Anda di halaman 1dari 14

Tugas makalah AsKEP enchepalitis

OLEH : Dosen Pembimbing :

PRODI S1 KEPERAWATAN STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-NYA, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah mata kuliah tentang enchepalitis tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini baik berupa ide, pemikiran, dan lain sebagainya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Yang mana makalah ini merupakan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mengbangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Terimakasih.

Padang, 06 october 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. Pentebab tersering dari ensefalitis adalah virus kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang disebabkan oleh enterovarius, mumps, dan adenovirus. Ensefalitis bias juga terjadi pascainfeksi campak, influenza, varicella, dan pascavaksinasi pertusis. Klasifikasi ensefalitis didasarkan pada factor penyebabnya. Ensefalitis suparatif akut dengan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, Streptococus, E.Colli, Mycobacterium, dan T.Pallidium. Sedangkan ensefalitis virus penyebab adalah virus RNA (Virus Parotitis), virusmorbili, virus rabies, virus Rubela, virus dengue, virus polio, cockscakie A dan B, herpes zoster, herpes simpleks, dan varicella.

B. Tujuan Umum Pembuatan Makalah 1. Tujuan Umum : Membantu mahasiswa agar mampu memahami encefalitis, baik secara perorangan maupun berkelompok. 2. Tujuan Khusus : a. Membantu mahasiswa agar mampu memahami laporan pendahuluan mengenai ensefalitis b. Membantu mahasiswa agar mampu memahami asuhan keperawatan ensefalitis c. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang ensefalitis d. Akademik, memperkaya khasanah keilmuan kesehatan umumnya, dan bidang kesehatan persarafan khususnya.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme (Hassan, 1997). Pada encephalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis. Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent. Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. Penyebab tersering dari ensefalitis adalah virus kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang disebabkan oleh enterovarius, mumps, dan adenovirus. Ensefalitis bias juga terjadi pascainfeksi campak, influenza, varicella, dan pascavaksinasi pertusis. Klasifikasi ensefalitis didasarkan pada factor penyebabnya. Ensefalitis suparatif akut dengan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, Streptococus, E.Colli, Mycobacterium, dan T.Pallidium. Sedangkan ensefalitis virus penyebab adalah virus RNA (Virus Parotitis), virusmorbili, virus rabies, virus Rubela, virus dengue, virus polio, cockscakie A dan B, herpes zoster, herpes simpleks, dan varicella.

B. Etiologi Berbagai macam mikroorganisme dapat menimbulkan Ensefalitis, misalnya bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirochaeta, dan virus. Bakteri penyebab Ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E. Coli, M. Tuberculosa dan T. Pallidum. Encephalitis bakterial akut sering disebut encephalitis supuratif akut (Mansjoer, 2000). Penyebab lain adalah keracunan arsenik dan reaksi toksin dari thypoid fever, campak dan chicken pox/cacar air. Penyebab encephalitis yang terpenting dan tersering ialah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak, atau reaksi radang akut infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu. C. Tanda dan Gejala 1. Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia 2. Kesadaran dengan cepat menurun 3. Muntah

4. Kejang-kejang, yang dapat bersifat umum, fokal atau twitching saja (kejang-kejang di muka) 5. Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya (Hassan, 1997 6. Perubahan perilaku 7. Gelisah Inti dari sindrom Ensefalitis adalah adanya demam akut, dengan kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma, aphasia, hemiparesis dengan asimetri refleks tendon dan tanda Babinski, gerakan involunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otototot wajah. D. Patofisiologi Virus masuk tubuh klien melalui kulit, saluran napas, dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara : 1. Lokal : virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lender permukaan atau organ tertentu. 2. Penyebaran hematogen primer : virus masuk ke dalam darah, kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut. 3. Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di perukaan selaput lender dan menyebar melalui system persarafan. Setelah terjadi penyebaran ke otak terjadi manifestasi klinis ensefalitis. Masa prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah nyeri tenggorokan, malais, nyeri ekstremitas, dan pucat. Suhu badan meningkat, fotofobia, sakit kepala, muntah-muntah, letargi, kadang disertai kakukuduk apabila infeksi mengenai meningen. Pada anak, tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan, pendengaran, bicara, serta kejang. Gejala lain berupa gelisah, rewel, perubahan perilaku, gangguan kesaadaran, kejang. Kadang-kadang disertai tanda neurologis fokal berupa afassia, hemiparesis, hemiplagia, ataksia, dan paralisis saraf otak.

