Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pengetahuan mengenai minyak bumi sangat penting untuk kita ketahui, mengingat minyak bumi adalah suatu sumber energi yang tidak dapat di perbaharui, sedangkan penggunaan sumber energi ini dalam kehidupan kita sehari-hari cakupannya sangat luas dan cukup memegang peranan penting atau menguasai hajat hidup orang banyak. Sebagai contoh minyak bumi di gunakan sebagai sumber energi yang banyak di gunakan untuk memasak, kendaraan bermotor, industi, dan sebagainya. Menyadari bahwa minyak bumi merupakan suatu sumber energi yang sangat penting bagi kita maka kita harus mengerti mengenai apa itu minyak bumi (crude oil), apa saja komponen pembetuknya, bagaimana pruses pengolahannya, apa saja produk-produknya dan kegunaan dari masing-masing produk itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas maka kami membuat makalah dengan judul MINYAK BUMI ( CRUDE OIL ) agar dapat mempelajari mengenai minyak bumi lebih dalam lagi. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana proses terbentuknya minyak bumi ?

2. Apa sajakah komposisi minyak bumi? 3. Bagaimana proses pengolahan minyak bumii ? 4. Apa sajakah fraksi-fraksi pada minyak bumi?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan di susunnya makalah ini yaitu : 1. Untuk pemenuhan tugas mata kuliah Teknologi Minyak dan Gas Bumi pada perkuliahan semester V di Politeknik Negeri Sriwijaya. 2. Sebagai bahan belajar untuk lebih memahami minyak mentah ( Crude Oil ) 3. Untuk mengetahui proses pengolahan minyak mentah 4. Untuk mengetahui macam-macam produk yang di hasilkan minyak bumi.

1.4 Manfaat Untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai

pengolahan minyak bumi.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pembentukan Minyak Bumi Proses terbentuknya minyak bumi dijelaskan berdasarkan dua teori, yaitu:

a. Teori Biogenesis Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang permanen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme) P.G. Mackuire yang pertama kali mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuhan. Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik yaitu: 1. Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi,ini disebabkan oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat dalam darah, sedangkan zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat memutar bidang polarisasi. 2. Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks yang terdiri dari hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dsb. 3. Susunan hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat organik, yang terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung oksigen dan nitrogen cukup besar. 4. Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian integral sedimentasi.

5. Secara praktis lapisan minyak bumi terdapat dalam kambium sampai pleistosan. 6. Minyak bumi mengandung klorofil seperti tumbuhan.

b. Teori Anorganik Teori Anorganik dikemukakan oleh Berthelok (1866) yang menyatakan bahwa minyak bumi berasal dan reaksi kalsium karbida, CaC2 (dan reaksi antara batuan karbonat dan logam alkali) dan air menghasilkan asetilen yang dapat berubah menjadi minyak bumi pada temperatur dan tekanan tinggi. CaCO3 + Alkali CaC2 + HO HC = CH Minyak bumi Proses pembentukan minyak bumi terdiri dari tiga tingkat, yaitu: 1. Pembentukan sendiri, terdiri dari: o pengumpulan zat organik dalam sedimen o pengawetan zat organik dalam sedimen o transformasi zat organik menjadi minyak bumi. 2. Migrasi minyak bumi yang terbentuk dan tersebar di dalam lapisansedimen terperangkap. 3. Akumulasi tetes minyak yang tersebar dalam lapisan sedimen hingga berkumpil menjadi akumulasi komersial.

Proses kimia organik pada umumnya dapat dipecahkan dengan percobaan di laboratorium, namun berbagai faktor geologi mengenai cara terdapatnya minyak bumi serta penyebarannya didalam sedimen harus pula ditinjau. Fakta ini disimpulkan oleh Cox yang kemudian di kenal sebagai pagar Cox diantaranya adalah: Minyak bumi selalu terdapat di dalam batuan sedimen dan umumnya pada sedimen marine, fesies sedimen yang utama untuk minyak bumi yang terdapat di sekitar pantai.Minyak bumi memeng merupakan campuran kompleks

hidrokarbon. Temperatur reservior rata-rata 107C dan minyak bumi masih dapat bertahan
4

sampai

200C.

Diatas

temperatur

ini

forfirin

sudah

tidak

bertahan.

