Anda di halaman 1dari 33

Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 1

H
HHo
oor
rri
iiz
zzo
oon
nnt
tta
aal
ll W
WWe
eel
lll
ll D
DDr
rri
iil
lll
lls
sst
ttr
rri
iin
nng
gg D
DDe
ees
ssi
iig
ggn
nn

TUJUAN


Model Torque dan Drag


Beban Torsi


Lubang Lurus


Lubang Miring


Lubang Horizontal


Lubang Melengkung


Beban Drag


Lubang Lurus


Lubang Horizontal


Lubang Melengkung


Buckling


Strategi Drillstring


Panjang Lateral Maksimum Horizontal


Penentuan Tension


Penentuan Torsi


Penentuan Principil Stress


Penentuan Pigging Horizontal Metoda Lama




2 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
1. Modul Torque dan Drag
Dalam perencanaan rangkaian drillstring harus mempertimbangkan beban drag, torsi
(Gambar 1) dan kemungkinan bengkoknya drill string karena tertekuknya drillstring yang
akhirnya menyebabkan beban drag semakin besar serta apabila critical buckling force telah
melebihi kekuatan yield rangkaian pipa yang digunakan, maka pipa tersebut akan patah.


Gambar 1. Model Torque and Drag


Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 3
2. Beban Torsi
Torsi yang berlebihan akan membatasi panjang bagian lubang yang dapat ditembus.
Torsi yang mampu memutar bit dalam pemboran menggunakan metoda rotary dibatasi
oleh:
1. Torsi maksimal yang dapat dilakukan oleh rotary table
2. Kekuatan torsi pada sambungan
3. Kekuatan torsi pada bagian pipa yang tipis
Berdasarkan API RP 7.6, untuk menghitung beban torsi yang dapat ditanggung oleh
pipa pada kondisi tensile/tertarik adalah :
5 . 0
2
2
2
096167 . 0
(

=
A
Te
Y
OD
T ...........................................................................................................(1)
| |
2 2
32
ID OD I =
t
..........................................................................................................................(2)
dengan,
T = Minimum torsi pada kondisi tension (lb-ft)
I = Polar momen inersia (in
4
)
OD = Outside diameter (in)
ID = inside diameter (in)
Y = Minimum yield strength (psi)
Te = Beban tensile (lb)
A = Luas permukaan pipa, in2
Perhitungan beban torsi akan semakin kritis apabila pemboran sudah memasuki
phase pertambahan sudut dengan membentuk suatu busur dengan kelengkungan tertentu
(build up) serta pada phase pemboran bagian horizontal. Dengan diketahui beban torsi di
masing-masing phase pemboran, maka total beban torsi yang diderita drillstring dapat
diperhitungkan. Dengan demikian kita dapat memperkirakan besar prime mover (penggerak
mula) yang harus disiapkan untuk mengatasi beban torsi tersebut.
Beban torsi/puntiran juga dibatasi oleh kekuatan tool joint serta jenis pipa yang
digunakan. Apabila kita menghadapi kendala seperti ini, maka langkah selanjutnya adalah
pendesainan ulang lintasan lubang bor sehingga diperoleh beban torsi yang minimum.
Untuk lubang melengkung (curved hole) gaya kontak lateral dihitung dengan
menggunakan persamaan :
5 . 0
2 2
5730 5730
(
(

|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
u =
L A
m
v A
c
B F
Sin W
B F
F ............................................................................(3)
2.1. Lubang lurus :
u = Sin W F
M c
....................................................................................................................................(4)
Dengan,
Fc = gaya kontak lateral (lb/ft)
Fa = beban axial (+ beban tensile) (lb)
Bv = vertical build curve (
0
/100ft)

4 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
BL = lateral hole curvarture (
0
/100ft)
( )
5 . 0
2 2
v t L
B B B = ..............................................................................................................................(5)
dengan,
Bt = total dogleg curvature (
0
/100 ft)
Wm = berat pipa dalam lumpur (lb/ft)
u = sudut inklinasi (derajat)
Pada prinsipnya penentuan torsi dapat dilakukan sebagai berikut :
24
c tj
F OD
T

= .....................................................................................................................................(6)
dengan,
T = torsi (lbf-ft/ft)
= friction factor
Fc = gaya kontak lateral (lb/ft)
ODtj = diameter luar dari tool joint (inch)
Berikut ini beberapa persamaan yang telah diturunkan untuk menghitung
besarnya beban torsi yang timbul untuk masing-masing phase pemboran. Torsi pada
lubang yang lurus dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan berikut :
2.2. Lubang miring :
24
u
=
Sin L W OD
T
m

....................................................................................................................(7)
2.3. Lubang horizontal
Dengan asumsi sudut kemiringan sebesar 90
o
dan friction factor (m) sebesar
0.33, maka :
72
L W OD
TH
m
H
=
................................................................................................................................(8)
2.4. Lubang melengkung:
Dalam penentuan torsi pada bagian pertambahan sudut dapat menggunakan
persamaan dengan batasan-batasan berikut ini:
K = WOB - 0.33 Wm R
Untuk K negatif :
72
R W OD
T
m
B
= ..................................................................................................................................(9)
Untuk K positif :
( ) R W WOB
OD R W OD
T
m
m
B
33 . 0
76 72
+ = ..................................................................................(10)



Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 5
dengan :
T = Torsi friksi pada sumur miring (ft-lbf)
TH = Torsi friksi pada sumur horizontal (ft-lbf)
TB = Torsi friksi pada bagian pertambahan sudut (ft-lbf)
OD = Diameter luar tool joint atau collar (in)
L = panjang pipa (ft)
= Koefisien friksi/gesekan (diambil harga 0.33)
u = Sudut kemiringan sumur (derajat)
Wm = Berat pipa dalam lumpur (lb/ft)
R = Jari-jari bagian pertambahan sudut (ft)
WOB = Weight on bit (lb)
K = Konstanta perhitungan (lb)



6 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
3. Beban Drag
Idealnya pemboran vertikal, drill string yang digunakan tidak akan mengalami beban
drag. Tetapi dengan adanya daerah pertambahan sudut akan menyebabkan drill string rebah
dan menempel pada dinding lubang bor, sehingga menimbulkan beban drag yang arahnya
berlawanan dengan gerak drill string.
Semakin besar sudut kemiringan sumur, beban drag akan semakin besar. Beban drag
maksimum terjadi pada saat sumur membentuk sudut 90
0
atau pada saat pemboran ke arah
horizontal. Beban drag yang timbul pada kondisi ini sama dengan berat benda yang
menempel di sepanjang sumur horizontal setelah dikurangi gaya apung.
Tepatnya desain lintasan lubang bor akan dapat mengurangi drag yang terjadi,
namun untuk pendesainan pada bagian lubang horizontal, tergantung dari desain drill string
yang digunakan serta WOB yang diderita bit. Semakin berat rangkaian pipa yang tergeletak
pada dinding sumur semakin besar beban drag yang harus dihadapi. Secara keseluruhan
drag dapat diturunkan dengan baiknya pendesainan lumpur sehingga diperoleh kemampuan
pelumasan dan pengangkatan cutting yang baik sehingga terhindar dari kemungkinan
terjepitnya pipa. Berikut ini beberapa persamaan yang dapat digunakan untuk
memperkirakan besar beban drag yang timbul akibat adanya daerah pertambahan sudut
untuk masing-masing phase pemboran.
3.1. Lubang lurus :
u = Sin L W D
m
..................................................................................................................................(11)
22.3.2. Lubang horizontal :
Dengan asumsi kemiringan lubang 90
0
dan koefisien friksi sebesar 0.33,
maka :
3
L W
D
m
H
= ...............................................................................................(12)
3.3 Lubang melengkung :
Sementara untuk phase bagian pertambahan sudut, beban drag dapat
diperkirakan dengan menggunakan persamaan berikut yang hanya berlaku pada saat
penurunan drillstring ke dasar sumur (Gambar 2) :
K = FA - 0.25 Wm R
Untuk K negatif :
DB = 0.40 Wm R
Untuk K positif :
DB = 0.25 Wm R + 0.69 FA

Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 7


Gambar 2. Gesekan Pada Lubang Saat Penurunan Drillstring
Sedangkan perhitungan untuk phase pertambahan sudut pada saat penarikan
drill string, besar beban drag dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan
berikut (Gambar 3):


Gambar 3. Gesekan Pada Lubang Saat Penarikan Drillstring
K = FA - 0.85 Wm R
Untuk K negatif :
3
R W
D
m
B
=
............................................................................................. (15)
Untuk K positif :
DB = 0.69 FA - 0.25 Wm R ................................................................ (16)
dengan,
D = Drag pada lubang miring (lbf)
DH = Drag pada lubang horizontal (lbf)
DB = Drag pada phase build rate (lbf)

8 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
Wm = Berat pipa dalam lumpur (lb/ft)
L = Panjang pipa yang bersentuhan dengan drag, (ft)
= Koefisien friksi (diambil 0.33)
u = Sudut kemiringan sumur (derajat)
R = Jari-jari build curve (ft)
FA = Beban Kompresi pada EOC (lb)
Toleransi maksimum drag dalam pemboran ditentukan oleh strength dari
dinding drillpipe, tool joint dan peralatan penyambung lainnya. Kekuatan strength pipa
dapat dilihat pada API RP 7.6. Faktor-faktor yang menyebabkan drag pada pipa adalah
sebagai berikut :
1. Dog leg tidak hanya meningkatkan drag tapi dapat menurunkan
kekuatan strength dari drillpipe akibat gaya/beban bending yang
disebabkan tingginya gaya kontak antara lubang bor dengan drill string.
2. Komponen-komponen peralatan yang mempunyai ujung yang tajam.
3. Mud cake yang tebal, khususnya yang mengandung cutting.
4. Belokan yang mendadak/tajam, khususnya tanpa dog leg yang mulus
(smooth).
5. Lumpur tanpa lubrisitas.
6. Lapisan cutting yang mengendap pada dinding lubang bor bagian
bawah.
7. Terjadinya swelling.
Tujuan penentuan atau mengetahui besar beban drag adalah untuk
mempersiapkan kekuatan rig serta kemampuan prime mover untuk menurunkan,
menahan dan menarik string serta untuk mengatur distribusi WOB akibat adanya beban
drag.


Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 9
Contoh 1
Suatu pemboran menggunakan HWDP 5" (OD 6.5") pada bagian lengku ngan dan
lateral. Panjang bagian lateral sekitar 2000 ft dan jari-jari kelengkungan lintasan
sumur 800 ft. Densitas lumpur yang dipakai 10 ppg (diketahui berat HWDP 20.99
lbs/ft dan densitas baja 65.5 ppg). Tentukan :
a. Berapa besar torsi bila WOB = 0 (memutar tanpa membor)
b. Berapa Torsi bila WOB = 30.000 lbs (melakukan pemboran)
c. Bila 1000 ft HWDP bagian lateral diganti dengan menggunakan drillpipe
(berat 19.5 lbs/ft, OD = 6.375"), berapa besar torsi yang terjadi bila WOB =
30.000 lbs juga.
d. Berapa drag pada kondisi no. b
e. Berapa drag pada kondisi no. c



10 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
4. Buckling
R.F. MITCHEL 6), telah menurunkan persamaan untuk meramalkan tertekuknya
(buckling) pipa pada lubang miring. Inti dasar dari persamaan adalah gaya gravitasi bumi
menarik pipa ke arah bagian bawah lubang yang cenderung melengkungkan pipa, kekakuan
pipa cenderung mempertahankan kelurusan pipa dan beban pada bagian akhir pipa
cenderung melengkungkan pipa. Adapun persamaan yang dikembangkan adalah :
( )
5 . 0
2 2
617 . 1
(

u
=
OD H
Sin ID OD BF
B
L
.....................................................................................17)
dengan,
B
L
= Beban minimum penyebab tertekuknya pipa (lbs)
BF = Gaya apung (psi)
u = Sudut kemiringan lubang (derajat)
OD = Diameter luar pipa (inch)
ID = Diameter dalam pipa (inch)
H = Diameter lubang (bukan ukuran bit) (inch)
Berikut ini adalah persamaan lain yang dikembangkan untuk menentukan besar aksial
load yang dapat menyebabkan pipa melengkung pada lubang lurus (Gambar 22.4).
( )
5 . 0
5 . 65
550
(

u
=
TJ H
W a
c
D D
Sin M W I
F .........................................................................................(18)
dengan,
Fc = Max. aksial load pada lubang vertikal (lbf)
16
2 2
ID OD
A I
s
+
= .............................................................................................................................(19)
As = 0.7854 (OD
2
- ID
2
) ...................................................................................................................(20)
dengan,
I = Moment inersia (in
4
)
As = Luas penampang pipa (in
2
)
OD = Diameter luar pipa (in)
ID = Diameter dalam pipa (in)
Wa = Berat pipa di udara (lb/ft)
Mw = Densitas lumpur (ppg)
D
H
= Diameter lubang bor (in)
D
TJ
= Diameter Tool Joint (in)

Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 11


Gambar 4. Maximum Available Axial Force In Horizontal Hole


12 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
Contoh 2 :
a. Tentukan critical buckling untuk 6 1/4" drill collar (ID = 2.813"), lubang dengan
diameter 8.75" dan inklinasi 1.25
o
, densitas lumpur 9 ppg, diameter tool joint
6.25
b. Tentukan critical buckling untuk 5" HWDP (ID = 3") dengan inklinasi 30
o
pada
lubang dengan diameter 8.5" dan densitas lumpur 10 ppg, diameter tool joint
6.5"
c. Tentukan critical buckling untuk 5" (ID = 4.276) drill pipe, dengan inklinasi 30
o

pada lubang dengan diameter 8 1/2" dan densitas lumpur 10 ppg, diameter tool
joint 6.375


Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 13
Beban aksial pada EOC dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
F
EOC
= 0.59 F + 0.39 Wm R .............................................................................................................(21)
dengan,
F
EOC
= Aksial load pada EOC (lbs)
F = Aksial/kompresi load di KOP (lbs)
Mw = Berat pipa dalam lumpur (lb/ft)
R = Radius build curve (ft)
Sedangkan aksial load yang menyebabkan tertekuknya pipa pada lubang horizontal
adalah :
( )
I
L D D
F
F
TJ H
EOC
6
10 . 60
1
1

+
= .............................................................................................................(22)
dengan,
F = aksial load pipa di lubang horizontal (lbf)
F
EOC
= Aksial load di EOC (lbf)
D
H
= Diameter lubang bor (in)
D
TJ
= Diameter tool joint (in)
I = Moment Inersia (in
4
)
L = Panjang dari EOC sampai panjang pipa terakhir (ft)
Akibat tertekuknya pipa, maka akan muncul drag yang besarnya dapat diperkirakan
dengan persamaan :
( )
I
D D FA
D
TJ H
Buck
6
2
10 . 60
.
= ................................................................................................................(23)
dengan,
D
Buck
= Aksial drag pipa tertekuk (lbf/ft)
FA = Gaya aksial pada pipa tertekuk (lb)
D
H
= Diameter lubang bor (in)
D
TJ
= Diameter tool joint (in)
I = Moment Inersia (in
4
) pers 22-19



14 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
5. Strategi Drillstring
Dalam pendesainan kurva lengkungan bagian pertambahan sudut diusahakan agar
besar pertambahan sudut tersebut dapat memperkecil kemungkinan menempelnya pipa
pada dinding sumur (lihat Gambar 5), sehingga dapat menurunkan beban drag dan torsi.


