Anda di halaman 1dari 11

Paradigma Dalam Geografi Posted: April 27, 2011 in Materi Kuliah

Pengertian paradigma secara komprehensif yaitu merupakan kesamaan pandang keilmuan yang didalamnya tercakup asumsi-asumsi, prosedurprosedur dan penemuan-penemuan yang diterima oleh sekelompok ilmuan dan secara berbarengan menentukan corak/pola kegiatan ilmiah yang tetap. Selain itu, paradigma juga diartikan sebagai keseluruhan kumpulan (konstelasi) kepercayaan, nilai-nilai, cara-cara (teknik) dan sebagainya yang dianut warga suatu komunitas tertentu. Menurut Harvey dan Holly pengertian paradigma dibedakan atas tiga macam pengertian yaitu: Paradigma Metafisika atau metaparadigm yang menggambarkan pandangan secara global keseluruhan sebuah ilmu, dimana mempunyai fungsi dasar yaitu, menetapkan apa saja yang sebenarnya (dan yang bukan ) menjadi urusan masyarakat ilmiah tertentu, memberi petunjuk kepada ilmuwan kearah mana melihat (dan arah mana yang tidak usah dilihat) agar menemukan apa-apa yang sebenarnya menjadi urusannya, serta memberi petunjuk kepada ilmuwan apa yang dapat diharapkan untuk ditemukan jika ia mendapatkan dan menyelidiki apa-apa yang sebenarnya menjadi urusan dalam bidang ilmunya.Paradigma ini mencakup wilayah konsensus paling luas dalam suatu disiplin dan menetapkan bagian-bagian wilayah penelitian. Paradigma Sosiologis, pengertiannya hanya terbatas pada keberhasilan ilmiah yang konkret yang mendapat pengakuan secara universal. Paradigma Artefak atau Construct paradigm mengandung artian paling sempit, yang dapat berarti apa-apa yang secara khas (spesifik) termuat dalam suatu buku, instrumen ataupun hasil karya pengetahuan klasik. Secara konseptual paradigma Artefak ada dalam lingkup cakupan paradigma Sosiologis, dan paradigma Sosiologis ada dalam lingkup cakupan Metaparadigm. Dari segi ini ternyata geografi sosial sebagai ilmu telah mengalami berbagai periode perkembangannya. Masing-masing periode menunjukkan kesamaan karakter persepsi terhadap apa yang disebut sebagai suatu Paradigma. Contoh paradigma dalam geografi sosial antara lain yaitu : Paradigma Determinisme lingkungan yang dikembangkan oleh Ratzel Paradigma atau faham Posibilitis sekaligus sebagai salah satu pengembang paradigma regional yang dikembangkan oleh Vidal Paradigma Bentang alam budaya yang juga menerapkan pendekatan

kesejahteraan yang dikembangkan oleh Saver Paradigma Regional di Amerika yang dikembangkan oleh Hatshorne Paradigma Keruangan yang dikembangkan oleh Schaefer yang merupakan penganut positivisme ilmu Sebenarnya perkembangan keilmuan yang terjadi pada ilmu pengetahuan bersifat evolutif dan berjalan melalui kurun waktu yang relatif panjang sehingga perkembangan-perkembangan yang telah berkembang sebelumnya, sejalan dengan perkembangan kualitas ilmu pengetahuan beserta alat-alat bantu penelitian dan analisisnya. 10. Periode Perkembangan Paradigma-paradigma Tradisional Pada masa paradigma tradisional muncul 3 macam paradigma dalam studi geografi. Secara garis besarnya dimulai sebelum tahun 1960-an, antara lain: Paradigma Eksplorasi Paradigma Environmentalisme Paradigma Regionalisme Masing-masing paradigma ini menunjukkan sifat-sifatnya sendiri dan produknya yang merupakan pencerminan perkembangan suatu tuntutan kehidupan serta pencerminan perkembangan teknologi penelitian serta analisis yang ada. a. Paradigma eksplorasi Menunjukkan proses perkembangan awal dari pada geographical thought yang pernah dikenal arsipnya. Kekuasaan paradigma ekplorasi ini terlihat dari upaya pemetaan-pemetaan, penggambaranpenggambaran tempat-tempat baru yang belum banyak diketahui dan pengumpulan fakta-fakta baru yang belum banyak diketahui dan pengumpulan tempat-tempat baru yang belum banyak diketahui dan pengumpulan fakta-fakta dasar yang berhubungan dengan daerah-daerah baru. Dari kegiatan inilah kemudian muncul tulisan-tulisan atau gambaran-gambaran, peta-peta daerah baru yang sangat menarik dan menumbuhkan motivasi yang kuat bagi para peneliti untuk lebih menyempurnakan produk yang sudah ada, baik berupa tulisan maupun peta-petanya. Penemuan-penemuan daerah baru yang sebelumnya belum banyak dikenal oleh masyarakat barat mulai bermunculan pada saat itu. Sifat dari pada produk yang dihasilkan berupa deskriptif dan klasifikasi daerah baru beserta fakta-fakta lapangannya. Suatu hal yang mencolok adalah sangat terbatasnya latar belakang teoritis yang mendasari penelitian-penelitian yang dilaksanakan. Inilah sebabnya ada beberapa pihak yang menganggap bahwa untuk menyebut perkembangan geographical thought atau pikiran/ gagasan secara geografi sebagai suatu deskripsi sederhana tentang apa yang diketahui dan dihasilkan dari pengaturan

