Anda di halaman 1dari 20

Artikel Online PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN BAHASA

oleh

Dewa Gede Agus Putra Prabawa


S2 Teknologi Pembelajaran | 2012 | e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

A. Apa itu Perkembangan? Perkembangan terjadi dengan berbagai cara. Perkembangan tergantung pada aktivitas belajar, pengalaman, dan kematangan. Bagan berikut ini menggambarkan konsep perkembangan, yang dihasilkan dari kombinasi pengalaman, belajar, dan kematangan. Perkembangan

Pengalaman

Belajar

Kematangan

Gambar 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual Manusia 1. Prinsip-prinsip Perkembangan Meskipun perkembangan itu kompleks, ada beberapa prinsip umum yang dapat diaplikasikan pada semua pebelajar dan semua bentuk dari perkembangan. a. Belajar berkontribusi pada perkembangan. Belajar mengacu pada peningkatan pemahaman dan peningkatan keterampilan, serta perkembangan terjadi ketika pemahaman atau keterampilan dimasukkan ke dalam konteks aktivitas yang kompleks. b. Pengalaman meningkatkan perkembangan. Anak-anak yang memperoleh cerita-cerita pengalaman dari orang tuanya di rumah akan memiliki kelebihan di sekolah. Begitu juga pengalaman sosial akan membantu perkembangan siswa daripada yang kurang memiliki pengalaman. c. Interaksi sosial meningkatkan perkembangan. Interaksi sosial memungkinkan siswa untuk berbagi, membandingkan, memperbaiki pengetahuan,

keyakinan, dan perspektif melalui interaksi dengan orang lain.

1
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

d. Perkembangan tergantung pada bahasa karena bahasa menjadi media untuk berbagai ide dan pengalaman sosial. e. Perkembangan berkelanjutan dan relatif teratur. Orang akan terus belajar dan mencari pengalaman yang membantu perkembangan tersebut secara berkelanjutan. f. Perkembangan individu berada pada tingkat yang berbeda-beda. Misalnya siswa perempuan miliki tinggi badan di atas teman-temannya namun lambat dalam perkembangannya. Pada kasus lain, dua siswa kelas empat memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap materi pelajaran. g. Perkembangan dipengaruhi oleh kematangan, genetik, dan perubahan usia pada individu. Misalnya, anak-anak yang berusia 10 tahun akan lebih cepat memecahkan masalah daripada ketika ia berusia 5 tahun. Dalam kebanyakan kasus faktor genetik dan lingkungan berinteraksi mempengaruhi

perkembangan anak.

2.

Otak Manusia dan Perkembangan Kognitif Sekitar 10 hingga 15 tahun yang lalu, neuroscience telah mengembangkan

teknologi pencitraan otak baru yang memungkinkan eksplorasi otak dan bagaimana hal itu beroperasi. Para pendidik sedang berusaha untuk

menerapkannya di dalam ruang kelas dan menyebutnya pembelajaran berbasis otak. a. Belajar Fisiologi Otak Otak manusia luar biasa kompleksnya. Perkiraan menunjukkan bahwa otak manusia terdiri dari antara 100 dan 200 sel neuron. Menariknya, neuron tidak saling menyentuh satu sama lain. sebagai gantinya, pesan dikirim dari satu neuron ke yang lainnya melalui ruang kecil yang disebut sinapsis. Perkembangan kognitif melibatkan dua aktivitas yaitu menciptakan dan menghilangkan koneksi sinaptik. Misalnya siswa belajar membaca dan keterampilan kognitif lainnya, juga belajar tentang perilaku baik dan buruk. Bukti dari penelitian hewan menunjukkan bahwa pengalaman belajar meningkatkan jumlah hubungan sinaptis per neuron. Hasil ini menunjukkan bahwa belajar dan

2
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

pengalaman sangat penting untuk menciptakan hubungan sinaptis dan konsisten dengan prinsip-prinsip perkembangan sebelumnya.

b.

Menempatkan Penelitian Otak ke dalam Perspektif Pembelajaran berbasis otak masih kontroversial dengan pendukungnya.

Misalnya, pendukung pembelajaran berbasis otak menekankan adanya periode kritis rentang waktu yang optimal untuk pengembangan kapasitas tertentu dan menyatakan bahwa pendidik harus memanfaatkan periode ini. Di samping itu, mereka menekankan pentingnya praktek yang disengaja dan strategi pembelajaran aktif seperti belajar penemuan, pemecahan masalah, dan hands on learning. Kritik terhadap pembelajaran berbasis otak, di sisi lain mengakui bahwa periode kritis mungkin memang terjadi pada manusia, tetapi menunjukkan bahwa otak kita mempertahankan kemampuannya untuk mendapatkan manfaat dari rangsangan lingkungan. Di samping tidak ada bukti yang menunjukkan, adanya periode kritis dalam pengembangan subjek akademis tradisional, seperti membaca atau matematika. Para pendukung pembelajaran berbasis otak memiliki prinsip-prinsip pendidikan progresif yang dikemas untuk mendukung pembelajaran aktif dan metode konstruktivis. Praktek yang disengaja dan belajar aktif adalah dua saran yang paling sering untuk menyatakan aplikasi berbasis otak dan mereka telah lama menetapkan prinsip belajar ini.

