Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Sejalan dengan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, maka sejak

bergulirnya reformasi telah terjadi berbagai pergeseran mendasar dalam sistem pemerintahan daerah dari sentralistik menjadi desentralistik dengan memberikan lebih besar kewenangan dan tanggung jawab kepada masing-masing daerah untuk melaksanakan kegiatan pembangunan di daerah. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah (PKPD) merupakan penguatan adanya keinginan yang kuat dari segenap komponen bangsa untuk mewujudkan otonomi daerah yang nyata, luas, dan bertanggung jawab, kedua Undang-Undang tersebut menjadi prinsip dasar awal untuk memulai suatu revitalisasi kegiatan pembangunan di daerah dengan semangat yang kompetitif (Soetarto E, 2009). Konsekuensi dari adanya Undang-Undang tersebut, maka masing-masing pemerintah daerah baik tingkat propinsi atau kabupaten / kota akan berupaya secara maksimal mengerahkan semua sumberdaya yang ada di daerah untuk menggerakkan roda perekonomian daerah dalam upaya meningkatkan

kesejahteraan masyarakat secara efisien, efektif, transparan, dan mempunyai akuntabilitas sesuai dengan prinsip tatakelola yang baik atau 'Good Governance'. Good Governance yaitu sistem penyelengaraan pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab, dan profesional yang ditandai adanya aparat birokrasi pemerintah yang senantiasa mengedepankan terpenuhinya akuntabilitas dan responsibilitas publik (Islamy, 1989). Berkaitan dengan hal tersebut, perlu adanya transformasi dan perubahan pola pikir di jajaran birokrasi pemerintah daerah dimana berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 dijelaskan bahwa fungsi utama dari pemerintah daerah adalah sebagai agent of development telah berubah menjadi publick servant atau pelayanan masyarakat dengan adanya otonomi daerah. Sebagaimana telah kita diketahui bahwa pelayanan publik merupakan aspek pelayanan yang paling dekat dan menyentuh masyarakat, sehingga dapat dikatakan bahwa pelayanan publik sebagai salah satu tolok ukur kredibilitas

penyelenggaraan pemerintahan karena kualitas pelayanan yang baik dapat memberikan manfaat posistif bagi penyelenggara pemerintahan. Berdasarkan KepMenPAN No. 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik, yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah: segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penyelenggara pelayanan publik adalah Instansi Pemerintah di Pusat, Daerah, dan Lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk penyediaan /pemberian barang/jasa. Berkaitan dengan kegiatan pelayanan publik, Pemerintah Kota Bogor melalui Sekretariat Daerah melakukan kerjasama dengan Lembaga Studi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (PSP3) Lembaga Kajian Dan

Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor sejak tahun 2006 telah melakukan kegiatan bersama 'Kajian Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Kota Bogor' dengan tujuan untuk melihat secara umum kinerja tingkat kepuasan dan kepentingan masyarakat berkaitan dengan kualitas pelayanan publik yang dilaksanakan oleh aparatur di lingkungan dinas Pemerintah Daerah Kota Bogor. Disamping tujuan tersebut, kegiatan penelitian indeks kepuasan masyarakat dapat melihat seberapa besar kesenjangan yang ada antara kualitas pelayanan Pemerintah Daerah Kota Bogor dengan harapan/ekspektasi masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan terjadi kesenjangan antara pelayanan yang diberikan dengan harapan masyarakat, dan salah satu faktor pendorong yang erat kaitannya dengan kegiatan pelayanan publik adalah pemilihan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan, menurut Moenir (1998) penggunaan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sumber daya manusia atau aparatur akan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan pemilihan jenis teknologi yang digunakan akan memberikan kemudahan akses ketersediaan informasi serta ragam pilihan bagi publik untuk mengetahui kebutuhan yang diinginkan, disamping itu teknologi dapat mengurangi tingkat hirarki organisasi sehingga organisasi menjadi lebih fleksible dan sistem yang terbuka (Chapman, 1980). Organisasi yang fleksible dapat mendorong aparatur untuk terus berinovasi atas sistem kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan

kualitas pelayanan publik. Dalam Tabel 1. disajikan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) per unsur pelayanan Kota Bogor periode tahun 2006 - 2010.