Gambar 5. Pipe Body Contact
Berikut ini adalah persamaan yang dapat dipergunakan untuk menentukan besarnya
build rate yang harus dilakukan sehingga tidak terjadi kontak antar pipa dengan dinding
sumur.
(

|
|
.
|

\
|
=
J
L
J
L
Tan L J
R
B
4 4
3 . 57
12 100 3 . 57 2
......................................................................................................(24)
F
I E
J
5 . 0 ) (
=

( )
16
2 2
ID OD
As I
+
= =
dengan,
B = max. build rate yang dapat dilakukan (
0
/100 ft)
R = radial clearance tool joint dengan pipa (in)
L = panjang joint pipa (in)
E = Modulus Young (30 x 10
6
untuk baja)
I = Moment Inersia pipa (in
4
) pers 22-19
Sehingga ada load maksimum yang diijinkan pada pipa yang sudah tertekuk dalam
lubang vertikal, yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 15
( )
5 . 0
5 . 65
957
(
(


=
tj h
a
D D
MW W I
F .....................................................................................................(25)

dengan
F = beban maksimum pada lubang vertical (lbs)
I = moment inersia pipa (in
4
) pers 22-19
OD = diameter luar pipa (in)
ID = diameter dalam pipa (in)
Wa = berat pipa di udara (lb/ft)
MW = densitas lumpur yang digunakan (ppg)
Dh = diameter lubang pemboran (in)
Dtj = diameter tool joint (in)

Contoh 3 :
Suatu pemboran menggunakan 5" drillpipe (ID = 4.276, 19.5 lb/ft) pada sumur
dengan diameter 8 1/2", tool joint 6-3/8" dan berat lumpur 10 ppg.
Tentukan maksimum aksial load pada bagian bawah drillpipe.


16 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
Maximum curvature build rate bila menggunakan drillpipe pada saat pemboran
berlangsung, maka besar pertambahan sudut yang harus dibentuk agar tidak terjadi kontak
dengan dinding sumur dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan :
( )
(


|
.
|

\
|

=
J J
an J
OD OD
B
pipe TJ
dp
93 5330
185
.............................................................................................................(26)
Sedangkan bila menggunakan heavyweight drillpipe, maka besar built rate dapat
dipergunakan persamaan :
( )
(


|
.
|

\
|

=
J J
an J
OD OD
B
hw TJ
wh
5 . 46 2665
370
.........................................................................................................(27)
Dari Tabel 1 dapat dilihat beberapa BUR yang diijinkan untuk menghindari terjadinya
kontak dengan dinding lubang bor.

Contoh 4 :
Pemboran menggunakan 5" drillpipe (ID = 4.276, 19.5 lb/ft) dengan diameter tool
joint 6.375 dengan WOB sebesar 30.000 lbs.
Tentukan kelengkungan maksimum lintasan lubang bor untuk menghindari
terjadinya kontak dengan dinding bor.

Tabel 1. Maximum Hole Curvature Recuired to Avoid Pipe Body Contact Range
2 Pipe (31 ft)




Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 17
6. Panjang Lateral Maksimum Horizontal