B. Teori Perkembangan Kecerdasan Piaget 1. Menuntun Keseimbangan Piaget menjelaskan bahwa pemahaman sebagai penuntun keseimbangan. Pemahaman membantu menjelaskan pengalaman-pengalaman baru dengan menggunakan skema (struktur kognitif) yang sudah ada. Ketika anak-anak dapat menjelaskan suatu pengalaman baru, maka skemanya akan tetap seimbang dengan kata lain tidak terjadi konflik kognitif. Namun ketika anak-anak tidak bisa menjelaskan suatu pengetahuan baru, maka keseimbangan tersebut akan terganggu dan timbul motivasi untuk membangun kembali atau memperbaiki

3
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

skema sebelumnya. Proses inilah yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak. 2. Organisasi dan Adaptasi Perkembangan Skema Untuk mencapai dan memperbaiki keseimbangan kognitif, anak-anak menggunakan dua proses hubungan yaitu organisasi dan adaptasi. a. Mencapai Keseimbangan: Proses dari organisasi Untuk mencapai keseimbangan memerlukan proses pembentukan skema, tindakan atau operasi mental yang mewakili pembentukan pemahaman baru (Santrock, 2006). Proses pembentukan dan menggunakan skema tersebut disebut organisasi. Misalnya, ketika seseorang belajar mengendarai mobil, dia memiliki serangkaian pengalaman antara lain: menghidupkan mesin, melintas di jalan, dan membuat keputusan tentang kegiatan mengemudi sebagai suatu rutinitas. Ketika seseorang mengorganisasikan dan memahami pengalaman ini, maka akan menjadi skema mengemudi. Organisasi ini menunjukkan usaha seseorang mengurutkan langkah-langkah secara teratur ke dalam sistem fungsi kognitif. b. Menjaga Kesimbangan: Proses Adaptasi Saat kita memperoleh pengalaman baru, skema yang ada mungkin tidak memadai. Pengetahuan awal tidak dapat menjelaskan pengalaman baru sehingga keseimbangan terganggu. Untuk membangun kembali pengetahuan baru diperlukan adaptasi. Adaptasi adalah proses penyesuaian skema dan pengalaman satu sama lain untuk menjaga keseimbangan. Sebagai contoh, belajar mengemudikan mobil dengan transmisi otomatis dan kemudian menggunakan mobil dengan porsneling, maka perlu menyesuaikan skema mengemudi. Adaptasi terdiri dari dua proses yaitu akomodasi dan asimilasi. Akomodasi adalah bentuk adaptasi di mana skema yang ada dimodifikasi sebagai tanggapan terhadap pengalaman/pengetahuan baru. Sedangkan asimilasi

merupakan bentuk adaptasi di mana pengalaman di lingkungan dimasukkan ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya sehingga hanya bersifat menambah/melengkapi pengetahuan sebelumnya tanpa melakukan

4
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

penggantian skema.

Hubungan antara asimilasi dan akomodasi dapat

diilustrasikan seperti gambar 2 berikut.

Keseimbangan Adaptasi Asimilasi

Akomodasi Skema dimodifikasi

Skema tidak dimodifikasi

Gambar 2. Menjaga Keseimbangan Melalui Proses Adaptasi

3.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Akomodasi adalah cara utama yang mempengaruhi perkembangan, karena

melalui akomodasi yang skema yang sudah ada dimodifikasi untuk mencapai kemajuan berpikir. Jadi, apa yang diperlukan untuk terjadinya akomodasi? Berikut adalah bentuk-bentuk pengalaman yang membatu terjadinya proses akomodasi.
a.

Pengalaman Fisik Pengalaman langsung yang secara aktif diperlukan untuk terjadi proses akomodasi, karena pengalaman dengan melakukan aktivitas fisik mempengaruhi perkembangan. akan

b.

Pengalaman Sosial Piaget juga menekankan peran pengalaman sosial dalam perkembangan sebagai proses berinteraksi dengan orang lain. Pengalaman sosial memungkinkan peserta didik untuk menguji skema mereka terhadap orang lain. Jika skema yang dimiliki peserta didik sebanding, maka ia akan tetap pada keseimbangan kognitif. Ketika keseimbangan itu terganggu, peserta didik akan termotivasi untuk melakukan adaptasi skema. Proses ini sebagai salah satu aktivitas yang mempengaruhi terjadinya perkembangan.

5
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

Disadari bahwa interaksi sosial sangat penting untuk perkembangan, yang telah memberikan pengaruh besar bagi dunia pendidikan dan latihan. Misalnya, orang tua mengatur kelompok bermain untuk anak-anak mereka. Sekolah menekankan pembelajaran kooperatif di mana guru mendorong siswa untuk melakukan eksperimen dan memecahkan masalah dalam kelompok. Gambaran interaksi sosial ini berkontribusi terhadap perkembangan anak.

4.