Minyak bumi selalu terbentuk dalam keadaan reduksi ditandai adanya forfirin dan belerang. Minyak bumi dapat tahan pada perubahan tekanan dari 8-10000 psi. Proses transformasi zat organik menjadi minyak bumi. Ada beberapa hal yang mempengaruhi peristiwa diatas, diantaranya: 1. Degradasi thermal Akibat sedimen terkena penimbunan dan pembanaman maka akan timbul perubahan tekanan dan suhu. Perubahan suhu adalah faktor yang sangat penting. 2. Reaksi katalis Adanya katalis dapat mempercepat proses kimia. 3. Radioaktivasi Pengaruh pembombanderan asam lemak oleh partikel alpha dapay membentuk hidrokarbon parafin. Ini menunjukan pengaruh radioaktif terhadap zat organik. 4. Aktifitas bakteri. Bakteri mempunyai potensi besar dalam proses pembentukan hidrokarbon minyak bumi dan memegang peranan dari sejak matinya senyawa organik sampai pada waktu diagnosa, serta menyiapkan kondisi yang memungkinkan

terbentuknya minyak bumi.

2.2 Komposisi Minyak Bumi Komposisi minyak bumi dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu: Hidrokarbon Jenuh (alkana) o Dikenal dengan alkana atau parafin o Keberadaan rantai lurus sebagai komponen utama (terbanyak), sedangkan rantai bercabang lebih sedikit o Senyawa penyusun diantaranya:

Metana CH4 Etana CH3 CH3 Propana CH3 CH2 CH3 butana CH3 (CH2)2 CH3 n-heptana CH3 (CH2)5 CH3 iso oktana CH3 C(CH3)2 CH2 CH (CH3)2

Hidrokarbon Tak Jenuh (alkena) o Dikenal dengan alkena o Keberadaannya hanya sedikit o Senyawa penyusunnya: Etena, CH2 CH2 Propena, CH2 CH CH3 Butena, CH2 CH CH2 CH3

Hidrokarbon Jenuh berantai siklik (sikloalkana) o Dikenal dengan sikloalkana atau naftena o Keberadaannya lebih sedikit dibanding alkana o Senyawa penyusunnya :

1. Siklopropana

3.

Siklopentana

2. Siklobutana

4.

Siklopheksana

Hidrokarbon aromatik o Dikenal sebagai seri aromatik o Keberadaannya sebagai komponen yang kecil/sedikit o Senyawa penyusunannya: 1. Naftalena 3. Benzena

2.

Antrasena

4.

Toluena

Senyawa Lain o Keberadaannya sangat sedikit sekali o Senyawa yang mungkin ada dalam minyak bumi adalah belerang, nitrogen, oksigen dan organo logam (kecil sekali)

2.3 Tahapan Pengolahan Minyak Bumi Minyak mentah (crude oil) yang diperoleh dari hasil pengeboran minyak bumi belum dapat digunakan atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan secara langsung. Hal itu karena minyak bumi masih merupakan campuran dari berbagai senyawa hidrokarbon, khususnya komponen utama hidrokarbon alifatik dari rantai C yang sederhana/pendek sampai ke rantai C yang banyak/panjang, dan senyawa7

senyawa yang bukan hidrokarbon. Untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang bukan hidrokarbon, maka pada minyak mentah ditambahkan asam dan basa. Minyak mentah yang berupa cairan pada suhu dan tekanan atmosfer biasa, memiliki titik didih persenyawan-persenyawaan hidrokarbon yang berkisar dari suhu yang sangat rendah sampai suhu yang sangat tinggi. Dalam hal ini, titik didih hidrokarbon (alkana) meningkat dengan bertambahnya jumlah atom C dalam molekulnya. Dengan memperhatikan perbedaan titik didih dari komponen-komponen minyak bumi, maka dilakukanlah pemisahan minyak mentah menjadi sejumlah fraksi-fraksi melalui proses distilasi bertingkat. Destilasi bertingkat adalah proses distilasi (penyulingan) dengan menggunakan tahap-tahap/fraksi-fraksi pendinginan sesuai trayek titik didih campuran yang diinginkan, sehingga proses pengembunan terjadi pada beberapa tahap/beberapa fraksi tadi. Cara seperti ini disebut fraksionasi. Minyak mentah tidak dapat dipisahkan ke dalam komponen-komponen murni (senyawa tunggal). Hal itu tidak mungkin dilakukan karena tidak praktis, dan mengingat bahwa minyak bumi mengandung banyak senyawa hidrokarbon maupun senyawa-senyawa yang bukan hidrokarbon. Dalam hal ini senyawa hidrokarbon memiliki isomerisomer dengan titik didih yang berdekatan. Oleh karena itu, pemisahan minyak mentah dilakukan dengan proses distilasi bertingkat. Fraksi-fraksi yang diperoleh dari destilat minyak bumi ialah campuran hidrokarbon yang mendidih pada trayek suhu tertentu.