Penentuan panjang maksimum bagian horizontal ditentukan dengan dasar konsep
mekanika sederhana. Dengan konsep ini dapat ditentukan berapa besarnya beban tension,
torsi dan prinsipal stress yang bekerja pada drillstring saat operasi pemboran sedang
berlangsung. Ketiga beban ini digunakan sebagai kriteria untuk menentukan terjadi atau
tidaknya fatique pada drill pipe. Drill pipe dapat digunakan sebagai referensi karena drill pipe
lebih lemah dibandingkan Heavy Weight Drill Pipe (HWDP) atau drill collar.
Fatique terjadi jika harga tension maksimum lebih besar dari yield strength, atau torsi
maksimum lebih besar dari torsional strength, atau principal stress maximum lebih besar dari
yield strength per luas penampang drill pipe (principal stress strength).
Tension merupakan fungsi dari berat rangkaian pipa dalam lumpur, sudut kemiringan
rata-rata, koefisien friksi, dan gaya normal. Sedangkan gaya normal adalah fungsi dari
perbedaan sudut kemiringan, berat rangkaian dalam lumpur, sudut kemiringan rata-rata,
perbedaan sudut arah dan tension. Torsi merupakan fungsi dari koefisien friksi, gaya normal
dan jari-jari luar rangkaian pipa.
Principal stress adalah fungsi dari tegangan axial dan tegangan geser. Sedangkan
tegangan axial adalah fungsi dari tension dan luas penampang pipa. Tegangan geser
merupakan fungsi dari torsi, diameter luar pipa, dan moment area. Terlihat dari hubungan
diatas bahwa diantara faktor-faktor tension, torsi dan prinsipal stress terdapat keterkaitan
satu dengan yang lainnya.
Perhitungan besarnya tension, torsi dan principal stress menunjukan bahwa untuk
setiap penambahan panjang bagian horizontal maka tension yang terjadi semakin kecil,
harga torsi dan principal stress semakin besar. Panjang maksimum bagian horizontal didapat
jika harga tension maksimum pada drill pipe melebihi torsional strength drill pipe, atau harga
principal stress maksimum pada drill pipe melebihi principal stress strength drill pipe.
Selanjutnya penentuan panjang maksimum sumur bor horizontal ditentukan secara
interpolasi atau dengan metoda grafis.
Dalam menentukan panjang maksimum sumur bor horizontal ada tiga
pembebanan yang harus ditentukan terlebih dulu, yaitu :
Menentukan beban tension
Menentukan beban torsi
Menentukan beban principal stress
Dalam menentukan ketiga beban tersebut ada tiga faktor pembatas yang mesti
dipenuhi agar drill pipe yang digunakan tidak mengalami kelelahan (fatique). Drill pipe
digunakan sebagai referensi karena drill pipe merupakan bagian drill stem yang terlemah
dibandingkan dengan HWDP atau drill collar.
Beban tension yield strength merupakan faktor pembatas. Pada saat menghitung
torsi yang bekerja pada drill pipe maka torsional strength adalah faktor pembatas.
Sedangkan principal stress strength merupakan batas yang harus dipenuhi saat penentuan
principal stress yang bekerja pada drill pipe. Panjang maksimum bagian horizontal diperoleh

18 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
saat harga salah satu dari ketiga beban tersebut sama dengan harga masing-masing faktor
pembatasnya .
Data yang dibutuhkan untuk menetukan panjang maksimum bagian horizontal yang
diperlukan adalah :
Ukuran, berat dan jenis drill pipe.
Data survey arah dan kemiringan, KOP, D, MD.
Densitas dan koefisien friksi lumpur.
WOB dan torsi di bit.
Drill string disain.
6.1. Penentuan Tension
1. Asumsikan panjang bagian horizontal.
2. Tentukan susunan drill string yang dipakai.
3. Hitung besarnya gaya normal untuk tiap section yang dimulai dari bit denga
menggunakan persamaan
( )
5 . 0
2
2
(
(

u A +
|
.
|

\
|
u + u A =

Sin Sin T Sin W Sin F
N
|
.......................................... (28)
dimana :
FN = gaya normal, lbs.
T = Besarnya beban tension, pada awal perhitungan harganya
sebesarnya WOB dan berharga negative karena merupakan
beban compresion, pada perhitungan selanjutnya harga T
merupakan kumulatif (lbs).
Au = Perbedaan sudut kemiringan (inklinasi) (derajat).
W = Berat rangkaian drill string di dalam lumpur (lbs).
u = Sudut kemiringan rata-rata, (I1 + I2)/2 (derajat).
= Perbedaan sudut arah (azimuth) (derajat).

4. Hitung besarnya beban tension untuk tiap section yang dimulai dari bit.
Perhitungan tension selanjutnya menggunakan persamaan
N
F Cos W T T u + =

1 2
..................................................................................... (29)
dimana :
T
2
= Beban tension pada setiap section, pada awalnya
sebesar WOB dengan tanda negatif kerena
compresion, lbs.
T
1
= Beban tension pada section sebelumnya, lbs.
W = Berat rangkaian drill string dalam lumpur, lbs.
u = Sudut kemiringan rata-rata, derajat
= Koefisien friksi, dari Tabel 22.2, dimensinless.
FN = Gaya normal, dari langkah 3, lbs

5. Bandingkan tension maksimum dengan yield strength drill pipe. Yield strength
ditentukan berdasarkan Tabel 22.3, 22.4, dan 22.5.

Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 19
6. Jika tension maksimum lebih besar dari yield strength atau tension di permukaan kecil
atau sama dengan nol maka perhitunagn selesai dan panjag maksimum ditentukan
secara interpolasi atau secara grafis. Jika tidak maka kerjakan langkah perhitungan
beban torsi.
Grafik distribusi tension maksimum terhadap panjang horizontal dapat dilihat
pada Gambar 6.

