Anda di halaman 1dari 27

Makalah Psikologi Diferensial

Anak Gifted dan Autis


Disusun untuk memenuhi Uji Kompetensi Dasar II Psikologi Diferensial Dosen Pengampu: Selly Astriana, S. Psi, MA.

Disusun oleh:
Adzanishari Mawaddah R Ariska Rizal P Asri Dzikrina I Azis Andy Prabowo Beta Bela P Dian Kusuma Hapsari Ganis Sansuar R A Gatuwari Lesminadi (G 0111001) (G 0111006) (G 0111009) (G 0111010) (G 0111012) (G 0111021) (G 0111038) (G 0111039)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas mengenai Anak Autis dan Gifted ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi Diferensial pada semester 4 di jurusan psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu atas terselesaikannya makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi baik dan sempurnanya makalah ini. Tidak lupa kami ucapakan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila dalam penulisan makalah ini ada hal-hal yang kurang berkenan. Semoga makalah ini dapat bermafaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Surakarta, 7 November 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dewasa ini telah banyak orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, namun banyak diantaranya yang belum memahami anak mereka termasuk dalam kriteria kekhususan yang mana. Disini akan dijelaskan secara singkat mengenai anak Gifted dan anak Autis. Autisme adalah perkembangan kekacauan otak dan gangguan pervasif yang ditandai dengan terganggunya interaksi sosial, keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi social, gangguan dalam perasaan sensoris, serta tingkah laku yang berulang ulang. Gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri: berbicara, tertawa, menangis dan marah marah sendiri. Gejala autisme dapat terdeteksi pada usia sebelum 3 tahun. Anak autis adalah penderita minor brain damage (kelainan atau kerusakan otak yang sangat mikro). Kemudian Gifted itu adalah anak yang memiliki Inteligensi tinggi, berbakat intelektual gifted. Namun kebanyakan orang mengira anak berbakat (gifted) adalah anak bertalenta. Perbedaan anak berbakat dengan anak bertalenta adalah : Anak berbakat (gifted) adalah anak yang memiliki kemampuan Inteligensia yang tinggi sedangkan anak bertalenta (talented) adalah anak yang mempunyai kreatifitas tinggi. Anak Gifted merupakan anak yang memiliki sebuah kekhususan atau keistimewaan, biasanya berupa kecerdasan yang luar biasa. Dengan kata lain ia merupakan anak yang cerdas dan istimewa (gifted child). Anak gifted juga seringkali disebut anak indigo karena dia memiliki instuisi yang tajam dan beberapa diantaranya bisa melihat sesuatu yang akan terjadi. Dalam kesehariannya, mereka kerapkali memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa dan tidak mau diperlakukan seperti anak kecil. Sehingga, orang dewasa menganggap anak indigo sebagai anak yang memiliki kelainan. Hal ini yang menyebabkan anak-anak gifted balita mendapatkan kekeliruan diagnosa seperti autisme, maupun gangguan belajar (learning disabilities).

Beda antara perilaku autis dan gifted memang tipis. Malah hampir mirip. Anak autis memiliki ketakutan yang lebih permanen dibanding anak gifted. Jika mendapat tugas dari sekolah, anak gifted tidak mau mengerjakan tugas itu karena indera mata, telinga, dan perabanya terlalu tajam sehingga

konsentrasinya mudah buyar oleh sesuatu yang tiba-tiba menarik hatinya. Lalu tingkat sangat aktifnya muncul. Sedang si anak autis tidak bisa diberi tugas karena kita tidak mampu menembus kontak dengannya. Oleh karena, didalam makalah yang kami buat akan membahas beberapa pengertian mengenai anak-anak yang memiliki bakat diatas rata-rata (Gifted) dan autisme, mengenali ciri anak-anak yang memiliki kemampuan diatas ratarata dan autisme, serta beberapa ciri yang berhubungan dengan tingkatan intelegensi serta pengaruhnya terhadap proses belajar.

B. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Apa gifted dan autisme itu ? Apa penyebab gifted dan autis ? Faktor resiko apa yang akan muncul ? Apa sajakah terapi untuk gifted dan autisme ?

C. Tujuan 1. 2. 3. 4. Mengetahui apa gifted dan autisme itu Menganalisis apa penyebab gifted dan autisme Mengobservasi faktor resiko yang akan ditimbul Mengerti beberapa terapi untuk gifted dan autisme

D. Manfaat 1. 2. Agar dapat mengetahui gifted dan autisme Agar dapat memberikan terapi untuk gifted dan autisme

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Anak Autis dan Gifted Banyak atau beberapa orang mengasumsikan definisi anak anak autis dengan anak gifted merupakan perngertian yang sama. Hal ini dikarenakan belum terlalu banyak informasi lebih mendalam mengenai kedua hal tersebut terutama bagi orang awam di Indonesia. Kebanyakan masyarakat mengganggap bahwa autis dan anak gifted merupakan anak yang berbeda dengan kebanyakan anak lain, padahal jika dikaji lagi mengenai definisi anak autis dengan anak gifted, keduanya memiliki poin penting yang membedakan keduanya. Gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton (saudara sepupu pencetus teori evolusi Charles Darwin) pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anakanak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children. Dalam perkembangannya, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. . Dari hasil studinya ini Terman kemudian merumuskan konsepsinya tentang arti keberbakatan istimewa atau giftedness. Ia memberikan batasan bahwa anakanak Gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140.