2.3.1

Pengolahan Tahap Pertama (primary process)

Pengolahan tahap pertama ini berlangsung melalui proses distilasi bertingkat, yaitu pemisahan minyak bumi ke dalam fraksi-fraksinya berdasarkan titik didih masing-masing fraksi.Komponen yang titik didihnya lebih tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke bagian atas melalui sungkup-sungkup yang disebut menara gelembung. Makin ke atas, suhu dalam menara fraksionasi itu makin rendah. Hal itu menyebabkan komponen dengan titik didih lebih tinggi akan mengembun dan terpisah, sedangkan komponen yang titik didihnya lebih

rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi. Demikian seterusnya, sehingga komponen yang mencapai puncak menara adalah komponen yang pada suhu kamar berupa gas.

Perhatikan diagram fraksionasi minyak bumi pada gambar di atas. Hasil-hasil frasionasi minyak bumi yaitu sebagai berikut :

1) Fraksi pertama Pada fraksi ini dihasilkan gas, yang merupakan fraksi paling ringan. Minyak bumi dengan titik didih di bawah 30 oC, berarti pada suhu kamar berupa gas. Gas pada kolom ini ialah gas yang tadinya terlarut dalam minyak mentah,

sedangkan gas yang tidak terlarut dipisahkan pada waktu pengeboran. Gas yang dihasilkan pada tahap ini yaitu LNG (Liquid Natural Gas) yang mengandung komponen utama propana (C3H8) dan butana (C4H10), dan LPG (Liquid Petroleum Gas) yang mengandung metana (CH4)dan etana (C2H6). 2) Fraksi kedua Pada fraksi ini dihasilkan petroleum eter. Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil 90 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendinginan dengan suhu 30 oC 90 oC. Pada trayek ini, petroleum eter (bensin ringan) akan mencair dan keluar ke penampungan petroleum eter. Petroleum eter merupakan campuran alkana dengan rantai C5H12 C6H14. 3) Fraksi Ketiga Pada fraksi ini dihasilkan gasolin (bensin). Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari 175 oC , masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 90 oC 175 oC. Pada trayek ini, bensin akan mencair dan keluar ke penampungan bensin. Bensin merupakan campuran alkana dengan rantai C6H14 C9H20. 4) Fraksi keempat Pada fraksi ini dihasilkan nafta. Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari 200 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 175 oC - 200 oC. Pada trayek ini, nafta (bensin berat) akan mencair dan keluar ke penampungan nafta. Nafta merupakan campuran alkana dengan rantai C9H20C12H26. 5) Fraksi kelima Pada fraksi ini dihasilkan kerosin (minyak tanah). Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari 275 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 175 oC - 275 oC. Pada trayek ini, kerosin (minyak tanah) akan mencair dan keluar ke penampungan kerosin. Minyak tanah (kerosin) merupakan campuran alkana dengan rantai C12H26C15H32. 6) Fraksi keenam

10

Pada fraksi ini dihasilkan minyak gas (minyak solar). Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari 375 oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 250 oC - 375 oC. Pada trayek ini minyak gas (minyak solar) akan mencair dan keluar ke penampungan minyak gas (minyak solar). Minyak solar merupakan campuran alkana dengan rantai C15H32C16H34. 7) Fraksi ketujuh Pada fraksi ini dihasilkan residu. Minyak mentah dipanaskan pada suhu tinggi, yaitu di atas 375 oC, sehingga akan terjadi penguapan. Pada trayek ini dihasilkan residu yang tidak menguap dan residu yang menguap. Residu yang tidak menguap berasal dari minyak yang tidak menguap, seperti aspal dan arang minyak bumi. Adapun residu yang menguap berasal dari minyak yang menguap, yang masuk ke kolom pendingin dengan suhu 375 oC. Minyak pelumas (C16H34 C20H42) digunakan untuk pelumas mesin-mesin, parafin (C21H44C24H50) untuk membuat lilin, dan aspal (rantai C lebih besar dari C36H74) digunakan untuk bahan bakar dan pelapis jalan raya.