(ordering) dan klasifikasi (classification) data yang masih sangat sederhana. b. Paradigma Environmentalisme Paradigma ini muncul sebagai perkembangan selanjutnya dari metode terdahulu. Pentingnya sajian yang lebih akurat dan detail telah menuntut peneliti-peneliti pada masa ini untuk melakukan pengukuran-pengukuran lebih mendalam lagi mengenai elemen-elemen lingkungan fisik dimana kehidupan manusia berlangsung. Paradigma ini terlihat mencuat pada akhir abad sembilan belas, dimana pendapat mengenai peranan yang besar dari lingkungan fisik terhadap pola-pola kegiatan manusia di permukaan bumi bergaung begitu lantang (geographical determinism). Bahkan, sampai pertengahan abad dua puluh saja, ide-ide ini masih terasa gemanya. Bentuk-bentuk analisis morfometrik dan analisis sebab-akibat mulai banyak dilakukan. Dalam beberapa hal morphometric analysis pada taraf mula ini berakar pada cognitive descriptiondimana pengembangan sistem geometris, keruangan dan koordinat yang dikerjakan telah membuahkan sistematisasi dan klasifikasi data yang lebih lengkap, akurat dibandingkan dengan tehnik-tehnik terdahulu. Muncul analisis newtwork untuk mempelajari pola dan bentuk-bentuk kota misalnya, merupakan salah satu contohnya dan kemudian sampai batas-batas tertentu dapat digunakan untuk membuat prediksi (modelmodel prediksi)dan simulasi. Untuk ini, karya Walter Christaller (1993) merupakan contoh yang baik. Upaya untuk menjelaskan terkondisinya fenomena-fenomena tertentu, khususnya human phenomena oleh elemen-elemen lingkungan fisik mulai dikerjakan lebih baik dan sistematik. Akar daripada latar belakang analisis hubungan antara manusia dan lingkungan alam bermulai disini. Perkembangannya kemudian nampak bahwa analisis hubungan antara manusia dengan lingkungan alam telah memunculkan bentuk-bentuk lain di dalam menempatkan manusia pada ekosistem. Manusia tidak lagi sepenuhnya didekte oleh lingkungan alam tetapi manusia mempunyai peranan yang lebih besar lagi di dalam menentukan bentuk-bentuk kegiatannya di permukaan bumi (geographical possibilism dan probabilism). c. Paradigma Regionalisme Perkembangan terakhir dari periode paradigma tradisional adalah paradigma Regionalisme. Disini nampak unsur fact finding tradition of exploration di satu sisi dan upaya memunculkan sistesis hubungan manusia dan lingkungannya di sisi lain nampak mewarnai paradigma ini.