Tabel 1. Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Per-Unsur Pelayanan Pemerintah Kota Bogor No. Unsur Pelayanan KepMenPAN Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 2006 2007 2008 2009 2010
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Prosedur Pelayanan Persyaratan Pelayanan Kemampuan Petugas Kesopanan dan Keramahan Kenyamanan Lokasi Keamanan Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kejelasan Petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas Tanggung Jawab Petugas Kecepatan Pelayanan Kepastian Jadwal Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Nilai IKM rata - rata 67,05 71,35 73,00 73,10 71,60 74,65 66,55 64,55 64,20 69,00 70,25 63,30 66,00 68,55 66,88 68,13 70,00 73,81 74,31 84,81 76,44 69,13 63,75 69,81 68,50 74,50 64,63 63,75 69,81 68,50 71,00 71,00 69,97 69,50 68,13 73,88 68,25 66,58 74,13 69,92 67,44 64,42 65,67 67,67 68,20 71,25 76,25 74,63 73,75 51,88 74,63 72,75 65,00 71,38 69,63 72,38 58,00 72,38 73,25 69,50 65,96 71,17 74,38 74,54 61,04 73,75 69,54 71,17 67,46 68,25 73,58 65,33 66,33 72,42 68,90

Sumber : Data Sekunder BPPTPM dan IPB (diolah)

Dari angka pada Tabel 1. Di atas terlihat bahwa tingkat pelayanan publik Pemerintah Kota Bogor dalam kisaran nilai rata-rata 66,88 sampai 69,50 pada tahun 2006 - 2010. Hasil tersebut masuk dalam kategori baik bila mengacu pada ketetapan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) KepMenPAN untuk semua unsur-unsur pelayanan publik. Otonomi daerah selain mengubah pola pikir pelayanan, masing-masing daerah berupaya untuk meningkatkan kegiatan investasi dengan memberikan kemudahan bagi para investor untuk menanamkan modalnya di daerah. Pemerintah Kota Bogor terus berupaya menarik investor salah satunya dengan diberikannya kemudahan pengurusan perijinan melalui layanan satu atap atau One Stop Service, yang sebelumnya kegiatan perijinan dilakukan secara fungsional di masing-masing UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah). Melihat pentingnya

kegiatan pelayanan publik dan upaya mendorong kegiatan investasi, maka dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan Pemerintah Kota Bogor melakukan upaya reformasi birokrasi dengan dibentuknya Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bogor No 13 tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kota Bogor. Pembentukan BPPT tersebut

dimaksudkan untuk memberikan kemudahan pelayanan dibidang perijinan dengan prinsip dapat dipercaya, mudah, murah, cepat dan transparan melalui satu pintu layanan atau One Stop Service. Pada Tabel 2. disajikan realisasi investasi total Penanaman Modal Dalam Negri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) di Kota Bogor tahun 2006 2010 yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun dan pada tahun 2010 mencapai angka Satu Triliun Rupiah. Tabel 2. Realisasi Investasi Kota Bogor
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 Realisasi Investasi (Rp) 626,740,000,010.00 795,349,999,985.00 824,460,000,020.00 869,500,000,005.00 1,002,664,999,995.00 Sumber : BPPTPM kota Bogor Bidang Investasi, 2011

Pengaruh

perkembangan

teknologi

dan

meningkatnya

kebutuhan

masyarakat akan kualitas pelayanan yang prima telah mendorong kepada Pemerintah Daerah Kota Bogor untuk dapat memberikan kualitas pelayanan prima sehingga mampu memenuhi harapan masyarakat dalam hal pelayanan publik. Harapan akan kualitas pelayanan publik yang baik terus berubah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat yang didorong oleh tekanan global dan teknologi. Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan serta upaya mendorong peningkatan investasi di Kota Bogor dirasa perlunya dilakukan evaluasi dan analisis atas pencapaian kualitas pelayanan publik serta adanya alternatif strategi sehingga dapat meningkatkan pelayanan publik melalui konsep One Stop Service di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Bogor, daerah-daerah yang telah menerapkan pelayanan secara One Stop Service seperti Kabupaten Sragen, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Sidoarjo bisa menjadi contoh.

I.2.