2.3.2

Pengolahan Tahap Kedua

Pengolahan tahap kedua merupakan pengolahan lanjutan dari hasil-hasil unit pengolahan tahapan pertama. Pada tahap ini, pengolahan ditujukan untuk mendapatkan dan menghasilkan berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM) dan non bahan bakar minyak (non BBM) dalam jumlah besar dan mutu yang lebih baik, yang sesuai dengan permintaan konsumen atau pasar. Pada pengolahan tahap kedua, terjadi perubahan struktur kimia yang dapat berupa pemecahan molekul (proses cracking), penggabungan molekul (proses polymerisasi, alkilasi), atau perubahan struktur molekul (proses reforming).

Proses pengolahan lanjutan dapat berupa proses-proses seperti di bawah ini. 1) Konversi struktur kimia Dalam proses ini, suatu senyawa hidrokarbon diubah menjadi senyawa hidrokarbon lain melalui proses kimia.

11

a) Cracking (perengkahan) pada tahun 1855, metode perengkahan petroleum ditemukan oleh prof. Benjamin silliman dari Univesitas Yale. Metode thermal cracking pertama kali ditemukan oleh vladimir Shukov pada tanggal 27 November 1891. Perengkahan secara katalitik didasarkan pada proses yang diperkenalkan oleh Alex Golden Oblad sekitar tahun 1936. Pada geologi minyak bumi dan kimiawi, perengkahan adalah proses dimana molekul organik komplekx terkonversi menjadi molekul sederhana (contoh : hidrokarbon ringan) dengan cara pemutusan ikatan rangkap C=C pada awalnya. Laju perengkahan dan produk akhir sangat dipengaruhi oleh temperatur dan keberadaan katalis. Dalam proses perengkahan penyulingan minyak digunakan produksi produk ringan ( seperti LPG dan bensin ) dari fraksi distilasi minyak murni yang lebih berat dan residu seperti gas oil. perengkahan katalitik fluida (fluid catalytic cracking, FCC) memproduksi hasil yang tinggi dari bensin dan LPG. sekarang ini thermal cracking banyak digunakan untuk mengupgrade fraksi yang sangat berat atau untuk memproduksi fraksi berat atau distilasi, bahan bakar dan kokas petroleum. Dua hal yang penting dari thermal cracking dalam hal range produk diwakili oleh proses temperatur tinggi yang disebut steam cracking atau pirolisis ( 750-900 C, bahkan lebih) yang mena memproduksi etilen berharga dan umpan lainnya untuk industri petrokimia dan temperatur lunak meperlambat pembuatan kokas. - Thermal Cracking Proses ini digunakan suhu hingga 800C dan tekanan 700 kpa. yaitu dengan penggunaan suhu tinggi dan tekanan yang rendah.

12

Contoh reaksi-reaksi pada proses cracking adalah sebagai berikut

Partikel ringan yang kaya hidrogen terbentuk pada penguraian molekul berat yang terkondensasi. Reaksi dikenal sebagai homolitik fision dan memproduksi alkena, yang merupakan dasar untuk memproduksi polimer. Reaksi kimia dalam jumlah besar dibutuhkan dalam steam cracking, kebanyakan berdasarkan radikal bebas. Catalytic Cracking

Metode ini menggunakan katalis asam padat dan menggunakan temperatur yang tinggi untuk menghasilkan proses untuk menguraikan molekul hidrokarbon yang besar menjadi yang kecil. Katalis yang biasa digunakan adalah alumina, silica, zeolit, dan beberapa jenis lainnya seperti clay. Selama proses ini, kereaktifan berkurang, oleh karena itu lebih stabil dan kation sementara dapat bertahan lebih lama, lalu terakumulasi pada sisi aktif katalis yang menyebabkan penumpukan produk karbon yang lebih dikenal dengan kokas. Reaksi dari perengkahan katalitik melalui mekanisme perengkahan ion karbonium. Mula-mula katalis karena bersifat asam menambahkna proton ke molekul olevin atau menarik ion hidrida dari alkana sehingga menyebabkan terbentuknya ion karbonium :

