Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN I Di LABORATORIUM MEKANIKA FISIKA DASAR

M-7

ALIRAN AIR DALAM PIPA KAPILER

Disusun Oleh : WULANDHARI NIM : 24040110120034

JURUSAN FISIKA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Agustus, 2013

Perbandingan nilai viskositas air dan waktu paruh pemerosotan eksponensial aliran air dengan metode ketinggian permukaan air dan metode volume air

I. Tujuan Membandingkan nilai viskositas air metode ketinggian permukaan dengan metode volume air dan membandingkan hasil waktu paruh pemerosotan eksponensial aliran air pada metode ketinggian permukaan air yang ditinjau dari posisi pipa kapiler. II. Landasan Teori 2.1 Fluida Menurut Rizky, H.M. dan Erika, R. (2010) fluida adalah suatu zat yang dapat mengalir. Dimana fluida meliputi cairan yang mengalir di bawah pengaruh gravitasi sampai menempati daerah terendah yang mungkin dari penampungannya, dan gas yang mengembang mengisi penamungnya tanpa peduli bentuknya. Sedangkan menurut Basri (2009) fluida adalah zat yang berubah bentuk secara kontinu (terus-menerus) jika terkena tegangan geser, berapapun kecilnya tegangan geser itu. 2.2 Sifat fluida bergerak Fluida berdasarkan keadaannya yaitu fluida dalam keadaan diam dan keadaan bergerak. Sifat fluida dalam keadaan diam adalah kecepatan, kapilaritas, tekanan dan kecepatan. Sifat-sifat fluida dalam keadaan bergerak adalah sebagai berikut : 2.2.1 Kerapatan atau densitas Kerapatan adalah ukuran untuk konsentrasi zat tersebut atau perbandingan massa suatu bahan persatuan volum secara sistematis kerapatan dapat dihitung dengan persamaan (2.1). (2.1)

dimana adalah kerapatan atau densitas fluida (kg/m3) , m adalah massa fluida (kg) dan V adalah volum fluida (m3). Kerapatan air pada temperature kamar adalah 1000 kg/m3.
Tabel 2.1 Densitas Beberapa Zat Umum

Massa udara (1 atm, 200C) Ethanol Benzene Es Air besi, baja

densitas (kg/m3) 1.2 0.81 103 0.90 103 0.92 103 1 103 7.8 103

Kuningan 8.6 103 Pada Tabel 2.1 menunjukan beberapa zat umum pada suhu lingkungan, dari tabel tersebut menunjukan bahwa benda yang mempunyai massa yang besar namun volumnya kecil mempunyai nilai densitas yang tinggi. Untuk jenis benda dari golongan gas dan cairan, massa jenis kadang tidak selalu sama. Massa jenis dapat berubah-ubah sesuai dengan lingkungan dimana benda tersebut berada. Faktor lingkungan itu tentu saja adalah hal-hal yang mempengaruhi massa dan volume benda. Karena dalam suatu sistem yang tertutup massa benda selalu tetap maka besaran yang berubah dari benda tersebut adalah volum. 2.2.2 Berat jenis Berat jenis merupakan berat benda persatuan volum. Persamaan 2.2 merupakan persamaan untuk menghitung berat jenis. ..(2.2) dimana
3

merupakan berat jenis benda (N/m3) ,

merupakan kerapatan

massa (kg/m ) dan g adalah percepatan gravitasi sebesar 9.8 m/s2 . Persamaan 2.2 berat jenis sangat menguntungkan karena dalam kebanyakan kasus faktor biasanya selalu muncul. Namun demikian, dalam pembahasan pada bab ini, karena sifat natural gaya berhubungan erat dengan massa, bukan berat, maka

variabel massa jenis akan digunakan ketika membahas kasus-kasus secara analitik. 2.2.3 Aliran air dalam fluida a. Aliran air dalam pipa Aliran fluida dapat terjadi berupa aliran steady atau aliran unsteady. Aliran unsteady terjadi jika keadaan di setiap titik dalam aliran berubah menurut perubahan waktu, sedangkan aliran steady terjadi jika keadaan titik dalam aliran tidak berubah menurut perbedaan waktu. Persamaan kontinuitas merupakan penurunan dari hukum kekekalan massa. Untuk aliran mantap (steady), massa yang melalui semua bagian dalam arus fluida persatuan waktu adalah sama. Perhatikan Gambar 2.1 bahwa fluida yang masuk melalui ujung A1 hanya mengalir pada arah sepanjang pipa menuju ujung A2. Tidak ada percabangan aliran fluida. Karena massa jenis fluida adalah konstan maka jumlah massa per detik yang masuk melalui luas penampang A1 haruslah sama dengan jumlah massa yang masuk melalui luas penampang A2. Dengan demikian, berlaku m1 = m2 sehingga: ..(2.4) .(2.5) Untuk fluida inkompresible dan jika maka persamaan di atas menjadi: :