Tahap-tahap Perkembangan Bagian dari teori Piaget yang paling dikenal luas adalah deskripsi tentang

tahap-tahap perkembangan. Setiap tahapan menjelaskan pola umum berpikir anakanak pada tingkat usia dan jumlah pengalaman yang berbeda. Berikut karakteristik setiap tahap. Sensorimotor (usia 0-2 tahun) Pada tahap sensorimotor, anak-anak menggunakan indra mereka dan kapasitas motor untuk membuat arti. Skema mereka dikembangkan berdasarkan interaksi fisik dengan lingkungan. Misalnya, menggunakan kemampuan tangan untuk meraih benda-benda dan membawanya ke mulut untuk mengetahui tentang benda tersebut. Anak-anak dalam tahap ini juga mengembangkan kemampuan meniru. Keterampilan ini penting untuk memungkinkannya belajar dengan mengamati orang lain. Pra Operasional (usia 2-7 tahun) Pada tahap pra operasional, persepsi mendominasi pemikiran anak-anak. Nama tahap ini berasal dari ide operasi atau aktivitas mental. Seorang anak pada tahap ini telah mampu melakukan operasi mental yang ditujukan oleh kemampuannya dalam mengklasifikasikan hewan yang berbeda seperti anjing, kucing, dan beruang. Banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak ketika mereka melalui tahap ini. Misalnya, mereka membuat kemajuan besar dalam perkembangan bahasa, mencerminkan pertumbuhan dalam kemampuan

menggunakan simbol. Mereka juga belajar sejumlah konsep, misalnya mengatakan truk, kuda, maupun pohon. Anak-anak pada tahap ini memiliki pengertian yang terbatas ide-ide abstrak seperti keadilan, demokrasi, dan energi.

6
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

Terdapat karakteristik konservasi dan egosentris pada tahap pra operasional. Konsep konservasi mengacu pada beberapa karakteristik dari objek yang tetap sama meski objek itu berubah penampilannya. Contohnya, persepsi anak tentang jumlah cairan yang dipindahkan ke bentuk wadah yang berbeda walaupun jumlah/volume cairannya sama. Anak pada tahap ini cenderung memberikan jawaban yang salah dengan menganggap wadah yang ukurannya lebih tinggi berisi air lebih banyak. Kesalahan ini disebabkan pertama, karena anak-anak memusatkan perhatiannya pada ketinggian cairan dalam wadah. Centration (keterpusatan) adalah kecenderungan untuk fokus pada aspek yang paling jelas dari suatu obyek atau peristiwa dengan mengabaikan aspek-aspek penting lainnya. Tinggi wadah adalah karakteristik yang paling jelas dari cairan sehingga anak-anak menyimpulkan bahwa wadah tinggi dan sempit memiliki lebih banyak cairan. Kedua, anak-anak kurang mampu melakukan transformasi yaitu kemampuan untuk merekam proses mental yang bergerak dari satu keadaan ke keadaan lain. Mereka tidak secara mental merekam proses menuangkan cairan ke dalam wadah yang ukurannya lebih tinggi. Ketiga, anak-anak tidak memiliki kemampuan reversibilitas yaitu kemampuan secara mental menelusuri proses menuangkan cairan dari wadah ketiga untuk wadah kedua (representasi mental yang dapat dibalik). Ketika kurangnya kemampuan transformasi dan reversibilitas yang dikombinasikan dengan kecenderungan memusat, seorang pendidik akan dapat melihat mengapa mereka menyimpulkan bahwa wadah dengan ukuran tinggi dan sempit berisi cairan lebih banyak di dalamnya, meskipun tidak ada cairan yang ditambahkan atau dikurangi. Egosentrisme yaitu kecenderungan orang untuk percaya bahwa orang lain melihat dunia seperti yang mereka lakukan (tidak mampu membedakan perspektif milik sendiri dengan perspektif orang lain). Ini adalah karakteristik lain dari anakanak pada tahap pra operasional. Orang egosentris tidak dapat mempertimbangkan perspektif orang lain. Sebagai contoh, anak melihat kursi dengan sandaran lurus dari depan dan disuruh menggambarnya. Bagaimana kalau orang lain disuruh duduk pada sisi yang berlawanan kemudian anak disuruh menggambarnya dari perspektif orang tersebut. Anak pada tahap akan cenderung menggambarnya pada sisi dirinya sendiri.

7
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

Piaget dan Inhelder dalam percobaan lain yang terkenal, menunjukkan anak-anak yang disuruh menggambar model gunung dan meminta mereka untuk menggambarnya dari sudut pandang boneka yang duduk di sisi berlawanan. Anak pra operasional menggambarkan pandangan boneka itu identik dengan pandangan mereka sendiri. Operasional Konkret (usia 7-11 tahun) Pada tahap operasional konkret ditandai oleh kemampuan untuk berpikir logis tentang benda konkret (Miller & Miller, 2002). Berpikir konkret juga