Selain definisi diatas dari kedua ahli, definisi gifted juga terdapat dalam kamus psikologi yang memberikan 2 pengertian mengenai anak gifted yaitu (1) anak yang memiliki satu derajat kemampuan intelektual yang tinggi (IQ 140 atau lebih) atau (2) memiliki satu bakat nonintelektif, seperti bakat musik sampai derajat yang tinggi sekali. Setelah kita mencoba memahami definisi dari anak gifted, selanjutnya kita mencoba memahami definisi anak autis. Autisme dalam istilah umum berkaitan dengan gangguan perkembangan yang komplek dengan gejalagejalanya meliputi perbedaan dan ketidakmapuan dalam berbagai bidang, seperti kemampuan komunikasi sosial, kemampuan motorik kasar, motorik halus serta tidak mampu berinteraksi sosial sehingga penderita autisme seolaholah hidup dalam dunianya sendiri. Menurut praktisi dan psikiater anak Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ (K), aspek gangguan perkembangan dapat terwujud dalam bentuk berbeda. Bentuk berbeda dikarenakan faktor yang

melatarbelakangi gejala klinis sangat bervariasi, berkaitan, dan unik. Beberapa ahli juga mengemukakan beberapa pendapat mengenai definisi autis, diantaranya Kartono (2000) yang berpendapat bahwa Autisme adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar keasyikan ekstrim dengan fikiran dan fantasi sendiri. Autisme adalah gangguan yang parah pada kemampuan komunikasi yang berkepanjangan yang tampak pada usia tiga tahun pertama, ketidakmampuan berkomunikasi ini diduga mengakibatkan anak penyandang autis menyendiri dan tidak ada respon terhadap orang lain (Sarwindah, 2002). Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisme adalah gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga sulit untuk mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat. Sedangkan berdasarkan kamus Psikologi Chaplin, autis didefinisikan menjasi 3 pengertian yaitu (1) cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri, (2) menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri, dan menolak realitas, dan (3) keasyikan eksrim dengan

pikiran dan fantasi sendiri. Selin itu, definisi autisme juga dikemukakan oleh Sutadi (2002), yang mendefinisikan autisme sebagai gangguan dalam perkembangan neurologis berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain di sekitarnya secara wajar. Ketidakmampuan dalam berkomunikasi ini disebabkan adanya kerusakan sebagai fungsi otak (Integrity Sensory Disorder).

B. Ciri-ciri Anak Autis dan Gifted a. Anak Autis Autisme terjadi sejak usia dini, biasanya sekitar usia 2-3 tahun. ciri-ciri utama seorang anak yang menderita autismee, antara lain : 1. Tidak peduli dengan lingkungan sosial 2. Tidak bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosial 3. Perkembangan bicara dan bahasa tidak normal 4. Reaksi atau pengamatan terhadap lingkungan terbatas atau berulang-ulang dan tidak padan. Menurut Jamila K.A Muhammad (2008), ciri-ciri anak-anak penderita autismee adalah memiliki gangguan dalam beberapa aspek berikut ini, antara lain : 1. Komunikasi a. Perkembangan bahasa yang lambat b. Terlihat seperti memiliki masalah pendengaran dan tidak

memperhatikan apa yang dikatakan orang lain c. Jarang berbicara d. Sulit untuk diajak berbicara e. Kadang dapat mengucapkan sesuatu namun hanya sebentar f. Perkataan yang disampaikan tidak sesuai dengan pertanyaan g. Mengeluarkan bahasa yang tidak dapat dipahami orang lain h. Meniru perkataan atau pembicaraan orang lain (echolalia) i. Dapat meniru kalimat atau nyanyian tanpa mengerti maksudnya j. Suka menarik tangan orang lain jika meminta sesuatu

2. Interaksi sosial a. Suka menyendiri b. Sering menghindari kontak mata dan selalu menghindar dari pandangan orang lain c. Tidak suka bermain dengan teman-temannya dan sering menolak ajakan mereka d. Suka memisahkan diri dan duduk memojok 3. Gangguan indra a. Sensitif pada sentuhan b. Tidak suka dipegang atau dipeluk c. Sensitif dengan bunyi keras d. Suka mencium dan menjilat mainan atau benda lain e. Kurang sensitif pada rasa sakit dan kurang merasa takut 4. Pola bermain a. Tidak suka bermain seperti anak-anak seusianya b. Tidak suka bermain dengan teman sebayanya c. Tidak bermain mengikuti pola biasa dan suka memutar-mutar atau melempar dan menangkap kembali benda yang dipegangnya d. Menyukai objek yang berputar, misalnya kipas angin. e. Apabila menyukai suatu benda, ia akan terus memegang dan membawanya ke mana pun 5. Tingkah laku a. Bersifat hiperaktif atau hipoaktif b. Melakukan gerakan yang sama berulang-ulang c. Tidak suka pada perubahan d. Dapat duduk lama tanpa melakukan apapun 6. Emosi a. Emosi anak-anak penderita autisme sulit ditebak dan berubah-ubah. Mereka kerap marah, tertawa, dan menangis tanpa sebab. b. Merusak apa pun yang ada di sekitarnya jika emosinya sedang tidak stabil

c. Menyerang siapa pun yang mendekatinya jika emosinya sedang tidak stabil d. Terkadang mencederai dirinya sendiri e. Tidak ada rasa simpati dan tidak mampu memahami orang lain Intensitas terjadinya gejala-gejala tersebut berbeda-beda setiap kasus tergantung usia, inteligensia, pengaruh pengobatan, dan kebiasaan-kebiasaan pribadi lainnya. Pada pemeriksaan status mental, ditemukan kurangnya orientasi lingkungan; rendahnya daya ingat, meskipun terhadap peristiwa yang baru saja terjadi; dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar sangat rendah. Anak-anak penderita autisme seringkali berbicara dengan cepat namun tidak bermakna, kadang diselingi suara tidak jelas seperti suara gemeretak gigi. Kecerdasan anak penderita autisme biasanya realtif rendah, namun 20% dari anak penderita autisme masih memiliki skor IQ>70. Anak-anak penderita autisme rendah dalam kemampuan khusus seperti membaca, berhitung, menggambar, melihat penanggalan, atau mengingat jalanan yang berliku-liku.

b. Anak Gifted Renzulli (2005) mengemukakan teori three-conceptions of giftedness. Teori ini menjelaskan 3 karakteristik keberbakatan anak yang harus saling berinteraksi untuk dapat memunculkan keberbakatan pada anak. Ketiga karakteristik tersebut antara lain: 1. Kemampuan di atas rata-rata, meliputi aspek: a. Kemampuan umum, terdiri dari : Kemampuan berpikir abstrak, penalaran verbal dan numerik, hubungan spasial, memori, dan kelancaran kata. Kemampuan beradaptasi terhadap situasi baru dalam lingkungan eksternal Otomatisasi pemrosesan infromasi secara cepat dan akurat, serta pemanggilan informasi dari memori secara selektif.