Tabel 2. Data Torsional dan Tensile Drillpipe baru





20 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design

Tabel 3. Data Collapse dan Tekanan Internal Drillpipe baru


Tabel 4. Data Torsional dan Tensile Drillpipe Lama-API Premium Class




Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 21

Tabel 5. Data Collapse dan Tekanan Internal Drillpipe Lama - API Premium Class

Tabel 6. Data Torsional dan Tensile Drillpipe Lama - API Class 2





22 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design

Tabel 7. Data Collapse dan tekanan Internal Drillpipe Lama - API Class 2

Tabel 8. Data Torsional dan Tensile Drillpipe Lama - API Class 3





Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 23

Tabel 9. Data Collapse dan Tekanan Internal Drillpipe Lama


API Class 3



Gambar 6. Grafik Distribusi Tension vs Panjang Horizontal


24 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
6.2. Penentuan Torsi
1. Hitung besarnya torsi untuk tiap section dimulai dari bit dengan menggunakan
persamaan :
R x F M M
N
+ =
1 2
.........................................................................................................................(30)
dimana :
M2 = Torsi yang bekarja pada setiap seksi, pada awal
harganya sebesar torsi di bit (ft-lbs).
M1 = Torsi yang bekerja pada seksi sebelumnya (ft-lbs).
= Koefisien friksi, dimensionless.
FN = Gaya normal (lbs).
R = Jari-jari luar drill pipe (ft).
2. Tentukan besarnya torsi maksimum pada drill pipe dan bandingkan dengan harga
torsional strength drill pipe. Torsional strength drill pipe diperoleh dari Tabel 3, 4
dan 5.
3. Jika harga torsi maksimum yang bekerja pada drill pipe lebih besar dari torsional
strength drill pipe maka perhitungan selesai dan panjang maksimum ditentukan
secara interpolasi atau secara grafis. Jika tidak maka kerjakan langkah
perhitungan beban principal stress.

Grafik distribusi torsi maksimum terhadap panjang horizontal dapat dilihat pada
Gambar 7.


Gambar 7. Grafik Distribusi Torsi vs Panjang Horizontal



Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 25
6.3. Penentuan Principal Stress
1. Hitung besarnya principal stress untuk setiap section dimulai dari bit dengan
menggunakan persamaan :
5 . 0
2
2
2 2

)

+ |
.
|

\
|
=
a
a a
p
t
t t
t .............................................................................................................(31)
A
T
a
= t
I
D M
s
2
= t
dimana :
p
t = Principal stress pada setiap section, psi.
a
t = Axial stress pada setiap section, psi.
s
t = Shear stress pada setiap section, psi.
T = Tension pada setiap section,lbs.
A = Luas penampang drill string, sq-in.
M = Torsi pada setiap section, in-lbs.
D = Diameter luar drill string, in.
I = Moment area drill string, in
4
.
( )
4 4
.
32
ID OD I =
t


2. Tentukan harga principal stress maksimum dan bandingkan dengan yield
strength perluas penampang pipa (principal stress strength).
3. Jika principal stress maksimum lebih besar dari principal stress strength maka
perhitungan selesai dan penentuan panjang maksimum dilakukan dengan cara
interpolasi atau secara grafis, jika tidak maka kerjakan kembali langkah
perhitungan tension dengan asumsi panjang sumur horizontal lebih panjang.
Grafik distribusi principal stress maksimum terhadap panjang horizontal dapat
dilihat pada Gambar 8.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metoda perhitungan diatas
maka panjang maksimum horizontal merupakan panjang dimana torsi maksimum yang
bekerja pada drill pipe sama dengan torsional strength drill pipe pada Tabel 3. Gambar 9
menunjukan grafik penentuan panjang maksimum sumur bor horizontal.

26 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design


Gambar 8. Grafik Distribusi P. Stress vs Panjang Horizontal


Gambar 9. Grafik Penentuan Panjang Horizontal Maximum




Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 27
6.4. Penentuan Panjang Horizontal Lain
Metoda ini menggunakan rumus-rumus yang telah dikenal sebelumnya yaitu :
Drag
Torsi
Buckling
Dimana data dari konfigurasi dapat diuraikan untuk menghitung masing-masing
komponen tersebut, kemudian tentukan panjang lateral maksimum sampai memenuhi
syarat-syarat sbb:
Torsi yang terjadi tidak melebihi torsional strength maksimum pipa yang
dipakai, dan tidak melebihi kemampuan rotary table, setelah dikalikan
dengan safety factor.
Drag yang tidak melebihi yield strength dari pipa yang dipakai setelah
dikalikan dengan safety factor dikurangi MOP (Margin Over Pull = 75.000
lbf).
Nilai kompresi pada pipa saat pemboran (FA) tidak melebihi gaya untuk
buckling (FC).

Contoh 5.
Pada suatu rencana pemboran horizontal diketahui :
Dh = 8,5"
KOP = 6250'
EODC Displ (R) = 800'
EOC = 7000 TVD; 7500' MD
5150' MD - EOC = HWDP
EOC - 9850' MD = DP
9850 - 10000' = HWDP
Horizontal = 2500'
Total Depth = 10000' MD
= 10 ppg
WOB = 30000 lb
MOP (Margin Over Pull) = 75000 lb di bit
Torsi di bit = 2000 lb-ft
WmDP = 19.8 lb/ft; OD 4,5", ID 3,8"
WmHW = 41.77 lb/ft; OD 6,5", ID 5.4"
Panjang horizontal akhir yang diinginkan 1000 ft
kaian tersebut sehingga diketahui :
Beban Hook Load
Beban Torsi yang terjadi
Buckling Kritik yang terjadi
Jenis DP yang digunakan


