Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DALAM KONTEKS KESEHATAN MASYARAKAT

Di susun oleh :

ROMI RONALDO 1010333040

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS ANDALAS 2012 / 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Mengakhiri abad ke 20 dan mengawali abad ke 21 ini ditandai oleh fenomena transisi kependudukan di Indonesia. Fenomena ini memang sebagai konsekuensi pembangunan, khususnya pembangunan di bidang kependudukan. Adanya transisi demografi ini menyebabkan perubahan pada struktur penduduk,terutama struktur penduduk menurut umur. Apabila sebelumnya penduduk terbesar adalah anak-anak maka pada masa transisi ini proporsi penduduk usia remaja semakin besar. Terdapat 36.600.000 (21%dari total penduduk) remaja di Indonesia dan diperkirakan jumlahnya mencapai 43.650.000 pada awal abad ke 21. Jumlah remaja yang tidak sedikit itu merupakan potensi yang sangat berarti dalam melanjutkan pembangunan di Indonesia. Berbagai upaya untuk menggali potensi itu telah dilakukan. Seperti yang telah tercantum di dalam Garis-Garis Besar Pembangunan Indonesia bahwa pembinaan anak dan dan remaja dilaksanakan melalui peningkatan daya cipta dan daya nalar serta kreativitas, penumbuhan kesadaran hidup sehat, serta penumbuhan idealisme dan patriotism. Hal-hal tersebut adalah merupakan perwujudan pengamalan pancasila dan peningkatan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masyarakat. Melihat jumlah remaja yang cukup besar tersebut tidak tertutup kemungkinan perilaku seksual remaja pranikah dan dampak yang ditimbulkannya (dalam hal ini dampak terhadap kesehatan reproduksi) akan menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. B. Tujuan 1. Mengetahui bagaimana kehidupan remaja dan permasalahannya 2. Mengetahui perilaku seksual remaja dan kesehatan reproduksi remaja 3. Mengetahui risiko perilaku seksual remaja saat ini.

BAB II PEMBAHASAN

A. Remaja dan Permasalahannya Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologic, perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Sedangkan menurut World Health Organitation (WHO) remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsurangsur mencapai kematangan seksual, mengalami perubahan jiw dari jiwa kanak-kanak menjadi dewasa, dan mengalami perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relative mandiri. Mohammad (1994) mengemukakan bahwa remaja adalah anak berusia 13-25 tahun, dimana usia 13 tahun merupakan batas usia pubertas pada umumnya, yaitu ketika secara biologis sudah mengalami kematangan seksual dan usia 25 tahun adalah usia ketika mereka pada umumnya secara sosial dan psikologis mampu mandiri. Berdasarkan uraian diatas ada dua hal penting menyangkut batasan remaja, yaitu merekaaa sedang mengalami perubahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dan perubahan tersebut meyagkut perubahan fisik dan psikologis. 1. Aspek Perubahan pada Remaja Dua aspek pokok dalam perubahan remaja, yakni perubahan fisik dan perubahan psikologis. a. Perubahan Fisik Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat dan biasanya disebut dengan pubertas. Seperti yang dikemukakan oleh Santrock (1993) puberty is a rapid change to physical maturation involving hormonal and bodily changes that occur primarily during early

adolescence. Dengan adanya perubahan yang cepat itu terjadilah perubahan fisik yang dapat diamati seperti pertambahan tinggi dan berat badan pada remaja atau bias disebut pertumbuhan dan kematangan seksual sebagai hasil dari perubahan hormonal. Antara remaja putra dan remaja putrid kematangan seksual terjadi dalam usia yang agak berbeda. Coleman dan Hendry (1990) dan Walton (1994) mengatakan bahwa kematangan seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10,0-13,5 tahun sedangkan pada remaja putrid terjadi pada usia 9,0-15,0 tahun. Bagi anak laki-laki perubahan itu diatandai oleh perkembangan seksual, mulai tumbuhnya rambut kemaluan, perubahan suara, dan juga ejakulasi pertama melalui wet dream atau mimpi basah. Sedangkan pada remaja putrid pubertas ditandai dengan menarche (haid pertama), perubahan pada dada (mammae), tumbuhnya rambut kemaluan, dan juga perbesaran panggul. Usia menarche rata-rata juga bervariasi dengan rentang umur 10 hingga 16,5 tahun. Dari beberapa penelitian sejak 100 tahun terakhir menunjukkan bahwa ada kecendrungan semakin cepatnya remaja mengaami menarche. Pada tahun 1860 rata-rata usia remaja mengalami menarche adalah 16 tahun 8 bulan dan pada tahun 1975 umur 12 tahun 3 bulan. Adanya penurunan umur menarche tersebut disebabkan karena adanya perbaikan gizi, perbaikan pelayanan kesehatan, dan lingkungan masyarakat. Semakin cepat seseorang mengalami menarche tentu semakin cepat pula ia memasuki masa reproduksi. b. Perubahan Psikologis Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa transisi seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan pada situasi yang membingungkan, di suatu pihak ia masih kanak-kanak dan di lain pihak ia harus betingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik itu sering menyebabkan banyak tingkah laku yang aneh, canggung, dan tidak kalau dikontrol bias menmbulkan kenakalan. Masa remaja merupakan masa yang banyak terjadi perubahan fisik sebagai akibat mulai berfungsinya kelenjer endokrin yang menghasilkan berbagai hormone ang akan mempengaruhi pertumbuhan secara keseluruhan dan pertumbuhan organ seks pada khususnya.

