Anda di halaman 1dari 3

Jurnal Natur Indonesia 6(2): 84-86 (2004) 84 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 84-86 (2004) ISSN 1410-9379

Marheni..

Kemampuan Beberapa Predator pada Pengendalian Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.)
Marheni
Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Faperta, Universitas Sumatera Utara, Medan 20155
Diterima 01-08-2003 Disetujui 19-04-2004

ABSTRACT
Rice brown plant hopper (Nilaparvata lugens Stal.) is still the main pest of rice in Indonesia. Control with the use of natural enemies is an alternative control that could be developed. The aim of this research is to study the predation capacity of Pardosa pseudoannulata Boesenberg. Tetragnatha maxillosa Thorell, Cyrtorhinus lividipennis Reuter, Ophionea nigrofasciata Schmidt-Goebeld and Conocephalous longipennis de Haan. on the rice brown plant hopper (BPH) and the damage intensity of the brown plant hopper to the rice plant. This research applied Randomized Block Design (RBD) with 6 treatment and 4 replications. The result of shows that the predator Pardosa pseudoannulata, consumed the highest numbers of rice brown plant hoppers which results in lowest damage on the rice plant. Keywords: N. lugens, predator, rice.

PENDAHULUAN
Wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan hama penting tanaman padi di Indonesia. Hama ini mampu membentuk populasi cukup besar dalam waktu singkat dan merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan. Kerusakan tanaman disebabkan oleh kegiatan makan dengan menghisap cairan pelepah daun (Baehaki 1989; Pathak 1988). Wereng batang coklat (WBC) sulit diatasi dengan satu cara pemberantasan. Hal ini disebabkan WBC mempunyai daya perkembangbiakan cepat dan segera dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Untuk mengatasi dengan aman, dilakukan pengendalian secara terpadu sehingga memberi peranan penting pada musuh alami sebagai komponen yang tidak dapat ditinggalkan (Westen 1990). Usaha pengendaliannya telah banyak dilakukan seperti penggunaan varietas tahan, pemakaian insektisida dan pengaturan cara bercocok tanam. Pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan varietas tahan tidak dapat dilakukan terus menerus, sehingga perlu di cari cara pengendalian lain, seperti penggunaan musuh alami (Kartoharjono 1990). Dalam beberapa pengamatan di lapangan, WBC mempunyai banyak musuh alami di alam terutama predator, mencapai 1922 famili dan parasitoid 810 famili. Predatorpredator ini cocok

untuk pengendalian WBC karena kemampuannya memangsa spesies lain ( polyfag ) sehingga ketersediaannya di alam tetap terjaga walaupun pada saat populasi WBC rendah atau di luar musim tanam (Mahrub & Arwiyanto 2003). Beberapa spesies labalaba seperti Pardosa pseudoannulata Boesenberg. (O: Araneida, F: Lycosidae) dan Tetragnatha maxillosa Thorell. (O: Araneida, F: Lycosidae) bersifat predator terhadap serangga tanaman padi, bergerak aktif untuk menggigit dan mengunyah mangsanya (Anonim 1989). Selain spesies laba-laba, pemangsa WBC lainnya adalah kepik (Cyrtorhinus lividipennis Reuter) yang memangsa imago dan telur wereng lalu menghisapnya sampai kering; kumbang (Ophionea nigrofasciata Schmidt-Goebeld) disebut kumbang tanah berbadan keras dan aktif, tubuh mengkilap serta alat mulutnya mengunyah; dan belalang (Conocephalous longipennis de Haan.) (Shepard et al, 1990). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan memangsa Pardosa pseudoannulata, Tetragnatha maxillosa , Cyrtorhinus lividipennis , Ophionea nigrofasciata dan Conocephalous longipennis terhadap WBC dan pengaruhnya terhadap intensitas serangan WBC pada tanaman padi.

BAHAN DAN METODE


Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian USU pada bulan Mei-September 2001. Bahan dan alat yang digunakan antara

