Anda di halaman 1dari 3

Retensi urin postpartum Epidemiologi Salah satu komplikasi umum yang terjadi setelah proses persalinan, baik persalinan

pervaginam atau sectio caesarea adalahretensi urin postpartum. Pada tahun 1998, dr. Kartono dkk dari FKUI-RSCM Jakarta melansir data bahwa terdapat 17,1%kejadian retensi urin pada ibu melahirkan yang telah dipasang kateter selama enam jam dan 7,1% untuk yang dipasang selama 24 jam pasca operasi sectio caesarea.[1] Yip SK (Hongkong, 1997) melaporkan terdapat angka 14,6% untuk kasus retensi urin postpartum pervaginam.[2]Dr. Pribakti B. dari FK Universitas Lambung Mangkurat/RSUD Ulin Banjarmasin mencatat, bahwa sepanjang tahun 2002-2003terdapat sebelas kasus retensi urin post partum dari 2850 kasus (0.38%) yang terdata di RSUD Ulin Banjarmasin, dengan rincianempat kasus berada di antara kelompok usia 26-30 tahun dan paritas terbanyak adalah paritas satu (enam kasus). Selain itu,delapan kasus terjadi pada pasien persalinan pervaginam, dua kasus pada vakum ekstraksi, dan satu kasus pada sectiocaesarea.[3] , [4] Data lain datang dari Andolf dkk (1.5%) dan Kavin G. dkk (0.7%).[5] D efinisi Retensi urin menurut Stanton adalah ketidakmampuan berkemih selama 24 jam yang membutuhkan pertolongan kateter, karenatidak dapat mengeluarkan urin lebih dari 50% kapasitas kandung kemih.[6] Dr. Basuki Purnomo dari FK Unbraw mengatakan, bahwa retensi urin adalah ketidakmampuan buli-buli (kandung kencing) untuk mengeluarkan urin yang telah melampaui batasmaksimalnya. Pada ibu melahirkan, aktivitas berkemih seyogyanya telah dapat dilakukan enam jam setelah melahirkan (partus). Namun apabila setelah enam jam tidak dapat berkemih, maka dikatakan sebagai retensi urin postpartum.Pendapat dari Psyhyrembel menyatakan, bahwa retensi urin postpartum adalah ketidakmampuan berkemih secara normal 24 jamsetelah melahirkan (ischuria puerperalis). Adapun kepustakaan lain mendefinisikan retensi urin postpartum sebagai tidak adanya proses berkemih spontan setelah kateter menetap dilepaskan, atau dapat berkemih spontan namun urin sisa lebih dari 150 ml.Retensi urin postpartum apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan sistitis, uremi, sepsis, bahkan ruptur spontan vesikaurinaria. Patofisiologi Pada masa kehamilan terjadi peningkatan elastisitas pada saluran kemih, sebagian disebabkan oleh efek hormon progesteron yangmenurunkan tonus otot detrusor. Pada bulan ketiga kehamilan, otot detrusor kehilangan tonusnya dan kapasitas vesika urinariameningkat perlahan-lahan. Akibatnya, wanita hamil biasanya merasa ingin berkemih ketika vesika urinaria berisi 250-400 mlurin. Ketika wanita hamil berdiri, uterus yang membesar menekan vesika urinaria. Tekanan menjadi dua kali lipat ketika usiakehamilan memasuki 38 minggu. Penekanan ini semakin membesar ketika bayi akan dilahirkan, memungkinkan terjadinyatrauma intrapartum pada uretra dan vesika urinaria dan menimbulkan obstruksi. Tekanan ini menghilang setelah bayi dilahirkan,menyebabkan vesika urinaria tidak lagi dibatasi kapasitasnya oleh uterus. Akibatnya vesika urinaria menjadi hipotonik dancenderung berlangsung beberapa lama. Etiologi Penyebab retensi urin postpartum ada bermacam-macam, antara lain efek dari epidural anasthesia, trauma intrapartum, reflekskejang sfingter uretra, hipotonia selama hamil dan nifas, peradangan, psikogenik, dan umur yang tua.[7][8] D iagnosis Gejala retensi urin postpartum dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan pada pasien, yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut

Pemeriksaan subyektif, yaitu mencermati keluhan yang disampaikan oleh pasien yang digali melalui anamnesis yangsistematik. Dari pemeriksaan subyektif biasanya didapat keluhan seperti nyeri suprapubik, mengejan karena rasa inginkencing, serta kandung kemih berasa penuh.2. Pemeriksaan obyektif, yaitu melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk mencari data-data yang objektif mengenai keadaan pasien. Dari pemeriksaan obyektif dengan metode palpasi atau perkusi, biasanya ditemukan massadi daerah suprasimfisis karena kandung kemih yang terisi penuh dari suatu retensi urin.3. Pemeriksaan penunjang, yaitu melakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium, radiologi atau imaging (pencitraan),uroflometri, atau urodinamika, elektromiografi, endourologi, dan laparoskopi. Pada pemeriksaan laboratorium palingsering digunakan kateter dan uroflowmetri, yaitu untuk mengukur volume dan residu urin pada kandung kemih. Selainitu juga dapat digunakan cystourethrografi untuk melihat gambaran radiografi kandung kemih dan uretra. Menurut dr.Basuki Purnomo, volume maksimal kandung kemih dewasa normal berkisar antara 300-450 ml dengan volume residusekira 200 ml. Apabila dari hasil kateterisasi didapatkan volume/residu urin telah mendekati/melampaui batas normal,maka pasien dinyatakan mengalami retensi urin.[9] D aftar pustaka [1] Kartono, Santoso BI, Junisaf. Thesis perbandingan penggunaan kateter menetap selama 6 dan 24 jam paska seksiosesaria dalam pencegahan retensi urin [thesis]. Jakarta (ID): Indonesia Univ.; 1998.[2] Yip SK, Bringer G, Hin L, et al. Urinary retention in the postpartum period. Acta Obstet Gynecol Scand 1997. p. 667-72.[3] Pribakti B. Tinjauan Kasus Retensi Urin Postpartum di RSU D Ulin Banjarmasin (2002-2003). Dexa Media2006.19(2):10-3.[4] Pribakti B. Retensi Urin kronik Postpartum. Medika 2003.11(14):731-3[5] Andolf E, Losif CS, Jorgenense M, et al. Insidous urinary retention after vaginal delivery, prevalence and symptoms atfollow up in population based study. Gynecol Obstet Invest 1995; 38:51-3.[6] Stanton SL. Clinical gynecologic urology. St. Louis (UK): Mosby; 1984.[7] Jack AP, Paul CM, Norman FG. Williams Obstetric . 17th ed. Norwalk (CN): Appleton-Century_Crofts; 1985. p. 739.[8] Kermit EK, Joseph DB, Morton AS, Howard WJ, William FG, Pamela JM, et al, editors. Lange: Current Obstetri andGynecology D iagnose and Treatment 1987. 6th ed. Norwalk (CN): Lange Medical Publications; 1987. p. 218.[9] Ralph CB, editors. Current Obstetic & Gynecologic D

iagnosis & Treatment. 3rd ed. Los Altos (CA): Lange MedicalPublications; 1980. p. 438 http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/retensi-urin-postpartum