Masa remaja sering disebut juga dengan masa pancaroba, masa krisis, dan masa pencarian identitas. Kenakalan remaja terjadi pada umumnya karena tidak terpenuhinya kebutuhankebutuhan mereka seperti kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan konfomitas, kebutuhan sesual, kebutuhan yang berhubungan dengan kebutuhan keluarga, dan kebutuhan akan identitas diri, seorang remaja akan sering membantah orangtuanya karena ia mulai mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita, serta nilai-nilai sendiri yang berbeda denga orang tuanya. Sebenarnya mereka belum mampu untuk berdiri sendiri oleh karena itu sering mereka terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang menyimpangdari aturan atau disebut dengan kenakalan remaja. Salah satu bentuk kenakalan remaja itu adalah perilaku seksual remaja pranikah. Pada masa remaja, labilnya emosi erat kaitannya dengan perubahan hormone dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitive, bahkan perbuatan nekad. Denis dan Hasol menyebutkan sebagai time of upheaval and turbulence. Ketidaksatabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin tahu dan dorogan untuk mencari tahu. Pertumbuhan kemampuan intelektual pada remaja cendrung membuat mereka bersikap kritis, tersalur melaui perbuatan-perbuatan yang sifatnya eksperimen dan eksploratif. Tindakan dan sikap seperti ini jika dibimbing dan diarahkan dengan bak tentu akan berakibat konstruktif dan berguna. Tetapi seringkali sekelompok orang cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan negative sehingga mereka terjerumus kedalam kegiatan yang tidak bermanfaat, berbahaya, bahkan destruktif. (RI, 1995) 2. Determinan Perkembangan Remaja Pada bagian ini juga penting diketahui aspek atau faktor-faktor yang berhubungan atau mempengaruhi kehidupan remaja. Keluarga, sekolah, dan tetangga merupakan aspek yang secara langsung mempengaruhi kehidupan remaja. Sedangkan struktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya lingkungan merupakan aspek yang memberikan pengaruh secara tidakl langsung terhadap kehidupan remaja. Secara garis besarnya ada dua tekanan pokok yang berhubungan dengan kehidupan remaja, yaitu internal pressure (tekanan dari dalam diri remaja) dan external pressure (tekanan dari luar diri remaja)

Tekanan dai dari dalam (internal pressure) merupakan tekanan psikologis dan emosional. Sedangkan teman sebaya, orangtua, guru, dan masyarakat merupakan sumber dari luar (external pressure). Teori ini akanmembantu kita memahami masalah yang dihadapi remaja salah satunya adalah masalah kesehatan reproduksi. B. Perilaku Seksual Remaja dan Kesehatan Reproduksi Perilaku seksual remaja terdiri dari tiga buah kata yang memiliki pengertian yang sangat berbeda satu sama lainnya. Perilaku dapat diartikan sebagai respons organism ataurespons seseorang terhadap stimulus (rangsangan) yang ada (Notoadmojo, 1993). Sedangkan seksual adalah rangsangan-rangsangan atau dorongan yangtimbul berhubungan dengan seks. Jadi perilaku seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan engan dorongan seksual yang dating baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih dini. Dan adanya persepsi bahwa dirinya memiliki risiko yang lebih rendah atau tidak berisiko sama sekali yang berhubungan dengan perilaku seksual, semakin mendorong remaja memenuhi dorongan seksualnya pada saat sebelum menikah. Persepsi seperti ini disebut youth vulnerability oleh Quadrel et. al. (1993) juga menyatakan bahwa remaja cenderung melakukan underistemate terhadap vulnerability dirinya. Banyak remaja mengira bahwa kehamilan tidak akan terjadi pada intercourse (senggama) yang pertama kali atau mereka merasa dirinyatidak akan pernah terinfeksi HIV/AIDS karena pertahanan tubuhnya cukup kuat. Mengenai kesehatan reproduksi, ada beberapa konsep tentang kesehatan reproduksi, namun dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan dua batasan saja. (ICPD dan Said an Nassim). Batasan keadaan reproduksi menurut International Conference on Population and Development (ICPD) hamper berdekatan dengan batasan sehatmdari WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah keadaan sehat jasmani, rohani, dan bukan hanya terlepas dari ketidakhadiran penyakit atau kecatatan semata, yang berhubungan dengan system, fungsi, dan proses reproduksi (ICPD. 1994). Beberapa tahun sebelumnya Raid an Nassim mengemukakandefinisi kesehatan reproduksi mencakup kondisi dimana wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks secara aman, dengan atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan, dan