mengatasi beberapa egosentrisme pada tahap pra operasional dan lebih mampu memahami pandangan lain. Klasifikasi dan seriation adalah dua operasi logis yang berkembang selama tahap ini (Piaget, 1977) dan keduanya sangat penting untuk memahami konsep nomor (Sieger, 1998). Klasifikasi adalah proses pengelompokan objek berdasarkan karakteristik umum. Sebelum usia 5 tahun, anak-anak dapat membentuk kelompok-kelompok sederhana, seperti memisahkan tumpukan kardus lingkaran menjadi satu kelompok putih dan kelompok lainnya hitam. Ketika sebuah kotak hitam ditambahkan, mereka biasanya memasukkan ke dalam kelompok hitam, tidak membentuk sub kelas dari kotak hitam. Pada usia 7 tahun mereka dapat membentuk sub kelas, namun mereka masih memiliki masalah dengan sistem klasifikasi yang lebih kompleks. Seriation adalah kemampuan untuk mengurutkan objek sesuai dengan peningkatan atau penurunan panjang, berat, atau volume. Penelitian Piaget menunjukkan bahwa kemampuan ini berkembang secara bertahap sampai pada usia 7 atau 8. Selain itu, ada aspek lain yang berkembang pada tahap operasional konkret yaitu transitivity yaitu kemampuan memkombinasikan hubungan secara logis untuk memahami kesimpulan tertentu. Misalnya, pertama siswa disajikan dua buah lidi yang berbeda panjang yaitu lidi 1 lebih pendek dari lidi 2.

Kemudian lidi 2 diambil diganti dengan lidi 3. Lidi 3 miliki panjang lebih pendek dari lidi 1. Anak pada tahap operasional konkret dapat menyimpulkan bahwa lidi 2 lebih panjang dari lidi 3. Dengan penalarannya siswa membayangkan bahwa lidi 2 lebih panjang dari lidi 1, dan lidi 1 lebih panjang dari lidi 3, jadi lidi 2 lebih panjang dari lidi 3.

8
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

Operasional Formal (Usia 11 Sampai Dewasa) Meskipun anak-anak pada tahap operasional konkret mampu berpikir logis, namun masih terikat oleh hal yang nyata (konkret). Sedangkan pada tahap operasional formal anak dapat berpikir logis tentang hipotetis. Tahap operasional formal, peserta didik dapat memeriksa masalah abstrak secara sistematis dan melakukan generalisasi. Kemampuan ini membuka berbagai kemungkinan untuk berpikir tentang dunia yang ada untuk peserta didik pada tahap awal. Berpikir formal memiliki tiga karakteristik yaitu, 1) berpikir abstrak, 2) berpikir sistematis, dan 3) berpikir hipotetis (Meece, 2002; P. Miller, 2002). Peserta didik operasional formal dapat berpikir tentang persamaan sebagai gagasan umum misalnya jika A adalah lebih besar dari B, dan jika B adalah lebih besar daripada C, maka A lebih besar dari C walaupun secara verbal. Pemikir formal juga berpikir sistematis dan mengenali kebutuhan untuk mengisolasi dan mengontrol variabel dalam membentuk kesimpulan. Peserta didik operasional formal juga dapat berpikir secara hipotetis. Sebagai contoh, mempertimbangkan apa yang mungkin terjadi jika Inggris telah memenangkan perang revolusioner. Sementara itu, egosentrisme sebagai karakteristik dari berpikir pra operasional, juga ada dalam tahap ini. Egosentrisme adalah pendamping konstan perkembangan kognitif (Wadsworth, 2004). Hal ini menonjol pada masa remaja dan termasuk keunikan pribadi karena ingin

mendapat perhatian. Egosentrisme lebih umum di terjadi pada masa sekolah menengah pertama dari pada sekolah menengah atas. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar sekolah menengah pertama dan khususnya kurikulum sekolah tinggi diarahkan untuk berpikir operasional formal. Hal ini akan menjadi dilema, karena penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemikiran remaja pada masa SMP dan siswa sekolah menengah masih operasional konkret. Penelitian tambahan menunjukkan bahwa hampir separuh dari semua mahasiswa tidak konsisten karena alasan formal, terutama di luar daerah utama. Banyak orang, termasuk orang dewasa, tidak pernah mencapai tahap operasional formal. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi guru, terutama yang di SMP dan SMA (bahkan perguruan tinggi). Banyak siswa datang ke lingkungan ini tanpa pengalaman konkret yang diperlukan untuk berpikir pada

9
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

tingkat abstraksi. Guru yang bijaksana tentu menyadari hal ini dan memberikan pengalaman nyata bagi mereka.

5.

Menerapkan Teori Piaget di Kelas: Prinsip-prinsip Pembelajaran Teori Piaget menyarankan agar pendidik memperhatikan kebutuhan

perkembangan pikiran siswa ketika akan merancang pelaksanaan pembelajaran. Prinsip-prinsip berikut dapat memandu pendidik dalam upaya menerapkan kerja Piaget dalam pembelajaran. 1. Memberikan pengalaman nyata yang mewakili konsep-konsep dan prinsipprinsip abstrak. 2. Membantu siswa menghubungkan representasi konkret untuk ide abstrak. 3. Menggunakan interaksi sosial untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman. 4. Merancang pengalaman belajar sebagai jembatan untuk pengembangan tahap perkembangan yang lebih maju.

6.