13

Hydrocracking

Hydrocracking adalah suatu katalis yang berjalan karena adanya kenaikan tekanan parsial hidrogen. produk dari hasil proses ini digunakan adalah uap jenuh hidrokarbon, tergantung dari kondisi reaksi (suhu, tekanan, aktifitas katalis) produk tersebut dari etana, LPG, sampai hidrokarbon yang lebih berat yang sebagian besar mengandung isoparafin. Hydrocracking adalah suatu proses yang berjalan akibat penambahan katalis yang mempunyai dua fungsi yaitu yang dapat menyusun ulang dan memecah rantai hidrokarbon sebaik penambahan karbon pada senyawa aromatik dan olefin untuk memproduksi naphta dan alkana produk utama dari hydrocracking adalah bahan bakar jet, diesel, bensin, dengan bilangan oktan yang cukup tinggi dan LPG. Semua produk ini mempunyai kandungan sulfur dan kontaminan yang rendah. pada umumnya banyak terdapat di india, karena tingkat permintaan untuk diesel dan bensin cukup tinggi.

Uraian Proses Cracking Reaksi perengkahan etana berlangsung secara endotermik dalam tungku pirolisa (F-01). panas reaksi diambil dari campuran bahan bakar gas metana dan hidrogen yang merupakan produk samping. Reaksi perengkahan etana scara sederhana :

Selanjutnya dilakukan pendinginan secara tiba-tiba oleh Quencher (EQ). Di unit pendingin ini dihasilkan uap bertekanan tinggi (saturated steam) yang nantinya digunakan di unit cracking, reboiler, deethanizer dan C2-splitter. Pemisahan produk dari hasil sampingnya juga dilakukan secara bertahap meliputi proses absorpsi, adsorbsi dan distilasi. Absorber (AB-01) yang memisahkan hidrokarbon gas terhadap hidrokarbon cari dalam alirannya dengan media pencuci air. Aliran hidrokarbon cair (fuel Oil) dan air keluar dari dasar menara, sedangkan aliran hidrokarbon gas keluar dari atas lalu masuk ke unit kompresi (K-01), setelah itu diteruskan ke unit pencucian dengan kaustik (kaustik tower) dilakukan pemisahan gas CO2 dengan cara mereaksikan dengan NaOH. Gas keluar Unit pencuci kaustik masuk ke kompresor (K-01) untuk di

14

kompres lagi sebelum masuk ke unit Adsorpsi. Adsorber (AD-01) memisahkan air yang terkandung dalam aliran hidrokarbon gas. gas keluar adsorber masuk ke dalam prechiller (EC-01) sehingga masuk ke unit pemisah distilasi 1 dalam fasa cair.Unit pemisah distilasi adalah deethanizer (C-01) yang memisahkan fraksi C1 dan C2 terhadap fraksi C3. Produk dasar menara distilasi dipisahkan sebagai produk samping untuk bahan bakar, sedangkan produk puncak menara masuk ke reaktor asetilen (R-01). Asetilen dikonversikan menjadi etilen dengan bantuan katalis palladium dalam Fixed Bed Reaktor (R-01). Sebelum masuk ke unit pemisahan berikutnya, dilakukkan penurunan temperatur (EC-03) dan penurunan tekanan (E-01) terhadap aliran gas. hidrokarbon keluar expander terdiri dari dua fasa yaitu fasa cair dan gas. unit pemisah berikutnya adalah demethanizer (FD-01) yang memisahkan fraksi gas CH4 dan H2 dari fraksi cair C2. produk diatas menara dipisahkan sebagai produk samping berupa bahan bakar metana dan hidrogen yang digunakan pada unit perengkahan. produk bawah masuk ke unit pemisah distilasi II (C-02). Unit pemisah distilasi II adalah C2-splitter (C-02) yang memisahkan etilen sebagai produk atas dan etena sebagai produk bawah yang didaur ulang sebagai umpan di Unit cracking.

15

b) Alkilasi Alkilasi adalah suatu proses penggabungan dua macam hidrokarbon isoparafin secara kimia menjadi alkilat yang memiliki nilai oktan tinggi. Alkilat ini dapat dijadikan bensin atau avgas. c) Polimerisasi Polimerisasi adalah penggabungan dua molekul atau lebih untuk membentuk molekul tunggal yang disebut polimer. Tujuan polimerisasi ini ialah untuk menggabungkan molekul-molekul hidrokarbon dalam bentuk gas (etilen, propena) menjadi senyawa nafta ringan. d) Reformasi Reformasi adalah proses yang berupa perengkahan termal ringan dari nafta untuk mendapatkan produk yang lebih mudah menguap seperti olefin dengan angka oktan yang lebih tinggi. Di samping itu, dapat pula berupa konversi katalitik komponen-komponen nafta untuk menghasilkan aromatik dengan angka oktan yang lebih tinggi. e) Isomerisasi Dalam proses ini, susunan dasar atom dalam molekul diubah tanpa menambah atau mengurangi bagian asal. Hidrokarbon garis lurus diubah menjadi hidrokarbon garis bercabang yang memiliki angka oktan lebih tinggi. Dengan proses ini, n-butana dapat diubah menjadi isobutana yang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam proses alkilasi.

2) Proses ekstraksi Melalui proses ini, dilakukan pemisahan atas dasar perbedaan daya larut fraksifraksi minyak dalam bahan pelarut (solvent) seperti SO2, furfural, dan sebagainya. Dengan proses ini, volume produk yang diperoleh akan lebih banyak dan mutunya lebih baik bila dibandingkan dengan proses distilasi saja.

16

3) Proses kristalisasi Pada proses ini, fraksi-fraksi dipisahkan atas dasar perbedaan titik cair (melting point) masing-masing. Dari solar yang mengandung banyak parafin, melalui proses pendinginan, penekanan dan penyaringan, dapat dihasilkan lilin dan minyak filter. Pada hampir setiap proses pengolahan, dapat diperoleh produkproduk lain sebagai produk tambahan. Produk-produk ini dapat dijadikan bahan dasar petrokimia yang diperlukan untuk pembuatan bahan plastik, bahan dasar kosmetika, obat pembasmi serangga, dan berbagai hasil petrokimia lainnya.

4) Membersihkan produk dari kontaminasi (treating) Hasil-hasil minyak yang telah diperoleh melalui proses pengolahan tahap pertama dan proses pengolahan lanjutan sering mengalami kontaminasi dengan zat-zat yang merugikan seperti persenyawaan yang korosif atau yang berbau tidak sedap. Kontaminan ini harus dibersihkan misalnya dengan menggunakan caustic soda, tanah liat, atau proses hidrogenasi.

17

2.4 Produk Pengolahan Minyak Bumi dan Manfaatnya Keberadaan minyak bumi dan berbagai macam produk olahannya memiliki manfaat yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagai contoh penggunaan minyak tanah, gas, dan bensin. Tanpa ketiga produk hasil olahan minyak bumi tersebut mungkin kegiatan pendidikan, perekonomian, pertanian, dan aspek-aspek lainnya tidak akan dapat berjalan lancar. Dibawah ini adalah beberapa produk hasil olahan minyak bumi beserta pemanfaatannya:

18

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Crude Oil (Minyak Mentah) adalah campuran senyawa kompleks

Hidrokarbon (HC) plus senyawaan organik:sulfur,oksigen,nitrogen,dan senyawa yang mengandung kontituen logam terutama nikel,besi,dan tembaga. Crude oil harus melewati beberapa unit pengolahan yang sering disebut Crude Distillation Unit dengan tahap-tahap proses seperti :Primary Prosessing (proses pemisahan secara fisika),Secondary Prosessing (proses konversi),dan treating(pemurnian). Keberadaan minyak bumi dan berbagai macam produk olahannya memiliki manfaat yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagai contoh penggunaan minyak tanah, gas, dan bensin. Tanpa ketiga produk hasil olahan minyak bumi tersebut mungkin kegiatan pendidikan, perekonomian, pertanian, dan aspek-aspek lainnya tidak akan dapat berjalan lancar.

3.2 Saran Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna melengkapi dan memperbaiki makalah ini.

19

DAFTAR PUSTAKA
http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/04/proses-pengolahan-minyak-bumidan-minyak-mentah-dan-komposisinya.html

http://sideofardeliaini.wordpress.com/2013/02/26/makalah-minyak-bumi/

http://sugengmirsani.blogspot.com/2013/01/makalah-minyak-bumi_25.html

http://amboinas.wordpress.com/2009/06/05/makalah-tentang-minyak-bumi/

20