b. Kemampuan khusus, terdiri dari : Kapasitas untuk menerapkan kombinasi kemampuan umumpdaa satu atau lebih bidang Kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan secara tepat pengetahua formal, teknik, dan strategi tertentu untuk menyelesaikan masalah. Kapasitas untuk memisahkan informasi yang relevan dan tidak relevan dengan masalah tertentu. 2. Komitmen pada tugas, meliputi : a. Minat, antusiasme, dan keterlibatan yang tinggi terhadap masalah atau bidang studi tertentu. b. Ketekunan, ketahanan, determinasi, kerja keras, dan dedikasi. c. Kepercayaan diri, ego yang kuat, keyakinan atas kemampuan diri untuk menyelesaikan tugas penting, kebebasan dari perasaan inferior, dorongan untuk mencapai tujuan. d. Penetapan standar tinggi terhadap hasil kerja 3. Kreativitas, meliputi: a. Kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir. b. Keterbukaan terhadap pengalaman, reseptivitas terhadap hal baru atay berbeda, bahkan irrasional. c. Rasa ingin tahu, spekulatif, suka berpetualang dan mentally playful, bersedia mengambil risiko dalam berpikir dan bertindak. d. Kepekaan terhadap detil dan estetika. Ohio Association for Gifted Children (2002) juga mengemukakan beberapa karakteristik anak berbakat, yaitu: 1. Belajar dengan cepat dan mudah 2. Dapat membaca secara intensif 3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas 4. Memiliki banyak informasi 5. Memiliki perhatian yang cukup lama

6. Memiliki rasa ingin tahu atau ketertarikan terhadap berbagai hal 7. Bekerja secara mandiri 8. Senang mengamati 9. Memiliki rasa humor 10. Mengerti atau mengenal hubungan-hubungan 11. Memiliki prestasi akademik yang tinggi 12. Lancar dalam berbahasa 13. Individualistik 14. Memiliki motif intrinsic C. Penyebab Terjadinya Autis dan Gifted pada Anak a. Penyebab Gifted Secara luas telah disepakati bahwa baik itu genetik maupun lingkungan memainkan peran dalam keturunan memainkan peran penentuan Gifted. Peneliti setuju bahwa faktor yang dominan dalam keberbakatan. Orang

tua cerdas lebih mungkin untuk memiliki anak cerdas. Dalam studi jangka panjang terhadap lebih dari 1.500 individu cerdas, Terman menemukan bahwa subyeknya juga memiliki anak-anak yang jauh di atas rata-rata.

Namun, tidak ada hubungan keturunan yang tepat. Beberapa orang tua ratarata memiliki anak dengan kecerdasan superior, sementara beberapa orang tua lainnya memiliki anak cerdas dengan kemampuan biasa-biasa saja. Ada juga orang tua cerdas yang memiliki anak rata-rata atau bahkan di bawah ratarata. Secara psikologis, bakat diyakini merupakan hadiah yang memiliki asalusul genetik dan setidaknya sebagian bawaan yang mungkin tidak tampak jelas pada tahap-tahap awal, melainkan hanya kecenderungan-kecenderungan bahwa anak mungkin memiliki bakat. Anak berbakat, terlepas dari mana ia dibesarkan, ia akan menunjukkan keberbakatannya pada beberapa poin. Misalnya, ada beberapa anak dengan keberbakatan luar biasa yang bisa memiliki bakat bawaan, seperti bakat dalam bidang musik. Tidak ada lingkungan tertentu yang merangsang bakatnya. Namun, ada juga anak berbakat karena pengaruh lingkungan. Pengalaman hidup awal dapat

mempengaruhi kinerja anak pada yang merangsang, misalnya, dapat

tes kecerdasan.

Lingkungan

memungkinkan seseorang

untuk mengungkapkan bakatnya. Orang yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya kemungkinan untuk mencetak pada tes kecerdasan agak lebih tinggi daripada anak lain yang memiliki

kemampuan asli sama tetapi mendapat pendidikan yang sedikit. Penelitian telah menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan matematika sangat tinggi memiliki lobus frontal otak yang berbeda dibandingkan dengan rata-rata siswa. Studi neuropsikologi mengklaim bahwa dalam pengolahan informasi, individu-individu berbakat memiliki aktivitas otak yang tinggi di hemisfer kanan. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik fisik dari otak mungkin berhubungan dengan proses bawaan di mana orangorang tertentu memperoleh bakat tingkat tinggi dan kemampuan di daerah yang berbeda . Banyak penelitian telah membuktikan bahwa bakat dipengaruhi oleh faktor biologis (nature) dan sosiologis (nurture). Ini semua terkait dengan beberapa faktor eksternal lainnya di luar fisiologis anak. Singkatnya, untuk dianggap sebagai gifted, seorang anak harus memiliki biologis (gen, struktur otak ) dan lingkungan (pendidikan, keamanan emosional, dsb) yang baik untuk meningkatkan dan mengeluarkan bakatnya.