Meletakkan Teori Piaget ke dalam Perspektif Untuk menempatkan kaya Piaget ke dalam perspektif, perlu melihat baik

kritik maupun kekuatan teori Piaget. Berikut adalah beberapa kritik umum terhadap teori Piaget. a. Piaget meremehkan kemampuan anak-anak. Kemampuan kognitif anak dapat muncul lebih awal. Misalnya, ketika anak berusia 3 tahun diberi tugas konservasi dengan nomor disederhanakan dengan bekerja menggunakan tiga, bukan enam atau tujuh item, padahal mereka bisa menyelesaikannya. b. Piaget berlebihan terhadap kemampuan peserta didik yang lebih tua. Pendekatan pembelajaran yang mengandalkan penemuannya dapat

menyebabkan masalah kepada peserta didik dan guru. Sebagai contoh, guru SMP sering berasumsi bahwa siswa mereka dapat berpikir logis secara abstrak, tetapi hasil penelitian berpikir formal saja siswa sebagian besar belum bisa. c. Piaget mendeskripsikan tahap perkembangan yang mempengaruhi semua jenis tugas ternyata tidak valid. Sebagai contoh, peserta didik progresif untuk

10
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

berpikir operasional konkret biasanya dimulai dengan konservasi massa, berlangsung melalui berbagai kemampuan, dan berakhir dengan konservasi volume. d. Kemampuan logis anak-anak lebih kuat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman di bidang tertentu seperti yang disarankan Piaget. Sebagai contoh, jika diberikan pengalaman yang memadai, siswa dapat memecahkan masalah penalaran proporsional, tetapi tanpa pengalaman ini, mereka tidak bisa. e. Teori Piaget tidak mengakomodasi pengaruh budaya terhadap perkembangan. Padahal budaya menentukan pengalaman anak-anak, nilai-nilai, bahasa, dan interaksi mereka dengan orang dewasa dan satu sama lain. Meskipun memiliki kekurangan ini, teori Piaget telah sangat berpengaruh. Misalnya, pendidik sekarang melihat pembelajaran sebagai suatu proses aktif di mana peserta didik membangun pemahaman mereka sendiri tentang bagaimana dunia kerja, bukan melihatnya sebagai sebuah proses di mana siswa pasif menerima informasi atau menerapkan aturan dengan sedikit pemahaman. Piaget sangat memberikan kontribusi terhadap pandangan ini. Teori Piaget juga telah mempengaruhi kurikulum. Pelajaran sekarang diselenggarakan dengan

pengalaman konkret yang disajikan pertama, diikuti oleh ide-ide yang lebih abstrak dan rinci.

C. Melihat Perkembangan dari Sosial Kultural: Karya Lev Vygotsky Piaget memandang anak-anak berkembang sebagai individu dan motivasi diri sendiri untuk mengeksplorasi ide serta membangun pengetahuan dengan pengalaman sendiri. Lev Vygotsky memberikan pandangan alternatif yang menekankan pengaruh sosial dan budaya pada perkembangan kognitif anak. Perspektif teori perkembangan sosiokultural menekankan pentingnya pengaruh dari interaksi sosial dan bahasa, dengan memasukkan konteks budaya pada pengembangan kognitif. Interaksi komponen-komponen tersebut digambarkan sebagai berikut.

11
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

Bahasa

Perkembangan

Interaksi Sosial

Budaya

Gambar 3. Pembelajaran & Perkembangan dalam Konteks Budaya 1. Perkembangan dan Interaksi Sosial Berbeda dengan Piaget (1970, 1977) yang melihat interaksi sosial sebagai cara untuk menterjadikan proses asimilasi dan akomodasi pada individu. Vygotsky melihat belajar dan perkembangan yang terjadi secara langsung dari interaksi sosial. Proses itu terjadi melalui belajar yang terjadi secara langsung dalam konteks situasi sosial. Menurut Vygotsky, pemikiran (kognisi)

dikembangkan sebagai hasil langsung dari interaksi dengan orang lain. Melalui interaksi sosial, anak-anak mengembangkan pemahaman bahwa mereka tidak akan mampu memperoleh sendiri. Piaget menyatakan bahwa anak

mengeksplorasi dunia secara individual, tetapi Vygotsky menyatakan bahwa anakanak tidak perlu dan tidak seharusnya menemukan kembali pengetahuan tentang budaya sendiri. Pengetahuan ini telah terakumulasi selama ribuan tahun dan harus disesuaikan (diinternalisasi) melalui interaksi sosial. Orang dewasa khususnya orang tua, pengasuh, guru, dan teman sebaya memainkan peran penting dalam proses perkembangan. Orang dewasa menjelaskan, memberikan arah, memberikan umpan balik, dan menuntun komunikasi (Rogoff, 2003). Menurut Vygotsky anak-anak belajar dengan melakukan dan terlibat dalam kegiatan yang bermakna dengan orang yang lebih berpengetahuan. Aktivitas ini menyediakan sebuah kerangka di mana dialog dapat terjadi. Melalui dialog akan terjadi pertukaran ide-ide sehingga terjadi perkembangan.

12
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

2.

