Anda di halaman 1dari 4

1. SEBAB KEMATIAN Banyak faktor penyebab dari kematian seseorang.

Seseorang bisa mengalami kematian yang diakibatkan oleh adanya perdarahan (syok hipovolemik), merusak organ vital, emboli, vagal refleks, dan aksfiksial. Pada kasus ini sebab kematian belum bisa dipastikan, karena belum dilakukan pemeriksaan dalam, namun masih dapat dimungkinkan kematian dikarenakan perdarahan akibat luka robek kepala atau adanya patah dasar tulang tengkorak. Cara kematian Untuk menentukan cara kematian dokter lebih bersifat membantu, andaikata dalam pemeriksaan mayat dapat diperkirakan pada pemeriksaan di tempat kejadian perkara ( !P). "an ini sebenarnya lebih merupakan tugas kepolisisan. #ara kematian digolongkan menjadi kematian $ajar (penyakit, natural death), kematian karena kecelakaan (accidental death), kematian bunuh diri (suicide), kematian oleh dibunuh (homicidal) . Pada kasus ini terdapatnya luka robek pada kepala, luka lecet serut pada beberapa tempat, patah tulang dahi dan patah tulang pipi, serta kemungkinan adanya patah dasar tulang tengkorak. "ari distribusi luka dan adanya beberapa tulang yang patah menandakan kemungkinan mayat ini meninggal karena kematian karena kecelakaan (accidental death). %%. &'! U !()' %'* %%%. %"(* %+%!'S%

IV. Medikolegal

Setiap dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jena,ah $ajib melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan penyidik dalam Surat Permintaan -isum et repertum (SP-). 'pabila seorang dokter secara sengaja tidak melakukan pemeriksaan jena,ah yang diminta oleh penyidik dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama . lamanya / bulan (pada kasus pidana) dan 0 bulan (pada kasus lainnya) hal ini tertulis berdasarkan pasal 112 !U3P.

"engan demikian seorang dokter yang mendapatkan SP- dari penyidik $ajib melaksanakan ke$ajibannya tersebut.45 Setelah dokter menerima SP- dari penyidik, dokter harus segera melakukan pemeriksaan luar pada jena,ah tersebut. 6ika pada SP- yang diminta adalah pemeriksaan bedah jena,ah, maka dokter pada kesempatan pertama hanya perlu melakukan pemeriksaan luar jena,ah saja. Selanjutnya dokter baru boleh melakukan pemeriksaan dalam (otopsi) setelah keluarga korban datang dan menyatakan kesediannya untuk dilakukannya otopsi terhadap korban. Penyidik dalam hal ini berke$ajiban untuk menghadirkan keluarga korban dalam 1 7 12 jam sejak mayat diba$a ke dokter, le$at tenggang $aktu tersebut apabila keluarga tidak ditemukan maka dokter dapat langsung melakukan otopsi tanpa i,in dari keluarga korban (dalam pasal 482 !U3'P).45 "alam !itab Undang9udang 3ukum Pidana (!U3P) dikenal luka kelalaian atau

karena disengaja. :uka yang terjadi ini disebut kejahatan terhadap tubuh atau Misdrijven Tegen Het Lijf. !ejahatan terhadap ji$a ini diperinci menjadi 1 yaitu kejahatan doleuse (dilakukan dengan sengaja), dan kejahatan culpose (dilakukan karena kelalaian atau kejahatan). 6enis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam B'B ;;, pasal9 pasal 854 s<d 85=. 6enis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian diatur dalam pasal 85/, 80>, dan 804 !U3P. "alam pasal9pasal tersebut dijumpai kata9kata ?mati, menjadi sakit sementara, atau tidak dapat menjalankan pekerjaan sementara yang tidak disebabkan secara langsung oleh terdak$a akan tetapi karena salahnya, diartikan sebagai kurang hati9hati, lalai, lupa dan amat kurang perhatian.45 Rahasia Kedokteran "alam rahasia kedokteran seorang dokter $ajib menyimpan rahasia kedokteran seperti yang telah diatur dalam PP. *o. 4> tahun 4/00. "alam peraturan tersebut tidak dibedakan antara rahasia jabatan kedokteran ataukah rahasia pekerjaan kedokteran. etapi dalam penjelasannya ada kecenderungan bah$a yang diatur adalah kedua . duanya, karena subjek delik yang diancam dalam pasal 811 !U3P adalah mereka yang membuka rahasi pekerjaan maupun rahasia jabatan. Pada dasarnya rahasia kedokteran harus tetap disimpan $alaupun pasien tersebut telah meninggal. 6adi rahasia itu harus ikut dikubur bersama pasien. @ahasia kedokteran merupakan hak pribadi pasien yang tidak di$ariskan pada ahli $arisnya. Sehingga para ahli $aris itu juga tidak berhak mengetahui rahasi pribadi pasien. 3ak ini telah diatur dalam pasal

4A> !U3'P, yang menentukan bah$a mereka yang di$ajibkan meyimpan rahasia pekerjaan atau jabatan dapat minta dibebaskan dari ke$ajiban untuk memeberi keterangan sebagai saksi. 'da beberapa keadaan dimana pemegang rahasia kedokteran dapat membuka rahasia tersebut tanpa terkena sanksi hukum, hal itu tercantum dalam beberapa pasal antara lain pasal 2=, 5> dan 54 !U3P. Pasal 4 K!"P Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana. Pasal #$ K!"P Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang . undang tidak dipidana. Pasal #1 K!"P (4) Barang siapa melakukan perbuatan untuk melakukan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang ber$enang tidak dipidana. (1) Perintah jabatan tanpa $e$enang tidak menyebabkan hapusnya pidana kecuali jika yang diperintah, dengan iktikad baik mengira bah$a perintah diberikan dengan $e$enang dan pelaksanaanya termasuk dalam lingkungan pekerjaannya. ujuan dilakukannya pemeriksaan ini untuk membuat suatu hokum menjadi terang. Sesuai dengan pasal 488 !U3'P dan pasal 482 !U3'P. Pasal 1%% K!"AP (4) "alam hal ini penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang di duga karena peristi$a yang merupakan tindak pidana, ia ber$enang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (1) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. (8) )ayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, di lak dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat.

Pasal 1%4 K!"AP (4) "alam hal sangat diperukan dimana untuk kepentingan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik $ajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. (1) "alam hal keluarga keberatan, penyidik $ajib menerangkan dengan sejelas . jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukan pembedahan tersebut. (8) 'pabila dalam $aktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 488 ayat (8) undang . undang ini. 'dapun kegunaan dari pemeriksaan ini sebagai salah satu alat bukti yang sah, seperti tercantum dalam pasal 4=2 !U3'P. Pasal 1 4 K!"AP (4) 'lat bukti yang sah a. !eterangan saksiB b. !eterangan ahliB c. SuratB d. PetunjukB e. !eterangan terdak$a. (1) 3al yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan. "alam kasus ini, mayat tersebut tidak diketahui identitasnya, sebab dan cara kematian belum jelas, kurang dari 1712 jam korban belum diambil oleh keluarga maka tidak perlu dilakukan otopsi seperti yang tertera pada pasal 482 !U3'P. Bah$a penyidik dalam hal ini berke$ajiban untuk menghadirkan keluarga korban dalam 1 7 12 jam sejak mayat diba$a ke dokter, le$at tenggang $aktu tersebut apabila keluarga tidak ditemukan maka dokter dapat langsung melakukan otopsi tanpa i,in dari keluarga korban.