Anda di halaman 1dari 3

Fluorisis merupakan keadaan ireversibel yang disebabkan oleh pemasukan fluor yang berlebihan selama periode perkembangan gigi.

Fluor menyebabkan fluorosis dengan merusak sel pembentuk email yaitu ameloblas sehingga terjadi gangguan mineralisasi gigi dengan terbentuknya porus pada permukaan email. Terjadi perubahan struktur dari Kristal email. Meskipun sel tubuh lain seperti tulang dapat mengalami gangguan fungsi oleh pemakaian fluor yang berlebih, namun organ email merupakan bagian tubuh yang paling sensitive terhadap efek toksik dari fluor.Makin tinggi derajat fluorosis, risiko karies juga meningkat karena adanya ceruk dan hilangnya lapisan permukaan email.1 Klasifikasi fluorosis1 : Sangat ringan : opak putih kurang dari 25% Ringan : opak putih pada 50% email Sedang : opak putih sampai warna kuning cokelat pada seluruh permukaan Berat : opak putih, ceruk, cokelat, lunak, dan korosif

Mottled enamel (enamel fluorosis,dental fluorosis) adalah salah satu bentuk dari hipoplasia enamel yaitu berupa berkurangnya jumlah matriks pembentuk enamel akibat adanya gangguan pada ameloblas selama tahap formatif perkembangan gigi, yang terjadi baik pada gigi desidui maupun gigi permanen. Penyebab terjadinya mottled enamel adalah fluorosis yaitu masuknya fluor dengan konsentrasi yang tinggi ke dalam tubuh baik secara sistemik dan atau local hingga mencapai lebih dari 1 ppm fluoride. Gambaran klinis mottled enamel berupa kerusakan pada permukaan enamel dimulai dari adanya garis-garis putih kecil pada permukaan enamel sampai keadaan yang lebih parah yaitu enamel menjadi putih seperti kapur dan opak yang akhirnya gigi menjadi mudah patah2. Pada fluorosis gigi, manifestasi yang tampak dapat merupakan bercak putih atau opak (hipokalsifikasi), ceruk (lubang lekukan) dengan hilangnya bentuk normal (hipoplasia) atau keduanya1. Fluorosis adalah perubahan yang tampak pada gigi yang disebabkan oleh konsumsi fluor yang berlebihan pada masa awal ketika anak-anak sedang tumbuh gigi. Kelainan yang disebabkan oleh terlampau banyak menelan fluor pada masa pembentukan gigi (bayi sampai umur 12 tahun) tersebut disebut mottled enamel yaitu timbulnya bercak berwarna putih buram atau cacat pada email sehingga email sangat mudah terserang karies3. Perlu diperhatikan, pasta gigi yang digunakan untuk anak dan dewasa berbeda. Perbedaannya terletak pada kandungan fluoride-nya. Pasta gigi yang aman untuk anak-anak mengandung fluoride sebanyak 250-500 ppm, dengan catatan jangan sampai tertelan oleh anak. Sedangkan untuk dewasa kandungan fluoride maksimum adalah 1000 ppm4. Pada pasta yang banyak dipasarkan saat ini adalah pasta gigi yang mengandung fluor yang tinggi, bahkan pada pasta gigi anak. Padahal, anak-anak yang berusia di bawah empat tahun seharusnya menggunakan pasta gigi yang sama sekali tidak mengandung fluor. Pasta gigi anak yang beredar mengandung fluor yang hampir sama jumlahnya dengan pasta gigi orang dewasa, sehingga dapat mengakibatkan resiko terjadinya fluorosis gigi yang tinggi pada anak, apalagi fluorosis hanya dapat terjadi pada anak-anak atau pada masa pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi4. Fluoride yang dipercaya berguna mencegah gigi berlubang membahayakan kesehatan kalau tertelan.Kekhawatiran pada pasta gigi anak yang mengandung fluoride karena besar kemungkinan mereka menelannya saat menyikat gigi, karena mereka belum mampu mengeluarkan hasil kumurnya.Beberapa anak kadang menikmati rasa dari pasta gigi. Namun

harus diketahui bahwa terlalu banyak menelan flouride dari pasta gigi berpotensi menyebabkan noda permanen di gigi yang disebut dengan fluorosis4. Fluorosis ini akan menyebabkan berbagai noda yang berbeda pada gigi seperti garis-garis kuning, coklat atau bintik. Anak-anak berusia 1-4 tahun rentan terkena kondisi ini, karena umumnya mereka menelan pasta gigi yang digunakannya. Pada kasus yang lebih serius bisa menyebabkan bintik hitam dan abu-abu bahkan hingga lubang. Noda akibat fluorosis ini umumnya akan terus ada selama hidup seseorang4. Selain itu jumlah flouride dalam tubuh yang terlalu banyak bisa menyebabkan terjadinya keracunan dan jika terus menerus bisa menyebabkan kerusakan organ tubuh. Menelan sejumlah besar pasta gigi secara teratur bisa menyebabkan nyeri lambung dan kemungkinan mengakibatkan penyumbatan usus. Sementara itu gejala tambahan lain yang bisa terjadi adalah4: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kejang-kejang Diare Kesulitan bernapas Terasa asin atau seperti sabun di mulut Detak jantung yang melambat Gemetar dan mengalami shock Mual dan muntah Tiba-tiba merasa kelemahan

Bercak putih atau white spot adalah lesi awal yang akan terlihat secara mikroskopis, namun kemudian akan terlihat jelas di email. 1. Ciri dan Karakteristik Kehilangan translusensi normal dari enamel dengan bercak putih, secara partikular ketika terdehidrasi. Permukaan rusak/retak di bagian fit dan fissure secara particular. Peningkatan porositas secara partikular di permukaan bawah yg berpotensi meningkatkan noda. Penurunan densitas permukaan bawah, terdetek secara radiografik atau transiluminasi. Potensi utk remineralisasi dg peningkatan resisten terhadap perubahan asam selanjutnya secara partikular (remineralisasi treatments).

Mekanisme perubahan warna akibat fluorosi. Asupan fluor dalam jumlah banyak selama periode pembentukan gigi akan mengganggu ameloblas dan menyebabkan email yang sedang terbentuk menjadi hipoplasia (berkurangnya sel-sel ameloblast) Terjadi pengurangan depositdeposit mineral (hipokalsifikasi) dan disertai dengan perkembangan (maturasi) gigi. Setelah gigi erupsi, email yang porus itu secara perlahan akan berubah warna. Perubahan warnanya bisa

bervariasi, mulai dari putih seperti kapur sampai ke kuning muda dan coklat sampai hitam, bergantung pada derajat fluorosisnya5.

DAFTAR PUSTAKA 1. Sudiono, Janti.Gangguan Tumbuh Kembang Dentokraniofasial.2008. Jakarta: EGC 2. Harahap, Sri C. 2008. Mottled Enamel .USU Library 2008-2012 3. Dwi D, Bintari. Hubungan mengkonsumsi ikan laut dan air minum yang berfluor dengan fluorosis gigi anak nelayan kelas III SDN gebang mekar kecamatan gebang kabupaten direbon.Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.2011 4. Malau, Irma Merary. Fluorosis Pada Anak Akibat Kelebihan Fluor Dalam Pasta Gigi Anak.2009 5. Walton, Richard E. Prinsip & Praktek Ilmu Endodonsia. 2008. Jakarta:EGC, Ed.3

Anda mungkin juga menyukai