Perkembangan dan Bahasa Bahasa menjadi dasar teori Vygotsky dan memainkan tiga peran yang

berbeda dalam perkembangan. Pertama, bahasa memberikan peserta didik akses pengetahuan dari orang lain. Kedua, bahasa menyediakan peserta didik sebagai alat-alat kognitif yang memungkinkan mereka untuk berpikir tentang dunia dan memecahkan masalah. Misalnya, ketika peserta didik belajar, ia tidak hanya mempelajari kata dan bagaimana mengucapkannya, ia juga belajar bahwa itu adalah suatu sarana untuk membangun pengetahuan. Mendorong anak untuk berbicara tentang pengalaman mereka dapat memajukan proses belajar dan perkembangan (Pine & Messer, 2000). Ketiga, bahasa sebagai sarana untuk mengatur dan merenungkan pemikiran sendiri. Kita semua berbicara untuk diri kita sendiri. Sebagai contoh, kita mengeluh ketika kita frustrasi, dan kita bicara dengan diri kita melalui situasi yang tidak menentu misalnya, oh tidak.

3.

Perkembangan dan Budaya Budaya adalah konsep penting ketiga dalam pandangan Vygotsky terhadap

perkembangan dan itu menyediakan konteks di mana perkembangan terjadi (Glassman, 2001). Bahasa pada suatu budaya akan menjadi seperangkat alat kognitif yang digunakan anak-anak untuk melakukan interaksi dan memahami dunia.

4.

Hubungan antara Perkembangan dan Belajar Menurut Vygotsky belajar terjadi ketika orang memperoleh pemahaman

tertentu

atau

mengembangkan

kemampuan

yang

berbeda.

Kemajuan

perkembangan terjadi ketika pemahaman atau keterampilan semakin meningkat dan lebih kompleks (Bredo, 1997).

5.

Menerapkan Teori Vygotsky di Kelas: Prinsip-prinsip Pembelajaran Menerapkan teori Vygotsky untuk meningkatkan pembelajaran dan

perkembangan perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut dalam melaksanakan pembelajaran.

13
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

a. b.

Memasukkan budaya autentik ke dalam kegiatan belajar. Menciptakan kegiatan belajar yang melibatkan siswa dalam interaksi sosial.

c.

Mendorong siswa untuk menggunakan bahasa yang menggambarkan perkembangan pemahaman mereka.

d.

Menciptakan kegiatan belajar peserta didik yang berada dalam zona pengembangan proksimal.

e.

Memberikan bantuan belajar untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan.

6.

Zona Perkembangan Proksimal Ketika anak-anak dapat memperoleh manfaat dari pengalaman berinteraksi

dengan orang yang lebih berpengetahuan, mereka bekerja di zona perkembangan proksimal. Tugas-tugas yang belum bisa dilakukan sendiri akan dapat

diselesaikan ketika dibantu oleh teman yang lebih terampil. Vygotsky menjelaskan bahwa jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya seperti pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial seperti yang ditentukan melalui pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau kolaborasi dengan rekan-rekan yang lebih mampu.

7.

Scaffolding: Mendukung Pembelajaran Interaktif Anak-anak kecil yang sedang belajar berjalan sering dibuntuti oleh orang

tuanya dari belakang. Orang tua juga memegang tangan anaknya karena dianggap gerakan kaki si anak belum seimbang. Apabila orang tua sudah yakin kemudian akan membiarkan anaknya berjalan sendiri, namun tetap dekat untuk menangkapnya sebelum ia jatuh. Akhirnya si anak dapat berjalan dengan yang merupakan

nyaman. Contoh ini mengilustrasikan konsep scaffolding

bantuan yang membantu anak menyelesaikan tugas mereka ketika ia tidak dapat menyelesaikan secara mandiri. Sama seperti perkembangan balita, perkembangan dalam pembelajaran dapat ditingkatkan melalui dukungan guru (Rogoff, 2003). Tanpa dukungan ini,

14
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

perkembangan akan terganggu. Scaffolding sangat efektif untuk memungkinkan peserta didik untuk mencapai kemajuan belajar mereka sendiri.

8.

Pandangan Piaget dan Vygotsky Terhadap Konstruksi Pengetahuan Deskripsi Piaget dan Vygotsky terhadap perkembangan memiliki kesamaan

dan perbedaan. Perbandingan ini disajikan pada tabel 1. Kedua pandangan menekankan pentingnya bahasa dan interaksi sosial, tetapi berbeda dalam peranannya masing-masing dalam proses perkembangan. Piaget lebih kuat menekankan peserta didik membangun pengetahuan secara individu, sedangkan Vygotsky berfokus pada peserta didik membangun pengetahuan menggunakan budaya bahasa sebagai alat (Fowler, 1994; Rogoff 2003). Terlepas dari perbedaan itu, guru mesti menekankan keterlibatan aktif siswa dan penggunaan bahasa untuk menggambarkan perkembangan pemahaman siswa. Pandangan pembelajaran ini merupakan gagasan yang diterima secara luas bahwa peserta didik bukannya pasif yang menerima pengetahuan dari yang orang lain. Siswa secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri. Piaget percaya bahwa peserta didik membangun pengetahuan dasarnya sendiri, sedangkan Vygotsky percaya bahwa itu adalah konstruksi sosial kemudian diinternalisasikan oleh individu. Tabel 1. Jenis-jenis Scaffolding Pembelajaran Jenis Scaffolding Pemodelan Contoh Seorang guru seni menggambar dengan menunjukkan dua titik perspektif sebelum meminta siswa untuk mencoba gambar baru sendiri Berpikir tingkat Seorang guru fisika mengucapkan pikirannya saat dia tinggi memecahkan masalah pada papan tulis Pertanyaan Setelah pemodelan dan berpikir tingkat tinggi, pada guru fisika yang sama "menuntun" siswa melalui beberapa masalah, meminta mereka pertanyaan kritis pada saat tertentu Mengadaptasi materi Seorang guru pendidikan dasar menurunkan keranjang pembelajaran basket sambil mengajar teknik shooting dan kemudian mengangkatnya. Petunjuk dan isyarat Anak-anak pra sekolah diajarkan tentang cara mengikat tali sepatu

15
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

Tabel 2. Perbandingan Pandangan Piaget dan Vygotsky dalam Konstruksi Pengetahuan Pertanyaan Dasar Piaget Bagaimana pengetahuan baru tercipta melalui semua kebudayaan Membantu perkembangan simbol berpikir. Tidak meningkatkan kualitas level kecerdasan Vygotsky Bagaimana pengetahuan ditransmisikan dalam kebudayaan tertentu Merupakan mekanisme penting untuk berpikir, transmisi budaya dan regulasi diri, dan meningkatkan kualitas level kecerdasan Memberikan jalan untuk memperoleh bahasa dan pertukaran ide budaya Aktif dalam konteks interaksi sosial Memberikan scaffolding dan panduan pembelajaran

Peran Bahasa

Interaksi Sosial

Menyediakan cara untuk menguji dan memvalidasi skema Aktif memanipulasi objek dan ide-ide Rancangan pengalaman untuk menciptakan konflik kognitif

Pandangan terhadap pebelajar Dampak terhadap pembelajaran

D. Perkembangan Bahasa Para ahli memperkirakan bahwa anak berusia 6 tahun tahu antara 8.000 dan 14.000 kata. Pada kelas enam, kosakata anak-anak meluas ke 80000 kata

(Biemiller, 2005). Anak-anak usia sekolah dapat menggunakan kata ini untuk membaca dan berbicara serta menulis tentang ide-ide baru yang mereka pelajari. Memahami perkembangan bahasa adalah penting untuk tiga alasan berikut. 1. Seperti ditunjukkan dalam pembahasan tentang teori Piaget dan Vigotsky, bahasa adalah sarana yang dapat mempercepat perkembangan. Anak-anak berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa yang membantu anak-anak membangun ide yang semakin kompleks tentang kata. 2. Pengembangan bahasa merupakan sarana belajar pada umumnya (Goblok, 2006) karena hal ini terkait erat dengan belajar membaca dan menulis. Pengembangan bahasa anak, juga mempengaruhi perkembangan kemampuan mereka untuk belajar konsep abstrak. 16
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

3.

Perkembangan bahasa dapat berperan sebagai alat untuk perkembangan kemampuan sosial dan individu anak-anak.

1.

Teori Pemerolehan Bahasa Ahli bahasa memiliki pandangan yang berbeda tentang pemerolehan bahasa.

Terdapat empat teori untuk pemerolehan bahasa yaitu: 1) behavioris, 2) kognitif sosial, 3) kepribumian, dan 4) sosialkultural. a. Pandangan menyarankan behavioristik bahwa menjelaskan dapat perkembangan diberikan bahasa penguatan dengan untuk

anak-anak

menunjukkan suara dan menggunakan kata-kata (B. Skinner, 1953, 1957). Misalnya, anak usia 2 tahun mengambil bola dan mengatakan, "Baa." Ibu tersenyum lebar dan berkata, "Anak baik! Ball. "Anak lagi mengulangi, "Baa." Ibu menjawab, "Sangat Bagus." Adanya penguatan ini terhadap perilaku anak dari waktu ke waktu akan mempengaruhi perkembangan bahasanya. b. Pandangan kognitif sosial lebih menekankan peran pemodelan. Anak meniru pengucapan orang dewasa, penguatan dewasa, dan mengkoreksi umpan balik (Bandura, 1986, 2001). Misalnya, ayah adalah model ekspresi, anaknya berusaha menirunya, dan ayahnya memuji anaknya atas usahanya. Baik teori behaviorisme dan teori kognitif sosial sama masuk akal. Anak-anak melakukan belajar aspek-aspek tertentu dari bahasa dengan mengamati dan mendengarkan orang lain (Ownes, 2005). c. Teori kepribumian menegaskan bahwa semua manusia secara genetik untuk belajar bahasa dan berbahasa dapat memicu perkembangan. Chomsky, mengenalkan istilah LAD (language acquisition device) yaitu seperangkat genetik bahasa yang mengolah keterampilan yang memungkinkan anak-anak untuk memahami dan menggunakan aturan-aturan yang mengatur

percakapan. Intinya LAD merupakan suatu perangkat intelek nurani yang khusus untuk menguasai bahasa ibu dengan mudah dan cepat. Ketika anak-anak yang menggunakan bahasa, LAD menganalisis pola bicara agar sesuai aturan tata bahasa, misalnya subjek diletakkan setelah kata kerja ketika mengajukan pertanyaan.

17
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

d.