PERUMUSAN MASALAH Mengacu pada latar belakang tersebut dan melihat pentingnya kegiatan

pelayanan publik sebagai salah satu tolok ukur kredibilitas penyelenggaraan Pemerintahan di Kota Bogor, untuk itu dalam rangka kajian terkait dengan upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik maka permasalahan yang perlu dilihat 'Bagaimana tingkat kesenjangan pelayanan nyata yang diberikan oleh Pemerintah Kota Bogor dengan tingkat harapan atau kepentingan masyarakat?' berdasarkan pada hasil data Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) periode 2006 2010. Dengan demikian dapat dilihat tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja pelayanan aparatur Pemerintah Kota Bogor berada di atas atau di bawah harapan/kepentingan masyarakat. Kegiatan pelayanan publik pada tahun 2006 - 2008 dilaksanakan oleh masing-masing Dinas terkait dengan bidang layanan yang diberikan kepada masyarakat, dan sejak tahun 2009 sampai saat ini kegiatan pelayanan diarahkan kepada layanan satu atap atau One Stop Service yang dilakukan oleh Badan Pelayanan Perijinan Terpadu dan Pananaman Modal (BPPTPM). Harapan yang terkandung dengan adanya layanan satu atap oleh BPPTPM dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan terkait dengan kelembagaan BPPTPM maka kegiatan kajian tesis ini ingin melihat permasalahan 'Bagaimana keberadaan BPPTPM secara kelembagaan dikaitkan dengan kualitas pelayanan dan investasi di Kota Bogor?' Keberadaan BPPTPM tersebut sebagai sebuah lembaga merupakan upaya reformasi birokrasi pelayanan publik yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Bogor. Hal ini dilakukan dalam rangka mengantisipasi adanya tekanan yang berasal dari eksternal berupa tekanan perubahan teknologi dan tekanan dari masyarakat sebagai stakeholder yang berharap terjadinya peningkatan kualitas pelayanan publik oleh Pemerintah Kota Bogor. Sebagaimana keterangan diatas bahwa kegiatan pelayanan publik sebelum tahun 2009 dilayani oleh masingmasing Dinas dan sesudahnya ditangani oleh BPPTPM, untuk itu dalam perumusan masalah kajian tesis adalah 'Bagaimana kinerja pelayanan sebelum dan sesudah adanya lembaga BPPTPM? dengan melakukan studi analisis

komparasi tersebut diharapkan dapat mengetahui unsur-unsur pelayanan mana yang akan ditingkatkan. Berdasarkan hasil analisis ketiga permasalahan tersebut diatas, selanjutnya kajian ini mencoba merumuskan konsep alternatif strategi dalam rangka peningkatan pelayanan publik di Kota Bogor melalui pertanyaan 'Bagaimana menentukan rancangan strategi alternatif dalam rangka peningkatan pelayanan publik One Stop Service melalui penguatan Kelembagaan BPPTPM? dengan dukungan infrastruktur TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

I.3.

TUJUAN Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka tujuan

utama kajian ini adalah menentukan rancangan alternatif strategi peningkatan pelayanan publik One Stop Service dalam kerangka pembangunan Daerah Kota Bogor melalui penguatan BPPTPM. Untuk mencapai tujuan utama tersebut ada beberapa tujuan spesifik kajian meliputi : 1. Menganalisis tingkat kesenjangan pelayanan nyata yang diberikan oleh Pemerintah Kota Bogor dengan tingkat harapan atau kepentingan masyarakat. Menganalisis keberadaan BPPTPM secara kelembagaan dikaitkan dengan Kualitas Pelayanan dan Investasi di Kota Bogor. Menganalisis kinerja pelayanan publik sebelum dan sesudah adanya lembaga BPPTPM. Menentukan rancangan alternatif strategi dalam rangka peningkatan pelayanan publik One Stop Service melalui penguatan Kelembagaan BPPTPM Kota Bogor. Manfaat Manfaat dari kegiatan kajian adalah dalam rangka memberikan alternatif strategi peningkatan pelayanan publik One Stop Service di Kota Bogor kepada semua pihak yang berkepentingan atau stakeholder dengan mengoptimalkan infrastruktur TIK (teknologi Informasi dan Komunikasi) sebagai media integrator diimplementasi operasional.

2.

3.

4.

I.4