Anda di halaman 1dari 5

NAMA ALLAH

Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 22 Agustus 2006 Yakub Tri Handoko, Th. M.

Kata Allah atau TUHAN adalah kata yang paling sering muncul dalam Alkitab, selain kata sambung dan kata ganti orang. Dalam seluruh Alkitab kata Allah muncul hampir 4500 kali, sedangkan TUHAN sekitar 7800 kali. Walaupun penyebutan di atas sangat umum ditemui dalam Alkitab, namun hal itu tidak berarti bahwa konsep di baliknya mudah dipahami. Secara khusus, orang Kristen di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini sedang menghadapi isu seputar larangan penggunaan nama Allah dari penganut aliran Yeshuwa Hamasyah. Pendalaman Alkitab kali ini akan membahas beberapa isu penting seputar penyebutan nama Allah. Apakah perbedaan antara Allah (El/Elohim) dan TUHAN (Yahweh/YHWH)? Kapankah nama TUHAN mulai dikenal orang? Bagaimana menyikapi isu pelarangan penggunaan nama Allah? Pentingnya nama dalam budaya Yahudi Bagi orang Yahudi nama bukan hanya berfungsi sebagai panggilan, seperti orang modern memahaminya. Nama bagi mereka merupakan ekspresi dari kepribadian, misalnya Nabal berarti bodoh (1Sam 25:25). Tidak heran, perubahan nama dilakukan pada beberapa orang yang telah mengalami perubahan karakter. Contoh: nama Yakub yang berarti pemegang tumit (Kej 25:26) diganti dengan Israel yang berarti bergumul dengan Allah (Kej 32:28). Perubahan nama Yakub ini menandai fase penting dalam hidupnya. Ia dahulu selalu berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya sudah dijanjikan Allah (Kej 25:23), misalnya memperdayai kakaknya untuk mendapat hak kesulungan (Kej 25:2934) dan menipu ayahnya untuk mendapatkan berkat (Kej 27:1-29). Setelah peristiwa perubahan nama di Kejadian 32, Yakub tidak lagi menipu atau memperdayai orang lain. Dalam bagian lain Alkitab, nama Allah seringkali dipakai untuk mewakili seluruh Pribadi Allah. Hal ini tercermin dari ungkapan seperti larangan untuk menyebut nama Yahweh dengan sembarangan (Kel 20:7; Im 24:16; Ul 5:11), pujian untuk nama Yahweh (Mzm 17:18; 113:1). Antara Elohim dan Yahweh Dari penyelidikan arti kata Elohim dan Yahweh di Perjanjian Lama, kita bisa melihat bahwa keduanya memiliki makna yang berbeda. Kata Elohim muncul sebanyak 2602 kali. Dari 2602 kali pemunculan kata Elohim, sekitar 2570 di antaranya merujuk pada Allah yang benar, sedangkan sisanya memiliki arti beragam. Elohim bisa merujuk pada dewadewa (Kel 18:11; 20:3; 23:13; 32:23; Ul 4:7, 28; 6:14; 7:4; 10:17), malaikat/makhluk surgawi (Mzm 8:5 [KJV/NIV]) atau hakim-hakim (Kel 21:6 [KJV]). Kata Yahweh (YHWH) muncul 5321 kali, sedangkan bentuk pendek Yah muncul 50 kali. Kata ini merupakan nama diri dari Allah di Alkitab. Kata ini tidak pernah dipakai untuk allah/dewa lain. Memang beberapa orang memiliki nama yang ada unsur Yah atau YHWH-nya, tetapi mereka tidak bermaksud memposisikan diri sebagai Yahweh, misalnya