E. Manifestasi Klinis Masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari, ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, dan pucat. Kemudian di ikuti tanda ensefalitis yang berat ringannya tergantung dari ditribusi dan luas lesi pada neuron. Gejala tersebut berupa :
3

a. Gelisah b. Iritabel c. Streming attack d. Perubahan perilaku e. Gangguan kesadaran f. Kejang Kadang disertai tanda neurologis fokal berupa : a. Afasia b. Hemiparesia c. Hemiplagia d. Ataksia e. Paralisis saraf otak Tanda rangsangan meningela dapat terjadi bila peradangan mencapai meningen. Ruam kulitkadang di dapatkan pada beberapa tipe ensefalitis misalnyapada enterovirus dan varisela zoster

F. Komplikasi Komplikasi pada ensefalitis berupa : 1. Retardasi mental 2. Iritabel 3. Gangguan motorik 4. Epilepsi 5. Emosi tidak stabil 6. Sulit tidur 7. Halusinasi 8. Enuresis 9. Anak menjadi perusak dan melakukan tindakan asosial lain.

G. Pemeriksaan Penunjang 1. Lumbal pungsi (pemeriksaan CSS) a. Cairan warna jernih. b. Glukosa normal

c. Leukosit meningkat d. Tekanan Intra Kranial meningkat


4

2. CT Scan/ MRI Membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel, hematom, daerah cerebral, hemoragic, atau tumor 3. EEG a. Terlihat aktivitas listrik (gelombang) yang menurun, sosial dengan tingkat kesadaran yang menurun b. Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difu (aktivitas lambat bilateral)

H. Penatalaksanaan 1. Isolasi, Isolasi bertujuan mengurangi stimuli/rangsangan dari luar dan sebagai tindakan pencegahan. 2. Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur Obat yang mungkin dianjurkan oleh dokter : a. Ampicillin : 200 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis b. Kemicetin : 100 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis c. Bila encephalitis disebabkan oleh virus (HSV), agen antiviral acyclovir secara signifikan dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas HSV encephalitis. Acyclovir diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/kgBB per hari dan dilanjutkan selama 10-14 hari untuk mencegah kekambuhan (Victor, 2001). d. Untuk kemungkinan infeksi sekunder diberikan antibiotika secara polifragmasi. 3. Mengurangi meningkatnya tekanan intracranial, manajemen edema otak a. Mempertahankan hidrasi, monitor balans cairan; jenis dan jumlah cairan yang diberikan tergantung keadaan anak. b. Glukosa 20%, 10 ml intravena beberapa kali sehari disuntikkan dalam pipa giving set untuk menghilangkan edema otak. c. Kortikosteroid intramuscular atau intravena dapat juga digunakan untuk menghilangkan edema otak. 4. Mengontrol kejang Obat antikonvulsif diberikan segera untuk memberantas kejang. Obat yang diberikan ialah valium dan atau luminal. a. Valium dapat diberikan dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali b. Bila 15 menit belum teratasi/kejang lagi bia diulang dengan dosis yang sama c. Jika sudah diberikan 2 kali dan 15 menit lagi masih kejang, berikan valium drip dengan dosis 5 mg/kgBB/24 jam.