b. Penyebab Autis Sampai saat ini para ahli masih melakukan penelitian mengenai penyebab utama autisme. Menurut para ahli, penyebab autisme sampai saat ini masih multifaktor. Berikut adalah beberapa hal yang dapat menjadi pemicu atau pencetus autisme: 1. Faktor Genetik Faktor genetik diyakini memiliki peranan yang besar bagi penyandang autisme walaupun tidak diyakini sepenuhnya bahwa autisme hanya dapat disebabkan oleh gen dari keluarga. Riset yang dilakukan terhadap anak autistik menunjukkan bahwa kemungkinan dua anak kembar identik mengalami autisme adalah 60 hingga 95 persen

sedangkan kemungkinan untuk dua saudara kandung mengalami autisme hanyalah 2,5 hingga 8,5 persen. Hal ini diinterpretasikan sebagai peranan besar gen sebagai penyebab autisme sebab anak kembar identik memiliki gen yang 100% sama sedangkan saudara kandung hanya memiliki gen yang 50% sama. 2. Gangguan Susunan Saraf Pusat (SSP) Pada Masa Kehamilan Di masa kehamilan, gangguan SSP yang dapat menimbulkan autisme adalah infeksi virus, jamur, kuman, perdarahan pada hamil muda, sakit berat, anemia dan keracunan. Pada Masa Bayi atau Anak-anak Kemungkinan terjadinya gangguan SSP adalah akibat alergi, gangguan pencernaan, keracunan logam berat (Cd, Hg, Pb) dan jamur yang tumbuh berlebihan dalam saluran pencernaan. 3. Proses Kelahiran Proses kelahiran yang sulit sehingga bayi kekurangan oksigen, trauma kepala bayi, leher bayi terlilit tali pusat, dan tersedak air ketuban ternyata dapat menjadi salah satu penyebab autisme. Hal inilah yang dianggap potensial menimbulkan gangguan Sistem Saraf Pusat (SSP). 4. Mutasi Genetik Salah satu penelitian terbaru mengenai autisme menemukan para penderita autis memiliki gen umum dengan variasi yang berbeda. Hasil penelitian ini membandingkan gen dari ribuan penderita autisme dengan ribuan orang normal. Hasil dari penelitian menunjukkan, sebagian besar penderita autisme memiliki variasi genetik dari DNA mereka yang berpengaruh pada hubungan antarsel otak. 5. Keracunan Logam Berat Keracunan logam berat, merkuri dan timbal hitam. 6. Vaksinasi Ada dugaan bahwa autisme disebabkan oleh vaksin MMR yang rutin diberikan kepada anak-anak di usia dimana gejala-gejala autisme mulai terlihat. Kekhawatiran ini disebabkan karena zat kimia bernama

thimerosal yang digunakan untuk mengawetkan vaksin tersebut mengandung merkuri. Unsur merkuri inilah yang selama ini dianggap berpotensi menyebabkan autisme pada anak. Namun, tidak ada bukti kuat yang mendukung bahwa autisme disebabkan oleh pemberian vaksin. Penggunaan thimerosal dalam pengawetan vaksin telah diberhentikan namun angka autisme pada anak semakin tinggi.

D. Treatment pada Anak Autis dan Gifted a. Treatment pada Anak Autis Tujuan utama dalam penanggulangan autisme adalah untuk mengurangi gejala-gejala yang berkaitan dengan autisme dan mengurangi tekanan yang terjadi dalam keluarga. Selanjutnya, upaya terapi juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autistik agar dapat berfunggsi di dalam kehidupan sehari-hari secara mandiri. Salah satu masalah yang timbul dalam melakukan intervensi autisme adalah laporan neuropsikologi sulit dimengerti oleh pendidik sehingga sulit untuk diterjemahkan ke dalam tindakan edukatif yang sesuai bagi anak autistik. Intervensi pendidikan dalam banyak hal secara efektif memberikan manfaat bagi perkembangan anak autistik. Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA) Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara objektif. Pelaksanaannya dilakukan empat sampai delapan jam sehari. Anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan, misalnya berkomunikasi,

berinteraksi, berbicara, berbahasa, dan sebagainya. Namun yang pertama-tama perlu diterapkan adalah latihan kepatuhan. Hal ini sangat penting agar mereka dapat mengubah perilaku seenaknya sendiri menjadi perilaku yang lazim dan diterima masyarakat. Biasanya setelah satu sampai dua tahun menjalani intervensi dini dengan baik, si anak siap untuk masuk ke kelompok kecil. Bahkan ada yang siap

masuk kelompok bermain. Mereka yang belum siap masuk ke kelompok bermain, bisa diikutsertakan ke kelompok khusus. Di kelompok ini mereka mendapat kurikulum yang khusus dirancang secara individual. Di sini anak akan mendapatkan penanganan terpadu, yang melibatkan pelbagai tenaga ahli, seperti psikiater, psikolog, terapis wicara, terapis okupasi, dan ortopedagogik. Berbagai penelitian yang berkaitan dengan intervensi mengalami berbagai masalah metodologi yang bersumber pada masalah efektifitas dan efisiensi dalam penerapannya ( Ospina, Krebs, Clark, et al, dalam Jamaris 2009). Walaupun demikian, sebagian besar ahli intervensi psikososial menemukan bukti-bukti positif yang menyarankan bahwa beberapa upaya terapi cocok untuk diterapkan pada anak autistik. Berikut ini merupakan jenis terapi yang dapat dilakukan dalam menangani anak autisme: 1. Terapi perilaku Terapi Perilaku terdiri dari terapi wicara (sampai kepada komunikasi Pragmatis atau bahasa gaul), terapi okupasi, akademik, Bantu diri dan menghilangkan perilaku asosial. Terapi okupasi, Terapi ini untuk menguatkan, memperbaiki

koordinasi dan keterampilan ototnya. Terapi Wicara, Bagi penyandang autisme oleh karena semua penyandang autisme mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa, speech therapyadalah juga suatu keharusan, tetapi pelaksanaannya harus dengan metode ABA. Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar, hal ini perlu dimulai dari kepatuhan dan kontak mata, kemudian diajarkan konsep menirukan, lalu diberikan pengenalan konsep dan kognisi melalui bahasa reseptif/kognitif dan bahasa ekspresif disertai dengan tata krama dan sebagainya. 2. Terapi biomedik Sebagian besar terapi biomedik terhadap ASD diintegrasikan dengan kegiatan anak di rumah dan di sekolah. Hal ini dilakukan karena terapi yang dilakukan secara terpisah kurang berhasil.

