Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan autistik merupakan gangguan yang terkenal yang ditandai oleh gangguan berlarut larut pada interaksi sosial timbal balik, penyimpangan komunikasi, dan pola perilaku yang terbatas dan stereotipik. Menurut DSM-IV, fungsi abnormal pada bidang diatas harus ditemukan pada usia 3 tahun. Pengaturan makanan akan membawa dampak perbaikan pada anak autisme. Shattock & Whitney (1999), mengemukakan bahwa makanan merupakan senjata utama dalam penatalaksanaan autisme. Pada penderita autisme tidak mampu mengeluarkan racun dari sistem tubuh mereka sendiri karena kekurangan enzim phenol sulfur transferase (PST) sehingga banyak diantara mereka mngalami gangguan pencernaan, mempunyai

kecenderungan alergi, daya tahan tubuh yang rentan, dan mengalami keracunan logam berat. Cara mengatasi gangguan autisme pada anak terutama mengatasi permasalahan interaksi sosial dengan masyarakat dapat melalui beberapa cara. Salah satunya melatih kemampuan berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar (verbal dan non verbal), hal ini penting mengingat penyandang autisme biasanya menggunakan bahasa aneh dan diulangulang sehingga komunikasi secara verbal tidak dapat dilakukan dengan baik.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.PENGERTIAN Istilah autisme berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri. Autisme ditemukan pertama kali oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, pembalikan kalimat, echolalia, mutism, pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain stereotipik dan rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjolyang sering disebut dengan Sindrom Kunner yang dicirikan dengan ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi. (Budiman, 1998) Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Menurut dr. Faisal Yatim DTM&H, MPH (dalam Suryana, 2004), autisme bukanlah gejala melainkan sindrom dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap sekitar. Dengan kata lain, pada anak autisme terjadi kelainan emosi, intelektual dan kemauan (gangguan pervasif). Berdasarkan uraian diatas, maka autisme adalah gangguan perkembangan yang sifatnya luas dan kompleks, mencakup aspek interaksi sosial, kognisi, bahasa dan motorik.

2.2.EPIDEMIOLOGI Autisme ditemukan terjadi dengan angka 2 sampai 5 kasus per 10.000 anak di bawah usia 12 tahun. Pada sebagian besar kasus autisme mulai sebelum 36 bulan tetapi mungkin tidak terlihat bagi orang tua, tergantung pada kesadaran mereka dan keparahan gangguan.
2

Autisme lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Tiga sampai lima kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Tetapi anak perempuan yang terkena autisme cenderung lebih serius dan lebih mungkin memiliki riwayat keularga gangguan kognitif dibandingkan anak lakilaki. Autisme ditemukan pada keluarga dengan berbagai tingkat sosio-ekonomi dan inteligensi, juga berbagai letak geografis dimanapun.

2.3.KLASIFIKASI AUTISME Menurut Veskarisyanti (2008), klasifikasi autisme : 1) Aloof Anak dengan autisme tipe ini senantiasa menarik diri dari kontak sosial , dan cenderung menyendiri di pojok. 2) Passive Anak dengan autisme tipe ini tidak berusaha mengadakan kontak sosial melainkan hanya menerima saja 3) Active but odd Pada tipe ini anak melakukan pendekatan namun hanya bersifat repetitif dan aneh.

2.4.DIAGNOSIS DAN GAMBARAN KLINIS Menurut American Psychiatric Association dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition Text Revision (DSM IVTR, 2004), kriteria diagnostik untuk dari gangguan autistik adalah sebagai berikut: A. Jumlah dari 6 (atau lebih) item dari (1), (2) dan (3), dengan setidaknya dua dari (1), dan satu dari masing-masing (2) dan (3): (1) Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, yang dimanifestasikan dengan setidak-tidaknya dua dari hal berikut: (a) Kerusakan yang dapat ditandai dari penggunaan beberapa perilaku non verbal seperti tatapan langsung, ekspresi wajah, postur tubuh dan gestur untuk mengatur interaksi sosial. (b)Kegagalan untuk mengembangkan hubungan teman sebaya yang tepat menurut tahap perkembangan.