bila kehamilan diinginkan, wanita dimungkinkan menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan anak yang sehat serta di dalam kondisi siap merawatanak yang dilahirkan . (PLP, 1998) C. Risiko Perilaku Seksual Berisiko Remaja Saat Ini Faktor-faktor yang saling terkait kondisi saat ini menyebabkan perilaku seksual remaja semakin menggejala akhir-akhir ini. Namun begitu, banyak remaja tidak mengindahkan bahkan tidak tahu dapak dari perilaku seksual mereka terhadap kesehatan reproduksi baik dalam waktu yang cepat maupun dalam waktu yang lebih panjang. Sehubungan dengan definisi kesehatan reproduksi yang telah dibicarakan terdahulu, berikut ini akan dibahas mengenai dampak perilaku seksual remaja pranikah terhadap kesehatan reproduksi. 1. Hamil yang Tidak Dikehendaki (Unwanted Pregnancy) Unwanted Pregnancy (kehamilan yang tidak dikehendaki) merupakan salah satu akibat dari perilaku seksual remaja. Unwanted Pregnancy membawa remaja pada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau menggugurkannya. Menurut Khisbiyah (1995) secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan itu, yakni faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal meliputi, intensitas dan komitmen pasangan remaja untuk menjalin hubungan jangka panjang dalam perkawinan, sikap dan persepsi terhadap janin yang dikandung, serta persepsi subjektif mengenai kesiapan psikologis dan ekonomi untuk memasuki kehidupan perkawinan. b. Faktor eksternal meliputi, sikap dan penerimaan kedua orangtua kedua belah pihak, penilaian masyarakat, nilai-nilai normative dan etis dari lembaga keagamaan, dan kemungkinan-kemungkinan peruban hidup di masa depan yang mengikuti pelaksanaan keputusan yang akan dipilih. Banyak remaja putri yang mengambil keputusan untuk melanjutkan kehamilannya dan konsekuensinya adalah melahirkan anak dalam usia muda. Hamil dan melahirkan di usia remaja merupakan salah satu faktor risiko kehamilan yang tidak jarang membawa kematian ibu. Selain itu, kehamilan di usia muda juga berdampak pada anak yang dikandung. Kejadian

berat bayi lahir rendah (BBLR) dan kematian perinatal sering dialami oleh bayi-bayi yang lahir dari ibu-ibu usia muda. Tidak sedikit juga dari mereka yang mengalamai kehamilan yang tidak dikehendaki memutuskan untuk melakukan aborsi yang juga akan berisiko untuk kematian ibu. 2. Penyakit Menular Seksual (PMS) HIV/AIDS Dampak lain dari perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah tertular PMS termasuk HIV/AIDS. Seringkali remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman. Adanya kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular PMS/HIV, seperti sifilis, gonore, herpes, klamidia, dan AIDS. Dari data yang ada menunjukkan bahwa diantara penderita atau kasus HIV/AIDS, 53% berusia antara 15-29 tahun. Tidak terbatasnya cara melakukan hubungan kelamin pada genitalgenital saja (bias juga orogenital) menyebabkan penyakit kelamin tidak saja terbatas pada daerah genital, tetapi dapat juga pada daerah-daerah ekstra genital. 3. Psikologis Dampak lain ari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan dengan kesehatn reproduksi adalah konsekuensi psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan atau tepatnya korban utama dalam masalah ini. Kodrat untuk hamil dan melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam pandangan masyarakat, remaja putrid yang hamil merupakan aibkeluarga yang secara telak mencoreng nama baik keluarga dan ia adalah si pendosa yang melanggar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman sosial ini tidak jarang meresap dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putrid tersebut. Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang disertai rasa benci dan marah baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan nasib membuat kondisi secara fisik, sosial, dan mental yang berhubungan dengan system, fungsi, dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi. (PLP, 1996)

DAFTAR PUSTAKA

PLP, D. P. D. 1996. Pedoman Progam Pencegahan dan Pemberantasan PMS termasuk AIDS di Indonesia Jakarta, Depkes RI. PLP, D. P. D. 1998. Laporan bulanan HIV/AIDS sampai bulan April 1998, Jakarta, Depkes RI. RI, D. 1995. kumpulan materi kesehatan reproduksi.