Anda di halaman 1dari 3

BELAJAR YANG KOKOH DARI TAUHID NABI IBRAHIM A.

S
Selain Rasulullah SAW, utusan lainnya yang juga diistimewakan dan banyak disebut-sebut oleh Allah SWT dalam Al-Quran adalah Nabi Ibrahim a.s. Diantara begitu banyak nabi-nabiNya, hanya Rasulullah SAW dan Nabi Ibrahim a.s yang selalu kita sebut-sebut dalam shalat kita. Dia wajibkan kita juga mengingat Rasulullah SAW dan Nabi Ibrahim as ketika kita tengah mengingatNya. SubhanAllah, bisa dibayangkan betapa sayangnya Ia kepada Nabi Ibrahim as yang penyebutan namanya Ia jadikan bagian dalam usaha kita membangun hubungan kepadaNya. Sesungguhnya dalam cerita-cerita yang dibicarakan Allah SWT ada pelajaran dan pengingat untuk mereka yang mempunyai akal sehat. Begitu juga untuk kisah Nabi Ibrahim di AlQuran. Tauhid yang kokoh & penghambaan total kepada Allah Tiada yang disembah, yang diikuti dan dituruti selain Allah SWT Agama Islam berkali-kali diulangi oleh Allah SWT dalam Al-Quran sebagai agama yang diyakini oleh Nabi Ibrahim a.s. Allah SWT juga menegaskan, bahwa agama Ibrahim a.s adalah agama yang lurus, agama yang ia ridhai. Selain itu, Allah juga menjamin bahwa Nabi Ibrahim as bukanlah termasuk golongan orangorang yang menyekutukan Allah. Dalam QS Al-Baqarah (2) 131, Allah SWT menceritakan: Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab: Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. Dalam QS Ali Imran (3) : 67, Allah menegaskan sekali lagi: Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Tidak hanya menegaskan kekokohan tauhid dan penghambaan total ini untuk dirinya, Allah SWT juga menjadi saksi bahwa Nabi Ibrahim as telah menyebarkan keyakinan ini kepada orangtua, anak-anaknya, dan keturunannya. Hal ini bisa dilihat di QS Az-Zukhruf (43: 26 -28): Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku. Dan

(lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. Merinding memang kalau sudah membaca penghormatan dan pujian yang diberikan Allah SWT untuk nabi-nabi kesayanganNya, termasuk Nabi Ibrahim as. Tidak bisa yang bisa menyaingi pujian dan penghargaan yang Allah SWT berikan untuk nabi-nabiNya. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim as sehingga ia bisa mendapatkan begitu banyak penghormatan dari Allah SWT? Kita mungkin hanya bisa mengetahui yang paling istimewa dari ceritanya di Al-Quran di bawah ini. Mungkin masih banyak lagi yang dilakukannya. 1. Nabi Ibrahim as berani berkata kepada ayahandanya dan kaumnya bahwa mereka telah berbuat musyrik dan menganut agama sesat. Tentu ingat kan cerita Nabi Ibrahim as menghancurkan patung-patung sesembahan, kecuali yang terbesar? Dan kemudian ia mengatakan, mengapa tidak kau tanyakan patung tersebut siapa yang telah menghancurkan patung-patung yang lain? Kalau ia tidak bisa berbicara dan memberitahumu, mengapa kamu sekalian menyembahnya? Lantas kaumnya pun melemparkannya ke dalam api, namun Allah SWT mendinginkan api untuk Nabi Ibrahim as. Bahkan ia rela diusir dari rumah ayahnya. Maka Allah pun merahmatinya dengan menempatkannya di negeri yang diberkahi. 2. Nabi Ibrahim as sangat memimpikan seorang anak. Bertahun-tahun ia dan istrinya tidak dikaruniai seorang anak. Setelah akhirnya diberi kabar gembira dan ia tengah menikmati saatsaat senangnya bersama putranya Ismail dan istri keduanya Hajar, Allah SWT mengetesnya dengan memerintahkan ia meninggalkan mereka di tengah-tengah padang pasir terpencil. Ia rela meninggalkan Ismail dan Hajar karena percaya bahwa Allah SWT akan menjaga mereka, mengirimkan rezeki, membuat orang-orang menyukai mereka, dan menjadikan mereka orang-orang yang menegakkan shalat. Kepercayaan dan doa positifnya pun diijabah oleh Allah SWT. 3. Setelah bisa bermain-main dan bersama lagi dengan Ismail, Allah SWT kembali mengetesnya dengan memerintahkan ia menyembelih Ismail (as). Namun dengan penuh keteguhan hati ia dan Ismail bersegera mematuhi perintah Allah SWT. Lagi-lagi Allah SWT memberinya balasan dengan mengirimkan seekor domba untuk disembelih, bukan Ismail. Ketauhidan, keterikatan, dan kecintaan Ibrahim as terhadap Allah SWT sudah teruji dan terbukti. Allah telah membuatnya mampu membunuh semua keterikatan, semua kepatuhan, dan semua kecintaan kepada selain hal selain Allah SWT. Bagaimana kita bisa meneladani tauhid Nabi Ibrahim as? Mulailah dengan menyembelih kecintaan-kecintaan kita kepada selain dari Allah SWT.

Contoh simpel saja, misalnya kita sangat cinta dengan yang namanya tidur. Namun seperti yang kita tahu, kita sangat disarankan untuk membuat lambung kita jauh dari tempat tidur pada akhir malam, meminta ampun pada waktu sahur, bangun di waktu fajar dan tidak kembali tidur. Nabi Ibrahim as mungkin dites dengan istrinya, anaknya, dan lain-lain. Kita yang belum mempunyai pasangan, apalagi anak, maka satu test Allah SWT adalah kecintaan kita terhadap hal-hal yang menghalangi kita untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. Jadi setiap hari, nilailah, berapa banyak perintah Allah/sunnah Nabi yang kita langgar karena lebih memilih hal yang kita sukai tersebut? Kalau masih ada, buat catatan dalam hati untuk meminta ampunan dan memohon kemampuan melakukan perintah dan sunnah Nabi tersebut ketika sujud dalam shalat-shalat kita. Jangan pernah membiarkan hati menjadi biasa saja dengan meninggalkan ibadah karena halhal yang kita sukai tersebut. Tetapi sedihlah, marahlah, menangislah, galaulah, ketika kita belum mampu mengalahkan hawa nafsu diri kita untuk Allah, dan mohonlah kemampuan untuk mencapai hal tersebut. Hal lain yang bisa kita lakukan untuk meneladani Nabi Ibrahim as adalah dengan meyakini bahwa Allah akan mendinginkan panas dari api apapun yang harus kita lewati di dunia ini, api yang kita hadapi dalam membela agama Allah SWT dan menghidupkan ajaran-ajaran Rasulullah SAW. Api apapun yang harus kita rasakan, jangan pernah membiarkan ketakutan dan kelemahan kita akan api tersebut membuat kita menggadaikan agama dan keyakinan kita. Tetapi tetap majulah dengan keyakinan bahwa Allah SWT Maha Kuasa mendinginkannya. Bukan api sungguhan tentu saja. Api keuangan kita takut kekurangan uang jika terus mengiyakan permintaan orang. Padahal Allah telah berkali-kali menjanjikan apapun yang kita berikan di jalan Allah, maka sungguh Allah akan menggantinya. Api emosional kita begitu menyukai seseorang namun karena ketidaksiapan kita untuk menikah, kita tidak bisa mengekspresikannya, apalagi mengatakannya, karena tidak ada istilah pacaran dalam Islam. Api psikologis kita dicaci-maki sebagai teroris ketika melaksanakan sunnah Nabi SAW mengenakan celana semata kaki, mempunyai jenggot, dan berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya mengejar ilmu.