Kemampuan predator dalam pengendalian wereng batang coklat lain benih padi varietas Cisadane, predator-predator yang diperlukan, ember plastik, kain kasa, kaca pembesar, alat hitung tangan, dan aspirator. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Macam perlakuan adalah imago Pardosa pseudoannulata (P 1 ), Tetragnatha maxillosa (P2), Cyrtorhinus lividipennis (P3), Ophionea nigrofasciata (P4), Conocephalous longipennis (P5), dan tanpa predator (P6). Dalam tiap perlakuan jumlah masing-masing predator 2 ekor dan imago N. lugens 25 ekor. Data dianalisis dengan sidik ragam, jika efek perlakuan nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. Wereng batang coklat dewasa jantan dan betina diambil dari lapangan sebanyak mungkin menggunakan jaring serangga dan aspirator. Wereng dimasukkan ke dalam ember plastik berisi tanaman padi kira-kira tiga rumpun berumur 1,5 bulan Selanjutnya dilakukan pemeliharaan di dalam kurungan pembiakan rumah kaca. Apabila tanaman menunjukkan gejala menguning, diganti dengan tanaman baru. Setelah WBC pindah ke tanaman baru (1-2 hari) tanaman yang telah menguning dikeluarkan. Predator-predator yang berasal dari lapangan dibiakkan dulu di dalam rumah kaca. Pada tanaman padi lain disiapkan tanaman padi varietas Cisadane sebanyak 24 tanaman yang ditanam di ember. Setelah berumur 30 hari setelah tanam, tanaman ditutup dengan sungkup transparan. Tinggi tiang 1 m dan pada satu sisinya dibuat ressleting untuk mempermudah memasukan predator, nimfa WBC, dan untuk mengambil sisa wereng setiap selesai pengamatan serta menggantinya dengan nimfa wereng baru. Kemudian masingmasing predator sebanyak 2 ekor sesuai dengan perlakuan dan WBC untuk setiap perlakuan sebanyak 25 ekor dimasukkan kedalam tanaman padi yang telah disungkup. Pengamatan jumlah WBC yang dimangsa tiap predator dilakukan dengan menggunakan alat
Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 P6 2 11,00 a 9,00 a 1,25 c 3,00 b 1,75 c 0,00 d

85

hitung tangan dan kaca pembesar sebagai alat bantu dengan cara mengambil dan menghitung sisa WBC sehingga akan diketahui jumlah wereng yang dimakan dengan mengurangkan populasi awal dan populasi akhir tiap pengamatan. Pengamatan dilakukan selama 14 hari, tiap pagi dan sore hari dengan interval waktu 2 hari sekali. Parameter diamati adalah jumlah WBC yang dimangsa oleh tiap predator dan intensitas serangan WBC terhadap tanaman padi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kemampuan predator memangsa WBC. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan beberapa jenis predator pemangsa WBC dapat menekan populasi WBC dan intensitas serangan terhadap tanaman padi. Jumlah WBC dimangsa oleh tiap predator dan rata-rata per harinya dapat dilihat pada Tabel 1. Predator Paradosa pseudoannulata (P1) mempunyai kemampuan memangsa lebih tinggi dibandingkan dengan predator-predator lainnya yaitu rata-rata 4,05 ekor per hari. Kemudian disusul oleh predator Tetragnatha maxillosa (P2) rata-rata 3,10 ekor per hari (Tabel 1). Hal ini disebabkan laba-laba Paradosa pseudoannulata merupakan laba-laba pemburu yang sangat aktif bergerak dan menggunakan banyak waktu untuk mencari mangsanya, sedangkan laba-laba bertaring panjang Tetragnatha maxillosa merupakan pemangsa penting terhadap serangga terbang (Calagher 1990). Seekor laba-laba Tetragnatha maxillosa dapat memangsa 23 ekor WBC per hari (Shepard et al, 1990). Kurangnya kemampuan predator Cyrtorhinus lividipennis (P3) memangsa hama WBC hanya ratarata 0,38 ekor per hari, disebabkan Cyrtorhinus lividipennis lebih bertindak sebagai predator telur daripada predator nimfa dan imago (Manti 1989). Menurut Manti (1989) sepasang predator Cyrtorhinus lividipennis dapat memangsa 9,17 telur per hari dan hanya 0,33 ekor imago WBC per hari. Predator
Rata-rata/hari 14 7,75 a 4,50 b 0,25 c 4,00 b 0,50 c 0,00 d 4,05 3,10 0,38 1,79 0,57 0,00

Tabel 1. Rata-rata jumlah hama wereng batang coklat yang dimangsa oleh beberapa jenis predator. Banyaknya WBC yang dimangsa pada hari ke-n 4 6 8 10 12 7,75 a 8,50 a 6,75 a 7,75 a 7,25 a 7,50 a 8,25 a 6,50 a 4,00 b 3,75 b 1,25 c 0,75 c 1,00 c 0,50 c 0,25 c 3,25 b 4,33 b 3,25 b 3,75 b 3,50 b 1,75 c 1,25 c 1,50 c 0,75 c 0,50 0,00 d 0,00 d 0,00 d 0,00 d 0,00 d

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

86

Jurnal Natur Indonesia 6(2): 84-86 (2004)

Marheni.. Sementara itu, predator Cyrtorhinus lividipennis dan Conocephalous longipennis pemangsaannya cukup kecil sehingga populasi WBC cukup tinggi, akibatnya intensitas serangannya tinggi.