3. Pengobatan (pemberian obat, vitamin, mineral, food supplements) Tidak diketahui adanya pengobatan menyeluruh terhadap autisme, menggunakan pengobatan tradisional, obat-obatan herbal atau homeopati. Obat-obatan bukanlah perawatan utama dalam autisme. Pemberian obatobatan untuk penyandang autisme sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati. Dosis dan jenisnya sebaiknya diserahkan kepada Dokter Spesialis yang memahami dan mempelajari autisme (biasanya Dokter Spesialis Jiwa Anak). 4. Program Intervensi Lainnya Program Adaptasi Hanen: yaitu suatu program pelatihan di bidang bahasa dan bicara. Dalam berkomunikasi dengan anak autisme haruslah menggunakan bahasa yang sederhana, saling bertatapan muka dengan anak, dan mendengarkan mereka dengan baik. Auditor Integration Training (pelatihan integrasi auditori): yaitu suatu program pelatihan dengan menggunakan suara sebagai cara

mengekspos anak pada serangkaian pengalaman pendengaran. Alat dengan headphone digunakan untuk memainkan musik yang dapat diubah dan dikontrol. Diet: beberapa diet telah disarankan untuk mengurangi beberapa gejala autisme. Hingga kini belum ada riset yang mengkomfirmasi keefektifannya. Diet bebas gluten dan kasein adalah yang sangat umum ditemui. Namun tak ada bukti yang menunjukkan bahwa dengan mengeluarkan gluten dan kasein dari diet anak mengarah pada perubahan dalam perkembangan anak. Lumba-lumba: merupakan suatu program treatment, yaitu berenang dengan ikan lumba-lumba sebagai kegiatan terapi. Early Bird: yaitu suatu program pelatihan bagi para orang tua anak autis. Tujuan dari pelatihan ini yaitu, 1) untuk mendukung orang tua dalam periode diantara identifikasi dan penempatan sekolah, khususnya dalam memahami autisme.

2) untuk mendorong orang tua dan membantu memfasilitasi komunikasi sosial anak dan tingkah laku sesuai dalam lingkungan alami anak. 3) untuk membantu orang tua mempraktekkan pengasuhan anak di usia awal dengan sebagai pengendali perkembangan tingkah laku yang tak sesuai. Higashi: terapi daily life dikembangkan di jepang oleh Dr. Kiyo Kitahara dan lainnya. Terapi ini memusatkan filosofi mereka pada

budaya Jepang atas penampilan dan milik kelompok. Ini merupakan kurikulum 24 jam yang berfokus pada keterampilan hidup sehari-hari, pendidikan fisik, musik, dan prakarya. Lovaas: pelatihan ini menggunakan pendekatan berdasarkan terapi tingkah laku, serta menggunakan penguatan positif untuk mendorong pembelajaran. Karena program ini sangat terstruktur dan

membutuhkan kerjasama yang tinggi dari anak dengan tingkat perulangan yang tinggi. Mifne: pelatihan ini merupakan program intervensi awal untuk keluarga dengan anak autis di bawah umur lima tahun. Program ini menggunakan pendekatan melalui permainan resiprokal (saling respon) dengan anak. Program ini juga menggunakan tim, bekerja secara intens dengan anak dan keluarga untuk menghasilkan lebih banyak peluang berkomunikasi. Ini bertujuan untuk memperbaiki kontak mata, ekspresi afeksi, dan kepedulian sosial. PECS: The Picture Exchange Communication System, program ini mengajarkan anak menukar gambar dengan benda yang diinginkannya, program ini dimulai dengan satu gambar tunggal, bergerak pada pilihan dan kemudian membentuk kalimat yang lebih kompleks. Program Son-Rise, program ini merupakan perawatan dengan pendekatan pendidikan yang dirancang untuk membantu anak autis, keluarga dan pengasuh mereka. Pendekatan ini juga mengeksploitasi ketertarikan anak dan interaksi orang dewasa dengan apa yang dilakukan anak, dan pendekatan ini juga menyarankan interaksi sosial

dan belajar sebagai pemfasilitas terbaik melalui ketertarikan spesifik anak. Adapun prinsip kunci dalam program ini yaitu: 1) secara aktif bergabung dengan tingkah laku berulang atau tak biasa anak dalam usaha memfasilitasi lebih banyak interaksi sosial. 2) fokus pada motivasi anak dan ketertarikannya untuk memfasilitasi pembelajaran dan keterampilan. 3) mendorong permainan interaktif dan menggunakan ini untuk belajar. 4) mempertahankan sikap mengasuh, tanpa menghakimi, dan positif dalam interaksi dan harapan. 5) menyampaikan bahwa orang tua dan pengasuh adalah sumber paling penting dan tanpa akhir bagi anak. 6) menciptakan area bekerja dan bermain yang aman, tanpa gangguan. TEACCH, program ini bertujuan untuk membantu anak ASD hidup mandiri sesuai dengan potensi terbaik mereka. Program ini juga menyarankan pengajaran berstruktur, tetapi tidak mendikte dimana orang dengan autisme seharusnya dididik. Program ini juga menyediakan layanan seperti identifikasi, pengembangan kurikulum, setiap individu, pelatihan keterampilan sosial, pelatihan dan konseling orang tua. Sebagai tambahan program ini juga menyediakan layanan konsultasi keberbagai kelompok profesinal. Orang tua dan guru dapat dilatih dengan pendekatan TECCCH. b. Treatment pada Anak Gifted Kurangnya definisi yang jelas tentang karakteristik dan kebutuhan siswa gifted dengan ketidakmampuan belajar dan protokol untuk identifikasi yang unik, menyebabkan kurang adanya program khusus yang dikembangkan dalam sistem sekolah untuk populasi ini. Sebagai contoh, sebuah survei di satu negara menemukan bahwa sebagian besar sistem sekolah dilaporkan tidak memiliki anak-anak berbakat dengan ketidakmampuan belajar di distrik mereka dan tidak ada program khusus (Boodoo et al., 1989). program treatment untuk anak gifted antara lain adalah: Beberapa