1/5

Yosua berarti Yahweh adalah keselamatan (Bil 13:8, 16), Elia berarti Allah adalah Yahweh. Apa yang kita bisa dapatkan dari penjelasan di atas? Tanpa bermaksud mengabaikan kompleksitas dan kerumitan studi tentang nama Allah (bahkan di kalangan para sarjana isu ini belum konklusif), kita secara umum bisa menyimpulkan perbedaan Elohim dan Yahweh sebagai berikut: Elohim
Hanya sebagai sebutan untuk suatu Pribadi yang dianggap Allah atau ilahi. Elohim bisa berarti Allah, ilah/dewa, malaikat. Dipakai untuk Allah bangsa Israel maupun dewadewa kafir Lebih dikaitkan dengan kebesaran (transendensi) Allah, walaupun penggunaan Elohim di beberapa tempat bermakna kedekatan juga (Kej 17:8; 26:24; 28:13; Im 20:24; Yer 23:23; 2Raj 19:10).

Yahweh
Nama diri dari Elohim-nya bangsa Israel (umat milik Allah yang benar) Hanya untuk Allah bangsa Israel atau umat Allah saja Lebih dikaitkan dengan kehadiran (immanensi) Allah. Yahweh lebih dikaitkan sebagai Allah perjanjian

Kapankah nama Yahweh mulai dikenal? Sebutan Yahweh sudah dipakai sejak Kejadian 2 (Yahweh Elohim), namun Kejadian 4:26 menyatakan bahwa orang mulai memanggil nama Yahweh pada jaman Enos. Lebih jauh lagi, Keluaran 6:2 menyatakan bahwa Allah mulai memperkenalkan diri sebagai Yahweh pada jaman Musa, sedangkan pada bapa-bapa leluhur Ia hanya memperkenalkan diri sebagai Allah yang mahatinggi (El Shaddai). Manakah yang benar? Apakah nama Yahweh baru dikenal pada jaman Enos? Musa? Atau sejak jaman Adam? Sebelum menganalisa tiga teks di atas, kita terlebih dahulu perlu memahami konsep orang Yahudi tentang mengenal Allah. Dalam Perjanjian Lama (sekitar 26 kali), ungkapan mengenal Allah bukan hanya melibatkan aspek kognitif (intelektual), tetapi juga aspek relasional (hubungan atau pengalaman). Makna ini diilustrasikan dengan jelas melalui arti kata Ibrani yada. Kata ini bisa berarti mengetahui (Kej 3:5, 7, 22; 4:9) atau bersetubuh (Kej 4:1, 17). Berdasarkan penggunaan ini kita perlu melihat apakah arti kata mengetahui atau mengenal di suatu teks bersifat intelektual saja atau sekaligus relasional. Berdasarkan pemahaman di atas, marilah kita sekarang meneliti dua teks terakhir untuk mengetahui apakah nama Yahweh sudah dikenal sejak Adam dan Hawa (Kej 2) atau pada waktu jaman Enos (Kej 4:26) atau Musa (Kel 6:2). Kejadian 4:26 Ayat ini telah menimbulkan perbedaan pendapat di antara para penafsir. Para penafsir Yahudi awal melihat kata Ibrani hukhal (LAI:TB mulai) di ayat ini dalam arti mengotori, sehingga Kejadian 4:26 dianggap sebagai permulaan dari penyembahan berhala. Pendapat ini tentu saja memiliki beberapa kelemahan serius. Frase memanggil nama Yahweh dalam kitab Kejadian seringkali dipakai untuk penyembahan/ibadah yang benar oleh para patriakh (12:8; 13:4; 21:33; 26:25). Selain itu, Kejadian 4:25-26 merupakan kontras bagi Kejadian 4:17-24: ayat 17-24 memaparkan suatu keturunan yang tidak takut terhadap Yahweh,