.(2.6) dimana Q adalah debit (m3/s), v adalah kecepatan (m/s) dan A adalah luas penampang (m2).

Gambar 2.1 Fluida mengalir pada sebuah pipa yang kedua ujungnya memiliki luas penampang yang berbeda.

b. Aliran pada pipa lurus Pada saat fluida bergerak melalui sebuah pipa maka akan terjadi gesekan antara fluida dan dinding pipa yang menyebabkan kecepatan aliran fluida pada setiap segmen, diukur secara konsentris, berbeda beda.

Gambar 2.2 Tanda panah sejajar pada (a) menunjukkan kecepatan alir fluida yang sama besar sedangkan pada (b), kecepatan alir fluida yang bergesekan dengan dinding pipa cenderung memiliki kecepatan yang lebih rendah.

Perhatikan Gambar 2.2 (a) adalah sistem fluida laminar ideal yang baru saja kita bahas. Gambar 2.2 (b) menunjukkan representasi aliran fluida laminar dimana gaya gesek diperhitungkan (aliran Poiseuille) fluida memiliki sifat kekentalan yang disebut viskositas. Sifat keketanlan itulah yang menyebabkan munculnya gesekan pada fluida. Viskositas fluida muncul sebagai manifestasi adanya interaksi

intramolekuler yang muncul pada fluida. Molekul-molekul fluida mempunyai pergerekan yang cenderung random. Ketika permukaan fluida bergesekan dengan permukaan benda lain, misalnya dinding pipa, maka molekul-molekul yang bersentuhan langsung dengan dinding pipa akan diperlambat geraknya karena adanya gesekan. Molekul yang diperlambat tersebut akan memperlambat molekul pada lapisan yang lebih dalam dan seterusnya. Efek perlambatan akibat gesekan ini, oleh dinding terhadap molekul dan oleh molekul terhadap molekul lainnya, semakin ke lapisan yang lebih dalam efeknya semakin kecil. Hal ini teramati pada kecepatan aliran fluida dimana aliran fluida pada pusat penampang lebih cepat dibanding aliran fluida pada dinding pipa.. Aliran fluida terbagi menjadi 3 kategori diantaranya sebagai berikut : a. Aliran laminer adalah tipe aliran dengan kecepatan rendah sehingga ketika fluida mengalir seolah-olah terdiri dari bertumpuk-tumpuk lapisan. Jika kecepatan aliran fluida sangat besar maka sifat laminaritas fluida akan hilang.

b. Aliran transisi adalah tipe aliran dengan kecepatan sedang sehingga terjadi transisi antara lain rata (laminer) menuju aliran deras (turbulen). c. Aliran turbulen adalah tipe aliran dengan kecepatan tinggi sehingga pertikelpertikel fluida bergerak dengan lintasan yang tidak teratur dan dapat mengalami rotasi.. Aliran turbulen mempunyai koefisien gesek yang lebih tinggi dibandingkan dengan aliran laminar, tingginya koefisien gesek berpengaruh secara langsung pada besarnya penurunan tekanan dan besarnya energi yang diperlukan untuk mengalirkan fluida. Sifat turbulensi salah satunya disebabkan jika aliran fluida mencapai batas kritisnya. Batas kritis yang dimaksud adalah batas kritis pola aliran laminar. Berikut ini adalah persamaan untuk menghitung viskositas : ..(2.7) dimana F adalah gaya yang bekerja pada plat (N), = koefisien viskositas fluida (Ns/m2), A = luas penampang bidang kontak fluida dan plat (m2), v = kecepatan pergeseran plat (m/s), d = tebal fluida yangterpresentasi dalam jarak antar plat (m). Dengan adanya viskostas fluida ini tentu saja menyebabkan energi fluida tidak sama pada keadaan akhir dan awalnya. Energi yang hilang ini disebabkan oleh gesekan.
Tabel 2.2 Beberapa Harga Viskositas Temperatur (0C) 0 20 40 60 Viskositas air (mPa.s) 1.8 1.0 0.85 0.60