1. Program Pendidikan Individual Meskipun banyak siswa gifted dengan ketidakmampuan belajar akan lebih baik dilayani oleh program terpisah dikembangkan terutama untuk mereka, ada kemungkinan bahwa kebutuhan banyak dapat dipenuhi melalui identifikasi yang tepat dari kekuatan dan kelemahan dan fleksibel, pendekatan individual untuk menggunakan layanan dan sumber daya yang ada tersedia dalam dan di luar sekolah . Siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar perlu: (a) program highlevel atau " gifted " pada area kelebihan mereka , (b) instruksi perkembangan pada subyek terhadap rata-rata pertumbuhan, (c) perbaikan pengajaran di bidang kelemahan, dan (d) instruksi adaptif di daerah kelemahan (Fox, Brody, & Tobin, 1983; Virginia Departemen Pendidikan , 1990) . Program dan / atau jasa untuk rata-rata mencapai -siswa yang terutama membutuhkan pengajaran yang sesuai dengan usia, untuk siswa gifted yang membutuhkan akselerasi dan / atau instruksi yang lebih kompleks, dan untuk rata-rata- kemampuan siswa penyandang cacat dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan Program Pendidikan Individual yang optimal untuk memenuhi kebutuhan siswa gifted dengan ketidakmampuan belajar . Idealnya, program individual dikembangkan melalui kerjasama tim yang melibatkan orang tua, seorang spesialis berbakat, seorang spesialis ketidakmampuan belajar, diagnosa, guru kelas umum, dan anaknya sendiri (Silvermars, 1989; Van Tassel Baska, 1991 ) . Dalam mengembangkan program pendidikan siswa yang unik, kekuatan dan kelemahan tertentunya, serta sumber daya yang tersedia di sekolah, harus dipertimbangkan. Spesifikasi harus tergantung, tentu saja, pada sifat dan tingkat keparahan kecacatan siswa serta gelarnya bakat, namun, ada banyak konsensus bahwa penting untuk fokus terutama pada kekuatan siswa bukan nya kelemahan . Umumnya, perbaikan bukan kebutuhan utama para siswa ini, melainkan perhatian harus ditempatkan pada pengembangan hadiah atau bakat ( Baum et

al , 1991; . Ellston , 1993; Griffin, 1990). Strategi dan adaptasi pembelajaran dapat membantu memastikan keberhasilan siswa ini dalam penempatan apapun tampaknya tepat, apakah itu berada dalam kelas khusus untuk siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar atau lingkungan lain. 2. Kelas Khusus untuk Siswa Gifted dengan Ketidakmampuan Belajar Banyak pendidik yang telah mempelajari anak-anak berbakat dengan ketidakmampuan belajar telah menemukan bahwa, idealnya, para siswa ini harus menerima instruksi sebagai kelompok khusus untuk setidaknya sebagian dari hari dari seorang guru peka terhadap kebutuhan spesifik akademik, sosial, dan psikologis mereka dan dengan rekan-rekan yang berbagi exceptionalities ganda mereka ( Daniels , 1983; Whitmore & Maker, 1985; Yewchuk , 1985). Sampai saat ini, namun, beberapa guru telah menerima pelatihan khusus dalam mengetahui karakteristik siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar, dan beberapa program terpisah untuk siswa ini ada. Beberapa sekolah telah mengembangkan kelas khusus untuk populasi ini, dan hibah Javits telah merangsang inisiatif program beberapa tambahan. Dalam beberapa kasus, siswa tetap bersama-sama sepanjang hari , pada orang lain, model ruang sumber daya digunakan dimana siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar dibawa ke ruang sumber daya dengan siswa lain yang berbagi exceptionalities ganda mereka . The separate-class/all-day model untuk siswa dengan LD yang berbakat sering dianjurkan bagi siswa dengan cacat paling serius. Misalnya, satu sistem sekolah mengidentifikasi siswa berbakat dengan berbagai tingkat

ketidakmampuan belajar dan mengembangkan kelas mandiri khusus untuk siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar berat, mereka yang cacat parah dan sedang menerima layanan lainnya ( Starnes et al , 1988. ). Terlepas dari tingkat keparahan masalah siswa, kelas mandiri menawarkan berbagai keuntungan bagi pembelajaran yang berbeda (Clements, Lundell , & Hishinuma , 1994), menghilangkan gerakan dari kelas ke kelas yang diperlukan pada saat jasa diberikan dalam kombinasi berbakat, khusus pendidikan, dan umum kelas ( Suter & Wolf, 1987 ) , dan mungkin akan lebih

cocok untuk memenuhi kebutuhan emosional siswa ( Suter & Wolf, 1987 ) . Program-program tersebut biasanya mencoba untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan meningkatkan harga diri dan mempengaruhi motivasi , serta instruksi individualistis untuk meningkatkan prestasi akademik . 3. Menggunakan dan / atau Mengadaptasi Layanan yang Ada Untuk siswa dengan LD yang menghadiri sekolah yang tidak menawarkan program khusus untuk siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar, atau untuk siapa program khusus tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan mereka, pertimbangan harus diberikan untuk merancang program individual dari pilihan program dan layanan khusus yang sudah tersedia di sekolah, dilengkapi dengan adaptasi yang tepat yang akan membantu memastikan keberhasilan dalam berbagai pengaturan. 4. Instruksi dalam Kelas Pendidikan Umum Sebagai sekolah yang bergerak menuju inklusi semua siswa di kelas reguler sebagai hasil dari Prakarsa Pendidikan Reguler (Will, 1986) dan menunjukkan keengganan terhadap pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan atau prestasi (Oakes, 1985; Slavin, 1987), pendidikan umum kelas menjadi tempat di mana guru diharapkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai siswa. Jika pengaturan ini berhasil dapat menantang semua siswa, termasuk siswa berbakat, rata-rata siswa, dan siswa dengan masalah belajar, siswa berbakat yang juga memiliki ketidakmampuan belajar dapat dilayani dengan baik. Di sekolah yang terus menawarkan layanan dan program untuk siswa diidentifikasi sebagai berbakat dan bagi siswa dengan ketidakmampuan belajar terpisah, kelas umum berfungsi terutama sebagai tempat di mana kurikulum pada atau sekitar tingkat kelas. Untuk siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar, penempatan di kelas umum sesuai untuk instruksi perkembangan dalam mata pelajaran prestasi normal, meskipun beberapa strategi kompensasi (seperti menggunakan kalkulator) mungkin diperlukan untuk kinerja yang optimal.