(c) Kekurangan dalam mencoba secara spontanitas untuk berbagi kesenangan, ketertarikan atau pencapaian dengan orang lain (seperti dengan kurangnya menunjukkan atau membawa objek ketertarikan). (d) Kekurangan dalam timbal balik sosial atau emosional. (2) Kerusakan kualitatif dalam komunikasi yang dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut: (a) Penundaan dalam atau kekurangan penuh pada perkembangan bahasa (tidak disertai dengan usaha untuk menggantinya melalui beragam alternatif dari komunikasi, seperti gestur atau mimik). (b) Pada individu dengan bicara yang cukup, kerusakan ditandai dengan kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain. (c) Penggunaan bahasa yang berulang-ulang dan berbentuk tetap atau bahasa yang aneh. (d) Kekurangan divariasikan, dengan permainan berpura-pura yang spontan atau permainan imitasi sosial yang sesuai dengan tahap perkembangan. (3) Dibatasinya pola-pola perilaku yang berulang-ulang dan berbentuk tetap, ketertarikan dan aktivitas, yang dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut: (a) Meliputi preokupasi dengan satu atau lebih pola ketertarikan yang berbentuk tetap dan terhalang, yang intensitas atau fokusnya abnormal. (b)Ketidakfleksibilitasan pada rutinitas non fungsional atau ritual yang spesifik. (c) Sikap motorik yang berbentuk tetap dan berulang (tepukan atau mengepakkan tangan dan jari, atau pergerakan yang kompleks dari keseluruhan tubuh). (d)Preokupasi yang tetap dengan bagian dari objek B. Fungsi yang tertunda atau abnormal setidak-tidaknya dalam 1 dari area berikut, dengan permulaan terjadi pada usia 3 tahun: (1) interaksi sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial atau (3) permainan simbolik atau imajinatif.

C. Gangguan tidak lebih baik bila dimasukkan dalam Retts Disorder atau Childhood Disintegrative Disorder. Menurut PPDGJ III, pedoman diagnostik untuk autisme : Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/atau hendaay perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga bidang ; interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang Biasanya tidak jelas ada periode perkembangan yang normla sebelumnya, tetapi bila ada, kelainan perkembangan sudah menjadi jelas sebelum usisa 3 tahun, sehingga diagnosis sudah dapat ditegakkan. Tetapi gejalagejalanya dapat di diagnosis pada semua kelompok umur. Selalu ada hendaya kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Ini berbentuk apresiasi yang tidak adekuat terhadap isyarat sosio-emosional, yang tampak sebagai kueangnya respons terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat sosial dan integrasi yang lemah dalam perilaku sosial, emosional dan komunikatif. Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk kurangnya penggunaan keterampilan bahasa yang dimiliki di dalam hubungan sosial; hendaya dalam permainan imaginatif dan imitasi sosial; keserasian yang buruk dan kurangya interaksi timbal balik dalam percakaapn; buruknya keluwesan dalam bahasa ekspresig dan kreativitas dan fantasi dalam proses pikir yang relatif kurang. Kondisi ini ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas, berulang dan stereotipik. Ini berbentuk kecenderungan untuk bersikap kaku dan rutin dalam berbagai aspek kehiudpan sehari-hari; ini biasanya berlaku untuk kegiatan baru dan juga kebiasaan sehari-sehari serta pola bermain. Semua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam hubungannnya dengan autisme, tetapi pada tiga perempat ksus secara signifikan terdapat retardasi mental.

Karakteristik Fisik a. Penampilan Kanner tertarik oleh kecerdasan anak autistik dan penampilan yang menarik. Antara usia 2 sampai 7 tahun, mereka cenderung lebih pendek dibandingkan populasi normal. b. Tangan Dominan Banyak anak autistik mengalami kegagalan lateralisasi. Yaitu, mereka tetap ambidekstrosus pada suatu usia saat dominansi serebral ditegakkan pada anak normal. c. Penyakit fisik penyerta Anak-anak gangguan autistik yang muda memiliki insidensi yang agak lebih tinggi mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas, bersendawa yang berlebihan, kejang demam, konstipasi, dan gerakan usus yang kendur.

