tersebut tidak akan berubah hingga 2011.

3.4

Dilihat Dari Aspek Kepemilikan Saham Tinjauan kepemilikan saham pada perusahaan semen sangat menarik, karena bebasnya pelaku usaha asing membeli saham di pasar Indonesia. Dengan bebasnya investor asing membeli saham perusahaan semen, ada pihak yang mengkhawatirkan akan terjadi kartel semen internasional. Jika sampai itu terjadi maka harga semen dipasar domestic bias menjadi lebih tinggi dari harga semen yang sekarang. Dilihat dari kepemilikan saham pelaku usaha asing telah mendominasi kepemilikan saham pasar semen nasional. Heidelberger menguasai 60,60% saham PT. Indocement, Holcim menguasai 68,11% saham PT. Semen Cibinong, Lafarge menguasai 71,70% saham PT. Semen Andalas dan PT. Cemex Indonesia menguasai 25,53% saham PT. Semen Gresik Group dan

16

akan menguasai 51% saham kelompok PT Semen Gresik Group (SGG) jika pemerintah melepasnya. Dengan komposisi pemilikan saham perusahaan asing yang demikian, apakah akan terjadi kartel semen internasional? Hal ini bergantung pada isi masing-masing perjanjian jual beli saham dan pemerintah. Sejauh mana wewenang dan kebijakan pelaku usaha asing untuk memasarkan produk di pasar domestik dan pasar internasional? Kalau produsen bebas menentukan untuk mengekspor produknya, maka pasokan untuk dalam negeri bias berkurang dan tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan pasar domestik. Akibatnya harga semen dalam negeri menjadi tinggi, seperti yang terjadi di Filipina beberapa tahun yang lalu. Dengan komposisi pemilikan saham perusahaan asing seperti itu, pelaku usaha dapat melakukan persaingan oligopolistik atau melakukan kartel. Semen termasuk produk yang homogen sehingga perusahaan (produsen) cenderung tergoda untuk melakukan kartel dan tindakan oligopolistik. Persaingan kualitas produk semen tidak besar dan nyaris tidak ada.

3.5

Situasi Persaingan Perusahaan Semen Ternama di Indonesia Didalam pasar oligopoli terdapat dua atau lebih pelaku usaha yang mempunyai market share yang hamper sama. Biasanya pelaku usaha cenderung memiliki perilaku yang sama. Pasar semen domestic dikuasai oleh kelompok Semen Gresik dan PT Semen Indocement yang masing-masing menguasai market share 43% dan 34%. Kedua perusahaan inilah yang dapat disebut Market Leader. Sebagaimana diketahui semen adalah salah satu produk yang homogen. Artinya, persaingan kualitas semen antara produsen semen hampir tidak ada. Oleh karena itu jika salah satu pelaku usaha menaikkan harga semen dan pelaku usaha lain ikut menaikkan harga produknya dan sebaliknya jika satu pelaku usaha menurunkan harga produknya, maka pelaku usaha lain juga akan menurunkan harga produknya. Hal itulah yang disebut keterkaitan antara pelaku usaha yang memproduksi barang yang homogen dan akibatnya harga semen cenderung berubah-ubah dan membuat kondisi pasar semen tidak menentu.
17

Kondisi pasar demikian membuat para produsen cenderung untuk bertemu dan membicarakan penetapan harga, seperti yang dikatakan oleh Adam Smith: People of the same trade seldom meet together, even for merriment and diversion, but the conversation ends in a conspiracy against the public, or in some contrivance to raise prices. Dari tindakan menaikkan dan menurunkan harga maka pihak yang dirugikan adalah konsumen dan produsen semen yang berkapasitas kecil. Jika produsen kecil tidak dapat mengikuti irama tindakan yang oligopolistic tersebut, produsen semen kecil tadi akan bangkrut. Disinilah peran KPPU sangat menentukan. KPPU harus menggunakan wewenangnya untuk melakukan investigasi, apakah para produsen semen melakukan kartel atau tidak. Tugas KPPU adalah mengawasi persaingan para pelaku usaha semen, apakah dalam menjalankan bisnisnya dipasar yang sama dan atau dari pasar hulu ke hilir telah menyelenggarakan persaingan sehat dalam pasar domestik dengan menerapkan Undang-Undang Antimonopoli secara baik dan benar? Saat ini ada tujuh pelaku usaha semen di Indonesia yang terdiri dari empat perusahaan swasta dan tiga perusahaan milik Negara. Perusahaan semen swasta adalah PT Semen Andalas menguasai pangsa pasar 2,9%, PT Indocement 33,3%, PT Semen Cibinong 20,6% dan PT Semen Bosowa 3,8%. Sedangkan perusahaan milik Negara adalah kelompok Semen Gresik

menguasai 35,9%, PT Semen Baturaja 2,5% dan PT Semen Kujang menguasai 1,2%. Dilihat dari struktur penguasaan pangsa pasar, tidak ada pelaku usaha yang mempunyai posisi yang lenih dominan sehingga bisa menimbulkan praktik monopoli dan atau praktik persaingan tidak sehat, semaunya mengatur jumlah produksi dan menetapkan harga produk sehingga merugikan konsumen. Persaingan bisnis semen masih terjadi antara PT Indocement dan Kelompok Semen Gresik. Dengan demikian harga pasar masih dapat ditentukan oleh persaingan yakni melalui mekanisme pasar.