2/5

sedangkan ayat 25-26 menandai awal keberadaan suatu keturunan yang baik (pengganti Habel, orang yang benar itu). Young Literal Translation (YLT) menerjemahkan memanggil dengan kata benda preaching (kotbah). Sayangnya, kita tidak bisa mengetahui apa maksud terjemahan ini. Apakah yang dimaksud adalah permulaan aktivitas pemberitaan tentang Yahweh kepada orang-orang pada jaman itu? Seandainya benar, pendapat ini tampaknya tidak sesuai dengan konteks Kejadian. Ayat-ayat selanjutnya tidak mengindikasikan adanya aktivitas ini. Ide tentang menjadi berkat bagi orang lain juga baru muncul di Kejadian 12:1-3. Pendapat yang lebih tepat adalah dengan menganggap Kejadian 4:26 sebagai permulaan ibadah secara umum (public worship). Sebelum jaman Enos, orang memang sudah beribadah kepada Yahweh (Kej 4:1-5), namun ibadah tersebut sifatnya masih individualistik (perorangan). Sejak jaman Enos, orang mulai melakukan ibadah umum kepada Yahweh. Ada beberapa alasan yang mendukung pendapat di atas. Pertama, seperti sudah disinggung sebelumnya, Kejadian 4:17-26 bertujuan membandingkan dua macam keturunan, yaitu keturunan Kain yang berdosa dengan keturunan Set sebagai pengganti Habel, orang yang benar itu. Sebagaimana semua keturunan Kain yang dicatat di ayat 17-24 semuanya adalah orang berdosa, ayat 25-26 juga mencatat munculnya satu keturunan yang beribadah kepada Yahweh. Kedua, Kejadian 4:25-26 diikuti oleh pasal 5 yang berisi silsilah Adam dari Set (ayat 3) dan Enos (ayat 6). Dengan kata lain, pasal 5 merupakan penjelasan tentang keberadaan suatu keturunan yang mengikuti leluhur mereka di 4:25-26. Apalagi silsilah ini juga berakhir dengan keluarga Nuh (ayat 32), seorang yang tidak bercela di antara orang sejamannya (6:89). Ketiga, Kejadian 4:17-26 juga harus dipahami sebagai sebuah permulaan budaya manusia. Pada masa inilah orang mulai mendirikan kota (ayat 17), peternakan (ayat 20), seni (ayat 21), ketrampilan tangan (ayat 22). Sebagaimana budaya sekuler ini dimulai oleh keturunan Kain, demikian juga budaya rohani (ibadah secara umum) dimulai oleh keturunan Set atau Enos. Berdasarkan semua penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa Kejadian 4:26 tidak bertentangan dengan penyebutan nama Yahweh di Kejadian 2:1-4:16. Artinya, nama Yahweh memang sudah dikenal pada masa sebelum Enos, tetapi waktu itu ibadah kepada Yahweh belum nejadi sebuah budaya. Keluaran 6:2 Bagaimana dengan Keluaran 6:2 yang menyatakan bahwa Allah memperkenalkan diri kepada para leluhur hanya dengan nama Allah yang mahatinggi (El Shaddai, Kejadian 17:1; 28:3; 35:11; 43:14; 48:3), sedangkan nama Yahweh baru dinyatakan kepada Musa? Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu memahami pengertian mengenal Yahweh menurut Musa. Ungkapan ini muncul beberapa kali di kitab Keluaran dengan arti yang tidak hanya terbatas pada pengetahuan secara intelektual saja. Keluaran 14:4 menyatakan, orang Mesir akan tahu bahwa Akulah Yahweh, padahal di Keluaran 5:2 Firaun sudah tahu bahwa nama Allah Israel adalah Yahweh. Ucapan Firaun di Keluaran 5:2 juga penting untuk