5. Mempertahankan ventilasi Bebaskan jalan nafas, berikan O2 sesuai kebutuhan (2-3l/menit). 6. Penatalaksanaan shock septik 7. Mengontrol perubahan suhu lingkungan

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN 1. Biodata Umur : Penyakit ensefalitis dapat menyerang semua usia, insiden tertinggi terjadi pada anak-anak Jenis kelamin Bangsa : Penyakit ensefalitis bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan : Umumnya untuk penyakit ensefalitis tidak mengenal suku bangsa, ras 2. Keluhan utam Keluhan utama pada enchepalitis yaitu demam dan kejang. 3. Riwayat kesehatan sekarang Demam, kejang, sakit kepala, pusing, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, pucat, gelisah, perubahan perilaku, dan gangguan kesadaran. 4. Riwayat kesehatan dahulu Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan. 5. Riwayat penyakit keluarga Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus,Streptococcus , E , Coli ,dll. B. Pemeriksaan fisik Setelah melakukan anmnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan focus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien. Pemeriksaan fisik dumulai dengan memeriksa tanda-tanda vital (TTV) pada klien ensefalitis biasanya didapatkan peningkatn suhu tubuh lebih dari normal 39-49C. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses inflamasi dari selaput otak yang sudah menggangu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Apabila disertai peningkatan frekuensi pernapasan sering berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi pada system pernapasan

sebelum mengalami ensefalitis. TD biasanya normal atau meningkat berhubungan dengan tanda-tanda peningkata TIK. 1. (Breathing) 2. Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan yang sering didapatkan pada klien ensefalitis yang sering disertai adanya gangguan pada system pernapasan. Palpasi biasanya taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi napas tambahan sperti ronkhi pada klien ddengan ensefalitis berhubungan akuulasi sekreet dari penurunan kesadaran. 3. B2 (Blood) Pengkajian pada system kardiovaskular didapatkan renjatan (syok) hipovolemik yang sering terjadi pada klien ensefalitis. 4. B3 (Brain) Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada system lainnya. 5. B4 (Bladder) Pemeriksaan pada sistemperkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume keluaran urine, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal. 6. B5 (Bowel) Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien meningitis menurun karena anoreksia dan adanya kejang. 7. B6 (Bone) Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas klien secara umum. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien lebih banyak dibantu orang lain. C. Diagnosa Keperawatan Yang Sering Terjadi 1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun. 2. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umu. 3. Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah. 4. Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
8

5. Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.

N o 1

Diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasional

Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun

tidak terjadi infeksi Kriteria hasil: Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen

Berikan antibiotika sesuai menurunkan resiko px

indikasi
Abs. suhu secara teratur

terkena infeksi sekunder mengontrol penyebaran Sumber infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
Deteksi dini tanda-

dan tanda-tanda klinis dari infeksi.


Pertahanan teknik aseptic

dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.

tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia


Obat yang dipilih

tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.


Berikan pengamanan Melindungi px jika

Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum

Tidak terjadi trauma Kriteria hasil : Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain

pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
Pertahankan tirah baring

terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit.


Menurunkan resiko

terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.


Merupakan indikasi

dalam fase akut.


Kolaborasi : Berikan obat

untuk penanganan dan pencegahan kejang.


deteksi diri terjadi

sesuai indikasi seperti delantin, valum


Abservasi tanda-tanda

kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan


Dengan diberi

vital 3 Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang Tidak terjadi kontraktur Ktiteria hasil : Tidak terjadi kekakuan sendi Dapat menggerakkan anggota tubuh
Berikan penjelasan pada

ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik , terjadi kekacauan sendi.


Lakukan latihan pasif

penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau membantu program perawatan


Melatih melemaskan

mulai ujung ruas jari secara bertahap


Lakukan perubahan

otot-otot, mencegah kontraktor.


Dengan melakukan

posisi setiap 2 jam


Observasi gejala

perubahan posisi diharapkan peR/usi ke jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan tubuh .
Dengan melakukan

kaerdinal setiap 3 jam


Kolaborasi untuk

pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi

observasi dapat melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera
Diberi dilantin /

valium ,bila terjadi kejang spastik ulang

10

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin Arif.2008.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta: Salemba Medika. Rahman M.1986.Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba.Jakarta. Tarwoto, dkk.2007.Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan.Jakarta: Sagung Seto.

11