Anda di halaman 1dari 2

1.

KOGNITIF Kant, sebagai moyang aliran kognitif, menyimpulkan bahwa jiwalah yang menjadi alat utama pengetahuan, bukan piranti-piranti indriawi. Jiwalah yang menafsirkan, mendistorsi, dan mencari makna. Tidak selamanya kita merespons stimulus eksternal. Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir).Menurut aliran ini manusia tidak di pandang lagi sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Aliran kognitif lebih berwarna ketika dikembangkan oleh seorang psikologi Jerman bernama Kunt Lewin. Lewin perilaku manusia harus dilihat konteksnya. Dari ranah fisika, Lwin meminjam konsep medan (Field) untuk menunjukkan totalitas gaya yang memengaruhi seseorang pada saat tertentu. Perilaku manusia bukan sekedar respons pada stimuli. Akan tetapi, ia adalah produk berbagai gaya yang memengaruhinya secara spontans. Lewin menyebut seluruh gaya psikologis yang memengaruhi manusia dengan istilah seluruh gaya psikologis yang memengaruhi manusia ddengan istilah ruang hidup (life space). Ruang hidup terdiri dari tujuan dan kebutuhan individu, semua faktor yang didasarinya, dan kesadaran diri. Lewin merumuskan secara pasti bahwa perilaku manusia merupakan hasil interaksi antara dirinya dengan ruang psikologisnya.

Lwein membahas tensi yang menunjukkan suasana kejiwaan yang terjadi ketika kebutuhankebutuhan psikologis belum terpenuhi. Konsep tensi melahirkan banyak teori yang digabung dengan istilah teori konsistensi kognitif. Secara dasar, teori ini menyebutkan bahwa individu berusaha mengoptimalkan makna dalam persepsi, perasaan, kognisi, dan pengalamannya. Bila makna tidak optimal, timbul tensi yang memotivasi orang untuk menguranginya. 2. Behavion Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mehanibcus (manusiamesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusiaberdasarkan laporan subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawa sadar yangtidak nampak). Behavior yang menganalisis prilaku yang Nampak saja. Menurut aliran ini segala tingkahlaku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkanaspek.

3. Materialisme Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Faham materialisme ini praktis, tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti. Kemajuan aliran ini memdapatkan tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama di mana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya tuhan (ateis) yang sudah diakui mengatur budi masyarakat. Pada masa ini, kritik pun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang materialisme.

Dan pada esensi manusia, materialisme adalah faham yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik. Ciri utamanya adalah bahwa ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (ras extensa) dan bersifat objektif karena itu, maka bisa diukur dikuantifikasi dan diobservasi.alam spiritual atau alam jiwa, yang tidak menempati ruang, tidak bisa disebut esensi kenyataan, dan karen itu ditolak keberadanya. Para materialis percaya bahwa tidak ada kekuatan apapun yang bersifat spiritual dibalik gejala atau yang bersifat material itu. Kalau ada peristiwa yang belum diketahui, atau belum bisa dipecahkan oleh manusia, maka hal itu bukan berarti ada kekuatan yang bersifat spiritual dibalik peristiwa tersebut, melainkan karena kekuatan dan akal kita saja yang belum dapat mamahaminya. Penjelasan tentang gejala tersebut tidak perlu dicari di dalam dunia spiritual, karena tidak ada yang namanya dunia spiritual. Pernyataan tersebut harus berdasarkan pada data-data yang bersifat indrawi. Materialisme dan naturalisme percaya bahwa setiap gejala, gerak, bisa dijelaskan dalam hukum kausalitas hukum sebab akibat, atau hukum stimulus respons. Gejala yang kita amati tidak bergerak sendiri, melainkan ada yang mandahului atau yang menggerakkannya. Karena sangat percaya dengan hukum kausalitas, maka kaum materialisme pada umumnya sangat deterministik. Mereka tidak mengakui adanya kebebasan atau independensi manusia. Gerak selalu bersifat mekanis, digerakan oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Ilmu-ilmu alam sepertifisika, biologi, kimia, kedokteran, adalah suatu bentuk dari materialisme atau naturalisme, jika beresensi alam semesta (termasuk manusia) dan objek-objek kajian ilmu-ilmu alam sepenuhnya bersifat material, sehingga bisa dijelaskan secara kausal dan mekanis. Akan tetapi, ilmuilmu tentang manusia seperti psikologi dan sosiologi pun adalah materialisme, jika memiliki asumsi bahwa objek kajiannya (yakni perilaku manusia) adalah materi yang menempati ruang dan waktu, bisa diukur dan dikuantifikasi dan bergerak (berperilaku) secara kausal.