28 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
7.1. Penurunan Persamaan Torsi
Penurunan persamaan ini sepenuhnya menggunakan definisi sistem koordinat
untuk suatu sudut yang dimulai dengan 0
0
pada bagian horizontal dan 90
0
pada bagian
vertikal KOP.
Torsi yang dihasilkan sepanjang suatu element panjang dari sebuah pipa dalam
suatu lingkaran pertambahan sudut dapat ditulis sebagai berikut :
I I Cos W
R
F
ABS
D
f T A
(

+ = A
2
...........................................................................................(33)
Gaya pada setiap titik sepanjang bagian kurva pertambahan sudut dapat ditulis
sebagai berikut :
I Sin W F F
o
= ..............................................................................................................................(34)
Kombinasi dari persamaan (32) dan (33),
I I Cos W I Sin W
R
F
ABS
D
f T A
(

+ + = A
2
........................................................................(35)
Untuk bagian pertambahan suatu lingkaran, maka :
I PA = A

............................................................................................................................................(36)
Substitusi persamaan (35) ke persamaan (34) dan disusun dalam bentuk
dimensionless, maka :
I I Cos I Sin
WR
F
ABS
DWR f
T
A
(

+ =
A
2
1
.........................................................................(37)
I I Cos I Sin
WR
F
ABS
DWR f
T
I
I
A
(

+ =
A

=
=
2
1
2 /
0
t
...............................................................(38)
Penggunaan suatu prosedur iteratif secara numerik, maka persamaan 37 dapat
diselesaikan dalam bentuk Fo/WR dan diplot hasilnya pada Gambar 10.
Berdasarkan hasil plot yang digambarkan, menghasilkan perkiraan dalam bentuk
persamaan yang dapat ditulis sebagai berikut :
Untuk Fo <0.33 WR
T = 0.5 f W R ......................................................................................................................................(39)
Untuk
Fo >0.33 WR
WR
Fo
R W OD f T
4
. . .
4
1 t
+ + .............................................................................................................(40)
Dalam satuan lapangan, f = 0.33 dan WOB = Fo, maka persamaan ini menjadi :
WOB < 0.33 Wm R
72
R W OD
T
m
b
= ....................................................................................................................................(41)

Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 29
WOB > 0.33 Wm R
( ) R W WOB
OD R W OD
T
m
m
b
33 . 0
46 72
+ = ..................................................................................(42)
Torsi untuk perputaran tanpa tertekuknya pipa pada bagian kemiringan konstan
dari sumur :
24
u
=
Sin f L W OD
T
m
...................................................................................................................(43)
Sedangkan untuk bagian horizontal dengan harga f = 0.33 maka harga T dapat
ditulis sebagai :
72
L R W OD
T
m
= .................................................................................................................................(44)
7.2. Penurunan Persamaan Drag
Beban drag compressive, jika pemboran dilakukan secara steering atau rotary
pada saat penurunan rangkaian, maka Ft adalah gaya pada top dari kurva. Perubahan
pada gaya aksial sepanjang "sliding pipe" dibagian kurva pertambahan ditulis sebagai
berikut :
I Sin I W I I Cos W
R
F
ABS f F
i
A A
(

+ = A ..........................................................................(45)
Gaya aksial pada setiap titik dikurva pertambahan juga dipengaruhi oleh drag
aksial bagian atas dari titik tersebut :
F F F
i i
A + =
1
.....................................................................................................................................(46)
Pada bagian bawah kurva dimana I=0, gaya aksial adalah :
o i
F F =
=0
................................................................................................................................................(47)
Substitusi untuk L dan membagi persamaan tersebut untuk mendapatkan bentuk
yang dimensionless, maka :
I Sin I I I Cos
WR
F
ABS f
WR
F
i
A A
(

+ =
A
..............................................................................(48)
(

A A
(

+ =
A

=
=
I Sin I I I Cos
WR
F
ABS f
WR
F
i
I
I
2 /
0
t
............................................................(49)
Gaya drag Df dibagian kurva pertambahan diberikan sebagai berikut:
WR F F D
o f f
+ = ...........................................................................................................................(50)
Membagi persamaan diatas dengan WR untuk membuat penyelesaian yang
dimensionless, maka :
1 + =
WR
F
WR
F
WR
D
o
f f
...........................................................................................................................(51)

30 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design
Dengan menggunakan prosedur iteratif secara numerik didapatkan plot Df/WR
vs Fo/WR dengan f = 0.33 seperti pada Gambar 1.
Untuk
Fo <0.25 Wm R
Df = 0.4 Wm R ....................................................................................................................................(52)
Untuk
Fo >0.25 Wm R
Df = 0.25 Wm R + 0.69 Fo .............................................................................................................(53)
Untuk pemecahan drag tarikan (tensile drag) ketika mencabut pipa dari lubang,
maka :
Fo = gaya tensil pada EOC
I Sin I W I I Cos W
R
F
ABS f F
i
A A
(

+ = A ..........................................................................(54)
I Sin I I I Cos
WR
F
ABS f
WR
F
i
A A
(

+ =
A
...............................................................................(55)
F F F
i i
A + =
1
.....................................................................................................................................(56)
o i
F F =
=0
................................................................................................................................................(57)
(

A A
(

+ =
A

=
=
I Sin I I I Cos
WR
F
ABS f
WR
F
i
I
I
2 /
0
t
............................................................(58)
Gaya tensil drag didefinisikan sebagai berikut :
WR F F D
o f f
= ...........................................................................................................................(59)
Dalam bentuk dimensionless :
1 =
WR
F
WR
F
WR
D
o
f f
...........................................................................................................................(60)
Pemecahan secara numerik untuk tensile drag diperlihatkan pada Gambar 2,
dengan f = 0.33.
Untuk
Fot <0.85 Wm R
Dbt = 0.33 Wm R...............................................................................................................................(61)
Untuk
Fo >0.85 Wm R
Dbt = 0.69 Fot - 0.25 Wm R ..........................................................................................................(62)
Untuk drag aksial pada pencabutan atau penurunan rangkaian pada bagaian
kemiringan konstan dapat ditulis dalam bentuk persamaan :
D = Wm L f Sin I ................................................................................................................................(63)
Sedang pada bagian horizontal dengan f = 0.33,

Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 31
Dh = 0.33 Wm L .................................................................................................................................(64)
7.3. Penurunan Persamaan Gaya Buckling Kritik
Perkiraan gaya torsi dan drag untuk suatu sumur horizontal mengasumsikan
bahwa tidak terjadi tekukan pada pipa.
Gaya buckling kritik untuk suatu pipa dilubang horizontal diturunkan dari
persamaan Dawson.
5 . 0
12
2
(

u
=
r
Sin W I E
F
m
c
.................................................................................................................(65)
dimana
Fc = gaya buckling kritik, lb
E = 29,6.106 psi steel
I = momen inersia (in
4
)
Wm = berat pipa dalam fluida (lb/ft)
(


=
5 . 65
5 . 65 MW
W W
a m
..................................................................................................................(64)
Wa = berat rata-rata pipa dan tool joint di udara, lb/ft
MW = densitas lumpur, ppg
r = kelonggaran radial antara pipa dan lubang (in)
Ada beberapa yang dapat dipertimbangkan untuk memperkirakan kelonggaran
pada sambungan, secara umum pada kasus pemboran horizontal penerapannya
didefinisikan sebagai berikut :
2
tj h
D D
r

= ..........................................................................................................................................(66)
F = sudut 90
o
pada lubang horizontal
Dh = diameter hole, in
Dtj = diameter tool joint, in
Dalam satuan lapangan dapat ditulis sebagai :
( )
5 . 0
5 . 65
550
(
(


=
tj h
a
c
D D
MW W I
F .................................................................................................(67)

32 Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design

DAFTAR PUSTAKA

1 guilera R., "Horizontal Wells: Formation Evaluation, Drilling, and Production, Including
Heavy Oil Recovery", Gulf Publishing Company, Houston, 1991.
2 hort J., "Introduction to Directional And Horizontal Drilling", Penn Well Publishing
Company, Tulsa, 1993.
3. nn., "Horizontal Drilling", SPE Reprint Series no.33, Society of Petroleum Engineers Inc.,
Richardson TX, 1991.
4. Pettus. D.S., "Horizontal Drilling: High-Angle and Extended-Reach", Southwest
Geoservices, USA, 1992.
5. Joshi S.D., "Horizontal Well Technology", Penn Well Publishing Company, Tulsa-
Oklahoma, 1991.
6. Joshi S.D., "Horizontal Well Technology", Penn WEll Publishing Company, Tulsa-
Oklahoma, 1991.



Dril-037 Horizontal Well Drillstring Design 33
DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

T = Minimum torsi pada kondisi tension (lb-ft)
I = Polar momen inersia (in
4
)
OD = Outside diameter (in)
ID = inside diameter (in)
Y = Minimum yield strength (psi)
Te = Beban tensile (lb)
A = Luas permukaan pipa (in
2
)
Fc = gaya kontak lateral (lb/ft)
Fa = beban axial (+ beban tensile) (lb)
Bv = vertical build curve (
o
/100ft)
BL = lateral hole curvarture (
o
/100ft)
Bt = total dogleg curvature (
o
/100ft)
Wm = gaya apung pada pipa (lb-ft)
= sudut inklinasi, derajat
= friction factor (lb/ft)
ODtj = diameter luar dari tool joint (inch)
L = panjang pipa (ft)
TH = torsi pada pipa horizontal lb/ft
TB = torsi pada pipa melengkung lb/ft
WOB = weight on Bit (lb)
D = drag (lbs)
DH = drag pipa horizontal (lbs)
DB = drag pipa melengkung (lbs)
BL = beban minimum penyebab tertekuknya pipa (lbs)
BF = gaya apung (psi)
H = diameter lubang (in
2
)
As = luas penampang pipa, (in
2
)
FEOC = aksial load pada EOC (lbs)
F2 = aksial kompresi load di KOP (lbs)
D
Buck
= aksial drag pipa tertekuk (lb-ft)
FA = gaya aksial pada pipa tertekuk (lbs)
Wa = berat pipa di udara (lb-ft)
Bop = maksimum curvature build rate untuk drill pipa (
0
/feet)
Bwh = maximum curvatutre build rate untuk Weight DP (
0
/feet)
FN = gaya normal (lbs)