18

Berdasarkan data produksi dari setiap produsen semen di Indonesia PT Indocement Tungga Prakasa Tbk masih menguasai 30% total produksi nasional, kemudian disusul oleh PT Semen Gresik Tbk dengan kontribusi sekitar 24%, dan di tempat ketiga masih dikuasai oleh PT Holcim Indonesia Tbk dengan kontribusi sebesar 15%. Namun secara kelompok SGG menjadi urutan pertama yang menguasai 47% produksi semen nasional.

Tabel 1 Produksi Semen Nasional Tahun 2003-2008 (.000 ton)


Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 SGG 17.899704 20.287.567 20.287.567 20.371.459 21.580.554 24.141.143 Indocement 5.120.331 5.647.850 5.647.850 4.557.317 5.517.564 5.773.650 Holcim 6.431.939 7.912.589 7.912.589 8.021.565 7.868.834 8.643.179

Dilihat berdasarkan Penjualan Semen Nasional 2004-2009 SGG masih menempati posisi teratas dengan persentase 67,5% disusul Holcim dengan persentase 20,01% dan kemudian Indocement dengan persentase 12,4% (Tabel 2).

Tabel 2 Penjualan Semen Nasional 2004-2009 (000 ton)


2004 SGG 23.054.475 2005 24.360.852 2006 24.360.852 2007 26.101,55 2008 28.202,22 2009 27.739,019 % 67,5

Indocement

4.354.226

4.793.114

4.793.114

4.044,2

4.972,938

5.372,601

12,4

Holcim

6.325.277

7.903.365

7.903.365

7.817,192

7.399,327

8.351,054

20,1

19

Total

33.733.978

37.057.601

37.057.601

37.962,94

40.574,49

41.462,674

100

Ketua KPPU, Benny Pasaribu mengatakan KPPU telah mengumpulkan data-data yang menyimpulkan pada praktik usaha tersebut. Selain tidak sehat, kinerja semen di Indonesia dianggap belum optimal. Estimasi KPPU menyebutkan bahwa ketiga grup produsen semen cenderung mengarah pada struktur oligopoli dengan kisaran penguasaan kapasitas produksi mencapai plus minus 89% dari total kapasitas produksi nasional. Namun dari penguasaan tersebut menurut data Departemen Perindustrian justru mengindikasikan utilisasi produksi yang rendah selama 2007-2008. "Kurang lebih hanya sekitar 49%." Pihaknya juga mengatakan fenomena kenaikan harga terus terjadi secara sistematis sejak 2007. Bahkan, berdasarkan data tersebut, harga semen diprediksi akan kembali naik antara 5-10% pada semester dua 2009. Melihat dugaan industri semen yang mengarah pada struktur industri yang oligopoli, KPPU akan terus mengkaji dan memonitor perkembangan industri semen. Apabila berdasarkan analisa tersebut diperoleh dugaan praktek monopoli, maka KPPU akan mendekatkan pada usaha penegakan hukum.

20

BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN Keuntungan terbesar perseroan berasal dari hasil penjualan semen dalam negeri dikawasan timur Indonesia. Kondisi saat ini, konsumsi semen dalam negeri tinggi memberikan cukup keuntungan bagi produsen semen nasional terutama produsen-produsen besar yang cukup memiliki andil dalam pasar semen yang mengarah ke Oligopoli ini. 4.2 SARAN HARGA semen mulai meresahkan konsumen. Karena itu, ada usulan agar harga semen sebaiknya diserahkan ke mekanisme pasar. Pasalnya, apabila diatur oleh pemerintah, dapat memicu terjadinya persengkongkolan. Seperti selama ini, harga semen itu kan ditentukan oleh pasar. Kalau pemerintah mau mengatur, justru akan mendorong peluang untuk persekongkolan harga. Sebaiknya, memang serahkan saja ke pasar, tergantung supply dan demand. Kemudian daripada itu pihak Pemerintah harus tetap jeli dalam mengawasi persaingan bisnis semen diIndoensia apakah tindakan oligopolistik terjadi karena persaingan atau karena adanya konspirasi diantara oligopolies.

21

DAFTAR PUSTAKA Silalahi, Udin. 2007. Perusahaan Saling Mematikan dan Bersekongkol Bagaimana Cara Menenangkan. Jakarta: Gramedia Arga Paradita Sutiyono. 2009. Outlook Semen Indonesia 2010. [pdf]. Suprapto, Hadi. 2009. Industri Semen Diduga Lakukan Oligopoli. http://bisnis.vivanews.com/news/read/42909-industri_semen_diduga_lakukan_oligopili. Agus Maulana Hidayat. 2010. Pasar Oligopoli. http://www.slideshare.net/f4uzi3zi3/pasaroligopoli.

22