2.5.Tingkat Kecerdasan Anak Autis Pusponegoro dan Solek (2007) menyebutkan bahwa tingkat kecerdasan anak autis dibagi mejadi 3 (tiga) bagian, yaitu: a. Low Functioning (IQ rendah) Apabila penderitanya masuk ke dalam kategori low functioning (IQ rendah), maka dikemudian hari hampir dipastikan penderita ini tidak dapat diharapkan untuk hidup mandiri, sepanjang hidup penderita memerlukan bantuan orang lain. b. Medium Functioning (IQ sedang) Apabila penderita masuk ke dalam kategori medium functioning (IQ sedang), maka dikemudian hari masih bisa hidup bermasyarakat dan penderita ini masih bisa masuk sekolah khusus yang memang dibuat untuk anak penderita autis. c. High Functioning (IQ tinggi) Apabila penderitanya masuk ke dalam kategori high functioning (IQ tinggi), maka dikemudian hari bisa hidup mandiri bahkan mungkin sukses dalam pekerjaannya, dapat juga hidup berkeluarga.

2.6.Perkembangan Anak Autisme


Menurut Wenar (1994) autisme berkembang pada 30 bulan pertama dalam hidup, saat dimensi dasar dari keterkaitan antar manusia dibangun, karenanya periode perkembangan yang dibahas akan dibagi menjadi masa infant dan toddler dan masa prasekolah dan kanak-kanak tengah. 1. Masa infant dan toddler

Perbedaan Perkembangan Anak Normal dan Anak Autis pada Masa Infant dan Toddler
No. Faktor Pembeda 1. Pola Tatapan Mata mampu melakukan kontak sosial melalui tatapan melewati orang dewasa yang mencegah perkembangan pola Toddler: menggunakan gaze sebagai sinyal pemenuhan vokalisasi mereka atau mengundang partner untuk bicara kemana-mana daripada ke orang dewasa interaksi melalui tatapan Perkembangan Normal Anak Autis

2.

Affect

-3 bulan sudah melakukan senyum sosial

Tidak sosial

ada

senyum

Usia 30 70 bulan melihat dan tersenyum terhadap ibunya, tapi tidak disertai dengan kontak kurang mata dan

merespon

senyuman ibunya. 3. Vokalisasi Usia 2-4 bualn anak dan ibu terlibat dalam pola yang simultan dan berganti vokal yang menjadi awal bagi komunikasi verbal selanjutnya. 7 Karakter mutism mereka tampak dari kurangnya babbling yang menghambat jalan interaksi sosial ini

4. Imitasi Sosial: berkaitan dengan responsifitas sosial, bermain bebas dan bahasa Langsung muncul setelah lahir -26 bulan dapat meniru ekspresi wajah tapi melalui sejumlah keanehan dan respon mekanikal yang mengindikasikan sulitnya perilaku ini bagi mereka

5. Inisiatif dan Reciprocity ada sehingga timbul reciprocity pasif dari permainan orang dewasa dan tidak berinteraksi secara ktif dengan mereka

6.

Attachment

autis diselingi dengan karakteristik pengulangan pergerakan motorik mereka seperti tepukan tangan, goncangan dan berputar-putar

7.

Kepatuhan dan Negativisme

Anak autis patuh terhadap permintaan. Jika permintaan tersebut sesuai dengan kapasitas intelektual mereka, mereka dapat merespon secara pantas saat mereka dalam lingkungan

yang terstruktur dan dapat diprediksi. Anak autistik memiliki sifat negativistik secara berlebihan.

2. Masa prasekolah dan kanak kanak tengah a. Faktor afektif-motivasional Motivasi untuk menjadi partisipan aktif yang kuat pada anak normal, lemah pada anak autis. Anak autis kurang tertarik dengan teman sebayanya. Anak autis kurang dalam empati, yaitu proses dimana seseorang berespon secara afektif terhadap orang lain seperti mereka mengalami affect yang sama dengan orang tersebut.
b. Reciprocity

Pada anak autis, ketidakmampuan untuk berpartisipasi secara penuh dalam interkasi sosial resiprokal yang sesuai umur dapat bertahan seumur hidup mereka.