Teori sosialkultural adalah pusat dari teori perkembangan kognitif Vygotsky. Bahasa menyediakan sarana untuk interaksi sosial, transmisi budaya, dan pengaturan internal berpikir. Selain itu, bahasa merupakan aktivitas sentral dalam perkembangan. Teori Vygotsky memberikan wawasan ke dalam proses perkembangan bahasa itu sendiri. Anak-anak belajar bahasa melalui praktik kegiatan sehari-hari dan mudahnya perkembangan bahasa karena sudah tertanam dalam kegiatan sehari-hari. Dalam membantu anak-anak

mengembangkan bahasa, dewasa menyesuaikan cara bicara mereka untuk beroperasi dalam zona perkembangan proksimal anak. Bayi berbicara menggunakan kata sederhana, kalimat pendek, dan nada suara untuk menyederhanakan kata. Perubahan ini memberikan saffolding bahasa untuk memfasilitasi komunikasi dan pengembangan bahasa. Sebagai perkembangan keterampilan bahasa, anak-anak mulai menggunakan kata yang lebih panjang dan kalimat yang lebih kompleks dengan tepat memperhatikan zona perkembangan proksimal anak-anak. Berlatih bahasa dan menerima umpan balik memiliki peran penting membantu anak-anak memperluas dan memperbaiki perkembangan bahasanya (Hoff, 2001).

2.

Tahap-tahap Penguasaan Bahasa Anak-anak melewati serangkaian tahap saat mereka belajar untuk berbicara.

a.

Tahap Bahasa Awal: Membangun Pondasi Belajar berbicara secara aktual dimulai dalam buaian ketika orang dewasa mengatakan "Ooh" dan "Aah" atau bayi pintar. Interaksi ini meletakkan landasan bagi perkembangan bahasa masa depan dengan mengajarkan anak bahwa manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Selama tahap ini, anak-anak juga belajar untuk menggunakan intonasi untuk menyampaikan makna. Perbedaan dalam intonasi menunjukkan bahwa anak mulai menggunakan bahasa sebagai alat fungsional. Perkembangan bahasa anak sejajar dengan perkembangan skema meraka. Generalisasi yang berlebihan terjadi ketika anak-anak tidak tepat

mengasimilasi informasi baru ke dalam skema yang ada. Pengalaman konkret

18
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

dan interaksi dengan orang lain membantu anak-anak menyempurnakan bahasa mereka. b. Tahap Menyusun Tata Bahasa Selama tahap ini anak-anak mulai memperluas dan menyempurnakan tata bahasa awal mereka (Berk 2004-2006). Anak-anak menguraikan present tense untuk memasukkan bentuk kata kerja. Misalnya untuk kalimat lampau (past regular) dia mengatakan he looked tidak he look. c. Tahap Meningkatkan Kompleksitas Bahasa Pada sekitar usia 3 tahun, seorang anak belajar untuk menggunakan kalimat yang lebih strategis. Anak-anak mulai membalikkan subyek dan kata kerja untuk membentuk pertanyaan dan mereka memodifikasi pernyataan positif untuk membentuk pernyataan negatif (Bloome, Carter, Kristen, Otto, & Shuart-Faris, 2005). Misalnya, anak tidak hanya bisa mengatakan "dia memukulnya" tetapi juga "ia tidak memukulnya"? Pengenalan bentuk-bentuk kalimat yang lebih kompleks yang terjadi pada sekitar usia 6 dan sejajar dengan aspek lain dari perkembangan kognitif. Kemampuan untuk membentuk dan menggunakan kalimat yang lebih kompleks mencerminkan pemahaman anak mengembangkan hubungan sebab dan akibat.

3.

Meningkatkan Perkembangan Bahasa: Saran untuk Guru Pertama, mendorong siswa menggunakan bahasa untuk menggambarkan

pemahaman mereka tentang topik-topik pembelajaran (Gauvain, 2001). Di samping itu, juga perlu diperhatikan bahwa siswa juga tidak bisa berlatih terlalu banyak dalam penggunaan bahasa terutama dalam matematika dan ilmu pengetahuan, di mana siswa cenderung berbicara sedikit tentang ide-ide daripada konten lainnya. Kedua, mengingatkan siswa agar selalu berusaha menempatkan

pemahamannya dalam kata-kata sebagai bagian dari pembelajaran dan perkembangan. Siswa tahu apa yang akan dikatakan namun tidak bisa masukkannya ke dalam kata-kata. Para siswa lebih mampu mengartikulasikan

19
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id

pemahaman mereka. Kesabaran dan dukungan guru sangat penting dalam proses ini. Ketiga, memberikan para siswa scaffolding/perancah saat mereka berlatih bahasa. Misalnya, menyediakan siswa dengan istilah-istilah teknis,

mengartikulasikan bagian dari definisi, dan menghiasi deskripsi. Kemudian, mendorong mereka untuk mengartikulasikan definisi atau deskripsi yang lengkap, termasuk istilah-istilah teknis baru. Mengartikulasikan pemahaman mereka untuk pertama kali menandai suatu kemajuan dalam perkembangan pembelajaran lebih lanjut. Adanya kesempatan untuk menjelaskan pemahaman dapat memotivasi untuk meningkatkan aktivitas belajar selanjutnya.

20
Perkembangan Kognitif & Bahasa | 2012
Dewa Gede Agus Putra Prabawa | Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Undiksha Singaraja-Bali e-mail: dw_prabawa@yahoo.co.id