Guru kelas umum harus sangat menyadari bahwa gifted dan disabilitas mungkin menutupi satu sama lain dan bahwa siswa yang baik secara akademis berbakat dan memiliki kesulitan belajar cenderung menunjukkan kinerja variabel dan kesulitan sosial dan emosional (Landrum, 1989). Guru kelas umum juga harus menjadi sumber utama rujukan siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar dengan layanan pendidikan khusus dan program berbakat di sekolah mereka (Boodoo et al., 1989). 5. Program dan Layanan untuk Siswa Gifted Akselerasi dan pengayaan dua pendekatan untuk memenuhi kebutuhan yang berbakat . Percepatan dapat mencakup bergerak maju dari seseorang teman sebayanya dalam penempatan kelas dan / atau materi pelajaran ( Southern & Jones , 1991) . Percepatan materi pelajaran mungkin sangat bermanfaat sebagai kendaraan untuk siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar untuk menerima pekerjaan saja maju di daerah mereka kekuatan tanpa harus ditempatkan pada tingkat yang sama di daerah mereka kelemahan . Sebagai contoh, siswa berbakat matematis mungkin berlanjut cepat dengan langkah mereka sendiri melalui kelas matematika dipercepat ( Benbow , 1986) , bahkan jika ketidakmampuan belajar menimbulkan beberapa masalah bagi mereka dalam menulis kreatif atau belajar bahasa asing . Selain itu, dengan adaptasi moderat , seperti mendorong penggunaan kalkulator , pengolah kata , tes dibatasi waktu , dan sebagainya , ada kemungkinan bahwa banyak siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar dapat berhasil dalam program ketat dan / atau percepatan di daerah mereka kekuatan . Fakta ini telah diakui dalam beberapa tahun terakhir oleh perguruan tinggi selektif yang menyadari manfaat beradaptasi dengan kebutuhan siswa berbakat akademis dengan ketidakmampuan belajar ( misalnya , lihat Brown University , 1990). 6. Strategi pengajaran dan teknik adaptif Terlepas dari model program yang dimanfaatkan atau pengaturan di mana ia diajarkan , pentingnya gearing kurikulum untuk kekuatan , bukan kelemahan , siswa berbakat akademis dengan ketidakmampuan belajar , dan memanfaatkan berbagai strategi [ , adaptasi , dan akomodasi untuk membantu

mereka berhasil , secara luas diakui ( misalnya , Baum et al , 1991; . Fox , Tobin , & Schiffman , 1983; Hishinuma , 1991; Silverman , 1989; Suter & Wolf, 1987; Waldron , 1991) . Ukiran tugas besar menjadi unit yang lebih kecil , membuat tugas-tugas yang bermakna , dan menggunakan memuji , rekan les , dan kegiatan koperasi adalah beberapa teknik yang dapat membantu memastikan keberhasilan ( Baum et al , 1991 . ) . Model peran orang dewasa sukses penyandang cacat juga dapat membantu untuk meningkatkan harga diri dan membangun aspirasi kalangan siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar ( Silverman , 1989) . Akomodasi , khususnya penggunaan teknologi , sangat dianjurkan untuk membantu para siswa berbakat akademis mengatasi kecacatan mereka ( Baum et al , 1991; . Daniels , 1983; Howard , 1994; Suter & Wolf, 1987; Tobin & Schiffman , 1983; Torgesen , 1986) . Teknik-teknik tersebut dapat membantu banyak siswa dengan ketidakmampuan belajar , tetapi mereka sangat bermanfaat bagi mereka yang juga berbakat dan membutuhkan bergerak maju di daerah mereka kekuatan . Sebagai contoh, siswa yang mampu tingkat tinggi pemecahan masalah matematika tetapi yang memiliki kesulitan dengan perhitungan dapat diberikan kalkulator sehingga mereka tidak akan diadakan kembali dalam matematika . Sebuah mikro dengan paket pengolah kata dan spell checker dapat sangat membantu untuk seorang mahasiswa yang masalah berbohong secara tertulis dan / atau ejaan . Siswa yang mengalami kesulitan mengambil catatan di kelas mungkin akan diizinkan ke tape rekaman ceramah . Direkam buku dan sumber informasi lain yang tidak tergantung pada membaca ( misalnya , film ) juga dapat membantu siswa dengan masalah membaca yang pendengaran keterampilan memproses kuat . Tutor sebaya atau orang lain mungkin membaca materi secara lisan kepada siswa berbakat akademis dengan masalah membaca . Metode evaluasi alternatif (seperti tes dibatasi waktu atau lisan ) juga telah menganjurkan ( Suter & Wolf, 1987) , seperti memiliki penggunaan teknik multiindrawi ( Daniels , 1983) . 7. Konseling Siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar juga mengalami konflik antara keinginan mereka untuk kemerdekaan dan perasaan ketergantungan