Tabel 2.2 menunjukan nilai viskositas dari air dengan temperatur yang berbeda-beda, sehingga secara tidak langsung nilai viskositas suatu cairan bergantung pada temperaturnya. Karena temperature dapat menyebabkan perubahan volume fluida dimana perubahan tersebut berefek pada perubahan massa jenisnya sehingga semakin besar temperatur suatu cairan makan nilai

viskositasnya semakin kecil, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai viskositas suatu cairan berbanding terbalik dengan temperatur cairan tersebut. Selain itu viskositas air berkurang seiring bertambahnya temperature karena jarak antar molekul jauh lebih kecil dibandingkan pada gas, sehingga kohesi sngat kuat. Peningkatan temperatur mengurangi kohesi molekuler dan ini diwujudkan berupa berkurangnya viskositas fluida. Dalam pipa lulus aliran fluida berlaku persamaan berikut : P + y + v2 = konstan (2.8) dimana persamaan 2.8 merupakan persamaan Bernoulli, P adalah tekanan pada fluida (atm), adalah massa jenis fluida dan v adalah kecepatan aliran fluida (m/s2). Untuk menentukan apakah suatu aliran laminer, transisi atau turbulen dapat dipakai bilangan Reynolds. Karakter aliran fluida dinyatakan dengan sebuah bilangan tak berdimensi yang disebut dengan bilangan Reynolds sebagai berikut: .(2.9) dimana : Re adalah bilangan Reynolds, V merupakan kecepatan rata-rata aliran dalam pipa (m/s), D = diameter dalam pipa (m) , v = viscositas kinematis zat cair (m2/s) . Pada bilangan Reynolds ini terdapat suatu batasan sebagai berikut Re < 2300 aliran bersifat laminar, Re > 4000 aliran bersifat turbulen dan Re = 2300 - 4000 terdapat daerah turbulen transisi, dimana aliran dapat bersifat laminer atau turbulen tergantung pada kondisi pipa dan aliran. 2.3 Penurunan tekanan Penurunan tekanan atau pressure drop merupakan permasalahan yang terjadi pada suatu aliran pada aliran fluida dalam pipa. Penurunan tekanan disebabkan oleh gesekan fluida dengan bidang batas. Penurunan tekanan dapat terjadi akibat aliran fluida mengalami gesekan dengan permukaan saluran dan saat aliran melewati sambungan pipa, belokan, katup, difusor, dan sebagainya. Besar pressure drop bergantung pada kecepatan aliran, kekasaran permukaan, panjang pipa dan diameter pipa.

III. Metode 3.1. Alat : gelas ukur 100ml,meteran, pipa kapiler, stopwatch dan jangka sorong 3.2. Bahan : air 3.3. Tempat : laboratoriuum mekanik fisika dasar universitas diponegoro 3.4. Cara kerja : 3.4.1 Metode ketinggian permukaan air : 1. Siapkan alat dan bahan yang ditunjukan pada Gambar 3.1 (a), 2. Kosongkan buret dari air dengan membuka kran yang ditunjukan pada Gambar 3.1 (b), 3. Tutup kran dan isi buret dengan air dengan ketinggian tertentu (h0) lalu ukur dengan meteran yang ditunjukan pada Gambar 3.1 (c), 4. Buka kran selama 10 detik dan tutup kembali kran, lalu ukur ketinggian airnya (h10) yang ditunjukan pada Gambar 3.1 (d), 5. Ulangi percobaan tersebut sampai 110 detik. Berikut ini adalah Gambar 3.1 percobaan penentuan viskositas air dengan metode ketinggian permukaan air.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 3.1 Percobaan dengan metode ketinggian permukaan air

3.4.2 Metode volume air : 1. Siapkan alat dan bahan, 2. Tutup kran dan isi buret dengan air dengan volume tertentu (V0), 3. Buka kran selama 10 detik dantutup kembali kran, lalu ukur volume airnya (V10), 4. Ulangi percobaan tersebut sampai 110 detik. Untuk pengambilan data pada metode volum air bersamaan dengan pengambilan data pada metode ketinggian permukaan air. 3.5 Skema alat aliran air dalam pipa kapiler Berikut ini adalah Gambar 3.2 skema alat aliran air dalam pipa kapiler :

Gambar 3.2 Skema alat aliran air dalam pipa kapiler IV. Hasil 4.1 Data percobaan
Tabel 4.1 Data percobaan aliran air dalam pipa kapiler t (sekon) 0 10 20 30 40 50 60 70 Metode ketinggian permukaan air dan Metode volum air vertikal 7.98 cm horizontal 8.60 cm h (cm) V (ml) h (cm) V (ml) 75 100 66.6 100 68.5 90.4 62.6 93.8 63 79.4 60 88.4 57.6 68.8 56.4 80.4 53.4 60 52.1 73 47.5 51 48.6 65.2 43.8 42.8 44.7 58 40.3 35.4 41.8 52.8

80 90 100 110

35.8 31.6 29 25

27.8 20.6 13.6 7.4

38.8 34.6 31.6 30.2

45.8 39.2 33.6 26

Tabel 4.1 menunjukan data hasil percobaan aliran air dalam pipa kapiler dengan diameter buret sebesar 0.0153 m, diameter pipa kapiler sebesar 0.1 cm. 4.2 Hasil perhitungan koefisien viskositas air 4.2.1 metode ketinggian permukaan air a. Pipa vertikal 7.98 cm

Gambar 4.2 Grafik gradient untuk mencari

Dari grafik pada Gambar 4.2 didapatkan hasil , dari hasil perhitungan didapatkan ( waktu paruh

pemerosotan eksponensial aliran air dalam pipa kapiler vertikal 7.98 cm sebesar 71 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar b. Pipa horizontal 8.60 cm .

Gambar 4.3 Grafik gradient untuk mencari

Dari grafik pada Gambar 4.3 didapatkan hasil , dari hasil perhitungan didapatkan ( waktu paruh

pemerosotan eksponensial aliran air dalam pipa kapiler horizontal 8.60 cm sebesar 32.2 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar

4.2.2 Metode volum air a. Pipa vertikal 7.98 cm

Gambar 4.4 Grafik gradient untuk mencari

Dari grafik pada Gambar 4.4 didapatkan hasil , dari hasil perhitungan didapatkan ( waktu paruh pemerosotan

eksponensial aliran air dalam pipa kapiler vertikal 7.98 cm sebesar 92.4 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar b. Pipa horizontal 8.60 cm

Gambar 4.5 Grafik gradient untuk mencari

Dari grafik pada Gambar 4.5 didapatkan hasil , dari hasil perhitungan didapatkan ( waktu paruh

pemerosotan eksponensial aliran air dalam pipa kapiler horizontal 8.6 cm sebesar 58.7 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar 4.3 Pembahasan Ketika air masuk ke dalam buret maka fluida akan berubah bentuk sesuai ruangnya akibat adanya gravitasi bumi dan tekanan maka ketika kran di buka air akan mengalir ke bawah. Ketika air melewati sambungan dari buret ke pipa kapiler maka terjadi penurunan tekanan. Pada posisi pipa kapiler horizontal, aliran air akan melewati belokan dari buret vertikal menuju pipa kapiler horizontal, sehingga mengakibatkan maka penurunan tekanan semakin besar. Jika penurunan tekanan air semakin besar maka akan semakin besar pula kecepatan aliran air. Bila ditinjau dari posisi pipa kapiler dari metode ketinggian permukaan air didapatkan hasil sebagai berikut waktu paruh pemerosotan eksponensial aliran air dalam pipa kapiler vertikal 7.98 cm sebesar 71 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar sedangkan waktu paruh pemerosotan

eksponensial aliran air dalam pipa kapiler horizontal 8.60 cm sebesar 32.2 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar Dari hasil tersebut dapat

hasil yang berbeda waktu pemerosotan eksponensial aliran air dalam pipa kapiler vertikal 7.98 cm dan pipa kapiler horizontal 8.60 cm, hal ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu posisi pipa kapiler, pada posisi vertikal akan memiliki waktu paruh yang lebih besar di bandingkan dengan posisi horizontal, karena pada posisi horizontal penurunan tekanannya yang besar, jenis aliran air yang laminar dan lintasan aliran air yang vertikal menyebabkan kecepatan aliran air semakin meningkat hal ini mengakibatkan waktu pemerosotan eksponensial aliran air yang besar selain itu waktu pemerosotan eksponensial aliran air juga dipengaruhi oleh diameter pipa, semakin kecil diameter pipa menyebabkan debit air yang keluar semakin sedikit sehingga menyebabkan waktu pemerosotan eksponensial aliran air semakin kecil.

Bila ditinjau dari metode ketinggian permukaan air dan metode volum didapatkan hasilnya adalah sebagai berikut dari metode ketinggian permukaan air didapatkan hasil , dari hasil perhitungan didapatkan ( waktu

paruh pemerosotan eksponensial aliran air dalam pipa kapiler vertikal 7.98 cm sebesar 71 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar dari metode volum air didapatkan hasil perhitungan didapatkan ( sedangkan , dari hasil

waktu paruh pemerosotan eksponensial aliran air dalam

pipa kapiler vertikal 7.98 cm sebesar 92.4 sekon dan koefisien viskositas air pada suhu 260C sebesar Bila ditinjau dari nilai viskositas air direferensi pada suhu

260C sebesar 0.955 mPa dari kedua metode, metode ketinggian permukaan air mempunyai error sebesar 74.9 % dan metode volum air mempunyai error sebesar 128 %. Terjadi kesalahan yang sangat besar di kedua metode, tapi dari hasil yang diperoleh metode ketinggian permukaan air lebih baik dari pada metode volum. V. Kesimpulan Nilai viskositas air direferensi pada suhu 260C sebesar 0.955 mPa dari kedua metode, metode ketinggian permukaan air mempunyai error sebesar 74.9 % dan metode volum air mempunyai error sebesar 128 %. Terjadi kesalahan yang sangat besar di kedua metode, tapi dari hasil yang diperoleh metode ketinggian permukaan air lebih baik dari pada metode volum. dan membandingkan hasil waktu paruh pemerosotan eksponensial aliran air pada metode ketinggian permukaan air yang ditinjau dari posisi pipa kapiler. Dari hasil tersebut dapat hasil yang berbeda waktu pemerosotan eksponensial aliran air dalam pipa kapiler vertikal 7.98 cm dan pipa kapiler horizontal 8.60 cm yaitu waktu pemerosotan eksponensial aliran air pipa kapiler vertikal lebih cepat dibandingkan pipa kapiler horizontal. Faktor yang mempengaruhi waktu pemerosotan eksponensial aliran air yaitu posisi pipa kapiler, jenis aliran air yang laminar, lintasan aliran air, diameter pipa. VI. Daftar Pustaka Basri.2011.ANALISIS PENGARUH LAJU ALIRAN MASSA TERHADAP KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS RATA-RATA PADA PIPA KAPILER DI MESIN REFRIGERASI FOCUS 808. Jurnal Mekanikal. Vol. 2 No. 1: Januari 2011: 16 22.

Maulida, R.H. dan Erika Rani.2010.Analisis karakteristik pengaruh suhu dan kontaminan terhadap viskositas oli menggunakan rotary viscometer. Jurnal Neutrino.Vol.3 No.1 Oktober 2010. Muhajir,K.2011.Pengaruh Viskositas terhadap Aliran Fluida Gas-Cair melalui Pipa Vertikal dengan Perangkat Lunak Ansys Fluent 13.0. Jurnal Kompetensi Teknik Vol. 3, No. 1, November 2011. Salimin.2009.PENGARUH PERUBAHAN ALIRAN TERHADAP KOEFISIEN KERUGIAN. DINAMIKA Jurnal Ilmiah Teknik Mesin. Vol. 1, No. 1, November 2009. Zemansky, Sears. 1962. Fisika Untuk Universitas 1 Mekanika. Panas. Bunyi. Penerbit Bina Cipta: Bandung. VII. Lampiran 1 metode ketinggian permukaan air

a. Pipa vertikal 7.98 cm | | | |

( ( (

) ) )

b. Pipa horizontal 8.60 cm

) ( )

2 Metode volum air

a. Pipa vertikal 7.98 cm | | | |

) ( )

b. Pipa horizontal 8.60 cm

) ( )