2.7. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding utama adalah skizofrenia dengan onset masa anak-anak, retardasi mental dengan gejala prilaku, gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran, ketulian kongenital atau gangguan pendengaran yang parah, pemutusan psikososial dan psikosis disintegratif. Prosedur untuk diagnosis banding pada Sistem Multiaksial 1. Tentukan tingkat intelektual 2. Tentukan tingkat perkembangan bahasa 3. Pertimbangkan apakah perilaku anak sesuai dengan i. ii. iii. Usia kronologis Usia mental Usia bahasa

4. Jika tidak sesuai, pertimbangkan diagnosis banding gangguan psikiatrik menurut i. ii. Pola interaksi sosial Pola bahasa
9

iii. iv.

Pola permainan Perilaku lain

5. Kenali tiap kondisi medis yang relevan 6. Pertimbangkan apakah terdapat faktor psikososial yang relevan.

2.8. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Hasil penelitian menemukan bahwa : Dua-pertiga dari anak autistik mempunyai prognosis yang buruk : tidak dapat mandiri Seperempat dari anak autistik mempunyai prognosis sedang : terdapat kemajuan di bidang sosial dan pendidikan walaupun ada problem perilaku. Sepersepuluh dari anak autistik mempunyai prognosis baik : mempunai kehidupan sosial yang normal dan berfugsi dengan baik di sekolah ataupun di tempat kerja. ` Walau demikian, anak autistik jarang dapat berfungsi seperti orang dewasa : mempunyai teman dan menikah. Adanya peningkatan masalh perilaku pada remaja, termasuk gangguan kompulsif yang berat dan apatis. Juga munculnya gangguan depresi pada saat remaja. Gejala depresi muncul pada remaja ketika kesadaran yang menyakitkan muncul bahwa mereka tidak dapat mebunan hubungan dengan teman walaupun mereka menginginkannya.

2.9. Penatalaksanaan Tujuan terapi pada gangguan autistik adalah untuk : Mengurangi masalah perilaku Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya, terutama dalam penguasaan bahasa Mampu bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan sosialnya.

Terapi obat : Antipsikotik Risperidone efektif untuk terpai anak autistik yang disertai dengan tantrum, agresivitas, dan perilaku yang membahayakan diri sendiri, irritabel, stereotipik, hiperaktif dan gangguan komunikatif.

10

SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) Termasuk fluoxetine, sertralin, fluvoxamine, sangat efektif untuk depresi, cemas dan obsesif, perilaku stereotipik, juga meningkatkan perilaku secara umum menjadi lebih terkendali.

Methylpenidate Menurunkan hiperaktivitas dan inatensi.

11

BAB III KESIMPULAN

Istilah autisme berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri. Autisme ditemukan pertama kali oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, pembalikan kalimat, echolalia, mutism, pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain stereotipik dan rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya. Ciri khas dari gangguan ini adalah : Adanya gangguan yang menetap pada interaksi sosial, komunikasi yang menyimpang, dan pola tingkah laku yang terbatas dan stereotipik. Fungsi yang abnormal ini biasanya telaah muncul sebelum usia 3 tahun Lebih dari duapertiga mempunyai fungsi dibawah rata-rata.

Terapi yang dilakukan pada penderita autistik dapat berupa : Terapi medikamentosa Terapi biomedis Terapi wicara Terapi perilaku Terapi okupasi Terapi sensori integrasi

12

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H.I, Sadock, B.J, Grebb, J.A : Gangguan Perkembangan Pervasif, dalam Sinopsis Psikiatri, edisi 7, jakarta, 728-738. 2. Hadisukanto, G : Autisme pada Anak, dalam Buku Ajar Psikiatri, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta:2010, 420-434. 3. Maslim, rusdi : F.84.0 autisme masa kanak, dalam Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ-III, Jakarta, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2001, 130. 4. Maslim, rusdi,: Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik;Obat Anti Depresi, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta, 2001. 5. APA. DSM IV. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Fourth Edition. Washington DC, 1995. 6. Yusuf, E.A, Autisme Masa Kanak, Fakultas Kedokteran USU, Tesis, Medan;2003

13