Ophionea nigrofasciata (P4) hanya memangsa 1,79 ekor WBC per hari karena predator ini lebih menyukai memangsa larva penggulung daun daripada WBC (Shepard et al, 1990). Dengan demikian, preferensi tiap jenis predator dapat mempengaruhi intensitas pemangsaan predator itu terhadap jenis tertentu dari mangsanya. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kemampuan memangsa predator Paradosa pseudoannulata (P1) dan predator Tetragnatha maxillosa (P 2 ) pada pengamatan 2 hari setelah infestasi (HSI) jauh lebih tinggi dari predator-predator lainnya. Sedangkan predator Ophionea nigrofasciata (P4) terus meningkat sampai pada pengamatan 6 HSI, kemudian menurun dan selanjutnya berfluktuasi dalam batas-batas tertentu. Hal ini karena fluktuasi kemampuan predator memangsa antara lain dipengaruhi oleh kepadatan mangsanya, semakin bertambah banyak populasi mangsa maka pemangsaan bertambah banyak (Shepard 1989 dalam Manti 1990) Intensitas serangan hama WBC. Untuk mengetahui sejauh mana peranan predator dalam menekan serangan hama WBC, dilakukan pengamatan intensitas serangannya. Pengamatan dilakukan pada 14 HIS yaitu pada saat umur tanaman padi 50 hari. Rata-rata intensitas serangan hama WBC dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas serangan tertinggi terdapat pada perlakuan P6 (64,92%). Hal ini karena pada perlakuan ini WBC berkembang cepat pada tanaman disebabkan tidak adanya predator yang dimasukkan pada perlakuan tersebut. Intensitas serangan terendah terdapat pada perlakuan tiga jenis predator yaitu Paradosa pseudoannulata (P1), Tetragnatha maxillosa (P2), dan Ophionea nigrofasciata (P4) masing-masing sebesar 17,05%, 18,89% dan 21,84%. Hal ini karena ketiga predator tersebut banyak memangsa WBC (Tabel 1) sehingga dapat menekan populasi WBC.
Tabel 2. Rata-rata intensitas serangan WBC pada perlakuan beberapa jenis predator. Perlakuan P1 P2 P3 P4 P5 P6 Intensitas Serangan WBC (%) 17,05 c 18,89 c 52,67 b 21,84 c 52,87 b 64,92 a

KESIMPULAN
Pardosa pseudoannulata Boesenberg., Tetragnatha maxillosa Thorell., Cyrtorhinus lividipennis Reuter, dan Conocephalous longipennis de Haan. berpotensi tinggi menekan populasi Nilaparvata lugens dan intensitas serangan pada tanaman padi dengan kemampuan memangsa masing masing 4,05, 3,10, dan 1,79 ekor/hari. Sementara itu, Cyrtorhinus lividipennis dan Conocephalous longipennis hanya mampu memangsa Nilaparvata lugens masing 0,38 dan 0,57 ekor/hari sehingga mempunyai potensi rendah untuk dijadikan predator dalam usaha pengendalian WBC. Intensitas serangan Nilaparvata lugens rendah bila kemampuan memangsa predator tinggi, yaitu pada Paradosa pseudoannulata (P1), Tetragnatha maxillosa (P2), dan Ophionea nigrofasciata (P4), masing-masing sebesar 17,05%, 18,89%, dan 21,84%. Sebaliknya intensitas serangan WBC akan tinggi jika kemampuan memangsa dari predator rendah, yaitu Cyrtorhinus lividipennis (P3) dan Conocephalous longipennis (P5), masingmasing sebesar 52,67 % dan 52,87%.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1989. Pengendalian Hama Terpadu Wereng Batang Coklat Pada Tanaman Padi. Jakarta: Sekretariat Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan. Baehaki, S.E. 1989. Dinamika Populasi Wereng Batang Coklat. 1: 16-30. Calagher, K. 1990. Pengendalian Hama Terpadu Untuk Padi: Suatu Pendekatan Ekologi. Jakarta: Program Nasional Pelatihan dan Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu, Proyek Prasarana Fisik BAPPENAS. Kartoharjono, A. 1990. Hubungan antara wereng batang coklat dan predatornya pada tanaman padi varietas Simeru di Jawa Tengah. Di dalam: Padi dan Palawija. Bogor : Bogor: Seminar Balittan. Manti, I. 1989. Biologi Predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter dan Predatorismenya Terhadap Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.). Bogor: IPB. Mahrub, E. & Arwiyanto, T. 2003. Identifikasi hama dan penyakit padi di sentra produksi padi di Daerah Istemewa Yogyakarta. Gama Sains 5. Pathak, A.D. 1988. Insect Pest of Rice. Los Banos: IRRI. Shepard, M.B., Barrion, A.T. & Litsinger, J. 1990. Mitra Petani Padi, Serangga-Serangga, Laba-laba dan Patogen yang Membantu. Los Banos: IRRI. Westen, N. 1990. Perilaku predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter (Hemiptera: Miridae) terhadap tiga jenis wereng Nilaparvata lugens Stal., Sogatella furcifera Hovath (Homoptera: Delphacidae), dan Nephotetix virescens Distant (Homoptera: Cicadellidae). Tesis Pascasarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%.