Konsep-konsep region bermunculan sebagai dasar pengenalan ruang yang lebih detail. Wilayah ditinjau dari segi tipenya (formal and functional regions) wilayah ditinjau dari segi hirarkinya (the 1st order, the 2nd order, the3rd order, etc. Regions) dan wilayah ditinjau dari segi kategorinya (single topic, duoble topic, combine topic, multiple topic, total, regions) adalah beberapa contoh konsep-konsep yang muncul sejalan dengan berkembangnya paradigma regionalisme ini, dalam membantu analisis. Disamping itu temporal analysis sebagai salah satu bentuk causal analysis berkembang pula pada periode ini (Rostow, 1960; Harvey, 1969). 12. Periode Perkembangan Paradigma-Paradigma Kontemporer Pada masa ini mulai terjadi perkembangan baru di bidang metode analisis kuantitatif dan model building. Perkembangan paradigma geografi pada msa ini juga disebut sebagai periode paradigma analisis keruangan (the spatial analysis paradigm). Coffey (1981) mengemukakan tentang ciri-ciri paradigma geografi kontemporer antara lain yaitu adanya sinyalemen bahwa salah satu ciri daripada geografi kontemporer adalah adanya kecenderungan spesialisasi yang dikhawatirkan akan menjauh dari fitrah geografi sendiri. Hal ini ternyata sejalan dengan apa yang masing-masing spesialisasi ini menjadi sedemikian terpisah atau salah satu sama lain sehingga hubungan intelektualnya pudar. Kemudian dikemukakan pula bahwa untuk mengatasi agar bahaya yang disinyalir oleh para pakar mengenai pudarnya fitrah geografi adalah dengan pendekatan sistem, khususnya spatial system approach. Untuk sampai ke arah ini, dengan sendirinya pengetahuan dasar mengenai sistem sendiri harus dimiliki oleh mahasiswa geografi. Pada masa ini functional analysis, ecological analysis dan system analysis berkembang dengan baik pula sejalan dengan inovasi daripada teknik-teknik dan metode analisis (Holt-Jensen, 1980). Ide untuk kembali ke fitrah geografi memang berulang-ulang didengungkan oleh para pakar. Hal ini memang wajar sekali karena telah disinyalir munculnya penyimpangan-penyimpangan yang dianggap mengaburkan ciri khas geografi itu sendiri. Selama perkembangannya, ada dua gerakan munculnya ide sintesis ini. Gerakan pertama kali dikemukakan oleh Ritter dimana studi Geografi tidak lain dianggap sebagai suatu regional synthesis. Semua fenomena dianggap berhubungan satu sama lain dan masing-masing mempunyai peranannya yang khas dalam satu perangkat sistem. Untuk itulah geografiwan harus mempelajari sintesis daripada gejala-gejala yang ada pada suatu wilayah dan yang mengungkapkan apa yang disebut sebagai wholeness. Ide pendekatan sistem memang tidak dapat dipisahkan dari pemikiranpemikiran ini.

Konsep sintesis baru dikemukakan oleh Peter Haggett (1975) di dalam karyanya yang berjudul Geography : A Modern Synthesis. Sintesis baru ini berusaha merangkum beberapa pendekatan terdahulu sampai saat ini dengan memberi warna yang lebih fleksibel sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan di bidang teknologi. 13. Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu (sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method). Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan, pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi jalan dan sungai. Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang. Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya. Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif-alternatif pemecahan masalah. 14. Tantangan Geografi Ke Depan a. Dampak Teknologi Komunikasi dan Internet Sekiar tahun 1990 beredar buku megatrend 2000. Dalam buku itu Naibit dan Arburdense (1990) mensinyalair ada sepuluh kecenderungan (trend) yang akan terjadi pada tahun 2000-an, yaitu: masyarakat informasi menjadi masyarakat industri teknologi pasca menjadi high tech

ekonomi nasional menjadi ekonomi dunia jangka pendek menjadi jangka panjang sentralisasi menjadi desentralisasi bantuan institusional menjadi bantuan diri demokrasi representatif menjadi demokrasi partisipatif hirarki menjadi jaringan utara menjadi selatan salah satu menjadi pilihan ganda Bedasarkan ramalan itu tampak bahwa dewasa ini terjadi perubahan dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi. Informasi telah menjadi bagian penting bagi individu, masyarakat dan negara. Informasi merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari untuk pengambilan keputusan. Keberadaan masyarakat informasi dewasa ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi komuniasi dan internet. Integrasi kedua teknologi itu telah melipatkan gandakan informasi dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang cepat. Intergrasi teknologi komputer dengan teknologi komunikasi itu telah mewujudkan suatu jaringan besar antar warga negara tanpa harus diikat dengan batas-batas negara yang bersangkutan (bordeless). Teknologi itu telah mampu membuktikan sebagai wahana untuk mengolah (procesess) data menjadi informasi dengan cepat. Selain itu teknologi itu juga telah mampu digunakan sebagai infrastruktur untuk pengiriman data atau informasi secara cepat, murah dan praktis. Disiplin geografi merupakan salah satu bidang ilmu yang memerlukan infrastruktur untuk mengolah data geografis menjadi informsi geografi secara cepat. Informsi geografi hasil prosesing itu dibutuhkan oleh berbagai bidang untuk pengembangan wilayah, konsrvasi sumburdaya, penataan ruang, dan sebagainya. Dalam mempelajari obyeknya, disiplin geografi menggunakan pendekatan keruangan. Dalam pendekatan itu struktur, pola dan proses keruangan harus dapat dipelajari dengan baik dan cepat. Untuk mempelajari aspek keruangan seperti itu teknologi komputer telah menyediakan program-program analisis keruangan yang makin praktis dan mudah dioperasikan. Dengan kemudahan itu informasi geografi dapat lebih cepat dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Dengan teknolgi internet informasi dapat dengan mudah dan cepat dikirim keseluruh penjuru dunia. Hal itu tidak hanya bermakna untuk penyebaran informasi, tetapi juga untuk memberikan paradigma baru dalam pengelolaan lingkungan menuju keberlanjutan. Sebagaimana permasalahan lingkungan dewasa ini yang paling serius adalah mewujudkan keberlanjutannya.