yang dihasilkan dari ketidakmampuan belajar , serta antara aspirasi tinggi dan rendah harapan orang lain mungkin memiliki bagi mereka ( Whitmore & Maker, 1985) . Rendah konsep diri adalah masalah umum di antara siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar yang mengalami kesulitan mengatasi perbedaan dalam kemampuan mereka ( Fox , Brody , & Tobin , 1983; Hishinuma , 1993; Olenchak , 1994; Whitmore , 1980) . Frustrasi, kemarahan , dan kebencian dapat hasil, perilaku serta hubungan dengan rekanrekan dan anggota keluarga ( Mendaglio , 1993) mempengaruhi . Bahkan, orang tua siswa yang berbakat dengan ketidakmampuan belajar cepat untuk menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan sosial dan emosional anakanak mereka ( Hishinuma , 1993) . Dalam merencanakan intervensi bagi siswa dengan LD yang berbakat , orang tidak boleh mengabaikan pentingnya memberikan konseling bagi para siswa untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional ( BrownMizuno , 1990; Hishinuma , 1993; Mendaglio , 1993; Olenchak , 1994; Suter & Serigala , 1987) . Manfaat dari kedua kelompok dan konseling individu telah diidentifikasi oleh para peneliti ( Baum , 1994; Mendaglio , 1993; Olenchak , 1994) . Misalnya, konseling kelompok dapat membiarkan siswa melihat bahwa orang lain mengalami masalah serupa dengan mereka sendiri . Namun, beberapa siswa mungkin memerlukan perhatian untuk masalah dan kebutuhan yang lebih mungkin terjadi dalam satu -satu konseling individu yang unik mereka. Peran konseling kadang-kadang dapat dilakukan oleh guru yang memahami kebutuhan siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar ( Baum et al , 1991; . Daniels , 1983; Hishinuma , 1993) . Orangtua juga perlu konseling untuk membantu mereka memahami karakteristik dan kebutuhan anak-anak berbakat dengan ketidakmampuan belajar ( Bricklin , 1983; BrownMizuno , 1990 , Daniels , 1983) . Selain memenuhi kebutuhan sosial dan emosional siswa berbakat dengan ketidakmampuan belajar , konselor menyarankan mahasiswa sesuai program taking , terutama selama tahun sekolah menengah , pada kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengalaman belajar lain di luar sekolah , dan postsecondary Pilihan . Sebagai siswa berbakat dengan

ketidakmampuan belajar mendekati tahun kuliah , mereka membutuhkan bantuan dalam mengidentifikasi perguruan tinggi yang akan mengakomodasi kebutuhan khusus mereka.

BAB III KESIMPULAN

Banyak atau beberapa orang mengasumsikan definisi anak anak autis dengan anak gifted merupakan pengertian yang sama. Padahal jika dikaji lagi mengenai definisi anak autis dengan anak gifted, keduanya memiliki poin penting yang membedakan keduanya. Berdasarkan kamus psikologi, Anak gifted diartikan sebagai (1) anak yang memiliki satu derajat kemampuan intelektual yang tinggi (IQ 140 atau lebih) atau (2) memiliki satu bakat nonintelektif, seperti bakat musik sampai derajat yang tinggi sekali. Sedangkan Autisme diartikan sebagai (1) cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri, (2) menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri, dan menolak realitas, dan (3) keasyikan eksrim dengan pikiran dan fantasi sendiri. Menurut Jamila K.A Muhammad (2008), anak-anak penderita autisme memiliki gangguan dalam beberapa aspek, yaitu aspek komunikasi, interaksi sosial, gangguan indera, pola bermain, tingkah laku, serta emosi. Sedangkan anak gifted berdasarkan teori three-conceptions of giftedness yang dikemukakan Renzulli (2005) disebutkan bahwa terdapat 3 karakteristik keberbakatan anak yang harus saling berinteraksi untuk dapat memunculkan keberbakatan pada anak. Ketiga karakteristik tersebut antara lain: memiliki kemampuan di atas rata-rata, komitmen pada tugas, serta kreativitas. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa anak gifted dipengaruhi oleh faktor biologis (nature) dan sosiologis (nurture). Ini semua terkait dengan

beberapa faktor eksternal lainnya di luar fisiologis anak. Singkatnya, untuk dianggap sebagai gifted, seorang anak harus memiliki biologis (gen, struktur otak ) dan lingkungan (pendidikan, keamanan emosional, dsb) yang baik untuk meningkatkan dan mengeluarkan bakatnya. Sedangkan pada kasus anak penderita autisme menurut para ahli, penyebab autisme sampai saat ini masih multifaktor. Beberapa hal yang dapat menjadi pemicu atau pencetus autism adalah faktor genetik, gangguan susunan saraf pusat (SSP), proses kelahiran, mutasi genetik, keracunan logam berat, serta vaksinasi. Penanganan yang dapat dilakukan pada anak yang menderita autism adalah terapi perilaku, terapi biomedik, farmakologi, serta progam intervensi lainnya yang sangat bervariasi. Sedangakan penanganan yang dapat dilakukan pada anak gifted adalah program pendidikan individual, mengadakan kelas khusus, menyesuaikan layanan untuk anak gifted, intruksi dalam kelas pendidikan umum, penyesuaian strategi pengajaran dan teknik adaptif, serta menggunakan program konseling.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2011. Pengertian dan Definisi Autisme http://www.duniapsikologi.com/autisme-pengertian-dan-definisinya/ tanggal 3 November 2013 Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Raja Grafindo. Dr. Melly Budhiman, Sp.KJ. Apa Penyebab Autisme? diakses

http://www.lspr.edu/csr/autismawareness/?page_id=28 Diakses pada 1 November 2013 Inderbir Kaur Sandhu, Ph.D. What Makes Giftedness?. http://www.brainychild.com/expert/giftedness.shtml Diakses pada 1 November 2013 Irawan, Rydho. 2012. Mengenal Anak Berbakat (GIFTED CHIDREN) http://rydhotoxs.blogspot.com/2012/05/mengenal-anak-berbakat-giftedchiledren.html diakses tanggal 3 November 2013 Mochamad, Gema. 2012. Giftedness dan Underachiever Gifted.

http://jurigbk.blogspot.com/2012/04/giftedness-dan-underachievergifted.html Diakses pada 1 November 2013 Muhammad, Jamila K.A. 2008. Special Education for Special Children Panduan Pendidikan Khusus Anak-anak dengan Ketunaan dan Learning Disabilities. Jakarta: Penerbit Hikmah. Saputra, Eko. 2013. Definisi anak Berbakat (GIFTED CHILD). http://the-secret-of-psychology-world.blogspot.com/2013/03/definisianak-berbakat-gifted-child.html diakses tanggal 3 November 2013 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu & Aplikasi Pendidikan. PT. IMTIMA. Wandasari, Yettie. 2011. Faktor Protektif pada Penyesuaian Sosial Anak Berbakat. INSAN. Vol. 13 No. 02. Suarabaya: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala.