Anda di halaman 1dari 13

UNIVERSITAS MERCU BUANA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI AKUNTANSI / S1

Mata kuliah/Sks/Smt

: MANAJEMEN PERPAJAKAN/3/GANJIL 2012/2013

Periode

: Juli 2012 Februari 2013

Modul

: 9 (pertemuan ke 9)

Pokok Bahasan

: LEASING / SEWA GUNA USAHA

Dosen

: Drs. Sugianto, MM

Tujuan Pembelajaran:
Umum: Memahami pengelolaan pajak sesuai dengan ketentuan perpajakan
Khusus: Memahami materi-materi/pokok bahasan berkenaan dengan:
1. Akuntansi Leasing
2. Pembiayaan dan Perlakuan Perpajakan SGU

LEASING
Sewa Guna Usaha (leasing) adalah sutu kontrak antara pemilik barang modal (lessor) dengan
pengguna barang modal (lessee).
Lessor memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan barang modal selama jangka
waktu tertentu, dengan suatu imbalan berkala dari lessee yang besarnya tergantung perjanjian
antara lessor dengan lessee, lessee dapat diberikan hak opsi (option right) untuk membeli
barang modal tersebut pada akhir masa kontrak.
Sewa Guna Usaha (leasing) dibedakan menjadi sewa guna usaha dengan hak opsi dan sewa
guna usaha tanpa hak opsi.

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Sewa Guna Usaha dengan hak opsi (finance leasel capital lease) adalah sewa guna usaha
dimana penyewa (lessee) pada akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk membeli obyek
sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati.
Leasing (SGU) tanpa hak opsi (operating lease)
adalah perjanjian leasing di mana pihak penyewa guna usaha (lessee) pada akhir masa kontrak
tidak diberikan hak opsi untuk membeli barang modal / obyek sewa guna usaha tersebut.
Perlakuannya disamakan dengan sewa-menyewa biasa.
Perlakuan Standar Akuntansi terhadap Transaksi Sewa Guna Usaha
Berdasarkan PSAK Nomor 30 tentang Standar Akuntansi Sewa Guna Usaha (2002), dalam
menentukan jenis sewa guna usaha pertimbangan utama yang digunakan adalah asas makna
ekonomi. Suatu transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi apabila memenuhi semua syaratsyarat berikut ini:
1. Lessee memiliki hak opsi untuk membeli asset yang disewagunausahakan pada akhir
masa sewa guna usaha dengan harga yang telah disetujui bersama pada saat
dimulainya perjanjian sewa guna usaha.
2. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh lessee ditambah dengan nilai sisa
mencakup pengembalian harga perolehan barang modal serta bunganya sebagai
keuntungan lessor (full payout lease).
3. Masa sewa guna usaha minimal 2 (dua) tahun.
Apabila salah satu syarat diatas tidak dipenuhi, maka transaksi tersebut dikelompokkan sebagai
sewa menyewa biasa atau sewa guna usaha tanpa hak opsi.
Akuntansi untuk Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi
Akuntansi untuk Sewa Guna Usaha adalah sebagai berikut:
1. Pembayaran jaminan (security deposit) dibukukan sebagai piutang kepada lessor.
2. Nilai tunai (present value) dari seluruh pembayaran sewa guna usaha dan nilai sisa
dibukukan sebagai asset tetap dan kewajiban sewa guna usaha.
3. Tingkat diskonto yang digunakan untuk menghitung nilai tunai adalah tingkat bunga
yang dibebankan oleh lessor atau tingkat bunga yang berlaku pada awal sewa guna
usaha.
4. Pembayaran sewa guna usaha yang dilakukan selama jangka waktu kontrak
dialokasikan dan dibukukan sebagai angsuran pokok dan beban bunga.

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

5. Aset tetap sewa guna usaha yang dikapitalisasi selanjutnya diamortisasi selama taksiran
umur ekonomisnya dengan menggunakan metode yang sama untuk asset sejenis.
6. Pada akhir tahun harus dilakukan penyesuaian terhadap bunga akrual, amortisasi asset
guna usaha akhir tahun, dan amortisasi keuntungan modal dan kerugian modal.
7. Dalam laporan keuangan disajikan sebagai bagian dari asset tetap, sejumlah neto
dikurangi akumulasi amortisasi.
8. Kewajiban sewa guna usaha disajikan sebagai bagian dari kewajiban dan
diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek dan jangka panjang sesuai dengan
praktik yang lazim untuk usaha lessee.
9. Apabila dilakukan transaksi jual dan sewa kembali, maka selisih harga jual dengan nilai
buku asset dibukukan sebagai keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan yang
harus diamortisasisecara proporsional.
10. Apabila terjadi penghentian lebih awal dimana pembayaran sewa dilunasi sebelum
berakhirnya kontrak, maka selisih antara pembayaran yang dilakukan dengan sisa
kewajiban dibebankan atau dikreditkan pada tahun berjalan
11. Apabila leseemengambil opsi pada akhir masa kontrak dan harga opsi sama dengan
jaminan yang diberikan, maka jaminan tersebut akan dikompensasikan dengan sisa
kewajiban sewa guna usaha. Apabila opsi tidak sama dengan jaminan maka
kekurangan/kelebihan harus diselesaikan antara lessee dan lessor secara tunai.
12. Setelah mengambil opsi, maka akun sewa guna usaha direklasifikasikan ke dalam akun
asset tetap yang relevan.
Perlakuan Perpajakan untuk transaksi Sewa Guna Usaha (LEASING)
Pasal 2, 3, dan 4 Kep. Menkeu. Nomor 1169 / KMK.01 / 1991;
kegiatan sewa guna usaha (leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan
barang modal, baik secara sewa guna usaha (SGU) tanpa hak opsi (operating lease) maupun
SGU dengan hak opsi (financial lease), untuk digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee)
selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran.
Sewa Guna Usaha digolongkan sebagai finance lease apabila memenuhi semua kreteria
berikut ini:
1. Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha pertama
ditambah dengan nilai sisa barang modal harus dapat menutup harga perolehan barang
modal dan keuntungan lessor.

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

2. Masa sewa guna usaha ditentukan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang
modal golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal golongan II, dan III, dan 7 (tujuh)
tahun untuk golongan bangunan.
3. Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.
4. Dalam Pasal 16 Kep. Menkeu.tersebut diatas mengatur mengenai ketentuan perpajakan
bagi lessee yang melakukan transaksi finance lease sebagai berikut:
a. Leesse tidak boleh melakukan penyusutan atas barang modal yang
disewagunausahakan sampai saat lease membeli barang tersebut.
b. Setelah lease menggunakan hak opsinya membeli barang modal yang
disewagunausahakan maka lease boleh melakukan penyusutan dengan dasar yaitu
harga opsi barang modal yang bersangkutan.
c. Pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang oleh lessee, kecuali
pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto lessee.
d. Dalam masa sewa guna usaha lebih pendek dari masa yang ditentukan, Dirjen.
Pajak melakukan koreksi atas atas pembebanan biaya sewa guna usaha tersebut
dan memperlakukannya sebagai operating lease. Perubahan ini tidak dilakukan
apabila terjadi karena force majeur, gagal bayar (default), maupun pertimbangan
ekonomi tanpa motif menghindari pajak dan tidak ada hubungan istimewa antara
lessor dan lessee.
e. Lessee tidak memotong PPh. Pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha.
Penjualan dan Penyewaan Kembali
Hal-hal yang berkaitan dengan penjualan dan penyewaan kembali adalah sebagai berikut:
1. Untuk penjualan dan penyewaan kembali tanpa hak opsi, Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) masukan yang telah dikreditkan oleh lesseeharus dibayar kembali.
2. Atas penyewaan kembali barang modal tersebut, maka lessor harus memungut Pajak
Pertambahan Nilai (PPN).
3. Pengalihan tanah dan bangunan sewa guna usaha:
a. Saat lesee menjual kepada lessor, lessee dikenakan PPh. 5% (lima persen) dari nilai
jual (nilai akta) atau Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang digunakan untuk
menghitung PBBjika nilai jual lebih rendah dari NJOP.
b. Saat lessor menjual kepada lessee, lessor dikenakan PPh. 5% (lima persen) dari
nilai opsi.
Perencanaan Pajak untuk Sewa Guna Usaha

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Perencanaan pajak dapat digunakan untuk asset tetap yang baru akan dibeli maupun asset
tetap yang telah dimiliki. Untuk asset tetap yang baru akan dibeli pertimbangannya adalah
m,embeli secara langsung (tunai atau kredit) atau dengan menyewa.
Sedangkan untuk asset tetap yang sudah dimiliki pertimbangannya adalah mempertahankan,
melakukan revaluasi, atau dijual dan disewagunausahakan kembali.

Membeli secara Langsung atau Melalui Sewa Guna Usaha


Hal pokok yang harus diperhatikan dalam perencanaan pajak untuk hal ini, antara lain sebagai
berikut:
1. Apabila membeli secara langsung maka jumlah yang dapat dibiayakan dalam rangka
menghitung penghasilan kena pajak adalah beban penyusutan
2. Besarnya beban penyusutan antara lain ditentukan oleh metode penyusutan dan umur
ekonomis yang telah ditetapkan oleh peraturan perpajakan.
3. Apabila membeli secara sewa guna usaha, maka semua biaya yang dikeluarkanuntuk
membayarsewa guna usaha tersebut dapat dibiayakan pada tahun yang bersangkutan.
4. Masa sewa guna usaha bisa lebih pendek dari umur ekonomis sehingga perusahaan
dapat membiayakan perolehan asset tetap lebih cepat disbanding apabila menggunakan
penyusutan (penyusutan dipercepat).
Masa sewa guna usaha ditentukan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang
modal golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal golongan II dan III, dan 7 (tujuh)
tahun untuk golongan bangunan.
Penjualan dan Penyewaan Kembali
Pada saat penjualan dari lessee kepada lessor, lessee dikenakan PPh. 5% (lima persen) dari
nilai jual (nilai akta) atau Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang digunakan untuk menghitung PBB
jika nilai jual lebih rendah dari NJOP. Saat lessor menjual kepada lessee (pengambilan opsi),
lessor dikenakan PPh. 5% dari nilai opsi.
Hal yang perlu diperhatikan adalah jika gedung dimiliki secara langsung, maka biaya yang
boleh dikurangkan hanya beban penyusutan atas gedung yang harus dilakukan dalam waktu 20
(dua puluh) tahun.
Apabila diperoleh melalui sewa guna usaha melalui hak opsi maka semua biaya yang
dikeluarkan untuk pembayaran sewa baik atas tanah maupun bangunan dapat dibiayakan.

Contoh Kasus

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

PT ABC untuk meningkatkan produksi merencanakan menambah mesin B, dengan harga


Rp.1.000.000.000,00. Perusahaan sedang mempertimbangkan untuk membeli langsung atau
menggunakan sewa guna usaha dengan hak opsi. Mesin tersebut termasuk asset tetap
kelompok 2. Disamping itu, perusahaan juga sedang mempertimbangkan asset tetap beruapa
tanah dan bangunan yang diperoleh 4 tahun lalu dengan harga perolehan masing-masing
Rp.1.000.000.000,00. Tanah dan bangunan ini sebaiknya direvaluasi atau dijual dan
disewakan kembali. Alternatif mana yang harus dipilih?.

PENGADAAN MESIN BARU


Pengadaan Mesin melalui Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi
Langkah pertama dalam analisis ini adalah menentukan tingkat suku bunga yang akan
digunakan, yaitu:
Bunga deposito

: 16%

Bunga pinjaman

: 20% (digunakan sebagai tingkat diskon)

Bungasewa guna usaha

: 22%

Bunga sewa guna usaha dihitung berdasarkan data yang diperoleh dari perusahaanperusahaan sewa guna usaha yang menjadi sample dalam penelitian. Tingkat bunga sewa
guna usaha rata-rata adalah 10% diatas bunga pinjaman, karena sebagian besar perusahaan
sewa guna usaha sumber dananya berasal dari pinjaman bank.
Setelah mengetahui tingkat suku bunga, langkah berikutnya adalah menghitung besarnya
angsuran biaya sewa yang harus dibayar setiap bulannya. Dalam perhitungan ini diasumsikan
bahwa jangka waktu sewa 4 tahun dan jaminan (security deposit) sama dengan nilai opsi, yaitu
10% dari nilai mesin yang digunausahakan (lihat table 1).

Tabel 1
Skedule Pembayaran biaya sewa dan nilai tunainya
Jaminan

: Rp.100.000.000,00

Nilai sewa guna usaha: Rp.900.000.000,00


Tingkat bunga

: 22% p.a

Tingkat diskon

: 20%

Umur asset
: 4 tahun
____________________________________________________________________________
_________

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

F
Periode
Angsuran per
Tunai Biaya
Angsuran
Bulan (Rp)
Guna Usaha (Rp)

Angasuran
Bunga (Rp)

Angsuran
Pokok (Rp)

Sisa

Tingkat

Pinjaman (Rp)

diskon

Nilai
Sewa

1
28.355.470,05 16.500.000,00 11.855.470,05 888.144.529,95 1,00000
28.355.470,05
2
28.355.470,05 16.282.649,72 12.072.820,34 876.071.709,61 0,98361
27.890.626,28
Dst.nya
48
28.355.470,05
13.038.972,63

510.491,28 27.844.978,77

Jumlah 1.361.062.562,40 461.062.562,52 900.000.000,00


947.345.315,65

(0,00)

0,45984

Tabel diatas diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:


PV

= Nilai sewa guna usaha (Rp. 900.000.000)

= Tingkat bunga per bulan = 22% / 12 = 1,83%

= Tingkat diskon per bulan = 20% / 12 = 1,67%

= Jangka waktu = 4 tahun = 48 bulan

Bulan ke- 1

Bulan ke- 2

A = PV / [1 (1 + i)pangkat n] x I

A = 28.355.470

= 900.000.000 / [1 (1 + 1,83)pangkat -48] x 1,83%


= 28.355.470,05
B = i x PV ke-0

B = I x PV ke-0

= 1,83% x 900.000.000 = 16.500.000


16.282.650

= 1,83% x 888.144.530 =

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

C = A - B

C = A - B

= 28.355.470 16.500.000 = 11.855.470


12.072.820
D = PV - C

= 28.355.470 - 16.282.650 =
D = PV - C

= 900.000.000 11.855.470 = 888.144.530


876.071.710
E = 1

= 888.144.530 - 12.072.820 =
E = 1 / (1 d)pangkat n-1

F = 28.355.470 x 1 = 28.355.470

= 1 / (1 1,67%)pangkat 2-1
= 0,98361
F = A x E
= 28.355.470 x 0,98361 =

27.890.626
Bulan berikutnya menggunakan rumus bulan ke- 2.

Berdasarkan perhitungan pada tabel 1, total biaya sewa secara nominal adalah sebesar Rp.
1.361.062.562,40, sedangkan nilai tunai (present value-PV) dengan tingkat diskon 20% adalah
sebesar Rp. 947.345.315,65. Semua biaya sewa ini dapat diakui sebagai biaya dalam
menghitung penghasilan kena pajak.
Selain biaya sewa yang masih dapat dikurangkan adalah beban penyusutan.
Setelah mengambil alih mesin yang disewagunausahakan dengan hak opsi, maka nilai
perolehan asset (sebesar nilai opsi) dapat disusutkan oleh perusahaan dengan metode dan
umur asset yang bersangkutan yang telah ditetapkan.
Berikut ini adalah perhitungan beban penyusutan nilai opsi (lihat tabel 2).

Tabel 2
Penyusutan mesin yang dibeli dan yang disewagunausahakan dengan Hak Opsi dengan
tingkat diskon 20%
Nilai asset
Metode penyusutan
Umur asset

1
3

: Rp.100.000.000
: Saldo menurun
: 8 tahun

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

____________________________________________________________________________
_________
Tahun
Nilai Buku
Tunai Beban

Beban Penyusutan

(Rp)
Penyusutan (Rp)

Saldo

(Rp)

Tingkat Diskon

Nilai

(Rp)

Tahun 1 4 tidak ada penyusutan karena sewa guna usaha


5
100.000.000,00
10.046.939,30

25.000.000,00

75.000.000,00

0,401878

6
75.000.000,00
6.279.337,06

18.750.000,00

56.250.000,00

0,334898

13.348.388,67

0,00

0,112157

Dst.nya
12
13.348.388,67
1.497.110,62

100.000.000,00
27.290.875,01

Berdasarkan tabel 1 dan tabel 2 dengan menggunakan tingkat suku bunga sewa guna usaha
22% dan tingkat diskon 20% maka nilai perolehan seluruh mesin (lease fee dan nilai opsi)
adalah sebesar Rp. 1.461.062.562,52 dan total nilai tunai yang dapat dibiayakan adalah Rp.
974.636.190,66.

Pengadaan Mesin dengan Pembelian Langsung


Jika perusahaan melakukan pembelian mesin secara langsung, maka yang dapat diakui
sebagai biaya adalah beban penyusutan. Untuk menghitung besarnya penyusutan, metode
yang dapat digunakan adalah metode garis lurus dan metode saldo menurun.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode saldo menurun, karena
berdasarkanperhitungan sebelumnya metode saldo menurun lebih menguntungkan bagi
perusahaan.
Sedangkan umur asset 8 (delapan) tahun sesuai dengan ketentuan. Besarnya biaya
penyusutan per tahun dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

1
3

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Tabel 3
Beban Penyusutan dan Nilai Tunainya
Nilai asset

: Rp. 1.000.000.000

Umur mesin
Metode Penyusutan
Tingkat diskon

:
:

8 tahun
Saldo menurun

20%

____________________________________________________________________________
_________
Tahun
Nilai Buku
Tunai Beban
(Rp)
Penyusutan (Rp)

Beban Penyusutan

Saldo

(Rp)

Tingkat Diskon

Nilai

(Rp)

1
1.000.000.000,00
208.333.333,33

250.000.000,00

750.000.000,00

0,833333

2
750.000.000,00
130.208.333,33

187.500.000,00

562.500.000,00

0,694444

133.483.886,72

0,00

Dst.nya
8
133.483.886,72
31.044.085,82

0,232568

1.000.000.000,00
565.903.584,16

Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa nilai tunai dari akumulasi penyusutan dengan tingkat
diskon 20% adalah Rp. 565.903.584,16

Perbandingan antara Sewa Guna Usaha dengan Pembelian Langsung


Besarnya perbandingan penghematan pajak antara sewa guna usaha dengan pembelian
langsung secara tunai dilakukan dengan cara membandingkan jumlah biaya yang dapat
dikurangkan dalam rangka menghitung penghasilan kena pajak.
Untuk sewa guna usaha, biaya yang dapat dikurangkan adalah seluruh biaya sewa dan beban
penyusutan sebesar nilai opsi. Sedang untuk pembelian langsung adalah sebesar beban

1
3

10

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

penyusutannya saja. Disamping dihitung berdasarkan nilai nominal juga dihitung berdasarkan
nilai tunai (PV) seperti pada tabel 4.
Besarnya penghematan tunai dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 4
Perbandingan antara Harga Perolehan dan Penghematan Pajak antara Sewa Guna Usaha
dengan Pembelian Langsung
____________________________________________________________________________
_________
Keterangan
Tunai

Sewa Guna Usaha dgn. Bunga 22% (Rp)


Nominal

Beli secara

PV

Nominal

PV
(Tingkat diskon 20%)
(Tingkat diskon 20%)
Harga Perolehan:
Biaya sewa
Nilai opsi
-

1.361.062.562,52

947.345.315,65

100.000.000,00

100.000.000,00

Harga mesin
565.903.584,16
Jumlah
565.903.584,16

1.000.000.000,00

1.461.062.562,52

1.047.345.315,65

1.000.000.000,00

Jumlah yang boleh


dibiayakan:
Biaya sewa
Beban penyusutan
565.903.584,16
Jumlah
565.903.584,16

1
3

11

1.361.062.562,52

947.345.315,65

100.000.000,00

27.290.875,01

1.000.000.000,00

1.461.062.562,52

974.636.190,66

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

1.000.000.000,00

PPh. 30% SGU


169.771.075,25

438.318.768,76

292.390.857,20

PPh. 30% beli tunai

(300.000.000,00)

169.771.075,25

Penghematan Pajak

138.318.768,76

122.619.781,95

300.000.000,00

Tabel 5
Jumlah Penghematan Tunai antara Sewa Guna Usaha dengan Pembelian Langsung
Keterangan

Tingkat Diskon (20%)

Nilai tunai biaya sewa

947.345.315,65

Penghematan dana tunai karena sewa guna usaha

900.000.000,00

Selisih

47.345.315,65

Penghematan pajak

122.619.781,95

Penghematan neto

75.274.466,30

Pedapatan bunga deposito*

228.371.616,43

Jumlah penghematan tunai

303.646.082,73

*Bunga deposito dari penghematan dana tunai karena pembelian melalui sewa guna usaha

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelian secara sewa guna usaha lebih
menguntungkan disbanding dengan pembelian tunai. Karena dibandingkan dengan pembelian
tunai terdapat penghematan neto. Besarnya jumlah penghematan neto dengan tingkat diskon
20% adalah Rp. 303.646.082,73.

Daftar Pustaka:
Wajib:
1. Erly Suandi, 2003, Perencanaan Pajak, Salemba Empat
2. Mohammad Zain, 2003, Manajemen perpajakan, Salemba Empat
3. Undang-undang Perpajakan No. 16 / 2000

1
3

12

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Bacaan Yang Disarankan:


4. Pardiat, 2007, Akuntansi Pajak, Mitra Wacana Media

1
3

13

Manajemen Perpajakan
Drs. Sugianto,MM

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id