Dengan kehadiran komputer sebagai komponen teknologi informasi proses analisis dan integrasi yang rumit kalau dikerjakan secara manual akan menjadi mudah, cepat dan akurat (Sutanto, 2000). Oleh karena itu dalam 2 (dua) dekade belakangan ini peran teknologi informasi dalam aplikasi ilmu geografi berkembang dengan cepat dan mejadi kebutuhan yang penting bagi setiap warganegara untuk mengelola wilayah dan sumberdayanya. Pemanafaatan teknologi informasi dlam aplikasi ilmu geografi dikenana dengan Sistem Informasi geografi (SIG). SIG dewasa ini telah berkembang dengan pesat karena didukung dengan teknologi pengindraan jauh (inderaja) dan Global Posistion System (GPS).

Kata paradigma (Inggris : paradigm), mengandung arti model, pola atau contoh. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, paradigma diartikan seperangkat unsur bahasa yang sebagian bersifat konstan (tetap) dan yang

sebagian berubah-ubah. Paradigma, juga dapat diartikan suatu gugusan sistem pemikiran. Menurut Thomas S.
Kuhn, paradigma adalah asumsi-asumsi teoritis yang umum (merupakan suatu sumber nilai), yang merupakan sumber hukum, metode serta cara penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri dan karakter ilmu pengetahuan tersebut. Paradigma juga dapat diartikan sebagai cara pandang, nilai-nilai, metode-metode, prinsip dasar atau cara memecahkan masalah yang dianut oleh suatu masyarakat pada masa tertentu. Dalam pembangunan nasional, Pancasila adalah suatu paradigma, karena hendak dijadikan sebagai landasan, acuan, metode, nilai dan tujuan yang ingin dicapai di setiap program pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sedangkan

kata

pembangunan

(Inggris : development)

menunjukkan

adanya

pertumbuhan,

perluasan ekspansi yang bertalian dengan keadaan yang harus digali dan yang harus dibangun agar dicapai kemajuan di masa yang akan datang. Pembangunan tidak hanya bersifat kuantitatif tetapi juga kualitatif (manusia seutuhnya). Di dalamnya terdapat proses perubahan yang terus menerus menuju kemajuan dan perbaikan ke arah tujuan yang dicita-citakan. Dengan demikian,kata pembangunan mengandung pemahaman akan adanya penalaran dan pandanganyang logis, dinamis dan optimistis. 1. b. Sebagai Paradigma Pembangunan Sejak tanggal 18 Agustus 1945, bangsa Indonesia telah sepakat bulat untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara sebagai perwujudan falsafah hidup bangsa (weltanschauung) dan sekaligus ideologi nasional. Sejak negara republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 hingga kapanpun selama kita masih

menjadi warga negara Indonesia maka kesetiaan (loyalitas) terhadap ideologi Pancasila dituntut dalam bentuk
sikap, tingkah laku dan perbuatan yang nyata dan terukur. Inilah sesungguhnya wujud tanggung jawab seorang warga negara sebagai konsekuensi logis yang bangga dan mencintai ideologi negaranya (Pancasila) yang benarbenar telah menghayati, mengamalkan dan mengamankannya dari derasnya sistem-sistem ideologi bangsa/ negara-negara modern dewasa ini.

Pancasila dalam paradigma pembangunan sekarang dan dimasa-masa yang akan datang, bukanlah lamunan kosong (utopis), akan tetapi menjadi suatu kebutuhan sebagai pendorong semangat ( drive) pentingnya paradigma arah pembangunan yang baik dan benar di segala bidang kehidupan. Jati diri atau kepribadian bangsa Indonesia yang religius, ramah tamah, kekeluargaan dan musyawarah, serta solidertias yang tinggi

(kepedulian), akan mewarnai jiwa pembangunan nasional baik dalam perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengawasan maupun dalam evaluasinya.

Berdasarkan konseptualisasi paradidgma pembangunan tersebut di atas, maka unsur manusia dalam pembangunan sangat penting dan sentral. Karena manusia adalah pelaku dan sekaligus tujuan dari pembangunan itu sendiri. Oleh sebab itu, jika pelaksanaan pembangunan ditangan orang yang sarat KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) dan tidak bertanggung jawab, maka segala modal, pikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan dapat membahayakan sekaligus merugikan manusia, masyarakat, bangsa dan negara.

Makna kehidupan manusia sukar untuk dedifinisikan kerana tiada jawapan yang konkrit untuk persoalan ini. Setiap manusia mempunyai berlainan pendapat, pemahaman, pandangan, pegangan dan juga pendirian mereka. Begitu juga terhadap makna kehidupan untuk seseorang. Pasti setiap orang mempunyai tanggapan yang tersendiri. Apa yang t5 ingin cuba sampaikan di dalam artikel adalah mengenai idea untuk mencari jawapan bagi persoalan ini. Kebenarannya, jawapan terletak pada diri anda. Lakukan apa yang diinginkan- Ada sesetengah pendapat bersetuju bahawa makna untuk kehidupan adalah untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Ia mampu untuk memberikan kepuasan secara peribadi kepada mereka. Pada kebiasaannnya, seseorang yang berfikiran seperti ini amat sukar untuk dipengaruhi, mereka lebih selesa untuk mengikut gerak hati berbanding daripada mendengar pendapat daripada orang lain. Membahagiakan orang tersayang- Selain daripada itu, ada juga pendapat yang menyatakan bahawa sekiranya mereka berjaya membahagiakan orang yang mereka sayang, itu adalah makna kehidupan untuk mereka. Mereka yang bersikap seperti ini biasanya tidak mementingkan diri sendiri. Sanggup berkorban untuk kebahagiaan orang lain.

Bersyukur- Setiap orang di atas muka bumi ini sememangnya perlu bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Bersyukur akan membuatkan mereka tenang dan gembira untuk melalui liku-liku kehidupan tanpa terlalu memikirkan permasalahan dunia dan kekurangan diri sendiri. Ketenangan itulah yang dikatakan oleh sesetengah pihak mampu untuk memberikan makna kehidupan kepada mereka. Kejayaan- Setiap orang pasti mengimpikan kejayaan. Kejayaan juga mampu untuk memberikan motivasi kepada seseorang untuk terus berusaha dengan lebih gigih. Ada sesetengah orang yang terlalu obses terhadap kejayaan dan merasakan ia mampu untuk memberi makna terhadap kehidupan mereka. Kebiasaannya, orang seperti ini akan sentiasa berusaha untuk mengecapi kejayaan dan amat susah untuk berputus asa. Keseimbangan- Ada juga yang menyatakan bahawa mereka lebih suka untuk melalui kehidupan yang seimbang. Tidak terlalu obses untuk mengejar kegembiraan dunia dan kepuasan peribadi. Lebih mementingkan kegembiraan bersama. Mereka seperti ini kebiasaannya bersikap bersederhana sahaja terhadap apa yang mereka lakukan. Kesederhanaan itulah yang mereka rasakan mampu untuk memberi makna kehidupan kerana mereka mempunyai cukup masa untuk diri sendiri dan juga orang lain. Ini adalah sebahagian sahaja pendapat yang mendefinisikan makna kehidupan daripada perspektif mereka sendiri. Bagaimana pula dengan anda? Adakah terdapat ciri-ciri diatas yang anda rasakan bersesuaian dengan diri anda? Pastinya anda lebih mengenali siap diri anda yang sebenar.