3/5

disimak. Firaun mengatakan bahwa ia tidak mengenal Yahweh, tetapi ia bisa menyebut nama Yahweh. Hal ini menunjukkan bahwa Firaun sudah tahu ada sebutan Yahweh, namun ia tidak mengenal Yahweh secara pribadi/langsung. Dengan kata lain, Firaun belum mengalami atau melihat sifat Yahweh. Penjelasan lain kita dapatkan dari Keluaran 6:6. Dalam teks ini Allah mengatakan bahwa Musa akan mengenal bahwa Dialah Yahweh, padahal di bagian sebelumnya Allah sudah memperkenalkan diri kepada Musa sebagai Yahweh (Kel 3:14-16; 6:3). Apa yang kita bisa simpulkan dari hal ini? Musa sebenarnya sudah tahu nama Yahweh, tetapi Ia belum mengalami sifat dari Yahweh. Yahweh akan menyatakan diri sebagai Allah perjanjian yang menjadikan bangsa Israel sebagai umat-Nya, melepaskan mereka dari perbudakan dan memberikan tanah perjanjian (ayat 6-7). Inilah yang akan dilakukan Allah sehingga Musa akan tahu bahwa Dialah Yahweh. Semua penjelasan di atas menunjukkan bahwa tidak ada kontradiksi antara Kejadian 2-3, 4:26 dan Keluaran 6:2. Nama Yahweh memang sudah dikenal oleh para patriakh, tetapi mereka belum mengalami-Nya sebagai Allah perjanjian. Dengan kata lain, mereka hanya menerima janji di Kejadian 12:1-3 dan 15:13-16, namun mereka belum melihat pemenuhan janji itu. Pada jaman Musalah janji itu direalisasikan Allah. Penggunaan nama Allah bagi orang Kristen di Indonesia Aliran Yeshuwa Hamasyah pimpinan dr. Suradi mengajarkan bahwa orang Kristen dilarang menggunakan sebutan Allah. Sebagai gantinya, mereka mengharuskan orang Kristen memakai kata Elohim atau Yahweh. Pandangan ini telah diikuti oleh sebagian gereja, sehingga tidak jarang menyebabkan perpecahan di dalam gereja. Bagaimana menyikapi hal ini? Hal paling penting yang perlu diketahui adalah alasan di balik pelarangan tersebut. Menurut dr. Suradi, nama Allah yang dipakai orang Kristen di Indonesia dipinjam dari tradisi agama Islam, sedangkan nama Allah dalam agama Islam sendiri dianggap berasal dari tradisi penyembahan berhala kuno. Allah dianggap sebagai sebutan untuk illah kafir waktu itu. Untuk menyikapi isu di atas, ada beberapa hal yang perlu diketahui. Pertama, nama Allah dalam agama Islam sebenarnya bukan nama illah. Sebutan ini berarti Allah itu (the God). Arti ini merujuk pada natur pribadi yang adi kodrati. Kita bisa menyejajarkan sebutan ini dengan Elohim dalam Perjanjian Lama. Kedua, menurut sebuah prasasti kuno yang ditemukan di Arab sebelum abad ke-6 M (sebelum munculnya agama Islam), orang Kristen di sana sudah memakai sebutan ini untuk Allah yang benar. Secara linguistik penyebutan Allah di Indonesia memang berasal dari bahasa Arab (sama seperti istilah-istilah lain seperti kubur, akbar, dll.) tetapi secara konseptual penggunaan ini sudah ada sebelum agama Islam muncul. Ketiga, para penerjemah Septuaginta (LXX) maupun penulis Perjanjian Baru memiliki pandangan yang menarik untuk diperhatikan. Mereka biasanya mempertahankan pelafalan nama orang di Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, misalnya mssheh (Ibrani) menjadi Mwushs (Yunani). Ketika menerjemahkan sebutan YHWH mereka memilih untuk tidak mempertahankan nama ini. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk menerjemahkan dari

4/5

sebutan Adonai (Tuhan) dengan kurios. Sebagai catatan, bangsa Yahudi tidak berani melafalkan YHWH, sebaliknya mereka mengganti dengan Adonai. Pemakaian ini cukup menarik, karena istilah kurios sebenarnya dipinjam dari bahasa Yunani dan kata ini bisa berarti tuan atau Tuhan. Selain itu, sebutan Elohim juga diterjemahkan qeos, padahal kata ini bisa merujuk pada dewa-dewa kafir. So? Yang penting bukanlah sebutan secara verbal, tetapi konsep yang benar dalam sebutan tersebut. Lebih baik kita meminjam istilah sekuler tetapi dengan konsep yang benar, daripada kita memakai sebutan asli (Ibrani) tetapi dengan konsep yang salah. #

5/5