Paradigma Kehidupan Manusia


OPINI | 13 March 2013 | 09:29 Dibaca: 190 Komentar: 0 0

Persoalan mengenai manusia merupakan persoalan lama, tetapi tak pernah habis. Sebab di tiap zaman, pada perkembangan kemasyarakatannya senantiasa melahirkan problematika tersendiri. Misalnya pada perkembangan jumlah penduduk, pada praktek konflik yang selalu menghadirkan cara baru untuk membinasakan pihak lain, soal kesehatan, soal pemberian pendidikan, hingga pada perlombaan mengenyam berbagai materi. Sering menjadi pertanyaan, apakah kemajuan-kemajuan yang dicapai telah membedakan dengan dengan fase sebelumnya? Sebut saja satu istilah tentang dehumanisme, apakah kita semakin humanis dibanding dahulu kala? Atau apakah mereka yang maju, menjadi lebih nyaman, dibanding kalangan yang meneruskan tradisi secara ketat, yang terkadang ada yang menyebut terbelakang? Jika dirangkum, apakah nasib manusia masa kini lebih baik dari manusia di masa lalu, dan nasib manusia di masa yang akan datang semakin lebih baik dibanding masa kini. Seiring dengan pandangan bahwa kemajuan peradaban, kemajuan Iptek atau kemajuan pembangunan akan selalu membawa nasib yang lebih baik bagi ummat manusia ? Semakin berkurangnya deposit sumber daya alam, bertambahnya pencemaran dan efek rumah kaca menambah keyakinan beberapa pihak, bahwa nasib manusia nanti belum tentu sebaik di masa lalu. Karena nasib baik manusia, selalu dipandang tergantung dari daya

dukung kekayaan alam. Belum ada pandangan yang kuat, bahwa nasib baik manusia dapat ditentukan oleh cara baru kita berpijak pada alam, yakni seperti bergantung pada sumber alam yang setelah digunakan dapat terus di recycling. Atau mengubah orientasi sosial dengan konsekwensi dapat bertubrukan pada keyakinan religi, keyakinan ideologis dan kebiasaankebiasaan yang mengakar di berbagai masyarakat di muka bumi. Contoh paling gamblang, yakni pada dimensi mengendalikan jumlah penduduk. Di wilayah yang mengalami babak pertama pembangunan seperti pembangunan prasarana modern dari suatu lingkungan yang belum pernah ada jalan raya, gedung-gedung, listrik dan pabrik. Selalu dipandang akan membawa perbaikan nasib atau kesejahteraan bersama. Tetapi bagi wilayah yang telah berkali-kali melakukan rehabilitasi prasarana modern dan menjadi lebih modern, justru mulai banyak di antara penduduknya yang merasakan ketidaknyamanan. Atau lebih karena dihadapkan pada problematika hidup semakin beresiko, bekerja hanya untuk mempertahankan kualitas fisik minimal, hari libur hanya untuk lepas lelah (kurang dapat meningkatkan kebugaran) dan bermasyarakat yang murah condong beralih di dunia maya (jejaring sosial via internet). Dahulu kita menganggap bahwa ekonomi industri akan mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan manusia, dibanding ekonomi agraris. Dahulu kita menganggap bahwa demokrasi akan membawa keadaan lebih baik dibanding otoritarianisme. Dahulu kita menganggap sistem perkotaan akan mampu mengefisienkan sistem pemukiman, dari model lama (pedestarian, pedesaan, perkampuangan dll) yang tidak dapat mengkonsentrasikan berbagai jenis prasarana, sarana dan utilitas bagi suatu komunitas. Dan, dahulu kita menganggap bahwa birokrasi pemerintah, lembaga perusahaan serta partai politik akan membawa kehidupan yang lebih baik, dibanding lingkungan sosial yang di dominasi sistem kekerabatan. Kini semua hal baru tsb diatas, membawa problematika yang terus sulit terpecahkan. Karena cepat hadirnya problematika yang lebih baru, sementara problematika sebelumnya belum selesai diatasi. Di masa silam, kaum pejuang politik dan kaum cendekiawan kerap menjadi nahkoda masyarakat untuk perubahan yang lebih baik. Dan itu bukan hanya pada satu dua wilayah atau negara, tetapi sejarah menunjukkan terjadi pada berbagai negara. Tetapi kini jenis kalangan tsb terbonsai oleh sistem oligarki yang urat nadinya di kontrol oleh kaum kapitalis. Dan banyak masyarakat terlena serta terpuaskan oleh sistem oligarki demikian, karena sewaktu-waktu dihibur oleh taburan dana seperti berbentuk money politics saat moment-moment Pemilu (election), atau bantuan langsung tunai saat-saat moment sosial tertentu. Inilah sebagian penting kenyataan baru yang tidak mudah disadari oleh semua pihak.